BAB II TINJAUAN TEORETIS
B. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah proses untuk merubah tingkah laku sehingga diperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walaupun pada hakikatnya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar dan dapat diartikan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungan.23
Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang meguasai bahan yang diajarkan. Hasil belajar berasal dari dua kata,hasil (product) merupakan satu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.24 Sebelum ditarik kesimpulan dari pengertian hasil belajar, terlebih dahulu dipaparkan beberapa pengertian hasil belajar dari beberapa para ahli, diantaranya:
23 Muh. Rapi, Pengantar Strategi Belajar (Pendekatan Standar Proses) (Makassar:Alauddin University Press, 2012), h. 2.
24Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 44.
25
a. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata hasil belajar merupakan realisasi potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.25
b. Menurut Gane dan Briggs hasil belajar adalah sebagai kemampuan yang diperoleh oleh seseorang sesudah mengikuti proses belajar.26
c. Menurut Asep Jihad hasil belajar adalah perubahan tingkah laku peserta didik secara nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.27
d. Abdulrahman menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol, biasanya disebut dengan kegiatan instruksional, tujuan belajar ditetapkan lebih dahulu oleh pendidik. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.28
Dari uraian definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan hasil belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai setelah mengalami proses belajar atau setelah mengalami interaksi dengan lingkungannya guna untuk memperoleh ilmu
25Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosda Karya, 2005), h. 102.
26Rosma Hartiny Sam‟s, Model PTK Teknik Bermain Konstruktif untuk Peningkatan Hasil Belajar Matematika, (Yogyakarta: Teras, 2010), h. 33.
27Asep Jihad, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2009), h. 14.
28 Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak BerkesulitanBelajar, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta,2003), cet. 2, h. 3.
pengetahuan yang akan menimbulkan tingkah laku seseorang secara sikap, pengetahuan maupun keterampilan.
2. Ciri-Ciri Tes Hasil Belajar
a. Valid, sebuah tes dikatakan telah memiliki validitas, apabila tes tersebutdengan secara tepat, dan benar telah dapat mengungkapkan atau mengukur yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes tersebut.
b. Reliabel, ciri kedua dari tes hasil belajar yang baik adalah bahwa hasil belajar tersebut telah memiliki reliabilitas atau bersifat reliabel. Dinyatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara berulang kali pada subjek yang sama.
c. Objektif, ciri ketiga dari tes hasil belajar yang baik adalah tes hasil belajar tersebut bersifat objektif. Bahan pelajaran yang telah diberikan atau diperintahkan untuk dipelajari oleh peserta didik itulah yang dijadikan acuan dalam pembuatan atau penyusunan tes hasil belajar.
d. Praktis, bersifat praktis mengandung pengertian bahwa tes hasil belajar tersebut dapat dilaksanakan dengan mudah karena tes itu:
1) Bersifat sederhana (tidak banyak menggunakan peralatan)
2) Lengkap, dalam arti bahwa tes tersebut telah dilengkapi dengan petunjuk mengenai cara mengerjakannya, kuis jawabannya dan pedoman skoring serta penentuan nilainya. Bersifat ekonomis mengandung bahwa tes hasil belajar tersebut tidak memakan waktu yang panjang dan tidak memerlukan tenaga dan biaya yang banyak.29
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemilihan tes yang baik untuk keperluan pengukuran dan evaluasi sejauh mana peserta didik paham terhadap
29 Nana Sudjana, Penilaian Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), h. 22-23.
27
materi yang telah diberikan apabila memenuhi 4 kriteria yaitu, valid, reliabel, objektif dan praktis.
3. Ruang Lingkup Hasil Belajar
Ruang lingkup hasil belajar adalah perilaku-perilaku kejiwaan yang akan diubah dalam proses pendidikan. Perilaku kejiwaan itu diklasifikasi dalam tiga domain yaitu:
a. Ranah Kognitif
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
b. Ranah Afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai ataukompleks nilai.
c. Ranah Psikomotor
Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif danpsikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.30
Sedangkan menurut beberapa ahli yang lain ruang lingkup hasil belajar terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Ranah kognitif
Hasil belajar kognitif ialah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi yangmeliputi pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika matematika. Kemampuan ini menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif yang meliputi
30Max Darsono, Belajar dan Pembelajaran, (Semarang: Press, 2009), h. 315.
beberapa tingkatan atau jenjang. Menurut Bloom, tingkat atau jenjang ranah kognitif dibagi menjadi enam tingkatan, yaitu: C1: Pengetahuan (knowledge), C2: Pemahaman (comprehension), C3: Aplikasi (application), C4: Analisis (analysis), C5: Sintesis (shynthesis), dan C6:
Evaluasi (evaluation).31
b. Ranah Kemampuan Sikap (Affective)
Hasil belajar afektif meliputi sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi dengan kata lain kecerdasan emosional. Krathoowl membagi hasil belajar afektif menjadi lima tingkat, yaitu: menerima atau memperhatikan (receiving), partisipasi atau merespon (responding), penilaian atau penentuan sikap (valuing), organisasi (organization), dan internalisasi atau karakterisasi (characterization by a value complex).32
c. Ranah Psikomotorik
Hasil belajar psikomotorik meliputi keterampilan atau yang mencangkup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual- spasial, dan kecerdasan musikal. Menurut Simpson hasil belajar psikomotorik diklasifikasikan menjadi enam, yaitu: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, dan kreativitas.33 Berdasarkan uraian-uraian diatas ruang lingkup hasil belajar terbagi menjadi tiga yaitu ranah kogitif (kemampuan berpikir), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan). Peserta didik dapat dikatakan berhasil dalam belajar jika pada diri mereka telah terjadi perubahan dari minimal salah satu aspek
31Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), h. 102.
32Asep Jihad, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2009), h. 17- 18.
33Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 52.
29
diatas, contohnya perubahan dalam aspek kemampuan berpikir misalnya dapat terjadi jika terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, atau perubahan dari tidak paham menjadi paham dan seterusnya.
3. Faktor-Faktor yang Mempegaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) peserta didik dan faktor pendekatan belajar:
a. Faktor Internal
Faktor internal peserta didik yakni keadaan jasmani dan rohani. Faktor ini meliputi 2 aspek, yakni:
1. Aspek fisiologis (bersifat jasmani)
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkatan kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, yang dapat mempengaruhi semangat dan intensitasi peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Kondisi jasmani yang tidak mendukung kegiatan belajar seperti gangguan kesehatan, cacat tubuh, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan lain sebagainya sangat mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam menyerap informasi dan pengetahuan khususnya yang disajikan di kelas.
2. Aspek Psikologis (bersifat rohani)
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran peserta didik. Faktor-faktor yang termasuk dalam aspek psikologis diantaranya yaitu tingkat inteligensi peserta didik, sikap, bakat, minat, dan emosi.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah kondisi atau keadaan lingkungan di luar peserta didik. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik adalah:
1) Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi hasil belajar termasuk diantaranya adalah pendidik, staf, teman-teman sekolah serta masyarakat sekitar, namun lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik ialah orang tua dan keluarga peserta didik itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, ketegangan keluarga dan lain sebagainya, semua dapat memberi dampak baik dan buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil belajar yang dicapai peserta didik.
2) Lingkungan Non Sosial
Faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal peserta didik dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
3) Faktor Pendekatan Belajar
Tercapainya hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas peserta didik dalam belajar. Faktor pendekatan belajar adalah jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Faktor pendekatan belajar sangat mempengaruhi hasil belajar peserta didik, sehingga semakin mendalam cara belajar peserta didik maka semakin baik hasilnya.34
34Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 132.
31
Menurut Chalijah Hasan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar antara lain:
a. Faktor yang terjadi pada diri organisme itu sendiri disebut dengan faktor individual adalah faktor kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi.
b. Faktor yang ada diluar individu yang kita sebut dengan faktor sosial, faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya selama proses pembelajaran dapat memengaruhi aktivitas belajar peserta didik, alat-alat yang digunakan atau media pengajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.35
Menurut Syaiful Bahri Djamarah untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk perubahan melalui proses belajar tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Faktor lingkungan merupakan bagian dari kehidupan peserta didik, dalam lingkunganlah peserta didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem.
b. Faktor instrumental, setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan, shingga diperlukan kelengkapan dalam berbagai bentuk untuk mencapai tujuan yaitu kurikulum, program, sarana,fasilitas, dan guru.
c. Kondisi fisiologis, pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan
35Chalijah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994), h.
94.
kelelahan. Faktor ini terdiri dari kesehatan jasmani, gizi cukup tinggi jika gizi kurang maka lekas lelah dan sulit menerima pembelajaran.36 Menurut M. Alisuf Sabri faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik ialah:
a. Faktor internal peserta didik
1) Faktor fisiologis peserta didik, seperti kondisi kesehatan dan kebugaran fisik, serta kondisi panca inderanya terutama penglihatan dan pendengaran.
2) Faktor psikologis peserta didik, seperti minat, bakat, intelegensi, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi, ingatan, berpikir dan kemampuan dasar pengetahuan yang dimiliki.
b. Faktor eksternal peserta didik
1) Faktor lingkungan peserta didik
Faktor ini terbagi dua, yaitu pertama: faktor lingkungan alam atau non sosial seperti keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, sore, dan malam), letak madrasah, dan sebagainya. Kedua: faktor lingkungan sosial seperti manusia dan budayanya.
2) Faktor Instrumental
Yang termasuk faktor instrumental antara lain gedung atau sarana fisik kelas, sarana atau alat pembelajaran, media pembelajaran, pendidik dan kurikulum atau materi pelajaran serta strategi pembelajaran.37
Berdasarkan uraian-uraian diatas faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi dari
36 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,2011), h. 176-202.
37 M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2010), h. 59-60.
33
dalam diri peserta didik, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Dan faktor eksternal faktor yang datang dari luar diri peserta didik atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.
C. Akidah Akhlak
1. Pengertian Akidah Akhlak
Secara etimologi (bahasa) akidah berasal dari kata “aqada-ya’qidu-aqdan”, dapat berarti ikatan perjanjian, sangkutan dan kokoh.38 Disebut demikian, lantaran ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu.
Sedangkan dalam pengertian teknis artinya ialah iman atau keyakinan. Menurut istilah (terminologi) akidah adalah dasar-dasar dari pokok kepercayaan atau keyakinan hati seorang muslim yang bersumber dari ajaran Islam yang wajib dipegang oleh setiap muslim sebagai sumber keyakinan yang mengikat. Syaikh Abu Bakar Al-Jaziri menyatakan hal yang sama bahwa akidah adalah kumpulan dari hukum-hukum kebenaran yang jelas adanya, dapat diterima oleh akal, pendengaran dan perasaan kemudian diyakini oleh hati manusia, kebenarannya dapat dipastikan, ditetapkan keshalehannya dan tidak melihat ada yang meragukannya dan bahwa itu berlaku selamanya. Seperti halnya keyakinan manusia akan hadirnya Sang Pencipta, keyakinan akan ilmu kekuasaan-Nya, keyakinan manusia atas kewajiban dan ketaatan kepada-Nya serta menyempurnakan akhlak yang dimaksud aqidah dalam bahasa Arab (dalam bahasa Indonesia ditulis akidah).39
Akhlak berasal dari kata khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara istilah akhlak adalah tabiat atau sifat
38H. Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia (PT.Hidakarya Agung, Jakarta, 1972), h.
274.
39Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 199.
seseorang, yakni keadaan jiwa yang telah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angan lagi.40 Definisi akhlak menurut al-Ghazali ialah:
يرغ نم رسيو ةلوهسب لاعفلاا ردصت اهنع ةخسار سفنلا في ةءيه نع ةرابع قللخاف يورو ركف ليا ةجاح
Terjemahnya:
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan tindakan-tindakan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran ataupun pertimbangan.41
Menurut pengertian di atas, jelaslah bahwa hakikat akhlak menurut Al-Ghazali harus mencakup 2 syarat:
a. Perbuatan itu harus konstan yaitu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan.
b. Perbuatan konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai wujud refleksi dari jiwanya pertimbangan dan pikiran, yakni bukan adanya tekanan atau paksaan dari orang lain.42
Dari beberapa definisi akhlak para ahli di atas, dapat dilihat ciri-ciri sebagai berikut:
a. Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam diri seseorang sehingga telah menjadi akar kepribadiannya.
b. Ketiga, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa adanya paksaan atau tekanan dari orang, yakni atas kemauan pikiran atau keputusan dari yang bersangkutan.
40Ahmad Mustofa, Akhlak Tasawuf (Bandung: CV.Pustaka Setia, 1997), h. 15.
41Imam al-Ghazali, Ihya‟ Ulum al-Din, Juz III (Mesir : Isa Bab al-Halaby, tt.).
42Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h.
102.
35
c. Keempat, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, bukan main-main atau bukan karena sandiwara.
d. Kelima, perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji-puji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.43
Dari pengertian akidah dan akhlak di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran akidah akhlak ialah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengimani Allah yang kemudian dapat peserta didik realisasikan sebagai bentuk perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.
4. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Akidah Akhlak a. Fungsi Pembelajaran Akidah Akhlak
Mata pelajaran akidah akhlak berfungsi sebagai penanaman nilai ajaran islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT., serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin yang mulai ditanamkan dilingkungan keluarga, dan perbaikan kesalahan-kesalahan atau kelemahan peserta didik dalam keyakinan pengalaman ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari.44
b. Tujuan Pembelajaran Akidah Akhlak
Tujuan akidah akhlak adalah hendak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk yang lainnya. Akhlak hendak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak-tanduk yang baik terhadap terhadap manusia, terhadap sesama makhluk dan terhadap Tuhan. Pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui
43 Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 5.
44 Anwar Masy‟ari, Akhlak Al-Qur’an (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990), cet Ke-1, h. 3.
perbedaan perangai manusia yang baik maupun yang jahat, agar manusia dapat memegang teguh perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat, tidak saling benci, curiga-mencurigai antara satu dengan yang lain, tidak perkelahian dan peperangan atau bunuh-membunuh sesame hamba Allah.45
Tujuan dari pembelajaran akidah akhlak yaitu untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan yang diwujudkan dengan akhlak terpuji melakui pemberian, pemupukan, penghayatan, pengetahuan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang aqidah dan akhlak Islam. Peserta didik diharapkan menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa, dan bernegara serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.46
Terdapat sejumlah pendapat mengenai tujuan pembelajaran akidah akhlak.
Namun setidaknya dari berbagai macam tujuan pembelajaran akidah akhlak tersebut dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu menurut proses terbentuknya nilai dan menurut hasil pembelajaran.
Menurut prosesnya, Khalimi mengidentifikasikan tiga macam tujuan pembelajaran akidah akhlak.47 Tujuan pembelajaran pertama yaitu tahu atau mengetahui (Knowing). Disini tugas pendidik adalah mengupayakan agar peserta didik mengetahui konsep, siswa diajar agar mengetahui aspek akidah dan akhlak.
Pendidik mengajarkan bahwa cara yang paling mudah untuk mengetahui aspek
45Anwar Masy‟ari, Akhlak Al-Qur’an (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990), cet Ke-1, h. 4.
46 Departemen Agama, 2004, h. 18.
47Khalimi, Pembelajaran Akdah dan Akhlak (Jakarta: Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, 2009), h. 51.
37
akidah dan akhlak ialah dengan meneladani kehidupan Rasulullah Saw. Pendidik mengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh aspek akidah akhlak dari kehidupan Rasulullah Saw. Untuk mengetahui apakah peserta didik itu memahami, pendidik sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik dikerjakan disekolah maupun dirumah. Akhirnya pendidik yakin bahwa peserta didiknya telah mengetahui cara menentukan mana yang merupakan bagan dari aspek akidah dan yang mana merupakan bagan dari aspek akhlak.
Kedua melaksanakan yang ia ketahui itu, konsep seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal ini setiap ia hendak mengetahui mana yang aspek akidah dan mana aspek akhlak, ia selalu menggunakan pemahaman yang telah diketahuinya itu. Inilah satuan pengajaran aspek being. Dalam pengajaran yang mengandung nilai dan keyakinan, seperti pendidikan akidah akhlak, proses dari knowing dan doing dari doing ke being itu akan berjalan secara otomatis ia akan melaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, ia akan berupaya untuk menerapkan aspek akidah dan akhlak dalam kehidupannya dengan baik. Jika ia kurang baik akidah dan akhlaknya, paling tidak ia merasa menyesali diri belum mampu memperbaiki akidah dan akhlak dalam segenap tingkah lakunya, tetapi pemahaman tentang akidah akhlaknya secara benar tidak mungkin diselewengkan.
Oleh karena itu, dalam pengajaran yang mengandung nilai proses pembelajaran untuk mencapai aspek being tidaklah sulit.
3. Ruang Lingkup Pembelajaran Akidah Akhlak
Akidah akhlak mempunyai makna yang lebih luas karena akhlak tidak hanya bersangkutan dengan lahiriah akan tetapi juga berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak menyangkut berbagai aspek diantaranya adalah hubungan manusia terhadap Allah dan hubungan manusia sesama makhluk
(manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda-benda bernyawa dan tidak bernyawa).
Ruang lingkup pembelajaran akidah akhlak dalam islam dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Akhlak Terhadap Allah SWT
Akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada tuhan selain Allah dan merupakan akhlak yang paling tinggi derajatnya. Sebab, akhlak kepada yang lainnya merupakan menjadi dasar akhlak kepada Allah terlebih dahulu. Tidak ada akhlak yang baik kepada orang lain tanpa terlebih dahulu berakhlak kepada Allah SWT. Di samping itu akhlak merupakan perintah atau kewajiban yang telah ditentukan, dan manusia mesti mematuhi dan mengaplikasikan. Allah juga yang menetukan cara-cara, jenis, dan bentuk akhlak kepada makhluknya.
Banyak cara untuk berakhlak kepada Allah diantaranya sebagai berikut:
1) Taat Terhadap Perintah-Nya
Tugas manusia di dunia ini adalah untuk beribadah karena itu taat terhadap aturan-Nya merupakan bagian dari perbuatan baik. Melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya taat ini juga diartikan sebagai taqwa, yakni memelihara diri agar selalu berada pada garis dan jalan-Nya yang lurus.
2) Bersyukur atas nikmat Allah
Bersyukur artinya merasa senang karena memperoleh kenikmatan dari Allah SWT, kemudian menambah semangat dalam beribadah kepada Allah, hatinya vertambah iman dan makin banyak berdzikir kepada Allah. Orang yang salah dalam menggunakan kenikmatan, yaitu untuk mengikuti hawa nafsu
39
dianggap kufur yakni mengingkari kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya. Orang seperti ini akan diberi siksa oleh Allah dengan azab yang pedih.
3) Meyakini Kesempurnaan Allah
Meyakini bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan, setiap yang dilakukan adalah yang baik dan terpuji.
b. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan dengan manusia lainnya. Akhlak terhadap sesama manusia antara lain meliputi akhlak pada manusia yang mengandung unsur kemanusiaan yang harmonis sifatnya.
Allah melarang perbuatan jahat yang merugikan kepada orang lain. Juga melarang orang mengada-adakan yang semestinya tidak pada tempatnya bagi Allah.
Akhlak terhadap sesama manusia ini merupakam penjabaran dari akhlak terhadap makhluk sebagimana dikemukakan diatas. Terdapat banyak sekali perincian yang dikemukakakn dalam al-Qur‟an atau hadits yang berkaitan dengan sikap dan perbuatan terhadap sesame manusia, diantaranya Menurut Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin bahwa akhlak yang terpuji dalam bermuamalah sesama manusia adalah dengan cara menahan diri untuk tidak menyakiti, mencurahkan kemarahan dan bermuka manis dihadapan orang lain.48
Setiap muslim hendaklah mengetahui hak-hak sesama muslim. Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat luwes dan mampu bergaul dengan siapapun, baik dengan kawan maupun lawan. Berikut ini adalah adab dan hak-hak sesama muslim yang diajarkan oleh al-Qur‟an dan hadits antara lain:
48Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Akhlak-Akhlak Mulia (Surakarta:
Pustaka Al-„Alfiyah, 2010), h. 41.