• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eksistensi Perusahaan Dengan Bentuk Usaha Tetap Dalam Penanaman Modal

PENANAMAN MODAL

3.3 Eksistensi Perusahaan Dengan Bentuk Usaha Tetap Dalam Penanaman Modal

Perusahaan dengan bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak luar negeri yang kewajiban perpajakannya diperlakukan relatif sama dengan wajib pajak badan dalam negeri lainnya (baik formal maupun material). Perbedaan mendasar dibandingkan dengan wajib pajak dalam negeri adalah perusahaan dengan bentuk usaha tetap tidak dapat menikmati tax

       67

treaty antara Indonesia dengan negara treaty partner lainnya karena bukan

penduduk Indonesia dan atas laba bersih setelah pajak yang diterima atau diperoleh perusahaan dengan bentuk usaha tetap dikenakan branch profit

tax.

Efek globalisasi yang diwarnai dengan tumbuhnya kawasan bebas perdagangan, jasa dan modal maka transaksi internasional di dalam negeri pun bertumbuh dengan pesatnya sehingga tak dapat dipungkiri dan dibendung dengan masuknya banyak penanaman modal asing baik dalam bentuk portfolio investment dan foreign direct investment yang berimplikasi luas bagi suatu negara termasuk Indonesia.

Dalam melakukan penanaman modal, penanam modal asing dapat melakukannya dalam bentuk joint venture (penanaman modal dalam bentuk pembiayaan) yang pada umumnya perusahaan berbentuk penanaman modal asing dan berbadan hukum Indonesia sehingga merupakan wajib pajak dalam negeri (resident taxpayer). Disamping itu perusahaan asing dapat menjalankan usaha di Indonesia melalui perusahaan dengan bentuk usaha tetap dimana bukan merupakan badan hukum Indonesia yang artinya perusahaan dengan bentuk usaha tetap adalah bukan wajib pajak dalam negeri.

Sesuai dengan penjelasan Pasal 2 ayat 5 UU No 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan dijelaskan bahwa suatu perusahaan dengan bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung

termasuk juga mesin-mesin, peralatan, gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi (nature person) yang tidak bertempat tinggal atau badan (legal person) yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.

Pengertian perusahaan dengan bentuk usaha tetap mencakup pula orang pribadi atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia tidak dapat dianggap mempunyai perusahaan dengan bentuk usaha tetap di Indonesia apabila orang pribadi atau badan dalam menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia menggunakan agen, broker atau perantara yang mempunyai kedudukan bebas, asalkan agen atau perantara tersebut dalam kenyataannya bertindak sepenuhnya dalam rangka menjalankan perusahaannya sendiri.

Dengan adanya perusahaan dengan bentuk usaha tetap di Indonesia yang mana merupakan penanaman modal asing, untuk itu sudah semestinya pemerintah wajib memberikan perlindungan hukum terhadap penanam modal termasuk melindungi kepentingan dan hak-hak investor di dalam

menanamkan modalnya di Indonesia agar apa yang menjadi hak-hak mereka didapat sesuai dengan yang diamatkan oleh Undang-Undang Penanaman Modal. Sehingga hukum penanaman modal dapat mengakomodasi kepentingan-kepentingan modal asing dan sekaligus dapat pula melindungi pengusaha-pengusaha lokal atau usaha kecil. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka penanaman modalakan sangat dipengaruhi stabilitas politik. Penanam modal yang datang ke suatu negara sangat dipengaruhi faktor

political stability. Terjadinya konflik elit politik atau konflik masyarakat

akan berpengaruh terhadap iklim penanaman modal. Penanam modal asing akan datang dan mengembangkan usahanya jika negara yang bersangkutan terbangun proses stabilitas politik dan proses demokrasi yang konstitusional. Kebutuhan fungsi hukum penanaman modal untuk dapat meramalkan (predictability), adalah mensyaratkan bahwa hukum tersebut mendatangkan kepastian. Penanam modal asing akan datang ke suatu negara bila yakin hukum akan melindungi penanaman modal yang dilakukan. Kepastian hukum akan memberikan jaminan kepada penanam modal, sehingga penanaman modal mampu memberikan keuntungan secara ekonomis bagi penanam modal. Adanya kepastian hukum juga merupakan salah satu faktor utama untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi penanam modal, karena dalam melakukan penanaman modal selain tunduk kepada ketentuan hukum penanaman modal, juga ketentuan lain yang terkait dan tidak bisa dilepaskan sebagai pertimbangan bagi penanam modal untuk menanamkan modalnya. Dengan banyaknya peraturan-peraturan yang mengatur

penanaman modal dan yang terkait dengan penanaman modal menimbulkan kekaburan atau ketidakpastian mana hukum yang berlaku. Apabila dikaitkan dengan keberadaan hukum dengan masyarakat, maka perlunya wibawa hukum agar dapat ditaati dan sebagai pegangan dalam menjalankan relasi satu dengan yang lain terlebih lagi dalam lalu lintas bisnis diperlukan adanya kepastian hukum yang berlaku. Bagi para penanam modal butuh ada satu ukuran yang menjadi pegangan dalam melakukan kegiatan penanaman modalnya. Ukuran inilah yang disebut aturan yang dibuat oleh yang mempunyai otoritas untuk itu.Aturan tersebut berlaku untuk semua pihak. Adanya aspek keadilan (fairness), seperti perlakuan yang sama bagi semua orang atau pihak di depan hukum, perlakuan yang sama kepada semua orang dan adanya standar pola perilaku pemerintah, oleh banyak ahli ditekankan sebagai syarat untuk berjalannya menjaga mekanisme pasar dan mencegah birokrasi yang berlebihan.68

Dalam memperoleh perlindungan hukum, bagi penanam modal asing yang mejalankan usahanya di Indonesia diharapkan perusahaan yang dibentuk tersebut berbentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di dalam wilayah negara Republik Indonesia yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Penanaman modal. Pasal 5 ayat (2) mewajibkan penanaman modal yang dilakukan oleh penanam modal tersebut berbentuk badan hukum, karena dengan demikian akan mendapat ketegasan status hukumnya, yaitu badan hukum Indonesia

       68

yang tunduk pada hukum Indonesia. Sebagai badan hukum terdapat ketegasan tentang modal yang ditanam oleh penanam modal asing tersebut di Indonesia, dan badan hukum yang diwajibkan disini adalah berupa Perseroan Terbatas (PT).

Berdasarkan penjabaran pengertian diatas mengenai perusahaan dengan bentuk usaha tetap yang merupakan suatu bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi maupun badan usaha yang tidak didirikan di Indonesia untuk menjalankan usahanya di Indonesia ini memiliki perbedaan dengan konsep bentuk usaha yang diperkenankan menurut Undang-undang Penanaman Modal, sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (2) UU Penanaman Modal. Untuk badan usaha yang berstatus penanaman modal dalam negeri bentuk usahanya tidak harus dalam bentuk badan hukum, lain halnya dengan penanaman modal asing, pembentuk undang-undang mensyaratkan badan usahanya berbentuk hukum Perseroan Terbatas.

Dari segi perlindungan penanam modal dalam rangka kepastian hukum yang dianut oleh UU Penanaman Modal dan sebagaimana dikemukakan oleh Gustav Radbruch, perusahaan dengan bentuk usaha tetap yang dilakukan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia ini tidak mendapatkan perlindungan hukum, karena penanaman modal yang dilakukan tidak dengan badan usaha yang berbentuk PT.

Kekosongan norma terjadi dalam undang-undang Penanaman Modal, karena di dalam undang-undang tersebut tidak ada satupun menyebutkan mengenai perusahaan dengan bentuk usaha tetap dan perusahaan dengan

bentuk usaha tetap hanya ada disebutkan dalam undang-undang Pajak Penghasilan dimana perusahaan dengan bentuk usaha tetap merupakan subyek pajak luar negeri. Maka payung hukum dari perusahaan dengan bentuk usaha tetap hanya dari undang-undang Pajak Penghasilan saja.

BAB IV

AKIBAT HUKUM PERUSAHAAN BENTUK USAHA TETAP DALAM