BAB VI BELANJA PEMERINTAH DAN PEMBIAYAAN
C. Belanja Pemerintah Menurut Jenis
8. Belanja Lain-lain
II Belanja Untuk Daerah II Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus &
Penyesuaian
2. Dana Otonomi Khusus & Penyesuaian
C. Keseimbangan Primer C. Keseimbangan Primer D. Surplus/Defisit D. Surplus/Defisit
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA37
E.Pembiayaan E.Pembiayaan
Tabel 3 Format APBN 2008-2012
B. Siklus APBN
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA38
1. Tahap perencanaan APBN
Diawali dengan ketika Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal menyusun Rancangan APBN, yang terdiri dari:
a) anggaran pendapatan negara, b) anggaran belanja negara, dan c) pembiayaan.
Adapun besaran anggaran belanja negara didasarkan pada kapasitas fiskal yang dapat dihimpun oleh pemerintah. Dalam hal rencana belanja melebihi dari rencana pendapatan negara maka pemerintah dapat melampaui kapasitas fiskal dengan menjalankan anggaran defisit yang ditutup dengan pembiayaan. Besaran anggaran belanja negara dapat disesuaikan dengan perubahan kapasitas fiskal dan/atau perubahan pembiayaan anggaran sebagai akibat dari:
a) perubahan asumsi makro,
b) perubahan target pendapatan negara, c) perubahan prioritas belanja negara, dan/atau
d) penggunaan saldo anggaran lebih tahun-tahun sebelumnya.
Tabel 4 Asumsi Ekonomi Makro 2008-2014
Anggaran belanja negara disusun berdasarkan RKA-K/L (Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian dan Lembaga) dan Menteri Keuangan menetapkan pola pendanaan pembiayaan. RKA-K/L disusun untuk setiap Bagian Anggaran dan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran wajib
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA39
menyusun RKA-K/L atas Bagian Anggaran yang dikuasainya. Adapun penyusunan RKA-K/L menggunakan pendekatan:a) Kerangka pengeluaran jangka menengah b) Penganggaran terpadu
c) Pengganggaran berbasis kinerja
RKA-K/L disusun secara terstruktur dan dirinci menurut klasifikasi anggaran yaitu:
a) klasifikasi organisasi, b) klasifikasi fungsi, dan c) klasifikasi jenis belanja.
Sedangkan instrumen yang digunakan pada saat penyusunan RKA-K/L adalah:
a) indikator kinerja, b) standar biaya, dan c) evaluasi kinerja.
Penetapan indikator kinerja dilakukan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga setelah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan.
Adapun tahap penyusunan RKA-K/L terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Tahap 1
Kementerian Keuangan menyusun perkiraan kapasitas fiskal untuk penyusunan Pagu Indikatif tahun anggaran yang direncanakan, termasuk penyesuaian indikasi pagu anggaran jangka menengah paling lambat pertengahan bulan Februari. Pagu Indikatif disusun oleh Menteri Keuangan dan Menteri Perencanaan dengan memperhatikan kapasitas fiskal dan pemenuhan prioritas pembangunan nasional
Adapun pagu indikatif dirinci menurut unit organisasi, program, kegiatan, dan indikasi pendanaan untuk mendukung Arah Kebijakan yang telah ditetapkan oleh Presiden. Kemudian pagu indikatif berikut prioritas pembangunan nasional dituangkan pada rancangan awal RKP (Rencana Kerja Pemerintah) disampaikan kepada Kementerian/Lembaga dengan
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA40
surat yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan Menteri Perencanaan pada bulan Maret.Berdasarkan surat tersebut, Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun Renja-K/L. Renja-K/L disusun dengan pendekatan berbasis Kinerja, kerangka pengeluaran jangka menengah, dan pengganggaran terpadu yang memuat:
1) kebijakan, 2) program, dan 3) kegiatan.
Proses penyusunan Renja-K/L melibatkan 3 pihak yaitu Kementerian/Lembaga, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perencanaan. Kemudian, Renja-K/L tersebut diserahkan kepada Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan untuk bahan penyempurnaan rancangan awal RKP dan penyusunan rinci pagu menurut unit organisasi, fungsi, program, dan kegiatan sebagai bagian dari bahan pembicaraan pendahuluan Rancangan APBN
(2) Tahap 2
Pada tahap ini, Menteri Keuangan dalam rangka menyusun RKA-K/L menetapkan Pagu Anggaran K/L dengan berpedoman kapasitas fiskal, besaran Pagu Indikatif, Renja-K/L dan memperhatikan hasil evaluasi kinerja kementerian/lembaga.
Pagu Anggaran K/L menggambarkan Arah Kebijakan yang telah ditetapkan oleh Presiden dirinci paling sedikit menurut unit organisasi dan program. Pagu ini, harus disampaikan kepada kementerian/lembaga paling lambat akhir bulan Juni. Jadi, menteri/pimpinan lembaga dalam menyusun RKA-K/L berdasarkan:
a) pagu anggaran K/L, b) Renja-K/L,
c) RKP hasil kesepakatan Pemerintah dan DPR dalam pembicaraan pendahuluan Rancangan APBN, dan
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA41
Perlu diketahui, bahwa penyusunan RKA-K/L termasuk menampung usulan Inisiatif Baru(3) Tahap 3
RKA-K/L yang selesai disusun menjadi bahan penyusunan Rancangan UU APBN setelah selesai ditelaah dalam forum penelaahan antara kementerian/lembaga dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan. Apabila kementerian/lembaga melakukan pembahasan RKA-K/L dengan DPR dalam rangka pembicaraan pendahuluan rancangan APBN maka difokuskan pada konsultasi atas usulan Inisiatif Baru, sepanjang:
a) sesuai dengan RKP hasil kesepakatan pemerintah dan DPR dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN,
b) pencapaian sasaran kinerja kementerian/lembaga, dan c) tidak melampaui pagu anggaran K/L
Menteri Keuangan sebagai koordinator dalam penelaahan RKA-K/L dalam rangka penetapan pagu RKA-K/L yang bersifat final. Penelaahan tersebut dilakukan secara terintregasi, yang meliputi:
a) kelayakan anggaran terhadap sasaran kinerja yang direncanakan, dan b) konsistensi sasaran kinerja kementerian/lembaga dengan RKP.
Batas waktu penelaahan sampai denga akhir bulan Juli.
(4) Tahap 4
Pada tahap ini, Menteri Keuangan menghimpun RKA-K/L hasil penelaahan sebagai:
a) bahan penyusunan Nota Keuangan, Rancangan APBN, dan Rancangan Undang-Undang APBN, dan
b) dokumen pendukung pembahasan rancangan APBN.
Baik Nota Keuangan, Rancangan APBN maupun Rancangan UU APBN akan dibahas dalam Sidang Kabinet yang hasilnya akan disampaikan
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA42
oleh Pemerintah kepada DPR ada bulan Agustus untuk dilakukan pembahasan.2. Tahap penetapan UU APBN
Pada tahap penetapan, dilakukan pembahasan dengan DPR untuk ditetapkan menjadi Undang-Undang APBN selambat-lambatnya pada akhir bulan Oktober. Dokumen yang dibahas adalah: Nota Keuangan dan Rancangan APBN beserta Himpunan RKA-K/L. Proses penyelesaian tahap ini melalui beberapa tingkat pembicaraan, yaitu.
Tingkat I
Pada tingkat ini disampaikan keterangan atau penjelasan Pemerintah tentang Rancangan UU APBN. Pada kesempatan ini, Presiden menyampaikan Pidato Pengantar Rancangan UU APBN di depan Sidang Paripurna DPR.
Tingkat II
Dilakukan pandangan umum dalam Rapat Paripurna DPR dimana masing-masing Fraksi di DPR mengemukakan pendapatnya mengenai RUU APBN dan keterangan Pemerintah. Jawaban pemerintah atas pandangan umum tersebut biasanya diberikan oleh Menteri Keuangan.
Tingkat III
Pada tingkat ini dilakukan pembahasan dalam rapay komisi, rapat gabungan komisi atau rapat panitia khusus. Pembahasan dilakukan bersama-sama pemerintah yang diwakili oleh Menteri Keuangan
Tingkat IV
Pada tingkat ini dilakukan rapat paripurna DPR yang kedua. Pada rapat ini disampaikan laporan hasil pembicaraan pada tingkat III dan pendapat akhir dari masing-masing fraksi DPR. apabila ada dan dianggap perlu maka pendapat disertai catatan tentang pendirian fraksinya.
Setelah penyampaian pendirian akhir masing-masing fraksi selanjutnya dengan menggunakan hak budget yang dimiliki oleh DPR menyetujui RUU APBN. Setelah DPR menyetujui RUU APBN, pada kesempatan ini pula DPR mempersilakan Pemerintah diwakili oleh Menteri Keuangan untuk
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA43
menyampaikan sambutannya berkaitan dengan keputusan DPR tersebut. Sesuai dengan ketentuan yang ada, agar RUU APBN yang telah disetujui DPR dapat berlaku efektif maka Presiden mengesahkan RUU APBN itu menjadi UU APBN.3. Tahap pelaksanaan UU APBN
UU APBN yang disetujui DPR dan disahkan oleh Presiden disusun rinci sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja. Artinya, apabila terjadi pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, antar jenis belanja harus mendapat persetujuan DPR. Selanjutnya, UU APBN dituangkan lebih lanjut dengan Keputusan Presiden sebagai pedoman bagi kementerian negara/lembaga negara dalam melaksanakan anggaran.
Keputusan Presiden yang disusun memuat hal-hal yang belum dirinci di dalam UU APBN, seperti alokasi anggaran untuk kantor pusat dan kantor daerah kementerian/lembaga negara, pembayaran gaji dalam belanja pegawai, dan pembayaran untuk tunggakan yang menjadi beban kementerian/lembaga negara. Selain itu, penuangan tersebut juga meliputi alokasi dana perimbangan untuk provinsi/kabupaten/kota dan alokasi subsidi sesuai dengan keperluan perusahaan/badan yang menerima.
Berdasarkan Keputusan Presiden tentang rincian APBN sampai unit organisasi maka satuan kerja selaku institusi/unit organisasi terkecil menyampaikan konsep DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). DIPA yang berisi rencana penerimaan dan pengeluaran satuan kerja tersebut untuk satu anggaran. Pengajuan konsep DIPA selambat-lambatnya minggu pertama bulan Desember untuk memperoleh pengesahan. DIPA akan disahkan oleh Direktur Jenderal Anggaran bertindak atas nama Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Penyampaian DIPA oleh Kementerian/Lembaga yang memiliki BLU (Badan Layanan Umum) dilampiri dengan Rencana Bisnis dan Anggaran-BLU.
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA44
DIPA sekurang-kurangnya memuat sasaran yang hendak dicapai, pagu anggaran yang dialokasikan, dan fungsi program dan jenis belanja, lokasi kegiatan, kantor bayar, rencana penarikan dan penerimaan dana.4. Tahap pengawasan pelaksanaan UU APBN
Pengawasan pelaksanaan UU APBN dilakukan oleh internal pemerintah dan eksternal pemerintah. Lembaga pengawas internal pemerintah adalah Inspektorat Jenderal untuk lingkup masing-masing kementerian/lembaga dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk lingkup semua kementerian/lembaga. Sedangkan pengawas eksternal pemerintah adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Baik internal maupun eksternal pemerintah, secara prinsip akan mengadakan pemeriksaan/pemgawasan atas penerimaan, penyimpanan, pengeluaran, dan pembukuan uang, barang, piutang/kekayaan dan hutang negara.
Pemerintah, lebih lanjut pada tiap semester wajib membuat Laporan Semesteran. Laporan tersebut dicantumkan pula prospek keuangan untuk semester berikutnya. Hal ini bertujuan sebagai bentuk pemberitahuan kepada DPR agar DPR mengantisipasi kemungkinan adanya Anggaran Belanja Tambahan (ABT) untuk semester/tahun yang akan datang.
Selain itu,sebelum tahun anggaran berakhir, Pemerintah membuat laporan sementara pelaksanaan APBN tahun yang berjalan. Apabila ada dan dianggap perlu bersama-sama laporan tahunan sementara ini disertakan RUU APBN T/P (Tambahan dan Perubahanan) yang menggambarkan setiap perubahan rencana keuangan dari yang sudah disetujui DPR terdahulu. Namun, laporan ini bersifat sementara karena tahun anggaran masih belum berakhir, maka angka-angka yang tertera didalamnya masih mengandung perkiraan-perkiraan. Adapun prosedur pembicaraan RUU APBN T/P sama dengan prosedur RUU APBN.
5. Tahap pertanggungjawaban pelaksanaan APBN
Dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden menyampaikan RUU tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN berupa laporan keuangan yang disusun atas dasar realisasi yang sudah diaudit BPK. Laporan keuangan
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA45
tersebut disiapkan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah berakhirnya APBN tahun anggaran yang bersangkutan.Laporan keuangan tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, setidak-tidaknya terdiri atas Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan (dilampiri laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya)
Pada Laporan Realisasi Anggaran, tugas pemerintah adalah menyajikan realisasi pendapatan dan belanja negara serta menjelaskan prestasi kerja yang dicapai oleh masing-masing kementerian negara/lembaga. Laporan keuangan tersebut sesungguhnya merupakan upaya konkret dalam mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang disusun secara tepat waktu serta mengikuti standar akuntansi pemerintah yang telah diterima secara umum.
RANGKUMAN
1) APBN dalam satu tahun anggaran meliputi: hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih, kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih, dan penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali.
2) Sejak Tahun 2004, format APBN tidak lagi T-Account melainkan I-Account, di mana menerapkan anggaran defisit.
3) Siklus APBN: tahap perencanaan APBN, tahap penetapan UU APBN, tahap pelaksanaan UU APBN, tahap pengawasan atas pelaksanaan UU APBN, dan tahap pertanggungjawaban pelaksanaan UU APBN.
LATIHAN
1) Jelaskan perbedaan format APBN yang lama dengan yang baru. 2) Jelaskan siklus APBN yang diterapkan di pemerintah Indonesia
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA46
BAB IV PENDAPATAN NEGARA
Pendapatan negara merupakan komponen yang sangat penting dan strategis dalam struktur APBN mengingat peranannya sebagai sumber dari kapasitas fiskal Pemerintah, menekan defisit anggaran, dan pembiayaan belanja negara. Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, pendapatan negara terdiri atas penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan penerimaan hibah. Dalam struktur APBN, pendapatan negara terdiri atas pendapatan dalam negeri, yang terdiri atas penerimaan perpajakan dan PNBP, serta penerimaan hibah. Penerimaan perpajakan meliputi pendapatan pajak dalam negeri dan pendapatan pajak perdagangan internasional yang hingga saat ini merupakan sumber utama kapasitas fiskal Pemerintah.
Selain itu, kebijakan perpajakan juga berperan penting dalam pengelolaan ekonomi nasional. Pendapatan pajak dalam negeri berupa pendapatan pajak penghasilan (PPh), pendapatan pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pendapatan pajak bumi dan bangunan (PBB), pendapatan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), pendapatan cukai, dan pendapatan pajak lainnya.
Dari sudut regulasi, ketentuan yang mengatur pemungutan pajak dalam negeri (pajak-pajak pusat) adalah:
Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan pendapatan negara yang terdari dari penerimaan perpajakan dan hibah. Penerimaan pajak dapat bersumber dari migas dan nonmigas. Penerimaan negara dapat juga bersumber dari penerimaan negara bukan pajak. Sedangkan penerimaan yang tidak direncanakan disebut hibah.
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA47
a. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan(KUP) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU Nomor 28 Tahun 2007.
b. UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008.
c. UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan PPnBM sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU Nomor 42 Tahun 2009.
d. UU Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 19 Tahun 2000
e. UU Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2000
f. UU Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 12 Tahun 1994.
Selanjutnya, ketentuan yang mengatur pemungutan cukai adalah UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 39 Tahun 2007. Pendapatan pajak lainnya adalah pendapatan bea meterai, yang ketentuan pemungutannya menggunakan UU Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai. Pendapatan pajak perdagangan internasional terdiri atas pendapatan bea masuk dan pendapatan bea keluar, diatur dengan UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 17 Tahun 2006.
Terkait dengan pemungutan PBB dan BPHTB, sesuai dengan semangat otonomi daerah yang ditandai dengan berlakunya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 12 Tahun 2008, serta pemberlakuan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, Pemerintah melakukan revisi UU Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menjadi UU Nomor 28 Tahun 2009, di mana Pemerintah mengalihkan pendapatan BPHTB dan PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang sebelumnya adalah pendapatan pajak pusat menjadi pendapatan pajak daerah. BPHTB telah dialihkan pendapatannya
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA48
sejak tahun 2011 sedangkan pendapatan PBB sektor perdesaan dan perkotaan akan dialihkan seluruhnya pada tahun 2014 dengan masa peralihan yang dimulai sejak tahun 2012.Sementara itu, PNBP meliputi penerimaan sumber daya alam (SDA), pendapatan bagian laba BUMN, PNBP lainnya, dan pendapatan BLU. Ketentuan yang mengatur mengenai PNBP adalah UU Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, sedangkan pendapatan BLU diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara,dimana ketentuan pelaksanaannya diatur dalam PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU sebagaimana diubah dengan PP Nomor 74 Tahun 2012. Penerimaan hibah merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang diatur dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Kekayaan Negara dan UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, serta diatur ketentuan pelaksanaannya dalam PP Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah.
Besaran pendapatan negara dalam APBN terutama pendapatan dalam negeri (penerimaan perpajakan dan PNBP), sangat dipengaruhi oleh perkembangan kondisi perekonomian baik global maupun domestik. Beberapa indikator ekonomi makro yang mempunyai pengaruh kuat terhadap realisasi pendapatan dalam negeri antara lain adalah pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, inflasi, harga minyak mentah Indonesia (ICP), dan lifting migas. Selain itu, perkembangan pendapatan negara juga sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan kebijakan di bidang pendapatan negara yang secara umum bertujuan untuk mengoptimalkan pendapatan dalam negeri tanpa mengganggu iklim dunia investasi. Mengingat perkembangan dan dinamika pembangunan yang membutuhkan anggaran makin besar, maka pelaksanaan kebijakan optimalisasi penerimaan perlu senantiasa ditingkatkan.
A. PENDAPATAN
Secara garis besar dibagi 3 yaitu: (1) penerimaan perpajakan,
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA49
(3) hibah.Penerimaan perpajakan adalah pendapatan/penerimaan yang diterima oleh pemerintah yang bersumber dari pajak, bea dan cukai yang sepenuhnya dipergunakan untuk menutupi seluruh pengeluaran.
Kemudian yang disebut dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah Pendapatan/penerimaan yang diterima oleh pemerintah yang bersumber dari penerimaan lainnya (PNBP) yang tidak dapat dikategorikan kedalam penerimaan pajak yang sepenuhnya dipergunakan untuk menutupi seluruh pengeluaran. Sedangkan yang dimaksud dengan hibah adalah penerimaan yang diterima pemerintah baik berupa uang maupun barang modal yang sumbernya berasal dari dalam dan luar negeri atau dari hibah lainnya.
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA50
1. Penerimaan PerpajakanPenerimaan Perpajakan bersumber dari penerimaan Pajak Dalam Negeri dan Pajak Perdagangan Internasional. Penerimaan Pajak Dalam Negeri terdiri dari Pajak Penghasilan Migas dan Non Migas, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Cukai, dan Pajak Lainnya. Pajak Perdagangan Internasional terdiri dari Bea Masuk dan Pajak Ekspor.
1) Pajak Penghasilan Non Migas
Pemerintah menyadari bahwa penerimaan dari Pajak Penghasilan Migas tidak bisa diandalkan dalam waktu panjang, maka perlu ada usaha untuk meningkatkan peranan penerimaan dari Pajak Penghasilan Non Migas (selanjutnya akan ditulis sebagai Pajak Penghasilan). Untuk itu maka pada tahun 1984 pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang sangat mendasar, yaitu dengan dikeluarkannya tiga Undang–Undang di bidang perpajakan, yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diperbaharui terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983, sebagaimana telah diperbaharui terakhir kali dengan Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983, sebagaimana telah diperbaharui terakhir kali dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Impor atas Barang Mewah.
Ketiga Undang-undang Perpajakan yang baru tersebut selain mengubah sistem dan mekanisme pemungutan pajak juga mengubah cara pandang pengenaan pajak terhadap masyarakat, antara lain sebagai berikut:
a) pemungutan pajak merupakan perwujudan peran serta dan pengabdian masyarakat secara langsung terhadap pembangunan nasional;
b) Masyarakat diberi kepercayaan untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajaknya yang terutang (self assessment).
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA51
Obyek Pajak Penghasilan adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak selama tahun pajak. Penghasilan adalah tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang dikelompokkan dalam empat kelompok, yaitu:a) penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya;
b) penghasilan dari usaha dan kegiatan;
c) penghasilan dari modal yang berupa harta gerak ataupun harta tidak bergerak seperti bunga, deviden, sewa, keuntungan, penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha, dan sebagainya;
d) penghasilan lain-lain seperti pembebasan hutang, hadiah, dan sebagainya.
Selain hal-hal yang ditentukan sebagai obyek pajak ada juga yang ditentukan tidak termasuk obyek pajak, yaitu:
a) bantuan atau sumbangan;
b) harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, pemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
c) warisan;
d) harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh suatu badan sebagai pengganti saham atau pengganti penyertaan modal;
e) penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima dalam bentuk natural;
f) pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
STAN-2014
|
PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA52
g) deviden atau bagian laba yang diterima perseroan terbatas sebagai wajibpajak dalam negeri, koperasi, yayasan, atau organisasi yang sejenis, badan usaha milik negara/daerah dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia;
h) iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai, dan penghasilan dana pensiun tersebut dari modal yang ditanamkan dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan;
i) bagian laba yang diterima atau diperoleh dari anggota perseroan komanditer, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi;
j) bunga obligasi yang diterima perusahan reksadana;
k) penghasilan yang diterima oleh perusahaan modal ventura berupa bagian