• Tidak ada hasil yang ditemukan

KASIH DAN KEADILAN

Dalam dokumen Mendidik Anak Menurut Islam Ol (Halaman 52-65)

PRINSIP MENDIDIK ANAK

4.2 KASIH DAN KEADILAN

Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa kasih dan keadilan adalah dasar dalam mendidik anak. Kebutuhan anak bukan saja kasih tetapi juga keadilan. Keluarga harus menjadi tempat di mana keadilan ditegakkan karena orangtua menjadi wakil Allah untuk mendidik anak. Tanpa kasih dan keadilan, pendidikan anak akan gagal. Kedua hal tersebut harus berjalan seimbang dalam proses mendidik anak.2

Jika Saudara melanggar prinsip kasih dan keadilan, akan muncul perasaan iri hati dan persaingan di antara anak-anak Saudara. Siapa yang dirugikan? Saudara rugi dan anakpun rugi. Anak bisa muncul kepahitan dan kebencian terhadap Saudara. Di mana ada kebencian, di situ iblis masuk untuk merusakkan hidup manusia sebab kita tahu maksudnya.

Kasih dan keadilan berpadu hasilnya adalah kuasa/otoritas. Saya akui ini tidak mudah, tapi dengan pertolongan Tuhan dan hikmat-Nya, orangtua akan diberi kemampuan untuk memadukan keduanya menjadi indah. Saya bergumul bagaimana menjadi ayah yang ditakuti sekaligus dicintai oleh anak- anak saya. Sebab jika anak Saudara sangat cinta kepada Saudara tetapi tidak takut kepada Saudara, berarti Saudara orangtua yang gagal. Sebaliknya, jika anak Saudara begitu takut kepada Saudara tetapi tidak cinta kepada Saudara, berarti Saudara gagal mendidik anak. Anak takut (bukan karena kediktatoran/ otoriter melainkan wibawa orangtua), dan sekaligus cinta yang tanpa syarat sebagaimana orangtua mengasihinya. Itu adalah orangtua bijak dan sukses. Hal ini bukanlah hal mudah, tapi bisa.

Dengan demikian, Saudara harus bersikap bijak dan adil dalam menyatakan kasih kepada semua anak Saudara. Kasih tanpa keadilan hanya akan menghasilkan sifat manja dan egois. Sebaliknya, keadilan tanpa kasih melahirkan anak berontak, tidak punya kontrol diri dan masa bodoh. Tanpa kasih yang ada hanyalah kekerasan, tetapi kasih tanpa keadilan adalah kompromi.

Dr. James Dobson seorang pakar fokus pada keluarga mengatakan bahwa persaingan keluarga akan menjadi buruk sekali bila tidak ada keadilan yang bijaksana dalam keluarga, di mana “para pelanggar hukum” dibebaskan tanpa diadili. Penting sekali bagi kita untuk mengerti bahwa dalam masyarakat, hukum diciptakan dan dijalankan untuk melindungi orang yang satu dari yang lain. Demikian juga keluarga adalah masyarakat kecil yang membutuhkan persyaratan yang sama untuk melindungi hak asasi manusia.

Sebagai ilustrasi, misalnya saya tinggal dalam satu masyarakat yang tidak mempunyai hukum yang jelas. Tidak ada polisi dan tidak ada pengadilan yang dapat menyelesaikan perselisihan pendapat. Dalam keadaan seperti itu, saya dan tetangga saya dapat saling melecehkan tanpa menerima hukuman. Ia dapat melempar batu ke rumah saya dan saya dapat membalas melempar kursi ke jendela rumahnya. Sikap saling bermusuhan seperti ini semakin hari akan memanas dan menjadi semakin hebat sejalan dengan berlalunya waktu. Bila terus dibiarkan, akhirnya akan menimbulkan kebencian dan pembunuhan. 3

Jadi, bila tidak ada keadilan maka “sesama manusia” dalam satu keluarga akan mulai saling menyerang dan perkelahian tak henti-hentinya di antara saudara sekandung. Intinya, setiap keluarga Kristen butuh hukum dan hukuman sehingga tercipta ketertiban, saling mengasihi dan melindungi.

4.3 KONSEKUENSI

Rumah tangga Saudara harus ada aturan yang jelas. Rumah tangga tanpa aturan akan menjurus ke arah kekacauan dan mengalami kesulitan. Semua pendidikan membutuhkan peraturan-peraturan yang jelas dan pasti. Rumah tangga pun membutuhkan peraturan yang dibentuk demi terciptanya ketertiban dan keindahan serta suasana sejahtera di dalamnya.

Berikut pernyataan Tonci Salawaney:

“Suasana adalah suatu unsur utama dan yang sangat penting dalam hidup berumah tangga. Ibu bapaklah yang menciptakan sebagian besar suasana lingkungan rumah tangga”.4

Bila rumah tangga tidak ada peraturan yang jelas, maka kehidupan anak maupun orangtua diombang-ambingkan oleh suasana atau dorongan

hati (mood) tanpa petunjuk. Anak yang sejak kecil dibiarkan bertumbuh

tanpa mengenal peraturan di keluarga pasti mereka akan berjalan menuruti kemauannya sendiri hingga menginjak remaja, Saudara benar-benar akan mengalami kesulitan untuk mendisiplin, mengarahkan perilakunya.

Orangtua perlu mengenalkan beberapa peraturan kepada anak mereka di keluarga sejak dini. Untuk melaksanakan peraturan memang dibutuhkan ketetapan hati atau kemauan keras. Kalau orangtua mendidik anak sejak dini dengan konsekuen, sehingga pada masa mudanya akan lebih mudah diarahkan tanpa “tongkat” melainkan cukup dengan kata maupun mata saja.

Bila tata tertib rumah tangga dilanggar? Setiap kesalahan atau pelanggaran harus ada disiplin atau hukuman sebagai konsekuensi atas pelanggaran tersebut. Mengapa perlu ada hukuman? Itu adalah cara dan perintah Tuhan

sendiri dalam mendidik umat-Nya. Ibrani 12:6-11 demikian:

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya”.

Kalau kita perhatikan ayat-ayat di atas, ada kebenaran yang luar biasa bahwa hubungan orangtua dengan anaknya harus mengikuti pola hubungan Allah Bapa dengan umat-Nya. Hubungan itu bercirikan kasih yang melimpah. Bapa yang baik yang limpah dengan kasih, Ia membimbing dan mengoreksi anak-anak-Nya demi kebaikan mereka. Hukuman itu akan menghasilkan

buah kebenaran yang memberikan damai kepada anak-anak Saudara. Disiplin sangat berfaedah besar bagi anak-anak Saudara.

Saudara perlu ikuti! Firman Tuhan mengatakan,”Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya, tetapi siapa yang mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Ams 13:23). Jadi disiplin adalah bentuk kasih dan perhatian

orangtua kepada anak. Disiplin merupakan upaya orangtua untuk melindungi anak dari kebiasaan atau perilaku buruk. Dengan demikian, hukuman adalah unsur disiplin.

Orangtua yang sulit menerapkan konsekuensi atau hukuman akan sulit menanamkan tanggung jawab kepada anak-anaknya. Orangtua perlu menghukum anak ketika mereka melakukan kesalahan adalah wajar dan itu sebenarnya merupakan kebutuhan anak. Anak yang tidak pernah dihukum ketika melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap aturan yang Saudara berikan, maka ia akan cenderung tumbuh menjadi orang yang egois dan tidak bertanggungjawab.

Mengasihi anak bukan berarti tidak menghukum atau mendisiplin anak jika ia perlu mendapat sangsi. Orangtua harus bersikap tegas dalam hal apa

yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Sekali lagi, aturan harus jelas dan dilakukan dengan konsisten. Dengan demikian, anak akan mengerti bahwa dibalik perintah ada konsekuensi atau sanksi sehingga mereka tidak mempermainkan perintah. Orangtua hendaknya konsekuen supaya tidak meruntuhkan wibawanya sendiri.

Hal-hal berikut ini penting diperhatikan sebelum Saudara melakukan disiplin terhadap anak-anak Saudara.

a. Fungsi hukuman

Hukuman dapat diberikan kepada anak dengan tujuan, pertama: mencegah pengulangan tindakan yang tidak diinginkan. Bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, anak biasanya akan teringat akan hukuman yang diterimanya pada masa lampau. Kedua: mendidik. mendapat hukuman tersebut. Dengan cara demikian, anak Sebelum anak mengerti peraturan, anak dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dengan tidak akan mengulangi kesalahan tersebut.5

Dr. Mary Setiawani mengatakan bahwa disiplin mengandung unsur pengarahan dan pengendalian diri: 6

Disiplin mengandung arti pengarahan akan hal-hal yang benar dan salah, di

mana pembentukan karakter Kristen berlandaskan Alkitab sehingga dapat menyatakan kepada kita apa yang benar dan yang salah.

 Disiplin mengandung unsur pengendalian diri, sebab anak itu memerlukan

pengendalian diri karena sejak lahir sudah membawa sifat-sifat dosa. Dan kencenderungan anak adalah berbuat dosa dan cenderung egois. Apa saja yang diminta harus segera dipuaskan, kalau tidak segera dipuaskan, ia akan marah-marah. Tidak ada seorang ibu pun yang mengajar anaknya marah- marah atau menangis kalau tidak diberi apa yang ia inginkan. Tetapi hal ini langsung terlihat pada bayi sejak lahirnya. Melalui disiplin, anak dilatih untuk menguasai dirinya dengan pertolongan Tuhan. Disiplin berarti melatih anak melakukan pengendalian diri.”

Saya sering mendengar ungkapan bahwa orangtua tidak boleh melarang anaknya menggambar atau menulis di dinding sebab itu merupakan tanda kre- atifitas anak. Bagi saya, itu bukan kreatif tetapi kurang disiplin. Ketika saya me- lihat anak saya mulai mencoret-coret dinding, langsung saya memberi penger- tian bahwa itu tidak baik. Rumah menjadi kotor. Kemudian, saya ambilkan kertas, buku, dan pensil warna. Jadi anak perlu diarahkan dengan disiplin tinggi namun penuh kasih. Anak tidak dilarang tetapi diarahkan. Ini sikap orangtua

bijak.

b. Langkah menghukum anak :

i) Terangkan dengan jelas batas-batasnya sebelum Saudara menjalankan disiplin

Buatlah aturan yang jelas dan konsisten bagi anak-anak Saudara di rumah. Misalkan, aturan nonton TV, waktu main, waktu belajar, waktu tidur, waktu bangun, waktu berdoa bersama, dan lainnya. Tanpa aturan maka anak-anak Saudara tidak mungkin ber-aturan atau berdisiplin. Anak yang tidak dapat mengatur waktu akan menemui kesulitan. Pada bab 5 akan saya uraikan mengenai peraturan di keluarga.

Hal penting sebelum Saudara menghukum anak ialah Saudara harus

Aturan dibuat agar anak-anak bertumbuh ke arah tingkah laku yang baik dan dapat memiliki pengendalian diri. Ini tidak terjadi secara otomatis. Orangtualah yang harus membimbing anak untuk menanamkan disiplin kepada mereka.

ii) Saudara harus menasihati dan memberi peringatan

Orangtua yang menghukum anak tanpa terlebih dahulu menasihati dan memberi peringatan adalah orangtua bodoh. Jika anak melakukan kesalahan atau pelanggaran, orangtua wajib menasihati dan memperingatkan kepadanya.

iii) Berilah hukuman dengan tegas

Bagaimana, bila anak kita tidak mau taat? Jika diperintah berulang-ulang, sudah dinasihati dan diperingati tetap tidak diindahkannya dan anak tidak berubah, maka anak perlu diberi hukuman dengan tegas tetapi hukuman tidak perlu keras. Orangtua harus konsekuen. Ketidaktaatan harus diberi sanksi. Jika ketidaktaatan tak ada sanksi berarti orangtua tidak konsekuen dalam menuntut pelaksanaan perintah. Itu sudah tentu meruntuhkan wibawa orangtua sendiri di depan anak.

iv) Jangan dikuasai kemarahan

Hal ini penting bagi orangtua bila harus mengoreksi anak, jangan tinggikan suaramu. Jangan hilang pengendalian diri Saudara! Sebab bila orangtua mengoreksi anak dengan marah, kesalahannya adalah lebih besar daripada anak itu sendiri. Menggertak anak ketika anak itu bersalah adalah membuat keadaan lebih buruk. Tindakan ini tidak akan menjadikan dia lebih baik.7

Disiplin yang dijalankan dengan kemarahan biasanya tidak direspon baik oleh anak. Anak merespon dengan perasaan terluka, kecewa bahkan timbul rasa benci dan dendam. Bukankah Alkitab sudah memperingatkan kita?

Salamo berkata :

“Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh,

tetapi orang yang bijaksana, bersabar” (Ams 14:17). “Orang yang sabar besar pengertiannya,

Jangan menjadi orangtua bodoh! Ketika Saudara hendak menjalankan disiplin terhadap anak Saudara, maka Saudara harus terlebih dahulu menang atas kemarahan Saudara sendiri. Saudara harus menunggu sampai Saudara tenang dan dapat menguasai diri. Dengan demikian, anak akan melihat betapa Saudara mengasihi mereka.

v) Berilah hukuman sesegera mungkin

Hukuman bersifat segera! Jangan menunda memberi hukuman ketika anak melanggar aturan yang Saudara berikan kepadanya. Bila Saudara menunda-nunda, maka aturan yang Saudara berikan dianggap tidak serius untuk ditaati oleh anak. Anak akan mengulangi kesalahan tersebut,”Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat” (Pkh 8:11).

Berikut pernyataan Dr. Thomas P. Jhonson mengatakan:

Hukuman harus dilaksanakan dengan cepat, beralasan, harus berhubungan dengan pelanggarannya dan harus mutlak dilaksanakan.”8

Jangan sekali-kali menunda memberi hukuman kepada anak, apalagi tawar-menawar dengan anak. Saudara harus konsekuen dan konsisten. Di

situlah Saudara menegakkan wibawa sebagai wakil Tuhan untuk mendidik mereka dan didikan Saudara akan didengar anak.

Sekali lagi, saya ulangi bahwa hukuman harus segera dilaksanakan. Jangan tunda-tunda. Bila hukuman tersebut pelaksanaannya ditunda akan kehilangan efeknya yang tepat.

vi) Hukuman harus masuk akal

Hukuman yang Saudara berikan kepada anak harus realistis dan logis (masuk akal). Misalnya disuruh membersihkan rumah, tidak diberi uang jajan, tidak boleh nonton TV dalam hari itu, atau yang lain asalkan bersifat positif dan masuk akal. Hukuman yang tidak masuk akal, seperti dilarang ke sekolah, ke gereja, atau tidak boleh makan, dikurung di kamar, tidak diberi uang transport ke sekolah, tidak boleh les, mengancam tidak akan dibelikan baju baru, dan sebagainya.

vii) Hukuman harus sesuai pelanggaran

Saudara harus menghukum anak sesuai kesalahan atau pelanggarannya. Hal ini perlu sebab Saudara harus bertindak adil. Jadi berat ringannya hukuman harus disesuaikan dengan berat ringannya kesalahan anak. viii) Hukuman harus disesuaikan dengan keadaan anak

Saudara harus mengerti bahwa tiap anak tidak bisa diperlakukan sama. Ada anak yang dengan kata-kata agar keras sudah cukup. Untuk anak ini tidak perlu hukuman fisik. Ada anak yang dengan kata-kata agak keras tidak berubah. Untuk anak ini perlu ancaman akan dihukum.

ix) Ajar anak untuk meminta maaf

Mendidik anak tidak luput dari kesalahan dan kegagalan. Tidak ada orangtua sempurna. Yang dituntut adalah kerendahan hati dan kejujuran. Orangtua pun bisa berbuat kesalahan terhadap anak mereka. Mengakui kesalahan dengan jujur dan terbuka di hadapan anak dan meminta maaf kepadanya, bukanlah kekurangan dan sekali-kali tidak akan meruntuhkan wibawa orangtua. Justru tindakan ini memupuk rasa percaya dan hormat yang mendalam pada orangtua.

Seringkali orangtua walaupun mengetahui bahwa mereka bersalah terhadap anak mereka, jarang mereka mengakui dan meminta maaf kepada anak.

Jika orangtua tidak pernah memberi teladan untuk meminta maaf bila berbuat kesalahan kepada anak, maka anak pun akan menirunya. Ketika anak berbuat kesalahan, ia tidak merasa perlu meminta maaf. Dengan demikian, orangtua tidak bisa mengajar anak belajar meminta maaf.

Jika didapati anak kami melakukan kesalahan atau melanggar tata tertib keluarga, kami selalu mengajar mereka untuk meminta maaf. Hal itu mudah mereka lakukan sebab mereka melihat contoh bahwa orangtua mereka selalu meminta maaf jika salah.

Dengan demikian, orangtua tidak sulit untuk mengajarkan kepada anak bahwa manusia itu tidak luput dari berbuat kesalahan dan perlu meminta ampun kepada Tuhan akan segala dosanya sehingga mendapat pengampunan-Nya. Orang yang tidak bisa mengaku dosa dan meminta

ampun adalah orang yang tidak bahagia,”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! (Mzm 32:1-2). Jadi, penting Saudara mengajar anak meminta maaf

jika berbuat kesalahan.

c. “Jangan Lakukan”

i) Jangan menyiksa

Saya setuju hukuman, tapi bukan siksaan. Firman Tuhan mengatakan,”Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya” (Ams 19:18). Hukuman harus diberikan

tetapi tetap pada batas-batas kewajaran atau realistis dan juga logis. Dengan demikian, anak akan sadar bahwa Saudara sungguh-sungguh mengasihinya. Anak tidak akan menyimpan dendam atau sakit hati kepada Saudara. Justru mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada Saudara.

Alkitab selalu menyinggung “tongkat” apabila sedang membicarakan soal menegur anak-anak. Amsal 22:15,”Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya”. Tongkat

didikan ini yang dimaksudkannya adalah tangan Saudara sendiri. Pukulan itu ada dua macam, yang benar dan yang salah. Pukulan yang salah ialah pukulan yang keras, dan kejam yang dilancarkan dalam kemarahan. Pukulan yang demikian ini hanya akan membuat anak menjadi marah dan ingin membalas dendam. Pukulan yang benar diberikan dengan pendekatan yang positif dan benar. Pukulan itu diberikan untuk mengajarkan agar anak bertanggungjawab. Alkitab dengan jelas membicarakan hubungan kasih dengan “tingkat didikan”. Jadi, tongkat yang dipakai untuk menegur itu ialah tangan orangtua, maka anak itu akan merasa takut akan tangan yang diulurkan kepadanya dengan penuh kasih.

Bagi saya memukul itu perlu tetapi tidak harus. Memukul itu perlu bila cara yang lain gagal. Pemakaian tongkat harus hat-hati sebab banyak terjadi penyalahgunaan hukuman fisik sebagai luapan emosi atau pelampiasan orangtua belaka. Mary Setiawani mengatakan demikian: “Saya rasa banyak masalah anak terjadi karena masalah yang sangat sederhana, yaitu anak itu tidak pernah dipukul. Tidak semua anak perlu

dipukul. Bagian kepala tidak boleh dipukul! Tuhan menciptakan kita dengan bagian-bagian khusus yang boleh dipukul, sebab dagingnya tebal sekali. Sakit tetapi tidak sampai luka dalam, yaitu di pantat. Salah memukul bisa menjadikan kita menyesal seumur hidup”.9

Hal serupa diungkapkan oleh Beverly Lahaye sebagai berikut:

“Di dalam Alkitab sudah dituliskan bagian tubuh si anak yang boleh dipukul oleh tongkat didikan. Di dalam anatomi setiap anak, Allah sudah menyediakan tempat di mana terdapat jaringan tebal yang berlemak yang dapat menahan pukulan yang keras tanpa mematahkan tulang atau melukainya. Tempat yang boleh dipukul ini terletak di punggung sebelah bawah dan langsung di atas paha sebelah belakang yaitupantat; setiap anak mempunyai pantat yang gemuk dengan jaringan berlemak”.10

Kitab Amsal menyinggung bagian tubuh ini.

“Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Ams 10:13)

“Hukuman bagi si pencemooh tersedia

dan pukulan bagi punggung orang bebal” (Ams 19:29).

Jadi, tindakan disiplin tidak boleh melampaui batas atau bertindak kejam maupun menyiksa. Bila anak melanggar tata tertib di keluarga, maka Saudara perlu memberikan pengertian tentang konsekuensi atau hukuman yang logis. Hukuman yang logis akan mendorong anak untuk introspeksi diri secara benar dan sehat, supaya ia bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Tetapi hukuman yang tidak logis dapat berakibat buruk bahkan fatal pada diri anak Saudara.

ii) Jangan berkata-kata negatif yang merendahkan diri anak

Terkadang tanpa sadar, orangtua mengucapkan kata-kata negatif ketika mendisiplin anak. Misal,”kamu tidak becus”, “kamu tidak pernah bisa”, atau “kamu tidak bisa diandalkan”, dan sebagainya. Kalau orangtua jujur, sebenarnya anak-anak kita tidak selalu demikian bukan?

Ungkapan “kamu tidak pernah bisa” atau “kamu tidak bisa diandalkan” itu sangat menyakiti perasaan anak-anak Saudara, mencap seolah-olah

mereka sudah gagal total. Padahal berbuat kesalahan itu hal wajar. Jangan terlalu dibesar-besarkan. Bukankah kesalahan itu dapat diatasi?

Sangat penting para orangtua menolong anaknya untuk memperkembangkan rasa harga diri yang wajar. Seba itu orangtua perlu memperhatikan setiap perkataan ketika menegur anak. Orangtua boleh mengatakan,”Kamu tadi bertindak bodoh!”, bukan “kamu bodoh!” Lain maknanya. “Kamu bodoh” itu menyerang harga diri anak dan merendahkannya. Tetapi pernyataan “Kamu tadi bertindak bodoh” menunjukkan pada tindakan yang seharusnya tidak dilakukan. Itu merupakan koreksi atas tindakannya.

Saya sebagai orangtua pun pernah berbuat kesalahan juga. Karena itu, saya juga memberi “ruang” bagi anak-anak saya untuk bisa berbuat kesalahan. Bukan boleh berbuat kesalahan. Dapatkah Saudara memahami perbedaan antara “bisa” berbuat salah dengan “boleh” melakukan kesalahan?

Kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh anak harus ditanggapi dengan kasih dan adil. Bersikap adil karena kita sebagai orangtua pun bisa berbuat salah dan meminta anak untuk bisa menerima dan memaafkan. Sikap demikian akan memupuk rasa percaya diri anak.

Sebaliknya kata-kata negatif orangtua itu akan cenderung untuk terus membekas begitu dalam di hati anak-anak dan itu jelas menghambat pertumbuhan harga diri yang positif pada anak-anak kita.

Jadi, waktu menghukum anak fokusnya ada pada kesalahan anak, bukan menyerang pribadi atau harga dirinya. Sebaliknya buatlah anak-anak Saudara merasa begitu berharga dan berartinya mereka bagi Saudara. Anak akan merasa begitu berarti dan dihargai sebagai pribadi jika ia didisiplin oleh orangtuanya. Ia tidak akan kehilangan rasa percaya dirinya walaupun

Dalam dokumen Mendidik Anak Menurut Islam Ol (Halaman 52-65)

Dokumen terkait