• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjuan Pustaka

Dalam dokumen Islam Dalam Studi Komunikasi (Halaman 105-109)

1. Konsep Ideal Normatif Pers Islam

Ada beberapa pengertian mengenai pers Islam . Istilah pers Islam akan digunakan secara berkelindan dengan jurnalistik Islam . Pers Islam adalah kegiatan jurnalistik yang terdiri dari proses meliput, mengolah dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam yang mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik/ norma-norma yang bersumber dari

Al-Qur an dan Sunnah Rasul dengan mengembangkan misi amar maruf nahi mungkar (Ilhami, 2018: 117-120). Dalam literatur lain disebutkan bahwa jauh lebih tepat menggunakan istilah jurnalistik bercirikan Islam dibandingkan istilah jurnalistik Islam . Secara umum fungsi dan kegitaan pada jurnalistik bercirikan Islam sama dengan kegiatan jurnalistik pada umumnya. Perbedaan terletak pada berita atau informasi yang disampaikan dan tujuannya. Jurnalistik yang bercirikan Islam, lebih menonjolkan informasi tentang larangan dan perintah Allah swt. Jurnalistik ini bertujuan untuk mempengaruhi khalayak untuk berprilaku sesuai ajaran Islam. Cara penyampaian jurnalistik yang bercirikan Islam ini jelas berbeda dengan jurnalistik pada umumnya yakni menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam (Mutiawati, 2019: 153-154).

Ada satu term lagi yang identik dengan kajian pers Islam dan jurnalistik Islam , yakni jurnalistik dakwah . Mutiawati (2019: 153-154) menuliskan bahwa jurnalistik Islam adalah jurnalistik dakwah. Seorang wartawan muslim harus menjadikan jurnalistik Islam sebagai ideologi dalam profesinya. Karena dakwah merupakan kewajiban yang melekat pada setiap muslim. Berkaitan dengan jurnalistik dakwah, Kasman (2017: 50-51) menyebutkan bahwa informasi, pesan, tulisan, atau berita yang disebarkan dalam konteks jurnalistik dakwah senantiasa mengacu pada kebaikan dalam perspektif Islam dan bertujuan menegakkan kebenaran serta mencegah hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, bukan menyampaikan sajian yang sifatnya gemar membuka isu baru yang sensitif di masyarakat, melainkan fakta dan opini objektif dan berimbang.

Jurnalistik adalah salah satu gatekeeper yang ikut menentukan hitam-putih-nya informasi pada media komunikasi massa. Maka sangat dibutuhkan profesionalisme seorang jurnalisme Islam dalam menyampaikan informasi (Mutiawati, 2019: 168). Dengan begitu, wartawan Muslim harus bersikap tegas dalam memperjuangkan dakwah Islamiyah lewat karya kepada publik (Ilhami, 2018: 117-120).

2. Kritik terhadap Konten Pers Islam di Indonesia

Bagaimana perkembangan pers Islam di Indonesia dan konten-konten dari media Islam di Indonesia Pasca reformasi Indonesia tahun 1998, pers Islam bermunculan dan menyajikan konten yang sangat beragam beragam,

mulai dari misi dakwah yang kuat (tata cara ibadah, pandangan hukum Islam terhadap kehidupan sehari-hari, pro l tokoh Islam terkemuka, ulasan mendalam terhadap Al Quran, meluruskan praktek ritual yang menyimpang dari ajaran Islam); orientasi politik yang pekat, mengkritik demokrasi serta hegemoni Barat baik secara politis mau pun intelektual ; dan budaya populer dengan membidik kalangan perempuan muda dan dewaasa. Tujuannya adalah diseminasi nilai-nilai Islami guna menghadapi derasnya arus budaya populer.

Terjadi pergulatan di tingkat representasi simbolik antara ekspresi budaya populer yang Islami dan non-Islami; mistik dengan kisah-kisah di luar nalar manusia, sebenarnya kisha-kisahi tu hendak memberikan kesaksian pada pembaca bahwa di dunia ini hukum-hukum Allah telah bekerja. Keragaman ini akibat latar belakang penerbit yang memiliki orientasi tersendiri apakah ideologis atau pun pasar (Irawanto, 2006: 307-310).

Secara ideal normatif, pers Islam memang memiliki tujuan yang baik dan itu juga diiringi dengan cara yang baik dalam proses penyampaian beritanya (Ilhami, 2018:120). Media Islam di Indonesia ada yang mengusung semangat jurnalisme profe ik (Mahfud, 2014) dan berusaha untuk menyajikan Islam sebagai agama yang bisa mengilhami kesadaran sosial yang sesuai dengan aspirasi rakyat yakni keterbukaan, pluralisme, dan pemahaman hal-hal profan secara cerdas (A , 2005). Namun di sisi lain, masih ada pers Islam yang isi beritanya menebar permusuhan (Sebastian & Yusuf, 2013), provokatif (Mahfud, 2014), membela kelompok sealiran dan memojokkan kelompok yang berbeda pandangan (Mutiawati, 2019), radikal (A , 2005; Rosyid, 2013), bahkan mengangkat tema-tema mistik (Irawanto, 2006; Rosyid, 2013).

Dalam perkembangannya, muncul pertanyaan kritis terhadap konsep pers Islam atau jurnalistik Islam , karena ukuran agama merupakan hal yang dapat diperdebatkan. Apakah lantas jika sudah menggunakan label Islami apakah kemudian wartaweannya sudah beres, suci, bebas dosa, tidak menerima amplop, dan tidak menjadi tim sukses politisi De nisi jurnalisme Islam bermasalah, tidak berbeda dengan propaganda. Siapa yang berhak menilai itu Islami atau tidak Bahkan term jurnalisme Islami berisiko dapat merugikan Islam dan jurnalisme itu sendiri (Harsono, 2010: 50-52).

Pertanyaan kritis lain adalah mampukah media Islam benar-benar mewujudkan secara nyata ruh ke- Islam-an dalam kehidupan media Berapakah jurnalis Islam yang benar-benar menyampaikan dakwah Islam

Berapa persenkah isi berita tentang dunia Islam Atau dari sekian banyak media, berapa persenkah isi media terhadap pesan-pesan / informasi-informasi Islam Oleh karena itu quo vadis jurnalis Islam Dengan kenyataan bahwa kapitalis lebih dominan di dunia ini, mereka lebih memiliki kekuatan di segala bidang kehidupan. Ditambah lagi dengan keadaan umat Islam itu sendiri terlalu sibuk dengan pemahaman keislaman masing-masing, terlalu sibuk dengan kebenaran partai-partai keislaman masing-masing, sehingga kurang memperhatikan tali persaudaran sesama kaum muslimin. Itu membuat yang terjadi sekarang adalah kemunculan media yang menghadirkan konstruksi realitas yang bersifat pembelaan terhadap kelompok yang sealiran dan penyerangan kelompok yang berbeda pandangan (Mutiawati, 2019: 162-166).

Mahfud (2014: 4-5) mengelompokkan pers Islam di Indonesia dalam dua kategori yakni yang mengusung jurnalisme profetik dan jurnalisme provokatif. Tipe yang pertama mengarah pada idealisme bahwa model jurnalisme profetik merupakan jurnalisme kenabian yang mengupayakan penyebaran informasi dan berita dengan penggunaan bahasa yang lebih ramah, santun, damai, menyejukkan dan dialogis. Harapannya, umat lebih menemukan pencerahan, pendidikan, kedamaian dan keterbukaan hati pikiran untuk memahami substansi Islam secara esensial. Dalam konteks ini, isi kualitas berita lebih ditonjolkan ketimbang soal isu ideologi islamisme semata.

Tipe ini juga muaranya pada penciptaan perdamaian, anti kekerasan dan anti kon ik. Semangat berjihad membangun masyarakat plural dan multikultural sangat menonjol sembari menyuarakan progresi sme, liberalisme dan anti-radikalisme. Tipe kedua, jurnalisme provokatif, dapat dipahami dari penggunaan bahasa dan penyajian berita yang dilakukan oleh pimpinan dan redaksi media Islam yang cenderung lebih ke arah normatif, provokatif, intimidatif hingga anti dialogis. Media seperti ini lawan dari media jurnalisme profetik. Karakteristik dan bahasa media ini tampak provokatif dan menebar permusuhan serta mengundang kon ik.

Potensi kekerasan oleh media ( Islam ) sangat besar. Stanley (2006, dalam Mahfud, 2014: 9) mensinyalir adanya praktek jurnalisme provokatif melalui berbagai upaya pemelintiran fakta dengan penyampaian berita dengan sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya kecuali hanya bersandar pada legitimasi jabatan. Kasus semacam ini merupakan bagian bukti awal melakukan praktek kekerasan dan pembohongan publik.

Munculnya media-media Islam yang menyajikan unsur yang tidak Islami seperti provokatif, mistik, dan hanya membela kepentingan kelompoknya sendiri disinyalir merupakan upaya adaptasi untuk menyesuakan dengan selera pasar. Menurut Rosyid (2013: 16-17), pers Islam di Indonesia mengembangkan karakter pemberitaan yang ditujukan pada pembaca tertentu Hal ini bertujuan agar karakter kekhasan pembaca tetap dapat memahami pesan dakwah. Pers Islam kini, sajiannya menyesuaikan dengan gaya dan karakter pembaca yang heterogen, tidak hanya menyajikan pers yang melulu berisi pemberitaan atau tekstual semata, tetapi pemberitaan yang diinginkan oleh pembaca, seperti pemberitaan yang berhaluan mistik dan berhaluan kiri (radikal).

Dalam dokumen Islam Dalam Studi Komunikasi (Halaman 105-109)