• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Manfaat Penelitian

2.1.3 Strategi Pemerintahan

Strategi Pemerintahan menurut model Moore (1995) dalam Suwarsono (2012 : 71) adalah strategi pemerintah proporsional. Strategi pemerintahan model Moore mempublikasikan bukunya yang fenomenal dengan judul Creating Public Value: Strategic Management in Government. Sesuai dengan judul pokoknya, model ini lebih dikenal sebagai mazhab public value (PV), sekalipun sesungguhnya embrio ide tentang PV sudah dimulai dikenal beberapa tahun sebelumnya, kurang lebih akhir dasawarsa 1980-an.

Berdasarkan pada proposisi adanya keperluan untuk belajar pada organisasi bisnis dan mengimpor apa yang mungkin diperlukan oleh organisasi public untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi, Moore mulai membangun kerangka konsep tentang mazhab PV. Untuk sekedar diketahui saja bahwa pada tulisan lain yang ditulis pada masa yang lumayan jauh hampir sepuluh tahun sesudah karya monumental dan

klasiknya itu. Moore dan Khagram (2004) juga melihat ada hubungan yang sebaliknya. Organisasi bisnis perlu juga belajar teori dan praktik pada manajemen organisasi public ketika kini eksistensi dan operasi organisasi bisnis lebih memerlukan legitimasi politik dan sosial.

Mazhab PV dimulai dengan terlebih dahulu memberikan makna baru peran manajer publik, kemudian menerjemahkannya dalam komponen yang lebih rinci. Moore, pada mulanya, mengusulkan bahwa ada cara yang lebih tepat untuk merumuskan apa itu peran manajer organisasi pemerintahan, yakni:

“… one that is closer (but by no means identical) to the image society has of managers in the private sector. In this view public managers are seen as explorers who, with others, seek to discover, define, and produce value. Instead of simply devising the means for achieving mandated purposes, they become important agents in helping to discover and define what will be valuable to do. Instead of being responsible only for guaranteeing continuity, they become important innovators in changing what public

organizations do and how they do it”.

Sederhananya, manajer publik merupakan manajer strategi, bukan sekadar teknisi. Agar peran strategis manajer publik itu tidak berhenti sekadar sebagai wacana belaka, konsep pokok itu diterjemahkan lebih lanjut ke dalam tiga komponen sebagai penguji efektivitas, yang implementasinya;

“… whether the purpose is publicly valuable, whether it will be politically

and legally supported, and it is administratively and operasionally

Komponen pertama yang disebutnya sebagai public value outcomes menunjuk pada elemen baru dalam manajemen publik yang membedakannya dengan administrasi publik klasik. Komponen kedua memiliki karakter lebih politik, yang berhubungan dengan legitimasi eksistensial organisasi yang berasal dari lingkungan di sekitarnya, yang disebutnya sebagai the authorizing environment. Komponen ketiga yang disebutnya sebagai kapasitas operasional organisasi (operational capacity) memiliki karakter lebih sebagai manajemen. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut merupakan perpaduan antara sisi politik dan sisi manajemen. Ketiga komponen itulah yang disebut sebagai segitiga strategis (strategic triangle), yang secara visual dapat dilihat pada gambar di bawah.

Manajemen publik harus membawa ketiga komponen segitiga strategis itu berada dalam satu irama yang padu, tidak boleh ada salah satu unsur atau lebih menjadi pembentuk nada sumbang dalam bahasa yang digunakan oleh Moore. Lebih lanjut dan selaras mengenai segitiga strategis dalam anzhog edu “What is Public Value”, segitiga strategis dapat dijelaskan sebagai berikut;

Gambar 2.1

Strategic Triangle

Sumber: Moore (1995)

1. Public value outcome (Menciptakan nilai publik)

Dasar pemikiran bahwa jika peran sektor swasta adalah menciptakan nilai swasta, kemudian berarti bahwa sektor publik harus menciptakann nilai publik. Dalam perusahaan swasta, manajer diharapkan memiliki ide tentang bagaimana menciptakan nilai untuk organisasi mereka. Rencana untuk menentukan nilai publik membentuk tingkat pertama dari apa yang disebut segitiga strategis, alat manajemen strategis dimana manajer sektor publik dapat mengecek tingkat mana mereka dilibatkan dalam aktivitas yang dapat bernilai, disahkan dan dapat dilaksanakan. Singkatnya, manajer publik harus mengetahui apakah sebuah program perlu dilaksanakan atau tidak. Tingkat ini berkaitan erat dengan tujuan, maksud, misi dan target dari sebuah program.

2. The authorizing environment (Legitimasi dan dukungan lingkungan) Kedua adalah bagaimana seorang manajer publik memperoleh legitimasi dan dukungan. Setelah memutuskan nilai publik, kebutuhan berikutnya adalah untuk memiliki pengesahan dari lingkungan yang terdiri dari para pengambil keputusan dan dukungan dari mitra lain di luar organisasi. Singkatnya manajer publik harus mengetahui apakah sebuah program dapat dijalankan atau tidak. Tingkat ini berkaitan erat dengan persetujuan dan dukungan.

Public Value Outcomes The Authorizing Environment Operational Capacity

3. Operational capacitiy (Kapasitas operasional)

Tingkat ketiga adalah manajer publik harus memastikan dia memiliki cukup kapasitas operasional untuk melaksanakan rencana atau program yang telah disahkan. Manajer publik harus mengetahui batas organisasi mereka sendiri karena semakin besar kapasitas operasional yang dimiliki akan mampu memperbesar nilai atau manfaat kepada sasaran. Manajer publik harus mengetahui apakah organisasi mampu melaksanakan program atau rencana tersebut. Tingkat ini berkaitan dengan pegawai, kemampuan pegawai, teknologi, dan infrastuktur.

Tidak ada manfaatnya jika manajer tidak mampu mengendalikan ketiganya. Setidaknya hanya akan menghasilkan kinerja yang kurang optimal. Hal yang dibutuhkan bukanlah mengelola salah satu atau hanya sebagian dari ketiga elemen tersebut. Kepemilikan pada ketiganya merupakan sebuah keharusan, bukan pilihan yang dapat ditawar atau dinegosiasikan.

Ketika organisasi bisa memastikan nilai publik yang hendak dihasilkan, rumusan itu hanya akan berhenti sebagai rencana ketika tidak mendapatkan dukungan politik yang memadai, apalagi jika ternyata organisasi tidak memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk mengeksekusinya. Demikian pula jika terjadi sebaliknya. Ketika manajemen berhasil menggalang dukungan politik dan di saat yang sama juga membangun kompetensi, hasil yang optimal tidak akan dicapai jika tidak mengetahui dengan pasti makna esensial yang hendak dihasilkan. Jika kompetensi tidak dimiliki, sementara dua komponen yang lain dapat diraih, organisasi hanya akan bekerja dengan kinerja untuk kurun waktu yang relative pendek. Rumusan tujuan eksistensial, manajemen politik, (poitical management), dan manajemen operasional (operational

management) merupakan tiga kaki segitiga penopang berdiri tegaknya bangunan. Jika salah satu kaki tidak tersedia, bangunan segitiga tidak akan berdiri tegak. Kalaulah dipaksakan, bangunan tidak akan bertahan lama, rentan terhadap guncangan badai, apalagi badai politik.

Perhatian tidak boleh hanya diarahkan hanya pada salah satu arah atau sebagian dimensi saja. Jika dibuat ringkas, konsep segitiga strategis, Moore akan menjadikan manajer organisasi publik memberikan;

“… attention outward, to the value of the organization’s production,

upward, toward the political definition of value, and downward and inward, to the organization’s current performance.” (perhatian ke luar, terhadap nilai produksi organisasi, ke atas, terhadap definisi nilai politik, dan ke bawah dan ke dalam, terhadap kinerja organisasi saat ini)

2.1.4Pluralisme

Dokumen terkait