PERSPEKTIF AL-QUR’AN
A. Bentuk-bentuk Pengungkapan Pendidikan Karakter
Ayat-ayat tentang pendidikan karakter sebagai yang telah disebutkan sebelumnya berdasarkan klasifikasinya, terklasifikasi atas dua kelompok yakni Makkiah dan Madaniah.
1. Ayat-ayat Makkiah
Makkiah adalah ayat atau surah al-Qur’an yang diturunkan sebelum Nabi saw hijrah, sekalipun turunnya di luar wilayah Mekkah.1 Ciri-ciri ayat-ayat
Makkiah antara lain adalah; (1) dimulai dengan kalimat
…سﺎـﻨﻟا ﺎـﻬﻳﺄﻳ
atauﲎﺑﺎـﻳ
مدآ
…
; (2) ayat-ayatnya pendek; (3) kebanyakan mengandung masalah tauhid, azab dan nikmat di hari kemudian serta urusan-urusan kebaikan; (4) terdapat kataﻼـﻛ
; (5) diawali dengan huruf-huruf “،ق،ن
“ﺮـﳌأ
; kecuali surah al-Baqarah dan Ali Imran; (6) terdapat ayat-ayat sajadah; (7) terdapat kisah-kisah nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali dalam surah al-Baqarah dan Ali Imran.2Berdasar dari ketentuan di atas dan sesuai dengan hasil penelusuran penulis dalam kitab-kitab tafsir muktabarah maka ayat-ayat Makkiah tentang pendidikan karakter sebagai yang telah dikutip adalah QS. Syu’arā/26: 127, QS.
al-1Mannā’ al-Qattān, Mabāhiś fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Mesir: Dār Mansyūrat al- Hadīś, 2003), h. 149.
2Mannā’ al-Qattān, Mabāhiś fī ‘Ulūm al-Qur’ān, h. 150. M. Hasbi Ash-Siddieqy,
Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Cet.III; Jakarta: Bulan Bintang, 2000), h. 56-57.
Qalam/68: 4, QS. al-Zāriyat/51: 56, QS. al-Najm/53: 32, QS. al-Insān/76: 2 dan QS al-Tarīq/86: 5-7.
Tafsir tematik tentang QS. al-Syu’arā/26:137, yakni
َْﲔِﻟﱠوَﻻْا ُﻖُﻠُﺧ ﱠﻻِإ اَﺬَﻫ ﱠنِإ
Terjemahnya:
(Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang terdahulu.3 Menegaskan bahwa agama ini, Islam sebagai yang dianut nabi-nabi sebelumnya berdasakan pada karakter kebiasaan umat manusia sebagai yang ditafsirkan al-Baidawi bahwa kebiasaan orang-orang terdahulu sebagai karakter
dan karena itulah sebabnya suatu saat ‘Aisyah ditanya bagaimana akhlak Nabi
saw, dijawabnya bahwa akhlak Nabi saw adalah al-Qur’an.4 Kaitannya dengan
Qalam/68: 4 ditegaskan bahwa Nabi Muhammad saw memiliki karakter yang agung dari perbuatan, etika dan segala perilakunya terutama dalam hal penghambaannya dalam bentuk ibadah.
Selanjutnya dalam QS. al-Zāriyat/51: 56 ditegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan adalah beribadah dan untuk tujuan itu maka diperlukan adanya pendidikan karakter. Sedangkan QS. al-Najm/53: 32 adalah tentang pentingnya menumbuhkan karakter baik dalam setiap diri seseorang dengan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar, perbuatan keji dan berbagai kesalahan. Selanjutnya, QS.
al-Insān/76: 2 adalah pentingnya pendidikan karakter dengan menggunakan potensi
yang ada diri manusia seperti potensi penglihatan dan pendengaran. Khusus QS
3
Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 583.
4Nasr al-Dīn Abū al-Khair ‘Abdullāh bin ‘Umar al-BaiDawi, Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl, h. 77.
al-Tarīq/86: 5-7 adalah tentang pentingnya pendidikan karakter dengan cara instropeksi diri karena setiap manusia sama berasal diciptakan dari proses air yang dengan itu maka perlu pengenalan terhadap diri sendiri.
Ayat-ayat Makkiah tersebut memiliki keterkaitan, yakni munāsabāh ayat dan surah lainnya yang terkait dengan pendidikan karakter, misalnya QS.
al-Zāriyat/51: 56 yang telah dikutip dijelaskan bahwa tujuan manusia diciptakan
adalah menghambakan dirinya pada Allah swt., ber-munāsabah dengan QS.
al-An’ām/6: 162 dan QS. al-Qasas/28: 77 yang telah dikutip sebelumnya karena di
dalamya mengandung interpretasi bahwa tujuan pendidikan karakter secara implisit adalah senantiasa mengabdi kepada Allah swt., dan tidak lepas dari eksistensi manusia untuk meraih kebahagiaan setelah matinya, yakni kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
Demikian halnya QS. al-Najm/53: 32 sebagai upaya untuk menumbuhkan sekaligus pengembangan karakter baik dalam setiap diri seseorang sangat penting dilakukan sesuai yang dijelaskan dalam QS. al-Insān/76: 2. Metodenya, adalah lebih awal mengintsropeksi diri lebih dini sebagai yang ditegaskan dalam QS al-Tarīq/86: 5-7.
Selain ayat-ayat tersebut ditemukan lagi dalil lain, terutama dari hadis-hadis-hadis Nabi saw tentang pentingnya pendidikan karakter bagi setiap orang dalam upaya menemukan jati dirinya. Ayat-ayat maupun hadis yang dijelaskan kemudian mengandung interpretasi esensi pendidikan karakter sesungguhnya fokus tentang tabiat manusia yang kemudian implementasinya dalam bentuk akhlak yang mulia sebagai yang dicontohkan Nabi saw.
2. Ayat-ayat Madaniah
Ayat Madaniah tentang pendidikan karakter antara lain ditemukan dalam QS. al-Mujādalah/58: 11, yakni:
ٌﲑِﺒَﺧ َنﻮُﻠَﻤْﻌَـﺗ ﺎَِﲟ ُﻪﱠﻠﻟاَو ٍتﺎَﺟَرَد َﻢْﻠِﻌْﻟا اﻮُﺗوُأ َﻦﻳِﺬﱠﻟاَو ْﻢُﻜْﻨِﻣ اﻮُﻨَﻣاَء َﻦﻳِﺬﱠﻟا ُﻪﱠﻠﻟا ِﻊَﻓْﺮَـﻳ
Terjemahnya:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.5
Ayat tersebut tergolong madaniah yang diturunkan sesudah Nabi saw hijrah, sekalipun turunnya di luar wilayah Madinah.6 Selain itu, mufasir
sependapat bahwa yang termasuk dalam kategori Madaniah adalah semua ayat yang termaktub dalam QS. al-Baqarah/2, Āli Imrān/3, QS. al-Nisā/4; al-Māidah/5, QS. al-Anfāl/8, QS. al-Taubah/9, QS. al-Rad/13, QS. al-Haj/22, QS. al-Nūr …..7
selain itu, adalah ayat atau surah dalam kategori Makkiah.
QS. al-Mujādalah/58: 11, yang disebutkan di atas memiliki kaitan dengan
QS. Ali Imrān/3: 102, QS. al-Nahl/16: 78 yang tentu saja tetap memiliki
keterkaitan interpretasi dengan surah-surah dan ayat Makkiah, misalnya QS.
al-Zāriyat/51: 56 yang telah dikutip dijelaskan bahwa tujuan manusia diciptakan
adalah menghambakan dirinya pada Allah swt., sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang secara implisit disebutkan dalam QS. An’ām/6: 162 dan QS.
al-5
Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 911.
6Mannā’ al-Qattān, Mabāhiś fī ‘Ulūm al-Qur’ān, h. 152. M. Ali Hasan dan Rifa’at Syauqi Nawawi, Pengangar Ilmu Tafsir (Cet.I; Jakarta: Bulan Bintang, 2008), h. 101.
7Mannā’ al-Qattān, h. 55. Lihat lebih lengkap pernyataan al-Zanjāni bahwa surah Madaniah berjumlah 25, dan surah Makkiah berjumlah 28. Abū Abdullah Al-Zanjāni, Tarīkh al-Qur’ān diterjemahkan oleh Kamaruddin Marzuki Anwar dengan judul Wawasan Baru Tarikh
Qasas/28: 77 yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Demikian halnya QS. al-Mujādalah/58: 11, berkaitan dengan QS. Ali
Imrān/3: 102 yang didalamnya mengandung interpretasi secara eksplisit bahwa
tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah, dan orang yang dalam kategori ini adalah yang memiliki karakter takwa, serta segala aktifitasnya ia selalu berserah diri (muslimūn) kepada Allah swt.
Khusus QS. al-Alaq/96: 1-5, mengandung pesan ontologis tentang teori pendidikan karakter yang dalam hal ini, Nabi saw yang ummi (buta huruf aksara) melalui ayat tersebut, ia diperintahkan untuk belajar membaca, yakni iqra’. Obyeknya bermacam-macam, ada ayat-ayat yang tertulis (ayah al-qur’aniyah), dan ada pula pula ayat-ayat yang tidak tertulis (ayah al-kawniyah), berkaitan dengan QS. al-Nahl/16: 78 yang mengisyaratkan adanya tiga komponen yang terlibat dalam teori pendidikan karakter, yaitu; al-sama, al-bashar dan fu’ad. Secara leksikal, kata al-sama berarti telinga yang fungsinya menangkap suara, memahami pembicaraan, dan selainnya. Penyebutan al-sama dalam al-Qur’an seringkali dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu, yang menunjukkan adanya saling melengkapi antara berbagai alat itu dalam kegiatan pendidikan.
Selanjutnya QS. Luqmān/31, terutama pada ayat 17-19, yakni,
ﱠنِإ َﻚَﺑﺎَﺻَأ ﺎَﻣ ﻰَﻠَﻋ ِْﱪْﺻاَو ِﺮَﻜْﻨُﻤْﻟا ِﻦَﻋ َﻪْﻧاَو ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ ْﺮُﻣْأَو َة َﻼﱠﺼﻟا ِﻢِﻗَأ ﱠَﲏُـﺑﺎَﻳ
)ِرﻮُﻣُْﻷا ِمْﺰَﻋ ْﻦِﻣ َﻚِﻟَذ
17
ِإ ﺎًﺣَﺮَﻣ ِضْرَْﻷا ِﰲ ِﺶَْﲤ َﻻَو ِسﺎﱠﻨﻠِﻟ َكﱠﺪَﺧ ْﺮﱢﻌَﺼُﺗ َﻻَو (
ﱠن
)ٍرﻮُﺨَﻓ ٍلﺎَﺘُْﳐ ﱠﻞُﻛ ﱡﺐُِﳛ َﻻ َﻪﱠﻠﻟا
18
ﱠنِإ َﻚِﺗْﻮَﺻ ْﻦِﻣ ْﺾُﻀْﻏاَو َﻚِﻴْﺸَﻣ ِﰲ ْﺪِﺼْﻗاَو(
)ِﲑِﻤَْﳊا ُتْﻮَﺼَﻟ ِتاَﻮْﺻَْﻷا َﺮَﻜْﻧَأ
19
(
Terjemahnya :Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguh-nya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Ayat tersebut berbicara tentang pendidikan karakter, yang juga sebelumnya yakni ayat 12-16 berbicara tentang pendidikan karakter akidah yang dimulai dengan pengajaran tentang keesaan Allah. Kemudian pada 17 yang dikutip di atas, berkenaan dengan pengajaran pendidikan salat disertai anjuran untuk menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran.
Dengan ayat-ayat tersebut, disimpulkan bahwa usaha yang pertama kali harus dilakukan dan diajarkan kepada peserta didik dalam proses pendidikan setelah masalah aqidah yang meliputi ibadah, adalah masalah akhlak, yakni sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia.
Luqman mengajar anaknya dengan dengan bentuk nasehat, ia berkata, wahai anakku, janganlah engkau berkeras memalingkan pipimu yakni mukamu dari manusia siapun dia, dan bila engkau melangkah janganlah engkau angkuh, tetapi berjalanlah dengan lembut dan penuh wibawa. Bersikap sederhanalah dalam langkahmu, jangan tergesa-gesa. Lunakkanlah suara-mu sehingga tidak terdengar kasar seperti keledai, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai karena awalnya siulan yang tidak menarik dan akhirnya terikan nafas yang buruk.
Dapat dirumuskan bahwa ayat 18 di atas, mengandung nilai-nilai pendidikan dalam aspek akhlak, yakni larangan bersikap sombong karena kesombongan dan keangkuhan adalah salah satu sikap jelek yang dibenci Allah swt. Selanjutnya,
pada ayat 19 adalah perintah untuk bersikap sederhana dalam berbicara dan bertindak, karena kesederhanaan adalah akhlak yang baik dan merupakan salah satu ciri orang yang beriman, sebagaimana Rasulullah saw menjadi teladan utama dan paling mulia akhlaknya.
Demikian halnya QS. al-Nahl/16: 125 yang mengandung perintah untuk belajar sebagai bagian integral dari pendidikan karakter dapat dilihat kembali dalam khitab Allah swt tentang perintah ber-iqra’ dan perintah untuk mengajar dapat pula dilihat kembali QS. al-Nahl/16:78. Sedangkan dalam prakteknya, dapat disimak kembali dalam QS. Luqman/31: 12-19. Pada hakikatnya, ayat-ayat tersebut berkenaan dengan kewajiban belajar dan mengajar melalui proses pendidikan. Dengan demikian, QS. al-Nahl/16: 125 tadi, berkenaan dengan kewajiban atas pendidikan dan metodenya mengajar. Dalam ayat ini, Allah swt menyuruh dalam arti mewajibkan kepada Nabi saw dan ummatnya untuk belajar dan mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang baik (billatiy hiya ahsan). Dari ayat ini, sehingga dapat dikorelasikan dengan ayat-ayat lain yang mengandung interpretasi tentang metode belajar dan mengajar berdasarkan konsep
qur’āni.
Kemudian hadis yang telah dikemukakan, mengandung makna bahwa setiap muslim (laki-laki dan perempuan) diwajibkan menuntut ilmu dengan cara melalui proses pendidikan dan berguru kepada pakarnya, sekiranya ia tidak menempuh jalan itu, maka yang bersangkutan akan terlena dengan perhiasan dunia (misalnya mutiara dan emas) yang berarti bahwa ia tidak akan sampai pada tujuan akhir pendidikan, yaitu menjadi peribadi muslim yang beraklak mulia dapat membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat sekaligus.