MAHKAMAH SYAR’IYAH MEULABOH
A. Pengaturan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menuru Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga
2. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Adapun pengaturan tentang larangan kekerasan dalam rumah tangga pada umumnya, secara khusus diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 yaitu terdapat dalam Pasal 5 yang merumuskan bahwa “ Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara :136
a. Kekerasan Fisik ; b. Kekerasan Psikis ; c. Kekerasan Seksual; atau d. Penelantaran Rumah Tangga.
134 Bagir Manan, Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia, Jakarta : Ind-Hill Co, 1992, hal 2.
135 Pasal 1 Ayat (2) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
136 Pasal 5 Undang-udang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Mengenai bentuk-benuk kekerasan dalam rumah tangga sebagaimana yang telah disebutkan dalam Pasal 5 UU. No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga akan dijelaskan lebih rinci mengenai maksud dari bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga tersebut yaitu sebagai berikut.
a. Kekerasan Fisik
Menuurut Hukum Perdata, penyebab perceraian karena kekerasan atau penganiayaan berat merupakan bagian yang terkait dengan kekerasan fisik sebagaimana diatur dalam Pasal 5 huruf a dan Pasal 6 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.137
Kekerasan fisik sering terjadi dalam ruang lingkup suami istri. Apa yang dilakukan suami sangat beragam mulai dari menampar, memukul, menjambak, mendorong, menginjak, melempari dengan barang, menusuk dengan pisau, bahkan membakar. Beberapa kasus terjadi dimana istri mengalami cedera berat, cacat permanen, bahkan kehilangan nyawa karena penganiaayaan yang dilakukan suami. Pengertian kekerasan fisik yang terdapat dalam UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga bila dikaitkan dengan Pasal 351 KUHP mempunyai makna yang sama.138
Herkutanto merumuskan bahwa kekerasan fisik akibat penganiayaan adalah bila di dapati perlukaan bukan karena kecelakaan (non-accindential). Batasan identitas kekerasan fisik tersebut sangat relatif, karena dapat ditinjau dari akibat kekerasan dan cara melakukan kekerasan. Bentuk kekerasan fisik oleh suami terhadap istri misalnya penganiayaan yang mengakibatkan adanya luka berat. Kekerasan fisik menyebabkan fisik menjadi objek
137 Pasal 6 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
138 Nurmalawaty, Perlindungan Hukum Terhadap Istri Yang Menjadi Korban Kekerasan Suami, Jurnal Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2005, hal. 16.
kekerasan itu sendiri yang dapat ditemukan dari adanya luka-luka terhadap fisik, bahkan tidak jarang dapat bersifat fatal seperti kematian. 139
b. Kekerasan Psikis
Kekerasan psikis terkait dengan aspek mentalitas atau psikis seperti timbulnya ketakutan, trauma, stress, merasa diabaikan, dan lain-lain sebagainya kepada korban khususnya istri. Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. 140
Bentuk kekerasan psikis sulit untuk dibatasi pengertiannya karena sensitifitas emosi seorang sangat bervariasi. Identifikasi akibat yang timbul pada kekerasan psikis sulit diukur karena kekerasan ini tidak menimbulkan bekas secara lahiriah, tetapi berdampak pada psikologis, misalnya dalam bentuk marah, menghina, meremehkan, mencemooh, mengancam, membentuk, memaki dan lain sebagainya. Kekerasan psikis merusak harga diri, menimbulkan kebingungan bahkan juga menyebabkan masalah-masalah psikologis serius.141
c. Kekerasan seksual
Kekerasan seksual adalah setiap penyerangan yang bersifat seksual terhadap perempuan, baik telah terjadi persetubuhan atau tidak dan tanpa memperdulikan hubungan antara pelaku dan korban. Dalam Pasal 8 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 menegaskan bahwa dalam penjelasan Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa yang termasuk kekerasan seksual adalah :142
139 Fatmariza, op.cit, hal.18.
140 Pasal 7 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
141 Nurmalawaty, op.cit. hal.18.
142 Pasal 8 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
1. Pemaksaan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut.
2. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
Bentuk kekerasan seksual dalam hal ini seperti perkosaan, pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seks, pemukulan dan bentuk-bentuk kekerasan lain yang mendahului saat atau setelah hubungan seks, pemaksaan berbagai posisi dan kondisi hubungan seksual, pemaksaan aktivitas seksual tertentu, pornografi, penghinaan terhadap seksualitas perempuan melalui bahasa verbal, ataupun pemaksaan pada istri untuk terus menerus hamil. Dari kekerasan seksual ini lebih mungkin terjadi bila istri juga mengalami bentuk-bentuk kekerasan lain.
d. Penelantaran Rumah Tangga
Mengenai penelantaran rumah tangga dijelaskan dalam Pasal 9 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tanggayang menjelaskan :143
1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tanggganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
2) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.
143 Pasal 9 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Bentuk-bentuk penelantaran rumah tangga dalam hal ini paling dominan disebabkan oleh faktor ekonomi sehingga bisa juga dikatakan sebagai kekerasan ekonomi. Bentuk-bentuk kekerasan ekonomi seperti mengontrol perilaku istri dengan cara tidak memberikan uang atau pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara itu istri juga dilarang untuk bekerja. Suami tidak bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya, suami sengaja menghambur-hamburkan uang sementara istri dan anak-anak serba kekurangan , suami memaksa istri mencari uang, suami mempekerjakan istri secara paksa, atau juga suami mengambil juga menguasai uang/barang milik istri dengan berbagai cara dan alasannya.
Beberapa pendapat Moors dan Gelles mengatakan bahwa kekerasan terhadap istri terjadi disebabkan oleh ketergantungan ekonomi. Sharma juga menyatakan hal yang sama, menurutnya ekonomi yang dimiliki seorang perempuan akan meningkatkan harga dirinya dan menyebabkan memiliki posisi tawar yang tinggi dengan suaminya. Larangan –larangan kekerasan ekonomi yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 sejalan dengan pengaturannya dalam Pasal 304 KUHP dan UU.No. 1 Tahun 1974 Pasal 34 ayat (1) dan Pasal 41 huruf b. 144