P
rogram dai pedalaman merupakan program dakwah yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga sosial, dan lembaga keagamaan dengan mengirimkan dai-dai untuk mencerahkan, membina, dan memberdayakan masyarakat dari pedalaman. Para dai tidak hanya membawa ajaran Islam kepada masyarakat pedalaman dan suku-suku terasing secara lisan maupun tulisan, tapi juga melakukan kegiatan pemberdayaan untuk meningkatkan taraf hidup dan perbaikan ekonomi.Beberapa program dakwah pedalaman di antaranya adalah Program Da i Tangguh oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Program Pendidikan Lingkungan dan Pemberdayaan Mualaf Pedalaman oleh Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Program dakwah di pedalaman Papua oleh Al-Fatih Kaa ah Nusantara (AFKN), Gerakan Dakwah Pedalaman oleh Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa), Program Dakwah pedalaman oleh Lasnaz Dewan Dakwah, Program Dakwah Pedalaman oleh Mualaf Center Basnaz, dan program-program serupa oleh Kemenag, Organisasi NU dan Muhammadiyah.
6.
Puji Hariyanti
Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat :
1. Mengetahui perspektif dakwah sebagai salah satu perspektif dalam komunikasi pembangunan/pemberdayaan
2. Mempelajari dakwah dalam masyarakat pedalaman sebagai salah satu kasus dalam komunikasi pembangunan/pemberdayaan Islam
Ribuan dai yang sudah terjun ke pedalaman dituntut memiliki pengetahuan keagamaan yang tinggi dan kemampuan memilih strategi yang efektif untuk berdakwah kepada masyarakat pedalaman. Selain itu dakwah di pedalaman memerlukan dedikasi dan komitmen yang tinggi, karena banyak tantangan yang harus dihadapi. Selain karena akses jalan menuju daerah pedalaman yang sulit dijangkau, fasilitas yang minim, juga karena karakteristik masyarakat pedalaman yang unik. Para da i juga dituntut memiliki ketahanan sik, mental dan material untuk mendukung kegiatan dakwah selama di pedalaman.
Oleh karena itu dakwah di pedalaman menuntut pendekatan yang khusus. Pendekatan problem solving adalah salah satu pendekatan yang bisa dilakukan dalam berdakwah pada masyarakat pedalaman. Yakni dengan memberikan ide-ide solutif atas masalah yang sedang dihadapi masyarakat di pedalaman dengan melakukan kegiatan pemberdayaan.
Dalam program dakwah pedalaman, metode dakwah bilhal merupakan metode dakwah berbasis pemberdayaan masyarakat, yaitu dakwah dengan memberdayakan aset yang dimiliki suatu masyarakat pedalaman untuk kemudian dikembangkan sehingga masyarakat tersebut memiliki daya dan kemampuan untuk bangkit dari keterbelakangan, keterpurukan, dan ketidakberdayaan. Dakwah bil hal (dakwah tindakan) adalah metode dakwah dengan upaya untuk membangun daya, dengan cara mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya dengan dilandasi proses kemandirian masyarakat pedalaman.
Dakwah berbasis pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan manusia seutuhnya (insan kamil) dalam perspektif agama, yakni sebagai berikut;
1. Pengembangan masyarakat dapat dilihat sebagai peletakan sebuah tatanan sosial di mana manusia secara adil dan terbuka dapat melakukan usaha- usahanya sebagai perwujudan atas kemampuan dan potensi yang dimilikinya sehingga kebutuhannya (material dan spiritual) dapat terpenuhi.
2. Pengembangan masyarakat tidak dilihat sebagai suatu proses pemberian dari pihak yang memiliki sesuatu kepada pihak yang tidak memiliki.
3. Pengembangan masyarakat mesti dilihat sebagai sebuah proses
pembelajaran kepada masyarakat agar mereka dapat secara mandiri melakukan upaya-upaya perbaikan kualitas kehidupannya.
4. Pengembangan masyarakat tidak mungkin dilaksanakan tanpa keterlibatan secara penuh oleh masyarakat itu sendiri. Partisipasi bukan sekedar diartikan dengan kehadiran mereka dalam suatu kegiatan saja, tetapi juga dipahami sebagai kontribusi mereka dalam setiap tahapan yang mesti dilalui oleh suatu program kerja pengembangan masyarakat.
5. Tuntutan akan keterlibatan masyarakat dalam suatu program pengembangan tidak mungkin dilakukan tatkala masyarakat itu sendiri tidak memiliki daya ataupun bekal yang cukup (Halim dalam Sunata, 2017)
Dengan demikian, secara singkat dakwah pemberdayaan masyarakat berarti menjadikan masyarakat mandiri dengan usaha sendiri mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimiliki dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan dakwah.
Menurut Sanit (Yunus, 2017), perberdayaan adalah upaya mentransformasikan segenap potensi masyarakat menjadi kekuatan, melindungi dan memperjuangkan nilai-nilai serta kepentingan mereka di dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini, penguatan ekonomi dipandang sebagai langkah awal atau dasar, di samping pematangan budaya dan pemantapan agama untuk memberdayakan masyarakat.
Istilah pemberdayaan bisa juga dikaitkan dengan dakwah karena tujuannya sama-sama mengajak manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Adapun fungsi dakwah dilihat dari targetnya, menurut Al-Yasa Abu Bakar sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sulthon dalam bukunya Desain Ilmu Dakwah, dapat dibedakan menjadi 4 hal, yaitu:
Pertama: I tiyadi, yaitu ketika target dakwah adalah normalisasi tatanan nilai yang telah ada, hidup dan berkembang di suatu komunitas, dengan demikian dakwah yang disampaikan agar tata nilai itu kembali kepada yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman.
Kedua: Muharriq, yaitu ketika target dakwah itu berupa peningkatan tatanan sosial yang sebenarnya sudah islami agar semakin meningkat nilai-nilai keislamannya hidup dalam komunitas tersebut.
Ketiga: Iqaf yaitu ketika target dakwah sebagai upaya preventif dengan sejumlah petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan yang relevan agar komunitas
tersebut tidak terjerumus kedalam tatanan yang tidak Islami atau kurang mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Keempat: Tahrif, yaitu ketika target dakwah sebagai upaya membantu untuk ikut meringankan beban penderitaan akibat problem-problem yang secara ril telah mempersulit kehidupan komunitas.
Keempat fungsi dakwah di atas memiliki kaitan dengan usaha pemberdayaan seperti setiap orang harus mampu berkembang dalam kehidupannya, menjaga persatuan agar tidak terpuruk oleh pengaruh yang tidak baik. Kemudian adanya upaya untuk membantu meringankan masalah-masalah yang mempersulit kehidupan. Intinya untuk mempermudah kehidupan bermasyarakat dan mampu menyelesaikan segala bentuk persoalannya.
Nilai-nilai dakwah yang terdapat dalam surat- an-Nahl ayat 125 juga bisa diterapkan dalam proses pemberdayaan masyarakat:
ّنِا ُۗ َ ْ َ ا َ ِ ْ ِ ّ ِ ْ ُ ْ ِدَ َو ِ َ َ َ ْ ا ِ َ ِ ْ َ ْ اَو ِ َ ْ ِ ْ ِ َ ِّ َر ِ ْ ِ َ ٰ ِا ُعْدُا ١٢٥ - َ ْ ِ َ ْ ُ ْ ِ ُ َ ْ َ ا َ ُ َو ِٖ ْ ِ َ ْ َ ّ َ ْ َ ِ ُ َ ْ َ ا َ ُ َ ّ َر
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan- Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl:125)
Tiga intisari dari ayat ini bisa digunakan juga dalam proses pemberdayaan masyarakat. Pertama, al-Hikmah, yaitu kebijaksaanaan. Jika dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat, aplikasinya dimulai dari proses penyadaran.
Penyadaran terhadap kondisi yang rill yang terjadi, kondisi yang bisa diubah, kondisi yang dipertahankan, dan beragam kondisi yang lainnya. Bijak sebagai pembuat kebijakan, bijak sebagai pelaksana, dan bijak sebagai mitra masyarakat.
Kedua, al-Mauidzatil al-Hasanah, yaitu pengajaran yang baik. Sebagai pelaksana pemberdayaan harus mampu menjadi fasilitator, pendamping masyarakat, motivator, pemimpin, dan sebagai peran lainnya. Dimulai dari proses penentuan kebijakan, pendampingan di lapangan maka seorang agent of change harus mampu mengajarkan, dan mendampingi masyarakat.
Ketiga, al-Mujadalah yaitu diskusi atau musyawarah. Salah satu prinsip dalam pemberdayaan masyarakat yaitu dari, oleh, dan untuk rakyat. Artinya masyarakat yang paling paham apa yang mereka butuhkan (Alhidayatillah,2017).
Menurut pandangan Mahfudh (Zaini, 2017: 298), implikasi dakwah bilhal terhadap pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang diharapkan adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, pendapatannya bertambah untuk membiayai pendidikan keluarga atau memperbaiki Kesehatan, (2) Dapat menarik partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sebab masyarakat terlibat sejak perencanaan sampai pelaksanaan usaha dakwah bilhal, (3) Dapat menumbuhkan atau mengembangkan swadaya masyarakat dan dalam proses jangka panjang bisa menumbuhkan kemandirian, (4) Dapat mengembangkan kepemimpinan daerah setempat, dan terkelolanya sumber daya manusia yang ada. Sebab anggota kelompok sasaran tidak saja jadi objek kegiatan, tetapi juga menjadi subjek kegiatan, dan (5) Terjadinya proses belajar-mengajar antara sesama warga yang terlibat dalam kegiatan. Sebab kegiatan direncanakan dan dilakukan secara bersama.
Hal ini menimbulkan adanya sumbang saran secara timbal balik.
Melalui pemberdayaan ini diharapkan akan terjadi transformasi sosial pada kaluarga dan masyarakat local. Kondisi ini dapat dilakukan apabila kebijakan yang melingkupinya memberikan perhatian terhadap tiga pokok, yaitu (1) Enabling, yaitu menciptakan iklim yang mendukung agar potensi berkembang. Iklim yang ada dapat mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan sumber daya yang dimiliki agar dapat berupaya mengembangkannya, (2) Empowering , yaitu meningkatkan kapasitas dengan memperkuat potensi yang mereka miliki, dan (3) Protecting, yaitu melindungi kepentingan dengan mengembangkan sistem perlindungan bagi masyarakat yang menjadi subyek pengembangan (Pahrudin dalam Aliyudin, 2016: 188)