• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Pasar Persaingan Sempurna

Dalam dokumen Analisis Pembentukan Harga Pasar (Halaman 45-58)

IQ 3 Jalur Ekspansi

1.1.5.1. Bentuk Pasar Persaingan Sempurna

Untuk memahami perusahaan yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna, secara umum dapat melihat sifat-sifat bentuk pasar dengan persaingan sempurna sebagai berikut:

1. Ada kesamaan komoditas yang diperdagangkan atau bersifat homogen sehingga tidak tergantung siapa yang menjual melainkan sepenuhnya tergantung pada harga.

2. Pelaku baik penjual maupun pembeli sedemikian banyak sehingga tidak ada pelaku perorangan yang bisa mempengaruhi harga secara sendiri.

3. Perusahaan bertindak sebagai price taker yaitu menerima harga pasar yang ada.

4. Tidak ada paksaan dari pihak luar dalam bentuk apapun.

5. Ada informasi tentang harga yang simetris.

6. Mobilitas semua faktor ekonomi berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi.

7. Tidak terdapat kendala bagi perusahan untuk masuk dan keluar dari industri terkait.

Pada kenyataan, tidak ada pasar bentuk persaingan sempurna, namun model persaingan sempurna menjadi bahan analisis penting karena secara struktur merupakan bentuk yang paling ideal dengan efisiensi yang tinggi.

Kurva permintaan untuk pasar persaingan sempurna berupa garis elastis sempurna, yaitu garis horizontal pada titik harga tertentu beapapun kuantitas yang diminta (bersifat price taker), karena begitu produsen menaikkan harga, pembeli akan membeli dari produsen lain karena produk yang ditawarkan bersifat homogen dan terdapat banyak pelaku di pasar sehingga memungkinkan pembeli membeli dari produsen lain.

TC

MC AC

LTc

Output Q

Output Q LMC

L

Gambar 1.23. Kurva Permintaan Pasar Persaingan Sempurna

Akibat dari kurva permintaan yang berupa garis elastis sempurna untuk pasar persaingan sempurna karena bersifat price taker, maka berlaku kondisi D=AR=MR=P. Garis TR yang berasal dari perkalian P.Q akan berupa garus lurus bermula dari titik nol, MR yang merupakan tambahan hasil penjualan yang didapat perusahaan bila menjual satu unit tambahan komoditas. Karena garis permintaan berupa garis elastic maka berapa kuantitas yang dijual, tambahan yang diperoleh akan sebanding dengan harga P:

M R = ∆TR / ∆Q

= ∆(P.Q)/ ∆Q

= P(∆Q)/ ∆Q

= P

Demikian pula AR yang berupa rata-rata pendapatan dari hasil penjualan akan sebesar P karena total penjualan adalah P.Q, sedangkan rata-rata penjualan didapat dar hasil bagi P.Q dengan Q sehingga diperoleh P.

T R = P.Q A R = TR/Q

= P.Q/Q

= P P

TR

Q AR=MR

Gambar 1.24. Kurva AR,MR dan TR Untuk Pasar Persaingan Sempurna

Untuk perusahaan pada pasar persaingan sempurna dimana perusahaan bisa masuk dan keluar tanpa kendala, maka bila terdapat keuntungan diatas normal akan mengundang perusahaan lain masuk, sebaliknya bila harga penjualan komoditas menunjukkan kerugian akan menyebabkan perusahaan tertentu meninggalkan lapangan persaingan.

Analisis pemaksimalan keuntungan untuk jangka pendek adalah : laba perusahaan ditentukan oleh selisih dua item, yaitu penerimaan (TR=

total revenue) dan biaya (TC = total cost), ila selisihnya positif dikatakan perusahaan memperoleh laba. Jadi berdasarkan pemikiran ini laba maksimum perusahaan ditentukan oleh perubahan penerimaan dan perubahan biaya dengan syarat perubahan laba sama dengan nol atau turun pertama dari persamaan laba sama dengan nol.

= TR – TC

∆ /∆Y = ∆TR/∆Y – ∆TC/∆Y = 0 M R = ∆TR/∆Y

M C = ∆TC/∆Y 0 = MR - MC M R = MC

Output Q TFC

Satuan Uang

-TFC

TC TR

Q1 Q2 Q3 T1 MR=A

I

Gambar 1.25. Pemaksimalan Keuntungan Untuk Jangka Pendek

(Output) Satuan Uang

MC

Q1 Q2 Q3

AC AVC C

A B

P=MR=AR

Q Gambar 1.26. Kurva MR,MC,ATC dan AVC

Bila MC < MR menunjukkan keuntungan bagi perusahaan belum maksimum sehingga perusahaan akan menaikkan produksi untuk meningkatkan keuntungan. Sebalilknya bila MC > MR perusahaan berada pada kondisi mengalami kerugian atau keuntungan berkurang sehingga perusahaan akan mengurangi produksi. Dari dua kondisi di atas jelas bahwa perusahaan akan memperoleh keuntungan maksimum bila MC=MR sebagaimana penjabaran di atas.

Pada jangka pendek terdapat tiga kemungkinan operasional perusahaan pada pasar persaingan sempurna sebagai berikut :

1. TC < TR : Perusahaan mengalami keuntungan

2. TC = TR : Perusahaan berada pada kondisi kembali modal atau break Even Point

3. TC > TR : Perusahaan mengalami kerugian

Untuk kasus TC > TR, dapat terjadi keuntungan perusahaan bersifat normal atau diatas normal. Secara jangka pendek keuntungan diatas normal dapat terjadi namun secara jangka panjang hal ini tidak mungkin terjadi karena pada pasar persaingan sempurna, perusahaan dapat keluar masuk secara bebas. Ketika harga pasar (permintaan) memungkinkan perusahaan mengambil keuntungan, akan mengundang perusahaan diluar masuk menambah penawaran yang pada akhirnya menyebabkan harga turun sampai pada tingkat tertentu dimana akan mengurangi keuntungan perusahaan sampai tercapai kondisi TC=TR.

(Komoditas) P, C

Q0 Q P0

B A

MC ACAVC D=MR=AR E

Gambar 1.27. Kurva Keuntungan Diatas Normal

Pada kasus perusahaan mendapat keuntungan diatas normal, dalam arti keuntungan maksimum, maka MC=MR. pada gambar diatas tampak jelas perpotongan terjadi pada titik E. pada titik E harga pasar untuk komoditas tersebut adalah P0 dan kuantitas yang diperlukan untuk mencapai keuntungan maksimm adalah Q0. TR dari penjualan adalah Q0.P0. pada titik keseimbangan tersebut (titik E) tarik garis vertical ke

bawah memotong kurva AC pada titik A. Kemudian dari titik A tarik garis horizontal memotong sumbu harga pada titik B. Titik B merupakan biaya rata-rata untuk memproduksi komoditas tersebut sehingga TC = Q0.B. Selisih antara TR ñ TC adalah keuntungan diatas normal bagi perusahaan karena berada di atas kurva AC.

(Komoditas) P, C

Q1 Q

P1 1

MC AC E AVC

D=MR=AR

Gambar 1.28. Kurva Keuntungan Normal

Sebagaimana disinggung di atas bahwa secara jangka panjang, masuknya perusahaan akan menambah penawaran dan menurunkan harga komoditas sampai tercapai kondisi TC=TR atau keuntungan normal. Keuntungan normal terjadi bila perpotongan kurva harga komoditas (sama kurva MR) dengan kurva MR terletak pada titik minimum kurva AC. Pada titik keseimbangan E1(P1, Q1), terjadi TC = TR dan keuntungan bagi perusahaan berupa biaya tersembuyi (implicit cost).

Pada kasus terakhir adalah perusahaan mengalami kerugian atau TC > TR. Dalam hal ini ada dua kemungkinan yaitu merugi tetapi masih mampu menutup biaya variabel dan perusahaan membubarkan diri.

(Komoditas) P, C

Q2 Q

P2

MC

AC AVC E

D=MR=AR

B E2

Gambar 1.29. Perusahaan Rugi Dan Masih Bisa Tutup AVC

(Komoditas) P, C

Q3 Q

P3

MC AC AVC

D=MR=AR E3

Gambar 1.30. Perusahaan Rugi Dan Membubarkan Diri

Bila TC > TR tetapi perpotongan kurva P (MR) dan MC masih terletak diatas kurva AVC, misalnya pada titik keseimbangan E2 (P2, Q2). TR = P2. Q2 dan TC = B, Q2 akibatnya perusahaan mengalami kerugian sebesar (B-P2).Q2. Walaupun terjadi kerugian tetapi TR masih bisa menutup biaya variabel sehingga perusahaan masih bisa beroperasi.

Sebaliknya bila harga P terus menurun, misalnya titik perpotongan kurva P (MC) dan MR terletak dibawah kurva AVR. Misalnya pada titik keseimbangan E3 (P3, Q3). Pada titik E3 harga permintaan komoditas P2

berada di bawah biaya produksi sehingga bila perusahaan bersikeras bertahan akan terus mengalami kerugi sebesarP3.Q3 ñ TC.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kurva permintaan yang menempatkan kurva P elastis sempurna pada berbagai tingkat harga Px dan kuantitas Qx akan memberikan berbagai kemungkinan keuntungan sebagai berikut:

(Komoditas)

Gambar 1.31. Kurva Keseimbangan Perusahaan

1. P4 > AC akan memberikan keuntungan diatas normal 2. P3 = AC akan memberikan keuntungan normal

3. AVC P2 < AC akan mengalami kerugian tetapi masih dapat beroperasi

4. P < AVC akan menyebabkan perusahaan membubarkan diri.

Pada pasar persaingan sempurna, bila terjadi perubahan permintaan, misalnya kurva permintaan bergeser ke kanan dari D ke Dí. walaupun kurva harga bersifat elastis sempurna, namun pada jangka pendek. Titik keseimbangan semula terletak pada perpotongan antara kurva permintaan Ddan S pada titik E(P1,Q1). Pada sisi lain, setelah pergeseran D ke Dí, harga yang terbentuk P2 berpotongan dengan kurva MC pada titik E2(P2,Q2) yang terletak di atas kurva AC. Dengan kata lain memberikan keuntungan kepada perusahaan di atas normal, hal

ini mengundang minat perusahaan baru masuk pasar sehingga menaikkan kuantitas penawaran atau menggeser kurva S ke Sí. Kurva Sí memberikan titik keseimbangan pada titik E1(P1, Q1) yang artinya harga keseimbangan baru kembali ke semula P1, atau secara jangka panjang perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal saja.

P

Q2 Q P2

MC AC E1

P1

Q1 E2 P

E

D DI S

SI EI

EII

Gambar 1.32a. Dampak Kenaikan Permintaan

Sebaliknya dampak perubahan penurunan permintaan akan menggeser kurva D ke Dí. Pada jangka pendek, titik keseimbangan yang berbentuk setelah pergeseran D ke Dí adalah E2(P2,Q2). Harga komoditas P2 memotong kurva MC berada di bawah kurva AC yang berarti perusahaan mengalami kerugian. Kerugian ini menyebabkan sebagian perusahaan meninggalkan pasar persaingan sehingga secara kuantitas, jumlah penawaran akan berkurang sehingga menggeser kurva S ke Sí dimana titik keseimbangan kembali ke semula pada E1(P1,Q1), atau dengan kata lain harga keseimbangan baru kembali ke semula yang memberikan keuntungan normal kepada perusahaan secara jangka panjang.

P

Q2 Q

P2

MC AC E1

P1

Q1 E2 E

D DI S

SI

EI EII

P

Gambar 1.32b. Dampak Penurunan Permintaan

Tingkat keuntungan sangat tergantung pada posisi kurva AC tiap perusahaan atau industri terkait. Dalam hal ini dapat dikelompokan:

industri dengan biaya tetap, industri dengan biaya meningkat dan industri dengan biaya menurun.

Pada industri dengan biaya tetap memiliki karakteristik yang dicirikan oleh kurva penawaran jangka panjang yang elastis sempurna atau garis horizontal. Dengan kata lain perusahaan dapat melakukan menyesuaikan terhadap waktu dengan mengembangkan industri terkait tanpa meningkatkan harga di sepanjang kurva penawaran jangka panjang.

Pada industri dengan biaya tetap, yang terjadi bukan peningkatan biaya faktor produksi per unitnya melainkan akibat peningkatan output Q yang disertai kebutuhan akan penambahan penggunaan faktor-faktor produksi terkait. Jadi jelas harga komoditas akan kembali ke normal mendahului tingkat keuntungan perusahaan yang juga kembali ke posisi normal.

Satuan Uang

Gambar 1.33. Kurva AC Industri Dengan Biaya Tetap.

Untuk industri dengan biaya meningkat, sepintas mudah disimpulkan bahwa untuk mencegah kerugian, kenaikan biaya perlu disertai peningkatan harga komoditas, karena kenaikan biaya jelas akan menggeser kurva AC keatas dari LAC menjadi LAC*. Jadi pada pasar persaingan sempurna, industri dengan biaya meningkat memiliki kurva penawaran dengan kemiringan positif dimana harga pasar P** pada titik keseimbangan jangka panjang C (cost) lebih tinggi dari harga pasar komoditas semula P. Kenaikan biaya disebabkan oleh berkembangnya industri yang disertai peningkatan output Q yang mendorong kenaikan harga faktor-faktor produksi.

Gambar 1.34. Kurva AC Industri Dengan Biaya Meningkat.

Sebaliknya industri dengan biaya menurun merupakan ciri-ciri industri yang bergerak secara global, yang boleh dikatakan memiliki sifat konsep pasar persaingan sempurna yang mencerminkan tingkat efisiensi ekonomis dan teknis yang tinggi karena dukungan manajemen dan teknologi yang baik. Dengan demikian industri dengan biaya menurun memiliki kurva penawaran jangka panjang dengan kemiringan negatif. Hal ini dimungkinkan karena industri tersebut melakukan penyesuaian terhadap peningkatan permintaan dengan menaikkan output disertai penurunan kurva biaya, sehingga titik keseimbangan jangka panjang menghasilkan harga pasar yang lebih rendah dan kuantitas yang lebih tinggi.

Kurva AC yang berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan (untuk pasar persaingan sempurna, bersifat price taker, perusahaan tidak dapat menaikkan TR dengan menaikkan harga P) tidak semata-mata berasal dari internal perusahaan tetapi dapat bersumber dari luar, misalnya kebijakan pemerintah dalam hal pajak. Pada dasarnya pajak akan menaikkan harga penawaran (jual) sehingga akan menurunkann permintaan. Bila perusahaan ingin mempertahankan kuantitas penawaran maka perusahaan harus menanggung sebagian atau keseluruhan pajak, akibatnya kurva AC akan bergeser keatas dan mengurangi keuntungan perusahaan. Sebaliknya bila beban pajak ditanggung pihak konsumen, maka akibatnya akan terjadi penurunan permintaan, yang pada akhirnya akan juga berpengaruh pada TR dan mengurangi keuntungan perusahaan.

P1 P

P

Q1 Q2

P

Q Q

}

SI

S Pajak

P=PI

S=SI EI

E Pajak

Gambar 1.35. Pengaruh Beban Pajak Pada Titik Keseimbangan

Dalam dokumen Analisis Pembentukan Harga Pasar (Halaman 45-58)

Dokumen terkait