• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosesi Pendidikan Karakter dalam al-Qur’an

PERSPEKTIF AL-QUR’AN

B. Prosesi Pendidikan Karakter dalam al-Qur’an

1. Pendidikan Karakter secara Informal

Ayat yang mendasari prosesi pelaksanaan pendidikan karakter secara informal perspektif al-Qur’an adalah QS. al-Tahrim/66: 6,

اًرﺎَﻧ ْﻢُﻜﻴِﻠْﻫَأَو ْﻢُﻜَﺴُﻔْـﻧَأ اﻮُﻗ اﻮُﻨَﻣاَء َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأﺎَﻳ

...

Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api

neraka …8

Ayat tersebut sebagai dalil untuk melaksanakan kegiatan pendidikan karakter setiap pribadi muslim (individual) di lingkungan keluarganya agar mereka terhindar dari api neraka kelak. Pendidikan karakter di lingkungan keluarga ini secara kelembagaan banyak disebutkan dalam hadis sebagai yang dijelaskan kemudian sebagai jalur pendidikan informal dan berlanjut pada jalur pendidikan formal maupun jalur non formal.

Pendidikan informal yang dimaksudkan adalah pendidikan yang dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga di mana orang tua sebagai penanggungjawab. Pendidikan informal ini, tidak mengenal penjenjangan secara struktural.

Pendidikan di lingkungan rumah tangga sebagai wadah pertama tempat anak menerima pesan-pesan pendidikan dari orang tuanya dan anggota keluarga lainnya. Dari lingkungan inilah tempat pranata sosial pertama memiliki arti yang strategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilai karakter yang dibutuhkan.

8

Penerapan karakter yang bermoral atau berakhlak dalam pendidikan informal ini, khususnya masa-masa awal pertumbuhan dan perkembangan seseorang anak maka ibu memegang peranan penting untuk memberikan rasa aman kepada anak. Sehingga kebutuhan anak untuk kasih sayang, perhatian, kehangatan, rasa aman, motivasi serta keberanian untuk melakukan berbagai aktivitas hidup terpenuhi. Anak memiliki kekuatan mental dan kepenuhan afeksi. Inilah fungsi ibu sebagai amīnah sumber rasa aman. Sedangkan ayah diharapkan memiliki sifat abdullāh yang memberikan muatan pada lahan subur jiwa anak yang telah dipersiapkan untuk terus dipupuk.9

Pengalaman hidup bersama dalam rumah tangga yang dialami oleh anak-anak akan memberi andil yang besar untuk membentuk spiritual keagamaan anak-anak. Porsi rumah tangga dalam pendidikan spiritual akan lebih banyak memberikan akumulasi pengalaman dan keteladanan

Relevansinya dengan urgensi penanaman nilai-nilai karakter, maka rumah tangga dalam mendidik anak-anaknya harus dimulai sejak anak dalam kandungan. Kemudian setelah kelahirannya, seorang anak harus diperkenalkan dengan kalimat ketuhanan. Oleh sebab itu, proses edukasi awal sejak kelahiran sang anak menurut Islam adalah melafazkan adzan di telinganya sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. kepada cucunya Hasan bin Ali sebagaimana dalam hadis yakni :

9Muhammad Fauzil Adhim, Mendidik Anak Menuju Taklif (Cet.VII; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h. 14-15.

ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر ُﺖْﻳَأَر َلﺎَﻗ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ ٍﻊِﻓاَر ِﰊَأ ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﻴَـﺒُﻋ ْﻦَﻋ

ﻢﻠﺻ

ِﻦَﺴَْﳊا ِنُذُأ ِﰲ َنﱠذَأ

َﲔ ِﺣ ﱟﻲِﻠَﻋ ِﻦْﺑ

ِة َﻼﱠﺼﻟﺎِﺑ ُﺔَﻤِﻃﺎَﻓ ُﻪْﺗَﺪَﻟَو

10 Artinya:

Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari bapaknya berkata; saya telah melihat

Rasulullah saw. melafazkan adzan salat di telinga Hasan bin Ali ketika ia dilahirkan ibunya Fatimah.

Nasih ‘Ulwan menjelaskan dengan mengutip riwayat lain bahwa azan yang

dimaksud adalah di telinga kanan, kemudian juga meng-iqamat-kan di telinga kiri seorang anak yang baru lahir. Azan dan qamat bagi seorang bayi sebagaimana dalam riwayat tersebut memiliki rahasia tersendiri.11 Dalam hal ini yang pertama

kali diperdengarkan seorang ketika dilahirkan adalah kalimat penggilan yang suci, karena didalamnya mengandung kebesaran Tuhan dan keagungan-Nya, juga sebagai persaksian awal bahwa bayi tersebut telah memeluk Islam.

Memperdengarkan lafaz adzan dan iqamat kepada sang bayi yang baru lahir memiliki dampak positif, karena dalam lafaz adzan tersebut terkandung keagungan Allah di samping mengandung kalimat-kalimat tauhid sebagaimana dalam hadis, juga tentu saja sedikit banyaknya akan berpengaruh positif terhadap

10Abu Dawud Sulaiman Ibn al-Asy’as al-Sijistāniy, Sunan Abu Dawud, juz IV (Beirut: Dar al-Fikr, 2008), h. 328.

11Hadis tentang azan di telingah kanan, dan qamat di telingah kiri bagi seorang anak yang baru lahir, penulis tidak menemukannya dalam rujukan al-kutub al-tis’ah. Namun, hadis yang dimaksud dapat ditulis oleh Nashih ‘Ulwan dengan redaksi sebagai berikut :

ﻲﺒﻨﻟا نأ : ﺎﻤﮭﻨﻋ ﷲ ﻲﺿر سﺎﺒﻋ ﻦﺑإ ﻦﻋ ذأ ﻰﻓ مﺎﻗأو ﺪﻟو مﻮﯾ ﻰﻠﻋ ﻦﺑ ﻦﺴﺤﻟا نذأ ﻰﻓ نذأ ﻢﻠﺻ

ﮫﻧ

يﺮﺴﯿﻟا Artinya :

Dari Ibn Ibn ‘Abbās ra bahwa Nabi saw. mengazankan al-Hasan bin Ali di telingah kanannya di saat kelahirannya, dan meng-qamat-kan di telingi kirinya.

‘Abdullah Nāsih ‘Ulwān, Tarbiyat Awlād fī Islām, jilid I (Cet. I; Mesir: Dār al-Salām li al-Nasyr wa al-Tawzi’, 2003), h. 76.

spiritual si bayi, karena dengan kalimat-kalimat tersebut setan menjauhkan diri darinya. Dari sini dipahami bahwa sejak awal kelahiran seorang bayi sudah harus diberikan nilai-nilai ketuhanan dalam dirinya.

Pada masa bayi pula, anak sudah mampu menerima rangsangan yang bersifat biologis dan psikologis melalui air susu ibunya. Karena demikian halnya, maka dalam fase ini belum dapat diterapkan interaksi edukatif secara langsung (direct), kecuali dengan cara pemberian air susu ibu yang baik sebagaimana dalam QS. al-Baqarah/2: 233, yakni :

ﻰَﻠَﻋَو َﺔَﻋﺎَﺿﱠﺮﻟا ﱠﻢِﺘُﻳ ْنَأ َداَرَأ ْﻦَﻤِﻟ ِْﲔَﻠِﻣﺎَﻛ ِْﲔَﻟْﻮَﺣ ﱠﻦُﻫَد َﻻْوَأ َﻦْﻌِﺿْﺮُـﻳ ُتاَﺪِﻟاَﻮْﻟاَو

ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ ﱠﻦُﻬُـﺗَﻮْﺴِﻛَو ﱠﻦُﻬُـﻗْزِر ُﻪَﻟ ِدﻮُﻟْﻮَﻤْﻟا

Terjemahnya :

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf.12

Air susu ibu memiliki dampak secara langsung dan mendalam terhadap kesehatan jasmani dan rohani anak. Di samping memberikan kepada anak syarat-syarat potensi, kemampuan dan tubuh yang sehat, ia juga memiliki dampak yang dalam terhadap pembentukan karakter anak khususnya pembentukan akhlak mulia.

Kaitannya dengan itu, Husain Mazhariri menyatakan bahwa seorang ibu pendosa, pada saat menyusui bayi atau anaknya, sebenarnya ia memberinya makanan dari air susu yang tercemar oleh kuman-kuman spritual. Jika air susu

12Kementerian Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an, 2012), h. h. 57.

tercemar oleh kuman-kuman material menyebabkan keracunan pada anak, maka air susu yang tercemar oleh kuman-kuman spritual juga menyebabkan keracunan pada anak secara spritual.13 Keracunan spritual pada diri bayi atau anak sangat

berbahaya karena pada gilirannya nanti akan merusak karakternya.

Hal lain yang turut mempengaruhi karakter bayi adalah pemberian nama kepadanya. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan penganutnya agar memberi nama yang paling baik kepada bayi sebagai upaya untuk meletakkan sebuah harapan yang baik pula kepadanya.14 Jadi, fase hari-hari pertama dan

minggu-minggu pertama dari kelahiran bayi, sudah mesti diperkenalkan kalimat tauhid dan memberi nama yang bernuansa Islami. Selanjutnya, memelihara fisik dan fsikisnya dengan cara menyusui sesuai tuntunan syariat, yakni hendaknya sang ibu dalam menyusui bayinya menghindarkan diri dari perilaku yang buruk, atau moralitas yang negatif.

Seiring dengan fase perkembangan anak, dan ketika ia mulai memiliki potensi-potensi biologis, paedagogis, mulailah diperlukan adanya pembinaan, pelatihan, bimbingan, pengajaran dan pendidikan yang disebut al-hadānah, yakni penyusuan dari seorang ibu yang merupakan hak bagi anak-anak yang masih kecil dari orang tuanya, karena anak tersebut membutuhkan pengawasan, penjagaan,

13Husain Mazhariri, Tarbiyah al-Thifli fi al-Ru’yah al-Islamiyah, diterjemahkan oleh Segaf Abdillah Assegaf dan Miqdad Turkan dengan judul; Pintar Mendidik Anak; Panduan

Lengkap bagi Orang Tua, Guru dan Masyarakat Berdasarkan Ajaran Islam (Cet. IV; Jakarta: PT.

Lentera Basritama, 2001), h. 84.

14Khadijah Abd. Al-Quddus, Asma’ Mubtarah Lithiflik, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi dengan judul Nama-nama Indah untuk anak Anda (Cet.III; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2003), h. 13.

pelaksana urusannya dan orang yang mendidiknya. Pendidikan yang paling penting ialah pendidikan anak kecil dalam pangkuan ibu bapaknya. Karena dengan pengawasan dan perlakuan mereka kepadanya secara baik akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan jiwanya serta mempersiapkan diri anak menghadapi kehidupannya di masa datang.15

Proses pembinaan karakter anak lebih efektif lagi bila dalam usia dininya ini, dilatih untuk melaksanakan ibadah. Kemudian pada umur tujuh tahun, hendaknya mereka diperintahkan untuk mendirikan salat secara kontinyu. Ketika mereka mencapai umur sepuluh tahun dan ketika itu pula mereka meninggalkan salat, maka hendaklah diberi sanksi fisik berupa pukulan. Konsep pendidikan seperti ini, sesuai dengan sabda Nabi saw dalam salah satu hadisnya sebagai berikut :

ِﻩﱢﺪَﺟ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ ٍﺐْﻴَﻌُﺷ ِﻦْﺑ وِﺮْﻤَﻋ ْﻦَﻋ

ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ

ﻢﻠﺻ

ْﻢُﻛَد َﻻْوَأ اوُﺮُﻣ

ِﰲ ْﻢُﻬَـﻨْـﻴَـﺑ اﻮُﻗﱢﺮَـﻓَو ٍﺮْﺸَﻋ ُءﺎَﻨْـﺑَأ ْﻢُﻫَو ﺎَﻬْـﻴَﻠَﻋ ْﻢُﻫﻮُﺑِﺮْﺿاَو َﲔِﻨ ِﺳ ِﻊْﺒَﺳ ُءﺎَﻨْـﺑَأ ْﻢُﻫَو ِة َﻼﱠﺼﻟﺎِﺑ

ِﻊ ِﺟﺎَﻀَﻤْﻟا

16 Artinya :

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari neneknya berkata; Rasulullah saw. bersabda: Perintahkanlah anak-anakmu untuk mendirikan salat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun dan (pada usia ini juga) pisahkan mereka dari tempat tidurnya.

15Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah diterjemahkan oleh Moh. Thalib dengan judul Fikih

Sunnah, jilid VIII (Cet. VII Bandung: PT. Al-Ma’arif, 2000). h. 161-162

Dari hadis di atas, dipahami bahwa di samping adanya perintah mendidik dan membiasakan anak-anak untuk mengerjakan salat, juga ada perintah untuk memisahkan anak dari tempat tidurnya. Maksudnya, sejak usia dini anak-anak tersebut harus berpisah tempat tidur dengan orang tuanya dan berpisah tempat tidur dengan saudara-saudaranya yang berlainan jenis kelamin. Hal ini dikarenakan pada fase ini, sang anak mulai aktif dan mampu memfungsikan potensi-potensi indranya, ia sudah mulai mengenal mana yang wajar dan yang tidak wajar, mana yang negatif dan yang positif.

Adanya anjuran untuk memisahkan tempat tidur antara anak-anak dan orang tuanya serta saudara-saudaranya yang berlainan jenis kelamin, karena hal tersebut termasuk pembinaan karakter akhlakiah. Sungguh tidak etis bilamana anak-anak selalu tidur bersama orangtuanya dalam satu tempat. Tidak etis pula bilamana mereka tidur dengan saudara-saudaranya yang berlainan jenis kelamin dalam satu tempat, karena dampak yang ditimbulkannya dapat membawa pada moral yang negatif.

Pendidikan karakter yang startegis bagi anak sejak dini di lingkungan rumah tangga, merupakan sesuatu yang esensial dalam menjaga fitrah-nya, dan dalam lingkungan itu pula anak telah memperoleh percikan sifat-sifat kesempurnaan Ilahi. Lebih lanjut tentang pentingnya pendidikan karakter bagi anak sejak kecil adalah berdasar pada pernyataan;

ﻰﻠﻋ ﺶﻘﻨﻟﺎﻛ ﺮﻐﺼﻟا ﰱ ﻢﻠﻌﺘﻟا نﻷ

ﺮﺠﳊا

17

(karena pengajaran diwaktu kecil bagaikan mengukir di atas batu). Ini

17Lihat Ahmad Fu’ad al-Ahwāniy, al-Tarbiyah fīl Islam (Mesir: Dār al-Ma’arif, t.th), h. 242.

berarti bahwa jika seseorang yang sejak kecilnya diajarkan dan ditanamkan sifat-sifat ketuhanan, maka sifat-sifat-sifat-sifat itu berbekas sampai masa dewasa dan sulit terhapus sebagaimana susahnya terhapus tulisan di batu.

Upaya untuk mempertahankan sifat-sifat ketuhanan pada diri anak, dan agar aspek karakternya tetap terjaga, menurut Nasih ‘Ulwan tentu saja memiliki langkah-langkah strategis dengan cara mendidiknya berdasarkan metode keteladanan, adat kebiasaan, nasehat, memberikan perhatian, dan memberikan hukuman.18Nasih ‘Ulwan dalam hal ini menyatakan:

ﺎﻴﺴﻔﻧ ﻪﻨﻳﻮﻜﺗو ﺎﻴﻘﻠﺧ ﺪﻟﻮﻟا داﺪﻋا ﰱ ﻞﺋﺎﺳﻮﻟا ﻊﳒا ﻦﻣ ﻲﻫ ﺔﺑﱰﻟا ﰱ ةوﺪﻘﻟا

ﺎﻴﻋﺎﻤﺘﺟاو

19

Artinya:

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak.

Seorang anak, bagaimana pun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimanapun sucinya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan dari nilai-nilai karakter akhlakiah dan moralitas yang tinggi.

Keteladanan yang dipraktekkan oleh Nabi saw, adalah terutama dalam hal ibadah dan akhlak, karena keduanya adalah puncak keluhuran.20 Keteladanan

18

‘Abdullah Nāsih ‘Ulwān, Tarbiyat al-Awalād, juz II; h. 606.

19Abdullah Nāsih ‘Ulwān, Tarbiyat al-Awalād, juz II; h, 607.

20

ibadah, misalnya memberikan contoh pelaksanaan salat terhadap anak. Sedangkan teladan akhlak yang mulia berkaitan dengan budi pekerti mulia, bermurah hati.

Bentuk keteladanan yang lain yang bersentuhan dengan ajaran karakter adalah al-zuhd wa al-tawādhu’, dan hal ini dicontohkan oleh Nabi saw. dalam hidupnya. Dengan zuhud beliau hendak mengajarkan kepada anak muslim akan arti tolong menolong, pengorbanan, dan mendahulukan orang lain. Beliau menginginkan anak muslim meneladani hidup sederhana, dan menerima apa adanya. Beliau bermaksud hendak memberikan pemahaman kepada orang yang hatinya diliputi berbagai macam penyakit. Kemudian dengan tawādhu’ atau kerendahan hati, beliau selalu mengucapkan salam kepada sahabatnya, memperhatikan secara serius terhadap pembicaraan mereka, baik anak kecil maupun orang dewasa.21

Bilamana orang tua menekankan aspek keteladanan pada anaknya, maka anak tersebut akan tumbuh dengan iman yang benar, sehingga perlu dipupuk lagi dengan cara memberikan pendidikan karakter dengan adat kebiasaan. Hal ini berdasar pada ketetapan dalam syariat Islam bahwa anak sejak lahir telah diciptakan dengan fitrah tauhid yang murni, agama yang benar, dan iman kepada Allah. Dari sini, tampak peranan pembiasaan, pengajaran, dan pendidikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam menemukan tauhid yang murni, budi pekerti yang mulia, rohani yang luhur, dan etika religi yang lurus. Tidak ada yang menyangkal bahwa anak akan tumbuh berhiaskan

21

diri dengan etika Islami, bahkan sampai puncak nilai-nilai spiritual yang tinggi, dan kepribadian yang utama.

Lebih lanjut tentang pentingnya metode keteladanan, dan pembiasaan bagi anak, karena pada masa-masa tersebut keimanan anak belum merupakan suatu keyakinan sebagai hasil pemikiran yang objektif, tetapi lebih merupakan bagian dari kehidupan alam perasaan yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwanya akan kasih sayang, rasa aman dan kenikmatan jasmaniah. Peribadatan anak pada masa ini masih merupakan tiruan dan kebiasaan yang kurang dihayati.

Kemudian termasuk metode pendidikan yang cukup berhasil dalam pembentukan karakter yang fokus pada akidah anak dan mempersiapkannya baik secara moral, emosional maupun sosial, adalah pendidikan anak dengan petuah dan memberikan nasehat kepadanya. Karena nasehat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak-anak akan hakikat sesuatu, mendorong mereka menuju harkat dan martabat yang luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia, serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam.

Di sisi lain yang memiliki peran penting adalah pendidikan karakter dengan perhatian dan atau pengawasan, yakni senantiasa mencurahkan perhatian penuh dan mengikuti perkembangan aspek akidah dan moral anak, mengawasi dan memperhatikan kesiapan mental dan sosial, di samping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan kemampuan ilmiahnya.

Selain itu, perlu pula pendidikan karakter dengan cara pemberian hukuman, namun dalam hakikatnya tidak ada ahli pendidikan menghendaki adanya hukuman dalam pendidikan, kecuali dalam kondisi keterpaksaan, dan itu dilakukan dengan hati-hati. Sanksi atau hukuman yang dilakukan oleh pendidikan, baik itu di rumah maupun di lembaga pendidikan tertentu berbeda dengan hukuman atau sanksi-sanksi umum.

Al-Ghazali sendiri berpendapat sebagaimana dikemukakan oleh Ali al-Jumbulati, menegur secara keras hukuman yang bersifat pisik hanya menimbulkan pelanggaran semakin menjadi, sedangkan cara persuasif membuat anak akan cenderung mencintai kebaikan, jika ia masih ada pelanggaran hendaklah dihukum secara diam-diam misalkan peringatan dengan menyatakan yang dilakukan itu salah, jika tidak ada penyadaran pada dirinya, maka ia ditakut-takuti dengan mengungkapkan pelanggarannya di depan khalayak.22 Al-Ghazali ternyata tidak sepakat dengan pemberian

hukuman dalam pendidikan, hukuman menurutnya hanya akan membuat anak memandang remeh terhadap kesalahan.23

Dari beberapa pemikiran di atas, tentang hukuman yang diberikan kepada anak, dipahami nampaknya semuanya tidak sepakat dengan hukuman, namun dalam pandangan penulis bahwa hukuman yang diberikan kepada anak bukan

22Ali al-Jumbulati, Dirasah al-Muqarramah fi al-Tarbiyah al-Islamiyah,

diterjemahkan oleh H. Arifin dengan judul Perbandingan Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 124-125.

23Muhammad Atiyah al-Abrasyi, Al-Tarbiyah al-Islamiyah diterjemahkan oleh Bustani A. Gani dengan judul Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 2003), h. 156.

merupakan tindakan balas dendam, melainkan rasa cinta kasih yang mendalam hukuman bagi anak suatu yang penting agar ia dapat mengetahui baik dan buruknya dan berusaha memperbaiki dan tidak akan mengulangi lagi.

Berbagai metode pendidikan yang hendaknya diterapkan secara informal sebagaimana yang diuraikan di atas, hendaknya juga menjadi prioritas dan berlanjut secara formal, yakni di sekolah karena sekolah sebagai lembaga pendidikan di samping rumah tangga memiliki arti penting dalam upaya pembentukan karakter bagi peserta didik.

2. Pendidikan Karakter secara Formal

Ayat yang mendasari tentang pendidikan formal dalam al-Qur’an adalah upaya lebih menekankan pada karakter baik dan menghindari dan karakter buruk, jika merujuk pada QS. al-Balad/90: 10 sebagai berikut:

ِﻦْﻳَﺪْﺠَﻨﻟْا ُﻩﺎَﻨْـﻳَﺪَﻫَو

Terjemahnya:

Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada manusia) dua jalan mendaki, (yakni baik dan buruk)24

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa banyak lagi ayat lain berkenaan dengan itu, yang jelasnya bahwa seseorang dalam karakternya selalui dihiasi dengan kejahatan sebagai sekarang ditemukan pada usia sekolah yang sering tawuran, konflik antar pelajar dan selainnya, namun di sisi lain pada dasarnya mereka lebih cenderung pada kebaikan. Kecenderungan pada kebaikan terbukti dengan adanya persamaan konsep pokok moral dan etika, yang disebut ma’ruf

24

yang seharusnya dikembangkan melalui pendidikan di sekolah.25 Inilah yang

disebut pendidikan formal.

Pentingnya pendidikan karakter secara formal adalah dalam rangka mempertahankan apa saja yang dicapai pada pendidikan informal bahkan seharusnya melalui pendidikan formal karakter baik seseorang semakin baik. Ini dimaksudkan agar mereka memiliki potensi fitrah sejak lahirnya yang harus terus dikembangkan. Walaupun demikian karena seiring dengan perkembangan kehidupannya, ditemukan berbagai problematika dan dengan adanya pengaruh lingkungan seringkali seseorang tergelincir dalam keburukan yang mengakibatkan dosa, yang karena itu pendidikan formal harus pula mendapat perhatian khusus.

Pendidikan formal ialah pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dengan ketentuan dan norma yang ketat, dengan pembatasan umur dan lamanya pendidikan ini berjenjang dari Sekolah dasar sampai ke Perguruan Tinggi.

Peserta didik di sekolah dikarenakan kehidupan pendidikan formal sebagai jembatan yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan masyarakat kelak. Di sekolah misalnya, peserta didik di bawah asuhan dan bimbingan guru, di mana peserta didik memperoleh pengajaran dan pendidikan. Mereka belajar berbagai macam pengetahuan dan keterampilan yang akan dijadikan bekal untuk kehidupan nanti di masyarakat. Pemberian ilmu pengetahuan dan keterampilan merupakan tugas utama dari sekolah.

25M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan

Sejalan dengan kepentingan pengembangan karakter bagi seorang anak, terkadang orang tua sangat selektif dalam menentukan tempat untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Mungkin saja para orang tua yang berasal dari keluarga yang taat beragama akan memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah agama. Sebaliknya para orang tua yang kurang menghayati agama lebih mengarahkan anak mereka untuk masuk ke sekolah-sekolah umum, demikian para orang tua yang sulit mengendalikan tingkah laku anak akan memasukkan anak mereka ke sekolah agama dengan harapan secara kelembagaan sekolah tersebut dapat memberikan pengaruh dalam membentuk spiritual anak-anak.

H. Hadari Nawawi dalam tulisannya mengemukakan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal fungsi dan tugasnya adalah :

a. Membantu mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang dapat dipergunakan untuk memperoleh nafkah hidupnya masing-masing.

b. Membantu mempersiapkan anak-anak agar menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan memecahkan masalah kehidupan, baik secara individu, bersama (masyarakat), atau bangsa.

c. Meletakkan dasar-dasar hubungan sosial, agar anak-anak mampu merealisasikan dirinya (self realization) secara bersama-sama di dalam masyarakat yang dilindungi Allah.

d. Membantu anak-anak menjadi muslim, mukmin dan muttaqin.26

26H. Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam (Cet.I; Surabaya: al-Ikhlas, 2003), h. 195-201.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pada perubahan spiritual keagamaan anak di sekolah dipengaruhi oleh guru. Karena itu, guru di sekolah seharusnya menekankan tiga prinsip utama dalam upaya meningkatkan spiritual keagamaan anak (peserta didik)-nya.

Pertama, guru harus memberikan perhatian utama dalam skala prioritas terhadap pendidikan akhlak pada peserta didik. Untuk menopang pencapaian itu, maka setiap guru khususnya guru agama harus dapat merencanakan materi, metode serta alat-alat bantu yang memungkinkan anak-anak mengarahkan perhatiannya pada pelajaran pendidikan karakter.

Kedua, para guru harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi pendidikan karakter yang diberikannya. Pemahaman ini akan lebih mudah diserap jika pendidikan karakter yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi tidak terbatas pada kegiatan hafalan yang bersifat kurikuler semata.

Ketiga, setiap guru harus memiliki keahlian dalam bidang agama dan memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agama seperti terpuji dan dapat dipercaya.

Tiga prinsip yang harus dimiliki oleh guru sebagaimana yang disebutkan di atas, merupakan integritas kepribadian guru yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan karakter keagamaan peserta didiknya, dan kepribadian guru yang demikian memotivasi peserta didik untuk mengikuti atau meneladani gurunya. Kaitannya dengan itu, Al-Gazāli dalam “Ihya Ulumuddin” berpendapat sebagaimana yang dikutip Zainuddin bahwa kepribadian seorang guru adalah

mengamalkan ilmunya, lalu perkataannya hendaknya tidak membohongi perbuatan, karena sesungguhnya ilmu itu dapat dilihat dengan mata hati.

Dokumen terkait