• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DUKUNGAN DAN PENJELASAN SAINS ATAS BEBERAPA

3.2 Penjelasan Fisika Quantum bagi Terapi Alternatif

3.2.2 Proses Entanglement atau Entrainment

Beberapa terapi seperti Chi Kung, Tai Chi, Rei-ki, Emotion Freedom Technique, Theta Healing Science, Pranic Healing, Energy Medicine, Accupresure, dan Accupuncture didasarkan pada prinsip chi dan bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan tubuh dan pikiran. Ketika energi chi mengalir dengan bebas, tubuh mampu berfungsi secara normal. Jika energi yang mengalir tersumbat dalam wilayah tertentu dari tubuh, penyakit terjadi. Tai chi, Chi kung, Prana, Reiki, Akupuntur dan Akupresur adalah metode yang dirancang untuk menghapus penyumbatan ini dan memulihkan aliran energi alami tubuh. Bagaimanakah hubungan antara energi (chi) dan tubuh di atas dapat dijelaskan secara ilmiah? Jawabannya adalah dengan proses Entanglement atau Entrainment.

137 Diakses dari: http://www.my-holistic-healing.com/image-files/holistic-lifestyle-factors.jpg.

(30 Maret 2012).

Gambar 18. Proses Entanglement 138

Entanglement atau Entrainment adalah istilah yang digunakan dalam teori quantum untuk menggambarkan proses partikel energi atau materi dapat berkorelasi untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara yang diprediksi, terlepas dari seberapa jauh mereka berada. Hal ini berarti bahwa keadaan dan tindakan salah satu dari partikel-partikel ini dapat memengaruhi proses, kondisi, dan tindakan partikel lain.

Bgaimanakah kita bisa memasuki kondisi entrainment ini? Quantum Entrainment, Reconnective Healing, dan Matrix Energetics secara prinsip akan menjawab yakni dengan menyediakan waktu untuk merasakan ―jeda‖ dalam kesadaran kita. Merasakan ―jeda‖ berarti menyadari keadaan budi tanpa arus pikiran yang hilir mudik. Ketika budi sudah terlatih dan ―jeda‖ sudah menyatu dengan kita, arena quantum sudah kita masuki. Dengan ―jeda‖ dalam kesadaran kita, kita akan

138 Sumber: http://www.nithyananda.org/sites/default/files/kundalini-activation-scientific-study/image011.jpg. (30 Maret 2012).

memengaruhi proses, kondisi, dan tindakan partikel energi atau materi sehingga dapat berkorelasi untuk berinteraksi satu sama lain.

Entanglement atau Entrainment adalah prinsip di balik semua proses yang melibatkan kesadaran diri, transfer energi atau chi, kesadaran, fokus pikiran, meditasi, dan senam kebugaran. Entanglement atau Entrainment terjadi ketika penerima secara mental berhasil menyelaraskan energi atau gelombangnya dengan sumber dan terbuka untuk menerima energi. Proses Entanglement secara ilmiah menunjukkan bahwa metode penyembuhan jarak jauh maupun metode terapi tanpa sentuhan seperti yang diterapkan pada metode Reconnective Healing, Matrix Energetics, Quantum Entrainment, Now Healing, Healing Codes, Quantum Awareness Healing, Energy Psychology adalah metode yang ilmiah dan masuk akal.

3.3 Penjelasan Teori Gelombang Otak139 atas Terapi Alternatif

Getaran atau frekuensi adalah jumlah pulsa (impuls) per detik dengan satuan hz (hertz). Berdasarkan riset selama bertahun-tahun di berbagai negara maju, frekuensi otak manusia berbeda-beda untuk setiap fase sadar, rileks, tidur ringan, tidur nyenyak, trance, panik, dan sebagainya. Melalui penelitian yang panjang, akhirnya para ahli syaraf (otak) sependapat bahwa gelombang otak berkaitan dengan kondisi pikiran.

Dengan diketahuinya setiap tingkat gelombang otak manusia yang mampu beresonansi dari getaran audio, visual, dan sinyal raba atau perasaan, maka kita dapat menstimulasi otak kita menghasilkan gelombang otak tertentu sesuai kebutuhan,

139 Mengikuti penjelasan Anna Wise, Menguasai Gelombang Otak, diterjemahkan dari The High Performance Mind, oleh Claudia Syanny Latif, Gramedia, Jakarta, 2012,1-30.

misalnya untuk meningkatkan ketenangan, kemampuan berpikir, ingatan, pemahaman yang cepat, meditasi, mengobati atau meningkatkan kesehatan bagi mereka yang menderita ADHD140, ADD141 atau Autisme142, susah tidur dan seterusnya.

Gelombang otak yang amat berhubungan dengan penyembuhan adalah143:

3.3.1 Alpha (8 hz – 12 hz):

Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Kita menghasilkan gelombang Alpha setiap akan tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Fenomena Alpha banyak dimanfaatkan oleh para pakar hipnosis untuk mulai memberikan sugesti kepada pasiennya. Orang yang memulai meditasi ringan juga menghasilkan gelombang Alpha. Frekuensi Alpha 8 -12 hz, merupakan frekuensi pengendali, penghubung pikiran sadar dan bawah sadar.

Kita bisa mengingat mimpi karena memiliki gelombang Alpha. Kabur atau jelasnya sebuah mimpi yang bisa kita ingat tergantung kualitas dan kuantitas gelombang Alpha pada saat kita bermimpi.

3.3.2 Beta (14 – 100 Hz):

140 ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

141 ADD (Attention Deficit Disorder) adalah salah satu jenis ADHD.

142 Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas dan minat yang obsesif.

143 Anna Wise, Menguasai Gelombang Otak, diterjemahkan dari The High Performance Mind, oleh Claudia Syanny Latif, PT Gramedia, Jakarta, 2012, 31-70.

Adalah gelombang otak di mana kita tengah berada pada kondisi aktif, terjaga, sadar penuh dan didominasi oleh logika. Inilah kondisi normal yang kita alami sehari-hari ketika sedang terjaga (tidak tidur) atau ketika kita menjalani aktivitas sesehari-hari-sehari-hari yang menuntut logika atau analisa tinggi, misalnya mengerjakan soal matematika, berdebat, olah raga, dan memikirkan hal-hal yang rumit. Dalam frekuensi Beta, kerja otak cenderung memantik munculnya rasa cemas, khawatir, stress, dan marah. Tetapi sebaliknya, orang yang tidak memiliki cukup gelombang Beta menjadi cenderung pelupa dan kurang menyadari lingkungan mereka.

3.3.3 Theta (4 hz – 8 hz):

Adalah gelombang otak yang terjadi pada saat seseorang mengalami tidur ringan, atau sangat mengantuk. Tanda-tandanya adalah napas mulai melambat dan dalam.

Selain orang yang sedang diambang tidur, beberapa orang juga menghasilkan gelombang otak ini saat trance, hipnosis, meditasi dalam, berdoa, menjalani ritual agama dengan khusuk. Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan berada pada kondisi sangat khusuk dan keheningan yang mendalam. Inilah kondisi ketika para biarawan atau biarawati melantunkan ayat-ayat dari kitab Mazmur dalam keheningan.

Orang yang mampu mengalirkan energi chi, prana atau tenaga dalam, juga menghasilkan gelombang otak Theta pada saat mereka latihan atau menyalurkan energinya kepada orang lain.

Gambar 19. Kategori aktivitas gelombang otak manusia144

3.3.4 Delta (0.5 hz – 4 hz):

Adalah gelombang otak yang memiliki amplitudo yang besar dan frekuensi yang rendah, yaitu dibawah 3 hz. Otak menghasilkan gelombang ini ketika kita tertidur lelap, dan tanpa mimpi. Fase Delta adalah fase istirahat bagi tubuh dan pikiran.

Tubuh kita melakukan proses penyembuhan, memperbaiki kerusakan jaringan, dan aktif memproduksi sel-sel baru saat kita tertidur lelap.

144 Diakses dari: http://www.formulaformiracles.net/brain-waves.html. (30 Maret 2012).

Pada tahun 1990, psikolog Eugene Peniston, bersama dengan Paul J. Kulkosky, mengejutkan para peserta seminar tahunan Association of Applied Psychophysiology and Biofeedback dengan mengumumkan studinya bahwa meditasi pada gelombang otak Alpha dan Theta meningkatkan kesehatan dan menyembuhkan banyak penyakit, kecanduan alkohol dan obat, dan post-traumatic stress disorder (PTSD)145.

Sebenarnya para terapis neurofeedback dan para peneliti ―kesadaran‖

(consciousness) sudah mengetahui manfaat gelombang Alpha dan Theta. Para terapis dan peneliti ―kesadaran‖ semakin mendukung laporan studi Peniston dan Kulkosky yang membuktikannya secara objektif. Studi tentang pengaruh meditasi pada gelombang otak akan berdiri sebagai bidang ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Peniston dan Kulkosky melakukan pelatihan biofeedback gelombang otak di klinik Menninger kepada pecandu alkohol kronis di Fort Lyon, rumah sakit Colorado.

Pasien mereka secara berangsur-angsur menjadi lebih santai dan berkurang tingkat depresinya, tingkat endorfin mulai stabil, dan perkembangan kepribadian bergeser ke arah yang lebih diinginkan. Mereka juga berhenti minum alkohol dan tiga tahun selanjutnya pun bebas dari kecanduan alkohol. Dalam sebuah penelitian Peniston berikutnya, pelatihan meditasi Alpha-Theta kepada para veteran yang menderita trauma kepanikan, kecemasan, depresi, fobia, dan mimpi buruk berhasil menolong 12 dari 15 pria yang mendapat pelatihan selama sebulan.

145 Meditation and Healing. Diakses dari http://www.brainwavetraining.com/meditation_healing.htm.

(30 Maret 2012).

Kesimpulan mereka adalah bahwa relaksasi pada gelombang Alpha-Theta seperti yang dilakukan pada terapi Meditasi, Autogenik, Relaksasi Progresif, Visualisasi Kreatif, Hipnoterapi, Neuro Linguistic Programming (NLP), Brain Gym, Brain Wave Vibration, Bach Flower Remedy , mampu mengakses ketenangan yang amat dalam dan pelan-pelan mengubah sistem kimiawi dan jalur saraf otak. Otak dan sistem saraf pusat menyembuhkan dirinya sendiri dan kesadaran yang baru mengalir melalui setiap jalur saraf tubuh dan pikiran.

Bagaimana metode relaksasi yang berupa meditasi ini mampu membuat perubahan di otak, tubuh, pikiran, semangat, dan kehidupan seseorang? Praktisi neurofeedback percaya bahwa melatih bagian tertentu di otak dengan merendahkan frekuensi gelombang otak akan membawa darah beroksigen menuju dendrit (impuls reseptor) di daerah otak yang dirawat. Akibatnya, pengisian oksigen ini secara elektro-kimiawi mampu menyembuhkan penyakit atau cedera. Aliran darah yang kaya dengan oksigen meningkat dan mereorganisasi dan menguatkan hubungan saraf yang ada untuk membawa energi yang akan menyembuhkan dan meremajakan sel.

Dengan pemahaman di atas, praktisi neurofeedback, pekerja medis, dan psikoterapis telah mencapai beberapa kesimpulan menarik tentang sifat dasar penyakit. Kesimpulan ini melalui asumsi dasar bahwa kesehatan tubuh berasal dari kesehatan otak dan sistem saraf pusat. Asumsi mereka diuraikan sebagai berikut:

Sebuah sistem saraf yang terlalu tegang menghasilkan stres fisik dan mental, kecemasan, agitasi, impulsif, dan kemarahan. Sistem saraf yang terlalu tegang diduga menjadi penyebab kelelahan sistem saraf dan kondisi fisik seperti sindrom kelelahan kronis dan fibromyalgia. Sedangkan sistem saraf yang lemah dan kendur

menghasilkan beberapa jenis depresi, kurangnya motivasi, dan kelalaian.

Ketidakstabilan otak menghasilkan gangguan migrain, PMS146, kepanikan, kelemahan motorik dan vokal dari tubuh, vertigo, epilepsi, dan masalah lainnya.

Jadi hampir semua masalah kesehatan terjadi karena sistem saraf yang terlalu tegang, terlalu kendur dan ketidakstabilan dalam frekuensi dari pikiran-tubuh.

Apabila salah satu faktor menyebabkan terlalu banyak stres di otak dan tubuh, kondisi seperti nyeri sendi, sulit tidur, migrain, kepanikan, depresi, kecemasan, dan masalah lainnya akan mencuat. Pada gambar 21 menunjukkan bahwa setelah menjalani pelatihan meditasi, sel-sel darah menjadi lebih bulat dan jernih yang berarti bahwa kondisi darah jauh lebih sehat dari sebelumnya.

Gambar 20. Sel darah sebelum menjalani pelatihan meditasi147.

146 PMS: Premenstrual syndrome atau disebut juga PMT (premenstrual tension).

147 Scientific proof that Brent's Spiritual Growth and Energy Healing workshops really work dalam The Formula for Miracle where Science meets Spirits dari http://www.formulaformiracles.net/proof-that-it-works.html. (30 Maret 2012).

Gambar 21. Sel darah setelah menjalani pelatihan meditasi148.

3.4 Penjelasan Teori Epigenetika atas Terapi Alternatif

Dalam ilmu genetika, dikenal istilah genotip dan fenotip. Pengertian genotip secara sederhana adalah susunan genetik yang merupakan dasar dari karakter suatu individu. Sedangkan pengertian fenotip adalah ciri yang tampak atau terlihat secara fisik, biasanya berhubungan dengan ukuran, warna, bentuk, sifat, kecenderungan, rasa, dan lainnya.

Susunan genotip bisa berbeda dengan penampakan atau ekspresinya (fenotip).

Misalnya pada golongan darah. Seseorang yang mempunyai genotip OO maka fenotip golongan darahnya O, begitu juga dengan genotip AA maka fenotipnya golongan darah A. Jika orangtua mempunyai genotip OO dan AA, maka kemungkinan anak-anaknya mempunyai genotip OO (fenotip O), genotip OA (fenotip A), genotip AO (fenotip A), dan genotip AA (fenotip A). Jadi, suatu genotip

148 Scientific proof that Brent's Spiritual Growth and Energy Healing workshops really work dari http://www.formulaformiracles.net/proof-that-it-works.html. (30 Maret 2012).

bisa diekspresikan atau ditampakkan sebagai fenotip secara berbeda dengan genotipnya.

Kata ―epi‖ pada Epigenetika berasal dari bahasa Yunani yang berarti “on top of‖

(di atas, ditumpangi) atau “in addition to” (tambahan pada) genetik. Sedangkan yang dimaksud dengan Epigenetika yaitu ilmu yang mempelajari perubahan dari suatu fenotip (penampakan) yang disebabkan oleh mekanisme yang bukan karena terjadinya perubahan dari genotip (tanpa terjadi perubahan susunan DNA) suatu individu. Perubahan tersebut bahkan bisa bertahan sampai beberapa generasi.

Gambar 22 menunjukkan diagram Epigenetika149.

Conrad Waddington (1905-1975) sering dikaitkan dengan penemuan istilah Epigenetika pada tahun 1942 yang berarti cabang ilmu Biologi yang mempelajari

149 Sumber: http://www.lewrockwell.com/sardi/Epigenetics.gif. (30 Maret 2012).

Gambar 22. Diagram Epigenetika.

interaksi sebab akibat antara gen dengan produknya. Istilah Epigenetika muncul di literatur pada pertengahan abad ke-19, meskipun konsep aslinya berasal dari Aristoteles. Dia mempercayai adanya epigenesis, perkembangan bentuk organik dari yang tidak berbentuk. Pandangan kontroversial ini merupakan argumen utama melawan teori bahwa tubuh manusia terjadi dari yang telah berbentuk. Bidang Epigenetika telah menjadi jembatan antara genetika dan lingkungan. Di abad ke-21, Epigenetika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perubahan yang diturunkan pada fungsi genom, yang terjadi tanpa perubahan susunan urutan DNA.

Biologi konvensional telah membangun pengetahuan bahwa gen mengontrol kehidupan. Peran DNA adalah mengontrol fungsi sel dengan kata lain DNA menentukan aktivitas sel dan ekspresi gen. DNA adalah penentu atau otak dari sel.

Karena DNA mewarisi karakter induk, maka ia bersifat tetap dan tidak dapat diubah.

Maka, tubuh dengan kehidupannya adalah proyek genome. Para ilmuwan telah memperkirakan bahwa kompleksitas manusia akan memerlukan sebuah genom (koleksi total gen) lebih dari 100.000 gen. Hal ini didasarkan pada perkiraan bahwa ada lebih dari 30.000 gen pengatur dan lebih dari 70.000 gen kode protein.

Ketika laporan proyek genom manusia disampaikan, kesimpulan yang disajikan cukup menggelikan. Laporan mengatakan bahwa seluruh genom manusia terdiri dari 34.000 gen. Sedangkan 65% dari gen yang diperkirakan ternyata tidak ada!

Bagaimana mungkin kita bisa menjelaskan kompleksitas genetik penentu seorang manusia jika bahkan tidak ada gen yang cukup untuk mengkode untuk protein?

Pemikiran konvensional menyatakan bahwa ada satu gen untuk kode masing-masing 70,000-90,000 protein yang berbeda yang membentuk tubuh kita. Kegagalan proyek

genom justru mengkonfirmasi bahwa persepsi kita tentang cara kerja biologi didasarkan pada asumsi.

Gambar 23. Sel Membran sebagai ―otak‖ sel150.

Keyakinan kita dalam konsep determinisme genetik ternyata cacat. Kita tidak bisa menggantungkan karakter hidup kita semata-mata sebagai konsekuensi dari

―pemrograman‖ yang sudah diwarisi secara genetik. Perbedaan mendasar antara kode genetik DNA lama dan Epigenetika adalah bahwa gagasan lama mendukung determinisme genetik dengan keyakinan bahwa gen menakdirkan dan mengontrol fisiologis, perilaku, dan sifat kita.

150 Sumber : http://oneness2012.com/dna_and_epigenetics

Gambar 24. Pengaruh sinyal lingkungan terhadap sel151.

Sementara Epigenetika mengakui bahwa persepsi kita tentang lingkungan, termasuk kesadaran kita secara aktif mengontrol gen kita. Melalui mekanisme epigenetik, kesadaran yang diterapkan dapat digunakan untuk membentuk biologi kita dan membuat kita menguasai hidup kita sendiri. Menurut teori Epigenetika sebagai paradigma baru, membran sel berperan sebagai otak dari sel. Membranlah yang akan memberitahu DNA apa yang harus dilakukan. Informasi yang masuk melalui membran sel adalah ―saklar‖ yang mengatur DNA dan energi diperlukan sebagai bentuk komunikasi ke membran sel. Tetapi sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana sinyal lingkungan dapat berasal dari luar dan memengaruhi sel152.

151 Diakses dari: http://oneness2012.com/dna_and_epigenetics. (30 Maret 2012).

152 Sebuah studi penting empat puluh tahun yang lalu oleh biofisika Oxford University CWF McClare dihitung dan dibandingkan efisiensi transfer informasi antara sinyal energi dan sinyal kimia dalam sistem biologi. Penelitiannya, ―Resonansi dalam Bioenergetika‖, diterbitkan dalam Annals of New York Academy of Science, mengungkapkan bahwa mekanisme sinyal energik seperti frekuensi elektromagnetik seratus kali lebih efisien dalam menyampaikan informasi lingkungan dari sinyal fisik seperti hormon, neurotransmiter, faktor pertumbuhan.

Membran sel adalah permukaan antara dunia luar dan di dalam sel. Setiap permukaan sel atau membran dalam tubuh kita dipenuhi dengan ribuan molekul reseptor/efektor (Integrated Membrane Protein/IMP). Molekul protein dalam membran sel merespon tuntutan mekanisme fisiologis internal dengan tuntutan lingkungan yang ada. Reseptor ini mengenali sinyal lingkungan (informasi) seperti kita (misalnya mata, telinga, hidung,) membaca lingkungan kita153. Reseptor-efektor kompleks protein berfungsi sebagai ―saklar‖ yang mengintegrasikan fungsi organisme dalam lingkungannya. Komponen reseptor saklar menyediakan ―kesadaran lingkungan‖ dan komponen efektor menghasilkan ―sensasi fisik‖ dalam menanggapi kesadaran itu.

Epigenetika masih menjadi hal yang aneh dan luar biasa yang sulit dijelaskan.

Para ilmuwan membuat perumpamaan tentang Epigenetika agar orang awam mudah memahaminya. DNA adalah sebuah kaset yang membawa informasi. Dan kaset tidak berguna tanpa sebuah tape player. Epigenetika adalah tape player-nya. Bila diibaratkan komputer, maka hard disk adalah seperti DNA dan programnya adalah seperti Epigenetika. Kita dapat mengakses informasi tertentu dari hard disk menggunakan program di komputer. Namun ada area tertentu yang menggunakan password dan ada juga yang terbuka. Saat ini, peneliti sedang berusaha memahami mengapa area tertentu terbuka dan area lain membutuhkan password untuk membukanya.

153 Kecepatan sinyal energi elektromagnetik adalah 186.000 mil per detik, sementara kecepatan bahan kimia diffusible jauh kurang dari 1 sentimeter per detik. Sinyal energi adalah 100 kali lebih efisien dan jauh lebih cepat daripada sinyal kimia fisik.

Menurut Bruce Lipton, kita bukanlah budak gen kita sendiri. Lingkungan memainkan peranan besar dan bagaimana kita mempersepsikan lingkungan kita dapat memberi dampak pada ekspresi gen. Dengan mengubah lingkungan atau persepsi kita akan lingkungan, maka sel akan dapat mengubah ekspresi genetiknya. Pendapat ini tentunya mengagetkan banyak orang karena seringkali kita berpikir tidak banyak yang bisa kita lakukan akibat persepsi yang sudah dibentuk di masyarakat kita bahwa kita terlahir seperti adanya kita dan tidak bisa diubah (genetic nihilism).

Fenomena Epigenetika begitu luar biasa154. Kita dapat menulis ulang program genetik kita dan mengubah kehidupan kita. Penjelasan sederhananya adalah kita dapat mengubah ekspresi sandi genetik dengan mengubah penanda-penanda kimiawi yang menutupi DNA kita, dan protein-protein yang membungkusnya. Penanda-penanda ini menghasilkan lapisan Epigenetika dan secara efektif membungkam beberapa gen tertentu. Kuncinya adalah lapisan Epigenetika ini memberikan respons terhadap rangsangan eksternal, misalnya dari apa yang kita minum dan makan sampai dengan stres yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengubah lapisan Epigenetika, kita sebetulnya dapat mengubah cara DNA mengekspresikan dirinya.

Pengendalian Epigenetika memperlihatkan bahwa informasi lingkungan mengubah ekspresi gen tanpa mengubah sekuens DNA. Dari satu gen saja, regulasi Epigenetika dapat menyediakan sekitar 30 ribu variasi ekspresi yang berbeda.

Analoginya begini. Gen-gen kita seperti halnya televisi. Jadi pada model Epigenetika,

154 Bruce Lipton menambahkan, ―Frekuensi khusus dan pola radiasi elektromagnetik mengatur dan mengontrol regulasi gen, pembelahan sel, diferensiasi sel, morfogenesis (proses di mana sel-sel merakit ke organ dan jaringan), sekresi hormon, pertumbuhan saraf dan fungsi .... Meskipun studi penelitian ini telah diterbitkan dalam beberapa jurnal yang paling dihormati oleh bidang biomedis utama, temuan revolusioner mereka belum dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah kedokteran,‖

diakses dari http://www.brucelipton.com/media/article. (30 Maret 2012).

kita bisa mengendalikan televisi kita, yaitu bisa kita matikan atau hidupkan, volumenya bisa dibesarkan atau dikecilkan. Warna pada siaran televisi bisa kita ubah, buat kontras, terang, gelap, dan lain-lain. Tetapi tetap kita tidak mengubah siarannya.

Jadi potensi perubahan itu tidak terbatas. Perbedaan antara apa yang dikendalikan oleh gen-gen kita dan seleksi Epigenetika ditentukan pada awal perkembangan manusia.

Bagaimana cara kita memicu ekspresi gen, sehingga kita bukan lagi korban gen kita akan tetapi kita menjadi tuan nasib kita sendiri? Dengan menggunakan kesadaran kita. Otak adalah adalah alat pemancar, membaca signal dari luar, menginterpretasi signal dan meregulasi senyawa kimia di dalam tubuh yang mengendalikan ekspresi genetik di dalam sel. Interpretasi oleh pikiran sangat penting karena otak membaca kesan-kesan atau gambar dari lingkungan tetapi tidak memiliki opini mengenai arti dari kesan atau gambar tersebut. Pikiran menginterpretasikan signal lingkungan berdasarkan pengalaman yang telah kita pelajari. Terapi-terapi alternatif dengan basis kesadaran diri seperti Reconnective Healing, Matrix Energetics, Quantum Entrainment, Now Healing, Healing Codes, Quantum Awareness Healing, Energy Psychology, merasa sangat didukung dengan penjelasan di atas.

Menurut Bruce Lipton, untuk jenis terapi yang lain seperti Prana, Chikung, Reiki, Taichi, EFT, Energy Medicine akan bekerja dalam tingkat selular yaitu memengaruhi aktivitas molekul emosi seperti yang ditemukan oleh Candace Pert155. Pert

155 Candace Pert adalah seorang farmakolog dan pengarang buku Molecules of Emotion: The Scientific Basis Behind Mind-Body Medicine (Scribner, New York, 1997), Everything You Need to Know to Feel Go(o)d (Hay House, California, 2006), dan The Musical Guided Imagery CD Psychosomatic Wellness:

Healing your Body-Mind.

menyatakan bahwa rantai pendek asam amino yang disebut peptida, dan reseptornya, adalah ―biokimia yang berhubungan dengan emosi‖. Peptida ditemukan di otak, di perut, otot, kelenjar, dan semua organ utama.

Gambar 25. Sintesis, pengemasan dan pelepasan peptida156.

Candace Pert menyatakan bahwa sistem saraf adalah sistem jaringan yang didasarkan pada neurotransmitter (kimiawi protein yang terdiri dari peptida). Sistem saraf yang kedua adalah berdasarkan ligan dan reseptor (molekul bergetar/peptida)

Candace Pert menyatakan bahwa sistem saraf adalah sistem jaringan yang didasarkan pada neurotransmitter (kimiawi protein yang terdiri dari peptida). Sistem saraf yang kedua adalah berdasarkan ligan dan reseptor (molekul bergetar/peptida)