Ilmu memiliki peran yang mulia, keutamaan yang agung dan kedudukan yang tinggi dalam kehidupan manusia. Sebagaimana dalam firman Allah SWT Al Quran Surat Al Mujaadilah ayat 11:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:
”berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu .Dan apabila dikatakan :”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang–orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat di atas memerintahkan kepada setiap muslim untuk menuntut ilmu atau belajar karena dengan belajar derajat seseorang akan dimuliakan. Belajar wajib bagi setiap muslim karena dengan ilmu kebutuhan jasmani dan rohani dapat terpenuhi sehingga kehidupannya menjadi mulia. Belajar juga menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh manusia pada umumnya.
Ilmu dalam hal ini tentu saja tidak hanya berupa pengetahuan agama tetapi juga berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan perkembangan zaman. Matematika merupakan salah satu ilmu dari
berbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Matematika juga merupakan salah satu kekuatan utama pembentuk konsepsi tentang alam, serta hakekat dan tujuan manusia dalam kehidupan, bahkan jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini, tergantung dari kemajuannya di bidang matematika dan IPTEK.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan cepat dan melimpah.
Mulai dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, dituntut Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan mampu berkompetisi secara global, sehingga diperlukan keterampilan yang tinggi, pemikiran yang kritis, sistematis, logis, kreatif dan kemauan bekerjasama. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui belajar matematika karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan kita terampil berpikir rasional .
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari siswa mulai jenjang pendidikan dasar. Bagi sebagian siswa matematika bukanlah mata pelajaran yang menyenangkan, bahkan ada yang menganggapnya sebagai pelajaran yang menakutkan. Selain itu, pembelajaran yang lebih didominasi oleh guru, dimana guru mengajar dengan menerangkan kemudian memberikan tugas sehingga membuat siswa tidak bersemangat, keaktifan siswa kurang, prestasi belajar siswa menjadi rendah, dan pembelajaran matematika menjadi menjenuhkan. .
Oleh karena itu, pembelajaran matematika harus dibuat menarik dan menyenangkan dengan menggunakan metode inovatif yang mudah dipahami siswa sehingga diharapkan siswa dapat menyukai pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika di sekolah dasar mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Pembelajaran matematika di sekolah merupakan pelajaran yang didalamnya mencakup penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Depdiknas (2006: 417) menyebutkan bahwa pembelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh: (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Hasil analisis ulangan harian yang peneliti lakukan diperoleh setidaknya lima hal yang mengakibatkan matematika dipandang sulit.
Pertama, pemahaman siswa tentang isi dan maksud soal relatif rendah.
Kedua, sebagian siswa tidak bisa mengenali jawaban atau dengan kata lain siswa tidak tahu harus mulai dari mana untuk menemukan jawabannya. Ketiga, siswa terkadang lupa dengan aturan-aturan atau syarat-syarat yang tidak matematis, rumus-rumus dan terkadang terjebak dengan syarat-syarat yang tidak boleh dan harus dipenuhi oleh suatu penyederhanaan kalimat metamatika atau suatu persamaan. Keempat, seringnya terjadi kesalahan kalkulasi dalam jawaban siswa yang tentunya mempengaruhi hasil akhir jawaban. Kelima, ada kecendrungan siswa mengerjakan soal dengan satu cara saja, tidak kreatif dalam mencari cara baru.
Matematika berperan besar dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Di dalam mata pelajaran matematika banyak terdapat bahan kajian, salah satunya perkalian. Di Sekolah Dasar ( SD ) operasi hitung perkalian sudah diajarkan sejak kelas II, hal tersebut karena operasi hitung perkalian sebagai dasar yang dipakai pada operasi hitung selanjutnya dan pengembangan mata pelajaran matematika yang terdapat di kelas yang lebih tinggi. Kemampuan menghafal perkalian 0 sampai 10 sangat memudahkan anak agar terampil berhitung. Siswa menghafal di luar kepala dengan harapan berguna untuk memperkuat kecepatan dalam menyelesaikan masalah penghitungan perkalian mulai dari yang mudah
hingga yang sulit. Tentu saja, menghafal perkalian diluar kepala, bagi sebagian siswa merasa keberatan,namun tidak tertutup kemungkinan sebagian siswa sangat menekankan otak untuk menyimpan memori yang tidak disukainya.
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 3 Desember 2018 dengan guru dibeberapa sekolah terdapat beberapa kendala. Pertama, hasil belajar matematika siswa tergolong rendah. Kedua, banyak siswa yang belum menguasai konsep perkalian. Ketiga, metode pembelajaran yang digunakan guru belum berpusat pada siswa. Keempat, siswa kurang aktif dalam proses belajar. Kelima, guru tidak menggunakan media pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam menyampaikan konsep perkalian, para guru banyak yang menggunakan cara konvensional yaitu dengan memaksa anak untuk menghafal secara mencongak yaitu dengan melatih kecepatan siswa dalam membayangkan operasi hitungan.
Persoalan matematika yang sering dihadapi anak adalah seringkali anak kurang terampil menggunakan aritmatika. Walaupun mereka mampu, kebanyakan dari mereka kurang cepat dan tepat untuk membantu persoalan mengalikan angka. Peneliti memiliki pengalaman dalam membimbing anak dengan menyampaikan metode hitung perkalian angka dengan jari tangan. Di sinilah kewajiban seorang guru untuk menanamkan rasa senang terhadap materi pelajaran matematika tentang perkalian dengan memberi ransangan atau dorongan agar siswa menyenangi pelajaran matematika .
Salah satu materi yang diajarkan di sekolah dasar adalah operasi hitung perkalian yang merupakan dasar arimatika. Untuk menjelaskan konsep perkalian kepada siswa agar siswa lebih mudah memahami dan terampil menentukan hasil perkalian, sampai kini menjadi permasalahan.
Strategi mengajarkan siswa perkalian menggunakan arti perkalian, yaitu menjumlahkan berulang masih belum memaksimalkan keterampilan siswa untuk menentukan hasil–hasil perkalian secara cepat dan tepat .
Metode untuk berhitung saat ini telah berkembang, diantarnya dengan alat peraga yaitu sempoa dan jarimatika. Pada intinya semua metode adalah baik, semua anak-anak dapat mempelajari teknik-teknik yang ada. Saat ini salah satu metode untuk melatih keterampilan berhitung dalam pembelajaran matematika adalah pengajaran dengan teknik jarimatika. Jarimatika adalah teknik berhitung mudah dan menyenangkan dengan menggunakan jari-jari tangan (Peni 2008: 17).
Metode hitung dengan jari tangan bertujuan untuk membantu siswa dalam mengoprasikan aritmatika terutama dalam berhitung dengan menggunakan konsep perkalian.
Teknik Jarimatika dapat digunakan oleh siapapun, bukan hanya guru tetapi orang tua juga dapat menggunakannya dalam pembelajaran di rumah. Atas peran guru, orangtua, dan tentunya nilai dari siswa, teknik jarimatika ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa pada mata pelajaran matematika, terutama dalam berhitung
perkalian. Sejauhmana keefektifan metode jarimatika menarik untuk diteliti.
Dalam kaitannya dengan operasi hitung perkalian pada pembelajaran matematika, metode lain yang digunakan adalah metode penemuan atau yang biasa dikenal dengan metode Inquiry. Inqury dalam bahasa Indonesia berarti penemuan. Menurut Sund (dalam Suryobroto, 2002: 193) dinyatakan bahwa metode penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip.
Proses mental tersebut misalnya: mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Yang dimaksud konsep misalnya: segitiga, demokrasi, panas, energi, dan sebagainya. Sementara prinsip misalnya: logam apabila dipanasi mengembang, lingkungan berpengaruh terhadap kehidupan organisme.
Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing menekankan pada pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan penyelidikan, menemukan konsep dan kemudian menerapkan konsep yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan kegiatan belajar yang berorientasi pada keterampilan proses menekankan pada pengalaman belajar langsung, keterlibatan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk berpikir kritis, menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan konsep atau prinsip umum berdasarkan bahan/data yang telah disediakan
guru. Dalam menerapkan model pembelajaran penemuan terbimbing, guru hendaknya mampu merumuskan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kompetensi dasar yang dimiliki siswa.
Metode jarimatika salah satu cara berhitung yang menggunakan alat bantu jari tangan. Dengan metode ini, siswa dilatih untuk mengetahui konsep perkalian dasar. Keterlibatan siswa untuk memperagakan jarimatika dapat membuat pembelajaran semakin bermakna. Siswa dapat menggunakan jari tangannya untuk menyelesaikan permasalahan berhitung berdasarkan aturan formasi tangan dengan penyelesaian jarimatika. Media jarimatika ini selain fleksibel juga tidak memberatkan memori otak anak dalam proses berhitung, menunjukkan tingkat keakuratan yang tinggi (Prasetyo, 2008: 28). Kemudahan penggunaan media jarimatika berdampak pada kecepatan dan ketepatan dalam berhitung. Penerapan media ini pada pembelajaran matematika akan lebih berkesan dan menarik sehingga membangkitkan minat belajar siswa Tentu saja hal ini akan sangat membantu siswa dalam menguasai keterampilan berhitung perkalian, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sejalan dengan penelitian Nasution dan Surya (2016) bahwa penerapan teknik jarimatika dapat meningkatkan kemampuan operasi hitung perkalian. Selanjutnya menurut Manik dan Mukhtar (2017) metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan kemampuan pemahaman
konsep matematika siswa. Menurut Darminto (2013) bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal meningkatkan keterampilan pemecahan masalah.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan metode jarimatika dan metode penemuan pada pembelajaran operasi perkalian dengan memperhatikan kemampuan berhitung dan pemecahan masalah di sekolah dasar.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut :
1. Masih rendahnya keterampilan berhitung perkalian siswa di Sekolah Dasar.
2. Masih kurangnya sosialisasi tentang pembelajaran berhitung matematika menggunakan metode berhitung dengan menggunakan alat bantu.
3. Rendahnya minat siswa belajar berhitung dalam hal ini bidang studi matematika.
4. Para siswa mengalami kesusahan dalam menghafal perkalian.
5. Metode Jarimatika belum dibiasakan dalam pembelajaran matematika 6. Masih kurang tenaga pendidik yang menguasai metode Jarimatika di
Sekolah Dasar.
7. Penggunaan metode mengajar yang digunakan guru selama ini dianggap belum mampu dalam mengatasi kesulitan siswa di Sekolah Dasar pada mata pelajaran matematika dengan materi perkalian.