Pada bab ini dipaparkan mengenai bagaimana bentuk-bentuk aksi yang dilakukan gerakan LSM dalam menanggapi karhutla dan implikasinya terhadap perubahan kebijakan dan tata kelola. Untuk memahami lebih mendalam mengenai hal tersebut maka studi ini melihat bagaimana bentuk-bentuk aksi LSM pada tingkat nasional dan lokal terkait dengan kasus karhutla pada sepanjang tahun 2014 sampai 2015.
Dalam studi ini kontribusi berbagai bentuk aksi LSM tidak dilihat sebagai faktor tunggal, namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti peran pemerintah yang membuka partisipasi luas dari LSM dalam pengendalian karhutla. Kontribusi dalam tata kelola dalam penelitian ini dilihat dari pengaruh bentuk aksi terhadap perubahan relasi kuasa diantara para aktor, yakni pemerintah, perusahaan dan warga masyarakat.
Penguatan Kebijakan Pemerintah
Pada kasus karhutla 2014-2015, LSM mengembangkan berbagai bentuk aksi dalam upaya untuk memperkuat kebijakan dan tata kelola pengendalian karhutla. Studi menemukan bahwa rangkaian tanggapan LSM terhadap kasus karhutla tidak lepas dari proses-proses perubahan struktur kesempatan politik seiring dengan transisi perubahan kepemimpinan pemerintahan SBY-Budiono ke pemerintahan Jokowi-JK. Perubahan struktur kesempatan politik menentukan konfigurasi saluran-saluran politik dalam lingkaran pemerintahan yang memungkinkan LSM untuk mendesakkan agenda dan masukan-masukan untuk perubahan kebijakan. Karhutla sepanjang tahun 2014-2015 yang terjadi seiring dengan masa transisi pemerintahan baru, menjadi momentum politik bagi kalangan LSM untuk mengangkat kasus karhutla sebagai sarana untuk pembenahan kebijakan dan tata kelola hutan dan sumberdaya alam secara lebih luas69.
Keterbukaan pemerintah Jokowi-JK terhadap masukan dari kalangan LSM bahkan telah terjadi sejak masa kampanye pemilihan presiden, dimana calon presiden Joko Widodo telah melakukan dialog dengan kalangan LSM untuk masukan bagi arah kebijakan pengelolaan hutan dan sumberdaya alam. Pada tanggal 12 Mei 2014, Joko Widodo mengunjungi kantor WALHI untuk melakukan dialog mengenai pentingnya sebuah badan yang menangani sengketa lingkungan hidup dan agraria70. Disamping itu, pertemuan tersebut juga menyinggung berbagai persoalan kerusakan lingkungan hidup termasuk karhutla. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa proses-proses politik dalam melakukan advokasi kebijakan terkait dengan karhutla tidak bisa dilepaskan dari situasi masa transisi pemerintahan, yang dilihat kalangan LSM sebagai sebuah peluang untuk memasukkan agenda-agenda perubahan kebijakan dalam pengendalian karhutla di Indonesia71.
69
Wawancara dengan Longgena Ginting (Kepala Greenpeace Indonesia) tanggal 2 Mei 2016
70
Berita dirilis pada : http://news.detik.com/berita/2580080/sambangi-walhi-jokowi-sepakat-ada- badan-khusus-yang-tangani-sengketa-lingkungan
71
Melalui serangkaian bentuk-bentuk aksi tersebut, gerakan LSM berkontribusi terhadap beberapa perubahan kebijakan. Yang paling penting adalah lahirnya Inpres No. 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, yang mendorong institusi-institusi terkait baik pada tingkat pusat dan daerah untuk bersama-sama bergerak di lapangan dalam pengendalian sebaran titik api. Pada era pemerintahan ini juga ditandai dengan mulainya ekosistem gambut dilihat secara komprehensif sebagai sebuah kesatuan kawasan hidrologis dengan pendekatan kelembagaan78. Pemerintah melalui Perpres No 1 Tahun 2016 pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut sebagai untuk percepatan pemulian kawasan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut sebagai upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Badan ini diharapkan menjadi kelembagaan yang mampu memperbaiki dan menjaga kelestarian kawasan gambut dengan melakukan mobilisasi sumberdaya dan kerjasama dengan para pihak.
Studi juga menganalisis bagaimana peran gerakan LSM pada tingkat lokal dalam upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah dengan mengambil kasus di Jambi. KKI WARSI, WALHI Jambi dan YLBHL memanfaatkan momentum keluhan kolektif terkait dengan kabut asap pada tahun 2015 untuk mempengaruhi proses-proses kebijakan pada tingkat lokal. Tekanan publik yang besar, serta momentum pelantikan Gubernur baru Jambi merupakan peluang politik bagi kalangan LSM untuk mendorong lahirnya regulasi dalam rangka pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Beberapa aktivis LSM dari YLBHL, Walhi Jambi, KKI WARSI, WWF Indonesia dan UNDP bertemu secara informal untuk mendiskusikan kemungkinan untuk mendorong regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) terkait karhutla. Pada kesimpulan pertemuan pada bulan September 2015, dibentuk sebuah tim informal79 dalam rangka mempersiapkan langkah-langkah untuk mendorong Perda tentang karhutla80. Diskusi bergulir dengan pembagian tugas untuk mempersiapkan draft dan naskah akademis perda karhutla untuk didesakkan kepada DPRD Provinsi Jambi. Proses dilakukan dengan pendekatan informal dengan memanfatkan kesempatan politik, perubahan kepemimpinan di Provinsi Jambi
Dengan memanfaatkan jalur-jalur pertemanan di kalangan aktivis Jambi, akhirnya seorang anggota DPRD yang bertanggung jawab terhadap Badan Legislasi Daerah (Balegda)81 mendukung rencana Perda tersebut sebagai Perda inisiatif DPRD Provinsi Jambi. Komunikasi dengan pemerintah terus dilakukan
78
Wawancara dengan Hanni Adiati (Staf Khusus Menteri LHK bidang LSM dan AMDAL)
79
Wawancara dengan Erwin Widodo tanggal 27 April 2016 menjelasakan bahwa tim informal
yang disebut sebagan “Tim A” terbentuk berdasarkan jaringan pertemanan sesama aktivis tanpa
melihat latar belakang organisasi. Tim ini merupakan sekelompok aktivis yang sebelumnya bekerjasama dalam rangka mendorong peningkatan indeks tata kelola hutan di Provinsi Jambi.
80
Wawancara dengan Jaya Nofyandri (Direktur YLBHL) pada tanggal 28 Mei 2016 menjelaskan bahwa Proses-proses tersebut dilakukan tanpa mengatasnamakan lembaga, tidak ada nama lembaga yang muncul agar tidak muncul tudingan kepentingan-kepentingan tertentu dibaliknya. Proses diskusi-diskusi dilakukan secara informal tanpa publikasi kepada media massa, sementara pembagian tugas didasarkan pada kapasitas masing-masing organisasi yang terlibat.
81
Balegda merupakan alat kelengkapan dewan yang bersifat tetap dan dibentuk dalam rapat paripurna DPRD, dengan tugas menyusun rancangan peraturan daerah dan program legislasi di daerah.
secara informal dan mendapatkan dukungan dari Kepala Dinas Kehutanan Jambi. Proses penyusunan rancangan Perda dan naskah akademis sepenuhnya merupakan hasil dari kerja kalangan LSM82.
Proses berlanjut dengan mempersiapkan rancangan peraturan daerah dan naskah akademiknya dengan sekretariat bertempat di kantor YLBHL. Tim A sepakat bahwa perda harus selesai pada tahun 2015 agar bisa memanfaatkan momentum politik yang ada. Tahapan proses terdiri dari perumusan kerangka dan norma-morna, pengumpulan data dan informasi, penulisan rancangan perda dan naskah akademis, serta proses-proses lobi dan komunikasi dengan para pihak. Dalam setiap tahap apa yang sudah dicapai, dibagikan kepada anggota untuk mendapatkan masukan-masukan.
Dengan memanfaatkan jaringan dari individu-individu dari tim kerja yang berada di pusat seperti WWF Indonesia dan UNDP, maka rancangan perda juga didiskusikan di Jakarta. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan legitimasi terhadap urgensi Perda, memperoleh pengakuan dari kalangan pengambil kebijakan di pemerintah pusat dan memberikan kesempatan bagi aktor-aktor pemerintah dan DPRD untuk mendapatkan reputasi secara politik dalam konteks perbaikan lingkungan hidup83.
Strategi lain yang dilakukan adalah dengan membuat konsultasi publik pembahasan rancangan Perda tentang karhutla tersebut dalam bentuk yang inovatif, yakni dengan mengundang para pemangku kepentingan, media massa, LSM dan perguran tinggi dalam format terbuka di kantor DPRD84. Narasumber yang diundang adalah Mantan Menteri Lingkungan Hidup Ir. Sarwono Kusumaatmadja, serta Ir. Marzuki Usman mantan Menteri Kehutanan yang juga putra daerah Jambi. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional, maka pembahasan rancangan perda ini mendapatkan liputan luas dari media massa, dan merupakan sebuah tradisi baru dalam proses legislasi di Provinsi85.
Pemerintah daerah maupun DPRD Provinsi Jambi yang terlibat dalam proses penyusunan perda karhutla ini mendapatkan panggung politik tidak hanya pada tingkat lokal, namun juga nasional. Kepala Dinas Kehutanan dan anggota DPRD terkait diundang ke Jakarta untuk diskusi tentang perda karhutla ini di pertemuan-pertemuan yang difasilitasi oleh UNDP. Bagi pemerintah daerah, lahirnya perda karhutla sekaligus merupakan jawaban secara politis, ketika pada masa karhutla mereka menjadi sasaran dari serangkaian protes dan demonstrasi86. Proses konsultasi publik secara terbuka tersebut memberikan wadah bagi berbagai elemen organisasi masyarakat sipil untuk turut memberikan masukan-masukan dalam proses-proses kebijakan pada tingkat lokal terkait dengan karhutla.
82
Jaya Nofyandri (Direktur YLBHL) menjelaskan Pada umumnya dalam penyusunan Perda, DPRD menggunakan konsultan dari kalangan perguruan tinggi untuk menyusun draft Perda dan naskah akademisnya, namun draft Perda tentang karhutla ini disusun oleh kalangan LSM.
83
Wawancara dengan Erwin Widodo (mantan Direktur Sumatera WWF, anggota Tim A) tanggal 27 April 2016
84
Berita dirilis pada : http://metrojambi.com/read/2015/12/19/6281/bahas-karhutla-dprd-provinsi- jambi-gelar-public-hearing
85
Wawancara dengan Poprianto (Ketua Pansus Raperda Karhutla, Anggota DPRD Provinsi Jambi) tanggal 26 Mei 2016.
86
Ulasan di atas memberikan penjelasan bagaimana peran politik LSM dalam memperkuat pemerintah untuk menghasilkan regulasi dan mendorong proses-proses penegakkan hukum dalam karhutla. Kasus karhutla menjadi sebuah momentum politik bagi LSM untuk mendesakkan agenda perubahan kebijakan dan tata kelola. Pelajaran dari Jambi membuktikan bahwa strategi politik LSM memanfaatkan keterbukaan struktur kesempatan politik dan keluhan kolektif terkait kasus karhutla, mampu diintegrasikan dalam sistem kebijakan pada tingkat lokal. Adanya Perda Provinsi tentang karhutla akan menjadi rujukan bagi daerah- daerah lain untuk mengembangkan inisiatif yang serupa.
Mempengaruhi Perilaku Perusahaan
Bentuk-bentuk aksi dalam rangka mempengaruhi perubahan perilaku perusahaan dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen pasar untuk menekan perusahaan agar tidak melakukan praktik-praktik pembukaan dan pengolahan lahan dengan cara membakar. Greenpeace mendukung prinsip nol deforestasi terkait dengan Ikrar Minyak Sawit Indonesia atau Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP)90. IPOP yang ditandatangani di New York tahun Maret 2015 merupakan sebuah bentuk komitmen dari beberapa perusahaan kelapa sawit besar untuk mengupayakan industri kelapa sawit yang berkelanjtan dengan melaksanakan praktik tanpa deforestasi. Perusahaan-perusahaan yang menandatangani IPOP adalah perusahaan-perusahaan raksasa di Indonesia seperti Wilmar Internasional, Cargill, Golden Agri Resources, Musim Mas dan Asian Agri. Perusahaan-perusahaan besar tersebut berkomitmen untuk memproduksi minyak sawit dengan tanpa deforestasi dan memastikan bahwa rantai pasokan produk kelapa sawit tidak diperoleh dari praktik-praktik yang merusak lingkungan hidup91.
Sementara itu WWF Indonesia dan Sawit Watch menggunakan instrumen RSPO untuk mempengaruhi perilaku perusahaan. Fakta kerusakan hutan termasuk lahan gambut adalah akibat dari ekspansi perusahaan berbasis hutan dan lahan seperti perkebunan kelapa sawit. WWF Indonesia percaya bahwa pendekatan instrumen pasar adalah salah satu kekuatan yang bisa digunakan untuk mengurangi dampak buruk praktek perusahaan terhadap lingkungan hidup. Standar RSPO adalah upaya perusahaan menerapkan prinsip High Conservation Value (HCV) atau perlindungan terhadap yang memiliki nilai konservasi tinggi pada areal-areal konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit92. Perbedaan antara IPOP dan RSPO adalah IPOP memasukkan dimensi High Carbon Stock (HCS) sebagai salah satu tolok ukur dalam memastikan praktik pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang hal ini menjadi bahan perdebatan diantara kalangan LSM.
Sawit Watch memaknai RSPO selain sebagai arena untuk melakukan tekanan-tekanan terhadap perusahaan agar menerapkan standar pengelolaan
90
Penjelasan mengenai IPOP secara lengkap pada : http://www.palmoilpledge.id/
91
Wawancara dengan Anissa Rahmawati (Koordinator Kampanye Hutan Greenpeace) tanggal 2 Mei 2016 menjelaskan bahwa Greenpeace mendukung IPOP karena merupakan cara untuk mengikat komitmen perusahaan agar menerapkan prinsip nol deforestasi. Jika perusahaan- perusahaan tersebut menerapkan seperti yang dikomitmenkan maka akan mengubah wajah industri sawit di Indonesia dan mengurangi dampak-dampak karhutla. Greenpeace berperan dalam melakukan monitoring untuk memastikan agar perusahaan tersebut benar-benar melakukan prinsip-prinsip IPOP pada tingkat tapak.
92
perkebunan kelapa sawit lestari, juga sebagai dimanfaatkan sebagai saluran komplain dari masyarakat sehubungan dengan praktik-praktik perusahaan yang melanggar prinsip hak asasi manusia dan keadilan lingkungan hidup. Sawit Watch berperan untuk memastikan komplain masyarakat dapat terwadahi dalam RSPO93.
Penggunaan instrumen pasar untuk mendorong perubahan perilaku perusahaan perkebunan kelapa sawit mengundang tanggapan dari pemerintah. Pemerintah memandang bahwa keberadaan IPOP merupakan ancaman bagi perkembangan industri sawit di Indonesia, dengan berbagai argumentasi seperti potensi timbulnya kartel industri sawit94 dan tidak sesuai dengan agenda pemerintah yang telah memiliki standar Indonesia Sustainable Palm Oil System (ISPO)95. Perdebatan antara pendukung IPOP dan ISPO mengemuka dalam berbagai pemberitaan di media massa, dan berakhir dengan pembubaran IPOP oleh pemerintah96.
Memperkuat Peran Masyarakat
Karhutla menjadi momentum bagi kalangan LSM untuk mengangkat model-model kelola gambut berbasis masyarakat sebagai solusi dalam mengendalikan karhutla. Upaya tersebut dikembangkan agar para pihak terkait menaruh perhatian pada upaya untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat terutama masyarakat yang tinggal pada ekosistem gambut.
Kalangan LSM bekerja sama dengan institusi pemerintah telah lama mengembangkan model-model kelola pada tingkat lokal dalam rangka menjaga kelestarian ekosistem gambut. Hal tersebut dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekosistem gambut yang rusak melalui berbagai teknik ekologi97, namun dengan tetap melibatkan masyarakat dalam memperoleh sumber-sumber penghidupan. Beberapa komunitas tradisional telah mempraktikkan pengelolaan gambut berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal sejak lama.
Salah satu komunitas yang telah lama melakukan sistem pengelolaan gambut berdasarkan kearifan lokal adalah masyarakat di Sungai Tohor Riau. Sejak adanya izin untuk perusahaan HTI PT. Lestari Unggul Makmur (LUM) kondisi ekosistem rawa gambut berubah, karena adanya pembangunan kanal- kanal skala besar yang mengalirkan air ke laut. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya subsidensi, kondisi gambut mengering dan rawan terjadi kebakaran
93
Wawancara dengan Jefri G. Saragih (Direktur Sawit Watch) tanggal 30 April 2016 mengungkap kritik terhadap RSPO bahwa selama ini berbagai komplain terhadap perusahaan tidak ditindak lanjuti dengan serius. Sebagai sebuah instrumen untuk tata kelola RSPO memiliki potensi sebagai saluran politik untuk mendorong praktik pengelolaan kebun sawit yang lestari, namun untuk mengatasi persoalan karhutla secara fundamental harus dikombinasikan dengan pendekatan- pendekatan lain yang menyentuh akar persoalan karhutla.
94
Berita dirilis pada : http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160414134511-92-123952/kppu- beberkan-alasan-kuat-selidiki-dugaan-kartel-ipop-sawit/
95
Penjelasan secara lengkap mengenai ISPO pada : http://www.ispo-org.or.id/index.php?lang=ina
96
Berita dirilis pada : http://www.antaranews.com/berita/571137/pemerintah-siap-perkuat-ispo- setelah-bubarnya-ipop
97
Teknik budidaya pada lahan rawa atau rawa gambut disebut sebagai paludikultur. Paludikultur merupakan alternatif untuk pemanfaatan lahan gambut tergenang melalui budidaya dengan tanaman yang sesuai, sekaligus memperbaiki kerusakan rawa gambut. Model ini telah diterapkan di beberapa ekosistem gambut sebagai solusi untuk pemberdayaan masyarakat. Beberapa tanaman yang mampu tumbuh diataranya adalah padi, sagu, jelutung rawa, gemor dan lain sebagainya (Tata dan Susmianto 2016).
(Tata dan Susmianto 2016). Produksi sagu sebagai sumber penghidupan masyarakat terus menurun seiring dengan alih fungsi hutan menjadi tanaman kayu akasia.
Masyarakat Sungai Tohor melakukan protes kepada pemerintah untuk mencabut izin PT. LUM dan meminta untuk melakukan penyekatan kanal yang telah dibangun. Greenpeace dan WALHI memfasilitasi seorang petani bernama Abdul Manan, warga desa Sungai Tohor, Kabupaten Meranti, Riau, untuk membuat petisi melalui platform change.org yang akhirnya direspons oleh Presiden Joko Widodo untuk melakukan kunjungan lapang ke lokasi pada tanggal 24 November 201498. Hal ini mendapatkan liputan dari media massa secara luas, sehingga mendorong pemerintah untuk membantu dengan mengembangkan 11 sekat kanal dengan sistem buka tutup, untuk menambah sekat kanal yang telah dibangun masyarakat secara mandiri. Sungai Tohor kemudian menjadi salah satu proyek percontohan untuk pengembangan model pengelolaan gambut berbasis masyarakat yang didukung oleh Badan Restorasi Gambut (BRG)99.
Gambar 6.6. Presiden Jokowi Memberikan Bantuan Kepada Abdul Manan (Foto : Indra Nugraha, Mongabay)
Kementerian LHK melalui dana kerjasama REDD+ fase transisi dengan pemerintah Norwegia, dimana pengelolaan dana melalui UNDP, mengembangkan program pengendalian karhutla pada tingkat lokal (DJPPI 2016). Program dilaksanakan dengan melibatkan LSM dalam implementasi di lapangan. Lokasi program tersebut adalah pada provinsi yang rentan terhadap karhutla seperti di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Program mencakup pencegahan karhutla seperti pembasahan lahan gambut dan sekat kanal, rehabilitasi lahan, pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan sistem
98
Wawancara dengan Anissa Rahmawati (Koordinator Kampanye Hutan Greenpeace) tanggal 2 Mei 2016.
99
Wawancara dengan Budi S. Wardhana (Deputi Perencanaan dan Kerjasama BRG) tanggal 10 Mei 2016.
peringatan dini terhadap kejadian karhutla. Disamping itu, program juga berisi upaya untuk mendorong penegakan hukum, pembaharuan kerangka hukum dan audit kepatuhan perusahaan. Keberadaan progam tersebut menjadi sarana pemerintah untuk mengakomodasi peran LSM dalam penanggulangan karhutla pada tingkat lokal.
Dalam kerangka program tersebut LSM terlibat dalam pendampingan masyarakat dalam berbagai bentuk aksi diantaranya adalah pembuatan sekat kanal, embung, pemasangan instalasi pompa dan sumur bor, penanaman aneka ragam tanaman kayu dan hortikultura, pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan usaha ekonomi lokal. Sebanyak 16 LSM dari 13 kabupaten dan 5 provinsi terlibat dalam pendampingan masyarakat di daerah lahan gambut, yang menghasilkan 223 sekat kanal, 201 embung, melakukan normalisasi 2800 meter kanal gambut secara total, pemasangan 386 pompa dan sumur bor, serta proses-proses pendampingan pengelolaan lahan gambut berbasis masyarakat (DJPPI 2016).
Tabel 6.1. Daftar LSM Pelaksana Program Pencegahan Karhutla
Provinsi LSM Program
Riau Yayasan Mitra Insani (YMI)
WALHI Riau Jikalahari
Pembuatan 102 sekat kanal, 12 embung, pemasangan 84 sumur bor dan pompa air, penanaman aneka ragam tanaman kayu, buah, sayur dan pembibitan ikan. Jambi Gita Buana
CAPPA
Pembuatan 4 sekat kanal, 4 sumur bor dan pompa air, 4 demplot percontohan,
penanaman aneka ragam tanaman dan pengembangan usaha lokal.
Sumatera Selatan Sarekat Hijau Indonesia Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Desa (KEMASDA)
Pembuatan 41 embung, 147 pompa air dan sumur bor, 2 demplot percontohan,
penanaman aneka ragam tanaman, dan pengembangan usaha lokal , serta rintisan pemasaran produk lokal.
Kalimantan Barat
Institute Dayakologi Yayasan Pancur Kasih Riak Bumi
Sampan Yayasan Titian Walhi Kalimantan
Barat
Pembuatan 60 sekat kanal, 104 embung, pemasangan 85 sumur bor dan pompa air, penanaman aneka ragam tanaman dan pengembangan usaha lokal.
Kalimantan Tengah
ELPAM
Lembaga Dayak Panurung (LDP) Yayasan Petak Danum
Pembuatan 16 sekat kanal, 44 embung, pemasangan 66 sumur bor dan pompa, penanaman aneka ragam tanaman dan pengembangan usaha lokal, dokumentasi kearifan lokal dalam pengelolaan gambut. Sumber : DJPPI (2015)
Hal tersebut diatas memberikan gambaran bahwa LSM dan pemerintah mampu bekerja bersama dalam mengembangkan bentuk-bentuk aksi yang melibatkan masyarakat dalam pengendalian karhutla pada tingkat lokal. KHLK
Pola Pengaruh LSM terhadap Kebijakan dan Tata Kelola
Dari uraian bentuk-bentuk aksi di atas maka LSM memegang peran penting dalam menanggapi karhutla. Gerakan LSM mempengaruhi pemerintah dalam proses-proses kebijakan untuk memperkuat regulasi terkait karhutla pada tingkat nasional dan lokal, serta mendorong proses-proses penegakkan hukum terhadap perusahaan pelaku pembakaran lahan. Dengan menggunakan kekuatan pasar, LSM mampu menggunakan instrumen dan standar keberlanjutan yang dianut pasar untuk mempengaruhi perilaku perusahaan. Disamping itu, LSM mampu mengangkat model dan praktik pada tingkat lokal dalam pengelolaan lahan gambut sebagai solusi dalam rangka pencegahan dan pengendalian karhutla. Studi menemukan bahwa proses-proses gerakan LSM dalam menanggapi karhutla dilakukan dalam lima tahap yaitu pertama, melakukan framing dan pembentukan opini pada media massa. Media massa memiliki peran penting dalam mentransformasikan keluhan kolektif publik kepada para aktor yang terlibat dalam karhutla. Kedua, LSM secara konsisten melakukan tekanan politik kepada pemerintah melalui berbagai bentuk aksi seperti petisi bersama, memanfaatkan jaringan advokasi transnasional, berbagai pernyataan politik di media massa serta protes kolektif dalam bentuk demonstrasi di daerah-daerah untuk meningkatkan arti penting dan urgensi kasus karhutla bagi para pihak untuk ditanggapi dengan langkah-langkah segera dalam pemadaman titik api dan penanganan korban kabut asap.
Selanjutnya ketiga, gerakan LSM mampu memanfaatkan terbukanya struktur kesempatan politik melalui jaringan aktor pada lingkaran pemerintahan untuk mendesakkan agenda-agenda perubahan dalam pengendalian karhutla. Momentum perubahan kepemimpinan politik pada tahun 2014 dimanfaatkan oleh kalangan LSM untuk memberikan masukan-masukan kepada pemerintah dalam pengendalian karhutla. Keempat, LSM melakukan mobilisasi pada tingkat nasional dan lokal untuk turut dalam mengendalikan karhutla, menangani korban kabut asap, serta bersama pemerintah melakukan langkah-langkah pencegahan karhutla. Keterlibatan kalangan LSM dalam pendampingan masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut adalah upaya untuk pengorganisasian masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan karhutla pada musim kemarau berikutnya. Terakhir, kelima adalah kalangan LSM mengawasi dan mendorong proses-proses penegakan hukum terhadap perusahaan yang terlibat dalam karhutla. Sebagai contoh adalah dikeluarkannya Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) oleh Polda Riau kepada 15 perusahaan pembakar lahan mendapatkan respons protes dari kalangan LSM dan mengundang Presiden untuk melakukan evaluasi terhadap keputusan SP3 tersebut106. Bagaimana kontribusi LSM dalam perubahan kebijakan dan tata kelola pengendalian karhutla seperti digambarkan pada Gambar 6.11.
Dalam bingkai ekologi politik, peran dan strategi LSM sebagai organisasi gerakan sosial mampu mendorong kesetaraan relasi kuasa diantara aktor-aktor yang terlibat dalam isu karhutla. Proses kontestasi kepentingan dan pengaruh diantara para aktor masih terus berlangsung sampai saat ini, namun dalam kasus
106
Berita dirilis pada : http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160721161331-12-