Pembangunan partisipatif meyakini aktivitas upaya pembangunan atas dasar pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri sehingga masyarakat mampu berkembang dan mengatasi permasalahan secara mandiri dan sustainable. Secara historis, dekade 80-an hingga 90-an menandai meningkatnya penekanan pada komunikasi yang diintegrasikan ke dalam metodologi partisipatif. Komunikasi partisipatif ini mengakui pentingnya produksi pengetahuan dan penyadaran (concientazion) sebagai pendekatan alternatif atas lemahnya liniaritas komunikasi pembangunan berbasis pendekatan top-down atau trickle down e ect. Komunikasi partisipatif adalah konsep dan praktik yang melibatkan warga negara untuk menciptakan dan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keinginan untuk mengejar agenda yang mereka pilih sendiri.
Penekanan komunikasi partisipatif sering terjadi pada proses penciptaan atau keterlibatan, bukan produk yang muncul dari prosesnya.
Selama dua dasawarsa tersebut tumbuh kesadaran bahwaa sebagian besar
proses komunikasi pembangunan ideal terjadi di tingkat akar rumput, di mana pengetahuan dan tindakan diinformasikan oleh masukan dan pengalaman lokal. Kelebihan komunikasi partisipatif adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai bentuk dan format sesuai dengan kebutuhan lokal tertentu. Tiadanya cetak biru tunggal yang menjadi model terbaik dalam proses partisipasi, di satu sisi menjadikan pendekatan partisipasi secara lentur mampu beradaptasi pada berbagai pandangan dan perbedaan budaya yang dihadapi dalam pekerjaan pembangunan. Sekalipun demikian, terlepas dari popularitas dan pertumbuhan metode partisipatif, komunikasi linier pada kenyataannnya masih mendominasi banyak intervensi pembangunan. Pada saat demikian, banyak intervensi pembangunan yang diklaim partisipatif, padahal sejatinya belumlah mengadaptasi prinsip-prinsip partisipasi yang sesungguhnya.
Studi yang dilakukan Servaes dan Malikhao (2008) menunjukkan bahwa pendekatan top-down pada masa sekarang ini telah mengalami hibridisasi dengan pendekatan partisipatif. Kebanyakan laporan pada negara-negara yang ditelitinya menganjurkan pendekatan bottom-up, utamanya dalam pengembangan wacana pemberdayaan komunitas. Referensi untuk partisipasi telah memberi kontribusi pada gerakan menyuarakan suara bagi mereka yang tak mampu bersuara , meski kenyataannya kebanyakan komunikasi yang berlangsung masih merupakan komunikasi korporat atau aktivitas kehumasan belaka yang terbungkus dalam retorika komunikasi partisipatif .
Jika demikian halnya, lantas bagaimana dengan di Indonesia, dan bagaimana kecenderungan yang akan terjadi di negara-negara berkembang manakala dihadapkan pada situasi demikian Sejauh mana pendekatan partisipatif mesti disempurnakan, dan bagaimana mengadaptasi pendekatan partisipastif dalam situasi global sekarang ini Berbeda dengan situasi tahun 90-an, di era global sekarang ini basis partisipasi dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tentunya memerlukan adjusment dan antisipasi timbulnya perubahan-perubahan dalam masyarakat beserta lingkungan strategisnya. Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) patut untuk terus disempurnakan dalam situasi globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi yang mempercepat perubahan sosiokultural masyarakat.
Paradigma pembangunan sekarang ini telah bergerak ke arah tradisi partisipasi. Seiring terbukanya ruang-ruang partisipasi bagi masyarakat dan
desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, prakarsa-prakarsa baru mulai berkembang dalam masyarakat. Seiring perubahan paradigma tersebut, perencanaan pembangunan partisipatif sangat perlu disempurnakan. Setidaknya terdapat beberapa alasan mendasar untuk hal tersebut. Pertama, isu perkembangan sistem dan teknologi informasi menjadi tantangan penting yang tak terhindarkan dalam proses pengambilan keputusan. Kemajuan teknologi komunikasi baru (internet) telah menyebabkan globalisasi informasi, berdampak pada pergeseran radikal pada cara-cara berkomunikasi manusia di tingkat global. Pola interaksi bukan hanya namun juga menggeser pola interaksi konvensional yang tidak lagi tersekat oleh batas antarnegara (James, 1999).
Salah satu titik lemah model partisipatif tahun 90-an adalah belum tergambarnya media baru sebagai faktor yang signi kan dalam mengubah cara berkomunikasi masyarakat. Sekarang ini teknologi komunikasi baru (ICT – information and communication technology; new media) bukan saja mereduksi sekat geogra s akibat pesatnya arus informasi, dampak yang ditimbulkannya benar-benar ampuh dalam mengubah citra otoritas dan elemen-elemen struktur sosial. Fenomena konvergensi misalnya, teknologi komunikasi baru dan aplikasinya memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan,distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi (Marolla, 2019; Preston, 2001). Adalah lumrah dijumpai sekarang ini media konvergen yang menggabungkan unsur visual, audio, dan data dalam satu tampilan yang cepat.
Di antara tantangan-tantangan yang bertalian dengan media baru sekarang ini adalah isu kepercayaan (trust), yang bisa bergerak menjangkau lini politik dan hubungan sosial. Kon ik politik dan retaknya hubungan antarmasyarakat oleh runtuhnya trust dapat menjadi hambatan serius dalam pembentukan konsensus dan mutual understanding seperti diinginkan oleh konsep partisipatif. Dampak media baru yang mempercepat tersebarnya hoax, hate speech, dan provokasi merupakan ancaman serius dalam harmoni yang dikehendaki oleh sistem sosial. Bagi pemerintah, runtuhnya trust dapat menjadi hambatan utama diseminasi kebijakan pembangunan. Di sisi lain, media baru menghadirkan keajaiban-keajaiban yang sifatnya disruptif. Aktivitas ekonomi dan jasa berbasis media baru melahirkan terobosan-terobosan cerdas yang memperluas saluran konsumsi dan distribusi, namun pada saat yang sama membuat goncang industri barang dan jasa konvensional.
Isu kedua, berubahnya pola kemitraan pemerintah dan masyarakat.
Perubahan sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik pada dasarnya adalah berkah bagi pengembangan partisipasi. Dalam situasi desentralistik, peranan yang dituntut dari pemerintah saat ini setidaknya mencakup peran manajerial, fasilitator, dan advokasi. Sebagai manajer perubahan, pemerintah menjalankan fungsi koordinasi. Sebagai fasilitator, pemerintah berperan menjadi katalisator dan fasilitasi sinergi antara berbagai pemangku kepentingan. Sebagai pembimbing, pemerintah juga berperan melakukan pembimbingan serta advokasi pada kelompok-kelompok terpinggirkan. Namun pada saat yang sama, tata kelola mewujudkan sistem tata kelola yang desentralistik juga bukan perkara mudah, terutama manakala dihadapkan pada situasi aktor dan aparatur pemerintahan yang korup dari pusat hingga daerah. Sering disebut bahwa korupsi merupakan pemiskinan, karena berkurangnya sumber dana untuk program dan proyek yang pro rakyat.
Dampaknya adalah hilangnya power akibat akibat krisis kepercayaan.
Isu ketiga, pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
Fokus perhatian dunia pada kerusakan lingkungan mempengaruhi cara pandang pembangunan masyarakat di berbagai negara. Wawasan lingkungan menjadi topik-topik diskusi hangat, utamannya terkait ancaman pemanasan global dan bencana yang diakibatkan oleh dampak industrialisasi dan perubahan iklim.
Praksis pembangunan berwawasan lingkungan berkisar pada upaya-upaya penyelamatan lingkungan, penemuan energi terbarukan, penanggulangan bencana, dan green development. Ketiga isu tersebut merupakan sebagian di antara isu-isu mutakhir pembangunan yang memerlukan setidaknya cara pandang baru atas model partisipatory rural appraisal konvensional.
Tercapainya keberhasilan PRA setidaknya memerlukan empat syarat:
pembagian informasi, konsultasi, kolaborasi, dan pemberdayaan. Namun dalam praktik keempat syarat tersebut kerapkali tidak terpenuhi akibat beberapa keamahan. Kelemahan mendasar adalah bahwa partisipasi tidak mungkin terjadi secara otomatis. Diperlukan proses yang panjang yang menuntut kesabaran tinggi akibat lambatnya continual improvement pada komunitas sasaran. Pendekatan PRA identik dengan pertemuan-pertemuan, dan musyawarah-musyawarah yang sifatnya umum. Karena hubungan komunikasi dan proses bottom-up menuntut pengambilan keputusan oleh masyarakat setempat. Distribusi kekuasaan menjadi keniscayaan, dan hal ini
menuntut peningkatan kebutuhan material dan sumber daya manusia dan pada tingkat yang ekstrem menyebabkan sindrom ketergantungan.
Kunci keberhasilan metode partisipatif adalah fasilitasi komunitas sasaran. Berkebalikan dengan RRA, pendekatan PRA melibatkan orang dalam yang terdiri dari semua stakeholders dengan difasilitasi oleh orang luar yang lebih berfungsi sebagai narasumber atau fasilitator dibanding sebagai instruktur yang menggurui. Sebagai metode pendekatan untuk mempelajari kondisi dan kehidupan komunitas dari, dengan, dan oleh masyarakat, PRA memungkinkan masyarakat untuk saling berbagi, meningkatkan, dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan di wilayahnya serta membuat rencana dan merumuskan tindakan. Ini sekaligus menuntut peranan fasilitator yang tinggi dalam melayani masyarakat sasaran.
Pada saat fasilitator kurang memiliki kapasitas, maka kecil kemungkinan keberhasilan akan dicapai. Ini juga menjadi tantangan tersendiri, bagaimanana praktik PRA menghadirkan fasilitator yang terlatih dan memiliki penguasaan sosiokultural yang memadai untuk tercapainya tujuan bersama.
Secara teknis, kemajuan teknologi informasi terkini menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, kemajuan tersebut dapat menjadi hambatan, namun di sisi lain justru dapat menjadi peluang. Pada masyarakat yang telah literate, terbukanya akses teradap teknologi informasi dapat mengurangi keterlibatan dalam aktivitas fasilitasi. Anggapan bahwa kami sudah tahu berpotensi melahirkan daya rusak terhadap partisipasi kegiatan. Di sisi lain, bagi fasilitator pemanfaatan teknologi komunikasi akan meningkatkan transformasi pengetahuan dan pembentukan sikap. Media audiovisual misalnya, memiliki daya tarik tersendiri yang dapat mengubah paradigma masyarakat penerima manfaat.
Tantangan lain berasal dari budaya masyarakat itu sendiri. Sikap paternalistik sebagaimana tercermin dalam kultur tokenisme dapat menjadi penghambat keterbukaan dan pengambilan keputusan. PRA seringkali membutuhkan cara pengambilan keputusan yang baru. Ini melibatkan setidaknya dua masalah, yakni keselarasan budaya dan sejauh mana masyarakat dapat diharapkan untuk bertindak sesuai dengan struktur pengambilan keputusan partisipatif yang baru dibandingkan dengan keputusan tradisional mereka. Perhatian ini bahkan dapat diintesi kasi ketika PRA digunakan pada komunitas terbelakang atau sarat kon ik. Jika tidak hati-hati PRA dapat
melegitimasi kepentingan orang-orang yang dapat memperoleh otoritas lebih banyak (pemuka, kelas atas). Sistem tokenisme yang bekerja secara komunal, suara tokoh akan diikuti oleh masyarakat, dengan mudah dapat disimpangkan oleh kooptasi kepentingan baik otoritas individual maupun organisasi.
Pengambilan keputusan pada masyarakat tokenistik pada dasarnya tidak terjadi, karena telah diambil alih oleh personalitas kelompok atau kelas teratas.
Tantangan pendekatan partisipatif lainnya adalah kemampuan masyarakat. Slogan yang terkenal mereka bisa melakukannya apakah selamanya dapat diterapkan pada orang miskin dan terpinggirkan. Artinya, apakah mereka dapat menganalisis realitas mereka sendiri dan bertindak menyelesaikan masalah tersebut. Acapkali budaya lokal berseberangan dengan prinsip-prinsip pengarusutamaan pembangunan. Pembangunan berwawasan gender misalnya, dapatkah diterapkan pada sistem budaya patriarkhis secara mutlak. Sekadar ilustrasi, pada beberapa budaya tradisional, sistem pengupahan laki-laki dan perempuan acapkali berbeda untuk skala pekerjaan yang sama. Buruh tani laki-laki dan perempuan, meski waktu kerjanya sama, namun praktik pengupahannya boleh jadi berlainan, laki-laki memperoleh lebih banyak dan perempuan lebih sedikit. Demikian pula dengan pekerja di bawah umur, yang dalam masyarakat agraris lebih sering dibayar di bawah pekerja dewasa untuk skala pekerjaan yang sama. Ini adalah tantangan kultural yang meski tampak lazim, namun sebenarnya menyisakan ketimpangan apabila ditakar dengan norma-norma modern yang menghendaki ekualitas dan penghindaran ketimpangan.
Tantangan terakhir yang patut diajukan adalah perihal hubungan antara spiritualitas dan pembangunan partisipatif. Setiap agama pada dasarnya menyediakan sistem keyakinan akan pentingnya perbaikan kualitas hidup bagi pemeluknya. Setiap pemeluk agama yang terhubung secara kuat dengan ajaran tersebut mesti tertuntut untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Nilai-nilai kolektivitas, kohesivitas, harmoni, etika, adalah masalah yang banyak menjadi perhatian pembangunan partisipatif; dan semua hal itu ditemukan banyak dalam pelbagai ajaran agama. Dalam bahasan yang lebih modernis, istilah teologi pembebasan tepat untuk menggambarkan bagaimana agama sangat menyediakan ruang-ruang kebebasan untuk meningkatkan kualitas manusia melalui bukan saja hubungan kepada Tuhan namun juga hubungan pada manusia.