• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumber daya yang paling strategis, signifikan pada organisasi serta menjadi faktor utama penentu keuntungan kompetitif berkelanjutan dan kinerja organisasi adalah sumber daya pengetahuan (Agarwal & Marouf, 2014). Sedangkan Knowledge Management (KM) dapat diartikan sebagai sebuah tindakan sistematis untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan mendistribusikan segenap jejak pengetahuan yang relevan kepada setiap anggota organisasi tersebut, dengan tujuan meningkatkan daya saing organisasi (Wulantika, 2012).

Konsep KM mencoba menggabungkan dua kekuatan besar, yaitu Knowledge dan Management dengan mengelola semua sumber daya (resource) yang ada dalam perusahaan sehingga mudah untuk disimpan, diperoleh kembali, serta didistribusikan kepada orang yang tepat secara cepat sesuai kebutuhan (Sulaiman, 2015).

Selain pada sektor bisnis, KM juga dapat dimanfaatkan dalam sektor pendidikan. Dengan KM, peneliti dapat membantu institusi pendidikan dalam mengembangkan kemampuan tenaga pendidiknya maupun memberi kemudahan pada peserta didik dalam menjalankan kegiatan-kegiatan pada institusi pendidikan tersebut. Hal ini juga merupakan wujud dari keselarasan tujuan dan objektif dari perguruan tinggi dengan prinsip-prinsip KM.

2 Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan bahwa universitas dan perguruan tinggi memiliki peran utama yaitu memberikan pengetahuan (Agarwal & Marouf, 2014).

Knowledge Management System (KMS) merupakan penerapan KM dengan bantuan teknologi. KMS membantu perkembangan organisasi menjadi sebuah organisasi pembelajaran. Knowledge ini harus dikelola (managed), harus direncanakan dan diimplementasikan. Perubahan yang terjadi di dalam dan di luar organisasi mengharuskan organisasi untuk terus menerus belajar dan beradaptasi, agar dapat mengikuti perubahan atau berada di depan perubahan tersebut agar dapat tetap mempertahankan diri dan tidak tertinggal dalam gejolak perubahan (Sulaiman, 2015).

KMS sangatlah penting bagi suatu institusi pendidikan, hal ini telah sering dibahas pada berbagai jurnal. KMS sangat penting untuk diimplementasikan di suatu organisasi atau perusahaan karena dapat meningkatkan pengetahuan bagi karyawan secara akurat dan merata. Hal ini disebabkan karena karyawan mendapat knowledge dari sumber KMS yang sama.

Semakin meningkatnya kesadaran organisasi ataupun perusahan mengenai pentingnya pengelolaan pengetahuan, jumlah penelitian mengenai KMS pun semakin meningkat. Moriza Husna (2019) melakukan penelitian Rancang Bangun Knowledge Management System Materi Kuliah Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi (Studi Kasus Perguruan Tinggi Negeri Se-DKI Jakarta). Penelitian ini dilatar belakangi dengan dibukanya pasar

3 perdagangan bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), semakin meningkatkan persaingan kerja yang dihadapi lulusan sistem informasi. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa dengan cara saling berbagi pengetahuan mahasiswa sistem informasi tanpa mengenal perbedaan universitas. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan KMS materi kuliah mahasiswa sistem informasi yang memberikan layanan sharing pengetahuan yang mudah diakses oleh mahasiswa secara efektif dan efisien. Hasil penelitian ini adalah Knowledge Management System materi perkuliahan mahasiswa sistem informasi antar perguruan tinggi negeri di DKI Jakarta, yang dapat mendistribusikan baik pengetahuan tacit, maupun eksplisit di antara mahasiswa.

Safira Aulia Fadhillah (2020) juga melakukan penelitian mengenai KMS dengan judul penelitian Rancang Bangun Knowledge Management System Berbasis Web untuk Meningkatkan Kinerja Pegawai (Studi Kasus: PT. Syarfi Teknologi Finansial). Penelitian ini dilatar belakangi tidak terkelolanya knowledge perusahaan. Knowledge tersebut masih tersimpan di masing-masing karyawan sehingga sering terjadinya brain dain (kehilangan pengetahuan). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah sistem sharing informasi aktivitas perusahaan dengan merancang KMS untuk membantu karyawan dalam meningkatkan pengetahuan karyawan, sehingga knowledge yang dimiliki karyawan dapat bertambah dan kinerja karyawan menjadi meningkat. Hasil dari penelitian ini adalah rancang bangun sebuah sistem yang membantu karyawan dalam mendapatkan

4 knowledge, memudahkan sharing knowledge antar karyawan, sehingga meningkatkan kualitas kinerja karyawan.

Fryonanda, Rusli, & Rany (2018) melakukan penelitian Perancangan Knowledge Center untuk Mahasiswa pada Kalbis Institute berbasis Website. Penelitian ini dilatar belakangi permasalahan menelusuri atau mencari pengetahuan yang sudah ada untuk dikembangkan menjadi pengetahuan baru (riset) atau hanya sebatas transfer pengetahuan. Dimana mahasiswa kesulitan dalam berkomunikasi kepada sesama civitas Kalbis Institute yang berbeda tingkat ataupun strata (sarjana dan pascasarjana). Seiring berjalannya penelitian, pengetahuan akan hilang ketika pemilik pengetahuan berhenti. Penelitian ini bertujuan menunjang kegiatan riset dengan efektif dan efisien. Hasilnya, dengan KMS yang dibangun, pengetahuan yang ada di Kalbis Institute dapat ditemukan, ditransfer, dikelola sehingga dapat menciptakan bentuk pengetahuan baru. Anggota di Kalbis Institute dapat berdiskusi, berbagi, dan mencari pengetahuan.

Penelitian lainnya, Yuni Sugiarti (2014)melakukan penelitian Berbagi Bahan Belajar Online untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogis dan Profesional Dosen. Penelitian ini dilatar belakangi dengan masih banyaknya dosen yang merasa kesulitan membuat bahan ajar pada mata kuliah yang diampu. Penyebabnya diantaranya, karena tidak linier dengan keilmuannya. Kondisi tersebut diperparah dengan seringnya berganti mata kuliah yang diampunya dalam setiap semester serta kurang meratanya kompetensi pendagogis dan profesional dosen. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui

5 kompetensi dosen dalam rangka merancang sharing bahan belajar online untuk meningkatkan kompetensinya, khususnya kompetensi pedagogik dan profesional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosen masih kurang menguasai kompetensi pedagogik terutama aspek menguasai teori belajar dan prinsip pembelajaran, kompetensi profesional terutama aspek kurang menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan. Kompetensi yang termasuk kategori cukup adalah aspek mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diajarkan kepada anak didik, menyelenggarakan kegiatan yang mendidik, memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi, serta aspek tindakan reflektif.

Selain itu, Sugiarti dan Sulaeman (2015) juga melakukan penelitian Rancang Bangun Knowledge Management System Bahan Ajar Online dalam Meningkatkan Kompetensi Guru MTs Negeri 2 Pamulang yang dilatar belakangi dengan masih banyaknya guru yang mengajar merasa kesulitan membuat bahan ajar mata pelajaran yang diampu. Disebabkan seringnya berganti mata pelajaran yang diampunya. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan Knowledge Management System bahan ajar dalam meningkatkan kompetensi guru MTs negeri 2 Pamulang. Hasil penelitian ini para guru MTs bisa memanfaatkan website sistem pembelajaran, melalui sharing knowledge sebagai sumber belajar untuk meningkatkan kompetensi guru yang mudah di pahami. Khususnya peningkatan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional bagi guru MTs. Selain itu, hasil penelitian ini

6 dapat menjadi model penerapan Knowledge Management System dalam sistem pembelajaran untuk MTs.

KMS dapat menyelesaikan beberapa masalah yang kerap terjadi dalam penyebaran knowledge, seperti terdapat kesenjangan pengetahuan antara guru senior dan guru muda(Dirgantoro, 2014). Permasalahan lainnya adalah sistem training atau workshop tidak memiliki media penyimpanan dan tidak adanya perpindahan knowledge training sehingga mengakibatkan guru yang tidak mengikuti training tidak mengetahui hasil training tersebut (Mardhotillah, 2011). Dalam menyelsaiakan masalah ini, KMS bisa dijadikan sarana berbagi bahan ajar antar guru. Setiap guru memiliki akun pribadi dan guru dapat mengunggah materi pembelajaran ke situs web, mengunggah pertanyaan tes, soal ujian, memvariasikan soal ujian yang akan dikeluarkan selama ujian, dan berdiskusi di forum dengan guru lainnya (Sugiarti & Kumaladewi, 2017).

Kenyataannya masih banyak dosen yang merasa kesulitan membuat bahan ajar pada mata kuliah yang diampu. Penyebabnya diantaranya, karena tidak linier dengan keilmuannya. Kondisi tersebut diperparah dengan seringnya berganti mata kuliah yang diampunya dalam setiap semester (Sugiarti, 2014).

Permasalahan mengenai penyebaran knowledge juga dapat terjadi pada prosedur pelayanan akademik di institusi pendidikan. Akademik adalah seluruh lembaga pendidikan formal baik pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikann menengah, pendidikan kejuruan, maupun

7 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam suatu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu (Subhansyah, 2011). Sehingga pelayanan akademik dapat disimpulkan sebagai segala jenis layanan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akademik dan prosedur pelayanan akademik adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan pelayanan akademik tersebut.

Permasalahan pada pelayanan akademik di universitas atau perguruan tinggi yang biasa terjadi adalah sulitnya mahasiswa untuk mendapat informasi mengenai prosedur dari layanan akademik tertentu, dan lambatnya informasi yang disampaikan apabila terjadi pembaruan pada salah satu atau seluruh layanan akademik. Terkadang mahasiswa harus mendatangi langsung tempat pelayanan akademik universitas untuk mendapat informasi-informasi tertentu dan langkah-langkah untuk mendapatkan pelayanan tertentu atau bertanya kepada mahasiswa lain yang telah mengetahui informasi tersebut. Sehingga hal ini mengakibatkan tidak meratanya penyebaran pengetahuan atau informasi tentang prosedur pelayanan akademik pada seluruh mahasiswa.

Berdasarkan permasalahan pada studi literatur yang telah disebutkan, permasalahan tersebut juga terjadi pada Universtias Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta), khususnya pada Program Studi Sistem Informasi. Yaitu permasalahan pada sulitnya dosen dalam membuat bahan ajar pada mata kuliah tertentu, sulitnya mahasiswa dalam mendapat bahan

8 bacaan yang mendukung dan relevan dengan materi kuliah tertentu, tidak meratanya penyebaran knowledge mengenai prosedur pelayanan akademik Program Studi Sistem Informasi, serta tidak adanya tempat mencari solusi bagi mahasiswa maupun dosen mengenai permasalahan-permasalahan dalam proses perkuliahan maupun pelayanan akademik program studi.

Oleh karena itu, Program Studi Sistem Informasi pada UIN Jakarta membutuhkan KMS untuk dapat mengelola pengetahuan yang ada, agar pengetahuan-pengetahuan terdahulu maupun pengetahuan terkini mengenai aktivitas perkuliahan dapat tersimpan dan dapat digunakan, serta dapat menjadi tempat untuk berdiskusi serta memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi, selain itu juga diharapkan dengan adanya KMS dapat meningkatkan kemudahan bagi dosen dan mahasiswa dalam meningkatkan kompetensi nya masing-masing.

Berdasarkan pada permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk menerapkan KMS pada Program Studi Sistem Informasi UIN Jakarta dalam membantu pihak program studi, dosen, maupun mahasiswa untuk dapat saling mengelola pengetahuan bersama mengenai materi kuliah atau bahan ajar, dapat menjadi tempat diskusi pengetahuan baik bagi dosen maupun mahasiswa terkait perkuliahan maupun prosedur pelayanan akademik program studi dan dapat dijadikan sebagai landasan untuk pemecahan permasalahan-permasalahan yang ada. Untuk itu dibuatlah “Rancang Bangun Knowledge Management System Sharing Materi Kuliah, Forum

9 Diskusi, dan Prosedur Pelayanan Akademik Program Studi Berbasis Android (Studi Kasus: Program Studi Sistem Informasi UIN Jakarta)”.

Dokumen terkait