MENDIDIK
MENDIDIK
ANAK
Hak Cipta © 2018 pada penulis
Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-889398; Fax: 0274-889057
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memper banyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, terma-suk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
Tajuk Entri Utama: Stevanus, Kalis MENDIDIK ANAK/Kalis Stevanus
− Edisi Pertama. Cet. Ke-1. − Yogyakarta: Lumela, 2018 viii + 90 hlm.; 25 cm
Bibliografi .: ISBN : E-ISBN :
1. ... I. Judul
...
Saya mendapati suatu kenyataan bahwa kerusakan atau kenakalan anak yang terjerumus dalam pelbagai perbuatan negatif, misalnya narkoba tidak sepenuhnya kesalahan anak, tetapi sebagian besar disebabkan karena faktor keluarga: keluarga yang hancur (broken home), pola asuh yang tidak bijak,
perceraian orangtua, orangtua yang sibuk dengan pekerjaan/pelayanan, dan tidak ada penanaman iman sejak dini dalam keluarga.
Menyadari hal itu, seharusnya orangtua lebih menghargai anugerah Tuhan, yaitu anak-anak yang dipercayakan kepadanya. Orangtua bertanggungjawab untuk membesarkan, mengasuh, mendidik dan membidikkan anak kepada rancangan Tuhan bagi mereka.
Buku ini kiranya benar-benar menghasilkan terobosan dalam mendidik anak.
Selamat mendidik. Tuhan Yesus memberkati Saudara.
KATA PENGANTAR V
DAFTAR ISI VII
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Fakta Dunia Hari Ini dan yang Akan Datang 1
1.2 Pendidikan Sentral : di Keluarga 1
1.3 Kekuatan Keluarga 2
BAB 2 TANGGUNG JAWAB ORANGTUA 5
2.1 Menerima dan Mengasihi Anak 5
2.2 Mencukupi Kebutuhan Anak 9
2.3 Mendidik Anak 22
BAB 3 TARGET UTAMA ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK 25
3.1 Anak Takut Akan Tuhan 25
3.2 Anak Taat dan Hormat Kepada Orangtua 35
3.3 Anak Hidup Saling Mengasihi 36
BAB 4 PRINSIP MENDIDIK ANAK 43
4.1 Kesehatian 43
4.2 Kasih dan Keadilan 44
4.3 Konsekuensi 45
BAB 5 PERATURAN DI KELUARGA 57
5.1 Peraturan Keluarga Mutlak Diperlukan 57
5.2 Catatan Penting Mengenai Peraturan di Keluarga 57
5.3 Contoh Peraturan di Keluarga 59
BAB 6 MEMUPUK RASA PERCAYA DIRI ANAK 61
6.1 Pentingnya Rasa Percaya Diri 61
6.2 Cara Orangtua Memupuk Rasa Percaya Diri Anak 64
BAB 7 MENJADI KONSELOR BAGI ANAK 75
7.1 Pikiran yang Tidak Benar 76
7.2 Benarkah Semua Agama Sama? 77
7.3 Sulit Mengampuni 77
7.4 Terikat Dosa 78
7.5 Meragukan Keselamatan 79
7.6 Merasa Gagal 81
BAB 8 POLA ASUH ORANGTUA 83
8.1 Pola Asuh Otoriter 83
8.2 Pola Asuh Permisif 84
8.3 Pola Asuh Fleksibel 84
REFLEKSI BAGI ORANGTUA 87
9.1 Introspeksi Diri 87
9.2 Waspada 87
DAFTAR PUSTAKA 89
1.1 FAKTA DUNIA HARI INI DAN YANG AKAN DATANG
K
ita harus menerima kenyataan bahwa dunia hari ini tidak akan semakin baik justru semakin bobrok, merosot moralnya seperti ada tertulis di 2 Timotius 3:1-4). Apa yang dikatakan Alkitab tidak dapat dibantah, bahwa dunia hari ini akan semakin sekuler, duniawi di mana kebanyakan orang hanya sibuk mempersoalkan masalah duniawi daripada kekekalan.Alkitab sudah memperingatkan bahwa pergaulan buruk merusakkan kebiasaan baik yang dibangun sekian tahun lamannya (1 Kor 15:33). Segalanya yang telah diberikan orangtua kepada anak baik ajaran, pendidikan, biaya dan sebagainya, semuanya bisa menjadi rusak oleh pengaruh pergaulan buruk.
Pergaulan buruk bukan hanya dengan sesama, tetapi juga bisa terjadi lewat bacaan, tontonan, musik, dan lain sebagainya. Biarlah kegentingan dunia hari ini menyadarkan para orangtua untuk lebih bersungguh-sungguh mendidik dan melindungi buah hatinya di tengah-tengah lingkungan yang semakin duniawi dan menyimpang dari jalan kebenaran.
1.2 PENDIDIKAN SENTRAL : DI KELUARGA
Keluarga terus memainkan peran kunci dalam membentuk kepribadian seorang anak. Keluarga sampai kapan pun tetap menjadi pusat/sentral di mana nilai-nilai dan pola kehidupan seseorang terbentuk (Ul 6:4-9). Keluarga adalah tempat seseorang belajar, dengan cara yang paling praktis dan konkrit.
Keluarga adalah tempat yang paling baik untuk pendidikan. Tidak ada tempat pendidikan yang lain, baik yang didirikan oleh pemerintah atau gereja, yang dapat menggantikan keluarga. Pendidikan di sekolah maupun gereja hanya membantu atau menambah apa yang kurang, yang dilakukan oleh orangtua, tetapi bukan untuk menggantikannya. Pendidikan di luar rumah hanyalah
pelengkap pendidikan yang telah didasarkan di keluarga.
Orangtua diberi tugas oleh Tuhan untuk mendidik anak-anaknya seperti tertulis dalam amanat agung,”Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:20). Paulus pun menegaskan
tentang pentingnya pendidikan bagi anak di dalam keluarga,”Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Ef 6:4).
Setiap keluarga yang telah menerima Tuhan Yesus wajib mewujudkan amanat agung tersebut di keluarga, yaitu dengan menjadikan keluarga sebagai tempat mendidik anak untuk takut kepada Tuhan ; hidup seperti cara hidup yang diteladankan oleh Tuhan dengan menjalankan segala sesuatu yang diperintah-Nya. Tuhan mau agar orangtua mengasuh anak-anaknya dengan pola asuh yang benar guna membawa anak mereka ke tingkat kedewasaan melalui pendidikan di keluarga sehari-hari (Ul 6:7).Bila orangtua bertobat dan takut akan Tuhan akan menjadi sumber kebahagiaan bagi seluruh keluarganya (Mzm 128)
Marilah kita mendidik anak-anak kita takut akan Tuhan. Kalau orangtua tidak pernah memberikan teladan hidup yang takut Tuhan setiap hari yang dapat dilihat anak, anak akan rapuh bahkan bisa hancur hidupnya setelah dewasa. Anak akan sakit hati karena melihat orangtuanya hanya pandai memerintah, tetapi tidak melakukannya. Karena tidak mendapatkan keteladanan yang baik, kelak anak tidak punya pendirian kuat di tengah-tengah dunia yang makin buruk dan duniawi (2 Tim 3:1-5).
1.3 KEKUATAN
KELUARGA
Kita bisa amati hari-hari ini, merebaknya kejahatan sudah sampai tingkat yang memprihatinkan dunia. Bahkan kini narkoba mungkin sudah tidak dapat diberantas secara tuntas lagi di seluruh dunia. Pertanyaannya, adakah lembaga yang masih bisa dipercaya untuk menanggulanginya? Ada! Yaitu keluarga.
Pada zaman modern sekarang ini, semakin banyak manusia tidak menyadari bahwa lembaga keluarga adalah lembaga tertua yang dibangun oleh Allah sendiri sejak dunia dijadikan. Berbagai terpaan pencobaan datang silih berganti dari zaman ke zaman menimpa lembaga ini, namun faktanya telah teruji dan tetap tegar tak tergoyahkan dari masa ke masa. Namun pertanyaan, keluarga siapakah yang dapat dijadikan contoh hidup dalam berkeluarga di zaman modern sekarang ini? Ya, seharusnya keluarga Kristen. Marilah kita kembali pada prinsip Alkitab tentang bagaimana membangun keluarga sesuai rencana-Nya semula. Tuhan akan menolong kita.
Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, lembaga keluarga dinilai mempunyai kekuatan untuk mencegah anak-anak agar tidak terjerumus narkoba yang tengah mengancam dunia ini. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa lembaga keluarga adalah kunci yang tepat dan dapat dipercaya dibandingkan dengan lembaga-lembaga lainnya.2
1 Dick Iverson, Memulihkan Keluarga (Jakarta : Harvest Publication House,1990), 1 2 Erwin Pohe, Peran Keluarga Menghadapi Narkoba (Jakarta : Gerbang Aksa,2000), 6
M
embesarkan anak bukan hanya menyangkut masalah makanan saja (hal jasmani), namu juga menyangkut jiwani dan rohani. Setiap orangtua tentu ingin agar anaknya bertumbuh sehat dari segala segi. Secara jasmani, anak bertumbuh sehat dan tidak sakit-sakitan. Secara jiwani, yakni emosi dan pikirannya bertumbuh normal, memiliki rasa percaya diri, dan hidup saling mengasihi. Secara kerohanian, anak bertumbuh dewasa dalam pengenalan akan Tuhan dan hidup berkenan kepada-Nya (2 Ptr 3:18).Ada tiga tanggung jawab utama orangtua kepada anak, adalah menerima kehadiran anak, mencukupi kebutuhan anak, dan mendidik anak.
2.1 MENERIMA DAN MENGASIHI ANAK
a. Menerima diri anak seutuhnya
Firman Tuhan mengatakan,” ... dan buah kandungan adalah suatu upah”
(Mzm 127:3). Anak adalah suatu upah, berkat Tuhan bagi orangtua, sehingga orangtua memiliki tanggung jawab untuk menerima kehadiran anak.
Tuhan Yesus menyatakan,”Barangsiapa menyambut seorang anak dalam namaKu, ia menyambut Aku” (Mat 18:5). Betapa pentingnya orangtua menyadari
kebenaran ini. Itu artinya orangtua harus memandang, menyambut, menerima anak bukan berdasarkan penilaian idealnya sendiri, melainkan dari sudut pandang dan penilaian Tuhan.
Orangtua harus menempatkan penilaian Tuhan di atas penialian manusia. Terkadang orangtua menilai anak laki-laki lebih daripada anak perempuan, anak yang tampak/cantik maupun pintar lebih dihargai daripada anak yang biasa-biasa saja. Padahal Tuhan tidak pernah memandang dan menilai demikian.
Menerima kehadiran anak adalah wujud nyata kasih orangtua terhadap anak. Kasih adalah berkat besar yang dinikmati anak dalam sebuah keluarga. Keluarga seharusnya menjadi tempat kasih bertumbuh dan menghasilkan tindakan kasih. Orangtua harus mengasihi anak-anaknya dengan kasih Kristus,yaitu kasih tanpa syarat apapun. Kasih tanpa syarat merupakan ungkapan kasih Allah. Cara mengasihi yang sesuai dengan cara Allah diungkapkan dalam kesediaan untuk saling menerima tanpa syarat orang lain sebagai pribadi yang seutuhnya. Menerima kehadiran anak yang seutuhnya berarti menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh anak karena faktor pembawaan sejak lahir. Misal, anak pemalu, cacat fisik, kurang pintar, kurang tampan atau cantik, dan sebagainya. Menerima kehadiran anak bukan saja mau menerima kekurangan anak tetapi juga membantu mencari dan
mengembangkan kelebihan yang ada pada anak. Sikap penerimaan orangtua yang tanpa syarat adalah dasar yang sejati bagi perkembangan emosi dan kerohanian anak. Anak merasa kehadirannya sangat diterima dan diharapkan serta diperhatikan oleh orangtua. Dr.Volkhard Scheunemann mengatakan sebagai berikut:
“Pentingnya orangtua menerima keberadaan anak dan salah satu bentuknya adalah kesediaan untuk mendengarkan. Orangtua yang baik mengusahakan waktu untuk mendengar dengan penuh perhatian, terlebih untuk mengerti hal-hal yang tersembunyi di belakang kata-kata anak-anaknya. Memelihara hubungan terbuka sangat penting bagi masa depan anak Anak yang merasa dirinya diterima dalam keluarga, dihargai, dan dihormati akan juga menghargai dan menghormat orangtua”.1
b. Mengasihi anak dengan kasih murni
Setiap orangtua tentu mengasihi anak-anaknya. Tetapi kadangkala anak itu tidak merasakan kasih tersebut. Malah mungkin ia merasa dibenci oleh orangtuanya. Pertanyaannya mengapa kasih tersebut tidak sampai ke diri anaknya? Dr. Setiawani menguraikan mengenai kasih dengan bagus sekali sebagai berikut :2
Kasih yang kurang tepat
1) Kasih yang bersifat memiliki
Keinginan untuk memiliki menjadikan orangtua mendorong anak untuk bersandar kepada orangtua secara berlebihan. Ketika masa kanank-kanak, adalah kecenderungan yang wajar jika anak bergantung pada orangtuanya. Anak itu sangat bergantung dan membutuhkan orangtuanya. Tetapi semakin bertambahnya usia anak itu, tingkat ketergantungan itu seharusnya semakin berkurang.
Ada orang yang menginginkan anak itu terus menerus bergantung kepada mereka. Anak-anak mereka dianggap sebagai milik mereka. Orangtua yang demikian pada akhirnya akan menghalangi mereka menjadi anak-anak yang mandiri.
2) Kasih yang bersifat menggantikan
Kasih yang bersifat menggantikan ini adalah kasih yang menghendaki agar anak-anak itu dapat menggenapi cita-cita yang diidamkan oleh orangtuanya, dimana pada masa lalu, orangtua itu gagal mencapai ciota-cita tersebut.Misalnya, pada masa lalu seorang ibu gagal menjadi seorang dokter, dan akhirnya akan perempuannya diarahkan sedemikian rupa agar dapat berhasil menjadi dokter, padahal anak perempuannya tidak berbakat di bidang medis.
Hubungan kasih seperti ini adalah hubungan kasih yang berbahaya, dimana anak dituntut melakukan sesuatu yang sesuai dengan cita-cita orangtuanya. Kasih seperti ini berbahaya karena membatasi bakat anak dan hanya memuaskan orangtuanya.
3) Kasih yang bersifat memutarbalikkan peranan
umumnya, orangtua yang demikian adalah orangtua yang kekurangan kasih atau kesepian sehingga menuntut agar anak menyertainya dan mengerti dirirnya. Kasih seperti ini adalah kasih yang memutarbalikkan peranan. Sebenarnya, anaklah yang membutuhkan perhatian, kasih dan pendamping di dalam hidupnya.
4) Kasih yang bersifat pilih kasih
Kecenderungan orangtua lebih mengasihi anak yang pandai, cantik atau tampan, menarik dan sebagainya. Kasih ini banyak menimbulkan masalah. Contoh yang nyata dalah kasus Ishak lebih mengasihi Esau daripada Yakub, yang akhirnya menimbulkan masalah yang berlarut-larut dalam keluarga. Bahkan hampir terjadi pembunuhan.
Anak membutuhkan kasih dan juga keadilan. Kasih yang bersifat pilih kasih adalah kasih yang tidak adil (merata). Mengapa banyak anak menghjina dan tidak menghormati orangtuanya, salah sebabnya adalah karena orangtua yang tidak mampu berlaku adil terhadap anak-anaknya. Kasih yang tidak adil banyak menimbulkan kesulitan dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Kasih yang tepat : kasih Kristus
Orangtua harus menanamkan kasih yang tanpa syarat, yaitu kasih Kristus. Kasih Kristus adalah kasih yang walaupun dan bukan jikalau. Kasih tanpa syarat itu telah dinyatakan Kristus di kayu salib mati untuk kita, bahkan ketika kita masih berdosa (Rm 5:8), bukan karena syarat-syarat tertentu di dalam diri kita yang menjadikan Dia mengasihi kita. Bukan kita yang lebih dulu mengasihi Allah, tetapi Dia yang lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:10).
2.2 MENCUKUPI KEBUTUHAN ANAK
Kebutuhan anak meliputi kebutuhan jasmani, emosi, intelektual, sosial, dan religius serta karakter.
a. Kebutuhan jasmani
Kebutuhan jasmani bisa mencakup sandang, pangan, dan kesehatan. Pertumbuhan jasmani dan kesehatan merupakan kebutuhan vital bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak. Orangtua perlu memperhatikan makanan bergizi dan sehat bagi pertumbuhan dan kesehatan anak.
Tanpa kesehatan tubuh akan menghambat segala aktifitas anak. Selain itu, orangtua perlu mengajarkan anaknya memiliki pola hidup, pola makan yang baik untuk kepentingan anak sendiri dan juga kepentingan pelayanan bagi Tuhan,”Muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1 Kor 6:20).
b. Kebutuhan emosi
Perkembangan jasmani yang dialami oleh anak juga mempengaruhi keadaan emosinya dalam usaha menemukan identitas dirinya ketika memasuki masa remaja. Penerimaan dan penilaian orangtua terhadap anak akan menjadi dasar penerimaan dan penilaian anak terhadap dirinya sendiri. Sikap, tindakan dan kata-kata orangtua sangat memengaruhi perkembangan emosi anak.
Hal utama yang perlu orangtua ketahui untuk memenuhi kebutuhan emosi anaknya adalah suasana tenang dan aman dalam rumah tangga orangtuanya. Itulah yang paling dibutuhkan oleh anak. Banyak kenakalan anak remaja dan pemuda bersumber pada orangtua dan bukan terutama pada anak itu sendiri. Dan perasaan aman pada anak tergantung pada kerukunan hidup orangtuanya.
Menurut Dr. Scheunemann, ada dua faktor yang paling kuat memengaruhi alam perasaan atau psikologis anak. Pertama adalah hubungan erat antara ibu dan anak sejak dari permulaan hidupnya. Alkitab berkata,”Engkau, ya Tuhan, membuat aku aman pada dada ibuku” (Mzm 22:10). Betapa pentingnya
mengandung imunisasi tetapi sekaligus membuka kontak yang hangat dan in-tim serta meletakkan rasa aman pada jiwa anak. Kedua, hubungan orangtua dan anak. Perasaan aman pada anak tergantung pada kerukunan hidup orangtua. Itulah yang menjamin suasana keluarga yang kondusif dan sejahtera. Karena itu, orangtua jangan sekali-kali ribut atau bertengkar di depan anak. Keributan atau percekcokan yang disaksikan oleh anak dapat membuat anak-anak tidak betah tinggal di rumah dan suka mengembara. Jadi, pertengkaran orangtua merugikan alam perasaan anak.3
Sebaliknya, tunjukkan rasa hormat di antara suami istri agar anak-anak Saudara juga belajar untuk dapat menunjukkan rasa hormat kepada Saudara sebagai orangtua serta saudaranya. Dan juga kelak kepada suami atau istrinya. Karakter baik ini dimulai dari dalam keluarga, terutama dari dalam diri orangtua sendiri.
Berikut adalah cara praktis bagaimana orangtua bisa memenuhi kebutuhan emosi anaknya secara sehat :
Libatkan diri Saudara dalam kehidupan anak
Orangtua perlu melibatkan diri dalam kehidupan anaknya sehingga akan tercipta suatu hubungan yang akrab, harmonis, hangat dan terbuka antara orangtua dan anak. Dengan melibatkan diri dalam kehidupan anak, orangtua dapat mengerti kesulitan yang sedang dihadapi oleh anaknya sehingga orangtua bisa membantu memberikan solusi.
Saya hampir setiap minggu meninggalkan rumah beberapa hari karena panggilan pelayanan maupun mengajar ke luar kota. Setiap saya pulang dari luar kota, saya cari anak-anak dan mengobrol dengan mereka untuk menanyakan keadaannya, menanyakan kegiatan di sekolah dan terkadang saya meminta anak-anak kami menceritakan pengalaman mereka selama saya tidak ada di rumah.
Kondisi seperti ini makin mengakrabkan antara orangtua dan anak. Orangtua menjadi bagian dari kehidupan pribadi anak, sehingga ketika anak memiliki pergumulan atau masalah, ia akan menyelesaikannya melalui orangtua. Anak tidak mencari solusi di luar rumah.
Bambang Mulyono mengungkapkan sebagai berikut:
“Keluarga yang tanpa dialog dan komunikasi akan menimbulkan akibat buruk bagi anak. Bila orangtua tidak memberi kesempatan dialog dan komunikasi, maka anak-anak tidak mungkin membuka diri dan menceritakan masalah atau persoalannya. Anak tidak dapat berkembang dengan baik. Justru anak akan banyak menemui masalah yang sulit dalam perkembangannya”. 4
Dengan demikian, penting sekali orangtua membangun hubungan yang akrab sehingga tercipta komunikasi terbuka antara orangtua dan anak. Melalui dialog dan komunikasi terbuka tersebut, orangtua dapat menyatakan rasa kasih sayang sebagai wujud nyata perhatiannya kepada anak.
Berikanlah waktu yang berkualitas untuk anak Saudara
Saya amati anak-anak yang terjerumus dalam pelbagai perilaku yang tidak wajar sering disebabkan karena kurangnya komunikasi dengan orangtua dalam masa kanak-kanak hingga masa perkembangan selanjutnya. Bisa disebabkan karena orangtua sibuk dengan pekerjaan atau pelayanan sehingga kebutuhan anak yang paling mendasar yaitu kasih sayang, perhatian dan pelukan dari orangtua terabaikan.
Seringkali banyak orangtua berdalih “kami bekerja siang malam kan demi kesejahteraan taraf hidup keluarga—anak-anak!” Itulah sebabnya banyak orangtua menggantikan “waktu bersama” anak dengan materi, maupun hadiah-hadiah. Memang anak butuh semua itu tetapi kebersamaan dengan anak tidak dapat digantikan oleh apa pun juga kecuali kehadiran orangtua.
Dr. Narramore menjelaskan bahwa anak yang merasa tidak dikasihi bukan berarti anak yang menyendiri, menyesali diri dan merenungkan betapa kesepian dan tidak dikasihi mereka. Namun, anak yang merasa tidak dikasihi dapat mewujudkan diri dalam bentuk kesepian, merasa tidak dihargai di rumah, merasa kehadirannya mengganggu orang lain, atau sekedar dikesampingkan.5
Kesibukan orangtua yang terlalu banyak menyita waktu dan hampir-hampir tidak ada waktu bagi anak dapat mengakibatkan hal-hal buruk bagi anak. Kebutuhan anak bukan saja materi, tetapi juga kasih sayang, perhatian dan penerimaan yang tulus dari orangtua. Akibatnya anak tidak betah tinggal di rumah, cenderung untuk meninggalkan rumah dan ingin bersama teman-temannya.
Memang cara anak mengeskpresikan perasaannya tidaklah sama. Ada anak hanya menyerah begitu saja dan mengalami depresi. Ada lagi yang suka bermusuhan, membuat keributan, perkelahian karena merasa sok jagoan. Ada juga anak yang berpaling kepada narkoba, alkohol, seks bebas, dan perbuatan buruk lainnya sebagai usaha untuk mendapatkan penerimaan, pengakuan, perhatian dan kasih sayang yang mereka tidak peroleh di rumah.
Itu sebabnya orangtua perlu membagi waktu yang efektif bagi anak. Memberikan waktu-waktu khusus untuk disisihkan bagi anak-anaknya di tengah-tengah pelbagai kesibukan. Untuk itu perlu ada komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak. Orangtua perlu menyediakan waktu yang berkualitas untuk dekat dengan anak mereka.
mengungkapkan kasih kita kepada anak-anak kita selain memprioritaskan mereka. Praktekkanlah!
Memberikan waktu ber-”kualitas” pada dasarnya berisikan kemampuan kita untuk mendengarkan anak-anak kita dengan penuh simpati, menghargai pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan mereka, dan menikmati waktu kita bersama-sama.6
Kami sekeluarga menjadwalkan agenda waktu-waktu khusus bagi anak-anak kami. Kami menyediakan waktu untuk bisa beraktivitas bersama mereka. Agenda bersama anak itu tidak selalu harus mengeluarkan banyak biaya. Kami
berjalan-jalan bersama, bermain, mengajaknya ke luar membeli es krim, nonton TV atau film, menemani anak lomba, mengantar anak les, mengantar pergi ke toko mainan, atau makan malam di luar. Hal-hal itu kami lakukan sebenarnya kami sedang mengajarkan tentang pentingnya hubungan pribadi. Kami dapat melihat betapa senang anak-anak kami berada di dekat kami. Dan kami pun sangat menikmati kebersamaan itu.
Sesekali saya mengajak keluarga ikut pelayanan ke luar. Kebersamaan itu kami manfaatkan untuk sharing tentang harapan, cita-cita, saling tukar menukar informasi, menceritakan pengalaman kami berdua, menceritakan pelayanan bahkan bisa berbagi pergumulan keluarga untuk didoakan bersama. Berbagi pergumulan bukan bermaksud memberi beban mental bagi anak, tetapi kami ingin mengajarkan hidup bertanggungjawab kepada anak-anak kami. Memang tidak semua pergumulan kami ceritakan. Ada hal-hal tertentu hanya untuk kami pribadi sebagai orangtua, dan anak tidak perlu tahu.
Ingat, anak itu selalu ingin dekat dengan orangtuanya. Segala kegiatan orangtua itu baik, tidak ada salahnya. Tetapi kenyataan kegiatan-kegiatan itu akhirnya tak terkuasai lagi dan mulai merenggut hal yang paling dibutuhkan anak dalam keluarga yaitu suatu perasaan diterima, dikasihi, dimiliki, diperhatikan dan dimengerti. Jadi, sangatlah penting bagi orangtua untuk meluangkan waktunya semata-mata hanya untuk menikmati kebersamaan dengan anak-anaknya.
saya tidak sadar bahwa saya tadi sedang bermain dengan anak saya. Saya hanyut dalam pusaran kesibukan saya sendiri. Ketika saya sedang membaca buku sambil mengajak anak untuk bermain, itu tidak bisa disebut “waktu bersam-sama”! Karena itu jangan menghitung waktu duduk bersama-sama di satu ruangan sambil membaca sebagai “waktu bersama-sama” dengan anak. Itu bukan waktu tenang.
Sejak ditegur oleh istri saya, dan saya mulai menyadari bahwa anak-anak memerlukan waktu untuk bersama-sama dengan saya. Saya berusaha keras untuk menyediakan waktu. Saya memutuskan mencari suatu cara untuk bersantai dan melepaskan segala kesibukan dan ketegangan maupun kegiatan membaca agar dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama dengan anak-anak kami.
Saudara perlu membina hubungan baik dengan cara meluangkan sedikit waktu setiap hari atau setiap minggu bersama anak-anak Saudara, hanya sekedar untuk bersenang-senang bersama. Tentu saja, apa hendak Saudara lakukan berbeda-beda sesuai dengan umur dan tingkat perkembangan anak Saudara dan juga tergantung pada selera anak Saudara. Pasti itu sangat menyenangkan hati mereka.
Tonci Salawaney mengatakan :
Keluarga harus bisa menjadi tempat komunikasi antara orangtua dengan anak. Keluarga menjadi tempat yang berfungsi untuk mencari perlindungan atau rasa aman dan dukungan baik moral, emosional maupun spiritual serta tempat memecahkan masalah bagi anak. Dengan demikian, anak tidak akan mencari solusi di luar rumah atau mencari kompensasi (pengganti) dengan hal-hal negatif (misal, tawuran, balapan motor, seks bebas, alkohol, dll) dalam menyelesaikan masalahnya atau mencari-cari pengganti kasih yang tidak mereka alami di rumah.
Berikanlah pujian yang tulus
Anak mengharapkan pujian dari orangtua adalah suatu hal yang wajar. Orangtua perlu memuji anak atas hal-hal yang orangtua anggap penting. Misalnya, anak menunjukkan tingkah lakunya yang baik, nilai baik atau prestasi yang diperolehnya, maupun atas tanggungjawabnya yang dikerjakan dengan baik, dan lainnya.
Pujian yang tulus akan berdampak positif bagi perkembangan kepribadian dan rasa percaya diri anak. Sebagai orangtua yang bijak, Saudara jangan mengatakan sesuatu jika Saudara tidak benar-benar serius dengan ucapan Saudara.
Pujian dapat membangun rasa percaya diri dan juga sebaliknya dapat meruntuhkannya. Jan Dargatz mengatakan demikian:
“Pujian yang tulus dan ramah atas sesuatu hal yang layak dihargai sangat berperan dalam membangun harga diri dan keyakinan seorang anak. Pujian adalah salah satu tiang penyangga untuk membangun harga diri seorang anak, dan berperan sebagai perangsang untuk berusaha sebaik mungkin mencapai keberhasilan dalam kegiatan yang baru dan yang lebih sulit”.8
rasa harga diri dan percaya diri anak. Tanpa sadar, itu secara halus membunuh perkembangan karakter baik di dalam diri anak Saudara. Saudara perlu bertobat untuk tidak lagi mengucapkan kata-kata yang negatif, yang merendahkan harga diri anak, kurang menghargai anak-anak, yang membangkitkan kemarahan dan kebencian di hati mereka.
Manfaatkan waktu di meja makan
Kami memanfaatkan waktu bersama di meja makan untuk saling melayani, tempat berkomunikasi dan bercerita tentang pengalaman kehidupan kami maupun kehidupan anak. Waktu makan bersama “sekeliling meja” disitulah kami belajar untuk saling mendengarkan dan memperhatikan (Mzm 128:3).
Selain itu, percakapan pada waktu makan bersama dapat menjadi tempat “seminar harian” untuk mengajarkan banyak hal. Misal tentang nilai-nilai hidup Kristen atau membahas hal-hal yang relevan dengan berita-berita hari itu. Terkadang kami sengaja mengajukan pertanyaan atau hal-hal sehubungan dengan apa yang mereka saksikan di TV, atau apa yang terjadi di sekolah atau di mana saja. Tapi perlu Saudara pahami, jangan mengajukan masalah-masalah yang berat. Sebaiknya sesuai dengan kemampuan anak, dan disajikan dengan bahasa sederhana dan ringan sehingga pembahasan mudah dicerna oleh anak. Ingat, mereka sedang belajar dan mencari pengertian.
Bukankah Tuhan Yesus beberapa kali memakai kesempatan makan bersama untuk berkomunikasi dengan para murid-Nya? Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Ia meminta makan pada murid-Nya. Kejadian itu mencelikan mata mereka sehingga mereka mengerti bahwa itu adalah Tuhan. Juga di kitab Wahyu, Tuhan Yesus meminta agar kita mengundang Dia makan di rumah kita,”Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Why 3:20).
c. Kebutuhan intelektual
berakal...”(Mzm 32:8-9). Pikiran itu penting bagi manusia sendiri dan juga
bagi Tuhan. Kemampuan berpikir adalah pemberian Tuhan bagi kita dan kita
bertanggungjawab memakainya untuk memuliakan nama-Nya,”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12:30).
Dengan demikian, anak pun membutuhkan perkembangan intelektualnya. Orangtua dapat memenuhi kebutuhan intelektual ini dengan memberi kesempatan anak untuk menilai, memecahkan masalah, mengutarakan pendapat atau ide maupun argumentasi. Banyaknya pengalaman dan latihan dalam menilai, memecahkan masalah, mengutarakan pendapat atau alasan sangat membantu anak berpikir seimbang dan sehat. Jadi, penting sekali orangtua memberi kebebasan berpikir bagi anak.
Selain di atas, orangtua dapat menyediakan buku-buku bermutu yang dapat memperdalam pengertian dan memajukan daya berpikir anak. Bacaan atau berita di surat kabar maupun TV dapat menjadi bahan diskusi terbuka dengan anak untuk mengajar anak menilai dengan akal sehat dan juga berdasarkan iman Kristen. Memenuhi kebutuhan intelektual anak adalah tanggung jawab orangtua.
d. Kebutuhan sosial: Lindungi Pergaulan Anak Saudara
i) Jangan mengekang pergaulan anak Saudara
Setiap anak membutuhkan pergaulan sebagai kebutuhan untuk mengembangkan sosialnya. Bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan sifat sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial? Itulah sebabnya, manusia mempunyai naluri untuk hidup berkumpul dengan orang lain.
Sosial anak terus berkembang sesuai perkembangan usianya. Waktu masa kanak-kanak, pergaulannya hanya terbatas di lingkungan keluarga saja, kemudian berkembang mulai dari lingkungan keluarga, tetangga dan juga teman-teman sebaya baik di masyarakat, sekolah maupun di gereja.
ii) Berikan pedoman pergaulan
Pengaruh pergaulan tidak boleh dianggap remeh oleh orangtua sebab Firman Tuhan sudah memberi peringatan tegas,”Janganlah kamu sesat: pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor 15:33).
Tidak jarang terjadi, bahwa seorang anak “terpaksa” melakukan tindakan-tindakan yang kurang baik karena adanya “paksaan” tertentu dari teman-teman sebayanya. Bisa juga karena rasa solider sehingga ia terpaksa mengikutinya agar tidak dianggap anak mama, banci dan tidak dimusuhi oleh kelompok tersebut.
Di dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menjumpai contoh-contoh lainnya dan itu membuat para orangtua merasa kuatir dan cemas terhadap anak mereka. Apalagi kalau teman-teman sepermainannya tadi rata-rata berasal dari lingkungan sosial yang kurang baik.
Di sini betapa pentingnya orangtua mengajarkan Alkitab sebagai pedoman hidup bagi anak sehingga anak bisa menyeleksi teman pergaulannya. Anak dapat mengambil keputusan tentang apa yang baik dan yang buruk bagi dirinya sendiri sesuai pedoman Firman Tuhan yang telah diajarkan kepada mereka. Amsal 13:20 memberi peringatan,”Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang”.
Pedoman atau patokan pergaulan yang benar bagi orang Kristen adalah Alkitab dan bukan atas dasar kekayaan atau kemampuan materiil belaka. Sebab itu hanya akan menjerumuskan anak ke dalam kesukaran-kesukaran dalam bergaul. Anak tidak bisa bersikap luwes terhadap teman-temannya yang mungkin sifatnya kurang baik.
Selain upaya di atas, selanjutnya yang dapat dilakukan orangtua adalah menanamkan sikap untuk tidak memusuhi anak-anak lain, yang kira-kira tidak cocok dengannya. Kalau ada anak yang kurang baik sifatnya, jangan terlalu didekati tetapi juga jangan terlalu menjauhinya. Yang wajar
Orangtua tidak bisa mengawasi anak-anaknya selama 24 jam sehari. Untuk itu, orangtua harus memiliki patokan atau standar tentang apa yang benar dan yang buruk sebagai pedoman untuk dapat membimbing dan mengarahkan sikap serta perilaku anak. Pedoman yang mutlak benar adalah Alkitab yang adalah Firman Tuhan. Orangtua harus senantiasa mengajarkan Alkitab sebagai pedoman hidup dan pergaulan bagi anak.
Saya percaya tidak ada perlindungan yang benar-benar mampu menjagai anak-anak kita selain mengajarkan Firman Tuhan kepada mereka. Dengan menanamkan nilai-nilai kekristenan sejak dini berarti orangtua telah melindungi anak dari pengaruh-pengaruh buruk pergaulannya. iii) Berikan pedoman perihal berpacaran10
Bersikaplah realistis
Berpacaran merupakan pengalaman yang menggembirakan bukan hanya untuk remaja tetapi juga untuk ayah dan ibunya. Ketika anak menginjak remaja, ia mulai tertarik dengan lawan jenis merupakan sesuatu yang wajar. Bersikaplah realistis.
Bersikaplah fleksibel
Bagaimana tindakan orangtua menghadapi anak yang mulai pacaran? Saudara harus bijak dalam menangani hal ini. Satu sisi, Saudara tidak boleh bersikap permisif (membiarkan begitu saja), tetapi di sisi lain,
Saudara tidak boleh bersikap otoriter ( terlalu kaku dan ketat) seperti
zaman Siti Nurbaya. Saudara harus bisa bersikap fleksibel yaitu dengan
cara Saudara memberikan pedoman/batasan berpacaran yang sehat dan benar sesuai firman Tuhan.
Di sini perlu keseimbangan antara pengawasan dengan kebebasan. Sebab ketika anak menginjak remaja, ia tidak boleh diperlakukan seperti kanak-kanak lagi. Ketika anak masih kanak-kanak semakin ketat pengawasan, namun makin anak dewasa, seharusnya semakin banyak kebebasan (kepercayaan) dilimpahkan.
lari dari tanggung jawab untuk mengarahkan anak-anak mereka dalam memilih pasangan hidup.
Memang dalam mengarahkan anak memilih pasangan hidup, bukanlah hal mudah. Ada cukup banyak hal yang sepatutnya menjadi pertimbangan.
Memberikan batasan yang jelas dan tegas
Ketika anak menginjak remaja, tekanan dari teman-teman sebayanya itu sangatlah besar. Pengaruh teman-teman sebaya mereka lebih besar daripada pengaruh orangtuanya terhadap diri mereka. Sebaliknya, jika teman-temannya adalah para remaja Kristen yang aktif, maka mereka akan memperteguh petunjuk-petunjuk atau standar yang diajarkan oleh keluarga.
Selama anak tinggal di rumah Saudara, Saudara berhak untuk menentukan siapa yang boleh menjadi teman mereka. Anak tidak boleh sembarang bergaul dengan teman-teman pilihan mereka sendiri. Para remaja di luar Kristen mungkin tampak jauh lebih menarik daripada remaja Kristen. Persoalannya anak sendiri secara rohani memang belum benar atau kuat sehingga anak-anak di luar Kristen yang duniawi itu lebih menarik dia. Jika Saudara membiarkan anak Saudara keluar dari kelompok remaja Kristen dan pergi bergaul dengan orang-orang duniawi, maka orang duniawi itu akan merusakkan dia. Jika Saudara memberikan pedoman berpacaran diharapkan anak Saudara tidak akan mengikuti keinginannya sendiri yang masih belum matang.
Jangan beranggapan “ah tak mungkin anak saya yang saya didik baik-baik akan berbuat begitu”. Mengapa tidak mungkin? Ingat, remaja jaman sekarang sering nekad.
Jauh lebih baik bagi anak Saudara untuk mempunyai seorang teman kencan Kristen yang mempunyai keyakinan yang sama dan berasal dari keluarga yang mempunyai standar yang sama, yaitu firman Tuhan. Orangtua harus tegas menentukan batasan yaitu berpacaran hanya dengan orang Kristen!
mereka ketika keluar beberapa jam dengan teman kencannya. Bila orangtua sudah memberikan nasihat dan pedoman soal berpacaran/ berkencan seharusnya orangtua belajar mempercayai anak mereka.
Yang tidak kalah pentingnya adalah tingkatkan kehidupan iman anak Saudara. Untuk anak gadis jangan diijinkan “tergesa-gesa” berpacaran atau bergaul secara mengkhusus. Sebaiknya pergaulan bersifat umum dulu (bersahabat), jangan tergesa-gesa berpacaran. Biasanya bila terus mengkhusus sulit mengadakan pemilihan yang tepat sebab kehilangan kesempatan membandingkan.
Bila Saudara telah mengijinkan anak Saudara berpacaran, tanamkan kepada gadis sebaiknya bermain di tempat-tempat yang ramai, ada orang lain. Pokoknya jangan di tempat yang sepi-sepi, apalagi sepi-sepi malam hari sehingga anak Saudara tidak mudah tergelincir ke lembah kehinaan.
Kalau Saudara telah memberikan patokan yang jelas dan tegas perihal berkencan kepada anak Saudara, maka rasa kuatir setidak-tidaknya tidak mempunyai alasan untuk berkembang ketika anak Saudara pertama kali berpacaran. Jadi, perihal berkencan ini harus Saudara tanggapi secara serius.
Berikan pendidikan seks sejak dini
Selain tindakan di atas, sebaiknya orangtua menjelaskan perihal pendidikan seks kepada anak mereka. Ayah untuk anak laki-laki dan ibu untuk anak perempuan. Berikanlah penjelasan tentang pendidikan seks secara masuk akal, terbuka, jelas, tegas dan jujur. Jangan menakut-nakuti anak. Bicarakan dan diskusikan dengan anak Saudara.
Ketika anak kami mulai menginjak remaja, kami sudah mulai mengajarkan pendidikan seks kepada mereka. Bila kami belum “sampai hati” memberi penjelasan, kami menyediakan buku-buku tentang seks supaya anak dapat disuruh membaca sendiri. Terkadang muncul pertanyaan yang tak terduga dari anak kami, dan kami kebingungan menjawab. Kami pun tidak menjawab saat itu. Saya dan istri saya berdiskusi terlebih dahulu agar jawaban kami dapat memenuhi rasa ingin tahu secara cukup dan proporsional sesuai usia dan kebutuhan anak.
Bila Saudara merasa malu dan sukar untuk melakukan hal ini, tidak usah kuatir. Sebab sudah banyak buku-buku tentang seks oleh pakar Kristen di toko-toko buku Kristen.
Jangan lupa, buku-buku tentang seks itu harus disesuaikan dengan usia anak Saudara agar dapat mengarahkan anak dengan tepat dan benar. Dan bukan sebaliknya justru membangkitkan nafsu seksnya. Di sini Saudara harus berhati-hati.
e. Kebutuhan Rohani dan moral
Kebutuhan rohani dan moral (etika) saling keterkaitan atau tak terpisahkan. Kedewasaan rohani dan karakter yang menyerupai Kristus adalah kehendak Tuhan. Kedewasaan rohani dan karakter yang baik tidak terjadi dengan sendirinya , melainkan suatu proses melalui kehidupan sehari-hari yang
didasarkan pada nilai-nilai Alkitab. Di sinilah peran besar orangtua dibutuhkan untuk mengajarkan kebenaran kepada anak mereka.
Kebutuhan pengenalan akan Tuhan itu harus dimulai dari dalam keluarga terlebih dahulu. Kegiatan-kegiatan rohani yang dimulai di dalam keluarga memiliki dampak besar terhadap perkembangan kerohanian dan karakter anak.
Bagaimana orangtua memenuhi kebutuhan kerohanian anak-anak mereka, akan saya uraikan pada bab selanjutnya.
2.3 MENDIDIK
ANAK
telah mendapat mandat dari Tuhan untuk mendidik anak-anak mereka kepada ajaran dan nasihat Tuhan.
a. Perlunya mendidik anak
Ada beberapa alasan pokok pentingnya orangtua mendidik anakya:
Pertama : karena anak sudah terlahir dalam dosa, mewarisi sifat-sifat
dosa dari Adam dan secara alami memiliki kecenderungan berbuat dosa. Anak-anak dilahirkan dengan sifat dasar yang tidak baik. Walaupun mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, mereka dilahirkan dengan kecenderungan untuk berdosa dan memberontak. Itulah sebabnya, anak-anak sangat membutuhkan didikan dan disiplin dari orangtua mereka (Ef 6:1).
Memang anak yang baru lahir belum berdosa dalam arti melakukan kejahatan dan dosa secara moral, namun ia disebut orang berdosa karena mewarisi kodrat dosa,”Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia
oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”(Rm 5:12).
Perbuatan dosa secara moral itu merupakan ekspresi dari sifat berdosanya. Sebab semua manusia telah berdosa, termasuk anak-anak kecil sehingga mereka membutuhkan pengampunan dosa dan keselamatan. Orangtualah yang harus mendidik dan menuntun anak kepada jalan keselamatan,”Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim 3:15).
Ketiga : faktanya anak yang dibiarkan semaunya sendiri tidak akan pernah bisa melakukan maksud Tuhan dalam hidupnya, sebaliknya akan mempermalukan dan mendukacitakan hati orangtuanya. Salamo berkata,”Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya” (Ams 29:15) dan selanjutnya juga dikatakan,”Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya, dan memedihkan hati ibunya” (Ams 17:25).
b. Target dalam mendidik anak
Ada tiga target utama orangtua dalam mendidik anak, yaitu menjadikan anak takut akan Tuhan, anak taat dan menghormati orangtua serta hidup saling mengasihi. Ketiga target tersebut saya bahas di bab 3.
1 Volkhard dan Gerlinda Scheunemann, Hidup Sebelum dan Sesudah Nikah (Malang: YPPII, 2008), 90
2 Stephen Tong dan Setiawani Seni Membentuk Karakter Kristen (Surabaya : Momen-tum,1995),12-16
3 Ibid, 89-90
4 Y. Bambang Mulyono, Mengatasi Kenakalan Remaja (Yogyakarta : Andi, 1985), 46
5 Bruce Narramore, Mengapa Anak-anak Berkelakuan Buruk (Bandung : Kalam Hidup,1980),67 6 Ibid, 69
7 Tonci R. Salawaney, Apakah Rumah Tangga Anda Bahagia (Bandung: Lembaga Literatur Baptis,1998), hlm. 102-103
8 Jan Dargatz, 52 Cara Membangun Harga Diri dan Percaya Diri Anak (Jakarta : Pustaka Tang-ga,1999), 2-3
9 Soerjono Soekamto, Remaja dan Masalah-masalahnya (Jakarta :BPK Gunung Mulia,1985), 21
10 Perihal berpacaran, saya telah membahasnya secara mendalam di dalam buku saya “Bible, Pray, Love” (Yogyakarta:Andi, 2015). Silakan membaca dan semoga membantu Saudara dalam membimbing anak Saudara perihal jodoh sehingga dapat menentukan jodohnya sesuai kehendak Tuhan untuk membangun pernikahan yang disukai Tuhan.
3.1 ANAK TAKUT AKAN TUHAN
O
rangtua memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan kerohanian anak-anaknya. Saudara sebagai orangtua mempunyai hak istimewa memimpin anak Saudara untuk mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Jangan membiarkan anak-anak Saudara begitu saja dengan harapan bahwa mereka kelak akan mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat karena mereka tinggal di keluarga Kristen.Kapan waktu yang tepat bagi orangtua untuk mulai mengajar anaknya tentang Tuhan? Sesuai kesaksian Alkitab adalah sejak kecil. Bagaimana caranya?
a. Jadikan diri Saudara menjadi teladan baik
Salah satu cara terbaik yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anaknya bertumbuh dalam kedewasaan iman adalah dengan memperlihatkan kehidupan yang beriman dan takut Tuhan setiap hari. Firman Tuhan yang dipraktekkan adalah lebih meyakinkan daripada Firman yang dijelaskan. Sebab anak tidak hanya menerima apa yang diajarkan oleh orangtua tetapi membutuhkan teladan yang nyata/riil dari orangtuanya. Teladan yang baik adalah hadiah terbesar yang dapat diberikan orangtua kepada anak mereka. Jadilah saksi yang hidup dalam keluarga.
Meniru adalah pola umum bagaimana cara anak belajar. Itulah yang dilakukan oleh anak kecil yaitu menyerap dan meniru apa saja yang ia lihat
dan dengar dari orang lain, khususnya adalah orangtua. Orangtua adalah orang yang pertama kali dilihat anak setiap harinya. Segala sesuatu yang dilakukan orangtua dijadikan sebagai contoh dan tolok ukur bagi anak untuk menilai mengenai apa yang baik dan buruk, antara yang boleh dilakukan dan tidak. Jelas sekali, di sini pengaruh orangtua luar biasa besarnya.
Untuk itu orang tua harus menjadi teladan baik, yaitu dengan memperlihatkan (memperagakan) apa yang telah diajarkan kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Sebab jika pengajaran orang tua bertentangan atau berbeda dengan tindakan sehari-hari, maka anak akan kehilangan pengaruh terbesar, yang dibutuhkan untuk mendorong anak hidup dalam kebenaran firman Tuhan.
Sebagai orangtua, Saudara harus mempunyai kehidupan yang konsisten di depan anak-anak Saudara. Saudara perlu memeriksa diri setiap hari apakah Saudara sendiri hidup sesuai kebenaran atau tidak. Teladan baik orangtua kepada anaknya berfungsi sebagai peta jalan bagi mereka di masa depan. Larry Keefauver mengatakan demikian:
“Teladan yang paling utama yang harus ditiru oleh anak-anak adalah hubungan orangtua dengan Allah”.1
Banyak orangtua beranggapan sudah memenuhi tanggungjawabnya mencukupi kebutuhan pendidikan rohani dengan menyuruh anak ke gereja, sedangkan teladan pribadi kurang bahkan sering tidak dipedulikan. Mereka juga beranggapan bahwa yang kompeten mengajarkan bidang kerohanian itu adalah tugas pendeta, guru Sekolah Minggu di gereja dan guru agama di sekolah.
Firman Tuhan mengatakan,”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatmui, jiwamu, akal budimu dan kekuatanmu” (Mat 22:37). Tuhan meminta
para orangtua lebih dahulu menikmati persekutuan yang erat dengan diri-Nya sehingga dapat mengajarkan kepada anak mereka.
manusialah yang akan meniru perilaku binatang. Mengapa? Karena manusia dilahirkan dengan karakter sedangkan binatang tidak. Binatang tidak akan saling mempengaruhi. Anak ayam tetap akan berperilaku seperti ayam walaupun tanpa diajar induknya bagaimana menjadi seekor ayam. Ayam tidak akan mengikuti perilaku binatang lain meskipun dicampur bertahun-tahun lamanya.
Lain dengan manusia. Seorang anak manusia bila tidak dididik dan diberi contoh/teladan bagaimana hidup yang benar di hadapan Tuhan oleh orangtuanya, niscaya tidak akan pernah menjadi “manusia”. Memang tubuhnya manusia, tetapi apakah perilakunya sudah mencerminkan keserupaan dengan Tuhan? Jadilah orangtua bijak untuk membawa anak Saudara kepada kepenuhan Kristus yang adalah rupa dan gambar Allah yang tidak kelihatan. Menjadi serupa Kristus sama artinya segambar dengan Allah.
Manusia itu secara tidak sadar tertular perilaku “kebinatangan” karena Adam dan Hawa relatif cukup lama bergaul dengan binatang di Taman Eden. Sebelum Adam dan Hawa berdosa, gambar Allah masih utuh sehingga segala
perilaku dari luar tidak dapat menulari perilaku mereka. Setelah mereka
berdosa, gambar Allah dalam diri mereka menjadi rusak (Rm 3:23). Sehingga gambar-gambar lain yang dijumpainya turut membentuk gambar dirinya. Bukankah kita pernah mendengar ungkapan kalau ada orang yang jahat, sadis terhadap sesamanya, lantas masyarakat berkata : ah... orang itu kejam seperti binatang. Mengapa tidak pernah dikatakan binatang itu kejam seperti manusia? Ingat, manusia adalah makhluk peniru, dan binatang tidak! Betapa pentingnya teladan hidup yang benar bagi anak-anak Saudara.
Dan hanya melalui didikan firman Tuhan sajalah, seorang pendidik yakni orangtua dapat mengusir segala karakter buruk di dalam diri anak-anak mereka untuk kembali menjadi manusia “ideal” yang segambar dengan Allah di dalam Kristus (Kol 1:15).
Dia menghendaki setiap orang yang menerima-Nya mewarisi karakter dan perilaku-Nya.
Salah satu bahagia paling besar bagi keluarga yaitu mempunyai keturunan yang beribadah, mencintai Tuhan, dan yang beriman sungguh-sungguh. Harta Saudara yang paling besar bukan aset Saudara, bukan segala fasilitas hidup yang Saudara miliki dan bukan pula angka yang panjang di bank, tetapi anak-anak yang beribadah dan takut akan Tuhan dan memiliki kerohanian yang suci serta limpah yang akan berguna bagi sesama dan terlebih bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya.
Saudara jangan sampai kehilangan wibawa di hadapan anak-anak Saudara. Wibawa Saudara akan runtuh jika Saudara tidak sanggup memberi teladan baik bagi anak Saudara. Dr. Narramore mengatakan sebagai berikut:
“Jika anak-anak melihat orangtu mereka hidup saleh, mereka akan belajar untuk melakukan hal yang sama.Kalau seseorang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat, maka ia menjadi jujur. Kalau anak-anak memperhatikan ayah dan ibu mereka selalu jujur, maka mereka akan jujur juga. Kalau mereka melihat orangtua mereka tidak jujur, maka mereka cenderung untuk tidak jujur terhadap diri mereka sendiri atau paling tidak hanya menaruh sedikit perhatian untuk apa yang dikatakan oleh orangtua mereka tentang Allah”.2
Jelas bagi kita bahwa karakter anak itu ditentukan oleh bagaimana karakter orangtuanya. Penting sekali, Saudara senantiasa bercermin dan belajar pada Firman Tuhan sehingga anak-anak Saudara mengikuti jejak iman Saudara. Saya ulangi lagi, salah satu cara terbaik untuk menolong anak Saudara bertumbuh dalam iman kepada Allah adalah dengan memperlihatkan kehidupan yang saleh di depan anak setiap hari. Gordon mengatakan demikian:
“Orangtua juga harus menjadi contoh yang benar bagi anak-anaknya. Kalau anak memandang orangtua sebagai tokoh yang berotoritas dan menjadi teladan bagi anak-anaknya, anak akan menghormati dan menaati orangtuanya dan mendengarkan didikannya”.3
yang bijak seperti Paulus berkata,”Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Kor 11:1).
Berupayalah menjadi contoh baik, bukan sempurna bagi anak Saudara.
Sebab kenyataan tidak ada orangtua yang sempurna. Saya sendiri pun menyadari memiliki kelemahan dan kekurangan baik sebagai suami bagi istri saya, sebagai ayah bagi anak-anak kami dan juga sebagai hamba Tuhan bagi jemaat yang saya gembalakan. Tanpa disadari, saya telah bertindak bodoh. Sewaktu saya menyadarinya, saya memakai pengalaman “kebodohan” itu untuk mengajarkan sikap terbuka, rendah hati, mau dikoreksi dan saya mengakui kesalahan tersebut dan meminta maaf baik kepada istri, anak-anak maupun jemaat. Jadi kebodohan pun bisa menjadi pelajaran yang berharga. Baik sebagai pelajaran saja tetapi tidak baik untuk diulang kembali!
b. Buatlah ibadah di keluarga
Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Bapak-ibu adalah guru-gurunya. Bukan sebagai guru bahasa, matematika, atau ilmu pengetahuan lainnya, melainkan sebagai guru agama dan etika. Orangtua adalah pendeta bagi anak. Pendidikan inilah yang sering diabaikan oleh banyak keluarga Kristen. Sering orangtua beranggapan bahwa mereka sudah memenuhi kebutuhan rohani anak dengan menyuruh mereka ke Sekolah Minggu, dan ibadah lainnya di gereja. Jadi, tanggung jawab memenuhi kebutuhan rohani anak anak terutama ada pada pundak orangtua, bukan pendeta, guru Sekolah Minggu atau guru agama di sekolah. Itu semuanya belum maksimal.
Gereja hanya mengajar anak selama 1 jam. Jika anak ikut kebaktian, ditambah 1 jam. Di sekolah anak diajar 1 jam. Jadi dalam seminggu anak hanya belajar tentang kebenaran sekitar 3 jam. Berapa lama pengaruh lain hidup anak kita selama seminggu? Coba kita hitung: 24 jam X 7 hari = 168 jam, lalu dikurangi 3 jam anak mendengar firman, berarti sisa 155 jam. Apa yang kita isikan kepada anak selama 155 jam itu? Dengan demikian, betapa pentingnya ibadah di keluarga.
i) Mezbah keluarga adalah tempat mencukupi kebutuhan rohani anak.
Kebutuhan anak perlu diperhatikan seimbang, baik jasmani, mental emosioal, sosial, intelektual dan spiritual. Mezbah keluarga berdampak baik sekali bagi perkembangan anak dari sisi spiritual dan juga perkembangan lain seperti mental emosional, intelektual dan sosialisasi anak.
Buatlah mezbah doa di keluarga Saudara. Bawalah seluruh keluarga Saudara pada Tuhan. Tuhan sendiri meminta agar seluruh keluarga kita dilibatkan dalam doa seperti terjadi pada Yoel 2:16,”Kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya”. Jangan remehkan anak-anak Saudara! Berdoalah
sekeluarga. Di mana ada kesehatian, di situ ada otoritas Tuhan.
Latihlah anak Saudara berdoa! Kami menjalankan ibadah di keluarga sejak kami menikah. Inilah cara kami memperkenalkan anak sejak masih dalam kandungan. Ingat, anak belum lahir pun sudah mampu “merekam” semua kejadian yang dialaminya sejak dalam kandungan ibunya sampai hari ini.
Mulai sekarang, libatkan anak-anak Saudara berdoa— bermezbah keluarga. Ini yang diminta Tuhan kepada Saudara. Selain Yoel, raja Yosafatpun diperintahkan Tuhan untuk melibatkan anak-anak,”Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka.” (2 Taw 20:13).
Sebenarnya, dalam mezbah keluarga bukan hanya mengajarkan Firman Tuhan kepada anak. Ada banyak topik yang dapat dibicarakan dalam mezbah keluarga antara lain : bagaimana memilih teman bergaul, teman hidup, pekerjaan, prestasi, pelayanan, pendidikan, etika dan moral, dan sebagainya.
ii) Tanamkan iman dari sejak kecil (Ul 6:4-9)
melainkan menunggu waktu. Pendidikan dan kerohanian selalui melalui proses waktu yang relatif panjang.
Kualitas pribadi dan moral adalah produk taburan dari masa kecil. Masa kecil adalah masa peletakkan fondasi iman, kepribadian dan watak Kristus. Dampak menanamkan iman dari sejak masa kecil kita bisa lihat contohnya pada Obaja. Obaja adalah kepala istana yang bekerja untuk Raja Ahab dan Ratu Izebel yang terkenal kejam. Kitab 1 Raja-raja 18:1-15 mencatat,”Obaja itu seorang yang bersungguh-sungguh takut akan Tuhan”
(ayat 3). Kualitas keimanan Obaja telah teruji ketika ia menentang rencana jahat Ratu Izebel yang waktu hendak memerintahkan untuk membunuh semua nabi. Apa yang diperbuat oleh Obaja? Ia menyembunyikan seratus orang nabi dan melindungi mereka. Ia mempertaruhkan nyawanya demi melindungi para nabi Tuhan. Obaja adalah pahlawan iman pada zamannya. Dari mana Obaja mendapat kualitas itu? Obaja membuka rahasianya,”…
hambamu ini dari sejak kecil takut akan Tuhan” (ayat 12).5
Contoh lain adalah Timotius. Paulus memberi kesaksian tentang Timotius,”Ingatlah juga bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim 3:15). Siapa yang
meletakkan fondasi iman kepada Timotius dari sejak kecil? Orangtuanya bahkan neneknya,”Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Louis dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2 Tim 1:5).
Jadi, tabiat baik dan buruk seorang anak adalah produk taburan sejak kecil. Itulah sebabnya orangtua harus menabur benih iman, ilmu, rasa tanggung jawab, rasa peduli, takut akan Tuhan, pelayanan dan lainnya dari sejak kecil. Semua tabiat baik itu bukan warisan alamiah melainkan hasil taburan orangtua kepada anak sejak kecil. Kalau benih yang ditabur baik, niscaya buahnya pun baik.
iii) Setiap kesempatan bisa dimanfaatkan sebagai moment mengajar
kepada anak-anakmu dan membicarakan apabila engkau duduk di rumah, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Selanjutnya dikatakan juga dalamMzm 78:3-4, “Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak menyembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya”.
Orangtua dapat bercerita tentang Firman Tuhan melalui tokoh-tokoh iman dalam Alkitab, seperti Abraham, Daud, dan lainnya, atau bisa juga melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar Saudara maupun dengan memberi contoh-contoh kehidupan sehari-hari yang dapat dilihat, diamat-amati oleh anak.
Bicara soal tempat di mana orang tua dapat bercerita Firman Tuhan kepada anak? Alkitab mengatakan setiap tempat dan waktu (Ul 6:4-9) dapat
dipergunakan untuk mengajarkan firman Tuhan. Waktu berbaring, waktu dalam perjalanan, waktu makan, waktu bangun, waktu istirahat. Setiap kesempatan dapat dimanfaatkan sebagai moment mengajar anak.
iv) Manfaat lain dari ibadah di keluarga adalah keharmonisan.
Tuhan menghendaki agar orangtua dan anak adalah harmonis. Suatu hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak hanya dapat terjadi jika di dalam keluarga tersebut ada komunikasi yang baik dan hangat.
Mezbah keluarga bisa menjadi jalan keharmonisan antara orangtua dan anak. Di mezbah keluarga itulah menjadi tempat komunikasi untuk kami sharing Firman Tuhan dan berbagai pergumulan maupun kebutuhan keluarga.
Kami telah merasakan manfaat mezbah keluarga. Mezbah keluarga dapat mempererat hubungan antara pribadi orangtua dan anak dan juga antara anak yang satu dengan yang lain. Melalui mezbah keluarga juga dapat menjadi tempat membina kesehatian dalam keluarga sehingga tercipta suasana yang indah.
“Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa rumah bagi seorang anak sebenarnya adalah orangtuanya, perasaan amandalam diri seorang anak tidak berasal dari keadaan rumahnya, tetapi berasal dari hubungan antara kedua orangtuanya”. 6
c. Mendorong anak untuk membaca fi rman Tuhan setiap hari
Bila anak sudah dapat membaca maka Sudara dapat mendorong anak untuk membiasakan diri membaca Alkitab setiap hari (Mzm 1:1-3). Tentunya Saudara sendiri telah membiasakan diri (menjadi teladan) membaca Alkitab setiap hari (Luk 6:31). Firman Allah yang dipraktekkan adalah lebih meyakinkan ketimbang Firman Allah yang dijelaskan.
Sejak kecil, anak kami sudah kami biasakan agar mereka membaca Alkitab setiap hari, dan hingga hari ini tanpa disuruh sudah melakukannya sendiri. Kami menanamkan pentingnya membaca Alkitab untuk pertumbuhan kerohanian mereka. Anak rajin membaca Alkitab setiap hari karena mereka diberitahu alasannya. Jangan memberi iming-iming akan membeli sesuatu kepada anak agar membaca Alkitab setiap hari. Misal, kalau kamu membaca Alkitab nanti saya belikan jajan, atau saya ajak pergi, dan sebagainya. Sekali lagi, beri alasan yang masuk akal yaitu pertumbuhan rohani.
Melalui pembacaan firman Tuhan setiap hari anak akan mengalami pertumbuhan kerohanian dan sekaligus akan memberikan pengetahuan tentang apa yang benar dan yang salah, sehingga dalam masa perkembangan menuju masa dewasa, anak dapat mengambil sikap atau keputusan yang benar sesuai dengan firman Tuhan.
d. Sediakan buku renungan harian untuk anak
Sebelum anak-anak kami dapat membaca, mereka sudah dapat menikmati cerita Alkitab yang dibacakan oleh istri saya dari buku anak-anak. Istri saya selalu memulai cerita Alkitab setiap hari entah sebelum mereka tidur maupun saat santai.
harian anak itulah yang kami pakai untuk membawa mereka mengenal Tuhan Yesus.
Melalui bacaan tersebut anak dibimbing untuk semakin mengenal Kristus. Selanjutnya kami memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bacaan tersebut atau bisa juga melalui apa yang mereka tanyakan. Yang penting Saudara jangan lari, tetapi hadapi dan beri keterangan secukupnya (sesuai usia anak) dan dengan demikian anak merasa puas.
Ingat, anak Saudara memerlukan penjelasan dari Saudara! Suatu bahaya besar jika anak mencari jawaban di luar orangtua, melalui bacaan, teman, tontonan yang tidak bermanfaat, yang dapat merusakkan dan menyesatkan anak. Mintalah hikmat Tuhan untuk menjelaskan firman Tuhan atau sejumlah pertanyaan anak Saudara, atau bisa juga Saudara bertanya pada saudara seiman lainnya.
Keuntungan-keuntungan apa saja yang diperoleh anak-anak dari buku-buku yang mereka baca? Bacaan memberikan pelajaran mengenai bermacam-macam hal yang tak terhitung banyaknya. Bukankah anak-anak mudah dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dibaca? Dengan orangtua menyediakan bacaan Kristen dalam berbagai golongan usia akan menuntun mereka kepada ajaran dan nasihat Tuhan.Melalui bacaan tersebut, orangtua dapat memberikan hal-hal yang dapat memengaruhi anak-anak seumur hidup mereka. Mereka bisa diilhami untuk melakukan hal-hal besar bagi Allah.
e. Doronglah anak untuk menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan
Tanggung jawab terbesar orangtua adalah membawa anak kepada Tuhan Yesus. Orangtua tidak boleh membiarkan anaknya begitu saja dengan harapan bahwa kelak ia besar akan mengenal Tuhan Yesus dengan sendirinya sebab ia sudah tinggal di keluarga Kristen. Di sinilah peran orangtua untuk terus menerus membimbing anaknya untuk mengenal Tuhan Yesus dan selanjutnya menjalin hubungan pribadi dengan Dia melalui saat teduh secara teratur setiap hari.
selektif dalam memilih teman bergaul serta menjauhkan diri dari pergaulan yang tidak sehat.
f. Libatkan anak dalam kegiatan gereja
Selain kegiatan rohani yang sudah dimulai dalam keluarga, kami perlu mendorong anak-anak kami untuk terlibat aktif dalam kegiatan gerejawi seperti ibadah Sekolah Minggu, ibadah remaja dan pemuda, Sekolah Injil Liburan, dan kegiatan gereja lainnya sesuai golongan usia anak.
Dengan melibatkan anak dalam kegiatan rohani di gereja berarti Saudara sudah memberikan “ruang” pada anak Saudara untuk mengembangkan kehidupan sosialnya dan juga spiritualnya. Berarti Saudara juga turut membekali anak-anak Saudara dengan pergaulan yang baik dengan teman-temannya di gereja.
3.2 ANAK TAAT DAN HORMAT KEPADA ORANGTUA
Ada perintah Tuhan kepada orangtua untuk mengajar anak taat dan menghormati orangtua mereka,”Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu
— ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:
supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Ef 6:1-3). Ketaatan
adalah jalan kehidupan bagi orang percaya.
Tuhan Yesus pun sebagai Anak, Ia pun juga belajar taat kepada Bapa-Nya,”Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr 5:8). Ketaatan Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya digumuli
dan dilalui dengan air mata dan penderitaan dan Ia menang (Ibr 5:7).
Anak harus taat dan hormat terhadap orangtua. Namun hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Orangtua harus mengajarkan kepada anak mereka. Mendidik anak untuk taat dan hormat kepada orangtua merupakan tantangan yang dihadapi oleh setiap orangtua, apalagi dengan perkembangan zaman saat ini, sudah bukan zamannya lagi pakai metode otoriter.
kepada orangtua seharusnya timbul bukan karena sikap otoriter orangtua mereka, melainkan karena kasih seorang anak kepada orangtua. Itulah ketaatan yang indah. Kasih yang diberikan anak kepada orangtua sama dengan kasih yang diberikan orangtua kepada anak, yakni kasih tanpa syarat.
Memang, kita akui tidak ada orangtua sempurna. Tetapi Ia telah memberikan petunjuk untuk mendidik anak-anak kita. Allah benar-benar mengharapkan agar kita mendidik mereka untuk taat dan hormat kepada orangtua. Tujuan didikan yang utama adalah mengajar agar suatu hari kelak anak itu dapat sepenuhnya bertanggungjawab untuk kehidupannnya sendiri. Anak menjadi dewasa dalam aspek kehidupannya.
Untuk mengajar anak taat kepada orangtua hendaklah didahului oleh contoh bapak ibunya. Firman Allah yang dipraktekkan lebih meyakinkan daripada Firman Allah yang dijelaskan. Contoh seorang ibu yang tidak menaati perintah-perintah bapaknya. Tindakan ibu yang tidak taat ini secara tidak langsung menggagalkan upaya mengajar anak taat pada orangtuanya.
Hal yang sama juga, jika bapak ibunya tidak taat kepada Tuhan menghalangi anak-anak untuk menghormati orangtua mereka sendiri. Ibu yang tidak taat pada suaminya, atau sebaliknya seorang bapak yang tidak menaati Tuhan. Tindakan orangtua yang tidak taat pada Tuhan adalah cerminan pemberontakan terhadap Tuhan. Orangtua yang demikian, tidak hanya bersalah kepada Tuhan saja tetapi juga telah merugikan anak mereka sendiri. Orangtua semacam itu sulit menuntut ketaatan dari anak-anaknya.
Anak yang tidak pernah dituntut taat dan hormat pada orangtua, tidak akan bisa belajar taat pada Tuhan, sebaliknya sulit menaati Tuhan di kemudian hari. Jadi, merupakan tanggung jawab bagi seorang anak selama ia tinggal bersama orangtua ialah belajar taat. Kebenaran ini sudah mulai pudar. Kita hidup di zaman yang cenderung mengijinkan segala-galanya atau serba menuntut kebebasan.
3.3 ANAK HIDUP SALING MENGASIHI
dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yoh 4:20-21). Saudara di sini, dalam arti luas adalah semua
sesama manusia (Mrk 12:31). Tetapi dalam lingkup kecil adalah saudara sendiri di dalam keluarga.
Memiliki keluarga yang saling mengasihi adalah kehendak Tuhan dan sekaligus kebahagiaan orangtua. Orangtua bahagia bila melihat anak-anaknya hidup saling mengasihi. Tidak jarang saya menjumpai keluarga yang tidak bahagia, di mana anak-anak mereka saling membenci bahkan ketika masing-masing sudah berkeluarga pun, mereka masih saling membenci.
Bagaimana caranya supaya anak-anak Saudara hidup saling mengasihi saudaranya?
a. Jangan pilih kasih
Kenyataan sering terjadi kasih yang bersifat pilih kasih. Umumnya, anak yang pandai, cantik dan ganteng, mendapatkan kasih yang lebih daripada anak yang lain.
Kasih yang bersifat pilih kasih tentu menimbulkan masalah di keluarga. Contoh nyata di Alkitab adalah kisah keluarga Ishak, di mana ayah lebih mengasihi Esau dan ibu lebih mengasihi Yakub. Demikian juga, Yakub lebih mengasihi Yusuf daripada anak-anaknya yang lain sehingga menimbulkan kecemburuan sampai-sampai hampir terjadi pembunuhan. Karena itu jangan Saudara menganakemaskan yang satu di atas yang lain. Jangan juga mengistimewakan anak yang satu di atas yang lain karena sesuai dengan keinginan atau bakat Saudara. Jangan bertindak bodoh.
Jangan pilih kasih terhadap anak-anak Saudara. Sikap pilih kasih itu berbahaya. Perlakukan semua anak Saudara secara adil dan bijaksana. Hasilnya anak-anak Saudara akan hidup rukun dan saling mengasihi serta saling mendukung.
b. Jangan membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain
adalah bodoh. Tindakan membandingkan anak satu dengan yang lain akan menciptakan rasa bermusuhan.
Orangtua yang suka membanding-bandingkan anak yang satu dengan saudaranya sendiri atau anak lain maka anak yang kurang pandai atau kurang sukses itu dapat menjadi minder (rendah diri). Anak yang demikian akan semakin merasa gagal dan tidak bisa menyadari keunikan dan kelebihan di dalam dirinya. Padahal setiap anak pasti punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak lain. Tuhan itu mahakasih dan mahaadil.
Orangtua bijak akan menerima keberadaan anak apa adanya dan juga membantu anak untuk mengenali serta mengembangkan potensi atau kelebihannya. Langkah bijak adalah doronglah anak-anak Saudara untuk saling mengasihi dan berbagi dan bukan dibandingkan. Biarlah anak mencapai sukses di bidangnya masing-masing. Entah di bidang pendidikan, seni, ketrampilan, birokrasi, dagang, politik, dan lainnya. Setiap anak adalah unik. Tuhan sudah menetapkan jalan setiap anak masing-masing berbeda.
c. Jangan membela anak berdasarkan usia
Ketika anak-anak kami berselisih, kami cenderung lebih membela anak yang usianya lebih rendah dengan anggapan karena adiknya masih kecil. Kami meminta kakaknya untuk memahami adiknya. Seringkali saudara yang lebih tua diminta mengalah. Ternyata ini adalah tindakan bodoh.
Kini, kami mengubah cara mendidik mereka. Ketika mereka berselisih, kami menegur anak yang salah dengan kasih. Dengan cara demikian, sang adik tidak merasa selalu dibela orangtua dan kakak tidak merasa dikalahkan sebab memang adiknya yang salah.
Membela anak dengan tidak melihat siapa yang salah dan yang benar tetapi hanya mempertimbangkan usia saja akan berdampak buruk bagi anak. Anak yang kecil karena selalu dibela bisa menjadi egois dan manja. Sementara kakaknya yang diminta selalu untuk mengalah terhadap adiknya, bisa merasa rendah diri bahkan perasaan tertolak.
d. Jangan cekcok di depan anak
Tidak ada orangtua yang sempurna. Di dalam rumah tangga pasti ada hal-hal yang kurang sempurna. Justru kekurangan dan ketidaksempurnaan itu adalah “ruang” untuk saling mengasihi dan mengisi untuk membangun rumah
tangga bahagia. Untuk mendalami pokok ini, silakan baca buku saya : Cek-cok
tapi sudah cocok (Yogyakarta: Andi,2014).
Rumah tangga tidak luput dari cekcok. Cekcok kecil dalam rumah tangga adalah wajar. Namun, orangtua hendaknya bijak memperhatikan tempat ketika cekcok. Terkadang orangtua tidak mampu menahan emosi sehingga cekcok di depan anak-anak mereka. Itu adalah tindakan bodoh. Apa yang dilihat anak, bukan tidak mungkin kelak dewasa mereka melakukan hal yang sama seperti yang mereka lihat dari orangtuanya sebab hal itu dianggap wajar. Ketika terjadi percekcokan, hendaknya bisa diselesaikan dengan tertutup, bukan di depan anak-anak kita.
Firman Tuhan memberi kunci untuk membangun hidup saling mengasihi adalah saling menghormati,”Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah
mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Ptr 3:7).
Kadang-kadang, dengan tidak sadar seorang suami menyampaikan kata-kata yang tidak sedap didengar mengenai istrinya di hadapan anak-anak. Atau sebaliknya. Bahkan suami dan istri saling menyela pembicaraan dan menyerang di hadapan anak-anak. Tindakan ini sangat melukai perasaan anak-anak kita.