• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2.5 Beban Pencemar dan Kapasitas Asimilasi Perairan

Kapasitas asimilasi adalah kemampuan air atau sumber air dalam menerima pencemaran limbah tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya. Sementara itu konsentrasi dari partikel polutan yang masuk ke perairan akan melalui tiga macam fenomena, yaitu pengenceran (dilution), penyebaran (dispersi) dan reaksi penguraian (decay of reaction) Quano (1993). Pengenceran terjadi pada arah vertikal ketika air limbah sampai di permukaan air. Peristiwa penguraian merupakan pengenceran pada air ketika limbah tercampur karena gelombang.

Kapasitas asimilasi perairan adalah kemampuan perairan dalam memulihkan diri akibat masuknya limbah tanpa menyebabkan penurunan kualitas lingkungan yang ditetapkan sesuai dengan peruntukkannya (Quano 1993). Kemampuan asimilasi sangat dipengaruhi oleh adanya proses pengenceran maupun perombakan bahan pencemar yang masuk ke perairan.

Metode untuk melihat kapasitas asimilasi dapat dilakukan dengan ada beberapa metode yang biasa digunakan untuk menentukan nilai kapasitas asimilasi di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Metode Pendekatan Hubungan Antara Kualitas Air dan Beban Limbahnya Dengan metode ini, nilai kapasitas asimilasi ditentukan dengan cara memplotkan nilai-nilai kualitas air suatu perairan pada kurun waktu tertentu

dengan beban limbah yang dikandungnya ke dalam suatu grafik, yang selanjutnya direferensikan dengan nilai baku mutu air yang diperuntukkan bagi biota dan budidaya berdasarkan Kep.Men KLH No. 51 tahun 2004, dari titik potong yang diperoleh melalui grafik ini kemudian diketahui waktu (tahun) terjadinya dan selanjutnya dilihat nilai beban limbahnya. Nilai beban limbah inilah yang dimaksud dengan nilai kapasitas asimilasi (Dahuri 2004). Metode ini memiliki kelemahan karena tidak memperhatikan berbagai dinamika diperairan tersebut yang sangat mempengaruhi kapasitas asimilasi suatu perairan. Perhitungan kapasitas asimilasi spesifik untuk setiap lokasi, evaluasi kapasitas asimilasi memerlukan model matematika yang sesuai untuk mendeterminasi konsentrasi parameter kunci yang merupakan hasil dari tingkat beban limbah.

b. Metode penghitungan Nilai pengurangan Limbah awal, Dispersi dan Penguraian.

Metode ini dapat ditentukan nilai kapasitas asimilasi melalui penggabungan nilai pengurangan limbah awal, nilai dispersi limbah dan nilai pengurangan limbah. Limbah awal dapat ditentukan dengan beberapa faktor antara lain: kecepatan percampuran antara limbah dan air, kedalaman air limbah yang mengalir di badan air, lebar penyebaran limbah, dan debit air limbah.

Untuk dispersi limbah nilainya ditentukan dari faktor jarak sepanjang garis aliran limbah, kecepatan percampuran dan lebar dari sistem penyebaran limbah. Nilai untuk penguraian limbah perlu hitung waktu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai 90% bakteri mati, kecepatan percampuran dan jarak aliran limbah.

Kelebihan dari metode ini adalah penghitungan lebih ditekankan pada faktor-faktor fisik sehingga ketepatan perhitungannya tinggi. Adapun kelemahan metode ini kurang memperhitungkan faktor-faktir kimia, artinya perbedaan jenis limbah yang masuk ke sungai tidak diperhatikan.

Nilai Pengurangan Limbah awal (D1):

D1 = VYb / Q ... (10) D1 = nilai pengurangan limbah

V = kecepatan percampuran Y = kedalaman air limbah

b = lebar efektif dari sistem penyebaran Q = debit limbah Nilai Dispersi (D2) D2 =

( )

2 3 1 / 5 , 1 1 5 , 1             − + x b Vb E erf ... (11) Dimana : D2 = nilai dispersi Erf = error function

E = koefisien penyebaran V = kecepatan percampuran

b = lebar efektif dari sistem penyebaran x = jarak penyebaran

Nilai Penguraian limbah (D3)

D3 = exp [ 0,38 x / (TV) ] ... (12) Dimana :

D3 = nilai penguraian limbah Exp = konstanta 2,718

x = jarak penyebaran

t = waktu untuk mencapai 90% bakteri mati v = kecepatan percampuran

c. Metode arus bermuatan partikel

Kapasitas asimilasi pada metode ini dapat ditentukan dengan cara membandingkan konsentrasi limbah dengan konsentrasi air sungai yang nenerima limbah. Hal-hal yang diperhitungkan antara lain; kecepatan aliran, perbedaan konsentrasi dan debit air sungai.

Kelebihan metode ini adalah adanya perbandingan antara konsentrasi limbah dan air sungai/badan perairan yang sangat penting bagi penentuan kapasitas asimilasi. Kelemahan metode ini adalah kesulitan dalam penghitungan konsentrasi limbah berupa bahan kimia yang masuk ke sungai yang membutuhkan waktu lama.

d. Metode penurunan oksigen dari streeter dan phelps

Kapasitas asimilasi pada metode ini dapat ditentukan dengan cara mengamati pengurangan nilai oksigen terlarut. Faktor yang diperhitungkan dalam metode ini antara lain waktu perjalanan limbah di sungai dan konsentrasi asam karbonat yang tetap pada saat perjalanan limbah. Kelebihan dari metode ini adalah penghitungan akan lebih teliti karena dilakukan penghitungan waktu perjalanan limbah. Kelemahan metode ini adalah penghitungan dilakukan terus menerus secara rutin sehingga membutuhkan waktu yang lama.

Menurut Sastrawijaya (2009) beban pencemar adalah jumlah total bahan pencemar yang masuk kedalam lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada areal tertentu dalam kurun waktu tertentu. Besarnya beban pencemar yang masuk ke perairan tergantung aktivitas manusia di sekitar daerah aliran sungai yang masuk perairan tersebut. Besarnya beban pencemar perairan sangat dipengaruhi pula oleh keadaan pasang surut air laut. Pada saat pasang umumnya beban masukan limbah sangat kecil karena aliran sungai akan tertahan oleh peningkatan massa air laut, sedangkan pada saat surut berlaku sebaliknya

Beban masukan limbah dari sungai ke suatu perairan dapat dihitung dengan mengalikan konsentrasi dengan debit air sungai per satuan waktu. Debit air sungai diperoleh dengan mengalikan luas penampang sungai dengan kecepatan aliran sungai (Jorgensen 1988). Kapasitas beban pencemar merupakan kemampuan suatu perairan dalam menerima beban pencemar yang masuk. Kapasitas beban pencemar biasa disebut juga dengan kapasitas beban perairan yang merupakan fungsi dari konsentrasi bahan pencemar dan volume perairan.

Menurut Sastrawijaya (2009) Sumber pencemar (asal bahan pencemar) yang masuk ke lingkungan perairan pesisir dan laut ada 2 macam yaitu limbah domestik dan limbah industri.

1. Limbah domestik (limbah rumah tangga atau limbah perkotaan)

Limbah domestik adalah limbah yang berasal dari aktivitas masyarakat urban

yang biasanya mengandung sampah padat (berupa tinja) dan cair yang berasal dari sampah rumah tangga. Limbah domestik memiliki lima karakteristik, yaitu: mengandung bakteri, parasit dan kemungkinan virus dalam jumlah banyak; serta mengandung bahan organik dan padatan tersuspensi sehingga nilai biological oxygen demand (BOD)-nya tinggi. Selain itu juga mengandung padatan (organik dan anorganik) yang mengendap di dasar perairan; memiliki kandungan unsur hara (terutama fosfor dan nitrogen) yang tinggi, serta mengandung bahan-bahan terapung (organik dan anorganik) di permukaan air atau berada dalam bentuk tersuspensi. Sumber limbah domestik berasal dari perumahan, perdagangan, perkantoran, hotel, rumah sakit, rekreasi dan aktivitas lainnya. Limbah jenis ini sangat mempengaruhi tingkat kekeruhan, BOD5 dan COD. Limbah cair domestik adalah air buangan dari rumah tangga, institusi, fasilitas komersil yang mengandung bahan organik dan anorganik yang berbentuk cair, suspensi dan koloid. Limbah domestik ada 2 jenis yaitu jenis Limbah organik dan limbah anorganik;

2. Limbah Non-Domestik (Industri)

Limbah non-domestik atau limbah industri merupakan limbah yang berasal dari pabrik, industri, pertanian, peternakan, perikanan, transportasi, dll. Limbah industri adalah berbagai jenis industri yang beroperasi di sepanjang aliran sungai dan garis pantai merupakan salah satu sumber pencemar di laut, terutama akan mempengaruhi kandungan logam berat perairan. Dilihat dari lokasi sumber, pencemaran pesisir dan laut bersumber dari daratan (land base pollution sources) dan Pencemaran yang bersumber dari laut :

Pencemaran yang bersumber dari daratan, misalnya limbah cair dan limbah padat (sampah) domestik dan limbah cair industri yang berasal dari saluran pembuangan pabrik

Pencemaran yang bersumber dari laut, yaitu: pembuangan limbah cair dari aktivitas transportasi laut (air ballast kapal), limbah produksi minyak, limbah pelabuhan, limbah kapal tanker, kapal penumpang, kecelakaan tumpahan minyak dan kebocoran pipa.

2.6 Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu dalam Kontek Pengendalian