Peristiwa bencana alam dapat menghilangkan semua jenis mahluk hidup disuatu tempat atau hanya menghilangkan sebagian, demikian pula pada habitat. Kemudian di habitat yang baru secara perlahan muncul komunitas baru kembali.
4.4.3. Jenis Suksesi
Mueller (1974) menyatakan, suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suk-sesi sekunder. Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses terjadinya suksesi.
a. Suksesi primer (Primary succession)
Suksesi primer merupakan suatu tahapan perubahan komunitas biotik ke ko-munitas biotik lain, yang dimulai dengan kehadiran tumbuhan pioner disuatu tempat berbatu yang belum pernah dijumpai adanya komunitas biotik tersebut sebe-lumnya, kemudian menjadi ekosistem hutan klimaks (climax forest ecosystem). Terjadi bila komunitas asal mengalami gangguan berat sekali sehingga mengakibatkan komunitas asal hilang secara total dan di tempat komunitas asal terbentuk komunitas lain di habitat baru tersebut. Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal tertinggal. Gangguan ini dapat terjadi secara alami seperti letusan gunung api, tanah longsor, endapan lumpur dimuara sungai, endapan pasir di pantai, maupun akibat aktivitas manusia seperti pertambangan. Proses suksesi primer ini membutuhkan waktu yang lama sampai ratusan tahun.
Suksesi primer dimulai di atas bongkahan batu pada pulau yang baru timbul, delta yang baru terbentuk, danau baru dan sebagainya. Pelapukan batu-batuan pada ekosistem yang rusak total karena pengaruh iklim (hari panas, kering dan waktu hujan, dingin atau basah), mengandung bahan unsur mineral dan organik yang da-pat ditumbuhi oleh tetumbuhan pioner (lumut kerak dan algae). Pengaruh iklim terus berlangsung hingga bahan mineral dan bahan organik semakin tebal sehingga dapat ditumbuhi oleh tumbuhan herba dan tahunan. Jika jalannya suksesi dipengaruhi atau ditentukan oleh iklim disebut dengan klimaks-klimatis. Jika dipengaruhi oleh habitat/tanah disebut klimaks edaphis. Tumbuhan atau organisme yang mam-pu menghuni untuk pertama kalinya substrat yang baru digolongkan sebagai organisme pionir yang mempunyai toleransi besar terhadap berbagai faktor lingkungan yang ekstrim.
Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (lichen) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karma aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya. Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns meng-adakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak
menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terben-tuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu.
b. Suksesi sekunder
Proses suksesi sekunder relatif sama dengan yang terjadi pada suksesi primer. Perbedaannya terletak pada keadaan kerusakan dan kondisi awal dari habitatnya. Terjadinya gangguan menyebabkan komunitas alami tersebut rusak baik secara alami maupun buatan, tetapi gangguan tersebut tidak merusak total komunitas dan tempat hidup organisme sehingga substrat lama (substrat tanah yang telah terbentuk sebelumnya) masih ada yang tersisa. Maka pada substrat tersebut terjadi perkembangan komunitas yang selanjutnya disebut suksesi sekunder.
Proses kerusakan komunitas disebut denudasi, yang dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, banjir, gelombang laut, penebangan hutan, dan kegiatan-kegiatan biotis lainnya menyebabkan vegetasi asal musnah. Proses suksesi sekunder ini membutuhkan waktu sampai puluhan tahun.
Gambar 4.2. Suksesi sekunder
Pada suksesi sekunder benih ataupun biji-biji bukan berasal dari luar tetapi dari dalam habitat itu sendiri. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, angin kencang dan gelombang laut (tsunami) secara alami dan penebangan hutan secara selektif, pembakaran padang rumput secara sengaja dan kegiatan biotis menyebabkan vegetasi asal musnah. Contoh seperti tegalan, semak belukar bekas ladang, padang alang-alang dan kebun karet dan kebun kelapa sawit yang ditinggalkan, adalah sebagian dari contoh komunitas sebagai hasil dari contoh ko-munitas sebagai hasil suksesi. Komunitas ini masih mengalami perubahan menuju kearah komunitas klimaks, kecuali bila dalam proses tersebut terjadi lagi gangguan, maka suksesi akan mundur lagi dan mulai kembali dari titik nol. Penelitian di dekat Samarinda, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa pembentukan padang alang-alang terjadi hanya dalam waktu 4 tahun setelah penebangan hutan primer atau hu-tan klimaks,
memperlihatkan perubahan yang terjadi setelah ditebang habis dan kemudian dibakar setiap tahun untuk dijadikan ladang padi.
4.5.4. Proses Suksesi
Proses pergantian antar tingkat dalam suksesi primer untuk mencapai klimaks, dapat membutuhkan waktu puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun. Sedangkan waktu yang dibutuhkan suksesi sekunder lebih cepat dibandingkan dengan suksesi primer. Tingkat perubahan komunitas berlangsung dalam periode pendek dengan perkem-bangan yang cepat, hal ini disebabkan habitat (tanah dan air) sudah terbentuk untuk menyokong pertumbuhan vegetasi. Proses yang terjadi selama proses suksesi dapat diringkaskan sebagai berikut :
1) Perkembangan sifat substrat atau tanah yang progresif, misalnya terjadinya pertam-bahan kandungan bahan organik sejalan dengan perkembangan komunitas yang semakin kompleks dengan komposisi jenis yang lebih beraneka ragam daripada sebelumnya.
2) Semakin kompleksnya struktur komunitas, peningkatan kepadatan, dan tingginya tumbuhan, sehingga dalam komunitas terbentuk stratifikasi.
3) Peningkatan produktifitas sejalan dengan perkembangan komunitas dan perkem-bangan tanah.
4) Peningkatan jumlah jenis sampai pada tahap tertentu dari suksesi.
5) Peningkatan pemanfaatan sumber daya lingkungan sesuai dengan peningkatan jumlah jenis.
6) Perubahan iklim mikro sesuai dengan perubahan komposisi jenis bentuk hidup (life form) tumbuhan dan struktur komunitas.
7) Komunitas berkembang menjadi lebih kompleks.
Kecepatan proses suksesi pada suatu komunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a) Luasnya komunitas asal yang rusak karena gangguan b) Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas
yang terganggu
c) Kehadiran tumbuhan pemencar biji dan benih
d) Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membawa bjiji, spora dan benih la-in, serta curah hujan yang mempengaruhi perkecambahan biji dan spora dan per-kembangan semai selanjutnya.
e) Macam atau jenis substrat baru yang terbentuk
f) Sifat-sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
4.6. Pendekatan Dalam Kajian Suksesi Tumbuhan
Sejalan dengan perkembangan dari ekologi umumnya maka dalam kajian suksesi inipun mengalami perkembangan, dan dapat dibagi dalam dua periode pendekatan, yaitu pendekatan secara lama atau tradisional dan pendekatan yang ditujukan untuk melengkapi atau mengkoreksi pendekatan lama berdasarkan konsep-konsep ekositem yang ada atau pendekatan moderen.
1). Pendekatan kajian suksesi lama / tradisional
Teori suksesi dengan pola pendekatan lama didasari pada beberapa pemikiran, yaitu :
a) Suksesi adalah suatu proses perkembangan komunitas yang teratur dan meliputi perubahan komposisi jenis dan fungsi ekosistem melalui waktu tertentu. Suksesi merupakan proses yang progresif, dan dapat diperkirakan.
b) Fase awal dari suksesi dikuasai oleh tumbuhan pendek dan selanjutnya menjadi lebih progresif, lebih kompleks dan dikuasai oleh tumbuhan berumur panjang.
c) Suksesi berkulminasi dalam komunitas klimaks, yang paling besar, paling efisien dan komunitas paling kompleks dari habitat yang mendukungnya.
d) Suksesi dari habitat yang berbeda dapat mengarah pada komunitas klimaks yang sama. Pemikiran ini disebut “kesamaan akhir” atau “Equifinality”. Jadi baik hidroseres maupun xeroseres akan berkembang menjadi komunitas klimak berupa hutan.
e) Faktor penting yang berpengaruh terhadap bentuk komunitas klimak adalah iklim. Cowles dan Clements berpendapat bahwa untuk setiap derah iklim akan mempunyai satu bentuk komunitas klimaks. Pendapat ini disebut teori klimak.
2). Pola pendekatan suksesi moderen / baru
Akhir-akhir ini timbul suatu pemikiran bahwa dalam kajian suksesi harus diperhitungkan pula segala aspek komunitas untuk menggambarkan perubahan struktur dan fungsi komunita selama suksesi berlangsung. Aspek komunitas tersebut meliputi :
a) Pola aliran energi.
Selama suksesi mencapai klimaks pola aliran energi dalam komunitas berubah secara mendasar. Perubahan ini direfleksikan dalam besaran Standing crop dalam ekosistem. Berkaitan dengan pola aliran energi ini secara ringkas dapat disimpulkan :
a. Selama fase seral awal masukan energi ke ekosistem lebih besar dari yang hilang. Tumbuhan dan hewan komunitasnya berkembang, mengakumulasi energi sebagai biomasa. Beberapa standing crop atau tegakkan yang ad meningkat selama suksesi.
b. Ketika komunitas klimak dikembangkan maka Steady state tercapai. Dalam keadaan ini masukkan energi ke ekosistem sama dengan energi yang hilang. Hasilnya perubahan tegakkan adalah kecil. Aliran energi melalui system pada fase klimaks adalah maksimum. c. Bila ekosistem terganggu oleh faktor luar, misalnya
kebakaran, energi yang hilang mungkin lebih besar dari masukan energi. Dalam hal ini besarab tegakkan dalam system menurun.
d. Akumulasi energi sebagai biomasa selama susksei paling besar dalam ekosistem daratan. Tumbuhan terbesar membentuk komunitas klimaks. Tegakkan berada dalam maksaimumnya meskupun sedikit berfluktuasi.
e. Di ekosistem perairan terutama laut, komunitas klimak mungkin dinyatakan oleh fitoplankton. Ukurannya yang kecil berarti Standing cropnya relative rendah atau kecil, mungkin akumulasi dalam ekosistem rendah, tetapi laju metabolisame tinggi
sehingga memungkinkan untuk mempunyai produktivitas kotor yang tinggi
f) Produktivitas
Produktivitas kotor dari ekosistem meningkat selama suksesi sampai klimaks. Peningkatan ini sebanding dengan keadaan standing cropnya. Prosentase dari produktivitas kotor yang terfiksasi sebagai produktivitas bersih tidak terus meningkat sampai klimakasnya, hal ini akibat dari beberapa keadaan :
a. Dalam fase seral awal tumbuhan dominant berkecendrungan untyuk menjadi kecil dan berumur pendek. Bentuk tumbuhan ini, meliputi tumbuhan setahun, produktivitas bersihnya tiunggi. Tumbuhnya yang kecil memerlukan energi yang relative sedikit untuk mengelolanya.
b. Dalam Fase seral akhiar tumbuhan dominant berkecendrungan besar dan berumur panjang, seperti pohon. Ketika tumbuh sempurna memerlukan bagian yang besar dari produktivitas kotornya untuk respirasi dalam pengelolaan tumbuhnya. Organisme muda berada dalam laju pertumbuhan yang maksimum dan dikarakterisasi oleh penurunan produktivitas bersih ketika dewasa. Akibatnya tumbuhan besar dan berumur panjang
mempunyai periode kehidupan dalam keadaan relative tidak produktif. Hal ini terrefleksikan dalam pola produktivitas dari ekosistem secara keseluruhan.
g) Efisiensi energi
Teori suksesi lama menyatakan bahwa proses suksesi membawa suatu komunitas untuk mencapai efisiensi konversi energi yang maksimum. Energi merupakan sumber pembatas yang ekstrim bagi ekosistem, sehingga sangat logis apabila orang menduga bahwa kematangan akan tercapai pada saat ketersediaan energi berada dalam keadaan terbaik untuk bisa dimanfaatkan. Padahal pemikiran ini bertentangan dengan apa yang diketahui tentang pola alirn energi dan produktivitas. Telah dinyatakan bahwa dalam suatu suksesi primer, produktivitas kotor dimulai dengan nol dan kemudian meningkat. Tetapi peningkatannyatidak dapat tanpa batasnya apabila produktivitas bersih menurun sampai mencapai klimak. Efisiensi konversi energi menurun dalam fase seral akhir.
Penurunan efisiensi ekologi dari suatu ekosistem yang matang adalah fungsi dari pola produktivitas dari tumbuhan besar, yang hidup dalam komunitas klimaks. Tumbuhan mempunyai adaptasi yang tinggi untuk dapat
tumbuh dengan cepat keetika muda dan peka, apabila telah besar dan mandiri maka rendhnya produktivitas bersih tidak menjadi masalah lagi.
h) Struktur tropik
Fase seral awal mempunyai rantai makanan yang pendek, dan linier. Kerusakan dapat terjadi dengan mudah, apabila salah satu mata rantai hilang maka tidak ada alternative pengaliran lain bagi energi. Begitu pelapisan dari ekosistem terbentuk dan diversitas jenis meningkat maka struktur tropic menjadi lenih kompleks dan terbentuk jarring makanan.
Struktur tropik yang lebih komplek menghasilkan ekosistem yang stabil. Berbagai kemungkinan aliran energi tidak lagimenjadi masalah apabila salah satu dari mata rantai rusak atau terganggu.
i) Perubahan siklus nutrisi
Teori lama memperkirakan bahwa suksesi menghasilkan komunitas yang stabil dan siklus materi yang lebih efisien. Hal ini adalah benar untuk kebanyakan ekosistem daratan, tetapi tidaklah demikian untuk ekosistem perairan. Dalam proses suksesi jumlah nutrisi yang bersiklus dalam setiap fase awal adalah kecil. Penimbunan dalam ekosistem juga kecil.
Pertukaran nutrisi antara komponen biotic dan abiotik terjadi cepat karena umur organisme pendek. Peranan detritus dalam regenerasi nutrisi kurang penting. Fase organic dari siklus kurang berkembang, akibatnya nutrisi dapat bergerak kedalam dank e luar dari system dengan mudah, maka siklus nutrisinya terbuka.
Meningkatnya biomasa pada fase serel akhir berarti tingginya jumlah nutrisi yang disimpan dalm system. Laju siklus nutrisi menjadi lambat akibat system didominasi oleh organisme yang berumur panjang. Jumlah nutrisi yang diperlukan pada fase seral akhir ini besar. Tumbuhan besar dari komunitas klimaks mempunyai system akar yang luar biasa dan sangat efektif dalam menyerap nutrisi.
j) Struktur dan Keanekaragaman 1). Stratifikasi
Sere awal biasanya terdiri dari kelompok-kelompok tumbuhan pendek yang tidak merata penyebarannya dan pelapisan yang sederhana. Suksesi berjalan terus, tumbuhan yang lebih tinggi membentuk lapisan tambahan dan terjadi peneduhan. Koloni tumbuhan pertama menyingkir dari keteduhan dan diganti dengan jenis tumbuhan bawah lainnya yang biasa hidup dibawah naungan perdu dan pohon.
Suatu formasi hutan klimak akhirnya terbentuk dengan stratifikasinya yang kompleks. Untuk hutan tripika misalnya akan dikenal pelapisan dari kanopi pohon, lapisan perdu, herba dan lapisan dasar yang terdiri dari lumut.
Meningkatnya kekomplekan struktur vertical dari ekosistem diikuti oleh agregasi spasial dari fungsi diantara lapisan. Contoh baik adalah di hutan, fotosisntesis terjadi di lapisan kanopi pohon, penguraian berada di lapisan dasar atau dipermukaan tanah, dan batang-batang pohon mengangkut kembali nutrisi kekanopi. Pelapisan yang sama dari struktur dan fungsi terjadi selama suksesi di lautan dan danau. Prosuksi terjadi di lapisan permukaan sedangkan penguraian lebih banyak terjadi pada dasar perairan. Nutrisi dikembalikan kepermukaan akibat pengadukan oleh arus dan angina. Dengan demikian, meskipun ada perbedaan dalam pengembalian nutrisi, rupanya untuk semua ekosistem berkembang pelapisan dari struktur dan fungsi selama suksesi.
2). Keanekaragaman Jenis
Peningkatan yang cepat dari jumlah jenis merupakan gambaran pada fase awal suksesi, banyak tumbuhan berkoloni. Gambaran pertama dari suksesi,
peningkatan diversitas jenis cepat, dan fase berikutnya laju peningkatan berjalan lamban. Jumlah jenis yang berbeda dalam ekosistem mungkin meningkat terus sampai terbentuknya komunitas klimaks, tetapi banyak pula terjadi penurunan keanekaragaman sampai akhir dari suksesi. Penurunan keanekaragaman ini terjadi akibat kompetisi. Tumbuhan yang dominant pada seral akhir besar-besar dan lebih komplek sejarah pertumbuhannya daripada tumbuhan pada seral awal. Dengan demikian hasil dari kompetisi tidak banyak terbentuk ragam dari jenis. Pada suksesi dengan hasil akhir hanya terdiri dari beberapa jenis dominant, seral intermedier mengandung jumlah yang maksimum.
Keanekaragaman jenis dapat meningkat terus sampai komunitas klimaks, apabila struktur dan energi yang tersedia mendukungnya. Contoh yang baik adalah di tropika, hutan penghujan tropika mempunyai struktur yang kompleks dan didominasi berbagai jenis tumbuhan serta disuplai oleh sejumlah energi yang melimpah, berbagai habitat tercipta dan terpakai sampai terbentuk klimaks.
4.7. Konsep Klimaks
Teori tradisional menyatakan bahwa suksesi ekologi mengarah kepada suatu komunitas akhir yang stabil yaitu klimaks. Fase klimaks ini mempunyai sifat-sifat tertentu dan yang terpenting adalah :
1. Fase klimaks merupakan system yang stabil dalam keseimbangan antara lingkungan biotis dan abiotis.
2. Komposisi jenis pada fase klimaks relative twetap atau tidak berubah
3. Pada fase klimaks tidak ada akumulasi tahunan berlebihan dari materi organic, sehingga tidak ada perubahan yang berarti.
4. Fase klimaks dapat mengelola diri sendiri atau mandiri,
4.7.1. Teori Monoklimaks
Dalam teorinya pada tahun 1916 Clements menyatakan bahwa komunitas klimaks untuk suatu kawasan semata-mata merupakan fungsi dari iklim. Dia memperkirakan bahwa pada waktu yang cukup dan bebas dari berbagai pengaruh gangguan luar, suatu bentuk umum vegetasi klimaks yang sama akan terbentuk untuk setiap daerah iklim yang sama. Dengan demikian iklim sangat menentukan batas formasi klimaks.
Clements dan para pendukungnya dari teori monoklimaks ini tidak melihat kenyataan bahwa banyak sekali variasi local dalam suatu vegetasi yang telah berada dalam suatu bentuk klimaks di suatu daerah iklim tertentu. Variasi-variasi ini oleh Clements dianggap fase seral meskipun berada dalam keadaan stabil. Clements menganut teori klimaks ini didasarkan pada keyakinan akan waktu yang pankang, dimana perbedaan-perbedaan local dari suatu vewgetasi akibat kondisi tanahnya akan tetap berubah menjadi bentuk vegetasi regionalnya apabila diberi waktu yang lama. Penamaan-penamaan khusus diberikan untuk mengambarkan perbedaan-perbedaan vegetasi local ini. Istilah subklimaks dipergunakan untuk suatu fase seral akhir yang berkepanjangan yang akhirnya akan berkembang juga ke bentuk klimaksnya. Sedangkan istilah disklimaks dipakai untuk komunitas tumbuhan yang mengantikan bentuk klimaks setelah terjadi kerusakan.
4.7.2. Teori Poliklimaks
Beberapa pakar ekologi berpendapat bahwa teori monoklimaks terlalu kaku. Tidak memberikan kemungkinan untuk menerangkan vaiasi local dalam suatu komunitas tumbuhan. Dalam tahun 1937 Tanslay, seorang pakar botani dari Inggeris mengusulkan suatu alternative yaitu teori poliklimaks, dengan teori ini
memungkinkan untuk mendapat mosaic dari bentuk klimaks dari setiap daerah iklim. Dia menyadari bahwa komunitas klimaks erat hubungannya dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya yaitu meliputi tanah, drainase, dan berbagai faktor lainnya. Teori poliklimaks mengenal kepentingan dari iklim, tetapi faktor-faktor lainnya hendaknya jangan dipandang sebagai fenomana yang bersifat temporal.
Teori poliklimaks mempunyai keuntungan yang besar, dalam memandang semua komunitas tumbuhan yang bersifat stabil bisa dianggap sebagai bentuk klimaks. Teori poliklimaks ini ternyata pendekatannya tidak bersifat kaku, sehingga dapat diterima dikalangan pakar secara luas.
4.7.3. Teori Potensi Biotik atau Pola Klimaks Hipotesis Dalam tiga dekade terakhir para pakar menyadari bahwa komunitas klimaks tidak ditentukan oleh hanya satu atau lebih faktor lingkungan yang berinteraksi terhadapnya, seperti iklim tanah; topografi; dan sebagainya. Dengan demikian sekian banyak bentuk klimaks akan terjadi sebagai akibat kombinasi dari kondisi-kondisi tadi.
rganisme atau makhluk hidup dimanapun berada tidak akan mampu hidup sendiri. Kelangsungan hidup organisme akan tergantung pada organisme lainnya dan semua komponen lingkungan yang dapat dipandang sebagai sumber daya alam. Hubungan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain dan antara organisme dengan komponen lingkungan bersifat sangat kompleks (rumit) dan bersifat timbal balik. Hubungan tersebut terjalin sangat erat dan membentuk suatu sistem ekologi yang dinamakan ekosistem.
5.1. Pengertian Ekosistem
Istilah “ekosistem” pertama kali digunakan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A. G. Tansley pada tahun 1935 (Indriyanto, 2010). Meskipun demikian, konsep ekosistem bukanlah hal yang baru. Beberapa penulis telah menggunakan istilah yang berbeda, tetapi maksudnya sama dengan ekosistem. Karl Mobius (1877) seorang ahli ekologi kebangsaan Jerman menulis tentang komunitas organisme dalam batu karang dan menggunakan istilah yang memiliki
O
BAB
kesamaan makna dengan ekosistem yaitu biocoenosis (biokoenosis). S. A. Forbes (1887) seorang ahli ekologi kebangsaan Amerika menulis karangan kuno tentang danau, dan menggunakan istilah yang memiliki makna sama dengan ekosistem yaitu microcosm (mikrokosm). Beberapa ahli lainnya yang menggunakan istilah yang memiliki makna sama dengan ekosistem antara lain Friederichs (1930) menggunakan istilah holocoen, Thienemenn (1939) menggunakan istilah biosystem, dan Vernadsky (1944) menggunakan istilah bioenert body.
Beberapa definisi ekosistem yang diberikan oleh para ahli ekologi antara lain sebagai berikut (Indriyanto, 2010).
a. Ekosistem adalah suatu unit ekologi yang didalamnya terdapat struktur dan fungsi (A. G. Tansley, 1935). Struktur berhubungan dengan keanekargaman spesies (species diversity) dan fungsi berhubungan dengan siklus materi dan arus materi melalui komponen – komponen ekosistem.
b. Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara kompleks didalamnya terdapat habitat tumbuhan dan binatang yang dipetimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi (Wodbury, 1954)
c. Ekosistem adalah unit fungsional dasar dalam ekologi yang didalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (biotik dan abiotik) dan keduanya saling mempengaruhi (Odum, 1993).
d. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh-menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup (UU No. 32 Tahun 2009 tentang