• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terus Belajar Saham

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Terus Belajar Saham"

Copied!
291
0
0

Teks penuh

(1)

Terus Belajar: Main Saham

Kurikulum

Kalau anda sampai di blog ini, saya asumsikan anda berniat untuk belajar main saham. Karena blog ini saya tujukan untuk semua tingkat pengalaman bermain saham (pemula, menengah, dan mahir), sangat mungkin pos yang anda baca tidak sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman anda dalam bermain saham.

Karena alasan di atas saya membuat halaman ini untuk menuntun anda membaca pos-pos yang sesuai dengan kondisi anda. (N.B.: Memang, sampai saat ini kebanyakan pos-pos di sini ditujukan untuk pemula.

Masalahnya, pemula juga tidak semuanya sama. Ada yang baru tertarik dengan saham, ada yang sudah siap mencoba main saham, ada yang sudah punya rekening tapi tidak tahu langkah berikutnya. Mungkin ada juga pembaca yang ingin belajar analisa teknikal. Pembaca lain mungkin mau tahu mekanisme transaksi. Dan sebagainya.)

Semoga membantu.

KURIKULUM

Jika anda ingin tahu arti dari istilah-istilah di dunia saham, silahkan buka halaman"Istilah Saham."

Jika anda baru BERPIKIR/BERENCANA mau mencoba main/investasi saham, silahkan baca pos-pos berikut:  Main Saham Cepat Kaya? Tujuan pos ini agar anda tidak berekspektasi berlebihan.

 Main Saham Bisa Untung Berapa? Satu lagi pos agar ekspektasi anda tidak berlebihan.  Target Laba Main Saham Setelah membaca pos ini, anda tahu target profit yang masuk akal.

 Definisi Main Saham di Blog Ini Sebelum anda baca lebih lanjut, anda perlu punya persepsi sama tentang frase "main saham."

 Stres Main Saham Takkan Pupus Kalau anda masih mau main saham setelah membaca pos ini, berarti anda siap stress.

 Memulai Main Saham Sangatlah Mudah Gampang memulai tidak berarti gampang mendapat untung.

 Bisakah "Hidup" Hanya Dari Bermain Saham Untuk anda yang berangan-angan pindah profesi menjadi pemain saham full-time.

 Kapan Kondisi Ideal Untuk Investas Saham? Untuk anda yang menunggu waktu ideal untuk memulai.

 Jawab Pertanyaan Ini Sebelum Investasi Saham Pertanyaan penting sebelum anda memutuskan investasi saham. Jika anda sudah bertekad-bulat MENCOBA main saham, silahkan baca pos-pos berikut:

 Bagaimana Cara Membeli Saham Indonesia? Kalau mau tahu cara membeli saham, baca pos ini.  Sekuritas/Broker Saham Mana Yang Bagus? Cukup jelas.

 Berapa Sebaiknya Modal Awal Main Saham? Cukup jelas.

 Investasi Saham atau Trading Saham, Mana Lebih Baik? Agar anda bisa memilih sendiri mana yang cocok untuk anda.

 Cara/Teknik Menganalisa Saham Menjelaskan cara-cara berbeda untuk menganalisa saham. Jika anda sudah PUNYA rekening saham dan siap untuk bertransaksi saham, silahkan baca pos-pos berikut:

 Mau Main Saham? Ingat Tiga Hal Maha Penting Ini Pos pertama yang wajib anda baca sebelum anda mulai bertransaksi saham.

(2)

 Cara Cut-Loss Untuk Stop Kerugian Saham Pelajaran pertama bermain saham. Kalau anda menguasai hal ini, probabilitas anda untuk sukses main saham sudah berlipat ganda. Tidak ada gunanya anda mendalami analisa fundamental, analisa teknikal, dan tehnik-tehnik rumit lain sebelum anda menguasai tehnik Cut-Loss.

 Keunggulan Cut-Loss Metode Nominal Dibanding Metode Persentase Membandingkan kelebihan-kekurangan metode cut-loss.

 Istilah "Bid" dan "Offer" Ketika Bermain Saham Sebelum melakukan transaksi, anda harus paham istilah ini.  Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui Cukup jelas.

 Cara Membeli Saham Untuk Pemula Setelah membaca pos ini anda mungkin belum tahu "mengapa" membeli saham "apa." (Perlu waktu bertahun-tahun untuk belajar hal ini.) Tapi anda akan tahu "jumlah berapa" dan di "harga berapa" anda harus membeli saham.

 Cara Main Saham Untuk Pemula: Setelah Beli Menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan kalau saham naik, saham turun, atau saham tidak-naik-tidak-turun.

 Cara Menjual Saham Agar Profit Maksimal Teknik memaksimalkan profit dari saham yang uptrend.

Jika anda tertarik untuk INVESTASI JANGKA PANJANG dan mendalami analisa fundamental, silahkan baca pos-pos berikut:  Mau Investasi Saham? Baca Dulu Buku Peter Lynch "One Up On Wall Street" Bagian Pertama dari buku analisa

fundamental yang paling bagus untuk pemula.

 Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku "One Up On Wall Street" Bagian Kedua dari buku "One Up On Wall Street."

 Enam Kategori Saham Menurut Peter Lynch Cukup jelas.  Mengapa Perlu Tahu Earning Per Share? Cukup jelas.

Jika anda ingin belajar Analisa Teknikal, silahkan baca pos-pos berikut:

 Prinsip Mendasar Analisa Teknikal Sebelum mulai belajar analisa teknikal, baca dulu pos ini.

 Saham Naik ke Harga Tertinggi. Saatnya Jual? Agar anda tahu langkah tepat untuk saham yang naik ke harga tertinggi.

 Saham Yang Layak Dibeli Menurut Analisa Teknikal Agar anda tahu saham yang diincar analisa teknikal.  Analisa Teknikal Saham Untuk Pemula Cukup jelas.

 Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway

Jika anda mau mencoba main saham IPO, silahkan baca pos-pos berikut:  Arti Istilah IPO di Bursa Saham Cukup jelas.

 Cara Main Saham IPO Untuk Pemula Pos ini menuntun anda setahap demi setahap dalam memesan dan menjual saham IPO.

 Main Saham IPO Bisa Untung Berapa Cukup jelas.  Main Saham IPO Tidak Berarti Pasti Untung Cukup jelas.

 Arti Istilah Book-building Saham IPO di Bursa Efek Indonesia Cukup jelas.

 Beli Saham IPO di Bookbuilding Bisa Rugi Besar Kalau anda pemula, jangan coba-coba beli saham IPO saat bookbuilding.

Jika anda ingin tahu korelasi saham-saham luar negeri dengan saham-saham Indonesia, silahkan baca pos-pos berikut:  Makna Dow Jones Bagi Pemain Saham Indonesia Cukup jelas.

 Dow Jones Turun 513 Points Semalam. Tindakan Apa Yang Bisa Anda Lakukan? Cukup jelas.  Pengaruh Gejolak Dow Jones Pada IHSG Bursa Indonesia Cukup jelas.

Jika anda ingin tahu MEKANISME transaksi saham, silahkan baca pos-pos berikut:

 Arti Istilah "Scriptless Trading" di Bursa Efek Indonesia Saat ini, kalau anda membeli saham, anda TIDAK lagi mendapat sertifikat/warkat saham.

 Pasar Regular, Tunai, Negosiasi di Bursa Saham Indonesia Agar anda tahu bahwa sebenarnya ada tiga jenis pasar di BEI.

(3)

Jika anda pikir bahwa saham sudah mahal atau sudah murah, silahkan baca pos-pos berikut:  Apakah Harga Saham Sudah Mahal? Cukup jelas.

 Valuasi Indeks Saham Indonesia Terlalu Tinggi? Jangan langsung percaya pada ramalan analis. 

Jika anda ingin membaca tips-tips dari majalah atau sumber-sumber lain, silahkan baca pos-pos berikut:  Sepuluh Tips Cara Mencegah Petaka Trading Tips menarik dari GFT.

 Bagaimana Mencegah Kegagalan Investasi/Trading Saham Tulisan menarik di Money Morning. Jika anda ingin membaca ulasan saya tentang buku investasi saham, silahkan baca pos-pos berikut:

 Cara Investasi Saham William O'Neil

==================================================================================================

Istilah Saham

[Terima kasih Novita Andriani untuk sarannya agar saya membuat Halaman khusus untuk istilah-istilah saham. Inilah halaman tersebut.]

Untuk membaca pos-pos tentang istilah saham, silahkan klik pada judul-judul di bawah ini:  Arti Istilah Bookbuilding Saham IPO di Bursa Efek Indonesia

 Arti Istilah "Bullish" dan "Bearish" di Bursa Saham  Arti Istilah "Cum" dan "Ex" Dividen

 Arti Istilah "Dividen" Saham  Arti Istilah Earning Per Share (EPS)

 Arti Istilah "Lot" dan "Odd Lot" di Bursa Efek Indonesia  Arti Istilah "IPO" di Bursa Saham

 Arti Istilah Price-to-Earnings Ratio

 Arti Istilah "Right Issue" di Bursa Saham Indonesia  Arti Istilah Saham "Blue Chip"

 Arti Istilah Saham Trending Trendless

 Arti Istilah "Scriptless Trading" di Bursa Efek Indonesia  Definisi "Main Saham" di Blog Ini

 Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway

 Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui  Istilah "Bid" dan "Offer" Ketika Bermain Saham

 Makna "Dow Jones" Bagi Pemain Saham Indonesia  Pasar Regular, Tunai, Negosiasi di Bursa Saham Indonesia

(4)

Arti Istilah Book-Building Saham IPO di Bursa Efek Indonesia

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Book-building adalah proses penjamin emisi (underwriter) saham menentukan harga jual dengan melihat minat beli dari institusi dan investor.

Proses book-building saham IPO di Bursa Efek Indonesia kira-kira begini: Pertama-tama, penjamin emisi mengumumkan rentang harga book-building saham tersebut, misalnya antara Rp 750 - 1100 untuk saham Garuda Indonesia.

Langkah berikutnya, penjamin emisi mengumpulkan pernyataan minat beli dari semua calon investor. Dalam pernyataan ini investor menyebut berapa jumlah saham yang dipesan dan di harga berapa. Harga ini harus di dalam rentang harga yang sudah ditentukan penjamin emisi. Untuk kasus Garuda Indonesia, investor hanya boleh memasukkan harga antara Rp 750 -1100.

Investor yang sangat berminat mendapatkan jatah saham sebanyak mungkin akan memasukkan minat beli (bid) di harga batas atas. Kalau banyak investor memasukkan harga bid tinggi, investor yang memasukkan harga rendah kemungkinan tidak akan mendapat jatah. Inilah sebabnya kebanyakan investor book-building memasukkan bid di harga atas.

Tindakan melakukan bid di harga tinggi beresiko rugi besar kalau si investor tidak tahu besar animo pasar terhadap saham tersebut. Artinya begini: kalau investor memasukkan bid harga tinggi padahal saham tersebut sepi peminatnya, si investor akan mendapat banyak jatah saham yang tidak diminati orang lain. Alhasil, harga saham akan turun waktu diperdagangkan di bursa dan si investor rugi besar. Inilah sebabnya saya menganjurkan pemula main saham untuk TIDAK memesan saham melalui prosess book-building. Silahkan baca pos"Cara Main Saham IPO Untuk Pemula."

Setelah mengumpulkan semua minat beli, penjamin emisi lalu menentukan harga optimum di mana saham itu akan laku. Kalau peminat banyak, harga ditentukan di batas atas dan pemesan mendapat jatah sedikit. Kalau peminat sedikit, harga ditentukan di batas bawah dan pemesan mungkin mendapat jatah banyak.

Harga yang ditentukan ini disebut harga penawaran umum. Semua investor membayar harga penawaran umum ini untuk jatah saham yang didapat.

Arti “Bullish” dan “Bearish” di Bursa Saham

[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Mungkin anda pernah mendengar kenalan investor saham mengatakan,"Saham lagi bullish; ikutan investasi yuk," atau "Bursa saham bearish nih, pusing." Apa sebenarnya arti Bullish dan Bearish?

Bullish adalah kata sifat (adjective), berasal dari kata bull (bahasa Inggris) yang berarti banteng. Bearish berasal dari kata bear yang berati beruang.

Kamus American Heritage memberi penjelasan sebagai berikut:

Bullish adj. …2a. Causing, expecting, or characterized by rising stock market prices. b. Optimistic or confident

Dalam bahasa Indonesia: a. menyebabkan, mengharapkan, atau terkarakterisasi/terciri oleh naiknya harga saham. b. optimis atau percaya diri

(5)

Dalam bahasa Indonesia: a. menyebabkan, mengharapkan, atau terkarakterisasi/terciri oleh turunnya harga saham. b. pesimis.

Jadi kalau orang bilang saham sedang bullish, artinya harga saham lagi naik; kalau orang bilang saham lagi bearish, artinya harga saham sedang turun.

Kenapa memakai istilah bull (banteng) dan bear (beruang)?

Terus terang saya tidak tahu pasti mengapa. Mungkin para pemain saham di Wall Street pada tahun 1800an menyamakan saham yang sedang naik dengan banteng yang penuh semangat, menerjang sasaran berwarna merah. Sedangkan saham yang sedang turun mereka umpamakan dengan beruang, yang walaupun kuat tapi di musin dingin bisa tidur berbulan-bulan. Ada juga yang mengatakan bahwa banteng melambangkan kenaikan harga saham karena banteng menanduk musuhnya dari bawah ke atas, sedangkan beruang melambangkan penurunan harga karena beruang mencakar musuhnya dari atas ke bawah. Masuk akal juga.

Apapun alasannya, dari segi komunikasi perumpamaan ini berdampak positif karena membuat kata sifat pesimisme dan optimisme mudah dikomunikasikan. Contoh: karena banteng mencerminkan optimisme, Merrill Lynch—sekuritas saham Amerika—memakai banteng sebagai logo untuk mengkomunikasikan optimisme perusahaan.

Ada satu hal yang perlu ketahui: walaupun bear mencerminkan penurunan harga saham, tidak berarti kondisi tersebut tidak bisa menghasilkan untung. Di bursa-bursa yang bisa melakukan selling (menjual saham yang dipinjam), para short-sellers meraup untung kalau saham turun. (Secara teoritis, kita bisa short-sell di Bursa Efek Indonesia. Tapi kenyataan lapangan lain: hampir tidak ada sekuritas saham yang mengijinkan nasabah melakukannya.)

Di Wall Street ada pepatah, "Bull makes money, bear makes money, but pig gets slaughtered." Artinya: optimis meraih untung, pesimis meraih untung, tapi si serakah akan terjagal.

Karena tidak ada kata bahasa Indonesia yang sesingkat dan sepadat bullish dan bearish, tidak heran banyak tulisan (termasuk blog ini) dan percakapan dalam bahasa Indonesia yang memakai kata-kata bullish dan bearish untuk mendeskripsikan kondisi bursa saham.

Memang bullish dan bearish tidak ada definisi yang spesifik. Tapi di analisa teknikal, bullish bisa diartikan UPTREND. Sedangkan bearish bisa diartikan DOWNTREND. Kalau anda mau tahu lebih banyak tentang trend, silahkan baca pos"Arti Istilah Saham Trending, Trendless"dan dilanjutkan ke pos"Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway."

Arti Istilah "Cum" dan "Ex" Dividen

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

“JPFA kok langsung turun 300 perak pagi ini?” tanya Riva, seorang dealer di sekuritas saham, bingung karena saham JPFA turun menjadi Rp 4675 dari harga Rp 4975 hari sebelumnya.

“Hari ini JPFA Ex Dividen Rp 365 ,” jawab Aniza.

Apa sebenarnya maksud Cum dan Ex dividen, atau Cum dan Ex, Cum dan Ex lainnya di pasar saham?

Cum dan Ex adalah istilah yang dipakai pelaku pasar untuk membedakan hari terakhir seorang investor masih mendapat hak atas sahamnya dan hari berikutnya di mana hak tersebut sudah tidak berlaku. Hak yang dimaksud tersebut bisa dividen, saham bonus, rights, dan lain-lain.

(6)

Ex = satu hari kerja bursa setelah Cum dan merupakan hari pertama di mana hak atas kepemilikan saham sudah kadaluwarsa.

Mari kita lihat contoh saham JPFA yang membagikan dividen dengan jadwal berikut: Dividen tunai: Rp 365.

Cum dividen: 30 Juni 2011 Ex dividen: 01 Juli 2011

Tanggal pembayaran: 14 Juli 2011

Dengan mengacu jadwal di atas, investor/pemain saham yang memiliki saham JPFA sampai bursa ditutup pada tanggal 30 Juni 2011 berhak mendapat dividen JPFA sebesar Rp 365. Investor/pemain saham yang membeli JPFA pada tanggal 01 Juli 2011—tanggal Ex dividen—tidak lagi berhak atas dividen tersebut.

Anda perlu memperhatikan bahwa tanggal Ex adalah selalu satu hari kerja bursa setelah hari Cum. Perhatikan pula bahwa tanggal pembayaran dividen biasanya sekitar 10 hari kerja dari tanggal Ex dividen.

"Jadi sebenarnya berapa lama sih saya harus memegang saham JPFA untuk mendapat dividen?” tanya anda masih kurang jelas.

Kalau anda membeli JPFA pada hari Cum dan menjual pada hari Ex, anda berhak mendapatkan dividen saham tersebut. Artinya, walaupun anda hanya memiliki saham tersebut selama satu hari, asalkan anda memegang saham tersebut sampai bursa tutup pada hari Cum, anda tetap berhak atas dividen.

Tiba-tiba anda mendapat ide cemerlang. “Kalau saya membeli saham pada hari Cum dan menjual pada hari Ex, saya bisa mendapatkan keuntungan dividen dengan mudah,” begitu pikir anda.

Sayangnya, banyak pelaku pasar lain yang sudah terlebih dulu berpikiran sama dengan anda. Karena itu, yang biasa terjadi pada hari Ex adalah harga saham tersebut akan turun sejumlah besarnya dividen.

Coba saja perhatikan saham CPIN yang Cum dividen tunai sebesar Rp 39.80 pada tanggal 16 Juni 2011; harga penutupan pada hari itu adalah Rp 1880. Pada saat ia mulai diperdagangkan pada hari Ex—17 Juni 2011—saham tersebut turun ke 1840, sebesar dividen yang sudah kadaluwarsa tersebut. Jadi bila anda membeli saham pada hari Cum dengan rencana

mendapatkan dividen dan lalu menjual di hari Ex, belum tentu anda akan mendapat keuntungan.

Ini tidak berarti saham tersebut tidak akan naik lagi pada hari-hari berikutnya. Sering juga terjadi saham yang turun pada hari Ex dividen, beberapa hari kemudian kembali naik ke harga yang lebih tinggi dari harga Cum.

Coba anda perhatikan kembali saham CPIN. Pada tanggal 22 Juni 2011, tiga hari setelah hari Ex, CPIN ditutup di harga 1930. Demikian pula JPFA. Lima hari bursa setelah Ex, tanggal 08 Juli 2011 JPFA ditutup di harga 5250.

Memang, kebanyakan saham turun harganya pada hari Ex dividen tapi ada juga saham yang malahan naik. Contohnya Astra International, ASII. Saya ingat sudah beberapa kali saham ASII turun sedikit pada pembukaan perdagangan hari Ex dividen lalu langsung naik ke harga yang lebih tinggi dari harga hari sebelumnya. Artinya, investor yang memilik saham ini selain mendapatkan dividen juga langsung mendapat capital gain kalau ia menjual saham tersebut.

Intinya, tidak ada yang absolut di bursa saham. Kebanyakan saham akan turun pada hari Ex tapi ada juga yang naik. Beberapa hari setelah Ex, ada yang saham naik lagi tapi ada juga yang terus turun. Tapi saya berharap setelah membaca pos ini anda setidak-tidaknya tahu arti "Cum" dan "Ex" dan juga tahu alasan mengapa saham-saham Ex dividen langsung anjlok pada saat pembukaan perdagangan.

(7)

Arti Istilah "Dividen" Saham

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Perhatikan bahwa dividen ini tidak sama dengan laba perusahaan.

Contoh: Misalkan saja Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba per saham Rp 500. Ini bukan dividen. Kalau pemegang saham BBRI memutuskan untuk membayar Rp 200 per saham dari laba tersebut kepada pemegang saham, Rp 200 inilah yang disebut dividen.

Ada perusahaan yang memutuskan tidak membagikan laba kepada pemegang saham karena perusahaan memerlukan dana tersebut untuk, misalnya, ekspansi bisnis. Perlu anda catat bahwa perusahaaan yang membukukan untung tidak wajib membagikan dividen. Ada atau tidaknya dividen ditentukan oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dari contoh di atas anda bisa lihat bahwa dividen tidak harus sebesar laba yang dibukukan perusahaan. Ada perusahaan yang semua labanya dibagikan sebagai dividen, ada juga perusahaan yang membagikan sebagian kecil labanya sebagai dividen. Untuk membandingkan dividen saham satu dengan saham yang lain pelaku pasar modal mengenal istilah “Dividend Pay Out Ratio” yang lebih sering disebut “Pay Out Ratio” saja.

Pay Out Ratio ini adalah perbandingan dividen dengan laba perusahaan saat itu. Dengan memakai contoh di atas, Pay Out Ratio saham BBRI adalah sebagai berikut:

(Rp 200 / Rp 500) x 100% = 40%

Kalau misalkan United Tractor (UNTR) membukukan laba Rp 1000 per saham dan membagikan seluruh laba ini dalam bentuk dividen, Pay Out Ratio saham tersebut pada tahun itu adalah:

(Rp 1000 / Rp 1000) x 100% = 100%

Peringatan: bagus tidaknya suatu saham tidak bisa diukur dari besarnya dividen. Perusahaan yang tidak membagikan dividen bisa saja berkembang sangat pesat, perusahaan yang Peter Lynch sebut Fast Grower, sehingga harga sahamnya menanjak cepat. Perusahaan yang membagikan dividen besar bisa saja harga sahamnya stagnan atau malah terus turun. Peter Lynch mengkategorikan perusahaan seperti ini sebagai Slow Grower. Untuk jelasnya, silahkan baca pos"Enam Kategori Saham Menurut Peter Lynch"dan"Investasi Saham Cara Peter Lynch di Buku “One Up on Wall Street” (Bagian II)."

Arti Istilah Earning Per Share (EPS)

[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] Earning Per Share, biasanya disingkat EPS, artinya adalah Laba (Bersih) Per Saham.

Nah, mengapa anda perlu tahu Laba Per Saham? Andaikan anda tahu bahwa Laba keseluruhan P.T. Ciputra Development (CTRA), misalnya, Rp 200 milyar, tidakkah informasi tersebut sudah cukup?

Tidak. Tidak cukup.

Untuk memahami mengapa tidak cukup hanya mengetahui Laba Total perusahaan, mari kita lihat ilustrasi berikut:

Ketika sedang mengendari motor menuju rumah, Roseta melihat sebuah truk penuh durian sedang berhenti di pinggir jalan. Harum sekali aromanya. Sebagai seorang pecinta berat durian, Roseta tidak henti-hentinya menghirup dalam-dalam

semerbak buah berduri tersebut. Ia meminggirkan motornya dan menyapa si bapak pengemudi truk yang sedang duduk santai mengisap rokok.

(8)

"Pak, duriannya dijual gak?" tanya Roseta. "Iya, neng. Dijual." jawab si bapak.

"Satu harganya berapa, Pak?" tanya Roseta lebih lanjut. "Satu truk penuh, saya mau jual Rp 5 juta," jawab si bapak.

"Tapi saya gak mau beli satu truk, Pak. Saya cuma mau beli beberapa biji aja," kata Roseta. "Boleh gak?" "Boleh neng," jawab si bapak. "Tapi saya belum hitung di truk ini ada berapa durennya. Saya hitung dulu ya." Si bapak mulai komat-kamit menghitung jumlah duriannya.

Durian satu truk tentu tidak mudah menghitungnya. Si bapak harus mengaduk-ngaduk, memindahkan, memisahkan agar hitungannya tidak salah. Menghitung durian satu truk tersebut juga makan waktu. Tapi Roseta sabar menunggu, namanya juga penggila durian.

Setelah bermandi keringat selama 30 menit memisahkan dan menghitung jumlah duriannya, si bapak akhirnya selesai. "Totalnya ada 200 butir duren, neng. Karena satu truk saya mau jual Rp 5 juta, berarti satu butir saya hargai Rp 25.000. Gimana, neng?"

Roseta, yang sudah menghirup aroma semerbak durian selama setengah jam, tidak sanggup lagi menawar. "Mau, mau, Pak," jawaba Roseta sambil menahan air liur. "Saya ambil empat butir."

Si bapak menyeka peluh dari dahinya dan mengambilkan Roseta empat butir durian yang ditukar dengan selembar uang seratus ribu rupiah.

"Makasi ya, Pak," kata Roseta. "Kalau dari awal bapak sudah tahu berapa harga durian per biji--bukan per truk--semuanya jadi lebih mudah dan cepat."

"Iya sih, neng," jawab si bapak. "Bos tadi cuma bilang bahwa duren satu truk ini harus dijual seharga Rp 5 juta. Saya tidak dikasitahu harga per biji. Jadi repot ya, neng."

Dari ilustrasi di atas anda melihat bahwa untuk pembeli eceran, informasi harga per biji durian mempermudah dan mempercepat proses jual-beli dibandingkan informasi harga per truk.

Nah, kalau kita bicara dalam konteks saham, hitungan per biji durian adalah seperti hitungan Laba Per Saham, sedangkan hitungan per truk adalah seperti hitungan Laba Total.

Sebagai pemain saham, anda tidak membeli perusahaan secara keseluruhan, sama seperti Roseta tidak membeli durian sejumlah satu truk. Anda membeli hanya dalam hitungan lembar saham, sama seperti Roseta yang membeli hanya beberapa butir durian.

Kesimpulannya: Laba Total perusahaan tidak ada salahnya anda ketahui; tapi sebagai investor saham, yang lebih penting untuk anda ketahui adalah Laba Per Saham. Jadi, ketika anda melihat laporan keuangan perusahan, langsung cari informasi Laba Bersih Per Saham, bukan Laba Bersih Total.

(9)

Tidak sulit.

Earning Per Share (EPS) = Total Laba / Jumlah saham

Misalkan Total Laba P.T. Alam Sutera Realty (ASRI) Rp 100 Milyar dan saham ASRI jumlahnya 2 milyar lembar. Earning Per Share (EPS) ASRI = Rp 100 Milyar / 2 milyar

= Rp 50.

Wah, ngitungnya sih mudah, pikir anda. Tapi repot juga kalau harus mencari informasi jumlah saham setiap perusahaan.

Tidak perlu repot.

Untuk semua perusahaan yang sudah go-public, kita tidak perlu mencari informasi jumlah saham yang diterbitkan

perusahaan untuk menghitung sendiri Earning Per Share. Mengapa? Karena data Earning Per Share sudah dikalkulasikan oleh perusahaan untuk investor. Jadi, pada setiap laporan keuangan, perusahaan tidak saja mempublikasikan data Laba Total , tapi juga data Laba Per Saham.

Sekarang anda sudah tahu apa arti Earning Per Share dan mengapa bagi pemain saham informasi Laba Per Saham lebih spesifik daripada Laba Total. Tapi masih ada alasan-alasan lain mengapa Earning Per Share (EPS) adalah informasi yang penting bagi para investor saham. Silahkan lanjut baca ke pos"Mengapa Perlu Tahu Earning Per Share? Bagian I."

Arti Istilah "Lot" dan "Odd Lot" di Bursa Efek Indonesia

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Lot adalah istilah pemain saham untuk satuan volume saham. Saat ini, satu lot di Bursa Efek Indonesia (BEI) sama dengan 500 lembar saham.

Di BEI semua order jual dan beli di pasar regular harus dalam besaran lot. Kalau anda mau beli, anda harus beli minimum satu lot; kalau anda mau jual, anda harus jual minimum satu lot. Pada bid dan offer saham di Order Book, yang biasanya tertera adalah besaran lot, bukan lembar saham. Jadi kalau volume bid tertera 12800 itu artinya 12800 lot, bukan lembar. Sekarang anda sudah tahu bahwa satu lot di BEI artinya 500 lembar saham. Nah, apa yang dimaksud dengan “Odd Lot”? Kalau diterjemahkan secara harafiah “Odd” artinya aneh, jadi “Odd Lot” artinya lot yang aneh. Di mana letak keanehan ini? Arti sebenarnya dari “Odd Lot” adalah jumlah saham yang tidak genap satu lot, alias tidak sampai 500 lembar. Ini berarti kalau anda punya saham sejumlah 280 lembar, saham ini dikategorikan “Odd Lot.” Kalaupun anda punya 499 lembar— kurang satu lembar dari 500—saham ini tetap “Odd Lot.”

Permasalahan dari saham “Odd Lot” adalah anda tidak bisa menjualnya di pasar regular. Mengapa? Karena seperti telah saya sebut di atas, semua order jual dan beli (bid dan offer) di pasar regular harus dalam besaran minimum satu lot. Jadi kalau anda hendak mentransaksikan saham “Odd Lot” anda harus melakukannya di pasar non-regular. Kalau anda ingin tahu prosesnya lebih lanjut, silahkan tanyakan kepada broker anda.

Kalau anda tipe pemikir, anda mungkin bertanya-tanya,”Kalau saya tidak pernah membeli saham dalam jumlah ‘Odd Lot,’ bagaimana mungkin saham saya bisa jadi ‘Odd Lot’?” Pertanyaan yang sangat baik.

Jumlah saham anda bisa menjadi “Odd Lot” biasanya karena aksi korporasi (corporate action) emiten. Aksi korporasi ini misalnya bonus saham dan right-issue. Misalkan saham BRPT melakukan aksi korporasi memberikan bonus saham dengan

(10)

rasio 500 saham lama mendapat 110 saham bonus. Kalau anda memiliki 5000 lembar saham (10 lot) anda akan mendapat 1100 saham bonus (2 lot plus 100 lembar). Seratus lembar saham sisa inilah yang menjadi saham “Odd Lot.”

Perlu anda perhatikan bahwa besaran jumlah saham per lot ini tidak sama pada tiap bursa. Di Amerika Serikat, satu lot sama dengan 100 lembar saham. Jadi kalau anda bertransaksi di bursa di luar Indonesia, periksa dulu berapa jumlah saham per lot. Pernah juga satuan lot dibedakan berdasarkan jenis saham. Contohnya: setelah krisis moneter tahun 1997, Bursa Efek Jakarta pernah membedakan satuan lot untuk saham perbankan dan lot untuk saham-saham lain. Pada saat itu satu lot saham perbankan = 5000 lembar saham, sedangkan satu lot saham non-perbankan = 500 lembar.

Arti Istilah "IPO" di Bursa Saham

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

"IPO" adalah singkatan dari Initial Public Offering, atau dalam bahasa Indonesia, Penawaran Umum Perdana. Dengan kata lain, "IPO" adalah kali pertama masyarakat umum bisa membeli saham perusahaan tersebut. Sebelum "IPO" ini, saham belum diperdagangkan di bursa.

Dengan melakukan IPO sebuah perusahaan mendapat dana segar dengan menjual sahamnya kepada publik dan saham tersebut seterusnya akan diperdagangkan di bursa.

Siapa yang boleh membeli saham "IPO"?

Semua warga negara Indonesia yang punya uang boleh membeli (memesan) saham IPO di Indonesia. Untuk saham yang ramai peminat, janganlah terlalu berharap akan mendapat jatah sesuai pesanan karena jumlah saham yang anda dapat bisa-bisa hanya 1% atau kurang dari jumlah yang anda pesan.

Investor bisa memilih membeli saham tersebut pada saat IPO atau membeli setelah saham diperdagangkan di bursa. Perhatikan bahwa jika anda membeli saham yang telah diperdagangkan di bursa, anda membeli dari investor yang sudah membeli saham tersebut sebelumnya, yang artinya transaksi anda tersebut tidak masuk ke kas perusahaan.

Kalau dibandingkan dengan membeli mobil, membeli saham IPO adalah ibarat membeli mobil baru langsung dari dealer mobil baru; membeli saham di bursa adalah ibarat membeli mobil second dari penjual mobil bekas.

Arti Istilah Price-to-Earnings Ratio

[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saat anda mulai belajar analisa fundamental saham, istilah pertama yang sering anda jumpai adalah Price-to-Earnings Ratio (yang biasanya disingkat PE Ratio atau PER). Di pos ini saya mencoba menjelaskan apa makna Price-to-Earnings Ratio, bagaimana cara menghitung, dan mengapa perlu tahu PE Ratio ini.

Siap?

Ayo kita mulai.

Arti Price-to-Earnings Ratio Apa arti Price-to-Earnings Ratio?

(11)

Price = harga. Earning = laba Ratio = perbandingan

Kalau kita terjemahkan Price-to-Earnings Ratio artinya adalah perbandingan harga terhadap laba. Kalau kita tulis dalam rumus matematika:

Price-to-Earnings Ratio (PER) = Price/Earning Pertanyaan berikutnya: Harga apa dan laba apa? Jawaban: Harga saham dan Laba per saham.

Jadi, Price-to-Earnings Ratio atau PE Ratio atau PER adalah perbandingan harga saham terhadap laba per saham. Price-to-Earnings Ratio (PER) = Harga Saham/Laba Per Saham

(Kalau anda belum tahu detil arti Laba Per Saham/Earning Per Share, silahkan baca pos"Arti Istilah Earning Per Share"dan pos"Mengapa Perlu Tahu Earning Per Share?")

Cara Menghitung Price-to-Earnings Ratio Ada baiknya kita pakai contoh.

Misalkan:

Harga saham ANTM = Rp 1000. Laba Per Saham ANTM = Rp 50.

PE Ratio ANTM = Harga saham / Laba per saham = Rp 1000 / Rp 50

= 20

Jadi, pada contoh ini PER ANTM adalah 20. Mengapa Perlu Tahu PE Ratio

Setelah tahu cara menghitung PE Ratio suatu saham, pertanyaan penting berikutnya adalah: kenapa perlu menghabiskan waktu untuk mencari tahu PER saham?

Apakah ada tujuan dan gunanya? Jangan-jangan PER ini hanya jargon pemain saham untuk membingungkan orang awam? Tidak begitu. PER adalah salah satu konsep dasar main saham yang harus anda pahami.

(12)

Tabel 1. Harga Saham dan Laba Per Saham

Mengacu pada data-data di Tabel 1, harga saham perusahaan mana yang paling murah menurut anda kalau kita membandingkan laba perusahaan-perusahaan tersebut?

Membandingkan saham A dan saham B tidak sulit karena harga kedua saham tersebut sama. Anda mungkin masih ingat dari pos"Mengapa Perlu Tahu Earning Per Share (Bagian II)"bahwa kalau harga saham sama, saham yang lebih murah

(berdasarkan laba) adalah saham yang Laba Per Sahamnya lebih tinggi.

Nah, karena Laba Per Saham B (Rp 80) lebih tinggi dari Laba Per Saham A (Rp 50) ini berarti saham B lebih murah dari saham A.

Tapi bagaimana cara membandingkan saham A dan B dengan saham C yang harganya berbeda? Kalau anda membandingkan langsung Laba Per Saham dari saham-saham yang harganya berbeda, anda ibaratnya membandingkan apel dengan jeruk, suatu perbandingan yang tidak benar.

So, bagaimana cara yang benar?

Cara membandingkan yang benar adalah dengan membandingkan apel dengan apel dengan apel. Artinya, si jeruk (saham C) harus anda sulap dulu menjadi apel.

Lho, gimana maksudnya?

Maksudnya, anda harus mengumpamakan saham C harganya sama dengan saham A dan B (Rp 1000) dan mencari tahu berapa Laba Per Saham C pada harga yang sama tersebut.

Bingung?

Mari kita telusuri perlahan-lahan.

Data di Tabel 1 menyatakan bahwa harga saham C Rp 6000 dan Laba Per Saham C Rp 400. Karena harga saham A dan B adalah Rp 1000, anda harus menyulap harga saham C menjadi Rp 1000 juga.

Tapi harus anda ingat bahwa dengan merubah harga saham C menjadi Rp 1000 anda harus juga menyesuaikan Laba Per Saham C dengan perubahan harga sahamnya.

Nah, kalau anda mengumpamakan harga saham C Rp 1000, berapakah Laba Per Sahamnya? Merubah saham C yang harganya 6000 menjadi 1000 berarti 6000 harus dibagi 6.

6000/6 = 1000

(13)

400/6 = 66.67

Ini berarti kalau saham C harganya Rp 1000, Laba Per Sahamnya adalah Rp. 66.67. Silahkan lihat Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Harga Saham Disamakan, Laba Per Saham, PE Ratio

Karena harga saham di Tabel 2 ini semuanya sama, anda bisa membandingkan ketiga saham tersebut karena anda membandingkan apel dengan apel dengan apel.

Oce, oce, saya mulai mengerti, kata anda. Tapi sulit juga ya kalau harus menyamakan harga semua saham-saham yang hendak kita bandingkan?

Nah di sinilah Price-to-Earnings Ratio akan beraksi.

Coba anda lihat Tabel 3 di bawah ini yang adalah Tabel 1 dengan tambahan baris PE Ratio.

Tabel 3. Harga Saham, Laba Per Saham, PE Ratio

Anda bisa lihat di Tabel 3 bahwa PE Ratio A adalah 20, PE Ratio B 12.5, PE Ratio C 15.

Coba anda bandingkan angka-angka PE Ratio di Tabel 2 dengan PE Ratio di Tabel 3. Di Tabel 2 PE Ratio A adalah 20, PE Ratio B 12.5, PE Ratio C 15.

Baik di Tabel 2 maupun di Tabel 3 angka-angka PE Ratio sama persis. Apa artinya?

Artinya, dengan menghitung Price-to-Earnings Ratio anda tidak perlu lagi menyamakan harga saham-saham yang anda bandingkan untuk membandingkan Laba Per Saham dari saham-saham tersebut. (Perhitungan PE Ratio ini secara tidak

(14)

langsung sudah menyulap harga saham menjadi sama.)

Dengan kata lain, anda bisa langsung membandingkan saja PE Ratio dari saham-saham yang hendak anda bandingkan Laba Per Sahamnya karena perbandingan PE Ratio adalah cermin dari perbandingan Laba Per Saham secara apel dengan apel. Jadi, kata anda, saya harus menghitung PE Ratio untuk semua saham yang mau saya bandingkan?

Tidak perlu.

Data PE Ratio biasanya sudah dikalkulasikan untuk anda dan bisa anda cari di informasi fundamental perusahaan. Sekarang anda sudah tahu kegunaan PE Ratio. Tapi bagaimana cara memakai PE Ratio dalam investasi saham? Silahkan lanjut baca ke pos "Cara Membandingkan PE Ratio Saham." [belum terbit.]

Arti Istilah "Right Issue" di Bursa Saham Indonesia, Bagian I

[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

"Right issue" adalah aksi korporasi yang dalam bahasa Indonesia disebut Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Apa sebenarnya "right issue" ini , bagaimana ikut serta "right issue" dan apa pengaruhnya bagi pemain saham?

Apa Itu "Right Issue"

Kata "right" pada "right issue" adalah bahasa Inggris yang artinya adalah "hak," bukan "right" yang berarti "kanan" bukan juga "right," yang artinya "benar, betul." "Issue" artinya "menerbitkan." Jadi kalau diterjemahkan kata per kata dari bahasa Inggris, "right issue" artinya "menerbitkan hak."

Pertanyaan selanjutnya: siapa yang menerbitkan "right"? Hak apa yang diterbitkan? Siapa yang berhak mendapat "right"? Mengapa "right issue"? Apa dampaknya?

Siapa Yang Menerbitkan "Right"

"Right" diterbitkan oleh perusahaan setelah mendapat persetujuan dari mayoritas pemegang saham. Artinya, "right issue" adalah aksi yang dipilih dilakukan oleh pemegang saham mayoritas. Kalau anda adalah pemegang saham jumlah kecil, anda mau tidak mau harus ikut keputusan mayoritas pemegang saham.

Hak Apa Yang Diterbitkan

Yang diterbitkan adalah hak ("right") memesan saham baru yang akan dijual oleh perusahaan. Yang boleh membeli saham baru ini adalah orang-orang yang memiliki "right." Tidak punya right, tidak bisa beli saham baru.

Dengan kata lain, yang boleh membeli saham baru (menyetor modal tambahan) adalah pemegang saham lama. Kalau anda bukan pemegang saham, anda tidak boleh ikut beli saham baru.

Coba anda bandingkan "right issue" dengan "IPO" dengan membaca pos"Arti Istilah 'IPO' di Bursa Saham." Siapa yang Berhak Mendapat "Right"

Yang mendapat "right" adalah pemegang saham yang memiliki saham sampai hari EX "right issue." (Untuk mengerti istilah "ex, " silahkan klik dan baca pos"Arti Istilah 'Cum' dan 'Ex' Dividen.") Persentase "right" yang mereka miliki adalah sama dengan persentase kepemilikan saham mereka pada perusahaan.

(15)

Mengapa "Right Issue"

Tujuan "right issue" adalah menambah modal perusahaan. Mengapa perlu menambah modal perusahaan? Mari kita lihat ilustrasi berikut.

Aletta dan Mirnia pada tahun 2010 masing-masing menyetor modal sebesar Rp 50 juta (total Rp 100 juta) untuk berkongsi berdagang pakaian wanita di pasar Cengkareng. Dalam dua tahun ini, toko mereka padat dikunjungi pembeli. Sukses toko ini mendorong Aletta dan Mirnia untuk membuka toko kedua di pasar Bojong.

Masalahnya, untuk membuka toko di Bojong ini mereke butuh modal Rp 100 juta, sedangkan kas perusahaan (dari laba yang didapat selama dua tahun ini) cuma ada Rp 40 juta. Artinya, mereka butuh suntikan modal Rp 60 juta. Kalau dilakukan di bursa saham, proses suntikan modal inilah yang disebut "right issue."

Dampak "Right Issue"

"Right Issue" berdampak pada PERSENTASE kepemilikan saham.

Perhatikan: pada tahun 2010 Aletta dan Mirnia masing-masing memiliki 50% saham pada toko mereka. Kepemilikan 50% ini memberi mereka "hak memesan" 50% saham baru yang akan mereka terbitkan.

Dalam konsep "right issue" besarnya hak memesan saham baru adalah sama dengan PERSENTASE kepemilikan pada saat itu. Kalau memiliki 50% saham berarti berhak membeli sampai dengan 50% saham baru; kalau memiliki 10% saham berarti berhak membeli sampai dengan 10% saham baru.

Pada contoh di atas, Aletta dan Mirnia masing-masing berhak memesan sampai dengan 50% saham baru (50% dari Rp 60 juta = @ Rp 30 juta). Kalau mereka masing-masing menyetor Rp 30 juta, kepemilikan saham mereka dalam struktur baru tetaplah sama.

Satu hal yang sangat penting: Pemegang saham lama mempunyai "hak memesan" saham baru tapi ini adalah hak, bukan kewajiban. Artinya mereka boleh saja TIDAK menggunakan hak mereka.

Jadi misalnya Mirnia hanya mau menyetor Rp 10 juta dan memberikan hak yang tidak ia gunakan ke Aletta. Ini berarti Aletta menyetor Rp 30 juta haknya dan Rp 20 juta dari hak yang dialihkan Mirnia, total Rp 50 juta. Ini berarti Mirnia melepaskan sebagian haknya yang menyebabkan PERSENTASE kepimilikannya mengecil.

(16)

Karena tidak menggunakan "hak memesan" sepenuhnya, Mirnia yang semulanya memiliki 50% saham, setelah "right issue" hanya memiliki 37.5% saham.

Ilustrasi di atas adalah contoh "right issue" ketika pemegang saham hanya dua orang. Di bursa saham, pemegang saham jumlahnya ribuan atau lebih. Tapi konsepnya sama. Kalau anda menggunakan semua "hak memesan" anda, persentase kepemilikan saham anda tetap sama. Kalau anda tidak menggunakan semua "hak memesan" anda, persentase kepemilikan saham anda akan terdilusi/mengecil.

Sekarang anda sudah tahu apa itu "right issue," mengapa "right issue" dilakukan, dan dampaknya bagi pemilik modal. Tapi bagaimana cara main "right issue" di Bursa Saham Indonesia? Silahkan lanjut baca ke pos "Arti 'Right Issue' di Bursa Saham Indonesia, Bagian II." [Belum terbit. Mohon berkunjung kembali.

Arti Istilah Saham "Blue-Chip"

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Ketika anda membaca ulasan tentang saham, anda mungkin pernah menjumpai istilah saham “blue-chip.” Mungkin anda bertanya-tanya, “blue-chip” ini sebenarnya perusahaan apa sih. Mari kita bersama-sama menelusuri, perusahaan apakah si “blue-chip” ini.

Menurut kamus Oxford-American:

Blue-chip = adj. denoting companies or their shares considered to be reliable investment …

Dalam bahasa Indonesia “blue-chip” kira-kira artinya: saham terpercaya atau berkapitalisasi besar yang dianggap sebagai investasi yang relatif aman.

Anda bisa lihat bahwa definisi ini tidak spesifik. Perusahaan bagaimana yang bisa disebut “terpercaya”? Seberapa besar “berkapitalisasi besar” suatu perusahaan agar ia dapat dikategorikan “ blue-chip”? Terus terang, tidak ada patokan dan angka yang jelas untuk ini.

Di Bursa Efek Indonesia, saham-saham yang biasa dikategorikan “blue-chip” adalah perusahaan-perusahaan besar yang dikenal segenap masyarakat. Beberapa di antaranya:

Astra International (ASII) Bank Mandiri (BMRI) Bank BRI (BBRI)

International Nickel (INCO) Indofood Sukses Makmur (INDF) Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Perusahaan Tambang Batu Bara (PTBA) Unilever (UNVR)

Kebanyakan perusahaan chip” di Bursa Efek Indonesia adalah BUMN, tapi tidak semua BUMN masuk kategori “blue-chip.” Indofarma (INAF), Kimia Farma (KAEF), Kertas Basuki Rahmat (KBRI) adalah BUMN tapi pasar tidak menganggap perusahaaan-perusahaan tersebut sebagai “blue-chip.”

(17)

Bagaimana dengan Bumi Resources (BUMI)? Apakah ia layak dikategorikan “blue-chip”?

Kalau ditelaah dari kapitalisasi pasar, BUMI seharusnya termasuk “blue-chip.” Dilihat dari volume dan aktivitas transaksi saham tersebut yang cukup ramai, BUMI juga seharusnya dikategorikan “blue-chip.” Tapi saya merasa ada sebagian pemain saham Indonesia yang tidak setuju dengan pendapat ini. Jadi, saya memutuskan bahwa kategori BUMI adalah “semi blue-chip.”

Intinya, ketika berbicara tentang saham “blue-chip,” anda harus terlebih dahulu menyamakan persepsi. Yang anda anggap “blue-chip” belum tentu dianggap “blue-chip” oleh pialang saham anda. Yang disebut “blue-chip” oleh seorang analis saham, belum tentu dianggap “blue-chip” oleh analis lain.

Arti Istilah Saham Trending Trendless, Bagian I

[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Anda mungkin pernah mendengar istilah "The trend is your friend" (tren adalah sahabat kamu). Mungkin anda juga pernah membaca kalimat "Don't fight the trend" (janganlah melawan tren).

Nah, apa sebenarnya si "trend" ini? Mengapa ia begitu hebatnya sehingga anda sebaiknya bersahabat dengan dia dan jangan sekali-kali coba melawan dia?

Pada pos ini saya akan membahas trend dan artinya dan mengapa anda perlu memahami hal ini. Ayo kita mulai.

Arti Trend Ketika Bermain Saham

Trend ketika bermain saham bisa kita artikan sebagai pergerakan harga saham. Pergerakan harga saham ini secara garis besar bisa dibagi lagi menjadi dua:

1. Trending 2. Trendless

Apa artinya Trending dan Trendless ini? Trending

trending = trend + ing

Dalam bahasa Inggris, kata kerja yang ditambahkan akhiran -ing mengartikan kata kerja tersebut sedang terjadi. eat = makan

eating = sedang makan sleep = tidur

sleeping = sedang tidur trend = cenderung

trending = sedang cenderung

(18)

Saham yang trending, yang sedang cenderung bisa kita bagi dua lagi: a. Sedang cenderung naik. Dalam bahasa Inggris disebut UPTREND. b. Sedang cenderung turun. Dalam bahasa Inggris disebut DOWNTREND. Trendless

trendless = trend + less

Dalam bahasa Inggris, kata benda yang ditambahkan akhiran -less mengartikan bahwa benda itu tidak ada, atau tanpa benda itu.

brand = merek

brandless = tanpa merek care = hati-hati, perhatian

careless = tidak hati-hati, ceroboh trend = kecenderungan

trendless = tidak ada kecenderungan

Jadi, trendless artinya TIDAK ADA trend, tidak ada kecenderungan. Maksudnya gimana nih?

Tidak ada kecenderungan berarti tidak cenderung naik tapi juga tidak cenderung turun. Artinya: tidak ada kecenderungan yang dominan: saham naik sedikit, lalu turun; atau turun sedikit, lalu naik. Dan hal ini terjadi berulang-ulang. Dalam bahasa Inggris, kondisi trendless ini biasa disebut sideway yang juga bisa diartikan bergerak dalam kisaran.

OK, sekarang anda sudah tahu arti Trending (uptrend, downtrend) dan Trendless (sideway). Apakah ada gunanya tahu ini? Apa pentingnya?

Silahkan lanjut baca ke pos"Arti Istilah Saham Trending Trendless, Bagian II."

Arti Istilah "Scriptless Trading" di Bursa Efek Indonesia

[Pos ini ©2012 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

{Terima kasih YP untuk informasinya dan scan contoh warkat saham sehingga saya dapat menulis blog ini.} Pada tahun 2000, Bursa Efek Jakarta (sebelum berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia) mulai melaksanakan

perdagangan saham tanpa warkat alias "scriptless trading." Sebenarnya apa yang dimaksud dengan "scriptless trading" ini? Untuk mengerti apa itu "scriptless trading," lebih mudah kalau anda mengetahui terlebih dulu kebalikan dari "scriptless trading" yaitu "scriptful trading" alias perdagangan dengan warkat.

(19)

Perdagangan dengan warkat ("scriptfull trading")

Sebelum tahun 2000, perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta dilakukan dengan menggunakan warkat. Apakah warkat itu? Warkat adalah selembar kertas bukti kepemilikan suatu saham. Kalau saham kita bandingkan dengan rumah, warkat saham adalah sertifikat rumah. Setelah kita membeli saham, kita akan mendapat warkat--atau sertifikat saham--sebagai bukti bahwa kita adalah pemilik sah saham tersebut. Warkat ini bisa anda simpan sendiri atau bisa juga disimpan di perusahaan broker saham di mana anda membeli saham tersebut.

Contoh Warkat/Sertifikat Saham INCO

Ketika perdagangan dengan warkat ("scriptful trading") masih berlangsung, setiap sore setelah pasar tutup, pegawai "back-office" broker saham harus menyiapkan warkat saham-saham yang dijual oleh pemain saham pada hari itu untuk diserahkan kepada Kliring Deposit Efek Indonesia (KDEI) beberapa hari kemudian. Pada saat menyerahkan warkat saham yang dijual pemain saham, sekuritas saham akan menerima warkat saham-saham yang dibeli investor pada hari yang sama.

(20)

Contoh Warkat/Sertifikat Saham Rig Tenders

Bisa anda bayangkan betapa ruwetnya proses ini. Dan sangat memakan waktu. Kalau di perusahaan broker ada 100 investor yang masing-masing membeli satu saham yang berbeda, petugas "back-office" harus menyortir warkat saham-saham ini. Masalahnya, jumlah lembar saham di setiap warkat tidak selalu sama. Bisa 100 lembar, bisa 500 lembar (satu lot), bisa juga angka-angka lainnya. Tidak heran kalau pada masa "scriptful trading" karyawan "back-office" perusahaan sekuritas sering pulang jam 12 malam.

Dengan bertambahnya jumlah pemain saham dan juga bertambahnya saham yang diperdagangkan di bursa, penggunaan warkat menjadi penghambat kelancaran perdagangan saham. Itulah sebabnya Bursa Efek Jakarta memutuskan untuk menghapus perdagangan dengan warkat dan menggantinya dengan "scriptless trading" (perdagangan tanpa warkat).

(21)

Perdagangan tanpa warkat ("scriptless trading")

Kalau transaksi dengan warkat ("scriptful trading") kita samakan dengan transaksi memakai uang tunai, transaksi tanpa warkat ("scriptless trading") adalah transaksi melalui transfer bank. Uangnya tetap berpindah-tangan, tetapi pada transaksi transfer bank, uang tersebut langsung didebit dari rekening pengirim dan dikredit ke rekening penerima secara elektronik. Tidak ada pertukaran uang tunai dalam proses tersebut.

Dengan dilaksanakannya "scriptless trading," pegawai "back-office" perusahaan broker saham tidak perlu lagi menyortir warkat-warkat saham yang diperjualbelikan nasabahnya. Saham yang dibeli nasabah akan dikredit dan saham yang dijual akan didebit oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara elektronik ke rekening perusahaan sekuritas. Perusahaan sekuritas saham kemudian akan mengkredit dan mendebit saham ke sub-rekening investor di perusahaan tersebut. Mudah dan praktis.

Tapi kemudahan dan kepraktisan ini ada kelemahannya. Apa bukti bagi nasabah/investor saham bahwa mereka adalah pemilik sah dari saham yang mereka beli dan sudah dibayar? Tanpa warkat, bukti kepimilikan hanya dalam bentuk elektronik dan hanya bisa diakses perusahaan broker saham. Bisa saja perusahaan broker saham tidak mengkredit kepimilikan saham kepada pemilik yang sah.

Rekening AKSES (Acuan Kepemilikan Sekuritas)

Untuk menghapus kekhawatiran seperti disebut di atas, setiap pemilik rekening perdagangan saham sekarang diharuskan juga mempunyai rekening AKSES (Acuan Kepemilikan Sekuritas) di KSEI. Dengan adanya rekening AKSES ini, KSEI akan langsung mengkredit dan mendebit saham yang diperjualbelikan investor ke rekening AKSESnya, bukan lagi ke rekening atas nama perusahaan broker saham. Dan investor bisa mengecek sendiri saham-saham yang ia miliki melalui internet.

Dengan adanya AKSES, investor saham dapat berinvestasi dengan tenang di Bursa Efek Indonesia tanpa harus khawatir kalau saham-sahamnya akan dibawa kabur oleh perusahaan broker nakal.

Saya simpulkan bahwa "Scriptless trading" tidak hanya mengurangi beban pekerjaan "back-office" perusahaan broker, tapi juga memberi rasa aman kepada investor, dan juga memberi kemudahan dan kepraktisan bagi investor untuk mengetahui status kepemilikan sahamnya.

Definisi "Main Saham" di Blog Ini

[Pos ini ©2010 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Saya memakai frase main saham untuk mengartikan segala sesuatu yang berhubungan dengan jual-beli saham, termasuk investasi jangka pendek sampai jangka panjang, termasuk trading harian ataupun trading mingguan (swing trading), juga termasuk aksi korporasi (IPO, right issue, dll).

Saya pribadi lebih menyukai frase dagang saham atau jual-beli saham karena kata main berkonotasi santai dan menghibur. Tetapi di dunia bisnis, kata main sering dipakai sebagai euphemisme kata bisnis atau dagang. Pedagang tekstil bilang dia main tekstil, pebisnis elektronik ngakunya main elektronik. Kalau pebisnis aja lebih memilih kata main untuk menyebut profesinya, saya rasa pedagang saham tidak keberatan disebut pemain saham.

Ada yang menganjurkan mengganti frase main saham dengan investasi saham. Walaupun maksud mereka baik, tetapi saya tidak setuju. Investasi memang berkonotasi positif tetapi kata investasi biasanya diartikan investasi jangka panjang

berdasarkan analisa fundamental. Padahal, banyak juga orang main saham cepat (alias trading) dan banyak juga orang yang membeli saham tanpa analisa apapun (spekulasi murni). Artinya, main saham mencakup investasi saham tetapi investasi saham tidak mencakup cara main saham yang lain.

(22)

Jadi di blog ini, main saham berarti semua jenis jual-beli saham, dari jangka sangat panjang sampai sangat pendek, dengan atau tanpa analisa.

Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway (Bagian I)

[Pos ini ©2013 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] Sebelum membaca pos ini sebaiknya anda membaca dulu pos"Arti Istilah Saham Trending Trendless." Anda masih ingat dong arti istilah Trending (Uptrend, Downtrend) dan Trendless?

Trending = sedang cenderung. Uptrend = sedang cenderung naik. Downtrend = sedang cenderung turun.

Trendless/Sideway = tidak ada kecenderungan.

OK, anda sudah tahu arti kata-kata tersebut . Tapi bagi pemain saham, arti-arti tersebut tidak banyak manfaatnya karena terlalu umum, terlalu luas.

Dalam analisa teknikal, yang kita perlukan bukan hanya arti kata-kata tersebut. Yang kita perlukan adalah definisi yang spesifik.

Nah, apa sebenarnya definisi istilah Uptrend, Downtrend, Trendless/Sideway dalam analisa teknikal? Yuk kita cermati satu-per-satu.

Uptrend

Di buku Technical Analysis of the Financial Market, John J. Murphy memberikan definisi berikut: An uptrend is a series of successively higher peaks and trough.

Uptrend adalah serangkaian puncak yang lebih tinggi (higher peaks) dan lembah yang lebih tinggi (higher trough). Menurut saya, definisi ini belum cukup spesifik. Serangkaian ini berapa banyak? Tidak jelas.

Maka dari itu, saya mencoba mendefinisikannya sebagai berikut:

Uptrend adalah serangkaian puncak yang lebih tinggi dan lembah yang lebih tinggi dengan MINIMUM dua puncak yang lebih tinggi DAN MINIMUM dua lembah yang lebih tinggi.

(23)

Dengan kata lain, kondisi lebih tinggi (higher) MINIMUM ada EMPAT (DUA puncak lebih tinggi ditambah DUA lembah lebih tinggi).

Untuk lebih jelas, silahkan lihat Figure 1 di bawah.

Figure 1. Uptrend: Serangkaian Higher Peak dan Higher Trough

Mau tahu definisi Downtrend? Silahkan lanjut baca ke pos"Definisi Uptrend, Downtrend, Sideway (Bagian II)."

Empat Komponen Harga Saham Yang Perlu Anda Ketahui

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] “BNII harganya berapa,” tanya Barli kepada pialangnya.

“Bid 3800, Offer 3825, Pak,” jawab si pialang. “Bid BBNI 3800 sebanyak 200 lot,” perintah Barli.

Begitu kira-kira percakapan pemain saham dengan pialangnya ketika ia melakukan Bid atau Offer suatu saham.

Memang, sebelum memutuskan membeli atau menjual saham, anda harus tahu posisi Bid dan Offer saham tersebut. (Untuk lebih jelas tentang arti Bid dan Offer, silahkan baca pos“Istilah ‘Bid’ dan ‘Offer’ Ketika BermainSaham.”) Tapi bid dan offer ini hanyalah satu dari empat komponen harga saham.

(24)

OPEN

OPEN adalah harga transaksi pertama suatu saham pada hari bersangkutan. Yang dimaksud transaksi adalah jual-beli yang sudah terjadi, yang bahasa Inggrisnya adalah trade done atau order matched. Kalau pada tanggal 1 Juli 2011 saham INDS ditransaksikan pertama kali pada harga Rp 4950, harga 4950 inilah yang disebut harga OPEN.

Perhatikan: harga OPEN tidak harus sama dengan harga terakhir (CLOSE/LAST) pada hari sebelumnya. Sebagai contoh: UNTR pada tanggal 28 Juni 2011 ditutup di harga Rp 23.650, sedangkan pada tanggal 29 Juni UNTR OPEN di harga Rp 23.900. HIGH

HIGH adalah harga tertinggi yang dicapai suatu saham pada saat/hari itu. Ketika perdagangan saham masih berlangsung, harga HIGH adalah harga tertinggi pada saat itu. Hanya ketika bursa sudah tutup, harga HIGH adalah harga tertinggi untuk hari itu.

LOW

LOW adalah harga terendah yang dicapai suatu saham pada saat/hari itu. Ketika transaksi saham masih berjalan, harga LOW adalah harga terendah pada saat itu. Ketika bursa tutup, harga LOW adalah harga terendah untuk hari itu.

CLOSE/LAST

CLOSE--sering juga disebut LAST-- adalah harga transaksi terakhir suatu saham pada saat/hari itu. Ketika perdagangan saham masih berlangsung, harga CLOSE adalah harga terakhir yang terjadi sampai saat itu.

Harga CLOSE ini biasanya adalah harga Bid atau harga Offer pada saat itu, tergantung apakah transaksi terakhir terjadi di harga Bid atau harga Offer. Ketika bursa sudah tutup, harga CLOSE adalah harga transaksi terakhir pada hari itu.

Dari contoh Order Book BBRI 04 Juli 2011 jam 16:00 di samping ini yang saya ambil dari IPOT (Indo Premier Online Trading), coba perhatikan Prv, Op, Hi, dan Lo.

Prv (Previous) adalah harga CLOSE pada hari sebelumnya, yaitu di 6700. Op (OPEN) BBRI di 6800, tidak harus di harga Prev 6700.

Hi (HIGH) BBRI pada hari itu adalah 6900. Lo (LOW) BBRI pada hari itu adalah 6700.

Perhatikan juga bahwa pada tampilan IPOT di atas, tidak ada harga CLOSE/LAST. Tapi anda dapat menyimpulkan dari harga Bid 6850 dan Offer 6900 bahwa harga CLOSE/LAST adalah salah satu dari kedua harga tersebut.

(25)

Istilah "Bid" dan "Offer" Ketika Bermain Saham

[Pos ini ©2011 oleh Iyan terusbelajarsaham.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.] Bid dan offer adalah istilah harga saham ketika transaksi berlangsung di bursa.

Kalau anda ingin menjual saham dan diberitahu bahwa harga saham BBRI adalah Rp 5000, informasi tersebut tidak spesifik. Apakah artinya anda bisa jual BBRI di 5000 dan langsung laku atau anda harus mengantri jual (tidak langsung laku)?

Perbedaan ini mungkin tidak penting bagi pendengar atau pembaca berita, tapi perbedaaan ini sangat penting untuk anda yang hendak melakukan jual-beli saham tersebut.

Maka dari itu, ketika bermain saham anda harus tahu harga spesifik saham yang ingin anda transaksikan. Dan harga spesifik tersebut selalu terdiri dari dua komponen, harga bid dan harga offer.

Arti bid dan offer, tergantung konteks kalimat, adalah sebagai berikut: Bid = penawaran beli, minat beli, antri beli.

Offer = penawaran jual, minat jual, antri jual.

Untuk mempermudah diskusi, silahkan lihat contoh tampilan Order Book dari Indo Premier Online Trading (IPOT) untuk saham Garuda Indonesia (GIAA) berikut ini:

Tampilan harga bid dan offer ini dipisah menjadi dua kolom: biasanya kolom kiri adalah harga bid dan kolom kanan harga offer. Dari tampilan tersebut anda bisa melihat bahwa harga penawaran beli (bid) tertinggi GIAA adalah Rp 520 sebanyak 23,328 lot sedangkan harga penawaran jual (offer) terendah GIAA adalah Rp 530 sebanyak 9,782 lot.

Perhatikan: harga bid tertinggi dan harga offer terendah selalu berada di baris pertama.

Kalau anda mau menjual GIAA dan langsung laku, anda harus jual di harga bid Rp 520; kalau anda mau membeli GIAA dan langsung dapat, anda harus beli di harga offer Rp 530.

[Saya tidak turut mendiskusikan jumlah lot bid dan offer dengan detil di sini. Saya berencana menulis blog tersendiri tentang hal ini.]

Sebenarnya, arti bid adalah semua harga penawaran beli di kolom kiri (dari Rp 520 sampai dengan 460 ) dan arti offer adalah semua harga penawaran jual di kolom kanan (530 sampai dengan 620). Tapi dalam praktek sehari-hari, pemain saham memakai istilah bid biasanya untuk harga penawaran beli tertinggi dan offer untuk harga penawaran jual terendah.

(26)

Memang, kalau anda melakukan sendiri jual-beli saham melalui online-trading, anda tidak perlu khawatir tentang istilah-istilah ini. Tapi kalau anda ingin mengungkapkan niat anda kepada orang lain— misalkan kepada pialang— anda harus menggunakan istilah-istilah ini dengan seksama.

Menggunakan contoh di atas, kalau anda bertanya harga GIAA melalui telepon, pialang anda akan menjawab bid Rp 520, offer 530. Artinya, kalau anda mau menjual GIAA langsung laku, anda harus jual di Rp 520; kalau anda mau beli GIAA langsung dapat, anda harus beli di Rp 530.

Misalkan menurut anda harga 520 terlalu mahal dan hanya mau membeli GIAA di harga 500. Nah, anda bisa mengantri beli di harga 500 dengan berkata seperti ini, “Bid GIAA di (harga) 500 sebanyak 100 lot.” Atau kalau anda mau jual di 550, “Offer GIAA di 550 100 lot.”

Pada konteks kalimat di atas, kata bid dan offer menjadi kata kerja yang berarti antrikan beli dan antrikan jual.

Intinya, kalau anda bertanya bid/offer saham saat ini, pialang berasumsi anda menanyakan harga minat beli tertinggi dan harga minat jual terendah saat ini (harga pada baris pertama bid/offer). Setelah anda mendapat informasi itu, anda bisa antri beli (bid) di harga minat beli tertinggi tersebut ataupun harga lebih rendah; anda juga bisa antri jual (offer) di harga minat jual terendah tersebut atapun harga lebih tinggi.

Kata bid dan offer dari bahasa Inggris ini kerap dipakai pemain saham Indonesia sebagai istilah umum bermain saham karena belum adanya padanan kata bahasa Indonesia yang sama singkat dan sama padatnya.

73 komentar:

1.

Saya Bertanya12 November 2012 10.48 Salam Pak Iyan,

Pak, saya sampai sekarang masih bingung dengan istilah bid dan offer di saham., walaupun saya sudah membaca artikel ini.

Pak saya ingin Bapak menjelaskan sekali lagi dengan acuan pada istilah sell/buy pada bank yang menawarkan mata uang asing. Untuk istilah sell/buy saya selalu mengibaratkan sebagai sebuah toko yang sedang menjual/membeli barang. Untuk istilah sell (jual) berarti pihak Bank X menjual mata uang asingnya kepada pembeli (nasabah) dengan harga sekian. Jadi, kalau bagi pihak kita (nasabah) jika ingin membeli mata uang asing yang dimaksud, berarti kita "membeli" mata uang asing itu dengan harga sell yang dikeluarkan dari pihak Bank. Dan juga sebaliknya, untuk istilah buy/beli bagi pihak bank.

Dengan acuan ini, saya harap / minta Pak Iyan untuk menjelaskan istilah bid/offer pada saham, agar saya bisa lebih jelas. Makhlum lah Pak, saya masih belajar.

Sebelumnya saya sampaikan terimakasih atas wawasanya. Balas

Balasan

1.

Iyan12 November 2012 11.13

(27)

Pada saham, kan tidak ada bank yang membeli atau menjual, jadi "bank" ini anda ganti dengan "market/pasar." Kita sebut "pasar" karena pembeli dan penjualnya ada banyak pihak.

"Bid" = pasar niat beli. "Offer" = pasar niat jual. Semoga membantu. Balas

2.

Saya Bertanya13 November 2012 10.30 Terimakasih Pak, atas jawaban yang lalu. Pak, saya masih ada pertanyaan lagi,

1. Setelah tahu apa itu "bid/offer", saya baru tahu ternyata "bid/offer" sangat penting dalam setiap transaksi saham, karena selama ini anggapan saya bahwa untuk menjual/membeli saham, harga saham persis seperti apa yang ditunjukkan di grafik chart pada bursa saat itu. Seperti misal : harga saham Unilever pada detik ini Rp 25.950, sebelumnya saya menganggap jika ingin membeli/menjual saham itu harganya ya sama, yaitu Rp 25.950. Eh, ternyata tidak, ternyata selalu ada harga, yaitu offer selalu lebih tinggi dari harga bid (bid saat itu menunjukkan= Rp 25.850, offer= Rp 25.950), selalu ada selisih harga. Dengan kata lain, jika kita membeli saham itu, dan kemudian menjualnya lagi di saat itu juga, walaupun saat itu harga di bursa sama, pasti kita akan rugi Rp 100 per lembar saham, belum lagi kena biaya fee jual/beli. Apakah seperti itu, mohon tanggapan Bapak! Kemudian, berkenaan dengan hal tersebut, bagaimana sebaiknya cara mengatasinya bagi yang berinvestasi saham?

2. Jika selisih harga sell/buy mata uang asing, keuntungannya akan menjadi milik bank. Untuk saham, selisih harga antara offer-bid, keuntungannya akan menjadi milik siapa, Pak?

Sebelumnya, terimakasih atas semua jawaban dan wawasan dari Bapak. Balas

Balasan

1.

Iyan13 November 2012 11.11

1. Pengamatan anda sudah benar. Selalu ada spread (selisih) antara jual dan beli; kalau anda beli di "offer" dan langsung jual di "bid", anda akan rugi sebesar spread ini.

Tidak ada cara khusus untuk mengatasi hal ini. Yang penting, anda beli saham yang prospek kenaikannya cukup banyak. Kalau naik banyak, spread antara "bid" dan "offer" menjadi tidak signifikan.

2. Selisih harga sell/buy di saham tidak dinikmati satu pihak ("bank") tapi dinikmati pihak-pihak yang transaksinya terlaksana. Karena, orang yang saham SMCBnya laku di harga Rp3850, belum tentu membeli lagi di 3825. Demikian pula, orang yang membeli di 3825 belum tentu mau menjual di 3850.

Pihak-pihak inilah yang kita sebut "market" (pasar). Balas

(28)

3.

leo D'caprio30 Desember 2012 12.20 Mas kalau mencari broker dimana?

lalu apa bisa membeli tanpa bantuan broker/pialang?

bagaimana kita mencari informasi harga saham perusahaan2? Trimakasih.

Balas Balasan

1.

Iyan31 Desember 2012 12.19

Silahkan baca pos "Sekuritas/Broker Mana Yang Bagus?" Semua transaksi saham harus melalui perusahaan broker. Balas

4.

Frizielia29 Januari 2013 15.45 Mas, saya bisa minta emailnya? Balas

Balasan

1.

Iyan30 Januari 2013 08.56

email saya: [email protected]. Balas

5.

Aminullah al aziz19 Maret 2013 12.55

makasih pak atas artikel2 bapak yg menambah banyak pengetahuan bagi saya. tapi saya masih bingung tentang bid dan offer ini, saya bingung di kalimat "Misalkan menurut anda harga 520 terlalu mahal dan hanya mau membeli GIAA di harga 500." pada paragraf 'Misalkan menurut anda harga 520 terlalu mahal dan hanya mau membeli GIAA di harga 500. Nah, anda bisa mengantri beli di harga 500 dengan berkata seperti ini, “Bid GIAA di (harga) 500 sebanyak 100 lot.” Atau kalau anda mau jual di 550, “Offer GIAA di 550 100 lot.”'dan kalimat " Kalau anda mau menjual GIAA dan langsung laku, anda harus jual di harga bid Rp 520; kalau anda mau membeli GIAA dan langsung dapat, anda harus beli di harga offer Rp 530." jadi kalau misal saya mau beli GIAA saya belinya di list harga bid atau offer?

(29)

Balas

6.

Aminullah al aziz19 Maret 2013 12.56

makasih pak atas artikel2 bapak yg menambah banyak pengetahuan bagi saya. tapi saya masih bingung tentang bid dan offer ini, saya bingung di kalimat "Misalkan menurut anda harga 520 terlalu mahal dan hanya mau membeli GIAA di harga 500." pada paragraf 'Misalkan menurut anda harga 520 terlalu mahal dan hanya mau membeli GIAA di harga 500. Nah, anda bisa mengantri beli di harga 500 dengan berkata seperti ini, “Bid GIAA di (harga) 500 sebanyak 100 lot.” Atau kalau anda mau jual di 550, “Offer GIAA di 550 100 lot.”'dan kalimat " Kalau anda mau menjual GIAA dan langsung laku, anda harus jual di harga bid Rp 520; kalau anda mau membeli GIAA dan langsung dapat, anda harus beli di harga offer Rp 530." jadi kalau misal saya mau beli GIAA saya belinya di list harga bid atau offer? Balas

Balasan

1.

Iyan19 Maret 2013 16.56

Kalau Amin sudah punya rekening transaksi saham (online-trading ataupun full-service), anda akan mengerti jelas apa arti istilah "Bid" dan "Offer" ini.

Anda boleh ANTRI beli saham di harga apa saja (di BAWAH harga Offer), tapi kalau mau langsung dapat, anda harus beli di harga Offer.

Anda boleh ANTRI jual saham di harga apa saja (di ATAS harga Bid), tapi kalau mau langsung laku, anda harus jual di harga Bid.

Balas

7.

Reyther biki21 Maret 2013 09.02

Mohon bantuannya Pak. Saya mhsw yg sedang meneliti tentang saham yaitu mencari nilai bid dan ask melalui yahoo finance, tapi saya masih bingung menentukan mana yg harus kita ambil untuk nilai bid dan mana untuk ask harian, di mana data yang disediakan di yahoo yaitu data open, high, low, close, volume, dan ajd close. terima kasih

sebelumnya. Balas Balasan

1.

(30)

Harga bid dan offer biasanya tidak dicantumkan dalam historical data.

Mengapa anda perlu harga bid dan offer untuk penelitian? Yang biasa dipakai adalah harga Close. Balas

8.

Reyther biki23 Maret 2013 12.45

iya pak, jadi harga close adalah untuk harga nilai bidnya trus... apakah harga high juga digunakan untuk nilai asknya. makasih pak sebelumnya.

Balas Balasan

1.

Iyan25 Maret 2013 10.43

Maaf Reyther, saya masi belum mengerti pertanyaan anda. Boleh tolong diperjelas? Balas

9.

Reyther biki30 Maret 2013 22.58

begini pak kebetulan saya lagi mau meneliti tentang variabel asimetri informasi yg berkaitan dengan bid dan ask dimana data-data harga sahamnya saya ambil dari yahoo finance. nah kebetulan saya kesulitan dalam menentukan nilai bid dan asknya karena di yahoo finance untuk data historis yang tersedia hanya data open, high, low, close, vol dan adj close. nah untuk itu saya ingin tanyakan kepada bapak apakah data high dan close di yahoo finance boleh saya gunakan dlm penelitian untuk high sebagai nilai ask dan close sebagai nilai bidnya. makasih sebelumnya pak. Balas

Balasan

1.

Iyan1 April 2013 09.13

Seperti saya tulis di atas, data BID dan OFFER dianggap tidak penting untuk dimasukkan dalam data historis. Kalaupun data tersebut ada, hanyalah data BID dan OFFER saat penutupan bursa.

Jawaban saya untuk pertanyaan Reyther: High JANGAN diasumsikan sebagai nilai ask. Close bisa nilai bid atau juga nilai ask, jadi TIDAK TEPAT juga memakai Close sebagai nilai bid.

Kalau Reyther tetap perlu data Bid dan Ask yang akurat, coba kumpulkan sendiri SETIAP SORE ketika market tutup.

(31)

Balas

10.

Hermawan9 April 2013 21.32 Pak,

1. Dari gambar di atas, di kolom offer apakah selalu berwarna hijau semua?

2. Seperti kalimat artikel diatas, jika kita ingin beli saham GIAA dan langsung dapat kita harus di beli di harga offer Rp.530. Bagaimana/apa yang terjadi kalau saya ingin membeli di harga offer misalnya di harga yang Rp.620 (di gambar pd posisi paling bawah)?

3. Untuk di kolom bid, ada 3 warna yaitu hijau, kuning, dan merah. Masing-masing warna apakah ada artinya? 4. Kalau kita mau menjual saham GIAA dan langsung laku, kita harus jual di harga bid Rp.520. Bagaimana kalau kita menjualnya di harga yang Rp.510 (juga warna hijau)?

Sebelumnya terimakasih Pak, atas wawasannya. Balas

11.

Hermawan9 April 2013 21.42 Pak,

1. Dari gambar di atas, di kolom offer apakah selalu berwarna hijau semua?

2. Seperti kalimat artikel diatas, jika kita ingin beli saham GIAA dan langsung dapat kita harus di beli di harga offer Rp.530. Bagaimana/apa yang terjadi kalau saya ingin membeli di harga offer misalnya di harga yang Rp.620 (di gambar pd posisi paling bawah)?

3. Untuk di kolom bid, ada 3 warna yaitu hijau, kuning, dan merah. Masing-masing warna apakah ada artinya? 4. Kalau kita mau menjual saham GIAA dan langsung laku, kita harus jual di harga bid Rp.520. Apakah

bisa/Bagaimana/Apa yang akan terjadi kalau kita menjualnya di harga yang Rp.510 (juga warna hijau)atau di harga Rp.460 (warna merah)?

Sebelumnya terimakasih Pak, atas wawasannya. Balas

Balasan

1.

Iyan10 April 2013 08.53

1. Warna hijau artinya harga tersebut DI ATAS harga PRV (Previous Price = close hari sebelumnya). Warna kuning artinya harga tersebut adalah harga PRV.

Warna merah artinya harga tersebut DI BAWAH harga PRV.

2. Kalau anda masukkan order BUY di 620, padahal Offer paling rendah adalah di 530, order anda akan MATCH (terjadi) di harga 530, bukan di 620.

(32)

3. Sudah dijawab di no.1.

4. Sama seperti jawaban no.2. Kalau anda masukkan order SELL di 510 atau 460, padahal harga BID tertinggi adalah 520, order anda akan MATCH (terjadi) di harga 520, bukan 510 atau 460.

Balas

12.

Hermawan10 April 2013 20.55

Satu lagi, Pak. Ini hal yang sangat penting buat pemula.

1. Pak, ketika misalnya saya baru melakukan order/transaksi di bid/offer yang saya kehendaki, di harga tertentu dan kebetulan masuk di/menunggu antrian. Kemudian saya log out dari program/software trading di komputer saya dan log in lagi besuknya, apakah order saya tersebut tatap terus berjalan sampai harga yang saya kehendaki itu

walaupun saya sudah log out atau order saya otomatis akan tercancel ketika logout, atau seperti apa? Apakah ada batas waktu? / sampai berapa lama?

Terima kasih ya Pak. Balas

Balasan

1.

Iyan11 April 2013 08.33

Logout tidak membatalkan order anda. Kalau saham mencapai harga bid/offer anda, saham tersebut akan MATCH.

Order normal hanya berlaku untuk hari tersebut. Hanya order GTC (Good Till Cancelled) yang akan berlaku sampai order tersebut match atau sampai anda cancel.

Balas

13.

Hermawan11 April 2013 22.36

1. Pak, selama ini saya kan sudah punya rekening tabungan sekedar untuk uang simpanan, misalnya di Bank Mandiri. Menurut info, katanya ketika pertama kali membuka rekening saham di sekuritas, kita akan mendapatkan 2

rekening. Apa ini artinya/berarti saya akan punya 3 rekening?

2. Setiap sekuritas biasanya kan mengenakan biaya administrasi bulanan, kalau tidak salah sekitar Rp. 27.500-Rp.30.000 per bulan. Partanyaan saya, biaya sebesar itu akan didebet di rekening (yang saya sebutkan di pertanyaan saya yg nomor 1) yang mana Pak?

Terima kasih Pak atas semua penjelasan selama ini. Balas

Gambar

Tabel 2. Harga Saham Disamakan, Laba Per Saham, PE Ratio
Figure 1. Uptrend: Serangkaian Higher Peak dan Higher Trough
Tabel 2. Pertumbuhan Laba Total vs. Laba Per Saham Tahun 2011-2013
Tabel 2. Laba Total Sama, Harga Saham Sama, Jumlah Saham Berbeda

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun pemupukan NPK nyata mempengaruhi bobot kering polong dibanding kontrol, namun penambahan pupuk hayati pada dosis N yang lebih rendah (1/4–1/2 N), meningkatkan hasil

pengumpulan data dan informasi hasil penelitian dari berbagai sumber, baik sumber primer maupun sumber sekunder tentang pelaksanaan jual beli buah jeruk dengan

Instrumen Soal Posttest Sebelum Validitas dan Kunci Jawaban Jawablah soal di bawah ini dengan memberikan tanda (x) pada jawaban yang benar pada lembar jawab yang telah

Software System for Educational Institute (ETAP) dinyatakan GAGAL ITEM karena tidak ada peserta yang memasukkan penawaran pada ITEM tersebut. Demikian pengumuman ini dibuat

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah persistensi laba, struktur modal, ukuran perusahaan dan alokasi pajak antar periode pada perusahaan manufaktur yang

Nilai PEFR abnormal terbanyak terdapat pada kelompok responden yang dengan keluhan respirasi batuk dan nyeri dada (100%), batuk, berdahak dan sesak napas (100%), batuk, sesak

Prenecanaan sumber daya manusia merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk meramalkan atau memperkirakan kebutuhan tenaga kerja yang

Selain serat dan kadar air yang tinggi, kandungan vitamin C dalam bengkuang yang berfungsi sebagai antioksidan juga dapat membantu dalam proses penurunan kadar