TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Modal Sosial
2.1.3 Bentuk modal sosial
dan orang lain merupakan prinsip-prinsip dasar dalam pengembangan asosiasi, group, kelompok atau melalui masyarakat tertentu.
2.1.3 Bentuk modal sosial
Memperhatikan berbagai pengertian modal sosial yang sudah dikemukakan, maka pengertian modal sosial yang lebih luas adalah berupa jaringan sosial, atau sekelompok orang yang dihubungkan oleh perasaan simpati dan kewajiban serta oleh norma pertukaran dan civic engagement. Jaringan terbentuk karena berasal dari daerah yang sama, kesamaan kepercayaan politik atau agama, hubungan genealogis, dan lain-lain. Namun pembentukan jaringan masyarakat untuk mendapatkan modal sosial perlu diorganisasikan dalam suatu institusi dengan perlakuan khusus. Mekanisme modal sosial yang dapat dilakukan adalah dengan cara kerjasama.
Kerjasama merupakan salah satu upaya penyesuaian dan koordinasi tingkah laku dalam mengatasi konflik. Konflik tersebut timbul karena tingkah laku seseorang atau kelompok yang dianggap menjadi penghambat bagi orang atau kelompok lain dan berdampak pada ketidakharmonisan. Dengan demikian ciri modal sosial sebagai sebuah modal yang bersifat sosial, dapat membentuk relasi sosial yang mampu bersinergi dan berkompetisi untuk mencapai kemenangan.
Modal sosial merupakan konsep yang sering digunakan untuk menggam-barkan kapasitas sosial untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara integrasi sosial. Berdasarkan penjabaran yang dikemukakan pengertian modal sosial yang berkembang selama ini mengarah pada terbentuknya tiga level modal
sosial, yakni pada level nilai, kultur, persepsi, dan institusi, serta mekanisme, sebagaimana terlihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Level Modal Sosial
Sumber : Diadaptasi dari Praktikno, dkk. (2001)
Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan, dalam pengertian yang luas, modal sosial bisa berbentuk jaringan sosial atau sekelompok orang yang dihubungkan oleh perasaan simpati, kewajiban, norma pertukaran, dan civic engagement yang kemudian diorganisasikan menjadi sebuah institusi yang memberikan perlakuan khsusus terhadap mereka yang dibentuk oleh jaringan untuk mendapatkan modal sosial dari jaringan tersebut. Dalam level mekanis-menya, modal sosial dapat mengambil bentuk kerjasama sebagai upaya penye-suaian dan koordinasi tingkah laku yang diperlukan untuk mengatasi konflik.
Kahne dan Baeily (1999) membingkai modal sosial dengan kebersamaan yaitu modal sosial dengan karakteristik adanya ikatan yang kuat (adanya perekat sosial) dalam suatu sistem kemasyarakatan. Misalnya, kebanyakan anggota keluarga mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluarga yang lain yang mungkin masih berada dalam satu etnis. Disini masih berlaku sistem kekerabatan
Nilai, Kultur, Persepsi : Simpati, kewajiban, kepercayaan,
norma pertukaran
Institusi:
Ikatan antar dan dalam institusi, jaringan
Mekanisme :
Tingkah laku, kerja sama, sinergi
berdasarkan klen. Hubungan kekerabatan ini bisa menyebabkan adanya rasa empati/kebersamaan, mewujudkan rasa simpati, rasa berkewajiban, rasa percaya, resiprositas, pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yang mereka percaya.
Dalam komunitas ini, rule of law/aturan main merupakan aturan atau kesepakatan bersama dalam masyarakat, bentuk aturan ini bisa formal dengan sanksi yang jelas seperti aturan Undang-Undang. Namun ada juga sanksi non formal yang akan diberikan masyarakat kepada anggota masyarakatnya berupa pengucilan, rasa tidak hormat bahkan dianggap tidak ada dalam suatu lingkungan komunitasnya. Ini menimbulkan ketakutan dari setiap anggota masyarakat yang tidak melaksanakan bagian dari tanggung jawabnya ( Kahne dan Bailey, 1999).
Hal ini berakibat akan adanya social order/keteraturan dalam masyarakat. Selanjutnya, adalah tipe perikatan, merupakan suatu ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompoknya. Hal ini muncul karena berbagai macam kelemahan yang ada di sekitarnya sehingga kelompok masyarakat tersebut memutuskan untuk membangun suatu kekuatan dari kelemahan yang ada.
Aldridge (2001) menggambarkannya sebagai “pelumas sosial”, yaitu pelancar dari roda-roda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah komunitas. Wilayah kerjanya lebih luas dari pada tipe yang pertama.
Modal sosial bisa bekerja lintas kelompok etnis, maupun kelompok kepentingan. Misalnya “Asosasi Masyarakat Adat Indonesia.” Kelompok ini bisa beranggotakan seluruh masyarakat adat yang ada di Indonesia, baik di Sumatra,
Kalimantan, sampai dengan Papua. Keanggotaannya lebih luas dan tidak hanya berbasis pada kelompok tertentu (Tempo Interaktif Kamis 20 September 2001).
Sementara itu secara lebih jelas, Woolcock (2002) mencoba membedakan tiga macam tipe modal sosial yaitu: ( 1) Modal Sosial: karakteristik karena adanya ikatan yang kuat (atau "perekat sosial") seperti antara anggota atau antara anggota keluarga dari kelompok etnis; (2) hubungan yang menjembatani; dan (3) hubungan sosial yakni menghubungkan karakteristik sosial melalui hubungan antara orang dengan tingkat kekuasaan yang berbeda atau seperti hubungan status sosial antara elit politik dan masyarakat atau antara individu dari kelas sosial yang berbeda.
Ketiga pandangan tersebut sebenarnya merupakan prinsip yang menjadi dasar pengelompokan modal sosial, seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Modal sosial yang mengikat (bounding social capital) merupakan jenis modal sosial lebih banyak bekerja secara internal dan solidaritas yang dibangun karenanya menimbulkan kohesi sosial yang lebih bersifat mikro dan komunal karena itu hubungan yang terjalin di dalamnya lebih bersifat eksklusif. Sedangkan modal sosial yang menjembatani) sebaliknya, ia lebih bersifat inklusif dengan lebih banyak menjalin jaringan dengan potensi eksternal yang melekat padanya. Modal sosial yang menghubungkan (social linking) merupakan modal sosial yang bergerak pada tataran lebih luas, karena mereka tidak membedakan kelas dan status sosialnya.
Konferensi tingkat tinggi (KTT) pembangunan sosial yang dilaksanakan di Kopenhagen Maret 1995, konsep modal sosial menjadi topik yang hangat dan kata kunci dalam merespon tiga agenda pokok konferensi yakni: mengurangi
kemiskinan, menciptakan angkatan kerja yang produktif, dan meningkatkan integrasi sosial (Raharjo, 2001). Gambar 2.2 menunjukkan bahwa modal sosial pada praktiknya tidak hanya membawa dampak positif tapi juga dampak negatif aktivitas agroekowisata, bila tidak dikelola dengan baik. Munculnya dampak negatif ini, disebabkan oleh keterbatasan dalam modal sosial, antara lain akibat dari pendekatan, unit analisis, rentang cakupan, dan orientasi analisis yang masih sangat luas dan multidimensional, sehingga menyulitkan dalam pengukuran dan pengembangan kapasitas modal sosial untuk berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat pada segala bidang, termasuk dalam pengembangan agroekowisata.
Gambar 2.2
Interrelasi Modal Sosial dengan Berbagai Faktor Sumber: diadaptasi dari Hasbullah ( 2006) Faktor Luar Komunitas
1. Agama 2. Globalisasi 3. Urbanisasi
4. Politik dan pemerintahan 5. Kebijakan pemerintah 6. Pendidikan 7.Hukum dan UU 8. Tingkat kriminalitas 9. Nilai-nilai universal Modal Sosial 1.Kelompok/Group
2.Identitas Kolektif: Norma / nilai; trust reciprocity, partisipasi dan proactivity 3. Tujuan bersama
4. Kerja sama kelompok (group
collaboration)
Faktor Dalam Komunitas 1. Organisasi sosial dalam
komunitas: Kepercayaan lokal, pola, dan sistem produksi, serta reproduksi, serta politik lokal
2. Norma dan nilai-nilai (nilai uang, waktu, dan nilai-nilai yang melekat dalam komunitas)
Jaringan Sosial (Group and Social Network) 1. Typology jaringan (Network type : bonding, bridging & lingking)
2. Struktur jaringan ( relasi kekuasaan, rentang, & besaran, orientasi hubungan, dll)
3.Spektrum transaksi jaringan & kualitas jaringan (network transaction and network qualities: support strukture, kualitas interaksi)
Hasil/Dampak Positif Social Capital 1. Kohesifitas kelompok
2. Memperluas jaringan eskternalitas positif 3. Sikap toleran dan inklusif
4. Meningkatnya ketahanan sosial dan komu-nitas, mampu mengatasi kerawanan sosial. 5. Lebih mengoptimalkan pd pembangunan 6. Meningkatnya pengetahuan, ide baru dan
kesejahteraan masyarakat
Hasil/Dampak Negatif Social Capital 1. Eksklusifisme sosial, kesukuan, & sektarian 2. Sikap intoleran pada perbedaan & pihak lain 3. Hancurnya kesatuan
4.Korupsi & nepotisme atas nama kelompok 5. Munculnya hambatan pembangunan 6.Penentangan terhadap perubahaan
2.1.4 Peran dan fungsi modal sosial
Modal sosial mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut: (1) alat untuk menyelesaikan konflik yang ada di dalam masyarakat; (2) memberikan kontribusi tersendiri bagi terjadinya integrasi sosial; (3) membentuk solidaritas sosial masyarakat dengan pilar kesukarelaan; (4) membangun partisipasi masyarakat; (5) sebagai pilar demokrasi; dan (6) menjadi alat tawar menawar pemerintah
Disintegrasi sosial terjadi karena potensi konflik sosial yang tidak dikelola secara efektif dan optimal, sehingga termanifest dengan kekerasan. Sebagai alat untuk mengatasi konflik yang ada di dalam masyarakat dapat dilihat dari adanya hubungan antara individu atau kelompok yang ada di dalam masyarakat yang bisa menghasilkan trust, norma pertukaran serta civic engagement yang berfungsi sebagai perekat sosial yang mampu mencegah adanya kekerasan.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa dalam kehidupan yang positif diperlukan adanya perubahan di dalam masyarakat. Dari modal sosial yang eksklusif dalam suatu kelompok menjadi modal sosial yang inklusif yang merupakan esensi penting dalam sebuah masyarakat yang demokratis.