BAB IV REFLEKSI DAN PRINSIP-PRINSIP PENILAIAN TEOLOGIS
4.1 Mukjizat Penyembuhan Yesus dan Kerajaan Allah
Pengertian tentang ―sehat‖, ―sakit-penyakit‖, dan ―penyembuhan‖ secara Kristiani lebih melihat manusia tidak terbatas pada masalah fisik saja. Pelayanan penyembuhan Yesus tidak saja membentuk dasar pemahaman Kristiani tentang manusia tetapi juga memandang aspek keutuhan manusia yang bermartabat. Kisah-kisah penyembuhan yang ditulis para pengarang Injil tidak mendefinisikan istilah
―sehat‖, ―sakit-penyakit‖, dan ―penyembuhan‖ secara abstrak, melainkan mereka berusaha untuk mengkontekstualkan tindakan penyembuhan Yesus dengan makna mukjizat penyembuhan Yesus. Istilah shālôm secara sederhana bermakna damai, penyembuhan, dan penyelamatan bagi setiap orang dan dunia. Implikasinya tidak hanya pada manusia secara fisik, tetapi juga manusia sebagai keutuhan ciptaan Allah.
Apakah maksud penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan Yesus? Mengapa ketika Ia lapar, Ia tidak mau tunduk pada bujukan setan untuk mengubah batu jadi roti158? Ketika Ia menderita, Ia tidak mau secara ajaib turun dari salib untuk membuktikan kepada orang lain bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah159. Rupa-rupanya Yesus tidak pernah memberi tanda langsung kepada orang Farisi, Ia menolak untuk mengadakan tanda mukjizat bagi mereka yang tidak percaya160. Apakah Yesus menyembuhkan orang untuk menghilangkan penderitaan dan penyakit dari dunia?
Juga tidak, sebab Yesus tidak mengadakan mukjizat di setiap tempat yang dikunjungi. Yesus membuat mukjizat tidak untuk cepat-cepat menyelesaikan masalah yang ada.
158 Bdk. Mat 4:3 dan Luk 4:3.
159 Bdk. Mat 27:42 dan Mrk 15:32.
160 Bdk. Yoh 5: 45-47.
Markus mencatat bahwa Yesus tidak melakukan perbuatan ajaib di Nazaret161, bukanlah karena ketidakpercayaan orang-orang itu membatasi kekuasaan-Nya.
Markus melaporkan bahwa Yesus menyembuhkan beberapa orang sakit di sana.
Tidak banyak mukjizat dikerjakan Yesus karena Ia tidak dapat meneruskan pewartaan Injil-Nya dalam tindakan dan perbuatan, di mana orang tidak bersedia menerima kabar baik-Nya dan menerima diri-Nya sendiri. Melakukan mukjizat bagi orang-orang yang tidak percaya tidak selaras dengan tugas perutusan-Nya. Dalam arti inilah Yesus tak dapat membuat mukjizat di Nazaret.
Ajaran Perjanjian Lama tentang Kerajaan Allah memberi konteks yang penting untuk memahami pelayanan penyembuhan Yesus. Yesus berkata kepada para muridNya bahwa kehadiran-Nya menandakan kehadiran Kerajaan Allah yang telah mereka antisipasi sebagaimana dinubuatkan para nabi sebelumnya162. Para sahabat Yesus memiliki harapan yang sangat nyata tentang Kerajaan Allah di akhir zaman.
Hari penyelamatan di akhir zaman berarti sebuah keadaan damai yang bebas dari penyakit. Bagi orang-orang yang hidup di zaman Yesus, pesan-Nya mengenai hadirnya Kerajaan Allah memerlukan tanda nyata. Mukjizat-mukjizat penyembuhan Yesus menunjukkan tanda-tanda ini.
Ada alasan untuk memandang mukjizat Yesus Kristus dan juga mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya berbeda dari mukjizat-mukjizat Perjanjian Lama. Dahulu, Allah melakukan karya ajaib dalam kuasa-Nya yang transenden dan menyatakannya kepada hamba-hamba-Nya, atau kadang-kadang menggunakan hamba-hamba-Nya
161 Bdk. Mrk. 6:5.
162 Bdk. Yes 35:5-6.
sebagai pelaku perbuatan-perbuatan ajaib. Dalam kehadiran Yesus, Allah sendiri yang berinkarnasi dan berhadapan muka dengan manusia, bebas bertindak dalam kekuasaan yang berdaulat di dunia ―milik-Nya sendiri‖. Ketika rasul-rasul melakukan pekerjaan-pekerjaan serupa dalam nama-Nya, mereka bertindak dalam kuasa Tuhan yang sudah bangkit sehingga ―Kisah para Rasul‖ adalah lanjutan cerita peristiwa mukjizat yang sudah dilakukan Yesus sewaktu Ia masih bekerja di bumi163. Mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh para rasul dan pemimpin-pemimpin jemaat perdana Perjanjian Baru timbul dari kesatuan Kristus dengan umat-Nya. Mukjizat-mukjizat itu dilakukan dalam kuasa Roh Kudus164. Kemampuan untuk menyembuhkan, oleh karena itu, diberikan dalam konteks misi, bukan untuk mewartakan diri sendiri, tapi untuk memperkuat misi mereka165.
Mukjizat-mukjizat penyembuhan jauh lebih banyak terjadi pada zaman Perjanjian Baru daripada zaman Perjanjian Lama. Cara Yesus bertindak membuat mukjizat berbeda dengan cara para nabi Perjanjian Lama. Para nabi membuat mukjizat dalam nama Allah atau sesudah mereka berdoa kepada-Nya. Sementara itu Yesus mengusir setan dan menyembuhkan penyakit dengan kuasa yang sama seperti Ia mengucapkan pengampunan dosa kepada orang berdosa166. Yesus selalu menekankan bahwa karya-Nya dilakukan dengan selalu bergantung kepada
163 Bdk. Kis. 1:1.
164 Bdk. Kis 3: 1-10.
165 Bdk. Instruction on Prayer for Healing No 3, 14 September 2000, Dokumen CDF.
166 Bdk. Mrk 2:9-11.
Nya167. Keseimbangan antara kuasa pribadi dan ketergantungan total Yesus mencirikan citra ke-Allah-an dan kemanusiaan-Nya yang sempurna168.
Pemahaman akan mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus merupakan hal yang amat penting untuk menafsirkan makna karya penyembuhan Yesus. Ucapan Yesus kepada orang-orang zaman itu,” Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat”169 dan ―Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”170 menyapa dan berbicara secara dramatis kepada orang-orang yang mempunyai telinga untuk mendengar. Peristiwa mukjizat berkaitan langsung dengan iman para pengamat atau orang-orang yang terlibat langsung dan dengan iman orang-orang yang akan mendengar atau yang membacanya kemudian171.
Pernyataan Yesus,
”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.
Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”172
mungkin mengejutkan bagi kita karena banyak keajaiban yang dilakukan oleh Yesus selalu dihubungkan dan diarahkan menuju pemenuhan datangnya Kerajaan Allah.
Mukjizat-mukjizat itu adalah bagian dari pewartaan Kerajaan Allah, dan bukan tujuan
167 Bdk. Yoh 5:19.
168 Bdk. Yoh 10:38.
169 Mrk 1:15.
170 Luk 17:21.
171 Bdk. Yoh 20:30-31.
172 Mat 10:7-8.
pada diri-Nya sendiri. Karya penyembuhan adalah aspek sekunder dari misi utamaNya yaitu menyatakan bahwa Kerajaan Allah telah hadir di antara manusia.
Karya mukjizat penyembuhan Yesus bermaksud memberi tanda tentang Kerajaan Allah yang Ia wartakan karena mukjizat menyingkapkan misteri Allah sendiri173. Penegasan Yesus bahwa Kerajaan Allah telah hadir dengan tanda-tanda mukjizat ini adalah kesadaran baru di mana mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus harus dilihat dalam hubungannya dengan Injil sebagai kabar gembira dan kabar keselamatan. Karya Yesus menunjukkan hubungan antara penyembuhan dan penyelamatan. Mukjizat penyembuhan Yesus adalah bagian dari karya penyelamatan Allah. Seringkali penyembuhan yang dilakukan Yesus berhubungan dengan pemulihan secara fisik akan tetapi tujuan yang lebih jauh lagi adalah sebagai ajakan untuk datang ke hadirat Allah.
Karenanya ketika orang-orang di zaman Yesus tidak mampu melihat mukjizat-Nya sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah dan memandang Yesus hanya sebagai pembuat mukjizat, Yesus mengundurkan diri dan pindah ke kota lain untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah di sana174. Yesus juga tidak mengizinkan orang yang disembuhkan-Nya menyiarkan berita kesembuhan itu175. Ia tidak ingin penyembuhan disalahartikan dan dipisahkan dari hubungannya dengan Injil sebagai kabar gembira dan kabar keselamatan.
173 Bdk. Luk 11:20.
174 Bdk. Mrk 1:38.
175 Bdk. Mrk 1: 44.
Dalam kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus dan memuji Allah176. Yesus mengatakan kepadanya,”Imanmu telah menyelamatkan engkau”. Ucapan Yesus kepada satu orang ini bukan berarti bahwa kesembilan orang yang telah disembuhkan kembali sakit. Hal ini menunjukkan bahwa hanya satu oranglah yang benar-benar disembuhkan. Orang ini bukan hanya pulih secara fisik tetapi juga telah memahami makna penyembuhan Yesus. Penyembuhan Yesus secara jelas menunjukkan hubungan antara pulihnya kondisi fisik seseorang dan pemulihan hubungannya dengan Allah.
Karya penyembuhan Yesus secara nyata membuka jalan bagi kedatangan kerajaan Allah dan waktu penyelamatan. Penyelamatan yang ditawarkan Allah melalui Yesus Kristus mencakup penyembuhan yang lebih dari sekedar gangguan fisik dan psikologis. Penyembuhan Yesus menyentuh keutuhan hidup manusia: fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Ia tidak hanya memulihkan kondisi fisik yang sakit, tetapi juga memulihkan semua dimensi hidup manusia dalam relasinya dengan Allah.