MENJADI KONSELOR BAGI ANAK
7.2 BENARKAH SEMUA AGAMA SAMA?
Mungkin saja anak kita mendapat tekanan, ejekan dan cemoohan berkenaan dengan imannya kepada Kristus. Untuk menghindari masalah atau agar tidak dikucilkan oleh teman-teman non Kristen, anak melakukan kompromi dengan mengatakan “semua agama itu sama”.
Sebagai orangtua, apa yang harus dilakukan kepada anaknya? Orangtua dapat menjelaskan kepada anak, bila kita ingin masuk sorga, iman kita harus diletakkan pada sesuatu yang benar. Karena agama di luar Kristen memandang Yesus Kristus berbeda dari yang dilakukan oleh orang Kristen, sedangkan Yesus Kristus sendiri menyatakan bahwa Ia adalah satu-satunya jalan ke sorga (bacakan Yoh.14:6). Siapa yang harus kita percayai? Perkataan Yesus Kristus atau pernyataan agama sedunia? Dengan tegas, Yesus Kristus berkata bahwa Ia adalah satu-satunya jalan menuju Allah.
Yakinkan pada anak, jangan takut dicap fanatik, takut dikucilkan dalam pergaulan sebab persoalan keselamatan tertalu penting dalam hidup ini. Salah beriman, bisa berakibat fatal. Doronglah anak untuk tetap berdiri teguh dan yakin di atas dasar kebenaran Alkitab bahwa hanya ada satu jalan menuju Allah dan jalan itu melalui Yesus Kristus sendiri (Yoh.14:6; Kis.4:12).
7.3 SULIT MENGAMPUNI
Prinsip ini penting bahwa kesediaan mengampuni harus dibarengi dengan sikap melupakan dan menyerahkan penghajaran dan penghukuman kepada Allah.
Mintalah anak untuk jujur tentang rasa sakit yang perlu pengampunan. Lalu, ajaklah ia merenungkan apa yang telah Tuhan perbuat baginya: saat kita melihat kedalaman pengampunan Tuhan bagi kita, itu akan memotivasi kita untuk mengampuni sesama. Akhirnya, tunjukkanlah bahwa pengampunan adalah keputusan—memutuskan untuk berkata,”Aku mengampuni ... (nama
orang) di dalam Yesus, sebagaimana Yesus Kristus telah mengampuniku.” Doronglah anak untuk tidak menunggu sampai ia merasa mau mengampuni, mungkin ia tidak pernah melakukannya. Bukakan firman Tuhan berikut ini dan menaatinya:
Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
1 Tesalonika5:15
“ Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing- masing dan terhadap semua orang.”
Matius 6:14-15
“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Tekankan pula, hanya kalau kita bersedia mengampuni orang-orang lain yang telah menyakiti kita, kita dapat mengalami pengampunan Allah yang sepenuhnya.
Untuk lebih lanjut mengenai pengampunan dan pemulihan batin, silakan membaca buku saya : Inner Healing—Pemulihan dari Bapa Surgawi (Yogyakarta:
Kanisius,2016).
7.4 TERIKAT DOSA
Orangtua bisa memulainya dengan membaca 1 Yohanes 1:9,”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Lalu, orangtua
menjelaskan ayat ini dan mengambil sikap yang tepat menghadapinya.
Sadarkan bahwa dosa itu selalu melukai hati Tuhan, sebuah pemberontakan kepada-Nya. seseorang tidak dapat merasakan damai sejahtera Tuhan sebab ia tidak melepaskan setiap ketidak-pengampunan di hatinya terhadap orang lain.
Mintalah anak mengikuti langkah ini untuk menuntun anak kepada pengampunan Allah dan menerima pengampunan-Nya.
a) Pengakuan
Ajaklah anak untuk mengakui semua dosa tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mintalah ia untuk mengidentifikasi dosa tersebut dengan jelas sehingga ia bisa melihatnya sebagaimana dosa itu adanya.
b) Pertobatan
Pertobatan bukan sekadar penyesalan mendalam telah berbuat dosa. Pertobatan adalah berpaling dari dosa dan berpaling kepada Tuhan.
c) Berpegang pada janji Allah
Yakinkan pada anak, bilamana ia telah mengakui semua dosanya kepada Tuhan dan meminta pengampunan-Nya, maka ia menerima pengampunan- Nya. Yakinkan anak untuk berpegang pada janji-Nya seperti tertulis di dalam 1 Yohanes 1:9 tadi.
d) Adakan pendamaian bilamana perlu
Jika dosa itu menyangkut melukai seseorang dengan nyata, doronglah anak Saudara untuk meminta maaf kepada orang yang telah disakiti.
7.5 MERAGUKAN KESELAMATAN
Jelaskan pada anak bahwa kita dapat yakin dengan pasti. Apakah ada orang yang dapat memastikan dirinya telah diselamatkan? Alkitab mengajarkan kepada kita untuk memiliki kepastian keselamatan. Petrus memerintahkan,”Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh- sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Ptr 1:10-11).
Yakinkan anak bahwa Allah dan firman-Nya dapat dipercaya. Karena kita telah menyerahkan kehidupan kita kepada Tuhan Yesus, Alkitab mengatakan bahwa sekarang Yesus diam di dalam hidup kita. Tuhan Yesus telah menjanjikan sesuatu yang luar biasa kepada semua orang yang menerima Dia. Ia berjanji,”Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya
dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”
(Why 3:20).
Tanyakan pada anak Saudara: “Saudahkah kamu melakukan hal itu? Sudahkah kamu membuka pintu kehidupanmu bagi Tuhan Yesus? Jika sudah, di manakah Tuhan Yesus? Ia telah datang untuk diam di dalam diri kamu! Itulah janji-Nya kepada kita. Yakinlah hal itu!
Langkah berikut ini bisa membantu orangtua untuk meyakinkan anak tentang kepastian akan keselamatannya telah terjamin.
a) Kita hendaknya menyadari bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang kita kerjakan, melainkan hal itu telah dikerjakan oleh Yesus
Kita harus yakin, seperti Paulus bahwa Yesus benar-benar mampu untuk melindungi dan memelihara apa yang telah dibeli oleh-Nya,” ... karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Tim
1:12).
Tuhanlah yang menyelamatkan kita. Karena itu, keselamatan kita tidak
tergantung pada kekuatan kita tetapi pada kekuatan Tuhan. Keselamatan
bukanlah sesuatu yang kita lakukan, melainkan apa yang telah dilakukan oleh
Tuhan bagi kita. Harga keselamatan kita telah dibayar lunas. Sekarang kita dapat mengetahui bahwa kita telah diselamatkan, bukan hanya karena kita
telah menyerahkan hidup kita kepada Tuhan Yesus, tetapi karena Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya karena kita.
b) Percayailah janji-janji Allah untuk Anda
Ingat, jalan Allah adalah sempurna. Karena itu, Allah bukan hanya tidak akan berdusta kepada kita, tetapi Alkitab mengatakan bahwa Ia tidak dapat berdusta. Karena iman kita kepada Yesus, sekarang kita memiliki hidup yang
kekal (Tit.1:2). Tidak pernah ada orang yang dapat dipercayai seperti Yesus. Dan Tuhan Yesus sendirilah yang telah berjanji,”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24).
Tidak pernah ada orang yang dapat dipercayai seperti Yesus Kristus. Dan Yesus sendirilah yang telah berjanji,”dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama- lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa- Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh 10:28-29).
Yesus telah meyakinkan kita. Karena itu percayalah kepada Dia yang tidak berdusta dan kepada firman-Nya yang kekal ,”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”
(Ibr.13:5)
c) Jangan percaya dan mengandalkan perasaan Anda
Jelaskan pada anak bahwa emosi manusia berubah-ubah. Pada satu saat kita berada di puncak gunung kegembiraan, dan pada saat berikutnya kita berada dalam lembah keputusasaan. Ingatkan anak bahwa kita tidak dapat mengandalkan perasaan kita untuk memperoleh kepastian akan keselamatan. Dasar kepastian yang kita pegang adalah janji Allah, bukan perasaan kita. Kita harus percaya pada kesetiaan Allah sendiri dan firman-Nya.
Jadi, apabila anak masih ragu-ragu, mintalah mengusir dalam nama Yesus keraguannya dan teruslah untuk mempercayai janji-janji Allah.
7.6 MERASA GAGAL
Pertama-tama, sertailah anak untuk mencari tahu penyebab terjadinya kegagalan. Apakah itu pada perencanaan yang kurang matang, salah antisipasi, tingkat kesulitan terlalu tinggi dibandingkan kemampuan, kurang tekun, atau hal lainnya?
Kedua, ajaklah anak untuk mengakui bahwa ia memang gagal. Jika tidak dihadapi dengan jujur, ketidakpuasan karena kegagalan akan semakin menekan dan bisa berakibat yang lebih parah. Doronglah anak untuk melihat campur tangan Tuhan yang terus-menerus sebagaimana ditulis di dalam Roma 8:28,”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Tunjukkanlah bahwa Tuhan tidak putus harapan ketika menghadapi kegagalan umat-Nya, tetapi justru mengubah semua hal buruk yang menimpa kita menjadi kebaikan.
Saudara bisa membagikan kebenaran yang terkandung dalam Yakobus 1:2-3,”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakinkan anak bahwa kegagalan
itu bisa terjadi pada siapa saja. Yakinkan juga bahwa kita bisa menghadapi kegagalan. Jangan berkata,”Mengapa ini harus terjadi padaku?”
Jelaskan kembali Roma 8:28 bahwa Tuhan itu berkuasa. Sampaikan kepada anak sesuai dengan Roma 8:28, bahwa Tuhan menyaring setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita dan mengizinkan perkara yang dapat dipakai-Nya untuk kebaikan kita. Tuhan tidak akan mengizinkan apa pun masuk ke dalam kehidupan kita kecuali Ia melihat bahwa hal itu membawa kebaikan. Saat kita belajar untuk menerima persoalan hidup dengan pujian, bukan gerutu, maka jiwa kita menjadi “bebas”.
Mintalah anak ketika ia gagal untuk melihat hidupnya dari sudut pandang Tuhan. Orangtua perlu membimbing anak agar memandang persoalan apa pun sebagai “alat” ditangan-Nya untuk menghasilkan kebaikan. Kebaikan di sini tidak boleh dimaknai sekadar hal-hal yang baik secara jasmani, tetapi terlebih pada pengembangan kepribadian, karakter menuju keserupaan dengan Kristus yang lebih baik.
O
rangtua dalam mendidik anak, perlu memahami ketiga pola asuh ini agar menjadi bijak. Ada orangtua memilih cara mendidik anak secara otoriter sehingga anak-anak sangat takut terhadap mereka berdua. Sebaliknya, ada orangtua yang sangat sedikit peraturan di dalam keluarga. Anak menjadi manja dan mementingkan diri.Dapatkah Saudara membandingkan kedua macam pola asuh di atas: secara otoriter dan secara permisif (serba membolehkan) dan pengaruhnya terhadap anak-anak? Adakah cara lain, selain kedua pola asuh itu? Ada. Yaitu pola asuh yang fleksibel. Pola fleksibel adalah cara mendidik anak secara bijak.
8.1 POLA ASUH OTORITER
Melindungi anak adalah baik, namun melindungi dia secara berlebihan atau secara otoriter akan merugikan dan menghambat pertumbuhan rasa percaya diri anak.
Dr. James Dobson, seorang pakar fokus pada keluarga mengatakan jika disiplin terlalu keras, maka anak merasa direndahkan karena sepenuhnya dikuasai oleh orangtuanya. Suasa di rumah dingin dan kaku, dan anak senantiasa hidup ketakutan, takut dihukum. Anak tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan kepribadiannya ditekan di bawah kekuasaan orangtuanya. Anak yang diperlakukan seperti ini kelak akan menjadi anak yang senantiasa bergantung, bersifat memusuhi atau tidak ramah, dan bahkan bisa mengalami gangguan kejiwaan karena tekanan yang terlalu berat.1