Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian I
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
"Analisa Teknikal?Apa itu?" gumam anda dalam hati. "Kok investasi saham pake analisa teknik. Emangnya saham punya mesin?"
Nah, untuk menghindari salah pengertian, sebelum kita diskusi tentang prinsip yang mendasari analisa teknikal (technical analysis), saya jelaskan dulu apa sebenarnya Analisa Teknikal ini.
Analisa Teknikal (Technical Analysis atau disingkat TA) adalah bidang yang memperhatikan gejolak harga (dan volume) saham dengan tujuan memprediksi harga saham di masa datang. Analisa teknikal biasanya dilakukan dengan menggunakan “chart” atau grafik.
Ada pemain saham yang menganggap Analisa Teknikal hanyalah chart/grafik harga. Tidak begitu. Semua metode analisa yang menggunakan harga (dan/atau volume) termasuk dalam Technical Analysis ini, terlepas apakah metode itu dijabarkan dalam grafik atau tidak.
Saat ini Technical Analysis sudah diterima sebagian pemain saham sebagai alat yang berguna. Tapi tetap saja masih ada yang menganggap bahwa Technical Analysis tidak bermanfaat sama sekali.
“Analisa Teknikal itu omong kosong,” begitu kata mereka. “Saya hanya percaya pada analisa fundamental.”
Pendapat mereka sah-sah saja. Tapi terlepas dari apakah analisa teknikal berguna atau tidak, tidak ada salahnya anda mencoba dan menentukan pendapat anda sendiri.
Sebelum anda mendalami Technical Analysis lebih lanjut, anda sebaiknya terlebih dahulu tahu prinsip-prinsip dasar berikut: Tidak ada satu pun analisa teknikal yang bisa memprediksi semuanya, yang “works all the time.”
Analisa Teknikal terbagi menjadi dua metode utama: trend-following dan oscillator. Sebelum anda percaya analisa teknikal anda harus terlebih dulu percaya dalil momentum. Prediksi yang diberikan analisa teknikal bersifat TIDAK absolut.
Analisa Teknikal digunakan karena sifatnya yang konsisten dan tanpa prasangka (unbiased). Mari kita telaah lebih dalam prinsip-prinsip tersebut.
Prinsip Pertama: Tidak ada satu pun analisa teknikal yang bisa memprediksi semuanya.
Kalau anda mendalami TA, anda akan menemukan berbagai rupa metode, dari yang sederhana sampai yang rumit. Tampilan harga saham bisa dilakukan dengan bar, candlestick, point-and-figure dan lain-lain. Metode perhitungan juga ada puluhan bahkan ratusan, di antaranya: Average True Range, Bollinger Bands, Chaikin Money Flow, Moving Average Convergence Divergence (MACD), Moving Average, On Balance Volume, Parabolic SAR, Price Channel, Relative Strenth Index, Stochastic, Williams’ %R.
Yang harus anda camkan: Dari semua metode ini, tidak ada satupun yang bisa melakukan semua hal, tidak ada satupun yang “works all the time.” Artinya, setiap metode punya kelebihan tapi juga ada kelemahannya.
Contohnya begini: Bollinger Bands bisa berfungsi dengan baik ketika volatilitas relatif stabil tapi tidak efektif ketika volatilitas berubah menjadi tinggi. Atau, Moving Average mungkin berfungsi baik ketika saham bergerak dalam trend, tapi tidak banyak gunanya ketika harga bergerak dalam kisaran (sideways).
Jadi kalau ada orang yang mengklaim bahwa analisa teknikal ciptaannya bisa memprediksi pergerakan semua saham dalam segala kondisi, wah, sebaiknya anda berhati-hati. Ini sama saja dengan tukang obat yang mengklaim bahwa obatnya bisa menyembuhkan semua penyakit: darah tinggi, darah rendah, kencing manis, serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kanker, sampai impotensi, mandul, penyakit kulit, penyakit kelamin dan lain sebagainya.
Mungkinkah?
Kemungkinan selalu ada, tapi sangat kecil. Beranikah anda mempertaruhkan kesehatan dan nyawa anda hanya dengan obat ini? Saya rasa tidak. Jadi sebaiknya juga anda tidak mempertaruhkan seluruh uang investasi anda pada satu analisa teknikal. Prinsip Kedua: Analisa Teknikal terbagi menjadi dua cabang utama, trend-following dan oscillator.
Prinsip kedua ini adalah kelanjutan dari prinsip pertama. Ada baiknya kita lihat dulu perbedaan trend-following dengan oscillator.
Indikator trend-following berfungsi memprediksi apakah saham yang sedang bergerak naik (uptrend) atau turun
(downtrend) cenderung akan melanjutkan aksinya atau cenderung berbalik arah. Sedangkan indikator oscillator berfungsi memprediksi suatu saham yang bergerak dalam kisaran apakah sudah jenuh jual atau jenuh beli.
Indikator trend-following tidak bekerja efektif pada saham yang bergerak dalam kisaran (sideway). Demikian pula, indikator oscillator tidak berfungsi maksimal pada saham yang sedang bergerak naik atau turun drastis.
Kalau saja pergerakan harga saham selalu sama (yang naik, naik terus; yang sideway, sideway terus; yang turun, turun terus) tentu tidak ada masalah karena indikator yang sudah berfungsi baik akan tetap berfungsi.
Tapi masalahnya saham tidak terpaku pada pergerakan yang sama: yang sudah naik berkemungkinan berubah menjadi bergerak sideway. Atau juga saham yang sudah lama bergerak sideway, tiba-tiba keluar dari kisarannya dan memulai trend turun. Ketika perubahan ini terjadi, analisa teknikal yang berfungsi efektif sebelumnya akan menjadi tidak efektif dan memberi sinyal yang tidak tepat.
Guru Yosen memberitahu Chin Mi, si Kung Fu Boy, bahwa taktik harus disesuaikan dengan keadaan
Maka dari itu, anda harus membedakan dulu analisa teknikal yang anda gunakan, apakah ia adalah trend-following (misalnya moving average, MACD) atau oscillator (Relative Strength Index, Stochastic).
Menggunakan indikator trend-following pada saham yang bergerak dalam kisaran sempit akan menuai kerugian. Demikian pula sebaliknya, menggunakan indikator oscillator pada saham yang sedang trend naik akan membuat kita menjual terlalu awal.
Lanjut baca ke Prinsip ketiga klik di sini:Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian II
7 komentar:
1.
masukan yang sangat menarik sekali untuk seorang pemula seperti saya yang sedang menabung demi kehidupan yang lebih baik lagi kedepannya.
berdasarkan cerita dari bapak, seperti jatuh banggun bukanlah masalah untuk anda, sehancur apapun dan serugi apapun bapak, bapak tetap berjuang dan meyuakin bahwa bapak melangkah di jalan yg benar,,sungguh membuat saya terharu.... :D semoga bapak terus menceritakan stategy" baru dalam bermain saham...
salam hormat saya kepada trader profesional, hendra
Balas Balasan
1.
Iyan2 Juli 2012 09.04
Mas Hedra, terima kasih untuk komentarnya yang sangat positif.
Saya memang terus berjuang untuk belajar main saham. Tapi tidak berarti saya tidak pernah meragukan pilihan ini. Beberapa kali saya hampir menyerah karena rugi begitu banyak yang membuat saya dihimpit stress begitu berat. Tapi akhirnya saya tetap main saham lagi. Mungkin saya ini seorang masochist yang suka menyiksa batin sendiri. :-D
Balas
2.
marden27 Mei 2013 12.52 Selamat siang Pak Iyan,
Saya mau bertanya, mohon pencerahannya.
Sy dulu pernah ikut trading saham sekitar 3 tahun dan hasilnya rugi. Akhirnya berhenti sekitar 3 tahun dan sekarang ini mau mulai kembali aktifitas trading dgn harapan saya bisa tinggalkan pekerjaan saya sekarang ini dan fulltime di trading.
Sebelum mulai lagi sy pikir sy harus benar2 prepare secara jauh lebih baik daripada waktu lalu.
Dari beberapa buku yg saya baca, termasuk dari blog Bapak, saya dapatkan adalah waktu terbaik membeli ada saat trend harga saham sedang naik dan break out resistance (cmiiw).
Namun dari pengamatan saya, dari saham2 yang breakout resistent, kebanyakan keesokan harinya atau 2-3 hari sesudahnya akan turun kembali walaupun tidak menyentuh support barunya. Misalnya saham ABCD resistant di 2000, tanggal 1 break resistant dan naik jadi 2200, tapi keesokan harinya baik open atau closing di 2100, dan tanggal 3 closing di 2000. Tanggal 4 kembali mantul setelah kena di supportnya dst dst..
Karena saya mengkategorikan diri saya di swing trader, dan tidak setiap waktu di depan monitor, biasanya baru ketauan ada saham breakout pada malam harinya. Artinya saya harus take action keesokan harinya, cmiiw. Yang jadi pertanyaan saya, kapan waktu yang tepat kita masuk saat saham breakout?
1. Apakah sebaiknya kita masuk pada tanggal 1 sore2nya (kl kebetulan saya didepan monitor)? 2. Atau beli di tanggal 2 dengan harga 2100 dengan resiko deg2an di tanggal 3 nya?
4. Atau beli saja dengan harga berapapun, pasang stop los 10% dibawah 2000 kemudian tutup monitor dan tunggu naik?
Mohon pencerahan ya Pak Iyan. Dan terima kasih banyak. Salam, Marden Balas Balasan 1. Iyan28 Mei 2013 09.59
Tidak ada SATU-SATUNYA cara tepat untuk membeli saham breakout.
Kalau menurut pengamatan Marden saham breakout kebanyakan turun lagi beberapa hari kemudian, itu artinya lebih baik beli setelah turun lagi.
Tapi bagaimana dengan breakout yang baru turun setelah naik kencang (misalnya 50%)? Ingat: Technical Analysis, seperti analisis-analisis lainnya, ujung2nya NEBAK.
Apakah anda sudah baca pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula"?
http://terusbelajarsaham.blogspot.com/2012/01/cara-membeli-saham-untuk-pemula-bagian.html Sudah saya tulis di pos tersebut untuk membeli saham dalam 2 tahap. Beli dulu setengah; kalau turun beli lagi.
Menjawab pertanyaan anda satu-per-satu:
1. Kalau anda bisa beli saham KETIKA ia breakout, BELI. Ini dengan asumsi saham tersebut BENAR-BENAR breakout. Artinya: ada saham yang break resistance satu dua poin tapi lantas langsung melorot turun. Jangan lupa untuk siap-siap cut-loss kalau saham turun beberapa poin di bawah titik breakout ini yang sudah berubah menjadi Support.
Ingat: Resistance yang ditembus, langsung berubah menjadi titik Support baru. [Saya akan membahas hal ini di pos tersendiri.]
2. Kalau hari berikutnya turun dan kemarin belum sempet beli, anjuran saya: BELI. Kalau turun lagi, beli lagi. 3. Boleh saja menunggu beli (bid) di harga support. Tapi bagaimana kalau saham turun TIDAK SAMPAI ke harga support (menurut contoh anda di Rp 2000), misalkan cuma turun ke 2025, lalu langsung naik lagi ke 2600?
Apakah berusaha menghemat Rp 25 (bid di 2000, tapi tidak dapat) adalah keputusan tepat? Kalau anda beli di 2025, lalu saham naik ke 2600, anda untung 575.
Kalau anda antri beli di 2000 tapi tidak mendapatkan saham tsb, anda cuma gigit jari sampai berdarah-darah ketika anda melihat saham A tersebut naik ke 2200, 2300, 2500, 2600.
Ingat: saham BREAKOUT berarti sinyal BUY menyala. Artinya anda harus buy, harus beli. Nah, beli di harga berapa menjadi masalahnya.
Artinya, LEBIH BAIK anda beli di harga berapapun lalu pasang stop-loss DARIPADA tidak beli sama sekali. Kalau ragu, beli setengah dulu. Kalau yakin, langsung beli penuh.
Semoga membantu.
2.
marden28 Mei 2013 10.43 Selamat siang Pak Iyan.
Terima kasih banyak untuk jawaban dan responsenya.
Menyambung jawaban Bapak yang no. 1, bagaimana kita membedakan saham yang BENAR-BENAR break out dengan yang false breakout?
Salam, Marden
3.
Iyan28 Mei 2013 10.51
Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu pemahaman menyeluruh tentang Support dan Resistance. Saya akan coba tulis di pos tersendiri tentang hal ini. Mohon bersabar.
4.
marden29 Mei 2013 11.37 Siap Pak Iyan.. Sabar menanti.. :) Terima kasih banyak..
Salam, Marden
Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian II
[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] Pos ini adalah lanjutan dari"Prinsip Mendasar Analisa Teknikal (Technical Analysis) Bagian I."
Prinsip ketiga: Sebelum anda percaya pada analisa teknikal, anda harus terlebih dulu percaya pada dalil momentum. Dalil momentum mengatakan bahwa sesuatu yang bergerak maju akan cenderung tetap bergerak maju; yang bergerak turun, cenderung tetap turun; yang tidak bergerak, cenderung tetap tidak bergerak.
Kalau anda ingin membuktikan dalil ini, coba anda mendorong mainan mobil-mobilan. Mobil itu akan meluncur, lalu kecepatannya melambat sebelum berhenti. Mobil tersebut tidak berhenti mendadak, apalagi langsung berubah dari maju
menjadi mundur. Coba anda pikirkan, adakah benda yang sedang bergerak maju cepat lalu tiba-tiba berbalik arah tanpa terlebih dahulu memperlambat majunya?
Dalil momentum yang merupakan hukum fisika juga berlaku dalam pergerakan harga saham. Saham yang sedang dalam trend naik biasanya tidak langsung anjlok lagi ke harga semula. (Kalau saham mencoba naik tapi langsung turun ke harga semula, ini berarti saham tersebut belum bermomentum naik.) Saham yang sedang dalam trend turun tidak langsung berubah arah dan naik dengan kencang. Saham yang bergerak sideway kemungkinan akan tetap sideway sampai ada aksi beli atau jual signifikan yang meretas gerakan sideway ini. (Kalau anda tidak tahu arti istilah trend dan sideway, silahkan baca pos"Arti Istilah Saham Trending Trendless.")
Kalau anda masih kurang yakin dengan dalil momentum ini, saya sarankan anda memperhatikan gerak harga beberapa saham selama beberapa bulan. Coba anda lihat sendiri apakah benar saham yang sedang turun lebih cenderung turun, saham yang sedang naik lebih cenderung naik, saham yang bergerak sideway lebih cenderung sideway.
Kalau setelah beberapa bulan menelaah gerakan harga saham anda masih tidak percaya dalil momentum, artinya anda tidak akan percaya pada analisa teknikal apapun dan sebaiknya anda menghindari menggunakan analisa ini.
Prinsip Keempat: Prediksi dari analisa teknikal bersifat TIDAK absolut. Tidak absolut? Kok begitu?
Artinya, hanya karena analisa teknikal memberi sinyal bahwa saham akan naik, tidak berarti saham tersebut harus naik. Analisa teknikal (seperti juga analisa fundamental dan analisa-analisa lainnya) bersifat prediksi atau, dengan kata lain yang lebih gamblang, nebak. Intinya, ketika kita menebak, tebakan kita bisa salah.
Karena kemungkinan salah ini, anda harus selalu siap untuk cut-loss, apapun metode Technical Analysis yang anda gunakan. Misalkan saja metode analisa teknikal yang anda pakai menyatakan bahwa saham ELTY akan naik. Tapi setelah anda beli, kenyataanya ELTY malah turun. Perbedaan sinyal dengan kenyataan ini berarti ada yang salah. Kesalahan ini bisa saja karena analisa teknikal yang anda gunakan tidak berfungsi baik pada situasi tersebut atau bisa juga karena anda salah
menginterpretasi sinyal tersebut.
Apapun sebabnya, kenyataan yang bertolak belakang dengan harapan/prediksi mengharuskan anda untuk mengambil sikap: menyalahkan analisa teknikal atau menyalahkan pasar. Karena pasar tidak pernah salah, berarti yang salah adalah metode analisa yang anda gunakan. Kesimpulannya: kalau salah, anda harus cut-loss. Jangan berargumentasi dengan pasar. Untuk lebih tahu tentang cara cut-loss/stop-loss, silahkan baca pos“Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham.”
Mungkin anda protes, “Kalau analisa teknikal tidak menghasilkan prediksi yang absolut, ngapain gue pake?” Jawaban ini akan anda temukan pada prinsip kelima.
Prinsip Kelima: Analisa Teknikal digunakan karena bersifat konsisten dan unbiased (tidak memihak).
Memang analisa teknikal sering menelurkan prediksi salah. Tapi pemain saham tetap memakai analisa teknikal karena sifatnya yang konsisten dan unbiased. Apa maksudnya?
Salah satu sebab utama pemain saham rugi adalah karena ia tidak konsisten ketika mengambil keputusan beli atau jual. Ia memutuskan membeli dan menjual hanya berdasarkan “feeling,” cara yang saya namakan metode “semau udel.”
“Feeling gua saham BBRI mau naik nih. Jadi gua beli lah,” begitu kira-kira argumentasi yang diberikan. Tidak ada penjelasan lebih lanjut, tidak ada sebab-akibat, tidak ada perhitungan matematis, tidak ada analisa spesifik.
Masalahnya, “feeling” tidak bisa diukur dan tidak bisa dikalkulasi dengan jelas. Lagipula “feeling” anda tergantung apakah anda senang, sedih, siaga, ngantuk, lapar, kenyang, jatuh cinta, patah hati. Karena sifat “feeling” yang tidak konsisten ini, anda bisa melakukan kesalahan terus-menerus karena anda tidak menggunakan patokan jelas untuk memutuskan beli atau jual saham.
Berbeda dengan analisa teknikal.
Analisa teknikal dikalkulasi dengan menggunakan data otentik harga (dan volume) saham. Harga dan volume ini adalah fakta, tetap sama, dan tidak tergantung kondisi anda. Juga tidak tergantung hari yang cerah, mendung, panas, dingin, hujan. Perhitungan matematis analisa teknikal bersifat konsisten dan tidak memihak, sifat yang sangat penting ketika anda berhadapan dengan pasar dan diri anda yang kondisinya berubah-rubah.
Demikian prinsip-prinsip dasar analisa teknikal. Cerna dan cermati. Hanya setelah anda setuju dengan prinsip-prinsip ini, barulah anda siap mempelajari analisa teknikal secara mendalam.
Silahkan lanjut baca ke pos"Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula." 3 komentar:
1.
Tika Sie27 Februari 2012 14.59 Pak Iyan, saya ada pertanyaan lagi,
sebagai pemula, untuk mempelajari analisa teknikal tentunya cukup sulit bukan, sejauh ini yg saya paham hanya moving average saja, sedangkan yg lain2 saya belum paham.
kalau begini bagaimana saya bisa menentukan saham apa dan di harga berapa saya harus beli?
nah, sebagai pemula apakah lebih aman apabila mengukuti saran dari miss: broker atau semacamnya, biasanya mereka mengirimkan daftar2 saham yang layak dibeli hari itu beserta target dan titik cut loss.
akan tetapi tentunya kita tidak bisa percaya begitu saja bukan?
kalau begitu bagaimana cara menentukan saran mana yang dapat kita ambil sebagai acuan dalam membeli saham? bagaimana menurut pak Iyan?
Balas Balasan
1.
Iyan27 Februari 2012 16.40
Tika, analisa teknikal ada yang rumit dan ada juga yang sederhana. Moving Average termasuk yang sederhana tapi juga termasuk yang reliable.
Seperti yang saya sarankan di pos "Cara Membeli Saham Untuk Pemula Bagian I," sebaiknya Tika memilih beberapa saham yang menarik perhatian Tika. Lalu, kalau Tika memang lebih memilih memakai Analisa Teknikal, ikuti pergerakan saham-saham tersebut dengan Moving Average (MA) yang sudah Tika pahami. Coba cari kondisi MA yang kelihatannya menghasilkan untung.
Menganalisa saham dengan cara apapun memang tidak mudah. Tapi menganalisa sendiri suatu saham jauh lebih baik daripada menelan bulat-bulat rekomendasi orang lain (yang seperti kata Tika, tidak boleh
dipercaya begitu saja). Memang, Tika akan membuat banyak kesalahan. Belajarlah dari kesalahan ini. Lambat-laun Tika akan bisa membuat keputusan yang menguntungkan.
Kalau memang Tika merasa terlalu sulit untuk menganalisa sendiri, silahkan ikuti rekomendasi dari broker. Jangan langsung membeli saham yang direkomendasi. Telaah bagaimana hasil rekomendasi tersebut, apakah banyak yang benar. Kalau memang banyak yang benar, cobalah beli. Apakah menguntungkan? Kalau iya, lanjutkan. Kalau tidak, cari rekomendasi pihak lain.
Belajar main saham harus melalui proses trial-and-error. Tak bisa dielakkan akan banyak error pada awalnya. Semoga membantu
Saham Naik ke Harga Tertinggi, Saatnya Jual?
[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]
Sejak Juli 2010, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terus-menerus naik mengukir rekor
tertinggi baru. Karena kenaikan ini beberapa pengamat saham menganjurkan investor untuk ambil untung. Benarkah anjuran ini?
Ada baiknya saya ilustrasikan dengan contoh. Misal saja petinju Ali Otot baru mengukir rekor baru menang 30 kali pertandingan dengan 20 kali memukul KO lawannya, tanpa pernah kalah, tanpa pernah seri.
Pada pertandingan ke 31, Ali Otot akan bertarung melawan Bima Prima. Apabila anda diminta memilih siapa yang akan menang, apakah anda serta-merta menjagokan Bima Prima karena Ali Otot sudah berkali-kali mengukir rekor baru? "Ah, Ali Otot baru mengukir rekor baru, jadi tidak mungkin ia kembali membuat rekor baru. Jadi lebih baik saya menjagokan
lawannya," begitu kira-kira logikanya.
"Hanya orang tolol saja yang memakai logika itu," maki anda. "Karena Ali Otot baru saja membuat rekor baru, seyogyanya kita menjagokan dia untuk memenangkan pertandingan berikutnya. Bukannya malah menganggap dia akan gagal." Tepat sekali!
Demikian pula seharusnya logika dalam dunia saham. Karena IHSG mengukir rekor tertinggi baru, jauh lebih mungkin IHSG naik lagi daripada langsung terpuruk.
Tapi, tanya anda, dengan kenaikan tersebut, bukankah saham-saham tersebut sudah mahal?
Terus terang saya tidak tahu apakah saham-saham BEI sudah mahal. Yang saya tahu adalah kenyataan bahwa IHSG menembus rekor karena banyak saham-saham komponen indeks yang membuat rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) baru.
Mengapa saham mencapai rekor tertinggi baru?
Untuk memahami hal ini kita perlu menilik hukum ekonomi supply-and-demand, pasokan-dan-permintaan. Hukum ini menyatakan bahwa kala pasokan banyak dan permintaan sedikit, harga turun. Tapi kala pasokan sedikit dan permintaan banyak, harga naik.
Mari kita jabarkan proses kenaikan harga tersebut.
(Untuk memudahkan diskusi, mari kita anggap total pasokan saham adalah tetap. Sebenarnya pasokan saham bisa bertambah kalau perusahaan melakukan aksi korporasi right-issue, dan bisa juga berkurang kalau perusahaan melakukan buy-back).
Saham naik karena ada aksi beli. Bila aksi beli itu dilakukan pihak dengan strategi beli-dan-pegang, pasokan saham di pasar akan berkurang karena saham yang mereka beli tidak mereka jual dalam waktu dekat. Kala pasokan berkurang tapi pihak tadi tetap terus membeli, saham akan naik dan terus naik hingga mencapai rekor tertinggi terbaru.
Bisa kita simpulkan bahwa saham mencapai rekor tertinggi baru kalau ada pihak-pihak yang terus-menerus membeli dan memegang saham tersebut.
Siapakah mereka dan mengapa mereka terus membeli?
Dorongan beli besar—yang mengakibatkan saham naik tajam—biasanya datang dari fund manager (manajer investasi) bermodal besar yang sanggup memegang saham untuk jangka waktu lama. Selain bermodal besar, mereka juga didukung analis berpengalaman. Mereka membeli saham kalau analisa mereka menyatakan saham akan naik lebih tinggi di masa datang.
Mungkinkah fund manager tersebut salah?
Mungkin saja. Tapi sangatlah tidak bijaksana kalau kita bertaruh melawan mereka. Mereka bermodal lebih besar dari kita,