DAFTAR LAMPIRAN
3 METODE PENELITIAN
4.5 Kondisi Oseanografi .1 Pasang Surut .1 Pasang Surut
Pasang surut adalah proses naik turunnya muka air laut yang teratur, disebabkan terutama oleh gaya tarik bulan dan matahari serta benda-benda angkasa lainnya. Pada saat bulan mati dan bulan purnama, ketika matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis, maka gaya-gaya ini mencapai maksimum sehingga di bumi terjadi pasang dan surut maskimum yang dikenal dengan istilah
spring tide.
Pasang surut (pasut) merupakan proses naik turunnya muka laut (sea level) yang teratur, disebabkan terutama oleh gaya tarik bulan dan matahari. Adanya pengaruh posisi bulan dan matahari terhadap bumi selalu berubah secara hampir teratur, maka besarnya kisaran pasut juga berubah mengikuti perubahan tersebut.
Tipe pasut suatu perairan ditentukan oleh frekuensi air pasang dan surut per hari. Jika perairan tersebut mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam sehari, maka perairan tersebut dikatakan bertipe pausut tunggal. Selanjutnya jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari, maka pasutnya dikatakan bertipe pasut ganda. Tipe pasut yang ketiga adalah tipe pasut campuran, yaitu tipe peralihan dari tipe tunggal ke ganda atau sebaliknya. Tipe pasut dapat ditentukan secara kuantitatif, yaitu dengan membandingkan amplitudo (tinggi gelombang) dari komponen-komponen pasut tunggal utama dengan amplitudo komponen pasut ganda utama.
Pasut erat hubungannya dengan siklus perjalanan matahari dan bulan dalam keadaan relatifnya terhadap bumi (Sugiyono, 1990 dalam Kurniawan, 2000). Keadaan pasut di suatu tempat dilukiskan oleh konstanta harmonik. Sehingga yang dimaksud dengan analisis harmonik pasut adalah cara untuk mengetahui sifat dan karakter pasut di suatu tempat dari hasil pengamatan pasang surut dalam kurun waktu tertentu. Pengamatan pasut idealnya dilakukan selama 18,6 tahun (Pariwono, 1985 dalam Dahuri et al., 1996).
Pengamatan pasang surut di perairan pesisir Tanjungpinang dilakukan pada tanggal 1-15 Maret 2012. Data yang digunakan berupa data numerik yang disusun dalam tabel kedudukan tinggi air laut (dalam satuan sentimeter) tiap jam
(24 jam) untuk 15 hari pengamatan dan sudah terkoreksi. Perhitungan dengan metode Admiralty, yaitu perhitungan untuk mencari harga amplitudo (A) dan beda fase (g0) dari data pengamatan selama 15 piantan (hari pengamatan) dan
mean sea level (S0) yang sudah terkoreksi. Berdasarkan besaran amplitudo (A) dan beda fase (g0) konstanta harmonik pasang surut air laut yang diperoleh, dapat dianalisis dan diketahui sifat-sifat perairan Pesisir Tanjungpinang melalui karakter pasang surutnya.
4.5.2 Tipe Pasang Surut
Penentuan tipe pasut di Tanjungpinang dilakukan dengan pendekatan nilai F (Form-zahl) atau konstanta pasang surut (tidal constant). Berdasarkan hasil pengukuran pasang surut, amplitudo komponen pasang surut utama di perairan Pesisir Kota tanjungpinang sebagai berikut :
• AM2 (amplitudo dari anak gelombang pasang surut Harian Ganda rata-rata yang dipengaruhi oleh bulan) = 31,60 cm
• AS2 (amplitudo dari anak gelombang pasang surut Harian Ganda rata-rata yang dipengaruhi matahari) = 10,69 cm
• AK1 (amplitudo dari anak gelombang pasang surut Harian Tunggal rata-rata yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan dan matahari = 23,29 cm
• O1 (amplitudo dari anak gelombang pasang surut Harian Tunggal yang dipengaruhi oleh deklinasi matahari = 14,08 cm
Berdasarkan nilai komponen pasang surut utama tersebut diperoleh nilai F (Form-zahl) atau konstanta pasang surut (tidal constant) sebesar 0,88 atau berada dalam kisaran 0,25 < F < 1,50 yang berarti tipe pasang surut campuran (mixed type) yang dominan ke Harian Ganda (mixed semi-diurnal). Interpretasi dari tipe pasut yaitu dalam sehari semalam terjadi dua kali pasang dan dua surut. Secara detail tipe pasut di perairan pesisir Tanjungpinang berdasarkan hasil pengukuran disajikan pada Gambar 18.
Gambar 18. Tipe pasang surut berdasarkan data hasil pengukuran di wilayah perairan Tanjungpinang pada Februari Tahun 2013.
Berdasarkan konstanta harmonik pasang surut tersebut diperoleh nilai kedudukan air laut tertinggi dan terendah sebagai berikut :
(MHWS) : Air laut tertinggi saat pasut purnama = 178,0 cm (MHWN) : Air laut tertinggi saat pasut mati = 156,7 cm (MLWS) : Air laut terendah saat pasut purnama = 114,9 cm (MLWN) : Air laut terendah saat pasut mati = 93,9 cm
4.5.3 Gelombang
Gelombang yang terjadi di kawasan perairan Tanjungpinang merupakan gelombang yang dibangkitkan di dalam dasar perairan. dan arah gelombang bervariasi sesuai angin musiman. Menurut Bappeda Kota Tanjungpinang (2007), pada musim barat angin berhembus dari barat laut, sedangkan pada musim timur angin berhembus dari tenggara.
Pada umumnya tinggi gelombang di sekitar pantai dan di tengah berbeda besarannya pada kondisi kecepatan angin yang sama karena terdapat perbedaan panjang daerah pembangkitan gelombang. Untuk kecepatan angin yang kecil seperti 1 m/det, tinggi gelombang di perairan dekat pantai sekitar 10 cm, sedang
di tengah sekitar 15 cm. Untuk kecepatan angin 7,4 m/detik tinggi gelombang di dekat pantai 54 cm sedang di tengah teluk 76 cm. Pergerakan air dalam bentuk gelombang dan arus, merupakan faktor yang penting sebab gelombang dan arus memegang peranan penting dalam mempengaruhi transport senyawa nitrogen anorganit terlarut, menghindari adanya fluktuasi temperatur, pH, salinitas, oksigen terlarut dan lain-lain.
4.5.4 Kecepatan Arus
Arus yang terjadi di perairan pesisir Tanjungpinang umumnya merupakan arus permukaan yang pergerakan massa air secara horisontal di permukaan akibat tiupan angin dan arus pasang surut yaitu bergeraknya massa air secara horizontal akibat gerak vertikal permukaan air laut karena proses pasang surut sebagai hasil interaksinya dengan batas-batas perairan (pantai, tebing dan dasar laut).
Arus laut erat kaitannya dengan sirkulasi massa air disuatu kawasan perairan. Pengetahuan tentang sirkulasi massa air di perairan yang diamati sangat berguna dalam perkiraaan arah, lama dan sebaran dari materi yang terbawa oleh massa air tersebut. Arus di suatu perairan dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti angin, pasang surut, gradien tekanan. Besarnya kontribusi masing-masing faktor terhadap kekuatan dan arah arus yang ditimbulkannya tergantung pada tipe perairan (pantai atau laut lepas) dan keadaan geografisnya.
Arus pasang surut (tide induced current) di perairan pesisir Tanjungpinang terjadi sesuai dengan tipe pasang surutnya yaitu arus menuju laut pada saat pasang dan arus menjauhi pantai pada saat air laut surut. Kecepatan arus pasang surut ini akan mencapai maksimum pada saat permukaan laut berada pada posisi duduk tengah (mean sea level) dan semakin melemah pada waktu mendekati pasang tertinggi maupun surut terendah. Kecepatan arus saat surut menuju pasang umumnya lebih kecil daripada kecepatan arus pasang menuju surut. Kecepatan arus di perairan pesisir Kota Tanjungpinang dapat di lihat pada Gambar 19.
0,00 0,02 0,04 0,06 0,08 0,10 0,12 0,14 0,16 0 1 2 3 4 5 6 Sungai Pesisir
Gambar 19. Kecepatan arus rata-rata di perairan sungai dan pesisir Tanjungpinang pengukuran pada saat surut (n = 32 ; Bar = Standar Deviasi)
Gambar 19. Memperlihatkan bahwa kecepatan arus di perairan pesisir lebih tinggi dibandingkan kecepatan arus di perairan sungai. Kecepatan arus disekitar perairan pesisir umumnya berkisar antara 0,16 - 0,27 m/dt, sedangkan di perairan sungai rata-rata kecepatan arus berkisar antara 0,06 - 0,18 m/dt. Pengaruh parameter kecepatan arus terhadap penyebaran senyawa nitrogen anorganik terlarut yang berkaitan dengan proses pertukaran dan pengangkutan unsur hara lain, pertukaran oksigen, transport TSS atau sedimen dan pengrusakan struktur komunitas perairan.
4.5.5 Kedalaman Perairan
Kedalaman atau bathrimeti perairan memberikan gambaran tentang topografi dari dasar laut yang ditentukan oleh perubahan kedalaman laut. Pengetahuan tentang batrimetri sangat diperlukan untuk mengelola ekosistem perairan pantai dan laut karena proses fisik, kimiawi dan biologi yang terjadi di dalamnya yang dipengaruhi oleh kedalaman perairan. Garis-garis kontur kedalaman atau model batimetri perairan Tanjungpinnag diperoleh dengan menginterpolasikan titik-titik kedalaman yang tersebar pada lokasi dengan teknik
triangulasi menggunakan interpolasi linear berdasarkan Peta Lingkungan Laut Nasional, Bakosurtanal (1992). Kedalaman maksimum perairan Tanjungpinang menurut Peta Lingkungan Laut Nasional mencapai 24 m.
Secara umum, kondisi batimetri perairan laut di wilayah Kota Tanjungpinang relatif landai dan dangkal. Menurut Wibisono (2005) relief dasar laut mempengaruhi kedalaman suatu perairan. Model batimetri perairan Tanjungpinang tidak memiliki pola keteraturan kedalaman dengan bentuk dasar perairan mempunyai banyak cekungan (berlubang) yang berpotensi sebagai jerapan atau bertumpuknya limbah organik. Hal ini disebabkan karena di wilayah perairan Tanjungpinang terdapat banyak pulau-pulau kecil. Secara spasial model batimetri perairan Tanjungpinang disajikan pada Gambar 20.
(a)
(b)
Gambar 20. (a) Topografi dasar perairan pesisir wilayah Tanjungpinang (b) Topografi dasar perairan bagian dalam Teluk Tanjungpinang