• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 42-48)

BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN DI TINGKAT REGIONAL- 20

C. BELANJA PEMERINTAH PUSAT TINGKAT PROVINSI

Belanja pemerintah merupakan salah satu instrumen bagi pemerintah untuk melakukan stimulus fiskal, yaitu bagian dari kebijakan fiskal pemerintah yang ditujukan untuk mempengaruhi permintaan agregat yang selanjutnya diharapkan akan berpangaruh pada aktivitas perekonomian dalam jangka pendek. Pengeluaran (Belanja) pemerintah (government expenditures) berkontribusi sekitar 12,09% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 2018. Belanja pemerintah pusat meliputi belanja pemerintah pusat menurut organisasi, belanja pemerintah pusat menurut fungsi dan belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja.

1. Perkembangan Pagu dan Realisasi berdasarkan Organisasi (Bagian Anggaran/ Kementerian/ Lembaga)

Tabel 2.7 Pagu & Realisasi berdasarkan Bagian Anggaran (K/L) di Provinsi Jambi (dalam jutaan Rp)

Pagu Realisasi Pagu Realisasi Badan Pemeriksa Keuangan 18.116 17.828 18.576 18.273

Mahkamah Agung 129.274 122.667 126.196 125.475

Kejaksaan Republik Indonesia 75.122 71.109 106.747 90.985

Kementerian Dalam Negeri 610 581 984 923

Kementerian Pertahanan 353.545 337.407 385.731 377.015 Kementerian Hukum dan HAM 107.331 105.365 125.387 120.571

Kementerian Keuangan 94.758 89.107 99.636 93.237

Kementerian Pertanian 273.644 255.125 205.207 195.137

Kementerian Perindustrian 2.530 2.514 2.074 1.935

Kementerian Perhubungan 147.909 124.482 150.045 132.929 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 87.404 81.041 91.258 81.100

Kementerian Kesehatan 79.520 71.379 81.331 72.304

Kementerian Agama 1.237.165 1.159.193 1.210.749 1.120.789

Kementerian Ketenagakerjaan 5.085 5.002 4.887 4.849

Kementerian Sosial 20.701 19.889 27.378 23.101

Kementerian Lingk. Hidup & Kehutanan 132.283 118.163 179.976 164.291 Kementerian Kelautan dan Perikanan 33.616 32.279 48.876 34.959 Kementerian Pekerjaan Umum 1.622.856 1.604.052 1.673.144 1.555.024

Kementerian Pariwisata 1.247 1.223 2.326 2.268

Kementerian Riset, Teknologi dan Dikti 303.055 275.176 363.677 330.029 Kementerian Koperasi & Pengusaha KM 4.087 3.994 3.498 3.362

Kementerian PPPA 1.131 1.100 1.131 1.110

Badan Pusat Statistik 64.310 60.703 79.317 76.356

Kementerian Perencanaan Pemb Nas 592 442 931 647

Kementerian Agraria dan Tata Ruang 111.277 83.812 147.496 116.611 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 961 939 891 875 Kementerian Komunikasi dan Informatika 8.287 7.845 7.357 7.271 Kepolisian Negara Republik Indonesia 768.629 767.518 864.348 871.213 Badan Pengawas Obat dan Makanan 23.700 22.831 29.792 26.227

Badan Koordinasi Penanaman Modal 450 448 607 456

Badan Narkotika Nasional 10.952 9.258 10.838 9.878

Kementerian Desa, PDT & Transmigrasi 36.923 29.406 51.403 49.102

BKKBN 41.289 31.236 106.252 77.765

BMKG 6.813 6.661 9.356 8.806

Komisi Pemilihan Umum 99.651 75.528 275.939 248.868

Arsip Nasional Republik Indonesia 296 257 152 147

BPKP 19.127 19.022 21.260 21.069

Kementerian Perdagangan 27.010 20.241 20.082 7.989

Kementerian Pemuda dan Olah Raga 3.750 2.890 3.355 3.219

Badan SAR Nasional 14.411 13.492 13.716 13.277

Badan Pengawas Pemilu 41.422 36.035 132.099 117.490

LPP-RRI 10.223 8.277 14.269 12.764

LPP-TVRI 9.972 9.845 12.566 12.303

Bendahara Umum Negara 2.144.856 2.066.693 2.105.749 2.024.224 Jumlah 8.175.891 7.772.054 8.816.588 8.256.225

TA 2017

Kementerian/Lembaga TA 2018

Alokasi belanja pemerintah pusat, dalam hal ini adalah belanja K/L, pada APBN 2018 di Provinsi Jambi adalah Rp6,71 triliun naik tipis 2,8% dibandingkan alokasi tahun 2017. Dari sisi kinerja penyerapan, belanja K/L tahun 2018 terealisasi sebesar Rp6,23 triliun atau 92,8% dari alokasi anggarannya. Angka penyerapan tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 94,7%.

Pada tahun 2018, belanja pemerintah pusat di Provinsi Jambi dialokasikan pada 43 Kementerian/Lembaga (K/L). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendapat alokasi anggaran terbesar yaitu Rp1,67 triliun atau 26,7% dari total pagu K/L, lebih tinggi dibanding tahun 2017 sebesar Rp1,62 triliun (26,7%). Selanjutnya disusul oleh Kementerian Agama dengan pagu sebesar Rp1,21 triliun (18,04%), Kepolisian RI sebesar Rp864,3 miliar (12,88%), Kementerian Pertahanan sebesar Rp385,7 miliar (5,75%), Kemenristek & Dikti sebesar Rp363,6 miliar (5,42%), Kementerian Pertanian sebesar Rp205,2 miliar (3,06%) dan Kementerian Perhubungan Rp150,0 miliar (2,24%). Dengan demikian, total dari 7 (tujuh) K/L tersebut secara agregat porsi anggarannya sebesar 74,19% sehingga sisanya yaitu 25,81% terbagi ke-36 K/L lainnya (belum termasuk alokasi DAK Fisik dan Dana Desa sebesar Rp2,10 triliun).

Grafik 2.4 Capaian Realisasi 10 K/L dengan Pagu Terbesar Tahun 2018 (dalam jutaan Rp)

Sumber: Monev PA – DJPb 2018

Dari sisi penyerapan anggaran (grafik 2.4) untuk 3 dari 10 K/L dengan pagu terbesar, Kementerian PU mampu menyerap belanja sebesar 92,96%. Disusul selanjutnya oleh Kementerian Agama (92,6%) dan Kepolisian RI (100,86%). Namun terdapat juga K/L 10 besar tersebut yang penyerapannya di bawah 80%, yaitu: Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN hanya terserap 79,08%.

92,96% 92,6% 97,8% 90,8% 90,2% 95,2% 91,9% 88,7% 79,1% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% 400 800 1.200 1.600 2.000

PU Agama POLRI Pertahanan Ristek & Dikti

KPU Pertanian LHK Perhubungan ATR/BPN

Hal yang perlu menjadi perhatian adalah setiap proyek yang didanai APBN harus benar-benar diperhitungkan dan memberi dampak positif terhadap perekonomian daerah. Hal itu perlu dilakukan agar sejalan dengan kebijakan pemerintah pada belanja infrastuktur yang fokus belanjanya dapat memberikan efek multiplier terhadap pertumbuhan ekonomi. Sehingga laju pertumbuhan ekonomi yang positif dapat memberikan dampak nyata terhadap penghasilan masyarakat. Dengan demikian, tujuan pemerintah untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

2. Perkembangan Pagu dan Realisasi berdasarkan Fungsi

Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, khususnya Pasal 11 ayat (5) serta Putusan Mahkamah Konstitusi nomor: 35/PUU-XI/2013, diatur bahwa anggaran belanja pemerintah pusat dapat dikelompokkan menurut klasifikasi organisasi dan fungsi. Fungsi-fungsi tersebut antara lain fungsi pelayanan umum, fungsi pertahanan, fungsi ketertiban dan keamanan, fungsi ekonomi, fungsi lingkungan hidup, fungsi perumahan dan fasum, fungsi kesehatan, fungsi pariwisata dan budaya, fungsi agama, fungsi pendidikan dan fungsi perlindungan sosial.

Tabel 2.8 Pagu & Realisasi berdasarkan Fungsi di Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah)

Change Capaian

Pagu Realisasi Pagu Realisasi Pagu %

Pelayanan Umum 2.503.934 2.384.318 4.264.438 4.017.650 70,3% 94,2% Pertahanan 353.545 337.407 385.731 377.015 9,1% 97,7% Ketertiban Dan Keamanan 1.091.308 1.075.916 707.461 684.663 -35,2% 96,8%

Ekonomi 1.866.635 1.800.094 1.314.846 1.216.756 -29,6% 92,5%

Lingkungan Hidup 220.106 182.358 234.152 201.298 6,4% 86,0% Perumahan dan Fasilitas Umum 338.051 322.674 346.599 328.070 2,5% 94,7% Kesehatan 133.918 116.811 148.288 121.458 10,7% 81,9% Pariwisata dan Budaya 1.247 1.223 1.626 1.611 30,4% 99,1% Agama 176.957 158.906 101.392 98.511 -42,7% 97,2% Pendidikan 1.468.357 1.371.357 1.284.678 1.186.093 -12,5% 92,3% Perlindungan Sosial 21.832 20.989 27.378 23.101 25,4% 84,4% Jumlah 8.175.891 7.772.054 8.816.588 8.256.225 7,8% 93,6% Fungsi TA 2017 TA 2018 Sumber: Monev PA - DJPb (2018)

Dari sisi fungsi, terjadi pergeseran alokasi anggaran terutama fungsi pelayanan umum dan fungsi ekonomi. Pada tahun 2017 fungsi pelayanan umum memiliki alokasi terbesar dengan Rp2,5 triliun, diikuti fungsi ekonomi (Rp1,86 triliun), pendidikan (Rp1,47 triliun) dan ketertiban dan keamanan (Rp1,13 triliun). Pada 2018, fungsi pelayanan umum kembali menjadi fungsi dengan alokasi terbesar Rp4,2 triliun. Diikuti fungsi ekonomi (Rp1,21 triliun), pendidikan (Rp1,28 triliun)

dan ketertiban dan keamanan (Rp707,4 miliar). Meningkatnya alokasi fungsi pelayanan umum lebih disebabkan oleh adanya perubahan kebijakan penyaluran TKDD (khususnya DAK Fisik dan Dana Desa) TA 2018 berupa penambahan 8 (delapan) bidang baru yakni DAK Reguler Air Minum, Sanitasi, Pasar, Jalan, DAK Penugasan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, DAK Affirmasi Pendidikan, Air Minum dan Sanitasi sehingga alokasi fungsi pelayanan umum untuk Provinsi Jambi seolah-olah bertambah cukup drastis.

Berdasarkan komposisi pada Grafik 2.5 terlihat bahwa kebijakan pemerintah pusat untuk Provinsi Jambi masih difokuskan pada 3 (tiga) hal yaitu pelayanan umum - DAK Fisik dan Dana Desa (48,7%) , ekonomi (14,7%) dan pendidikan (14,4%). Arah kebijakan anggaran belanja pada 2018 masih difokuskan terhadap penguatan program yang menjadi prioritas pemerintah untuk melaksanakan percepatan pembangunan dari wilayah pinggiran (desa), mempercepat dan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan pasar-pasar tradisional serta meningkatkan kedaulatan pangan melalui kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan pangan.

Grafik 2.5 Komposisi Realisasi Belanja K/L berdasarkan Fungsi di Provinsi Jambi

Sumber: MonevPA – DJPb (diakses 11 Februari 2018)

Fungsi pelayanan umum

mengalami peningkatan sebagai upaya pemerintah dalam rangka pemerataan pembangunan yang dimulai dari unit terkecil (desa). Penggunaan (dana desa) tahun 2018 masih diprioritaskan untuk bidang infrastruktur dasar dan pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan kualitas daya saing sehingga mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi.

Adapun meningkatnya alokasi anggaran pada fungsi pelayanan umum tersebut juga diimbangi dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan peningkatan efisiensi belanja, antara lain melalui berbagai upaya refocusing program termasuk menekan pengeluaran yang tidak produktif dalam pelaksanaan kepemerintahan (paket meeting/konsinyering dan perjalanan dinas). Dari sisi

Pelayanan Umum 48,7% Pertahanan 4,6% Ketertiban & Keamanan… Ekonomi 14,7% Lingkungan Hidup 2,4% Perumahan & Fasilitas Umum 4,0% Kesehatan 1,5% Agama 1,2% Pendidikan 14,4%

penyerapan, seluruh fungsi tingkat penyerapannya di atas 90%. Kecuali 3 (tiga) fungsi yaitu: kesehatan (81,9%), lingkungan hidup (86,0%) dan perlindungan sosial (84,4%).

3. Perkembangan Pagu dan Realisasi berdasarkan Jenis Belanja

Tabel 2.9 Pagu & Realisasi berdasarkan Jenis Belanja di Provinsi Jambi (dalam jutaan rupiah)

Pagu Realisasi Pagu Realisasi %

Belanja Pegawai 2.214 2.139 2.349 2.273 96,78 Belanja Barang 2.245 2.047 2.805 2.557 91,16 Belanja Modal 1.579 1.493 1.538 1.387 90,19 Belanja Bantuan Sosial 26 25 19 15 79,40 DAK Fisik 1.054 977 1.065 986 92,58 Dana Desa 1.091 1.090 1.041 1.039 99,75 Jumlah 8.208 7.771 8.816 8.256 93,65

Jenis Belanja TA 2017 TA 2018

Sumber: MonevPA - DJPb 2018 (diakses 11 Februari 2019)

Pada tahun anggaran 2018, penurunan alokasi belanja terjadi pada belanja modal sebesar Rp1,54 triliun atau turun 2,58% dibanding tahun 2017 (Rp1,58 triliun) diikuti oleh penurunan Belanja Bantuan Sosial dan alokasi Dana Desa masing-masing sebesar 25,22% dan 4,57%. Sedangkan alokasi belanja pegawai dan belanja barang malah sedikit naik sebesar 46,09% dan 24,96%. Kenaikan belanja pegawai lebih disebabkan oleh penambahan alokasi belanja pegawai untuk penerimaan pegawai baru pada K/L di wilayah kerja Provinsi Jambi. Secara prinsip, kebijakan belanja pemerintah masih berfokus pada peningkatan infrastruktur dan efisiensi pada belanja operasi (Belanja Pegawai dan Belanja Modal). Belanja modal hanya difokuskan pada belanja yang memiliki efek multiplier pada pertumbuhan ekonomi. Dari sisi penyerapan, Belanja Pegawai memiliki capaian realisasi tertinggi sebesar 96,78% (selain DAK Fisik dan Dana Desa). Disusul Belanja Barang (91,6%), Belanja Modal (90,19%) dan Belanja Bantuan Sosial (79,4%).

Grafik 2.6 Realisasi Belanja APBN Provinsi Jambi Sepanjang 2018 (dalam jutaan rupiah)

Sumber: MonevPA - DJPb 2018 (diakses 12 Februari 2019)

Untuk tahun 2018, Realisasi seluruh jenis belanja per bulan cenderung stabil dan tetap terjadi penumpukan realisasi belanja pada akhir triwulan IV. Namun besaran realisasi yang menumpuk di akhir tahun masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini dapat terjadi dikarenakan perbaikan kebijakan atas langkah-langkah akhir tahun terus dilakukan. Meskipun terdapat perbaikan signifikan dari tahun sebelumnya, realisasi belanja pemerintah belum memberikan dampak optimal sebagai stimulus fiskal yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi mengingat realisasi belanja daerah masih belum selaras dengan realisasi belanja pemerintah pusat.

Realisasi Belanja Pemerintah Pusat (K/L) per Kab/Kota

Grafik 2.7 Sebaran Capaian Penyerapan Belanja APBN 2018 per Kab/kota (dalam miliar rupiah)

Sumber: MonevPA - DJPb 2018 (diakses 12 Februari 2019) -10 190 390 590 790 990 1.190 1.390

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Juli Agust Sept Okt Nov Des

DAK Fisik & Dana Desa Belanja Pegawai

Belanja Barang Belanja Modal

Belanja Sosial Total

93,4 95,1 97,2 94,3 95,7 96,5 96,5 94,8 95,9 90,0 92,1 92,6 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 0 0 0 0 0 0 Provinsi Jambi Batanghari Tanjab Barat

Bungo Sarolangun Kerinci Merangin Tanjab Timur

Tebo Muaro Jambi

Kota Jambi Sungai Penuh

Belanja APBN 2018 di Provinsi Jambi, disalurkan melalui 5 KPPN dengan porsi alokasi APBN didominasi oleh KPPN Jambi sebesar Rp5,78 triliun atau 65,5% dari total alokasi APBN 2018 Provinsi Jambi. Alokasi tersebut dialokasikan terutama pada satker-satker di wilayah Kota Jambi (porsi 51,5%) dan satker Provinsi Jambi (porsi 35,4%). Penyerapan anggaran menurut Kab/Kota berada dalam kisaran angka capaian 90% (Kabupaten Muaro Jambi) sampai dengan 97,2% (Tanjung Jabung Barat) (grafik 2.7).

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL (Halaman 42-48)

Dokumen terkait