BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perekonomian dunia saat ini sedang mengalami globalisasi dan dapat dilihat dari semakin maraknya penanaman modal asing pada suatu perusahaan. Penanaman modal asing yang pesat meniadakan batasan hubungan ekonomi internasional. Efek yang terjadi dari globalisasi ekonomi salah satunya adalah arus informasi yang begitu cepat kemasyarakat semakin terlihat dengan berkembangnya perekonomian suatu negara. Perkembangan teknologi, komunikasi dan informasi di berbagai belahan dunia mendorong banyak perusahaan-perusahaan di negara pengekspor modal melakukan efisiensi perekonomiannya agar stabilitas dan peningkatan produktifitasnya dapat terjamin. Hal ini menimbulkan persaingan yang ketat dalam perdagangan dunia1. Dikaitkan dengan ini, perusahaan sebagai pelaku utama ekonomi akan berusaha untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnisnya dan berusaha mengembangkan usahanya sampai melewati batas yurisdiksi suatu negara, yang mana untuk mengatur jalannya bisnis tersebut, sudah barang tentu memerlukan seperangkat aturan yakni hukum penanaman modal sebagai payung hukumnya.
1
Hendrik Budi Untung, 2010, Hukum Investasi Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,h, 32.
Aspek hukum penanaman modal menjadi bagian yang sangat penting dari sistem penanaman modal karena bersifat sangat kompleks sehingga tidak setiap jual beli, sewa menyewa, tukar menukar, dan perbuatan lain sekedar menghasilkan keuntungan termasuk kedalam konsep penanaman modal. Dengan kehadiran penanam modal asing ke dalam suatu negara yang berdaulat menimbulkan pendapat dengan argumentasi masing-masing antara lain seperti kehadiran penanam modal asing dapat mengancam industri dalam negeri sendiri dan mengancam kedaulatan negara, sehingga perencanaan, pelaksanaan serta pengendalian sesuai dengan peraturan hukum penanaman modal2.
Secara garis besar, penanaman modal asing terhadap pembangunan bagi negara berkembang dapat diperinci menjadi lima. Pertama, sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang sebagai dasar untuk mempercepat penanaman modal dan pertumbuhan ekonomi. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang meningkat perlu diikuti dengan perpindahan struktur produksi dan perdagangan. Ketiga, modal asing dapat berperan penting dalam memobilisasi dana maupun transformasi struktural. Keempat, kebutuhan akan modal asing menjadi menurun segera setelah perubahan struktural benar-benar terjadi meskipun modal asing di masa selanjutnya lebih produktif. Kelima, bagi negara-negara sedang berkembang yang tidak mampu memulai membangun industri-industri berat dan industri strategis, adanya modal asing akan sangat
2
membantu untuk dapat mendirikan pabrik-pabrik baja, alat-alat mesin, pabrik elektronik, industri kimia dasar dan sebagainya3. Selama ini penanam modal domestik di negara berkembang enggan melakukan usaha yang beresiko tinggi seperti eksploitasi sumber daya alam yang belum dimanfaatkan membuka lahan baru, maka hadirnya penanam modal asing akan sangat mendukung merintis usaha dibidang-bidang tersebut. Adanya pengadaan prasarana negara, pendirian industri-industri baru, pemanfaatan sumber-sumber baru, pembukaan daerah-daerah baru, akan membuka kecenderungan baru yaitu meningkatkan lapangan kerja, inilah keuntungan sosial yang diperoleh adanya kehadiran penanam modal asing. Transfer teknologi mengakibatkan tenaga kerja setempat menjadi terampil, sehingga meningkatkan marginal produktifitasnya, akhirnya akan meningkatkan keseluruhan upah riil. Semua ini menunjukkan bahwa modal asing cenderung menaikkan tingkat produktifitas, kinerja dan pendapatan nasional4.
Kehadiran penanam modal asing bagi negara berkembang sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Modal asing membantu dalam industrialisasi, pembangunan modal dan menciptakan kesempatan kerja, serta keterampilan teknik. Melalui modal asing terbuka daerah-daerah dan tergarap sumber-sumber baru. Resiko dan kerugian pada tahap perintisan juga tertanggung, selanjutnya modal asing mendorong
3
Jonker Sihombing, 2009, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, PT. Alumni, Bandung, h. 43.
4
Ana Rokhimatussa’dyah dan Suratman, 2009, Hukum Investasi dan Pasar Modal, Sinar Grafika,Jakarta, h. 78.
pengusaha setempat untuk bekerjasama untuk pengelolaan terhadap sumber daya alam dan potensi ekonomi yang ada.
Untuk menjalankan pengelolaan tersebut, umumnya penanam modal asing menggunakan perusahaan multi nasional dimana perusahaan-perusahaan bisnis yang besar menyesuaikan struktur organisasinya untuk membagi risiko dan memperoleh keuntungan dari keputusan ekonomi. Struktur organisasi perusahaan internasional yang sederhana adalah Perusahaan Non Multinasional (Non Multinational Enterprise), yaitu suatuorganisasi perusahaan di suatu negara yang melakukan kontrak dengan perusahaan asing yang independen untuk melakukan penjualan atau pembelian di luar negeri.
Perusahaan domestik yang berfungsi dalam pasar internasional melalui sebuah agen asing. Selanjutnya yang lebih kompleks adalah Perusahaan Multinasional Nasional (National-Multinational Enterprise) yaitu suatu perusahaan induk yang berada disuatu negara yang mendirikan beberapa cabang dan anak perusahaan di negara-negara lain. Cabang merupakan suatu unit atau bagian dari induk (seperti kantor pembelian di luar negeri, pabrik perakitan, pabrik manufaktur atau kantor penjualan), sementara anak perusahaan (subsidiaries) merupakan suatu perusahaan yang diorganisasikan sebagai entitas hukum yang terpisah yang dimiliki oleh induk5.
5
Organisasi perusahaan yang paling kompleks adalah Perusahaan Internasional Multinasional (International-Multinational Enterprise) yaitu organisasi perusahaan yang terdiri dari dua atau lebih induk perusahaan (parent company) di negara-negara yang berbeda yang menjalankan kegiatan usaha di dua atau lebih negara. Organisasi perusahaan ini mirip dengan organisasi perusahaan multinasional nasional, bedanya ada pada kepemilikan dua atau lebih perusahaan induk yang berlokasi negara yangberbeda. Kebanyakan perusahaan internasional multinasional berasal dari penggabungan (merger) perusahaan-perusahaan induk yang beroperasi di negara-negara berbeda di Eropa Barat.6
Perdagangan internasional yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan internasional tersebut di atas dapat memberikan manfaat ekonomi timbal balik keduanegara, misalnya permintaan akan suatu produk atau komoditas dari luar negeri dapat meningkatkan atau mengoptimalkan produktivitas, kesempatan kerja dan penghasilan bruto kedua negara. Hubungan ekonomis tersebut dapat dimantapkan dengan penanaman modal yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta.
Penanaman modal asing selain dapat mengoptimalkan kapasitas produksi nasional, memperkenalkan produk dan metode penyelenggaraan usaha, perdagangan atau produksi baru. Selain itu penanaman modal yang dilakukan perusahaan multinasional dengan strategi aliansinya dapat memperluas dan memperbesar akses negara terhadap pasar internasional.
6
Aminuddin Umar, 2007, Hukum Penanaman Modal di Indonesia, Prenada Media, Jakarta, h. 21-22.
Akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor dan perolehan devisa negara7.
Suatu induk perusahaan yang hendak menjalankan aktivitas usahanya di negara lain seperti Indonesia dapat dilakukan dengan mendirikan suatu perusahaan yang berbadan hukum Indonesia (Perseroan Terbatas) atau dapat juga tidak melalui suatu perseroan terbatas. Pendirian cabang perusahaan atau kantor perwakilan di negara lain dengan suatu Perseroan Terbatas, maka status perpajakannya disamakan dengan wajib pajak badan biasa seperti perusahaan lainnya di Indonesia. Sedangkan apabila pendirian kantor perwakilan asing itu tidak berbadan hukum Indonesia maka akan menimbulkan perusahaan dengan Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia, yang kewajiban perpajakannya diatur di dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Pada prinsipnya, setiap penanam modal yang menanamkan modalnya di Indonesia membayar pajak sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan8. Untuk dapat mengoptimalkan penerimaan pajak dari setiap kegiatan ekonomi yang terjadi di suatu negara maka tersedia suatu administrasi perpajakan yang baik di negara tersebut. Administrasi pajak yang baik akan dapat memantau kepatuhan pelaksanaan ketentuan perpajakan dari seluruh Wajib Pajak (tax
payers).
7
Dwi Anggraini, 2011, Perusahaan Multi Nasional, http://dwianggraini2416.blogspot.com/2011/11, diunduh 23 Agustus 2013.
8
Salim HS dan Budi Sutrisno, 2008, Hukum Investasi Di Indonesia, PT. Raja Grafindo, Jakarta, h. 28
Dalam kenyataannya penyebab tidak optimalnya pencapaian penerimaan pajak tidak selamanya disebabkan kelemahan administrasi otoritas pajak di suatu negara dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap seluruh Wajib Pajak, tetapi juga bisa disebabkan oleh ketidakjelasan peraturan atau ketentuan perpajakan yang ada, keterbatasan pengetahuan perpajakan Wajib Pajak dan persoalan mentalitas aparatur negara yang kurang profesional.
Persoalan kepatuhan terhadap pajak terkait erat dengan persoalan kepatuhan terhadap hukum, karena pada hakekatnya pelaksanaan pajak itu merupakan wujud dari pelaksanaan berbagai peraturan mengenai perpajakan itu sendiri. Dalam praktek, sering terjadi permasalahan antara otoritas perpajakan dengan penanam modal asing menyangkut masalah perusahaan dengan bentuk usaha tetap, yang mengakibatkan potensi penerimaan pajak dari bentuk usaha tetap kurang optimal. Permasalahan perpajakan yang timbul bukan hanya disebabkan tidak jelasnya atau kurang dipahaminya persoalan tentang kriteria atau kedudukan perusahaan dengan bentuk usaha tetap diantara subyek pajak lainnya menurut undang-undang nasional tetapi juga kurang dipahaminya perlakuan perpajakan perusahaan dengan bentuk usaha tetap sesuai tax treaty atau Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Dalam kaitan ini pemahaman terhadap asas-asas pemungutan pajak maupun teori-teori perpajakan yang ada akan sangat membantu semua pihak dalam memahami ketentuan UU Pajak domestik maupun perjanjian perpajakan.
Untuk itulah disamping dilakukannya aspek pengawasan oleh otoritas pajak, juga mutlak diperlukan pemahaman yang baik akan butir-butir ketentuan tax treaty baik oleh pelaku dunia usaha maupun oleh aparatur Direktorat Jenderal Pajak. Tax treaty itu merupakan aturan main yang penting bagaimana perlakuan pajak penghasilan atas kegiatan usaha yang dilakukan penanam modal negara asing di Indonesia. Penerimaan pajak penghasilan dari suatu bentuk usaha tetap yang dijalankan oleh orang atau badan luar negeri tersebut dapat dioptimalisasikan oleh pemerintah melalui pengawasan administratif berdasarkan undang-undang perpajakan Indonesia maupun kerjasama perpajakan dengan negara domisili orang atau badan luar negeri melalui perjanjian perpajakan (tax treaty).
Perusahaan dengan bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha, dan tempat usaha tersebut haruslah bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau badan yang tidak didirikan atau berkedudukan di Indonesia9. Berdasarkan pengertian diatas, perusahaan dengan bentuk usaha tetap memiliki sifat yang sangat ketergantungan, karena haruslah menjalankan usaha atau kegiatan suatu perusahaan luar negeri di Indonesia.
Perusahaan dengan bentuk usaha tetap yang merupakan suatu bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi maupun badan usaha yang
9
Jaja Zakaria, 2005, Perlakuan Perpajakan terhadap Bentuk Usaha tetap (BUT), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 7 (selanjutnya disebut Jaja ZakariaI)
tidak didirikan di Indonesia untuk menjalankan usahanya di Indonesia ini memiliki perbedaan dengan konsep bentuk usaha yang diperkenankan menurut Undang-undang Penanaman Modal, sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (2) UU Penanaman Modal. Untuk badan usaha yang berstatus penanaman modal dalam negeri bentuk usahanya tidak harus dalam bentuk badan hukum, lain halnya dengan penanaman modal asing, pembentuk undang-undang mensyaratkan badan usahanya berbentuk hukum Perseroan Terbatas (PT), dalam hal kaitannya dengan eksistensi PT sebagai subyek hukum yang mandiri10.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk membahas lebih jauh mengenai “Kedudukan Hukum Perusahaan “Bentuk Usaha Tetap” (Permanent Establishment) Dalam Dimensi Hukum Penanaman Modal Di Indonesia”
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan hukum perusahaan dengan bentuk usaha tetap dalam perspektif Undang-Undang No 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal ?
2. Bagaimana akibat hukum dari perusahaanbentuk usaha tetap dalam dimensi hukum penanaman modal berkaitan dengan penerimaan pajak?
10
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah yang ada dan agar suatu masalah tidak menyimpang dari pokok permasalahan, dan untuk mendapatkan gambaran tentang apa yang akan diuraikan dalam tesis ini, perlu kiranya dibuat ruang lingkup permasalahannya sehingga dapat diketahui dengan jelas materi-materi yang terkait erat dengan permasalahan diatas. Adapun pembahasan terhadap materi yang akan diangkat dalam tesis ini pertama, mengenai kedudukan hukum perusahaan dengan bentuk usaha tetap dalam perspektif Undang-Undang No 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Kedua, akan dibahas tentang akibat hukum dari perusahaan bentuk usaha tetap dalam dimensi hukum penanaman modal berkaitan dengan penerimaan pajak.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan yang diajukan dalam tesis ini, dapat dikemukakan tujuan penelitian ini, antara lain :
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah selain sebagai upaya penelitian untuk mengembangkan ilmu hukum dalam kaitannya dengan paradigmascience as a process (ilmu sebagai proses)maka paradigma ini dinyatakan bahwa ilmu tidak akan pernah mandeg (final) ataupun berhenti
dalam penggaliannya atas kebenaran di bidangnya masing-masing11. Tetapi lebih mengikuti perkembangan zaman di dalam praktek perlindungan hukum di Indonesia.Melalui penelitian ini akan ditelusuri mengenai kedudukan hukum perusahaan dengan bentuk usaha tetap (permanent
establishment) dalam dimensi hukum penanaman modal di Indonesia.
1.4.2 Tujuan Khusus
Tujuan secara khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami serta mengerti dengan lebih mendalam tentang :
a. Untuk mengetahui dan memahami mengenai kedudukan hukum perusahaan dengan bentuk usaha tetap dalam perspektif Undang-Undang No 25 tahun 2007 tentang penanaman modal
b. Untuk mengetahui dan memahami mengenai akibat hukum dari perusahaan bentuk usaha tetap dalam dimensi hukum penanaman modal berkaitan dengan penerimaan pajak.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para pembaca baik manfaat teoritis maupun manfaat praktis :
1.5.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan wawasan keilmuan peneliti, masukan bagi pengembangan ilmu hukum dan
11
Anonim, 2013, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian Tesis Dan Tesis Program Studi
Magister (S2)Ilmu Hukum, Program Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas
pengembangan bacaan bagi pendidikan hukum di masa yang akan datang yang khususnya berkaitan dengan perkembangan di bidang hukum penanaman modal yang sangat dibutuhkan untuk menopang aktifitas dunia bisnis saat ini.
1.5.2 Manfaat Praktis.
Dari segi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dan dapat dijadikan acuan mengenai kedudukan hukum perusahaan dengan bentuk usaha tetap khususnya dalam dimensi hukum penanaman modal di Indonesia.
1.6 Orisinalitas Penelitian
Berdasarkan penelusuran kepustakaan dan media elektronik,terdapat beberapa penelitian yang membahas mengenai perusahaandengan bentuk usaha tetap, dan dalam penelitian ini bukanlah plagiat serta memenuhi unsur kebaruan. Yang mana penelitian ini tidak sama dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya Berdasarkan penelusuran pustaka didapat beberapa judul penelitian, yaitu :
1) Kajian Hukum Pengaturan Bentuk Usaha Tetap Dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (Studi Kasus Tax Treaty Indonesia-Jepang), oleh :Ferdy Alfonsus Sitohang, Tesis, Universitas Gadjah Mada, tahun 2008.
Penelitian “Kajian Hukum Pengaturan Bentuk Usaha Tetap Dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (Studi Kasus Tax Treaty
Indonesia-Jepang)” membahas masalah tentang bagaimana pengaturan Bentuk Usaha Tetap menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan di Indonesia.Serta bagaimana pengaturan Bentuk Usaha Tetap dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda antara Indonesia dengan Jepang.Dan Apakah pengaturan Bentuk Usaha Tetap dalam Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda antara Indonesia dan Jepang telah memberikan hak pemajakan yang menguntungkan bagi Indonesia.Dalam tesis ini, lebih menitik beratkan pada pemajakan terhadap Bentuk Usaha Tetap yang tidak hanya tergantung dari UU Pajak domestik yang mengatur tentang Bentuk Usaha Tetap dengan menganalisa pengaturan Bentuk Usaha Tetap menurut perjanjian penghindaran pajak berganda antara Indonesia dan Jepang
2) Analisis Formulasi Kebijakan Identifikasi Bentuk Usaha Tetap Keagenan, oleh: I Gede Putu Dharma Gunadi, Tesis, Universitas Indonesia, tahun 2012.
Penelitian ini membahas tentang kebijakan Bentuk Usaha Tetap keagenan di Indonesia yang mana membahas mengenai dasar pemikiran yang melatarbelakangi kebijakan agen yang dijadikan Bentuk Usaha Tetap serta menganalisis masalah-masalah yang dihadapi oleh Direktorat Jendral Pajak Republik Indonesia dalam upaya mengoptimalkan identifikasi keberadaan Bentuk Usaha Tetap keagenan di Indonesia.Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah dasar pemikiran yang melatarbelakangi kebijakan agen perlu
dijadikan Bentuk Usaha Tetap dalam ketentuan perpajakan domestic Indonesia dan apakah hambatan yang dihadapi oleh Direktorat Jendral Pajak dalam upaya mengoptimalkan identifikasi keberadaan Bentuk Usaha Tetap keagenan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif, dengan hasil penelitian yang menyarankan diperlukannya pembuatan peraturan pelaksanaan tentang formulasi kebijakan identifikasi Bentuk Usaha Tetap keagenan sebagai pedoman fiskus dan wajib pajak untuk memberikan panduan dalam menentukan apakah suatu transaksi keagenan merupakan agen yang independen atau dependen terhadap prinsipalnya diluar negeri. 3) Konsep Bentuk Usaha Tetap di Era Transaksi Elektronik, oleh :
Triyono Martanto, Tesis, Universitas Gadjah Mada, tahun 2008.
Penelitian tesis yang berjudul “Konsep Bentuk Usaha Tetap di Era Transaksi Elektronik” ini membahas apakah ketentuan Bentuk Usaha Tetap menurut Pasal 2 ayat 5 UU Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan dapat diterapkan atas transaksi elektronik atau tidak. Serta bagaimana Bentuk Usaha Tetap dapat timbul atas transaksi usaha yang dilakukan melalui media elektronik (virtual).
Ketiga penelitian diatas menggunakan penelitan yang menitik beratkan langsung pada pengaturan perusahaan dengan bentuk usaha tetap baik dalam hal penghindaran pajak berganda maupun pada jenis-jenis usaha dari perusahaan dengan bentuk usaha tetap tersebut. Ketiga penelitian tersebut, belum ada satupun yang membahas mengenai Kedudukan Hukum
Perusahaan “Bentuk Usaha Tetap” (Permanent Esthablishment) Dalam Dimensi Hukum Penanaman Modal Di Indonesia.
Penelitian-penelitian terdahulu yang telah penulis sebutkan diatas sekali lagi adalah tidak sama dengan penelitian yang dilakukan penulis, serta dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis memuat unsur kebaruan yakni ditinjau dari ranah hukum yang berbeda yakni meninjau perusahaan dengan bentuk usaha tetap dengan mengkaji dari Undang-undang Pajak Penghasilan dengan Undang-undang Penanaman Modal.
1.7 Landasan Teoritis
Perusahaan dengan Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah salah satu Wajib Pajak yang menempati kedudukan khusus dalam sistem perpajakan di Indonesia. Perusahaan dengan bentuk usaha tetap adalah termasuk Wajib Pajak Luar Negeri. Oleh karenanya pengertian perusahaan dengan bentuk usaha tetapakan bersinggungan dengan sistem perpajakan dari Negara lain sehingga perusahaan dengan bentuk usaha tetap juga merupakan salah satu hal yang menjadi bahasan dalam perjanjian perpajakan dengan negara lain. Perusahaan denganBentuk Usaha Tetap (BUT) (permanent establishment) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.
Suatu perusahaan dengan bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin dan peralatan.Tempat usaha tersebut bersifat Permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Pengertian perusahaan denganbentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan agen, broker atau Perantara yang mempunyai kedudukan bebas, asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri12. Menurut Undang-Undang Perpajakan Indonesia, bentuk usaha yang dipergunakan oleh Subjek Pajak Luar Negeri untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, dapat dikatakan sebagai bentuk usaha tetap yang dapat berupa: 1. tempat kedudukan manajemen;
2. cabang perusahaan;
12
Anonim, 2011, Bentuk Usaha Tetap, http://id.wikipedia.org/wiki/, diunduh 12 September 2013.
3. kantor perwakilan; 4. gedung kantor; 5. pabrik;
6. bengkel;
7. pertambangan dan penggalian sumber alam; wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan;
8. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan; 9. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
10. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan; 11. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas;
12. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia.
Perbedaan mendasar dibandingkan dengan wajib pajak dalam negeri adalah perusahaan denganbentuk usaha tetap tidak dapat menikmati tax
treaty antara Indonesia dengan negara treaty partner lainnya karena bukan
penduduk Indonesia dan atas laba bersih setelah pajak yang diterima atau diperoleh bentuk usaha tetapdikenakan branch profit tax. Efek globalisasi yang diwarnai dengan tumbuhnya kawasan bebas perdagangan, jasa dan modal maka transaksi internasional di dalam negeri pun bertumbuh dengan pesatnya. Tak dapat dipungkiri dan dibendung dengan masuknya banyak
penanaman modal asing baik dalam bentuk portfolio investment dan foreign
direct investment yang berimplikasi luas bagi suatu negara termasuk
Indonesia. Dalam melakukan penanaman modal, penanam modal asing dapat melakukannya dalam bentuk joint venture (penanaman modal dalam bentuk pembiayaan) yang pada umumnya perusahaan berbentuk penanaman modal asing dan berbadan hukum Indonesia sehingga merupakan wajib pajak dalam negeri (resident taxpayer)13.
Kerancuan praktek hukum di Indonesia tidak hanya terletak pada aparat penegak hukum, tetapi juga karena dipengaruhi oleh opini publik dalam mengartikan pengertian 3 substansi hukum yakni keadilan, kemanfaatan, serta kepastian hukum. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru di masyarakat, akan tetapi sudah menjadi konsumsi publik dimana di dalamnya terdapat perbedaan persepsi atau pandangan mengenai eksistensi penerapan hukum di Indonesia. Berdasarkan tiga (3) nilai-nilai dasar yang dikemukakan di atas oleh Gustav Radbuch, orientasinya adalah menciptakan harmonisasi pelaksanaan hukum di Indonesia.Tujuan hukum untuk mengayomi manusia baik secara aktif maupun secara pasif, secara aktif dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan yang manusia dalam proses yang berlangsung secara wajar. Sedangkan yang dimaksud secara pasif adalah mengupayakan pencegahan atas upaya yang sewenang-wenang dan penyalahgunaan hak secara tidak
13
Taripar Doly, 2013, Sekilas tentang Bentuk Usaha Tetap,
adil 14 . Usaha mewujudkan pengayoman ini termasuk di dalamnya diantaranya adalah mewujudkan ketertiban dan keteraturan, mewujudkan kedamaian sejati, mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat, mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat. Nilai dasar yang pertama adalah keadilan hukum, merupakan salah satu tujuan dari hukum selain dari kepastian hukum itu sendiri dan juga kemanfaatan hukum. Sedangkan makna keadilan itu sendiri masih menjadi perdebatan. Namun keadilan itu terkait dengan pendistribusian yang merata antara hak dan kewajiban. Demikian sentral dan dominan kedudukan dan peranan dari nilai keadilan bagi hukum, sehingga GustavRadbruch15 menyatakan ”rechct ist wille zur
gerechtigkeit” (hukum adalah kehendak demi untuk keadilan). Sedangkan
Soejono K.S mendefinisikan keadilan adalah keseimbangan batiniah dan lahiriah yang memberikan kemungkinan dan perlindungan atas kehadiran dan perkembangan kebenaran yang beriklim toleransi dan kebebasan16.
Terkait dengan penanaman modal di Indonesia sesuai ketentuan Pasal 3 ayat (1) UU Penanaman Modal terdapat beberapa asas antara lain sebagai berikut:
1. asas kepastian hukum : setiap adanya kebijaksanaan atau keputusan kemudian ditetapkan yang dalam penanaman modal itu dilandasi pada
14
H. Zainal Azikin, 2012, Mazhab Positifisme, www.hukumhtm.com, diunduh 11 September 2013.
15
Lask, Radbruch, and Dabin, 1950, 20thCentury Legal Philosophy Series : Vol. IV : The Legal Philosophies Of Lask, Radbruch, And Dabin, translated by Kurt Wilk, Harvard University
Press, Cambridge, Massachusetts, h. 50. 16
La Patuju, 2013, Keadilan, Kemanfaatan dan Kepastian Hukum Dalam Hubungannya
aturan atau norma hukum yang ada diperaturan perundang-undangan yang mengatur tentang penanaman modal.
2. asas keterbukaan : keterbukaan pemerintah didalam memberikan informasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan penanaman modal dengan benar dan jujur.
3. asas akuntabilitas : setiap kegiatan ataupun hasil dari penanaman modal baik dalam proses harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat mempunyai kedudukan rakyat.
4. asas perlakuan yang sama : tidak ada perbedaaan dari penanaman modal atau pelaku harus mendapatkan perlakuan yang sama.
5. asas kebersamaan : mendorong semua penanam modal dalam atau luar secara bersama sama mengadakan kegiatan usaha yang bertujuan memberikan kesejahteraan rakyat.
6. asas efisiensi berkeadilan : setiap pelaksanaan penanaman modal harus mengedepankan efisiensi ini untuk mencapai iklim usaha yang adil dan kondusif dan iklim berdaya saing.
7. asas berkelanjutan : bahwa penanaman modal itu dari awal sudah terencana investasi itu diupayakan berjalan proses pembangunan melalui penanaman modal didalam melakukan kesejahteraan rakyat dan aspek kemajuan rakyat.
8. asas berwawasan lingkungan : bahwa dalam penanaman modal harus memperhatikan lingkungan supaya tidak melakukan pengerusakan lingkungan.
9. asas kemandirian : harus mngedepankan kemandirian pemerintah didalam penanaman modal ,berusaha dalam menanam modal dalam bidang usaha.
10. asas keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional adalah keseimbangan yang dimana bisa menikmati oleh semua masyarakat yang ada. Serta apa yang dihasilkan dalam usaha kesatuan nasional tidak juga dinikmati oleh para penanam modal tetapi juga mementingkan semua masyarakat.
Sedangkan beberapa asas yang terdapat dalam UUPM yang lainnya yakni sebagai berikut:
a. asas ekonomi perusahaan : penanam modal harus diusahakan secara optimal untuk mencapai hasil yang efektif dan efisien dalam rangka mendapatkan keuntungan. (Pasal 26 UUPMA)
b. asas hukum internasional: merupakan asas di dalam penyelesaian sengketa antara pemerintah dengan penanaman modal, apabila pemerintah melakukan tindakan nasionalisasi atau pencabutan hak milik secara menyeluruh dan penyelesaiannya harus didasarkan pada hukum internasional. (Pasal 21 UUPMA)
c. asas demokrasi ekonomi : dilandasi adanya kebebasan yang meluas di era globalisasi. (Penjelasan Pasal 4 UU No. 6 Tahun 1968 tentang PMDN)
d. asas kemanfaatan : semua pihak yang terkait didalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Asas kepastian hukum yang dianut oleh Undang-undang Penanaman Modal, sesuai dengan teori dari Hans Kelsen dengan menyatakan ada dua hal yang penting bagi seseorang yang mempelajari Teori Hukum : pertama untuk memahami unsur-unsur penting dari teori hukum (teori hukum murni), kedua untuk merumuskan teori tersebut agar dapat mencakup masalah-masalah dan institusi-institusi hukum terutama berkaitan dengan tradisi dan suasana hukum sipil, anglo saxon. Teori hukum umum berguna untuk menerangkan hukum positif sebagai bagian dari suatu masyarakat tertentu. Jadi teori ini berusaha untuk menerangkan secara ilmiah tentang tata hukum tertentu yang menggambarkan komunitas hukum terkait.
Filosofi hukum yang ada pada waktu itu telah terkontaminasi oleh ideologi politik dan moralitas di satu sisi, dan telah mengalami reduksi karena ilmu pengetahuan di sisi yang lain, dua pereduksi ini telah melemahkan hukum. Oleh karenanya, Kelsen mengusulkan sebuah bentuk kemurnian teori hukum yang berupaya untuk menjauhkan bentuk-bentuk reduksi atas hukum.Yurisprudensi ini dikarakterisasikan sebagai kajian kepada hukum, sebagai satu objek yang berdiri sendiri, sehingga kemurnian menjadi prinsip-prinsip metodolgikal dasar dari filsafatnya. Perlu dicatat bahwa paham anti-reduksionisme ini bukan hanya merupakan metodoligi melainkan juga substansi. Kelsen meyakini bahwa jika hukum dipertimbangkan sebagai sebuah praktek normatif, maka metodologi yang reduksionis semestinya harus dihilangkan. Akan tetapi, pendekatan ini tidak hanya sebatas permasalahan metodologi saja.
Ajaran dari Hans Kelsen ini menimbulkan reaksi terhadap mazhab-mazhab hukum lain yang telah memperluas batas-batas Ilmu Pengetahuan hukum. Ajarannya didasarkan pada konsepsi Immanuel Kant, yang memisahkan secara tajam antara pengertian hukum sebagai Sollen, dan pengertian hukum sebagai Sien. Oleh karena itu ajaran dari Hans Kelsen disebut sebagai Neo Kantiaan dan beliau ingin memurnikan hukum dari unsur-usnur pikiran yang filosofis-metafisis, dan ingin memusatkan perhatianya pada teori hukum yang abstrak dengan maksud untuk memperoleh Ilmu pengetahuan hukum yang murni. Ia tidak sependapat dengan definisi hukum yang diartikan sebagai perintah. Karena itu ajarannya dianggap reaksi terhadap mazhab-mazhab lain.
Menurut Kelsen17, hukum tidak menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi menentukan peraturan-peraturan tertentu yaitu meletakkan norma-norma bagi tindakan yang harus dilakukan orang. Objek ilmu pengetahuan hukum adalah sifat normatif yang diciptakan hukum yaitu : sifat keharusan untuk melakukan suatu perbuatan sesuai dengan peraturan hukum. Jadi pokok persoalan ilmu pengetahuan hukum adalah: Norma hukum yang terlepas dari pertimbangan-pertimbangan semua isinya baik dari segi etika maupun sosiologis. Karena itu ajarannya disebut dengan Ajaran Hukum Murni (Reine Rechtslehre).
Hukum adalah sama dengan negara. Suatu tertib hukum menjadi suatu negara apabila tertib hukum itu sudah menyusun suatu badan-badan atau
17
Hans Kelsen, 2007, General Theory of Law and State (TeoriHukum Dan Negara
:Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik),diterjemahkan oleh
lembaga-lembaga guna menciptakan dan mengundangkan serta melaksanakan hukum.Dinamakan tertib hukum, apabila ditinjau dari sudut peraturan-peraturan yang abstrak. Dinamakan negara, apabila objek diselidiki adalah badan-badan atau lembaga-lembaga yang melaksanakan hukum, Setiap perbuatan hukum harus dapat dikembalikan pada suatu norma yang memberi kekuatan hukum pada tindakan manusia tertentu itu. Dimana suatu konstitusi kekuatan hukumnya berasal dari luar hukum.
Keterkaitan antara perusahaan dengan bentuk usaha tetap dengan hukum penanaman modal yakni dapat dilihat dari Pasal 5 Undang-undang Penanaman Modal, karena berdasarkan Undang-undang Penanaman Modal apabila ada badan usaha asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia, harus berbentuk badan hukum yang sesuai dengan Undang-undang Perseroan Terbatas. Sedangkan apabila ditinjau dari Undang-Undang-undang Pajak Penghasilan, perusahaan denganbentuk usaha tetap yang berlaku sesuai dengan undang-undang tersebut tidak mengharuskan berbentuk badan hukum Indonesia, karena lebih menitik beratkan pada pemajakan atas penghasilan yang didapatkan atas kegiatan usaha yang dilakukan di Indonesia.
Berkenaan dengan hal tersebut diatas, maka hukum adalah sebuah sistem norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das solen, dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus dilakukan. Norma-norma adalah produk dari aksi manusia yang deliberatif, yang membedakan antara apa yang ada (das sein)
dan apa yang “seharusnya”, juga keyakinan Hume bahwa ada ketidakmungkinan pemunculan kesimpulan dari kejadian faktual bagi das
solen. Sehingga, Kelsen percaya bahwa hukum, yang merupakan
pernyataan-pernyataan “seharusnya” tidak bisa direduksi ke dalam aksi-aksi alamiah.Sehingga untuk mengukur tindakan-tindakan dan kejadian yang bertujuan untuk menciptakan sebuah norma legal dengan menilai sebuah aturan “seharusnya” dengan memprediksinya terlebih dahulu. Saat “seharusnya” tidak bisa diturunkan dari “kenyataan”, dan selama peraturan legal intinya merupakan pernyataan “seharusnya”, di sana harus ada
presupposition yang merupakan pengandaian.
Bahwa suatu norma dibuat menurut norma yang lebih tinggi, dan norma yang lebih tinggi ini pun, dibuat menurut norma yang lebih tinggi lagi, dan demikian seterusnya sampai kita berhenti pada norma yang tertinggi yang tidak dibuat oleh norma lagi, melainkan ditetapkan terlebih dahulu keberadaannya oleh masyarakat atau rakyat. Hans Kelsen menamakan norma tertinggi tersebut sebagai Grundnorm atau Basic Norm (Norma Dasar), dan Grund Norm pada dasarnya tidak berubah-rubah.
Grundnorm disebut juga sebagai “cita hukum”, seperti cita hukum bangsa
Indonesia yaitu, Pancasila yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk mengatakan bahwa hukum sebagai suatu sistem norma, maka Hans Kelsen menghendaki agar obyek hukum bersifat empiris dan dapat ditelaah secara logis, sedangkan sumber yang mengandung penilaian etis
diletakkan di luar kajian hukum atau bersifat tanceden terhadap hukum positif, dan oleh karenanya kajiannnya bersifat meta-yuridis.
Dengan adanya Grundnorm atau Basic Norm ini, maka beliau mengatakan bahwa Basic Norm`s as the source of validity and as the source
of unity of legal system. Melalui Grundnorm inilah semua peraturan hukum
itu disusun dalam satu kesatuan secara hirarkhis, dan dengan demikian iajuga merupakan suatu sistem. Grundnorm merupakan sumber nilai bagi adanya sistem hukum, sehingga ia merupakan “bensin” yang menggerakkan seluruh sistem hukum. Di samping itu Grundnorm, menyebabkan terjadinya keterhubungan internal dari adanya sistem.
Hukum positip hanyalah perwujudan dari adanya norma-norma dan dalam rangka untuk menyampaikan norma-norma hukum. Dimana beliau mengatakan...every law is norm.... Perwujudan norma nampak sebagai suatu bangunan atau susunan yang berjenjang mulai dari norma positip tertinggi hingga perwujudan yang paling rendah yang disebut sebagai individual norm. Teori Hans Kelsen ini, membentuk bangunan berjenjang tersebut disebut juga stufen theory. Norma-norma yang terkandung dalam hukum positif harus dapat ditelusuri kembali sampai pada norma yang paling dasar yaitu Grundnorm. Oleh karena itu, dalam tata susunan norma hukum tidak dibenarkan adanya kontradiksi antara norma hukum yang lebih rendah dengan norma hukum yang lebih tinggi, agar keberadaan hukum sebagai suatu sistem tetap dapat dipertahankan, maka ia harus mampu mewujudkan
tingkat kegunaan (efficaces) secara minimum Efficacy suatu norma ini dapat terwujud apabila;
1. Ketaatan warga dipandang sebagai suatu kewajiban yang dipaksakan oleh norma
2. Perlu adanya persyaratan berupa sanksi yang diberikan oleh norma. Sebagai oposisi dari norma moral yang merupakan deduksi dari norma moral lain dengan silogisme, norma hukum selalu diciptakan melalui kehendak (act of will). Sebagaimana sebuah tindakan hanya dapat menciptakan hukum, bagaimana pun, harus sesuai dengan norma hukum lain yang lebih tinggi dan memberikan otorisasi atas hukum baru tersebut. Kelsen berpendapat bahwa inilah yang dimaksud sebagai Basic
Norm yang merupakan presupposition dari sebuah validitas hukum
tertinggi.
Kesesuaian atau ketidak kesesuaian antara keputusan pengadilan dengan norma umum dan antara undang-undang dengan konstitusi serta jaminan konstitusi yang berkekuatan hukum (res judicata).
Norma yang lebih tinggi, undang-undang, atau norma hukum kebiasaan, sekurang-kurangnya menetapkan pembentukan dan isi dari norma keputusan pengadilan, yang kedudukannya lebih rendah. Norma yang lebih rendah, bersama-sama dengan norma yang lebih tinggi, termasuk ke dalam tata hukum yang sama jika norma yang lebih rendah bersesuaian dengan norma yang lebih tinggi, maka dibutuhkan satu pengadilan tingkat terakhir, yang diberi hak untuk memberikan keputusan akhir tentang perkara
tersebut, yakni suatu otorita yang keputusannya tidak dapat dibatalkan atau diubah lagi18. Dengan keputusan tertinggi ini, maka perkara menjadi res
judicata (berkekuatan hukum) dan konstitusi menghendaki undang-undang
sebagai valid hanya selama undang-undang itu belum dibatalkan oleh organ yang berkompeten atau menurut cara yang biasa19
Teori dasar pemungutan pajak yang menjelaskan atau memberikan justifikasi pemberian hak kepada negara untuk memungut pajak antara lain sebagai berikut20:
1. Teori Asuransi, yaitu negara melindungi keselamatan jiwa, harta benda, dan hak-hak rakyatnya. Oleh karena itu rakyat harus membayar pajak yang diibaratkan sebagai suatu premi asuransi karena memperoleh jaminan tersebut.
2. Teori Kepentingan, yaitu pembagian beban pajak kepada rakyat didasarkan pada kepentingan (misalnya perlindungan) masing-masing orang. Semakin besar kepentingan seseorang terhadap negara, makin tinggi pajak yang harus dibayar.
3. Teori Daya Pikul, yaitu Beban Pajak Untuk semua orang harus sama beratnya, artinya pajak harus dibayar sesuai dengan daya pikul masing-masing orang. Untuk mengukur daya pikul digunakan 2 pendekatan yaitu:
18
Suhendar Abas, 2011, Stufenbau Teori Hans Kelsen Dan Tinjauan Terhadap Tata
Urutan Perundang-Undang Di Indonesia, www.suhendar.blogspot.com, diunduh 13 September
2013. 19
Jimly Asshidiqie, 2006, Teori Kelsen Tentang Hukum, Sekretariat Jendral dan
kepaniteraan MKRI, Jakarta, h. 111.
20
a. Unsur Objektif, dengan melihat besarnya penghasilan atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.
b. Unsur Subjektif, dengan memperhatikan kebutuhan materiil yang harus dipenuhi.
4. Teori Bakti, yaitu dasar keadilan pemungutan pajak terletak pada hubungan rakyat dengan negaranya. Sebagai warga negara yang berbakti, rakyat harus selalu menyadari bahwa pembayaran pajak adalah suatu kewajiban.
1.8 Metode Penelitian
Metode penelitian hukum adalah sebagai cara kerja keilmuan yang salah satunya ditandai dengan penggunaan metode (Inggris, method, Latin,
methodis, Yunani, methodos,meta berarti di atas, sedangkan thodos berarti
suatu jalan, suatu cara). Pengertian metode secara harfiah, mula-mula metode diartikan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh menjadi penyelidikan atau penelitian berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Karena metode penelitian merupakan suatu hal yang penting dan mutlak, maka dalam penelitian ini obyek masalah yang akan dibahas dalam tesis ini adalah :
1.8.1 Jenis Penelitian
Penelitian dalam rangka penulisan ini, merupakan penelitian hukum normatif, yaitu sumber prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan
kebenaran berdasarkan logika keilmuan dari sisi normatif21. Dimana penelitian ini mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, konvensi internasional, perjanjian internasional dan putusan-putusan Pengadilan.22 Penelitian ini dilakukan terhadap berlakunya asas – asas hukum berkaitan dengan kedudukan hukum perusahaan dengan bentuk usaha tetap (permanent establishment) dalam dimensi hukum penanaman modal di Indonesia.
1.8.2 Jenis Pendekatan
Ada beberapa pendekatan dalam penelitian hukum normatif, yaaitu pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep, pendekatan analitis, pendekatan perbandingan, pendekatan historis, pendekatan filsafat dan pendekatan kasus23.Jenis pendekatan pada penelitian ini adalah dengan cara pendekatan perundang-undangan (the statute approach) atau menggunakan bahan hukum primer serta menggunakan pendekatan analisis konsep hukum (analitical & conceptual approach) dengan mengutip pandangan-pandangan atau pendapat para ahli yang terdapat pada buku-buku atau literatur yang relevan dengan permasalahan yang diteliti atau bahan hukum sekunder.
Sehingga tidak hanya sebatas mempelajari ketentuan-ketentuan dalam peraturan hukum, tetapi juga menggunakan substansi yang bersumber dari literatur dalam rangka menganalisis bahan hukum yang disajikan
21
Jhony Ibrahim, 2006, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Publishing, Malang, h.26.Asshidiqie, Jimly, 2006, Teori Kelsen Tentang Hukum, Sekretariat
Jendral dan kepaniteraan MKRI, Jakarta, h. 111.
22
Sunaryati Hartono, 2004, Penelitian Hukum di Indonesia pada Akhir abad ke-20, PT.Alumni, Bandung, h. 143.
23
sebagai suatu pembahasan. Cara yang dilakukan ialah dengan menginventarisasikan, mengkaji asas-asas hukum, kaidah hukum positif yang terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan dan di Indonesia Peraturan Pemerintah tentang perusahaan dengan bentuk usaha tetap dalam dimensi hukum penanaman modal di Indonesia.
1.8.3 Sumber Bahan Hukum
Pada penelitian hukum normatif, bahan hukum mencakup; pertama, bahan hukum primer yaitu bahan pustaka yang beisikan pengetahuan bahan ilmiah baru dan mutakhir ataupun pengertian baru tentang fakta-fakta yang diketahui mengenai suatu gagasan atau ide, serta bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.
Bahan hukum sekunder yakni hasil-hasil penelitian dan buku-buku yang relevan dengan masalah yang diteliti, dan bahan hukum tertier yaitu kamus Bahasa Indonesia dan kamus hukum.Bahan-bahan juga diperoleh melalui pencarian elektronik (electronic research) yakni dengan jalan mendownload website tertentu24. Keunggulan dalam pemakaian internet antara lain: efisien, tanpa batas (without bondary), terbuka selama 24 jam (24 hours online), interaktif dan terjalin dalam sekejap (hyperlink).
1.8.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Pengumpulan bahan-bahan hukum diawali dengan kegiatan inventarisasi bahan hukum dengan pengkoleksian dan pengorganisasian bahan ke dalam suatu sistem informasi, sehingga memudahkan penelusuran
24
bahan hukum tersebut. Bahan-bahan hukum dikumpulkan dengan studi dokumentasi, yakni dengan melakukan pencatatan terhadap sumber-sumber bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder. Selanjutnya dilakukan inventarisasi bahan-bahan hukum yang relevan dengan sistem pencatatan dan pengutipan dengan menggunakan sistem kartu. Masing-masing kartu diberikan identitas sumber bahan hukum yang dikutip dan halaman dari sumber kutipan. Disamping itu diklasifikasikan menurut sistematika rencana tesis, kecuali untuk bagian penutup. Kemudian dilakukan kualifikasi fakta dan hukum.
1.8.5 Teknik Analisis Bahan Hukum
Pengolahan bahan hukum dilakukan dengan analisis kualitatif dan komprehensif.Analisis kualitatif artinya menguraikan bahan hukum secara bermutu dengan bentuk kalimat yang teratur, runtun, logis, dan tidak tumpang tindih serta efektif sehingga memudahkan dalam pemahaman hasil analisa. Komprehensif artinya analisa dilakukan secara mendalam dan dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian. Analisis bahan hukum dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik deskriptif, kontruksi hukum dan argumentasi, yang selanjutnya dilakukan penilaian berdasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran hukum, yakni dengan mengemukakan asas dan doktrin yang ada terkait dengan permasalahan.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERUSAHAAN DENGAN BENTUK USAHA TETAP DALAM PENANAMAN MODAL
2.1 Tinjauan Umum Tentang Pajak Penghasilan
Pembangunan nasional merupakan kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan guna meningkatkan kesejahteraan sehingga untuk dapat mewujudkan kemandirian suatu bangsa atau negara dalam pembiayaan pembangunan yakni berasal dari dalam negeri berupa pajak.Untuk itu dalam rangka meningkatkan penerimaan negara pemerintah perlu mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan domestik berupa pajak.Pajak digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna bagi kepentingan bersama. Seiring dengan perkembangan perkonomian Indonesia telah diikuti juga dengan kebijakan-kebijakan di bidang pajak. Begitu pula dengan pencanangan perdagangan bebas (free trade) membawa konsekuensi dalam kebijakan perpajakan. Karena itulah pajak selalu berkembang di masyarakat. Sebagai salah satu alat pendukung yang menunjang agar tercapai keberhasilan ekonomi dalam meraih peluang hukum.
Salah satu bagian yang disoroti adalah hukum pajak. Hukum pajak yaitu keseluruhan dari peraturan-peraturan yang meliputi kewenangan pemerintah untuk memungut pajak. Kewenangan pemungutan pajak berada pada pemerintah. Keseluruhan peraturan-peraturan yang meliputi
kewenangan pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkan kembali kepada masyarakat melalui kas negara termasuk dalam ruang lingkup pengertian hukum pajak.25 Sebagai negara hukum segala sesuatu harus ditetapkan dalam undang-undang. Pemungutan pajak di Indonesia diatur dalam Pasal 23A Amandemen Undang-Undang Dasar 1945, bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur undang-undang. Apabila membahas pengertian pajak, banyak para ahli memberikan batasan tentang pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Rachmat. Soemitro, SH, menyatakan26 :
"Pajak adalah iuran pajak kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipisahkan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditujukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum."
Ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, adalah :
1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya yang sifatnya dapat dipaksakan.
2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
3. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah.
25
Anastasia Diana dan Lilis Setiawati, 2004, Perpajakan Indonesia, Penerbit Andi, Yogyakarta, h. 3-4.
26
Rochmat Soemitro dan Dewi Kania Sugiharti, 2004, Asas Dan Dasar Perpajakan 1, Refika Aditama, Bandung, h. 5-6.
4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.
5. Pajak dapat pula mempunyai tujuan selain penerimaan, yaitu mengatur. Dari ciri di atas dapat terlihat adanya dua (2) fungsi pajak, yaitu :27
1. Fungsi Penerimaan (budgeter)
Pajak sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah.
2. Fungsi Mengatur (reguler)
Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi.
Untuk mencapai tujuan pemungutan pajak perlu memegang teguh asas-asas pemungutan dalam memilih altematif pemungutannya. Sehingga terdapat keserasian pemungutan pajak dengan tujuan dan asas yang masih diperlukan lagi yaitu pemahaman atas perlakuan pajak tertentu. Asas-asas pemungutan pajak sebagaimana dikemukakan oleh Adam Smith dalam buku
An Inquiry into The Nations and Cause of The Wealth of Nations
menyatakan bahwa pemungutan pajak hendaknya didasarkan pada :28 1. Equality
Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu pajak dikenakan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay dan sesuai dengan manfaat yang diterima. Adil
27
H. Bohari ,2005, Pengantar Hukum Pajak, Rajawali Pers, Jakarta, h. 8-10 28
dimaksudkan bahwa setiap wajib pajak menyumbangkan uang untuk pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingannya dan manfaat yang diminta.
2. Certainty
Penetapan pajak tidak ditentukan sewenang-wenang. 0leh karena itu wajib pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti besarnya pajak yang terutang, kapan harus dibayar serta batas waktu pembayaran.
3. Convenience
Kapan wajib pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan Wajib Pajak memperoleh penghasilan. Sistem pemungutan ini disebut pay as you earn.
4. Economy
Secara ekonomi bahwa biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi wajib pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul wajib pajak.
Keadilan dalam pemungutan pajak dibedakan dalam : 1. Keadilan Horisontal
Pemungutan pajak adil secara horisontal apabila beban pajaknya sama atas semua wajib pajak yang memperoleh penghasilan yang sama dengan jumlah tanggungan yang sama, tanpa membedakan jenis penghasilan atau sumber penghasilan.
2. Keadilan Vertikal
Keadilan dapat dirumuskan (horisontal dan vertikal) bahwa pemungutan pajak adil apabila orang dalam kondisi ekonomis yang sama dikenakan pajak yang sama, demikian sebaliknya.
Sejak jaman penjajahan Belanda sampai awal masa Orde Baru, sistem pemajakan di Indonesia didasarkan pada Official Assessment System. Pada masa itu seluruh proses pelaksanaan kewajiban perpajakan mulai dari menentukan siapa yang harus menjadi wajib pajak, menghitung dan menetapkan besarnya pajak terutang, sampai pembayaran dan pelaporan pajak dilakukan oleh fiskus sebagai officer. Wajib pajak hanya diminta memberikan data dan menyerahkan uang untuk disetor oleh fiskus ke kas negara.29 Kemudian mulai tahun 1984, sejalan dengan reformasi total di bidang perpajakan di Indonesia, diberlakukan Self Assessment System, dimana seluruh proses pelaksanaan kewajiban perpajakan mulai dari menetukan siapa menjadi Wajib Pajak, menghitung dan menetapkan besarnya pajak terutang, menyetor pajak terutang ke kas Negara, melaporkan perhitungan dan penyetoran yang dilakukannya, dan mempertanggungjawabkan semua kewajiban itu dipercayakan kepada Wajib Pajak itu sendiri.30
29
Muda Markus dan Lalu Hendry Yujana, 2004, Pajak Penghasilan, PT.Gramedia, Jakarta, hal 231-232
30
Syofrin Syofyan dan Asyhar Hidayat, 2004, Hukum Pajak dan Permasalahannya, Refika Aditama, Bandung, h. 86-88
2.1.1 Definisi Pajak Penghasilandan Perusahaan Dengan Bentuk Usaha tetap
Pajak Penghasilan (PPh) sebelum perubahan perundang-undangan perpajakan tahun 1983 diatur dalam perundang-undangan/ordonansi seperti yang dikenal dengan Pajak Pendapatan orang pribadi yang dipungut berdasarkan Ordonansi Pajak Pendapatan Tahun 1984 dan pajak perseroan yang diatur dalam Ordonansi Pajak Perseroan Tahun 1925 serta pajak atas bunga, dividen dan royalti yang diatur dalam Undang-Undang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalti tahun 1970. Selanjutnya, Sejak tahun 1984 Pajak Penghasilan dipungut berdasarkan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Dalam perkembangannya, Undang-Undang Pajak Penghasilan ini dilakukan perubahan pada tahun 1990, 1994, 2000 dan yang terakhir dilakukan perubahan tahun 2008 dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 yang digunakan sebagai Dasar Hukum Pemungutan Pajak Penghasilan merupakan perpaduan dari beberapa ketentuan yang sebelumnya diatur secara terpisah sebagaimana telah diuraikan di atas. Dalam pemungutan pajak penghasilan digunakan asas-asas :31
31
Waluyo dan Wirawan B. Ilyas, 2003, Perpajakan Indonesia, Salemba Empat, Jakarta, h.17
1. Asas Tempat Tinggal
Negara-negara mempunyai hak untuk memungut atas seluruh penghasilan Wajib Pajak berdasarkan tempat tinggal Wajib Pajak.Wajib Pajak yang bertempat tinggal di Indonesia dikenai pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh yang berasal dari Indonesia atau dari luar negeri (pasal 4 UU Pajak Penghasilan).
2. Asas Kebangsaan
Pengenaan pajak dihubungkan dengan suatu negara. Asas ini diberlakukan kepada setiap orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia untuk membayar pajak.
3. Asas Sumber
Negara mempunyai hak untuk memungut pajak atas penghasilan yang bersumber pada suatu negara yang memungut pajak. Dengan demikian Wajib Pajak menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia dikenakan pajak di Indonesia tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.
Pajak penghasilan dikategorikan sebagai Pajak Pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, sedang ditinjau dari sifatnya dikategorikan sebagai jenis pajak-pajak Subjektif yang kewajiban pajaknya melekat pada Subjek Pajak
yang bersangkutan, artinya kewajiban pajak tersebut dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada Subjek Pajak lainnya.32
Subjek pajak diartikan sebagai orang yang dituju oleh undang-undang untuk dikenakan pajak. Pajak Penghasilan yang dikenakan terhadap Subjek Pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam Tahun Pajak. Subjek Pajak Penghasilan terdiri dari :
1. Orang Pribadi
Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada diIndonesia ataupun di luar Indonesia.
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak. Warisan yang belum terbagi merupakan subjek pajak pengganti menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris.Apabila warisan tersebut telah dibagi, maka kewajiban perpajakannya beralih kepada ahli waris. 3. Badan
Pengertian Badan mengacu pada Undang-Undang KUP. Bahwa badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan badan lainnya.
32
Supramono dan Theresia Woro Damayanti, 2004, Perpajakan Indonesia, Penerbit Andi, Yogyakarta, h. 45
4. Bentuk Usaha Tetap
Bentuk Usaha Tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih 183 hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Bentuk Usaha Tetap ditentukan sebagai Subjek Pajak tersendiri terpisah dari badan. Perlakuan perpajakannya sama dengan Subjek Pajak badan. Berdasarkan lokasi atau kedudukannya Subjek Pajak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Subjek Pajak Dalam Negeri
a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
b. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.
c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yangberhak.
2. Subjek Pajak Luar Negeri
a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau beradaIndonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
b. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
Yang tidak termasuk subjek pajak penghasilan adalah : 1. Badan perwakilan negara asing.
2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain diluar jabatan atau pekerjaannya tersebut, serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.
3. Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota.
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia dan
tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
Yang menjadi objek pajak penghasilan adalah penghasilan. Definisi Penghasilan menurut Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan adalah :
“Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Paiak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.”
Dalam Pasal 5 OECD Model (2003) bentuk usaha tetap atau Permanent Establishment (selanjutnya disebut PE dalam tulisan ini) dalam ayat 1 dikatakan : For the purposes of this Convention, the term
“permanent establishment” means a fixed place of business through which the business of an enterprise is wholly or partly carried on. Ayat 2
dikatakan : The term “permanent establishment” includes especially: a) a
place of management; b) a branch; c) an office; d) a factory; e) a workshop, and f) a mine, an oil or gas well, a quarry or any other place of extraction of natural resources. Ayat 3 dikatakan : A building site or construction or installation project constitutes a permanent establishment only if it lasts more than twelve months.
Sejalan dengan pengertian tersebut, berdasarkan penjelasan Pasal 2 ayat 5 UU No 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan dijelaskan bahwa Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin, peralatan, gudang dan komputer atau agen
elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi (nature person) yang tidak bertempat tinggal atau badan (legal person) yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.33
Pengertian perusahaan dengan bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas, asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri. Dalam tax treaty model OECD, pengecualian perusahaan dengan bentuk usaha tetap yaitu sebagai berikut :
1. Apabila perusahaan suatu negara dari suatu negara treaty partner menjalankan kegiatan-kegiatan yang terbatas di Indonesia yang
33
Tony Marsyahrul,2005, Pajak Penghasilan Potongan Dan Pungutan, Grasindo, Jakarta, h, 43-45
cakupan kegiatan-kegiatannya adalah sebagai berikut : 1). Penggunaan fasilitas-fasilitas semata-mata dimaksudkan untuk menyimpan, memamerkan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan. 2). Pengurusan persediaan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan semata-mata dimaksudkan untuk disimpan, dipamerkan atau diolah lebih lanjut oleh perusahaan lain. 3). Pengurusan tempat usaha tetap semata-mata dimaksudkan untuk pembelian barang-barang atau barang dagangan, mengumpulkan informasi bagi keperluan perusahaan, untuk tujuan perikalanan, memberikan informasi atau untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang bersifat persiapan ataupun penunjang bagi perusahaan.
2. Apabila perusahaan tersebut menjalankan melalui agen yang bertindak bebas tanpa adanya instruksi dari perusahaan di luar negeri semisal makelar, komisioner umum.
3. Apabila suatu perusahaan yang berkedudukan di suatu negara treaty
partner yang menguasai atau dikuasai oleh perusahaan lain yang berkedudukan di negara treaty partner lainnya atau menjalankan usaha di negara treaty lainnya.
Sedangkan, untuk penghasilan yang diperoleh penduduk dari suatu Negara Pihak pada persetujuan sehubungan dengan jasa-jasa profesional atau pekerjaan bebas lainnya hanya akan dikenakan pajak di Negara itu kecuali dalam hal dibawah ini, dimana penghasilan itu dapat juga dikenai pajak di Negara pada persetujuan lainnya :
1. Jika mempunyai suatu tempat tertentu yang tersedia secara teratur dipergunakan untuk menjalankan pekerjaan di negara pihak lainnya pada Persetujuan itu, penghasilan tersebut dapat dikenakan pajak di negara pihak lainnya itu tetapi hanya bagian penghasilan yang dianggap berasal dari tempat tertentu itu; atau
2. Jika tinggal di negara pihak lainnya itu selama suatu masa atau masa masa yang tidak melebihi 183 hari dalam masa 12 bulan yang mulai atau berakhir pada satu tahun pajak, dalam hal ini hanya penghasilan yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di negara lain itulah yang akan dikenakan pajak di negara pihak lainnya itu.
Dengan demikian suatu usaha yang dilakukan oleh penduduk asing di negara Indonesia harus ditentukan saat kapan mereka menjadi perusahaan dengan bentuk usaha tetap atau tempat usaha tetap.
Kewajiban pajak subjektif dimulai pada saat orang pribadi atau badan menjalankan usaha atau kegiatan melalui suatu perusahaan dengan bentuk usaha tetap. Berakhir pada saat orang pribadi atau badan tidak lagi menjalankan usaha atau kegiatan melalui suatu perusahaan dengan bentuk usaha tetap (Pasal 2A ayat (3) UU PPh).
2.3. Tinjauan Umum Tentang Bentuk Badan Usaha
Bentuk-bentuk badan usaha yang umunya digunakan di Indonesia yakni perusahaan perorangan, firma, persekutuan komanditer dan perusahaan terbatas.Istilah perusahaan untuk pertama kalinya terdapat di
dalam Pasal 6 KUH Dagang yang mengatur mengenai penyelenggaraan pencatatan yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang menjalankan perusahaan. Meskipun demikian, KUH Dagang tidak memuat penafsiran
otentik mengenai arti perusahaan.Mengenai definisi perusahaan dapat
ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar. Menurut Molengraaff, perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus menerus, bertindak ke luar untuk memperoleh penghasilan, dengan cara memperdagangkan atau menyerahkan barang atau mengadakan perjanjian perdagangan. Rumusan yang dikemukakan oleh Molengraaff tersebut hanya meliputi jenis usaha dan tidak meliputi perusahaan sebagai badan usaha.
Sedangkan menurut Polak, suatu usaha untuk dapat dimasukkan dalam pengertian perusahaan harus mengadakan pembukuan, yaitu perhitungan mengenai laba dan rugi. Menurut ketentuan Pasal 1 huruf b UU
Wajib Daftar Perusahaan, yang dimaksud dengan perusahaan adalah setiap
bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan.dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Badan usaha. Perusahaan memiliki bentuk tertentu, baik yang berupa
badan hukum maupun yang bukan badan hukum. Contohnya Perusahaan Dagang (perusahaan perorangan), Firma, Persekutuan
Komanditer, Perseroan Terbatas, Perusahaan Umum, Perusahaan Perseroan dan Koperasi.
2. Kegiatan dalam bidang perekonomian, meliputi bidang perindustrian,
perdagangan, perjasaan, dan pembiayaan.
3. Terus-menerus. Artinya adalah kegiatan usaha dilakukan sebagai mata
pencarian, tidak insidental dan bukan pekerjaan sambilan.
4. Bersifat tetap. Maksudnya ialah kegiatan usaha yang dilaksanakan tidak berubah atau berganti dalam waktu singkat, tetapi untuk jangka waktu yang lama.
5. Terang-terangan, berarti kegiatan usaha ditujukan kepada dan diketahui oleh umum, bebas berhubungan dengan pihak lain, diakui dan dibenarkan oleh pemerintah berdasarkan undang-undang.
6. Keuntungan dan atau laba, berarti tujuan dari perusahaan adalah untuk
memperoleh keuntungan dan atau laba.
7. Pembukuan, dimana perusahaan wajib untuk menyelenggarakan
pencatatan mengenai kewajiban dan hak yang berkaitan dengan kegiatan usahanya.
Perusahaan perorangan (UD) dimiliki, dikelola dan dipimpin oleh seseorang yang bertanggung jawab penuh terhadap semua resiko dan aktivitas perusahaan.Tidak ada pemisahan modal antara kekayaan pribadi dan kekayaan perusahaan. Sehingga memiliki kelebihan yakni pemilik bebas mengambil keputusan, seluruh keuntungan perusahaan menjadi hak pemilik perusahaan, rahasia perusahaan terjamin. Sedangkan keburukannya
antara lain tanggungjawab pemilik tidak terbatas, sumber keuangan perusahaan terbatas, kelangsungan hidup perusahaan kurang terjamin, dan seluruh aktivitas manajemen dilakukan sendiri, sehingga pengelolaan manajemen menjadi kompleks
Firma (Fa) merupakan persekutuan antara dua orang atau lebih dengan bersama untuk melaksanakan usaha, umumnya dibentuk oleh orang-orang yang memiliki Keahlian sama atau seprofesi dengan tanggungjawab masing-masing anggota tidak terbatas, laba ataupun kerugian akan ditanggung bersama. Kebaikan dari firma kemampuan manajemen lebih besar, karena ada pembagian kerja diantara para anggota, pendiriannya relatif mudah baik dengan Akta atau tidak memerlukan Akta Pendirian dan kebutuhan modal lebih mudah terpenuhi.Sedangkan keburukannya tanggungjawab pemilik tidak terbatas dan kerugian yang disebabkan oleh seorang anggota, harus ditangung bersama anggota lainnya.
Bentuk Badan Usaha CV adalah bentuk perusahaan kedua setelah PT yang paling banyak digunakan para pelaku bisnis untuk menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Namun tidak semua bidang usaha dapat dijalankan Perseroan Komanditer (CV), hal ini mengingat adanya beberapa bidang usaha tertentu yang diatur secara khusus dan hanya dapat dilakukan oleh badan usaha Perseroan Terbatas (PT). Perseroan Komanditer adalah bentuk perjanjian kerjasama berusaha bersama antara 2 (dua) orang atau lebih, dengan akta otentik sebagai akta pendirian yang dibuat dihadapan notaris yang berwenang. Para pendiri perseroan komanditer terdiri dari