• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP L/C DALAM UCP

C. Penerapan Prinsip Independensi, Complying

Documents Only dalam L/C Syariah

Berdasarkan artikel 4 UCP 600, maka seharusnya antara kontrak penjualan (sales contract), kontrak permintaan penerbitan L/C, kontrak L/C itu sendiri dan konrak keagenan dalam pelaksanaan L/C Syariah adalah masing-masing terpisah, sehingga jika ada persoalan terkait wan prestasi dalam sales contract karena barang yang diterima importir tidak sesuai dengan kontrak, misalnya, maka persoalan tersebut diselesaikan oleh eksportir dan importir tanpa melibatkan kontrak L/C Syariah.

Selanjutnya, berdasarkan prinsip Complying Presentation yang terdapat dalam artikel 15 UCP 600, bahwa sepanjang persyaratan-persyaratan yang diajukan

telah sesuai, maka L/C Syariah wajib dibayar tanpa melihat apakah sales contract yang menjadi dasar penerbitan L/C itu sudah dilaksanakan sesuai atau tidak dengan isi sales contract tersebut.

Penerapan prinsip Deals With Documents Only yang terdapat dalam arikel 5 UCP 600, menyebabkan importir tidak bisa meminta kepada bank syariah untuk menangguhkan pembayaran kepada eksportir apabila ada konflik antara importir dan eksportir terkait pelaksanaan isi sales contract.

Persoalan yang muncul adalah, dalam L/C Syariah, bank dapat memberikan pembiayaan maupun jasa perbankan lainnya kepada importir maupun eksportir, sehingga bank mempunyai hubungan dengan keberadaan barang yang menjadi objek dalam sales contract.

Hal ini dapat dilihat dari ketentuan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 34/DSN-MUI/IX/2002 menyatakan:

“L/C Impor Syariah dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad:

wakalah bil ujrah, qardh, murabahah, salam/istishna’, mudharabah, musyarakah dan hawalah.”

Fatwa Dewan Syariah Nasional No.35/DSN-MUI/IX/2002 menyatakan: “L/C Ekspor Syariah dalam pelaksanaannya menggunakan akad-akad:

wakalah bil ujrah, qardh, mudharabah, musyarakah dan al bai’.”

Penerapan prinsip Independensi menurut hemat penulis hanya tepat apabila diterapkan pada L/C Impor Syariah dan L/C Ekspor Syariah yang menggunakan akad wakalah bil ujrah, karena dalam bentuk akad ini, bank hanya

bertindak sebagai wakil dalam melakukan pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor/ekspor syariah dan untuk itu ia hanya mendapat ujrah (upah).

Hal ini dapat dilihat dari Bagian Kedua tentang Ketentuan Akad, angka 1 (satu) Fatwa DSN No. 34 yang berbunyi:

“akad wakalah bil ujrah dengan ketentuan:

a. Importir harus memilikidana pada bank sebesar harga pembayaran barang yang diimpor;

b. Importir dan bank melakukan akad wakalah bil ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;

c. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.”

Untuk L/C Ekspor Syariah dapat dilihat dari Fatwa DSN No. 35 yang berbunyi:

“akad wakalah bil ujrah dengan ketentuan:

a. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;

b. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank), selanjutnya dibayarkan kepada eksportir setelah dikurangi ujrah;

c. Besar ujrah harus ditetapkan di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam prosentase.”

Model akad lainnya yang dapat digunakan dalam L/C Syariah, penerapan prinsip independensi sulit dilaksanakan, karena bank memiliki keterlibatan langsung dengan sales contract seperti dalam akad musyarakah, mudharabah,

murabahah dan hawalah. Mekanisme L/C Syariah dengan bentuk-bentuk akad yang

melibatkan pihak bank dalam sales contract nya terutama yang berkaitan dengan barang yang mnjadi objeknya dapat dilihat dalam Fatwa DSN No 34 berikut ini:

a. Bank bertindak selaku pembeli yang mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi dengan eksportir;

b. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank saat dokumen diterima(at sight) dan/atau tangguh sampai dengan jatuh tempo (usance)

c. Bank menjual barang secara mrabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.

d. Biaya-biaya yang dikeluarkanoleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.

Akad salam/istishna’ dan murabahah dengan ketentuan:

a. Bank melakukan akad salam atau istishna’ dengan mewakilkan kepada importir untuk melakukan transaksi tersebut.

b. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh bank;

c. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir, baik dengan pembayaran tunai atau cicilan.

d. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank akan diperhitungkan sebagai harga perolehan barang.

Akad wakalah bil ujrah dan mudharabah dengan ketentuan:

a. Nasabah melakukan akad wakalah bil ujrah kepada bank untuk melakukan pengurusan dokumen dan pembayaran.

b. Bank dan importir melakukan akad mudharabah, dimana bank bertindak selaku shahibul mal menyerahkan modal kepada importir sebesar harga barang yang diimpor.

Akad musyarakah dengan ketentuan:

Bank dan importir melakukan akad musyarakah, dimana keduanya menyertakan modal untuk melakukan kegiatan impor barang.

Dalam hal pengiriman barang telah terjadi, sedangkan pembayaran belum dilakukan, akad yang digunakan adalah:

Alternatif 1:

wakalah bil ujrah dan qardh dengan ketentuan:

a. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;

b. Importir dan bank melakukan akad wakalah bil ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;

c. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;

d. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada nasabah untuk pelunasan pembayaran barang impor.

Alternatif 2 :

Wakalah bil ujrah dan hawalah dengan ketentuan:

a. Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;

b. Importir dan bank melakukan akad wakalah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;

c. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam prosentase;

d. Hutang kepada eksportir dialihkan oleh importir menjadi hutang kepada bank dengan meminta bank membayar kepada eksportir senilai barang yang diimpor.

Untuk L/C Ekspor Syariah, beragam model akad selain akad wakalah bil ujrah dapat dilihat dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 35 berikut ini:

Akad wakalah bil ujrah dan qardh dengan ketentuan:

a. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;

b. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank)

c. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada nasabah eksportir sebesar harga barang ekspor;

d. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;

e. Pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan sesuai kesepakatan dalam akad;

f. Antara akad wakalah bil ujrah dan akad qardh tidak boleh adanya keterkaitan (ta’alluq).

Ada dua hal yang perlu dicermati dari ketentuan ini, yaitu pertama, akad terdiri dari dua macam yaitu akad wakalah bil ujrah antara bank dengan eksportir

dimana dalam akad ini bank mengurus dokumen-dokumen ekspor dan melakukan penagihan kepada issuing bank. Sedangkan akad yang kedua yaitu akad qardh, dimana bank memberikan dana talangan kepada nasabah sebesar harga barang ekspor. Kedua, antara kedua akad ini dikatakan tidak boleh ada keterkaitan, namun pada huruf (e) dikatakan pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan (yang ada pada akad qardh). Hal ini menimbulkan kerancuan dalam pemahaman ketentuan ini, karena tidak ada penjelasan lebih lanjut keterkaitan seperti apa yang tidak diperbolehkan tersebut.

Menurut hemat penulis, keterpisahan antara akad wakalah bil ujrah dan aqad qardh yang dimaksud ketentuan ini tidak dalam pengertian yang sama seperti prinsip independensi, karena akad wakalah bil ujrah dan akad qardh masih merupakan akad yang sama-sama dipergunakan dalam L/C, sedangkan yang dimaksud oleh prinsip independensi adalah keterpisahan L/C dengan kontrak dasarnya.

Selanjutnya, akad wakalah bil ujrah dan mudharabah dengan ketentuan:

a. “Bank memberikan kepada eksportir seluruh dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dipesan oleh importir.

b. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor.

c. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank).

d. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo(usance).

e. Pembayaran dari bank penerbit L/C (issuing bank) dapat digunakan untuk:

1.pembayaran ujrah

2. pengembalian dana mudharabah; 3. pembayaran bagi hasil.

f. Besar ujrah harus disepakati diawal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.”

Akad musyarakah dengan ketentuan:

a. “Bank memberikan kepada eksportir sebagian dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dpesan oleh importir;

b. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;

c. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank);

d. Pembayaran oleh bank penerbit L/C apat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo (usance);

e. Pembayaran dari bank penerbit L/C (issuing bank) dapat digunakan untuk:

1. pengembalian dana musyarakah 2. pembayaran bagi hasil.”

Akad al-bai’ (jual beli) dan wakalah dengan ketentuan:

a. “Bank membeli barang dari eksportir.

b. Bank menjual barang kepada importir yang diwakili eksportir.

c. Bank membayar kepada eksportir setelah pengiriman barang kepada importir.

d. Pembayaran oleh bank penerbit L/C (issuing bank) dapat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo (usance).”

Dengan melihat Fatwa Dewan Syariah Nasional tersebut, baik untuk L/C impor syariah maupun L/C ekspor syariah, selain dari pada akad wakalah bil ujrah, tampak jelas bahwa bank tidak hanya berurusan dengan dokumen sebagaimana yang dikehendaki oleh prinsip deals with documents only, karena ternyata mekanisme L/C syariah selain yang menggunakan akad wakalah bil ujrah, bank terlibat langsung dengan barang yang menjadi objek dalam sales contract (kontrak penjualan yang merupakan kontrak dasar). Dengan berbagai model akad dalam pelaksaan L/C syariah bank memperoleh manfaat berupa sumber pendapatan tidak hanya dalam bentuk imbalan/fee/ujrah dari akad wakalah bil ujrah, tetapi juga sumber pendapatan dalam bentuk bagi hasil dari akad wakalah bil ujrah dan mudharabah.

Dengan demikian tidak terlihat adanya prinsip independensi, deals with

Dokumen terkait