Bab V Indikator Ketenagakerjaan
5.2. Pekerja Tidak Penuh
Masalah ketenagakerjaan yang perlu mendapat perhatian adalah pekerja tidak penuh. Ini erat kaitannya dengan produktifitas pekerja yang berpengaruh pada output produksi yang secara langsung akan mempengaruhi perekonomian suatu wilayah. Selain dihadapkan pada masalah pengangguran, Provinsi Kalimantan Tengah juga dihadapkan pada masalah pekerja tidak penuh, yaitu penduduk yang bekerja kurang dari jam kerja normal 35 jam per minggu, namun tidak termasuk yang mempunyai pekerjaan tetapi selama seminggu yang lalu tidak bekerja (jam kerja nol). Sementara tidak bekerja memang masuk kedalam kategori angkatan kerja dan masih dikategorikan sebagai bekerja, tetapi walaupun jam kerjanya selama seminggu yang lalu adalah nol jam, mereka tidak termasuk sebagai pekerja tidak penuh. Sebagian dari pekerja tidak penuh adalah yang terpaksa bekerja walaupun jabatannya lebih rendah dari tingkat pendidikannya, upah yang diterima rendah, yang mengakibatkan produktivitasnya pun menjadi rendah.
Semakin tinggi tingkat pekerja tidak penuh maka semakin rendah tingkat utilisasi pekerja dan produktivitasnya. Akibatnya, pendapatan pekerjapun rendah dan tidak ada jaminan sosial atas
88 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013
pekerja. Hal ini sering terjadi disektor informal yang rentan terhadap kelangsungan pekerja, pendapatan dan tidak tersedianya jaminan sosial. Sehingga pemerintah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan kemampuan bekerja mereka seperti penambahan balai latihan kerja.
Ada sebuah kecenderungan mengapa seseorang masuk sebagai pekerja tidak penuh, sebabnya adalah tingkat kesempatan kerja yang semakin lamasemakin kecil membuat para pekerja menerima untuk bekerja atau melakukan pekerjaan walaupun berada di bawah jam kerja normal dari pada menganggur dan tidak mempunyai penghasilan, lebih baik pekerjaan tersebut mereka lakukan. Pekerja tidak penuh termasuk di dalamnya setengah penganggur dan pekerja paruh waktu (part time).
Jumlah pekerja tidak penuh Provinsi Kalimantan Tengah mencapai 360.974 orang pada kondisi Agustus 2011 atau sekitar 32,65 persen dari total penduduk yang bekerja. Angka ini pada periode Agustus 2012 naik secara jumlah menjadi 382.288 orang atau dengan kata lain pada Agustus 2012 persentase pekerja tidak penuh terhadap penduduk yang bekerja lebih tinggi dari keadaan Agustus 2011, yaitu sebesar 35,72 persen. Kondisi ini meningkat lagi pada Agustus 2013 menjadi 40,33 persen dan atau secara absolut, jumlah pekerja tidak penuh mencapai 429.038 orang. (Gambar 5.2).
Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013 89 Gambar 5.2. Persentase Pekerja Tidak Penuh Provinsi
Kalimantan Tengah, 2011-2013
Tanpa memperhatikan jenis kelaminnya, secara total di tiap kabupaten/kota persentase pekerja tidak penuh nilainya bervariasi. Kabupaten Kotawaringin Barat memiliki persentase pekerja tidak penuh terkecil di Provinsi Kalimantan Tengahyaitu 11,73 persen (Tabel 5.4). Sebaliknya, Kabupaten Barito Utara merupakan daerah dengan persentase tertinggi pekerja tidak penuhnya di Provinsi Kalimantan Tengah.
Dari sisi gender terungkap bahwa di Provinsi Kalimantan Tengah persentase pekerja tidak penuh perempuan lebih tinggi dibandingkan pekerja tidak penuh laki-laki, dan ini berlaku untuk semua kabupaten/kota. Persentase tertinggi pekerja tidak penuh perempuan ada di Kabupaten Kapuas danyang terendah ada di Kabupaten Sukamara. Dominasi perempuan pekerja tidak penuh kemungkinan karena pekerjaan tersebut dilakukan untuk mengisi waktu luang sambil
32,65 35,72 40,33 30 32 34 36 38 40 42 2011 2012 2013 Per sen ta se ( % )
90 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013
mengurus rumah tangga, disamping untuk menambah penghasilan rumah tangga.
Tabel 5.4. Persentase Pekerja Tidak Penuh Terhadap Total Pekerja menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin, 2013
Kabupaten / Kota Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan (1) (2) (3) (4) Kotawaringin Barat 14,42 28,48 18,76 Kotawaringin Timur 32,85 57,36 39,34 Kapuas 56,08 72,89 62,03 Barito Selatan 50,39 69,57 57,76 Barito Utara 56,15 69,81 61,67 Sukamara 21,07 26,67 23,15 Lamandau 32,11 43,21 36,09 Seruyan 16,66 54,29 27,87 Katingan 31,97 64,35 41,84 Pulang Pisau 40,63 54,71 45,65 Gunung Mas 18,84 38,63 26,13 Barito Timur 49,59 72,83 59,26 Murung Raya 37,35 54,67 43,45 Palangka Raya 12,19 26,80 17,65 Kalimantan Tengah 33,40 53,84 40,33
Menurut konsep dari BPS, pekerja tidak penuh terdiri dari setengah penganggur dan pekerja paruh waktu. Keduanya sama-sama bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu), namun terdapat sedikit perbedaan di antara keduanya. Pada setengah penganggur walaupun bekerja kurang dari 35 jam
Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013 91
seminggu namun masih mencari pekerjaan lain dan masih bersedia menerima pekerjaan, sedangkan pada pekerja paruh waktu, walaupun bekerja dibawah 35 jam seminggu tetapi sudah tidak mencari pekerjaan lagi dan tidak bersedia untuk menerima pekerjaan lain (atau biasanya disebut dengan setengah pengangguran sukarela/part time worker).
Gambar 5.3. Pekerja Tidak Penuh Kalimantan Tengah, 2011-2013
Dari waktu ke waktu selama periode tahun 2011-2013 di Provinsi Kalimantan Tengah proporsi banyaknya setengah penganggur selalu lebih kecil dibandingkan dengan pekerja paruh waktu. Kondisi ini dapat dilihat pada Gambar 5.3. Namun perkembangannya menunjukkan bahwa besaran setengah penganggur semakin menjauh terhadap pekerja paruh waktu. Semakin lama, semakin banyak mereka yang setengah penganggur waktu menjadi pekerja paruh waktu. Semakin banyak yang merasa cocok dengan pekerjaan yang sedang
0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 350.000 2011 2012 2013 103.150 130.608 96.274 257.824 251.680 332.764 Or an g
92 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013
dijalaninya. Semakin banyak yang bekerja sesuai dengan harapannya dan tidak ingin mendapat pekerjaan di tempat lain dengan penghasilan yang sesuai dengan harapannya.
Tabel 5.5. Persentase Pekerja Tidak Penuh Provinsi Kalimantan Tengah Menurut Kabupaten/Kota dan Kriteria Pekerja Tidak Penuh, 2013
Kabupaten / Kota Penganggur Setengah Paruh Waktu Pekerja Total
(1) (2) (3) (4) Kotawaringin Barat 8,90 91,10 100,00 Kotawaringin Timur 12,48 87,52 100,00 Kapuas 13,05 86,95 100,00 Barito Selatan 33,97 66,03 100,00 Barito Utara 36,01 63,99 100,00 Sukamara 9,71 90,29 100,00 Lamandau 16,51 83,49 100,00 Seruyan 24,76 75,24 100,00 Katingan 26,76 73,24 100,00 Pulang Pisau 32,27 67,73 100,00 Gunung Mas 42,85 57,15 100,00 Barito Timur 27,99 72,01 100,00 Murung Raya 28,94 71,06 100,00 Palangka Raya 27,64 72,36 100,00 Kalimantan Tengah 22,44 77,56 100,00
Secara global, proporsi antara setengah penganggur dan pekerja paruh waktu di Provinsi Kalimantan Tengah adalah tidak sebanding. Masing-masing tercatat sebesar 22,44 dan 77,56 persen. Pola pekerja tidak penuh kabupaten/kota bervariasi dan terbagi dalam satu kelompok, yaitu yang proporsi
Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013 93
setengah penganggur lebih rendah dibanding yang pekerja paruh waktu (Tabel 5.5).
Diantara kabupaten/kota yang mempunyai proporsi pekerja paruh waktu tertinggi adalah Kabupaten Kotawaringin Barat, sebesar 91,10 persen. Sementara proporsi pekerja paruh waktu yang terkecil berada di Kabupaten Gunung Mas yaitu sebesar 57,15 persen. Rendahnya angka pekerja paruh waktu di kabupaten tersebut menandakan bahwa penduduk yang bekerja tetapi masih berstatus sebagai pekerja tidak penuh belum sepenuhnya puas dengan pekerjaan yang sekarang dijalani, sehingga masih berkeinginan untuk merubah keadaan dengan mau mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain.
Ditinjau dari sisi sektor pertanian (agriculture), industri (manufacture) dan jasa-jasa (services), Tabel 5.6 menunjukkan kondisi bahwa pada sektor pertanian, lebih banyak persentase setengah penganggur dibandingkan yang pekerja paruh waktu. Situasi ini memberikan gambaran bahwa pada tahun 2013 lebih banyak yang terpaksa bekerja di pertanian dibandingkan yang secara sukarela menerima pekerjaannya. Sebaliknya pada sektor industri dan jasa-jasa lebih banyak yang secara sukarela bekerja di sektor ini daripada yang ingin beralih ke pekerjaan lain. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa sesuai dengan dugaan sebelumnya bahwa tingginya persentase pekerja pada sektor pertanian karena ketiadaan pilihan angkatan kerja. Sektor ini hanya menjadi lompatan sebelum mereka masuk sektor industri atau jasa-jasa. Lebih banyak pekerja sektor pertanian yang
94 Potret Angkatan Kerja dan Pekerja Kalimantan Tengah 2013
akan beralih dengan harapan mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan. Sekali lagi membuktikan bahwa sektor pertanian bukan merupakan pilihan terakhir.
Tabel 5.6. Persentase Setengah Penganggur dan Pekerja Paruh Waktu menurut Lapangan Pekerjaan Utama, 2013
Kriteria Tidak Penuh
Lapangan Pekerjaan Utama
Total Pertanian Manufaktur Jasa
(1) (2) (3) (4) (5)
Setengan Penganggur 71,82 8,58 19,59 100,00 Pekerja Paruh Waktu 69,47 6,25 24,28 100,00 Kalimantan Tengah 70,00 6,78 23,23 100,00