• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah mencatat bahwa konflik-konflik di Dunia selain terjadi karena perebutan kekuasaan dan ekonomi juga terjadi karena perbedaan-perbedaan mendasar. Perbedaan mendasar yang dimaksud adalah perbedaan ras, agama, suku dan golongan. Salah satu yang terkemuka adalah penyiksaan dan pembunuhan terhadap ribuan bahkan jutaan bangsa Yahudi oleh NAZI yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Dalam Jurnal Hukum Pidana Internasional “Fenomena Hitler (NAZI) dan Pengadilan Nuremberg 1946” oleh Zahab, Hitler menganggap bahwa yahudi adalah parasit di Jerman. Hitler sangat membenci Yahudi karena keengganan mereka untuk ikut berperang padahal sama-sama tinggal di Jerman.

Di benua Amerika, konflik yang berdasarkan perbedaan mendasar seperti warna kulit masih terjadi bahkan sampai saat ini. Berawal dari perbudakan kulit hitam pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Amerika, perbedaan bahwa warna kulit hitam lebih rendah derajatnya masih terjadi sampai abad ini, pada tahun 2017, Washington Post mencatat 987 penembakan terhadap warga Amerika-Afrika berkulit hitam di Amerika. Dalam Jurnal “Regulasi Perlindungan Hak Asasi Manusia Tingkat Internasional” oleh Triyanto, konflik-konflik yang terjadi atas dasar perbedaan akhirnya dicoba diredam melalui The Universal Declaration of Human Rights yang sebelumnya didahului oleh Magna Charta pada tahun 1215, Piagam PBB serta instrument lain perlindungan HAM. Dideklarasikan pada tanggal

10 Desember 1948, Deklarasi tersebut dibuat dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak-hak dasar manusia yang tertindas. Beberapa poin yang dijamin dalam deklarasi tersebut adalah Hak untuk merdeka dan tiap-tiap manusia memiliki hak-hak yang sama, Hak untuk mendapatkan kehidupan dan keamanan pribadi, Hak untuk bebas dari berbagai bentuk perbudakan, Dilarang menyiksa seseorang, menghukum secara tidak manusiawi, dan menjatuhkan martabat, Hak untuk mendapat kesamaan di dalam hukum tanpa adanya unsur diskriminasi dan berhak dilindungi dari hal tersebut, Hak untuk mendapatkan pengadilan yang adil, bebas, dan tidak memihak, Hak untuk bebas dalam hal beragama, Hak untuk mendapatkan kebebasan dalam berpendapat dan menyatakan pendapat dan sebagainya. Meskipun begitu, konflik-konflik berdasarkan perbedaan tetap saja terjadi, termasuk di negara-negara Asia. Konflik antara militer Myanmar dan Rohingya pada tahun 2017 yang lalu juga menjadi sorotan penting tentang bagaimana sebuah negara menyikapi perbedaan.

Berdasarkan luas wilayah pada situs BPS Indonesia, Indonesia merupakan negara terbesar ke-empat di dunia dan terkenal sebagai negara kepulauan yang padat penduduknya. Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang unik, pertama, secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Kedua, secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Perbedaan tersebut seringkali disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk. Istilah majemuk semula dikenalkan oleh Furnivall untuk menggambarkan masyarakat Indonesia

pada masa Hindia Belanda. Konsep masyarakat majemuk sebagaimana yang digunakan oleh ahli-ahli ilmu kemasyarakatan, dewasa ini memang merupakan perluasan dari konsep Furnivall tersebut.

Masyarakat Indonesia pada masa Hindia Belanda, menurut Furnivall (1967:446) merupakan suatu masyarakat majemuk (plural society), yakni suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain di dalam kesatuan politik. Bangsa Indonesia yang terdiri dari 1.128 suku bangsa dengan 719 bahasa etnik, serta mengakui 6 agama resmi dan adanya aliran kepercayaan yang hidup di masyarakat, menggambarkan kemajemukan bangsa Indonesia. Berdasarkan data pada situs BPS dan Petunjuk Pelaksanaan Kirab Pemuda, jumlah penduduk lebih dari 250 juta, dengan 62,8 juta adalah usia pemuda, yang tinggal di 34 provinsi, 98 kota/416 kabupaten, 81.626 desa/kelurahan dan mendiami ribuan pulau, menunjukkan keragaman budayanya.

Sebagaimana tertulis dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia tidak terdapat wilayah atau daerah yang bersifat Negara atau tidak ada Negara dalam Negara. Tertuang jelas dalam UUD 1945 bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan atau lebih lengkapnya disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan salah satu dari empat pilar kebangsaan yang dianggap sebagai pondasi – pondasi Negara Indonesia. Sehingga meskipun terdiri dari berbagai macam bahasa, suku, agama dan golongan, Indonesia tetap sebuah satu kesatuan yang dijamin oleh konstitusi paling mendasar

Keberagaman Indonesia tersebut kemudian diakomodir melalui konsensus Pancasila dan pilar kebangsaan lainnya. Sila pertama merupakan rumusan dari segala aliran agama dan kepercayaan. Sila kedua merupakan rumusan dari segala paham dan cita-cita sosial-kemanusiaan yang bersifat transnasional. Sila ketiga merupakan rumusan sintesis dari kebhinekaan kesukuan ke dalam kesatuan bangsa. Sila keempat merupakan rumusan dari segala paham mengenai kedaulatan. Sila kelima merupakan rumusan dari segala paham keadilan sosial-ekonomi. Pancasila sebagai dasar negara menjadi landasan kehidupan bangsa, ditopang dengan konsensus dasar bernegara lainnya yaitu UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan adanya upaya-upaya pemerintah untuk mempersatukan Indonesia baik dari segi sosial politik maupun hukum, tidak menjamin bahwa persatuan tersebut akan tetap utuh terjaga, terbukti dengan adanya beberapa gerakan separatis di Indonesia. Menurut KBBI, separatis adalah orang atau golongan yang menghendaki pemisahan diri dari suatu persatuan, golongan atau bangsa. Separatis adalah gerakan yang bersifat mengacau dan menghancurkan yang dilakukan oleh gerombolan pengacau yang bertujuan untuk memisahkan diri dari ikatan suatu negara (Abdul Qadir Djaelani:2001). Menurut publikasi Bappenas pada tahun 2009 pada BAB Pencegahan dan dan penanggulangan separatism, di Indonesia terdapat beberapa gerakan separatis seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). GAM telah berdiri sejak 4 Desember 1976 dan OPM sudah berdiri lebih lama yakni sejak 1965. Meskipun pemerintah berupaya untuk melerai dan mencegah terpisahnya negara negara separatis, upaya tersebut tidak selamanya

berhasil. Pada 4 Desember 1999, Timor Leste yang pada saat itu masih bernama Timor-Timur melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah ditetapkan menjadi provinsi ke 27 melalui TAP MPR No. VI / MPR/ 1978. Pada saat itu Timor Leste diberikan 2 pilihan yakni, antara diberikan otonomi khusus atau memerdekakan diri dan berpisah dari NKRI yang kemudian atas desakan masyarakat Timor Leste, mereka resmi berpisah dari NKRI. Opsi tersebut juga menjadi salah satu upaya pemerintah yang ditawarkan kepada Aceh dan Papua karena adanya GAM dan OPM tersebut, demi mencegah terpisahnya kedua provinsi tersebut, pemerintah memberikan otonomi khusus kepada keduanya.

Pengakuan Negara atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh terakhir diberikan melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (LN 2006 No 62, TLN 4633). Undang-Undang Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial, ekonomi, serta politik di Aceh secara berkelanjutan. Sedangkan untuk Provinsi Papua dan Papua Barat diberlakukan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Hal ini menunjukkan bahwa potensi perpecahan telah menguji kesatuan NKRI dan menimbulkan adanya kebijakan kebijakan khusus yang dikeluarkan pemerintah untuk menjaga keutuhan NKRI.

1945. Telah berganti ganti pula presiden yang menjabat mulai dari orde baru hingga era reformasi, namun nampaknya konflik-konflik social seperti perpecahan tersebut masih saja terjadi. Seiring dengan perkembangan zaman dan era globalisasi, tantangan dalam berbangsa dan bernegara semakin hari nampaknya semakin sulit, baik konflik internal yang terjadi di dalam negara tersebut, maupun intervensi dan pengaruh dari budaya negara lain. Bila melihat keadaan saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak memiliki konflik destruktif yang mengarah kepada perpecahan. Berikut adalah publikasi terkait pemetaan konflik sosial di Indonesia yang diperoleh dari situs kesbangpol.kemendagri.co.id;

Diagram 1.1

Konflik sosial berdasarkan pengelompokkan isu/pola konflik

Sumber ; Kemendagri, Perbandingan Peristiwa Konflik Sosial Berdasarkan Pengelompokan Isu/Pola Konflik Di tahun 2013,2014 dan 2015.

Berdasarkan pengelompokan isu/pola konflik sosial di tahun 2013, 2014 dan 2015 (medio kuartal Januari s/d April) diantaranya sebagai berikut, tahun 2013 total telah terjadi 92 peristiwa konflik, diantaranya bentrok antar warga berjumlah

37 kasus, isu keamanan 16 kasus, isu SARA 9 kasus, konflik kesenjangan sosial 2 kasus, konflik pada institusi pendidikan 2 kasus, konflik ORMAS 6 kasus, sengketa lahan 11 kasus, serta ekses politik 9 kasus. Sedangkan di tahun 2014 total jumlah konflik 83 kasus dengan rincian bentrok antar warga berjumlah 40 kasus, isu keamanan 20 kasus, isu SARA 1 kasus, kesenjangan sosial nol (tidak ada), konflik pada institusi pendidikan 1 kasus, konflik ORMAS 3 kasus, sengketa lahan 14 kasus, ekses konflik politik 4 kasus. Terakhir ditahun 2015 (Medio Kuartal/ Jan s/d April) total jumlah konflik yang terjadi 26 kasus, dengan rincian bentrok antar warga berjumlah 8 kasus, isu keamanan 9 kasus, isu SARA, kesenjangan sosial dan konflik pada institusi pendidikan nol (tidak ada), konflik ORMAS 1 kasus, sengketa lahan 6 kasus, dan terakhir konflik karena ekses politik berjumlah 2 kasus.

Diagram 1.2

Konflik sosial berdasarkan sumber konflik

Sumber ; Kemendagri, Perbandingan Peristiwa Konflik Sosial Berdasarkan Sumber Konflik (UU No.7/2012) tahun 2013,2014 dan 2015.

Berdasarkan sumber konflik (UU No. 7/2012) pada tahun 2013, 2014, dan juga tahun 2015 (medio kuartal Januari s/d April) sbb: rekapitulasi peristiwa konflik

paling dominan dengan jumlah 71 kasus, perseteruan SARA 8 kasus, serta sengketa SDA/Lahan 13 kasus. Sedangkan ditahun 2014 permasalahan konflik yang bersumber oleh Ipoleksosbud berjumlah 68 kasus, perseteruan SARA 1 kasus, dan sengketa SDA/Lahan 14 kasus. Terakhir di tahun 2015 dalam medio kuartal, konflik sosial yang bersumber oleh Ipoleksosbud berjumlah 20 kasus, perseteruan SARA nol (tidak ada), serta sengketa SDA/Lahan berjumlah 6 kasus.

Diagram 1.3

Konflik sosial berdasarkan pengelompokkan wilayah

Sumber ; Kemendagri, Rekapitulasi Peristiwa Konflik Sosial Berdasarkan Pengelompokan Wilayah Provinsi di tahun 2015.

Berdasarkan pengelompokan wilayah/provinsi, rekapitulasi peristiwa konflik sosial untuk medio kuartal di tahun 2015 (Januari s/d April) didominasi oleh Provinsi DKI Jakarta yang berjumlah 5 peristiwa konflik, Provinsi Jawa Timur 4 peristiwa konflik, Provinsi Nusa Tenggara Barat berjumlah 3 peristiwa konflik, Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan 2 peristiwa konflik, dan masing-masing Provinsi Riau, Kepri, Jambi, Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua, dan Papua Barat 1 peristiwa konflik. Sedangkan Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan,

Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara masing-masing nol (belum ada peristiwa konflik) yang terjadi.

Tidak hanya konflik-konflik yang kasat mata, dalam paparannya di Korem Maulana Yusuf Banten, 20 Juli 2017, Dr. Riswanda menjelaskan bahwa ada bahaya laten yakni konflik yang tidak terlihat. Indonesia pada masa mendatang dinilai akan menghadapi rongrongan yang beragam terhadap kedaulatannya. Rongrongan terhadap Kedaulatan NKRI semakin berkembang sesuai situasi dan kemajuan teknologi, yakni Proxy War. Tren Proxy War, yakni kedua pihak tidak saling berhadapan, namun menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan musuh. Pemain Proxy War mampu mengorganisasi sebuah konfrontasi antar dua kekuatan dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari kontak secara langsung. Pengamat Militer Susaningtyas Kertopati mengatakan pemain proxy war bias berupa negara kecil, nonstate (bukan negara), LSM, media massa, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan.

Bila diperhatikan, pada diagram di atas, konflik sosial yang terjadi di Indonesia mengalami penurunan secara umum. Bahkan untuk konflik sara sampai menjadi 0 kasus pada tahun 2015. Namun situasi sosial yang dinamis membuktikan bahwa keadaan dapat berubah kapan saja. Setelah kasus penistaan agama yang menimpa mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjelang Pemilihan Gubernur tahun 2017, isu SARA menjadi isu yang sering

Bukan hanya menjadi perbincangan masyarakat, isu SARA melebar sampai mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Isu SARA semakin memanas sehingga menurut beberapa pihak dapat menimbulkan potensi perpecahan di NKRI. Konflik horizontal yang terjadi selama Pilkada DKI 2017 dipandang serupa dengan polarisasi masyarakat yang terjadi pada 1965 dan 1998 silam. Pendapat tersebut disampaikan oleh Direktur Pusat Kajian Representasi Sosial Risa Permana Deli melalui wawancaranya dengan CNN Indonesia di Cikini, 6 April 2017. Menurutnya, polarisasi masyarakat pada Pilkada muncul akibat adanya penggunaan isu Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA). Karena isu SARA, polarisasi yang terjadi akhirnya membagi warga menjadi dua kelompok besar, muslim dan non-muslim.

"Polarisasi pertama tahun 1965 saat ada unsur PKI dan non PKI. Ke-dua terjadi waktu 1998 ada kelompok pribumi dan non pribumi. Kemudian tidak sampai 20 tahun kemudian ada hal yang sama dan polarisasi saat ini adalah muslim dan non muslim,"

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto menyebut bahwa ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia adalah perpecahan yang berasal dari dalam negeri sendiri. Selain itu, ancaman lainnya yang perlu diwaspadai adalah berasal dari luar. Hal tersebut disampaikan Wiranto saat memberikan sambutan dalam Perayaan Capgome bersama 2017 yang diadakan oleh Forum Bersama Indonesia Tionghoa (FBIT), 20 Maret 2017;

"Kejahatan narkoba, terorisme, radikalisme, korupsi, illegal logging, illegal fishing dan sebagainya, itu ada dan kelihatan. Tapi, sebenarnya yang sangat berbahaya adalah ancaman perpecahan dari bangsa sendiri,"

Sejalan dengan pendapat Menkopolhukam, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga menyebutkan bahwa potensi perpecahan memang ada. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan dalam dialog pada Rakornas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Asrama Haji Medan, 17 Mei 2017 bahwa;

“Bangsa Indonesia sangat berpotensi mengalami perpecahan dan hal itu cukup menjadi ancaman serius, mengingat bangsa ini terdiri dari berbagai macam etnis dan agama. Potensi [perpecahan] itu ada, baik eksternal maupun internal”

Dalam kesempatan lain menjelang Natal dan Tahun Baru Desember 2017, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian kembali menghimbau mengenai potensi perpecahan khususnya melalui isu SARA. Dalam kewaspadaannya terkait isu SARA dan tahun 2018 yang merupakan tahun politik karena akan diselenggarakan pemilihan di 171 daerah, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menginstruksikan kepada seluruh jajaran Polri agar tetap menjaga keutuhan masyarakat dan memetakan serta menyusun rencana operasi yang matang sesuai karateristik daerah masing-masing.

“Jangan gunakan isu sensitif terutama SARA. Masyarakat tidak boleh berkonflik hanya demi kepentingan politik sektoral sesaat. Jangan sampai masyarakat terbelah apalagi sampai ada kontak fisik terjadi,"

Melalui beberapa pendapat di atas, potensi perpecahan menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan di NKRI pada tahun 2016-2017. Meskipun SARA bukan satu-satunya faktor dalam konflik sosial yang berujung pada perpecahan, isu ini menjadi salah satu isu yang paling diperhatikan pemerintah terutama paska Pilkada DKI Jakarta 2017. Akibatnya, wajah politik Indonesia juga terkena dampak dari isu

tersebut, Pemerintah merilis data tentang pencapaian pemerintah selama 3 tahun terakhir, salah satunya di bidang politik. Berdasarkan data dari Kantor Staf Presiden, Indeks Demokrasi Indonesia menurun. Pada data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis 19 Oktober 2017, terlihat adanya penurunan Indeks Demokrasi Indonesia sejak 2015. Pada 2015, indeks tersebut berada di angka 73,04% dengan target di angka 65. Pada 2016, indeks kembali menurun ke angka 72,82% dengan target 68%. Tahun 2017, Indeks Demokrasi Indonesia kembali turun ke angka 70,09% dengan target di angka 70%. Pemerintah menargetkan angka 72% pada 2018 dan 75 pada 2019. Mendagri Tjahjo Kumolo juga memaparkan bahwa;

"Soal indeks demokrasi. Tolok ukurnya tidak bisa kita lihat menyeluruh. yang turun itu DKI dan Sumatera barat. Karena isu SARA dan hoax.”

Tidak hanya sampai di situ, kritik terhadap pluralisme di Indonesia juga disampaikan oleh dunia Internasional. Dalam jurnal berjudul Indonesia: Pluralism in Peril, the rise of religious intolerance across the archipelago yang dirilis oleh Christian Solidarity Worldwide (CSW) pada tahun 2014, terdapat beberapa bahasan mengenai toleransi beragama di Indonesia, khususnya atas kekerasan terhadap penganut agama Kristen dan perusakan yang terjadi pada gereja - gereja di Indonesia. Salah satu kritik disampaikan oleh Dr. Dewi Fortuna Anwar yang merupakan penasihat senior Wakil Presiden Indonesia kala itu adalah;

“The police are fairly small and weak, and have sometimes been victims of violence themselves”. Since becoming a democracy, “The military has been taken out of the internal security system, and the responsibility is in the hands of the police.” In many areas, police presence is low. “We need to improve capacity and coordination.”

Pendapat lain dalam jurnal ini juga disampaikan oleh HKBP Filadelfia Bekasi, Palta Panjaitan, beliau mengatakan;

“The majority of Indonesians are tolerant –but they are passive, they don’t do anything. And the government is afraid of the radicals. The radicals are a minority, but they are very loud, and the government does not do anything.”

Masih dalam jurnal yang sama, Dr. Dewi Fortuna Anwar menyampaikan bahwa Komunitas internasional harus terus memainkan peran penting dalam memberdayakan dan mengingatkan Indonesia tentang dimana pijakannya berada, dan tidak mengkhianati konsensus tersebut (Pancasila). Kembali mengenai isu perpecahan di Indonesia, meskipun banyak kategori konflik sosial yang terjadi mulai dari bentrokan antar warga, pembebasan lahan sampai dengan isu SARA, isu SARA menjadi yang paling sering muncul ke permukaan berdasarkan pengamatan peneliti pada tahun 2017. Sebagian upaya pemerintah juga telah dipaparkan sebelumnya, mulai dari mediasi antar kelompok hingga menawarkan beberapa opsi yang merujuk pada persatuan. Sebagai pemerintahan yang berdaulat, Presiden dibantu oleh para Menteri sampai pada tingkat daerah sudah seharusnya melindungi segenap bangsa Indonesia dan menjaga keutuhan NKRI sebagaimana tertuang dalam UUD 1945. Upaya-upaya untuk menjaga kesatuan NKRI dan menyebarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika tentu bukan hanya diemban oleh pemerintah saja, sebagai pemuda yang menjadi bagian dari masyarakat juga dirasa perlu berkontribusi untuk melestarikan keutuhan bangsa ini, dengan bantuan pemerintah sebagai negara yang mengakomodir kebutuhan rakyatnya.

Salah satunya adalah Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Kemenpora memiliki 4 deputi yang masing masing menangani pembudayaan olahraga, peningkatan prestasi olahraga, pemberdayaan pemuda dan pengembangan pemuda. Seperti yang telah dituliskan pada awal bab bahwa 62.8 juta penduduk Indonesia berada di golongan pemuda, menurut Undang-undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, pemuda adalah mereka yang berada di usia

16-31 tahun, yang mana masuk pula ke dalam usia produktif Indonesia menurut BPS, yakni 15-64 tahun. Dengan sedemikian banyak jumlah pemuda di Indonesia, masa depan bangsa ini berpijak pada mereka yang berada di usia pemuda dan produktif. Sebagai salah satu Kementerian yang menunjang visi dan misi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mempunyai program-program prioritas pada setiap deputi. Deputi pembudayaan olahraga mempunyai program prioritas gala desa, deputi peningkatan prestasi olahraga berprioritas pada perolehan medali seagames dan paragames, deputi pengembangan pemuda mempunyai program prioritas jambore pemuda indoensia dan deputi pemberdayaan pemuda memiliki program prioritas yakni kirab pemuda, yang dirancang berlandaskan isu perpecahan yang sedang hangat di Indonesia. Program tersebut bertajuk Kirab Pemuda, sebuah duplikasi dari program Kirab Remaja yang diselenggarakan pada masa Pemerintahan Soeharto. Program Nasional ini merupakan program distribusi langsung dari Pemerintahan Joko Widodo kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia untuk dilaksanakan dalam rangka menyalurkan semangat pemuda dalam

menjaga keutuhan NKRI dan menyebarkan semangat Bhinneka Tunggal Ika ke seluruh Indonesia.

Merujuk kepada Petunjuk Pelaksanaan Kirab Pemuda, Kirab Pemuda adalah pawai (perjalanan napak tilas) kebhinekaan dalam mendirikan dan membangun NKRI, yang dilaksanakan oleh WNI berusia 16-30 tahun (Undang-undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan), dengan melintasi seluruh provinsi di Indonesia. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang dikemas dengan kekinian, kreatif, patriotik, gembira, massal, kompetitif, dan tak terlupakan. Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana tepat untuk memfasilitasi para pemuda agar dapat meningkatkan kreativitas, kapasitas, kemandirian, daya saing, dan nilai patriotisme, sehingga dapat membangkitkan semangat nasionalisme untuk membangun bangsa, menjaga kebhinnekaan, persatuan dan kedaulatan NKRI.

Tujuan dari dilaksanakannya program Kirab Pemuda adalah untuk meningkatkan persatuan pemuda dengan tingginya penghormatan tehadap kebhinekaan, menjadikan kreativitas sebagai solusi terhadap penyikapan atas kebhinekaan untuk memperkokoh persatuan dan kemajuan bangsa, menjadikan semangat patriotisme sebagai cara meningkatkan kecintaan pemuda terhadap NKRI. Adapun sasaran dari kegiatan ini ialah pemuda baik perorangan maupun perwakilan dari organisasi, komunitas, dan pelajar/mahasiswa di setiap daerah (provinsi) yang mengikuti kegiatan Kirab Pemuda 2017.

Setiap peserta diseleksi dengan tahap pengajuan nama nama pemuda oleh dispora di tingkat provinsi. Setelah itu dilakukan seleksi administratif dan kemudian

langsung. Para peserta berjumlah 72 orang yang masing masing diwakili oleh satu orang perempuan dan satu orang laki-laki dari setiap provinsi. Titik awal keberangkatan dimulai di Jakarta dengan pembekalan peserta terlebih dahulu selama 3 hari. Pemuda dibagi menjadi 2 grup yang masing masing akan melakukan perjalanan dengan zona yang berbeda, zona 1 merupakan daerah daerah di Indonesia bagian utara ke barat dan zona 2 melintasi Indonesia bagian selatan ke

Dokumen terkait