BAB IV REFLEKSI DAN PRINSIP-PRINSIP PENILAIAN TEOLOGIS
4.5 Pentingnya Gereja Katolik Memahami Terapi Alternatif
4.5.1 Beberapa Kelompok Awam maupun Religius Mendalami
Kesadaran masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat terus meningkat.
Karena itulah ada pertumbuhan minat yang besar dalam bidang terapi alternatif.
Meskipun terapi medis konvensional masih menjadi pilihan utama dalam penyembuhan penyakit, hal itu tidak berarti bahwa terapi yang sifatnya alternatif ditinggalkan orang.
240 Bdk. LG 8; GS 76.
241 bdk. Kis 17:28.
242 bdk. Yoh. 1:35-39.
243 bdk. AG 22 dan LG 13.
Dalam bidang Yoga misalnya, Yudhi Widyantoro244 mengatakan bahwa gairah orang beryoga meningkat. Semakin tingginya minat masyarakat terhadap yoga, setidaknya dapat dilihat jelas dari jumlah peserta kelas yoga yang diasuhnya setiap tahun. Ini ada kaitannya juga dengan gaya hidup. Kesadaran orang meningkat pada kesehatan yang non konvensional. Karena kesehatan konvensional pada dokter umumnya hanya mengobati secara fisik. Khusus di negara-negara maju, minat orang terhadap yoga terus meningkat berkat pemberitaan dan pembahasan di media massa.
Faktor lainnya yang tidak kalah berperan penting adalah semakin banyak public figure yang ikut beryoga.
Dari pengamatan yang dilakukannya sejak tahun 1991, jumlah peserta di kelasnya masih dapat dihitung dengan jari. Dan kalaupun ada, kebanyakan berasal dari kalangan ekspatriat. Tetapi peningkatan minat terhadap yoga justru mulai terlihat saat krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1997-1998. Krisis ini bukan berdampak hanya pada bidang ekonomi, tetapi berdampak juga pada psikis seseorang. Sejak saat itu, mulailah orang mengusahakan terapi alternatif, di mana orang mulai mencari yoga sebagai salah satu metodenya. Menurut Yudhi, setiap kali orang berlatih yoga, mereka mendapatkan efek terapisnya, yaitu meningkatnya relaksasi, kesadaran diri, ketenangan batin dan pikiran yang berguna untuk membantu penyembuhan.
244 Instruktur Yoga. Diakses dari http://health.kompas.com/read/. (20 September 2012).
Di Indonesia, metode penyembuhan Prana dan Reiki mulai marak sejak tahun 90-an. Prana yang berkembang di Indonesia diajarkan oleh Master Choa Kok Sui245 dari Filipina. Lembaga Prana Indonesia sampai sekarang tetap konsisten dalam satu induk Lembaga Prana Internasional yang sampai tahun 2011 telah mengadakan 9 kali konvensi internasional246.
Sementara itu, Reiki247 yang berkembang di Indonesia ternyata beragam dan tidak bergabung dalam satu lembaga saja. Di Indonesia ada aliran Neo-Zen Reiki yang dibawa oleh Anand Khrisna, G-Tummo Reiki yang diajarkan Immanuel Alexander, Tummo Reiki yang diperkenalkan Irmansyah Effendi, Usui Traditional Reiki yang diajarkan Ismail Ishaq, dan Usui-Tibetan Reiki yang dibawa oleh Yan Nurindra248.
Maraknya metode penyembuhan Prana dan Reiki tidak lepas dari penyederhanaan metodenya sehingga mudah dipelajari, juga tidak dibutuhkan pengetahuan mistik tertentu. Prana dan Reiki bisa dipelajari oleh banyak orang yang sudah dewasa dan tidak dibatasi oleh latar belakang agama atau keyakinan apapun. Di beberapa rumah sakit di Amerika Serikat, Prana dan Reiki menjadi terapi komplementer untuk mendukung kesehatan pasien249.
Pelayanan penyembuhan alternatif juga berkembang dalam lingkungan gereja Katolik sampai sekarang. Banyak kelompok yang terlibat dalam menyelenggarakan
245 Choa Kok sui, The Ancient Science and Art of Pranic Healing: Practical Manual on Paranormal Healing, Institute for Inner Studies, Inc., Metro Manila, 1990.
246 Diakses dari: http://www.indonesiapranichealing.org/. (20 September 2012).
247 Madabusi Subramaniam, Unveiling the Secret of Reiki, Fusion Books, New Delhi, 1997.
248 Sumber informasi: http://reocities.com/SoHo/. (20 September 2012).
249 Dokter Mehmet C. Oz, menyatakan bahwa banyak dokter mulai menyadari kearifan mementingkan kepentingan pasien—sesuatu yang dapat dikombinasikan dengan pengobatan konvensional barat—
alih-alih hanya mengisolasi gejala, atau tidak menganggap tubuh sebagai kesatuan dengan jiwa…, dalam. Healing from the Heart, Menggali Kearifan Nonkonvensional untuk kesehatan holistik, Mehmet C. Oz, MD, Qanita, Bandung, 2011, 240.
doa atau ibadat penyembuhan di lingkungan gereja. Banyak orang begitu tertarik pada penyembuhan alternatif ini, bahkan sangat terpukau sehingga mereka tergiur untuk menjadi ―orang yang dikaruniai bakat penyembuhan‖.
Metode penyembuhan dengan doa atau dengan ritual tertentu seperti ini dikategorikan dalam spiritual healing atau faith healing250. Kita bisa menjumpai pelayanan penyembuhan seperti ini di tempat Romo Th. Aq. Rochadi Widagdo, Pr di Jakarta, kelompok-kelompok Persekutuan Doa Kharismatik Katolik, di tempat Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm bersama kelompok frater, imam CSE, dan suster ordo Putri Karmel di Lembah Cikanyere, Bogor, Jawa Barat.
Beberapa praktisi Reiki251 mengatakan, setelah menjalani doa dan penegasan rohani, mereka merasa terpanggil untuk belajar Reiki sambil mengarahkan pusat sumbernya kepada kehadiran Yesus sendiri. Mereka telah menemukan bahwa cara ini sangat efektif untuk penyembuhan bagi orang lain karena Reiki memiliki sifat positip.
Reiki yang masuk ke tubuh manusia tidak menimbulkan efek negatif. Seperti halnya tusuk jarum, Reiki juga menggunakan energi sebagai sarananya agar bekerja memperbaiki sirkulasi tubuh energi supaya kembali berfungsi dengan baik. Dengan perbaikan saluran energi dalam tubuh manusia semakin baik pula kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Reiki tidak bertentangan dengan pengobatan medis konvensional. Reiki menganjurkan agar tindakan medis terus dilakukan pasien yang sedang menjalani perawatan kedokteran konvensional.
250 Faith healing is based on belief and is about as far as you can get from science-based medicine, but it is not exempt from science. If it really worked, science would be able to document its cures and would be the only reliable way to validate its effectiveness,
Diakses dari: http://www.sciencebasedmedicine.org/index.php/faith-healing/ (20 September 2012).
251 Kenalan saya dan beragama Katolik.
Dalam kasus praktek Reiki yang dilarang di Amerika, pada tanggal 25 Maret 2009, The Committee on Doctrine, United States Conference of Catholic Bishops252, mengeluarkan pernyataan menasihati rumah sakit Katolik, fasilitas perawatan kesehatan, dan para pastor untuk tidak mendukung Reiki. Pernyataan tersebut dikeluarkan dengan judul ―Pedoman untuk Mengevaluasi Reiki sebagai Terapi Alternatif‖. Pernyataan tersebut didasarkan pada penelitian komite selama beberapa bulan yang melibatkan informasi yang ditemukan di internet dan buku-buku tentang Reiki. Berdasarkan sumber-sumber inilah, mereka menyimpulkan bahwa Reiki berasal dari teks-teks Budhis dan memiliki dasar agama; bahwa energi penyembuhan Reiki diarahkan oleh pikiran dan keinginan manusia, bahwa Reiki tidak divalidasi oleh penelitian ilmiah dan tidak memiliki penjelasan ilmiah, dan bahwa Reiki tidak diterima oleh komunitas medis.
Pernyataan di atas tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Sebagai praktek, Reiki telah menyebar ke seluruh dunia dalam jangka waktu 30 tahun ini dan dengan cepat diterima oleh masyarakat. Mereka yang mempertanyakan pernyataan Komite Doktrin menganggap hal ini bukanlah cara yang dewasa untuk menilai suatu perubahan di dunia yang menantang kita untuk menyesuaikan diri dengan pengetahuan dan pengalaman baru.