• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bekerja Menurut Pendidikan

Bab IV Ketenagakerjaan

4.4. Penduduk Bekerja (Tenaga Kerja)

4.4.4. Bekerja Menurut Pendidikan

Berdasarkan partisipasi angkatan kerja kita dapat mengukur kualitas ketenagakerjaan seperti tingkat pengangguran, tingkat pendidikan pekerja, produktifitas tenaga kerja, dan tingkat upah. Gambaran pekerja menurut tingkat pendidikan dapat digunakan untuk melihat kondisi ketenagakerjaan saat kini bahkan prediksi di masa yang akan datang.

Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik kualitas ketenagakerjaan. Tingkat pendidikan berbanding lurus dengan produktifitas dan tingkat upah. Pendidikan yang semakin tinggi berbanding lurus dengan kemampuan dan keterampilan kerja. Namun di balik itu semua, tingkat pendidikan yang tinggi berpengaruh pada pilihan-pilihan pekerjaan.

Tenaga kerja dengan pendidikan tinggi tidak akan sembarangan menentukan jenis pekerjaan. Dengan tingkat pendidikannya mereka berharap mendapat pekerjaan dengan tingkat penghasilan yang lebih baik. Akibatnya, semakin tinggi

58 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013

tingkat pendidikan semakin besar pula persentase yang menganggur. Artinya banyak yang masih mencari kerja terkait dengan pilihan-pilihan mereka pada pekerjaan-pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Gambar 4.9. Persentase Tenaga Kerja Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2013

Tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Tengah digambarkan dalam Gambar 4.9. Secara global, tingkat pendidikan penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Tengah masih tergolong rendah, hampir separuh lebih pekerja berpendidikan SD ke bawah. Jika dilihat dari pendidikan dasar 9 tahun, tercatat 69,39 persen pekerja berpendidikan SLTP ke bawah. Pekerja terdidik (SLTA ke atas) hanya 30,61 persen.

Jika dilihat menurut jenis kelamin, persentase tenaga kerja perempuan berpendidikan diploma/universitas terhadap total tenaga kerja wanita lebih besar bila dibandingkan pada kondisi yang sama untuk tenaga kerja laki-laki. Demikian pula untuk

Tidak/ belum tamat SD

SD SMP SMA SMK /Univer-Diploma sitas Laki-laki 13,14 34,64 21,58 18,34 5,18 7,12 Perempuan 17,92 34,73 16,79 14,08 4,64 11,85 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00

Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Provinsi Kalimantan Tengah 2013 59

jenjang pendidikan terendah (SD ke bawah), persentase pekerja perempuan juga lebih besar. Untuk jenjang pendidikan lainnya, persentasenya pekerja laki-laki lebih banyak daripada pekerja perempuan.

Keadaan ini secara umum berlaku di kabupaten/kota se Kalimantan Tengah. Lebih dari separoh pekerja di sebagian besar kabupaten adalah pekerja dengan pendidikan sangat rendah yaitu tamatan SD atau bahkan ada juga yang belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Sedangkan kabupaten/kota dengan persentase pekerja tidak terdidik relatif kecil antara lain Kabupaten Barito Selatan, Katingan, Barito Timur dan Kota Palangka Raya.

Jika membahas keadaan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah maka bisa diketahui yang lebih baik kondisinya adalah Kota Palangka Raya, tercatat pekerja yang berpendidikan SD ke bawah hanya sebesar 28,60 persen. Kecilnya persentase pekerja dengan pendidikan rendah berbanding terbalik dengan persentase pekerja terdidik (SMA ke atas) di wilayah ini, yang mencatat pekerja terdidiknya sebesar 55,19 persen. Demikian pula sejumlah kabupaten penyangga ibukota Provinsi Kalimantan Tengah seperti Kabupaten Barito Selatan dan Katingan memiliki persentase pekerja terdidik cukup besar, masing-masing dengan besaran 36,21 persen dan 35,52 persen. Lain halnya Kabupaten Barito Timur, meskipun cukup jauh dari ibukota provinsi, tetapi mempunyai persentase pekerja terdidik yang cukup besar, yaitu sebesar 35,78 persen karena di daerah

60 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013

ini banyak terdapat perusahaan pertambangan batu bara dimana banyak menyerap tenaga kerja dengan keahlian tertentu.

Tabel 4.8. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan dan Kabupaten/Kota, 2013

Kabupaten/ Kota

Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan SD ke bawah SLTP SLTA Diploma/ Universi-tas Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kotawaringin Barat 50,63 20,64 21,00 7,73 100,00 Kotawaringin Timur 52,25 17,31 24,13 6,31 100,00 Kapuas 62,09 16,37 12,52 9,02 100,00 Barito Selatan 36,43 27,37 27,00 9,21 100,00 Barito Utara 55,94 21,12 15,64 7,30 100,00 Sukamara 52,44 20,44 17,40 9,72 100,00 Lamandau 57,12 15,58 15,52 11,78 100,00 Seruyan 58,38 19,14 16,92 5,56 100,00 Katingan 40,04 27,44 26,60 5,92 100,00 Pulang Pisau 48,35 21,68 19,70 10,27 100,00 Gunung Mas 39,58 32,83 21,00 6,59 100,00 Barito Timur 43,22 21,00 26,98 8,81 100,00 Murung Raya 60,91 12,44 20,85 5,80 100,00 Palangka Raya 28,60 16,21 37,04 18,15 100,00 Kalimantan Tengah 49,43 19,95 21,89 8,72 100,00

Seperti diuraikan sebelumnya bahwa perbedaan tenaga kerja terdidik dan tak terdidik adalah dalam hal penentuan pekerjaannya. Tenaga kerja tak terdidik tidak mempermasalahkan jenis dan status pekerjaan yang akan digelutinya. Minimnya keterampilan dan keahlian memaksa mereka bekerja pada lapangan pekerjaan apapun tanpa meperhitungkan besaran upah/penghasilan yang akan

Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Provinsi Kalimantan Tengah 2013 61

diperolehnya. Akhirnya mereka masuk pada lapangan pekerjaan yang tidak menuntut kualifikasi tertentu yang memberikan penghasilan tidak optimal.

Gambar 4.10. Persentase Tenaga Kerja Menurut Pendidikan dan Lapangan Pekerjaan Utama, 2013

Catatan :

Agriculture : Pertanian

Manufacture : Pertambangan, Industri, LGA, Konstruksi Service : Perdagangan, Angkutan, Lembanga Keuangan, Jasa

Tidak sama halnya dengan tenaga kerja-tenaga kerja terdidik, karena berbekal kemampuan dan keahlian yang dimilikinya mereka tidak sembarangan menentukan jenis dan status pekerjaannya. Perhitungan rate of return dari masa pendidikan yang telah dikeluarkannya harus lebih tinggi. Harapan

SLTP ke bawah SLTA SLTA ke atas Lapangan

Pekerjaan SLTP ke bawah SLTA SLTA ke atas Pertanian 85,58 13,37 1,05 Pertambangan 75,91 21,83 2,27 Industri 79,16 18,50 2,33 Listrik, Gas &

Air 31,45 68,55 0,00 Konstruksi 69,18 26,62 4,20 Perdagangan 63,17 34,67 2,17 Angkutan & Komunikasi 62,95 36,04 1,01 Lembaga Keuangan 15,91 49,51 34,58 Jasa 17,13 33,68 49,19

62 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013

akan tingkat penghasilan/pendapatan yang tinggi harus sesuai dengan tingkat pendidikan/keterampilan/keahlian yang dimiliki.

Bisa disimpulkan bahwa di Kalimantan Tengah separuh lebih pekerja masuk dalam pasar tenaga kerja dan bekerja pada lapangan pekerjaan karena ketiadaan pilihan atas pendidikan rendah yang melekat pada diri mereka. Keterpaksaan ini berdampak pada tingkat penghasilan yang diperoleh pekerja-pekerja ini yaitu terletak pada tingkat yang rendah.

Tingginya persentase pekerja dengan pendidikan rendah harus perlu diperhatikan keberadaannya pada pasar tenaga kerja Kalimantan Tengah. Jika dipilah-pilah menurut lapangan pekerjaan utama, sesuai dengan Gambar 4.10, tingkat pendidikan tenaga kerja dari sektor pertanian mempunyai sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan paling rendah diantara sektor lainnya. Sebaliknya, pada sektor service persentase tenaga kerja terdidiknya cukup besar, dengan pekerja tak terdidik relatif kecil.

Pertanian adalah sektor subsisten yang tidak menuntut kualifikasi pendidikan/keterampilan bagi para pekerjanya. Sektor ini sangat mudah dimasuki. Ketika pencari kerja tidak mungkin bersaing dengan para pencari kerja lainnya yang berlatar belakang pendidikan lebih tinggi, ketika dengan latar belakang pendidikan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor manufacture dan service, maka mereka tidak punya pilihan selain bergelut di sektor agriculture.

Semakin tinggi tingkat pendidikannya maka semakin kecil persentase pekerja pada sektor agriculture. Ini menunjukkan bahwa

Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Provinsi Kalimantan Tengah 2013 63

pertanian semakin ditinggalkan oleh para tenaga kerja terdidik. Pertanian hanya dilirik oleh tenaga kerja berpendidikan rendah. Tingkat penghasilan yang rendah dan pekerjaan yang dianggap kotor dan menguras fisik menjadi penyebab rendahnya persentase pekerja terdidik di sektor ini.

Justru sebaliknya, sektor manufacture maupun service merupakan sektor yang paling banyak dilirik oleh pekerja terdidik (SMA ke atas). Setara dengan kualifikasi pendidikan yang disyaratkan sektor ini bagi para pekerjanya, maka tidak salah jika ke dua sektor ini memiliki persentase paling besar untuk pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Dan nilainya sangat jauh lebih besar dibandingkan sektor agriculture dengan tingkat pendidikan sama. Apabila membandingkan antara manufacture dan service, maka pada persentase tenaga terdidik untuk sektor service memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan sektor manufacture.

Setelah dicermati, pekerja di sektor informal yakni mereka yang bekerja sebagai pekerja yang tidak dibayar atau pekerja keluarga didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan SD ke bawah. Hal ini memberikan gambaran bahwa sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan yang rendah menentukan status pekerjaan yang digelutinya. Tabel 4.9 memperlihatkan bahwa pekerja di Kalimantan Tengah dengan pendidikan tinggi (sarjana muda/sarjana) sebanyak 90,05 persen merupakan buruh/karyawan, sedangkan yang menjadi pengusaha dengan buruh tetap hanya sebesar 1,73 persen.

64 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013

Tabel 4.9. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Pendidikan dan Status Pekerjaan, 2013

Status Pekerjaan bawah SD Ke SLTP SLTA/

SMK Diploma/ Univ.

(1) (2) (3) (4) (5)

Berusaha Sendiri 23,57 24,75 17,74 4,99 Berusaha Dibantu Buruh Tidak

Tetap/Tidak Dibayar 22,24 17,21 10,02 2,03 Berusaha Dibantu Buruh Tetap/

Dibayar 2,68 3,89 4,47 1,73

Buruh/Karyawan/ Pegawai 25,46 30,40 52,50 90,05 Pekerja Bebas 4,51 4,24 2,49 0,06 Pekerja Keluarga/ Tak Dibayar 21,54 19,51 12,79 1,14

Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00

Dokumen terkait