• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk–Bentuk Kerjasama Penanaman Modal Asing Yang Digunakan Dalam Bentuk Usaha Tetap

PENANAMAN MODAL

3.2 Bentuk–Bentuk Kerjasama Penanaman Modal Asing Yang Digunakan Dalam Bentuk Usaha Tetap

Undang-undang penanaman modal, tidak mengatur mengenai bentuk kerjasama penanaman modal asing, namun karena dalam era globalisasi dimana di dalamnya terdapat liberalisasi perdagangan dan penanaman modal, kehadiran bentuk kerjasama dalam menjalankan usaha sangatlah

dibutuhkan demi kelangsungan usaha, terutama dalam penanaman modal asing. Bentuk kerjasama tersebut tidak terbatas kepada kerjasama dagang, tetapi juga kerjasama di bidang penanaman modal, baik untuk sektor jasa, perdagangan maupun sektor industri. Dalam melakukan suatu kerjasama, umumnya selalu diawali dengan adanya suatu perjanjian yang mengikat diantara para pihak yang melakukan kerjasama. Perjanjian dalam KUH Perdata dalam Buku III, yang dapat bahasa Belanda dikenal dengan istilah

Verbintenis, yang diterjemahkan secara berbeda-beda dalam kepustakaan

hukum Indonesia.Ada yang menerjemahkan dengan “Perutangan”, “Perjanjian” atau “Perikatan”.55Istilah perjanjian tersebut dalam kalangan bisnis dan dunia usaha lainnya sering disebut dengan kontrak.

Pengertian tentang perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUH Perdata, yang menentukan bahwa suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang ataulebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.Ketentuan pasal ini sebenarnya kurang begitu memuaskan, karena ada beberapa kelemahan.156 Kelemahan-kelemahan tersebut adalah :

1. Hanya menyangkut sepihak saja;

2. Kata perbuatan mencakup juga tanpa konsensus; 3. Pengertian perjanjian terlalu luas;

4. Tanpa menyebut tujuan.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka menurut Abdulkadir Muhammad, perjanjian adalah:

       55

Ridwan Syahrani, 2004, Seluk-Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata. Cet. 2, Alumni, Bandung, h. 203.

56

Suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan.57

Dengan demikian dari rumusan perjanjian tersebut di atas tersimpul unsur-unsur perjanjian sebagai berikut:

1. Ada pihak-pihak

Pihak-pihak ini disebut subyek perjanjian. Subyek perjanjian ini dapat berupa manusia pribadi dan badan hukum. Subyek perjanjian ini harus mampu atau wenang melakukan perbuatan hukum seperti yang ditetapkan dalam Undang-undang.

2. Ada persetujuan antara pihak-pihak

Persetujuan disini bersifat tetap, bukan sedang berunding. Perundingan itu adalah tindakan-tindakan pendahuluan untuk menuju kepada adanya persetujuan. Persetujuan itu ditunjukkan dengan penerimaan tanpa syarat atas suatu tawaran. Apa yang ditawarkan oleh pihak yang satu diterima oleh pihak yang lainnya.

Yang ditawarkan dan dirundingkan itu umumnya mengenai syarat-syarat dan mengenai obyek perjanjian.Dengan di setujuinya oleh masing-masing pihak tentang syarat-syarat dan obyek perjanjian itu, maka timbullah persetujuan. Persetujuan ini adalah salah satu syarat sahnya perjanjian.

       57

3. Ada tujuan yang akan dicapai

Tujuan mengadakan perjanjian terutama untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak itu, maka kebutuhan mana hanya dapat dipenuhi jika mengadakan perjanjian dengan pihak lain. Tujuan itu sifatnya tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan tidak dilarang oleh Undang-undang.

4. Ada prestasi yang akan dilaksanakan

Dengan adanya persetujuan, maka timbullah kewajiban untuk melaksanakan suatu prestasi. Prestasi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak-pihak sesuai dengan syarat-syarat perjanjian, misalnya pembeli berkewajiban membayar harga barang dan penjual berkewajiban menyerahkan barang.

5. Ada bentuk tertentu

Bentuk itu perlu ditentukan, karena ada ketentuan Undang-undang bahwa hanya dengan bentuk tertentu suatu perjanjian mempunyai kekuatan mengikat dan kekuatan bukti.Bentuk tertentu itu biasanya berupa akta. Perjanjian itu dapat dibuat secara lisan, artinya dengan kata-kata yang jelas maksud dan tujuannya yang dipahami oleh pihak-pihak, itu sudah cukup, kecuali jika pihak-pihak menghendaki supaya dibuat secara tertulis (akta).

6. Ada syarat-syarat tertentu

Syarat-syarat tertentu ini sebenarnya sebagai isi perjanjian, karena dari syarat-syarat itulah dapat diketahui hak dan kewajiban pihak-pihak.

Syarat-syarat ini biasanya terdiri dari syarat pokok yang akan menimbulkan hak dan kewajiban pokok, misalnya mengenai barangnya, harganya dan juga syarat pelengkap atau tambahan, misalnya mengenai cara pembayarannya, cara penyerahannya, dan lain-lain.

a. Syarat-syarat Sahnya Perjanjian

Perjanjian yang dibuat oleh pihak-pihak haruslah memenuhi ketentuan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Pasal 1320 KUH Perdata, mengenai sahnya suatu perjanjian yaitu:

Untuk sahnya suatu persetujuan-persetujuan diperlukan 4 (empat) syarat:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

Dengan diperlakukannya kata sepakat mengadakan perjanjian, maka berarti bahwa kedua pihak haruslah mempunyai kebebasan kehendak para pihak tidak mendapat sesuatu tekanan yang mengakibatkan adanya “cacat” bagi perwujudan kehendak tersebut. Pengertian sepakat dilukiskan sebagai pernyataan kehendak yang disetujui (oveveemtemende wvilsverklaving) antara para pihak. Sehubungan dengan syarat kesepakatan mi, dalam KUH Perdata dicantumkan beberapa hal yang merupakan faktor, yang dapat menimbulkan cacat pada kesepakatan tersebut antara lain :

Yang dimaksud dengan kesepakatan di sini adalah adanya rasa ikhlas atau saling memberi dan menerima atau sukarela di antara pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. Kesepakatan tidak

ada apabila kontrak dibuat atas dasar paksaan, penipuan, atau kekhilafan.

2. Cakap untuk membuat suatu perikatan

Kecakapan di sini artinya para pihak yang membuat kontrak haruslah orang-orang yang oleh hukum dinyatakan sebagai subyek hukum. Pada dasarnya semua orang menurut hukum cakap untuk membuat kontrak. Yang tidak cakap adalah orang-orang yang ditentukan hukum, yaitu anak-anak, orang dewasa yang ditempatkan di bawah pengawasan (curatele), dan orang sakit jiwa. Anak-anak adalah mereka yang belum dewasa yang menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan belum berumur 18 (delapan belas) tahun. Meskipun belum berumur 18 (delapan belas) tahun, apabila seseorang telah atau pernah kawin dianggap sudah dewasa, berarti cakap untuk membuat perjanjian.Pasal 1329 KUH Perdata menentukan bahwa: “Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan jika oleh Undang-undang tidak dinyatakan tidak cakap”. Pasal 1330 KUH Perdata menentukan, tidak cakap untuk membuat persetujuan-persetujuan adalah :

1. Orang-orang belum dewasa;

2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampunan;

3. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa

Undang-undang telah melarang, membuat persetujuan-persetujuan tertentu”.

3. Suatu hal tertentu (syarat tentang barang)

Hal tertentu maksudnya objek yang diatur kontrak tersebut harus jelas, setidak-tidaknya dapat ditentukan. Jadi, tidak boleh samar-samar. Hal ini penting untuk memberikan jaminan atau kepastian kepada pihak-pihak lain untuk mencegah timbulnya kontrak fiktif. Misalnya, jual beli sebuah mobil, harus jelas merek apa, buatan, tahun berapa, warna apa, nomor mesinnya berapa, dan sebagainya. Semakin jelas semakin baik.Tidak boleh misalnya jual beli sebuah mobil saja, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Suatu perjanjian haruslah mempunyai objek (bepaald onderverp) tertentu, sekurang-kurangnya dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang sekarang ada dan nanti akan ada.

4. Suatu sebab yang halal (causa dan ketertiban umum)

Maksudnya isi kontrak boleh bertentangan dengan perundang-perundang yang bersifat memaksa, ketertiban umum, dan atau kesusilaan. Misalnya, jual beli adalah tidak sah karenanya bertentangan dengan normal-norma tersebut.

“Suatu persetujuan tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan” (Pasal 1335 KUH Perdata).

b. Sebab yang halal

“Jika tak dinyatakan sesuatu sebab, tetapi ada suatu sebab yang halal, ataupun jika ada suatu sebab lain, dari pada yang dinyatakan, persetujuannya namun demikian adalah sah” (Pasal 1336 KUH Perdata).

c. Sebab terlarang

“Suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh Undang-undang atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik untuk ketertiban umum” (Pasal 1337 KUK Perdata).

Undang-undang tidak memberikan pengertian mengenai “sebab”

(oorzaak, causa).Sudah jelas bahwa yang dimaksud dengan kausa

bukanlah hubungan sebab akibat, sehingga pengertian kausa di sini tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan ajaran kausaliteit pun yang dimaksud dengan pengertian “kausa” bukan sebab yang mendorong para pihak untuk mengadakan perjanjian, karena apa yang menjadi motif dari seseorang untuk mengadakan perjanjian itu tidak menjadi perhatian hukum.

Kedua syarat terakhir disebut syarat obyektif, karena mengenai obyek dari perjanjian.58

Mengenai keempat syarat tersebut, Subekti menggolongkannya ke dalam dua bagian yaitu :

1. Bagian ke-1 mengenai subyek perjanjian yang ditentukan oleh orang yang membuat perjanjian harus cakap atau mampu melakukan perbuatan hukum tertentu, dan adanya kesepakatan yang menjadi dasar perjanjian yang harus dicapai atas dasar kebebasan menentukan kehendaknya (tidak ada paksaan, kekhilafan atau penipuan).

2. Bagian ke-2 mengenai obyek perjanjian yang ditentukan oleh apa yang dijanjikan oleh masing-masing pihak harus cukup jelas untuk menetapkan kewajiban-kewajiban masing-masing pihak, dan apa yang dijanjikan oleh masing-masing pihak tidak bertentangan dengan Undang-undang, ketertiban umum atau kesusilaan.

Selanjutnya dikatakan oleh beliau bahwa tidak di penuhinya syarat-syarat subyektif dapat dimintakan pembatalan perjanjian kepada hakim, akan tetapi jika tidak dipenuhinya syarat-syarat obyektif diancam dengan kebatalan perjanjian demi hukum.59

Ciri-ciri dari kontrak yang sah harus memiliki lima elemen yaitu: 1. Harus merupakan persetujuan yang ikhlas (tanpa paksaan)

2. Kedua belah pihak harus memiliki kemampuan untuk membuat kontrak 3. Materi dari kontrak harus sesuai dengan hukum (legal)

       58

Mariam Danis Badruszaman, dkk, 2004, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti. Bandung, h. 73.

59

4. Kontrak harus memenuhi setiap persyaratan dari bentuk kontrak 5. Kontrak harus mengandung pertimbangan yang memadai

Menurut ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata, perjanjian yang dibuat secara sah, yaitu memenuhi syarat-syarat pasal 1320 KUH Perdata berlaku sebagai Undang-undang bagi mereka yang membuatnya, tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang cukup menurut Undang-undang dan harus dilaksanakan dengan itikad baik. 1. Berlaku sebagai undang-undang

Perjanjian berlaku sebagai Undang-undang bagi pihak-pihak, artinya pihak-pihak harus menaati perjanjian itu sama dengan menaati Undang-undang jika ada yang melanggar perjanjian yang mereka buat, ia dianggap sama dengan melanggar Undang-undang, yang mempunyai akibat hukum tertentu sanksi-hukum. Jadi, barang siapa melanggar perjanjian, ia akan mendapat hukuman seperti yang telah ditetapkan dalam Undang-undang.60

Perjanjian mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa.Dalam perkara perdata hukuman bagi pelanggar perjanjian ditetapkan oleh hakim berdasarkan Undang-undang atas permintaan pihak lainnya. Menurut Undang-undang, pihak yang melanggar perjanjian itu diharuskan membayar ganti kerugian (Pasal 1243 KUH Perdata), perjanjian dapat diputuskan (out binding, Pasal 1266 KUH Perdata), mengandung beban

      

resiko (Pasal 1237 ayat 2), membayar biaya perkara itu jika sampai diperkirakan di muka hakim (Pasal 181 ayat 2 HER).

2. Tidak dapat ditarik kembali secara sepihak

Perjanjian yang telah dibuat secara sah mengikat pihak-pihak. Perjanjian tersebut tidak boleh ditarik kembali atau dibatalkan secara sepihak saja. Jika ingin menarik kembali atau membatalkan itu harus memperoleh persetujuan pihak lainnya, jadi diperjanjikan lagi. Namun demikian, apabila ada alasan-alasan yang cukup menurut Undang-undang, perjanjian dapat ditarik kembali atau dibatalkan secara sepihak.61

3. Pelaksanaan dengan itikad baik

Istilah “itikad baik' (in good faith, te goeder trow) ada dua macam, yaitu sebagai unsur subyektif dan sebagai ukuran obyektif untuk menilai pelaksanaan.62

Dalam hukum benda, istilah itikad baik berarti: “kejujuran” atau “keberhasilan”. Dalam Pasal 531 KUH Perdata ditentukan bahwa yang menguasainya dengan cara memperoleh hak milik, tanpa mengetahui cacat yang terkandung di dalamnya. Dalam Pasal 533 KUH Perdata ditentukan bahwa itikad baik selamanya harus dianggap ada pada setiap orang yang menguasai benda, barang siapa meragukannya harus membuktikan tuduhannya itu.

Yang dimaksud dengan itikad baik dalam Pasal 1338 ayat 3 KUH Perdata, bukanlah dalam arti unsur subyektif ini, melainkan pelaksanaan       

61

R.M Suryodiningrat , 2004, Asas-Asas Hukum Perikatan, Tarsito, Bandung, hal. 65-66 62

perjanjian itu harus berjalan dengan mengindahkan norma-norma kepatuhan dan kesusilaan. Jadi, yang dimaksud dengan itikad baik disini adalah ukuran obyektif untuk menilai pelaksanaan perjanjian itu.Artinya pelaksanaan perjanjian itu harus berjalan di atas rel yang benar, yaitu harus mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan. 63 Dengan dijelaskannya mengenai perjanjian, sehingga dapat ditegaskan bahwa perjanjian memiliki arti yang penting guna terlaksananya suatu kerjasama. Adapun asas-asas yang melandasi dari suatu perjanjian tersebut antara lain: a) Asas Konsesualisme

b) Asas Kepercayaan c) Asas Kekuatan Mengikat

d) Asas Persamaan Hak atau Hukum e) Asas Keseimbangan

f) Asas Kepastian Hukum g) Asas Kebebasan Berkontrak

Dalam ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, menyebutkan : “Suatu perjanjian yang sah mengikat sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya”. Dimaksudkan bahwa orang bebas membuat atau tidak membuat perjanjian,bebas menentukan isi, berlakunya dan syarat-syarat perjanjian dengan bentuk tertentu atau tidak dan bebas memilih undang-undang mana yang akan digunakan dalam perjanjian tersebut. Asas ini

       63

Purwahid Patrik, 2004, Hukum Perdata II (Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian dan

merupakan salah satu asas yang fundamental dalam hukum perikatan walaupun dalam perkembangannya telah terjadi pergeseran-pergeseran.

Berbicara mengenai penanaman modal asing berarti terkait dengan dua atau lebih sistem hukum yang berbeda yang dianut oleh penanam modal dan hukum Indonesia yang dianut oleh pemodal nasional. Dalam menjalankan usahanya di negara mitra, perusahaan dengan bentuk usaha tetap juga menggunakan beberapa jenis bentuk kerjasama dalam menjalankan usahanya.

Adapun bentuk-bentuk kerjasama usaha dalam rangka kegiatan penanaman modal asing dapat dilakukan dalam bentuk :

a. Joint venture

Menurut Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, joint venture diartikan sebagai suatu persetujuan antara dua peserta atau lebih, yang mempersatukan sumber-sumber atau jasa-jasanya atau kedua-duanya dalam satu perusahaan tertentu dengan membentuk suatu persekutuan tersusun.

Joint venture dapat diadakan untuk tujuan-tujuan suatu kegiatan

terbatas atau suatu transaksi, tetapi dapat juga digunakan sebagai suatu bentuk hubungan yang lama diantara para pihak. Di dalam bisnis internasional, istilah joint venture digunakan untuk berbagai macam perjanjian antara lain perjanjian produksi bersama, perjanjian bagi hasil, dan kontrak manajemen. Dapat disimpulkan bahwa joint venture adalah kerjasama antara pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional semata-mata berdasarkan suatu perjanjian belaka, dan perusahaan dengan

bentuk usaha tetap pun dapat menggunakan bentuk ini dalam menjalankan usahanya. Dalam arti ini pengertian joint venture mengarah pada pembentukan suatu badan hukum, sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, pengertian joint venture tidak saja mencakup suatu kerjasama dimana masing-masing pihak melakukan penyetoran yang lebih longgar, yang kurang permanen sifatnya, serta tidak harus melibatkan partisipasi modal seperti license agreement.64

b. Kerjasama dalam bentuk Joint Enterprise

Joint enterprise adalah suatu perusahaan yang berbentuk badan

hukum antara pemilik modal asing dan pemilik modal nasional.Joint

enterprise merupakan modal yang dinyatakan dalam valuta asing.

Kerjasama dalam bentuk joint enterprise merupakan suatu bentuk kerjasama antara pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional yang dituangkan dalam badan hukum Indonesia.

Bentuk kerjasama joint enterprise bukan saja disukai oleh penanam modal asing, tetapi juga oleh pemerintah. Hal ini karena disebabkan beberapa faktor, yaitu sebagai berikut :

1. Setiap usaha di Indonesia memerlukan rupiah untuk pembayaran barang-barang yang lebih murah dan mudah diperoleh di Indonesia. Juga untuk pembayaran gaji pegawainya dan lain-lain pengeluaran dibutuhkan uang rupiah oleh penanam modal asing tersebut.

       64

Dhaniswara K. Harjono, 2007, Hukum PenanamanModal, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta , h.161-162

2. Penanam modal asing tidak perlu menanamkan modal dalam bentuk valuta asing, tetapi modal asing tersebut dapat berbentuk mesin-mesin atau hasil lain dari produksi penanam modal asing tersebut.

3. Dengan bekerjasama dengan pengusaha nasional. apalagi yang telah lama berpengalaman di-Indonesia, penanam modal asing dapat mengecilkan resiko seminimal-minimalnya sehingga sebenarnya penanaman modalnya di Indonesia lebih merupakan pemberian kredit daripada penanaman modal asing yang langsung.65

c. Kerjasama dalam bentuk Kontrak Karya

Kontrak karya adalah kontrak kerjasama antara modal asing dengan modal nasional yang terjadi apabila penanam modal asing membentuk suatu badan hukum Indonesia, dan badan hukum ini mengadakan perjanjian kerjasamma dengan suatu badan hukum yang mempergunakan modal nasional. Umumnya perusahaan dengan bentuk usaha tetap yang ada di Indonesia menggunakan bentuk kerjasama kontrak karya dalam menjalankan bisnisnya, seperti misalnya bentuk usaha tetap yang bergerak di bidang konstruksi maupun konsultan.

Kontrak karya dalam bidang pertambangan dapat dilakukan dengan persyaratan :

1. Kerjasama dengan pemerintah.

2. Kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan pemerintah, dimana pihak asing sebagai kontraktor.

       65

3. Mendapat pengesahan dari pemerintah setelah konsultasi dengan DPR.

Penentuan persyaratan yang demikian adalah mengingat bahwa pemerintah merupakan pemegang kuasa pertambangan sehingga swasta (asing) hanya dapat sebagai kontraktor untuk mengusahakan suatu bidang tertentu seperti eksplorasi.

d. Kontrak Production Sharing

Kontrak production sharing adalah suatu bentuk kerjasama berupa perolehan kredit dari pihak asing yang pembayarannya termasuk bunganya dilakukan dari hasil produksi perusahaan yang bersangkutan, yang biasanya dikaitkan dengan suatu ketentuan mengenai kewajiban perusahaan Indonesia tersebut untuk mengekspor hasilnya ke negara pemberi kredit. Kontrak production sharing yang sering terjadi di Indonesia banyak digunakan oleh pemodal asing dengan perusahaan dengan bentuk usaha tetap di Indonesia dalam bidang pertambangan sumber daya alam.

Dapat dikatakan kontrak production sharing merupakan kontrak kerjasama secara bagi hasil. Bentuk kerjasama yang demikian sudah diterapkan oleh PT. Pertamina berdasarkan PP No. 35 Tahun 1994 tentang Syarat-syarat dan pedoman kerjasama kontrak bagi hasil minyak dan gas bumi. Hal-hal pokok yang diatur dalam peraturan pemerintah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kontrak bagi hasil adalah bentuk kerjasama antara Pertamina dengan kontraktor untuk melaksanakan usaha eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi berdasarkan prinsip pembagian hasil produksi.

2. Eksplorasi adalah usaha pertambangan yang dilakukan untuk mengetahui dan menemukan adanya cadangan minyak dan gas bumi melalui studi-studi dan penyelidikan.

3. Eksploitasi adalah usaha pertambangan dengan maksud untuk menghasilkan minyak dan gas bumi melalui cadangan yang ada.

4. Kuasa pertambangan adalah wewenang yang diberikan kepada Pertamina untuk melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi. 5. Kontraktor adalah perusahaan asing dengan perusahaan nasional yang

mempunyai hubungan kerja dengan Pertamina yang berdasarkan kontrak bagi hasil.

Kontrak bagi hasil dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Manajemen di tangan Pertamina.

2. Kontraktor menyediakan semua dana, teknologi, dan keahlian. 3. Kontraktor menanggung resiko semua risiko finansial.

4. Besarnya bagi hasil ditentukan atas dasar tingkat produksi. 5. Berlakunya hukum Indonesia.

6. Peralatan yang dibeli kontraktor menjadi milik Pertamina.

7. Jangka waktu kontrak maksimal 30 tahun dengan perpanjangan selama 20 tahun.66

       66

Disamping bentuk kerjasama tersebut di atas dalam penanaman modal asing dikenal juga kerjasama “non equity joint venture” yaitu sebagai berikut :

a. Technical service agreement

Pada bentuk kerjasama ini, perusahaan nasional hanya membutuhkan

skill atau metode kerja baru.

b. Franchise and brand use-agreement

Suatu bentuk kerjasama yang akan dipakai apabila suatu perusahaan domestik atau perusahaan dalam negeri ingin memproduksi suatu barang yang telah mempunyai merek dan nama yang terkenal.

c. Management contracts

Kerjasama bentuk ini biasanya dipergunakan dalam pengelolaan hotel-hotel internasional untuk meningkatkan jalur pemasaran atau memperluas jaringan pemasaran hotel yang dikerjasamakan.67

3.3 Eksistensi Perusahaan Dengan Bentuk Usaha Tetap Dalam Penanaman