• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LETTER OF CREDIT BERDASARKAN PRINSIP-

B. L/C Menurut Hukum Islam

4. Beberapa Kontrak/Akad Yang Berkaitan Dengan

Pengertian wakalah

Secara etimologi wakalah berasal dari kata ”wakil” yang artinya menjaga. Pengertian tersebut diambil dari firman Allah: ”Wa qaalu hasbunallahu wa ni’mal

wakiil” yang artinya:”Maha Suci Allah Dialah yang memberikan segala nikmat dan

Allah adalah sebaik-baik wakil.(QS, Ali Imran:173). Kata wakil disini berarti Al

Hafizh: Yang Menjaga”101 wakalah juga dapat diartikan tafwiidh, yaitu mempercayakan, menyerahkan mandat atau menjadikan wakil. Dengan mewakilkan sesuatu urusan kepada seseorang, maka orang yang diwakili akan merasa cukup

101

dengannya, pengertian ini diambil dari firman Allah dalam QS Hud:56 yang berbunyi: ’Inni tawakkaltu ’alallahi rabbi wa rabbikum’, yang artinya sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu.102

Ada dua definisi yang dikemukakan para ahli fikih tentang wakalah. Menurut ulama mazhab Hanafi, al wakalah adalah pendelegasian suatu tindakan hukum kepada orang lain yang bertindak sebagai wakil. Sementara menurut ulama mazhab Syafi’i, al wakalah yaitu pendelegasian hak kepada seseorang dalam hal-hal yang bisa diwakilkan kepada orang lain selagi ia hidup. Ungkapan ’selagi dia hidup’ dalam definisi mazhab Syafi’i menunjukkan ada perbedaan antara al wakalah dengan

wasiat.103

Menurut Abu Bakar Jabir El-Jazairi, al wakalah adalah mewakilkan seseorang atas wewenangnya dalam hal yang dibolehkan untuk diwakilkan, seperti dalam jual beli dan lain-lainnya.104

Menurut naskah akademik Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah yang disusun oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, pada pasal 516 menyatakan bahwa ijin dan persetujuan sama dengan pemberian kuasa untuk bertindak sebagai penerima kuasa.

Persepakatan Ulama dalam Hukum Islam mengartikan wakalah sebagai mewakilkan seseorang atas wewenangnya dalam hal yang dibolehkan untuk diwakilkan, seperti dalam jual beli dan lain-lain.105

102

Ibid

103

Abdul Azis Dahlan, Op.cit, hal.1911

104

Hukum Wakalah

Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.10/DSN-MUI/IV/2000 yang menjadi dasar hukum wakalah adalah:

1. Firman Allah QS. Al Kahfi (18):19:

”Dan demikianlah Kami bangkitkan mereka agar saling bertanya diantara

mereka sendiri. Berkata salah seorang diantara mereka:’sudah berapa lamakah kamu berada (disini)? Mereka menjawab:’kita sudah berada disini satu atau setengah hari.” berkata yang lain lagi: Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu disini. Maka suruhlah salah seorang kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali- kali menceritakan halmu kepada seseorangpun.”

2. Firman Allah dalam QS. Yusuf (12):55 tentang ucapan yusuf kepada Raja: ”Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah

orang yang pandai menjaga lagi berpengalaman.”

3. Firman Allah QS.al-Baqarah (2):283:

”...maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah

yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya...”

4. Firman Allah QS.Almaidah (5):2:

”Dan tolong menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan

janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran.”

5. Hadis-hadis Nabi, antara lain:

”Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk

mengawinkan (qabul perkawinan Nabi dengan) Maimunah ra.”(HR. Malik dalam Muwaththa’)

105

”Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW untu menagih hutang kepada beliau dengan cara kasar, sehingga para sahabat berniat untuk menanganinya. Beliau bersabda;”biarkan dia, sebab pemilik hak berhak untuk berbicara,” lalu sabdanya, ”Berikanlah (bayarkanlah) kepada orang ini unta seumur setahun seperti untanya (yang dihutang itu).” mereka menjawab, ”kami tidak mendapatkannya kecuali yang lebih tua.” Rasulullah kemudian bersabda:”berikanlah kepadanya. Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik di dalam membayar.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

”Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi dari ’Amr bin ’Auf).

6. Ijma’ umat Islam atas bolehnya wakalah, bahkan memandangnya sebagai

sunnah, karena hal itu termasuk jenis ta’awun (tolong menolong) atas

dasar kebaikan dan taqwa, yang diperintahkan oleh al Qur’an dan Hadis. 7. Kaidah fiqh:

”Pada dasarnya semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

Menurut Persepakatan Ulama dalam hukum Islam, hukum wakalah adalah boleh, berdasarkan Al Quran dan Sunnah.106 Demikian pula pendapat Abu Bakar El Jazairi yang menyatakan bahwa menurut ijma umat, wakalah adalah jaiz dan masyru’ (disyariatkan).107

106

Persepakatan Ulama dalam HUkum Islam, Op.cit, hal.102.

107

Berakhirnya Wakalah

Ulama fikih menyatakan bahwa akad al wakalah dianggap berakhir apabila terdapat hal-hal sebagai berikut:108

1. Wakil diberhentikan oleh orang yang mewakilkannya. Dalam hal ini ulama mazhab hanafi mengemukakan beberapa syarat dalam memberhentikan wakil tersebut, yaitu (a) wakil mengetahui bahwa tugasnya dicabut, baik secara lisan maupun tulisan; (b)dalam perwakilan itu tidak ersangkut hak orang lain, seperti perwakilan dalam menjual harta yang digadaikan untuk membayar utang orang yang diwakilkan. Dalam kasus ini, orang yang mewakilkan tidak boleh mencabut wakilnya kecuali atas seijin orang yang mempunyai piutang.

2. Orang yang mewakilkan melakukan suatu tindakan hukum terhadap objek yang telah diwakilkan.

3. Tujuan yang ingin dicapai dari pewakilan telah tercapai atau dengan kata lain masa perwakilannya telah berakhir.

4. Salah satu pihak (wakil atau yang mewakilkan) berubah status menjadi tidak cakap bertindak hukum seperti gila atau dikenakan status dibawah pengampuan.

5. Salah satu pihak (wakil) atau yang mewakilkan meninggal dunia.

6. Orang yang mewakilkan itu, menurut ulama mazhab hanafi, keluar dari agama Islam (murtad), maka perjanjian perwakilan menjadi batal dengan sendirinya.

7. Wakil murtad. Menurut ulama mazhab maliki perwakilan yang demikian batal, akan tetapi menurut ulama mazhab syafi’i, hanafi dan hambali, perwakilan tidak batal.

8. Wakil mengumumkan pengunduran dirinya sebagai wakil dan diketahui oleh yang mewakilkan.

9. Hilangnya barang yang menjadi objek perwakilan.

10. Barang yang menjadi objek perwakilan tidak lagi menjadi milik yang mewakilkan.

11. Orang yang mewakilkan jatuh pailit.

12. Terjadinya penipuan oleh masing-masing pihak. Hal ini dikemukakan oleh ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i.

13. Munculnya tindakan sewenang-wenang dari masing-masing pihak terhadap objek yang diwakilkan. Hal ini dikemukakan oleh mazhab Syafi;i dan Hambali.

108

14. Menurut ulama mazhab Syafi’i dan hambali, perwakilan akan berakhir apabilawakil menjadi orang yang fasik dalam hal akad yang mensyaratkan wakil tidak fasik.

15. Kedua belah pihak sepakat mengakhiri masa perwakilan.

Larangan Dalam Wakalah

Abu Bakar Jabir El Jazairi berpendapat mewakilkan jual beli kepada orang kafir dilarang karena dikhawatirkan akan melakukan yang haram, begitu pula seorang muslim tidak diperbolehkan menjadi wakil orang kafir, karena dikhawatirkan si kafir akan merasa lebih unggul daripadanya.109 Mengenai larangan mengadakan perjanjian

wakalah dengan orang kafir juga diperkuat oleh Persepakatan Ulama dalam Hukum

Islam110

Ketentuan Wakalah

Fatwa Dewan Syariah Nasional no.10/DSN-MUI/IV/2000 memberikan ketentuan tentang wakalah:

1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).

2. Wakalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara

sepihak.

Wakalah juga harus diatasnamakan kepada orang yang memberi kuasa, hal

ini dapat dilihat dari naskah akademik Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah pasal 525 ayat (2):

109

Abu Bakar Jabir El Jazairi, Op.cit, hal.102.

110

” jika transaksi tersebut diatas tidak merujuk untuk diatasnamakan kepada orang yang memberikan kuasa, maka transaksi itu tidak sah.”

Wakalah juga harus dilaksanakan sendiri oleh penerima kuasa,

sebagaimana terdapat dalam naskah akademik Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah pasal 531 ayat (1):

” seseorang yang telah ditunjuk sebagai penerima kuasa untuk suatu masalah trertentu, tidak berhak menunjuk yang lain sebagai penerima kuasa tanpa izin yang memberikan kuasa.”

Rukun dan Syarat Wakalah

Adapun rukun dan syarat wakalah dinyatakan pada bagian kedua Fatwa Dewan Syariah Nasional No.10/DSN-MUI/IV/2000 tentang wakalah, yaitu:

1. Syarat-syarat muwakkil (yang mewakilkan), adalah:

a. Harus pemilik sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang ia wakilkan. b. Orang mukallaf atau anak mumayyiz dalam batas-batas tertentu, yakni dalam

hal-hal yang bermanfaat baginya seperti mewakilkan untuk menerima hibah, menerima sedekah dan sebagainya.

2. Syarat-syarat wakil (yang mewakili) a. Cakap hukum.

b. Dapat mengejakan tugas yang diwakilkan kepadanya. c. Wakil adalah orang yang diberi amanat.

3. Hal-hal yang diwakilkan

a. Diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili. b. Tidak bertentangan dengan syariat Islam.

c. Dapat diwakilkan menurut syariat Islam.

Perjanjian pembukaan L/C pada bank syariah pada prisipnya merupakan perjanjian (akad) al wakalah, dimana nasabah menunjuk bank sebagai wakil dalam hal pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor hingga urusan pembayaran kepada beneficiary (penerima L/C). Secara sederhana prinsip ini dapat terlaksana apabila nasabah memiliki dana cukup dan membayar lunas tepat waktu sehingga

proses L/C selesai dan bank memperoleh keuntungan berupa upah atau fee atau ujrah yang sudah disepakati bersama sejak awal perjanjian, dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. Sehingga terdapat kejelasan upah atau keuntungan yang diperoleh bank melalui akad wakalah. Tetapi dalam praktek tidak selalu proses L/C berjalan sederhana seperti itu, seringkali nasabah tidak mempunyai cukup dana sehingga akad wakalah yang ada menjadi lebih kompleks, sehingga akad yang dipergunakan dalam perjanjian L/C dikembangkan dalam berbagai bentuk akad.

Hal ini dapat dilihat dari ketentuan Fatwa Dewan Pengawas Syariah MUI No. 34/DSN-MUI/IX/2002 tentang L/C Impor Syariah pada bagian pertama tentang Ketentuan Umum huruf kedua yang berbunyi:

”L/C Impor Syariah dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad:

wakalah bil ujrah, Murabahah, Salam/Istishna’ Mudharabah, Musyarakah, dan Hawalah.

Sedangkan untuk L/C Ekspor Syariah Fatwa Dewan Pengawas Syariah MUI No. 35/DSN-MUI/IX/2002 menyatakan pada bagian pertama tentang

Ketentuan Umum huruf kedua:

“L/C Ekspor Syariah dalam pelaksanaannya menggunakan akad-

akad:Wakalah bil Ujrah, qardh, Mudharabah, Musyarakah dan Al Bai’”

b. Murabahah

Pengertian Murabahah

Menurut beberapa kitab fiqih, murabahah adalah salah satu dari bentuk jual beli yang bersifat amanah. Pelaksanaan akad murabahah adalah berdasarkan harga barang dimana harga asli pembelian si penjual yang diketahui pembeli dan

keuntungan si penjual pun diberitahu kepada pembeli. Dalam transaksi murabahah ini tidak ada tawar menawar sebagaimana jual beli musawwamah.111

Menurut Kodifikasi Produk Perbankan Syariah yang diterbitkan oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, yang dimaksud dengan akad

murabahah adalah:112

”transaksi jual beli suatu barang sebesar harga perolehan barang ditambah dengan margin yang disepakati oleh para pihak, dimana penjual menginformasikan terlebih dahulu harga perolehan kepada pembeli”. Dalam keuangan Islam, dimana jalur kredit berbunga dilarang, jalur kredit alternatifnya adalah murabahah, yang menggunakan jual beli barang dengan kenaikan harga sebagai keuntungan dimasukkan ke dalam harganya. Tambahan marjin laba tersebut dapat mencakup apa saja yang dipilih penjual untuk dimasukkan ke dalam harga, tanpa harus dipersoalkan atau diperlukan pembenaran.113 Mengenai hal ini, empat Mazhab sepakat membolehkan pembebanan biaya langsung yang harus dibayarkan kepada pihak ketiga menjadi komponen biaya. Para ulama empat azhab ini juga sepakat tidak membolehkan pembebanan biaya langsung yang berkaitan dengan pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh penjual. Pembebanan biaya tidak langsung yang dibayarkan kepada pihak ketiga dan pekerjaan itu memang harus dikerjakan oleh pihak ketiga. Bila pekerjaan tersebut dilakukan sendiri oleh penjual, maka menurut ulama mazhab Maliki, tidak boleh dimasukkan sebagai komponen

111

HM.Hasballah Thaib,Op.cit, al.121.

112

Kodifikasi Produk Perbankan Syariah,Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia,2008.

113

biaya, sedangkan ketiga ulama mazhab lainnya membolehkan. Para ulama empat mazhab ini sepakat bahwa pembebanan biaya tidak langsung bila tidak menambah nilai barang atau tidak berkaitan dengan hal-hal yang berguna tidak diperbolehkan.114

Murabahah merupakan salah satu bentuk muamalah yang paling populer

digunakan oleh perbankan syariah. Transaksi murabahah ini lazim dilakukan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.115

Dasar Hukum Murabahah

1. Firman Allah QS An Nisa(4):29:

”Hai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan (mengambil)

harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan sukarela diantaramu...”

2. Firman Allah QS.al Baqarah(2) :275:

...Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”

3. Firman Allah QS.al Maidah (5):1:

”Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...” 4. Firman Allah Qs al Baqarah (2):280:

”Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, berilah tangguh

sampai ia berkelapangan...”

114

Adiwarman A. Karim, Op.cit, hal.114.

115

5. Hadis-hadis Nabi:

Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya jual

beli itu harus dilakukan suka sama suka.” (HR.al-Baihaqi dan Ibnu Majah,dan

dinilai shahih oleh Ibnu hiban).

Nabi bersabda:”ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara

tunai,muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR.Ibnu Majah dari

Shuhaib)

Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalakan yang haram.” (HR Tirmidzi dari ’Amr bin ’Auf)

”Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah

kezaliman...”(HR. Jama’ah)

”Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan

harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”(HR.Nasa’i Abu dawud, Ibnu

Majah, dan Ahmad)

”Rasulullah ditanya tentang ’urban (uang muka) dalam jual beli, maka beliau

menghalalkannya.” (HR.’Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam).

6. Ijma mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara murabahah 7. Kaidah fiqh:

”Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang

Ketentuan Murabahah

Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 ketentuan umum murabahah dalam bank syariah adalah:

1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba. 2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharaman oleh syariat Islam.

3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.

4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.

5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.

6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.

7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

8. Untuk mencegah terjadinya penyalah gunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah. 9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.

Ketentuan murabahah kepada nasabah:

1. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank.

2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.

3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli) nya sesuai dengan perjanjian yangtelah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontak jual beli.

4. Dalam jual beli inibank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.

5. Jika kemudian nasabah menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.

6. Jika uang muka kurang dari keruian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.

7. Jika uang muka memakai kontrak ’urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka:

a) jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga.

b) Jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut, dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Rukun dan Syarat Murabahah

Rukun-rukun murabahah terdiri dari:

1. Ba’i, yaitu penjual (pihak yang memiliki barang)

2. Mustari, yaitu pembeli (pihak yang akan membeli barang)

3. Mabi’, yaitu barang yang akan diperjualbelikan

4. Tsaman yaitu harga

5. Ijab qabul, yaitu pernyataan timbang terima.116

Sedangkan syarat-syaratnya adalah:117

1. Pihak yang berakad yaitu ba’i dan musytari harus cakap hukum atau balig (dewasa), dan mereka saling meridhai (rela). Abu Bakar Jabir El Jazairi menambahkan untuk penjual haruslah pemilik harta barang yang dijualnya atau orang yang diberi kuasa untuk menjualnya.118

2. Khusus untuk Mabi’ persyaratannya harus jelas dari segi sifat, jumlah, jenis yang akan ditransaksikan dan juga tidak termasuk dalam kategori barang haram.

3. Harga dan keuntungan harus disebutkan begitu pula sistem pembayarannya, semuanya ini dinyatakan di depan sebelum akad resmi (ijab qabul) dinyatakan tertulis.

Aplikasi akad murabahah dalam perjanjian L/C adalah, bank bertindak sebagai pembeli yang mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi, namun pengurusan dokumen serta pembayaran dilakukan oleh bank. Setelah barang diterima dan menjadi milik bank, maka bank menjual kembali barang tersebut kepada

116

Hasballah Thaib, Op.cit, hal.125.

117

Ibid.

118

importir dengan pembayaran tunai atau cicilan. Dalam hal ini, untuk keuntungan bank maka biaya-biaya yang telah dikeluarkan akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.

c. Salam

Pengertian salam

Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No.05/DSN-MUI/IV/2000 yang dimaksud dengan salam adalah jual beli barang dengan cara pemesanan terlebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu.

Di dalam Kodifikasi Produk Perbankan Syariah terdapat pengertian akad

salam, yaitu transaksi jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat-syarat

tertentu dan pembayaran tunai terlebh dahulu secara penuh.

Dasar Hukum Salam

1. Firman Allah QS. Al Baqarah (2):282:

”Hai orang yang beriman! Jika kamu bermu’amalah tidak secara tunai

sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis...”

2. Firman Allah QS. Al-maidah(5):1:

”Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...” 3. Hadis Nabi SAW

”Dari Abu Sa’id Al- Khudri bahwa Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya jual

beli itu harus dilakukan suka sama suka.” (HR. Al Baihaqi dan Ibnu Majah,

”Barangsiapa melakukan salaf (Salam), hendaknya ia melakukan dengan

takaran yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui.” (HR.Bukhari)

”Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman...”(HR.Jama’ah)

”Menunda-nunda ( pembayaran ) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”

”Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslimin kecuali pedamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmzi dari ’Amr bin ’Auf)

4. Ijma.

Menurut Ibnul Munzir, ulama sepakat (Ijma’) atas kebolehan jual beli dengan cara salam. Disamping itu, cara tersebut juga diperlukan oleh masyarakat.

5. Kaidah fiqh:

”Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil

yang mengharamkannya.”

Ketentuan Salam

Ketentuan tentang salam diatur oleh Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang salam sebagai berikut:

Ketentuan tentang pembayaran:

1. Alat bayar harus diketahui bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat.

2. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati. 3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Ketentuan tentang barang:

1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. 2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.

3. Penyerahannya dilakukan kemudian.

4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.

5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.

6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan

Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang L/C Impor Syariah, aplikasi perjanjian L/C dengan menggunakan akad salam adalah :

1. Bank melakukan akad salam atau istishna’ dengan mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi tersebut.

2. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank.

3. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.

4. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.

d. Istishna’

Pengertian Istishna’

Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No. 06/DSN-MUI/IV/2000 yang dimaksud dengan istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mushtashni’) dan penjual (pembuat, shani’).

Pengertian sejalan juga terdapat dalam Kodifikasi Produk Perbankan Syariah yang menyatakan istishna’ sebagai transaksi jual beli barang dalam bentuk

pemesanan pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai dengan kesepakatan

Dokumen terkait