Analisis Pembentukan Harga Pasar Oleh : Saludin Muis
Edisi Pertama
Cetakan Pertama, 2008
Hak Cipta © 2008 pada penulis,
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.
Candi Gebang Permai Blok R/6 Yogyakarta 55511
Telp. : 0274-4462135; 0274-882262 Fax. : 0274-4462136
E-mail : [email protected]
Muis, Saludin
Analisis Pembentukan Harga Pasar/Saludin Muis - Edisi Pertama – Yogyakarta; Graha Ilmu, 2008
xii + 106 hlm, Jil. : 23 cm.
ISBN : 978-979-756-422-3
1. Ekonomi I. Judul
B
uku ini menyajikan penjelasan pembentukan dan perubahan harga dari sudut pandang teori mikro dan makro ekonomi.Penjelasan bersifat ringkas dan hanya berisikan materi- materi pokok. Aspek manajemen dan operasional yang lebih menekankan kepada SDM hanya ditampilkan sebagai salah satu variabel dalam analisis mikro ekonomi, agar penjelasan pokok tetap fokus pada pandangan teori mikro dan makro ekonomi.
Penulis menyadari bahwa penjelasan yang bersifat garis besar yang disajikan dalam buku ini, tentu tidak terlepas dari kekurangan. Karena itu saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan. Dengan segala kerendahan hati, penulis sangat menghargai setiap saran atau kritik untuk perbaikan.
Akhirnya tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada PT. Shirasuna Asia Permai Electronics (produser TV dan Monitor, Tangerang) yang banyak membantu dari segi fasilitas, dan Ibu Cicih (ko pengarang) dari Universitas Borobudur yang mengedit dan melakukan berbagai koreksi yang sangat berarti.
KA KA KA
KA KAT T T TA PENGANT T A PENGANT A PENGANT A PENGANT A PENGANTAR AR AR AR AR
Kepada Albert Ray J, Alexander Rex J, Ibu Rajani Tjandra dan Ibu Salmah yang mendorong terwujudnya penulis buku ini. Dan buku ini secara khusus dipersembahkan kepada Prof. Dr. H.
Sudarsono, Msc yang telah meluangkan waktu dan tenaga membimbing penulis ketika mengikuti pendidikan tingkat doktoral pada Fakultas Ekonomi Pascasarjana Universitas Borobudur.
Jakarta.
Dr. Saludin, M.Kom.
Jakarta, Jan 2008
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vii
PENDAHULUAN 1
BAB 1 ANALISIS PEMBENTUKAN HARGA (1)
dari Sudut Pandang Mikro Ekonomi 3
1.1. Analisis Mikro Ekonomi 3
1.1.1. Pengantar 3
1.1.2. Analisis Permintaan dan Penawaran 4
1.1.3. Teori Produksi 18
1.1.4. Biaya Produksi 24
1.1.5. Bentuk Pasar 29
BAB 2 ANALISIS PEMBENTUKAN HARGA (2)
Dari Sudut Pandang Makro Ekonomi 59
2.1. Analisis Makro Ekonomi 59
2.1.1. Pengantar 59
2.1.2. Analisis Model Perubahan Harga
dan Suku Bunga 60
2.1.3. Permintaan Agregat (Kurva AD) 61 2.1.4. Penawaran Agregat (Kurva AS) 67
D D D
D DAFT AFT AFT AFT AFTAR ISI AR ISI AR ISI AR ISI AR ISI
2.1.5. Keseimbangan Kurva AS ñ AD 70 2.1.6. Kurva Philips dan Penawaran Agregat 78 2.1.7. Kebijakan Moneter dan Fiskal 84
2.2. Pendekatan Inflasi 92
2.2.1. Sumber Inflasi dan Dampaknya 92
2.2.2. Solusi Inflasi 99
DAFTAR PUSTAKA 105
Gambar 1.1. Kurva Permintaan 6 Gambar 1.2. Perubahan Sepanjang Kurva Permintaan 7 Gambar 1.3. Pergeseran Kurva Permintaan 7
Gambar 1.4. Kurva Penawaran 8
Gambar 1.5. Perubahan Sepanjang Kurva Penawaran 9 Gambar 1.6. Pergeseran Kurva Penawaran 10 Gambar 1.7. Kurva Permintaan dan Penawaran 11 Gambar 1.8. Perubahan Titik Keseimbangan 11 Gambar 1.9a. Perubahan Keseimbangan. P Lebih Tinggi
Q Lebih Rendah 12
Gambar 1.9b. Perubahan Keseimbangan. P Lebih Tinggi
Q Lebih Rendah 12
Gambar 1.10a. Perubahan Keseimbangan. P dan Q
Lebih Tinggi 13
Gambar 1.10b. Perubahan Keseimbangan. P dan Q
Lebih Tinggi 13
Gambar 1.11a. Perubahan Keseimbangan. P dan Q
Lebih Rendah 14
Gambar 1.11b. Perubahan Keseimbangan. P dan Q
Lebih Rendah 14
Gambar 1.12a. Perubahan Keseimbangan.
P Lebih Rendah dan Q Lebih Tinggi 15
D D D
D DAFT AFT AFT AFTAR GAMB AFT AR GAMB AR GAMB AR GAMB AR GAMBAR AR AR AR AR
Gambar 1.12b. Perubahan Keseimbangan. P Lebih
Rendah dan Q Lebih Rendah 15 Gambar 1.13. Surplus Konsumen dan Surplus
Produsen 16
Gambar 1.14. Kebijakan Harga Terendah 17 Gambar 1.15. Kebijakan Harga Tertinggi 17
Gambar 1.16. Kurva Isoquant 19
Gambar 1.17. The Law of Diminishing Marginal Return 20
Gambar 1.18. Kurva Isocost 23
Gambar 1.19. Kurva Jalur Ekspansi 24
Gambar 1.20. Kurva Produksi dan Kurva Biaya 26 Gambar 1.21. Kurva Biaya Jangka Panjang 28 Gambar 1.22. LAC dan Skala Ekonomi 29 Gambar 1.23. Kurva Permintaan Pasar Persaingan
Sempurna 31
Gambar 1.24. Kurva AR, MR, dan TR Untuk Pasar
Persaingan Sempurna 32
Gambar 1.25. Pemaksilan Keuntungan Untuk
Jangka Pendek 33
Gambar 1.26. Kurva MR, MC, ATC dan AVC 33 Gambar 1.27. Kurva Keuntungan Diatas Normal 34 Gambar 1.28. Kurva Keuntungan Normal 35 Gambar 1.29. Perusahan Rugi Dan Masih
Bisa Tutup AVC 36
Gambar 1.30. Perusahan Rugi Dan Membubarkan Diri 36 Gambar 1.31. Kurva Keseimangan Perusahaan 37 Gambar 1.32a. Dampak Kenaikan Permintaan 38 Gambar 1.32b. Dampak Penurunan Permintaan 39 Gambar 1.33. Kurva AC Industri Dengan Biaya Tetap 40 Gambar 1.34. Kurva AC Industri Dengan
Biaya Meningkat 40
Gambar 1.35. Pengaruh Beban Pajak Pada Titik
Keseimbangan 42
Gambar 1.36. Kurva Permintaan Perusahaan
Monopolis 43
Gambar 1.37. Kurva Keuntungan Maksimum
Monopolis 44
Gambar 1.38. Monopolis Dengan Keuntungan
Diatas Normal 45
Gambar 1.39. Monopolis Mengalami Kerugian 46 Gambar 1.40. Monopolis Tidak Memperoleh
Keuntungan Kerugian 46
Gambar 1.41. Kurva Penawaran Perusahaan
Monopolis 47
Gambar 1.42. Efisiensi Perusahaan Monopolis 49 Gambar 1.43. Keseimbangan Perusahaan Monopolis
Jangka Panjang 50
Gambar 1.44. Pengaruh Campur Tangan Pemerintah
Terhadap Monopolis 52
Gambar 1.45. Pengaruh Pajak Lumpsum Terhadap
Monopolis 54
Gambar 1.46. Pengaruh Pajak Khusus Terhadap
Monpolis 55
Gambar 1.47. Keseimbangan Jangka Pendek
Perusahaan Monopolistik 57
Gambar 1.48. Keseimbangan Jangka Panjang
Perusahaan Monopolistik 48
Gambar 2.1. Keseimbangan Kurva IS-LM dan AD 62 Gambar 2.2. Pengaruh Kurva LM Terhadap
Kemiringan Kurva AD 63
Gambar 2.3. Pengaruh Kurva IS Terhadap
Kemiringan Kurva AD 65
Gambar 2.4. Perubahan Kurva AD Akibat Kenaikan
Pembelanjaan Agregat, IS Berubah 66 Gambar 2.5. Perubahan Kurva AD Akibat Kenaikan
Pembelanjaan Agregar, LM Berubah 67
Gambar 2.6. Kurva Penawaran Agreget Versi Klasik 68 Gambar 2.7. Kurva Penawaran Agregat
Versi Keynesian 68
Gambar 2.8. Kurva Penawaran Agregat Versi
Keynesian Baru 69
Gambar 2.9. Kurva Penawaran Agregat
Versi Klasik Baru 70
Gambar 2.10. Kurva AD Klasik 71
Gambar 2.11. Penentuan Kurva AS Klasik 72 Gambar 2.12. Keseimbangan Kurva AS-AD:
Golongan Klasik 73
Gambar 2.13. Akibat Perubahan Kurva AD 76 Gambar 2.14. Akibat Perubahan Kurva AS 76 Gambar 2.15. Keseimbangan Kurva AS-AD: Keynes 77
Gambar 2.16. Kurva Philips 78
Gambar 2.17. Pembentukan Kurva AS
Berdasarkan Kurva Philips 79 Gambar 2.18. Upah dan Permintaan Tenaga Kerja:
Kaum Monetaris 80
Gambar 2.19. Kurva Penawaran Agregat: Kaum
Ekspektasi Rasional 82
Gambar 2.20. Kurva Penawaran Agregat:
Golongan Keynes Baru 84
Gambar 2.21. Kurva IS-LM: Pandangan
Kerynesian dan Golongan Monetaris 85 Gambar 2.22. Pembentukan Kurva AD Akibat
Penawaran Uang Riil 86
Gambar 2.23. Pembentukan Kurva AS Akibat
Peningkatan Penawaran Uang 87 Gambar 2.24. Efektivitas Kebijakan Moneter 88 Gambar 2.25. Keseimbangan Jangka Pendek dan
Panjang Untuk Kebijakan Moneter 89 Gambar 2.26. Efektivtas Kebijakan Fiskal 91
Gambar 2.27. Keseimbangan Umum Kurva AD-AS 93
Gambar 2.28. Cost Push Inflation 94
Gambar 2.29. Demand Pull Inflation 94 Gambar 2.30. Penawaran Uang Primer 100 Gambar 2.31. Jumlah Uang Beredar dan Inflasi 101 Gambar 2.32. Kebijakan Anggaran Defisit
Dengan Jual Obligasi 102
Gambar 2.33. Kebijakan Anggaran Defisit Dengan
Cetak Uang Baru 103
PEND PEND PEND
PEND PENDAHUL AHUL AHUL AHUL AHULU U U U UAN AN AN AN AN
B
uku ini menyajikan uraian singkat berupa pokok-pokok pembahasan yang berkaitan dengan pembentukan harga pasar untuk barang dan jasa. Tinjauan didasari pada pandangan umum teori ekonomi mikro dan makro.Baik teori ekonomi mikro maupun makro, titik pijaknya masih pada analisis kurva penawaran dan permintaan sebagai dasar pembentukan harga barang dan jasa. Sedangkan unsur lain yang bersifat aspek internal perusahaan maupun aspek kebijakan pemerintah ataupun kondisi pasar, dipandang sebagai kekuatan yang berpengaruh pada sisi penawaran dan permintaan.
Pada bagian pertama dibahas analisis dari sudut pandang mikro ekonomi, yang menekankan peran kurva penawaran dan permintaan di mana titik keseimbangan menggambaran harga dan jumlah barang atau jasa yang diperjual-belikan antara konsumen dan produsen, kemudian aspek lain yang berpengaruh pada pergeseran kurva penawaran dan permintaan maupun titik keseimbangan, misalnya fungsi produksi dan aspek kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan harga dan perpajakan. Di samping bentuk bentuk pasar yang secara langsung berpengaruh besar pada penentuan harga.
Pada bagian kedua dibahas analisis dari sudut pandang makro ekonomi, yang menekankan aspek peran pemerintah dalam mempengaruhi kurva penawaran dan permintaan melalui kebijakan makro ekonomi, yaitu kebijakan moneter dan fiskal
(pada dasarnya pemerintah juga dapat menggunakan instrumen perangkat peraturan untuk mempengaruhi kegiatan perekonomian). Dengan kebijakan tersebut pemerintah mampu mempengaruhi tingkat uang yang beredar, tingkat inflasi dan pengangguran, tingkat suku bunga, tingkat investasi, dan aspek makro ekonomi lainnya sehingga secara langsung akan mempengaruhi kurva penawaran agregat dan permintaan agregat, di mana titik keseimbangan kedua kurva tersebut mencerminkan tingkat harga secara agregat dan keseluruhan produk nasional atau pendapatan nasional.
Secara garis besar, isi buku ini terdiri dari 2 bab utama, yaitu:
ANALISIS PEMBENTUKAN HARGA (1) merupakan pembahasan dari sudut pandang mikro ekonomi, yang terdiri dari sub-bab:
Analisis mikro ekonomi, Analisis permintaan dan penawaran, Teori produksi, Biaya produksi, Bentuk pasar; dan ANALISIS PEMBENTUKAN HARGA (2) merupakan pembahasan dari sudut pandang makro ekonomi, yang terdiri dari sub-bab: Analisis model perubahan harga dan suku bunga, Permintaan agregat (Kurva AD), Penawaran agregat (Kurva AS), Keseimbangan kurva AS ñ AD, Kurva Philips dan penawaran agregat, Kebijakan moneter dan fiskal, dan Pendekatan inflasi.
---Semua masalah menjadi kecil bila terabaikan
I
. Dari Sudut Pandang Mikro Ekonomi
1.1. Analisis Mikro Ekonomi 1.1.1. Pengantar
Teori mikro ekonomi secara umum membahas masalah pokok aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan kelangkahan, yang timbul sebagai akibat dari ketidak-seimbangan antara kebutuhan dan faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat. Kebutuhan masyarakat secara kuantitas tidak terbatas jumlahnya, sebaliknya faktor-faktor produksi yang tersedia untuk dipergunakan memproduksi barang dan jasa terbatas baik secara jumlah maupun dari segi kualitas. Masalah pokok tersebut menyangkut:
ANALISIS ANALISIS ANALISIS ANALISIS ANALISIS
PEMBENTUKAN PEMBENTUKAN PEMBENTUKAN PEMBENTUKAN PEMBENTUKAN HARGA (1)
HARGA (1) HARGA (1) HARGA (1) HARGA (1)
1
11 11
1. Barang dan jasa apa yang akan diproduksi (berkaitan dengan keterbatasan faktor-faktor produksi)
2. Dengan cara apa barang dan jasa diproduksi (berkaitan dengan pelaku/produsen, faktor-faktor produksi dan teknologi)
3. Kepada siapa barang dan jasa (berkaitan dengan distribusi).
Barang diartikan sebagai benda yang dapat dilihat dan diraba, dan sesuatu yang yang tidak dapat dilihat dan diraba, sedangkan jasa diartikan sebagai bentuk pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pada dasarnya analisis ekonomi hendak menjawab permasalahan pokok ìbagaimana caranya menggunakan sumber daya agar dicapai kemakmuran dan kepuasan optimalî, dan ini berarti berkaitan pula dengan masalah harga barang atau jasa yang dihasilkan. Karena itu aktivitas ekonomi memerlukan unsur:
1. Kebutuhan manusia: secara umum kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan, dengan ciri-ciri tidak terbatas dan beraneka ragam.
2. Sumber daya: yang dimaksud adalah sumber-sumber yang dapat menghasilkan barang dan jasa yang mampu untuk memenuhi kebutuhan. Sumber daya secara garis besar, antara lain: Tanah dan sumber alam, Tenaga kerja (tenaga kerja kasar, tenaga kerja trampil, tenaga kerja terdidik), Modal dan keahlian kewirausahaan.
3. Cara produksi: menyangkut kuantitas, cara-cara produksi dan biaya minimal.
1.1.2. Analisis Permintaan dan Penawaran
Teori permintaan dan penawaran menyajikan konsep pembentukan harga dan kuantitas barang atau jasa yang berlaku di pasar sebagai akibat interaksi antara pembeli dan penjual yang menentukan harga keseimbangan atau disebut harga pasar dan kuantitas yang diperjual-belikan. Pada sisi analisis permintaan, menggunakan asumsi bahwa permintaan suatu komoditas
ditentukan oleh harga, sedangkan fakor lain dianggap tidak berubah atau ceteris paribus. Dengan asumsi tersebut, hipotesis yang diajukan adalah semakin rendah harga semakin banyak jumlah komoditas yang diminta, dan sebaliknya. Dengan demikian analisis permintaan dan penawaran merupakan alat untuk memahami:
1. Pengaruh variabel-variabel ekonomi terhadap harga dan kuantitas suatu komoditas.
2. Interaksi antara pembeli dan penjual dalam pembentukan harga dan kuantitas suatu komoditas di pasar.
3. Perilaku produsen dan konsumen dalam proses transaksi 4. Pengaruh intervensi pemerintah terhadap aktivitas pasar
(misal: pajak dan kebijakan harga).
Pasar yang dimaksud adalah pasar komoditas, yaitu interaksi antara pembeli dan penjual terhadap suatu komoditas baik dari segi harga maupun kuantitas yang akan diperjual- belikan. Faktor pasar diartikan sebagai interaksi antara pengusaha dengan pemilik faktor-faktor produksi dalam menentukan harga dan kuantitas faktor-faktor produksi yang akan diperjual-belikan.
Luas pasar merupakan gambaran batas-batas geografis di mana suatu komoditas dapat dimasukkan ke dalamnya, sedangkan industri dalam hal ini diartikan terdiri dari perusahaan perusahaan yang menghasilkan komoditas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Konsumen dalam hal ini sebagai pelaku permintaan atas suatu komoditas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
1. Harga komoditas yang hendak dibeli dan komoditas lain yang terkait (P).
2. Pendapatan rata-rata rumah tangga yang dapat dibelanjakan (Y)
3. Keragaman distribusi pendapatan masyarakat.
4. Cita rasa dari masyarakat (Ts) 5. Jumlah penduduk
6. Persepsi terhadap keadaan mendatang.
Secara matematis fungsi permintaan ditulis sebagai:
QD = f (P,Y, Ts, dan lain-lain)
Kurva permintaan D menggambarkan hubungan antara kuantitas (QD) dan berbagai tingkat harga (P) tertentu dari komoditas yang bersedia dibayar oleh konsumen. Dalam hal ini kurva permintaan merupakan penjumlahan dari permintaan individu-individu terhadap komoditas tersebut untuk berbagai tingkat harga.
Gambar 1.1. Kurva Permintaan P
P1 P2
Q1 Q2 Q
D
Pada kurva permintaan dapat dianalisa berbagai kemung- kinan perubahan yang menyebabnkan perubahan terhadap kuantitas permintaan maupun tingkat harga sebagai berikut:
1. Perubahan sepanjang kurva permintaan:
Perubahan ini disebabkan oleh salah satu variabel, yaitu perubahan harga komoditas yang menyebakan pergeseran kuantitas yang diminta atau perubahan permintaan konsumen (kuantitas) yang menyebabkan pergeseran harga komoditas. Pada dasarnya pengaruh variabel harga lebih dominan dari pada perubahan kuantitas permintaan (sesuai asumsi di atas bahwa variabel lain dianggap ceteris paribus QD = f (P). Mengikuti kurva permintaan yang memiliki kemiringan negatif maka hubungan antara tingkat harga dan kuantitas berlawanan.
Dengan kata lain bila pembeli dapat memperoleh
komoditas dengan harga yang lebih rendah maka kecenderungan kuantitas permintaan pembeli akan meningkat dan sebaliknya.
P
P1
P2
Q1 Q2 Q D
Gambar 1.2. Perubahan Sepanjang Kurva Permintaan 2. Pergeseran kurva permintaan:
Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh faktor faktor selain harga komoditas tersebut. Pergeseran kurva permintaan menyebabkan perubahan satu variabel tidak diikuti oleh variabel lain karena hubungan terjadi antar faktor. Misalnya, pergeseran kurva ke kanan akan menaikan kuantitas permintaan (QîD) atas komoditas tanpa harus diikuti penurunan tingkat harga, sebaliknya pergeseran kurva permintaan ke kiri akan menurunkan kuantitas permintaan (QíD) atas komoditas tanpa harus diikuti kenaikan tingkat harga.
P
P1 P2
Q1 Q2 Q
D
D D
Gambar 1.3. Pergeseran Kurva Permintaan
Kurva permintaan menggambarkan keinginan konsumen atas suatu komoditas pada berbagai tingkat harga. Transaksi jual beli terjadi bila produsen (penjual) memproduksi komoditas yang dimaksud. Sama halnya konsumen dengan kurva permintaan, produsen menawarkan komoditas juga berdasarkan kurva penawaran yang menggambarkan jumlah komoditas yang akan ditawarkan kepada pasar untuk berbagai tingkat harga.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran komoditas pada berbagai tingkat harga, antara lain:
1. Harga komoditas (P)
2. Harga komoditas lain yang berkaitan.
3. Biaya-biaya produksi termasuk tingkat teknologi 4. Tujuan perusahaan
5. Musim 6. dan lain lain
Secara matematis bila penawaran diasumsikan hanya tergantung kepada variabel harga, variabel lain dianggap ceteris paribus, maka:
QS = f (P)
Kurva penawaran bertolak belakang dari kurva permintaan.
Bila kurva permintaan memiliki kemiringan negatif maka kurva penawaran justru memiliki kemiringan positif, artinya semakin
Gambar 1.4. Kurva Penawaran P
P2
P1
Q1 Q2 Q S
tinggi harga komoditas yang dapat diperoleh, semakin banyak kuantitas yang hendak ditawarkan penjual.
Sama halnya kurva permintaan, pada kurva penawaran juga dapat dianalisa berbagai kemungkinan perubahan yang menyebabkan perubahan terhadap kuantitas penawaran maupun tingkat harga sebagai berikut:
1. Perubahan sepanjang kurva penawaran:
Perubahan ini disebabkan oleh salah satu variabel, yaitu perubahan harga komoditas di pasar yang menyebakan pergeseran kuantitas yang ditawarkan penjual (pro- dusen). Walaupun fungsi penawaran diasumsikan hanya mengandung variabel harga dan variabel lain dianggap ceteris paribus (QS = f (P). Namun kuantitas yang ditawarkan penjual dalam hal ini lebih fleksibel diban- dingkan dengan kurva permintaan, karena dari segi penjual selama harga P masih memberikan keuntungan maka kuantitas yang ditawarkan akan cenderung me- ningkat Mengikuti kurva penawaran yang memiliki kemiringan positif maka hubungan antara tingkat harga dan kuantitas yang ditawarkan searah. Dengan kata lain bila pembeli bersedia menaikan harga komoditas maka kecenderungan penjual akan meningkat kuantitas penawaran.
P
P1 P2
Q1 Q2 Q
S
Gambar 1.5. Perubahan Sepanjang Kurva Penawaran
2. Pergeseran kurva penawaran:
Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh faktor faktor selain harga komoditas tersebut. Pergeseran kurva penawaran menyebabkan perubahan satu variabel tidak diikuti oleh variabel lain karena hubungan terjadi antar faktor. Misalnya, pergeseran kurva ke kanan akan menaikan kuantitas penawaran (QîS) atas komoditas tanpa harus diikuti kenaikan tingkat harga yang diharapkan, sebaliknya pergeseran kurva penawaran ke kiri akan menurunkan kuantitas permintaan (QíS) atas komoditas tanpa harus diikuti penurunan tingkat harga.
Pertemuan kurva permintaan yang mewakili keinginan membeli konsumen atas suatu komoditas dan kurva penawaran yang mewakili keinginan menjual produsen atas suatu komoditas akan menentukan harga pasar dan kuantitas komoditas terkaitan.
Dengan kata lain harga pasar merupakan titik keseimbangan dimana penjual dan pembeli sepakat untuk melakukan transaksi atas komoditas tersebut pada kuantitas tertentu. Adapun asumsi yang dipergunakan adalah pasar berbentuk persaingan sempurna dan informasi bersifat simetris, yang ditandai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Komoditas yang dimaksud haruslah homogen
2. Baik penjual dan pembeli, secara perorangan tidak dapat menentukan atau mempengaruhi harga
P
P1 P2
Qs Qs Q S S
S
Gambar 1.6. Pergeseran Kurva Penawaran
3. Tidak ada unsur luar yang dapat memaksa mekanisme pasar (komoditas, harga, penawaran dan permintaan).
Dengan kata lain prinsip ekonomi diterapkan secara benar.
Berdasarkan pergeseran kurva permintaan gambar 1.2 dan 1.3, serta pergeseran kurva penawaran pada gambar 1.5 dan 1.6.
Titik keseimbangan baru dapat menempati salah satu dari empat kemungkinan sebagai berikut:
P
Q P0
Q0
S D
1 2
3 4
Kelebihan Penawaran
Kelebihan Permintaan
Gambar 1.8. Perubahan Titik Keseimbangan
1. Titik P baru lebih tinggi dan titik Q baru lebih rendah Bila penawaran turun dan permintaan naik, di mana penurunan penawaran lebih besar dari pada kenaikam permintaan.
P
Q P0
Q0
S D
Gambar 1.7. Kurva Permintaan dan Penawaran
P P2
P1
E S
S
D D
Q2 Q1 Q
E
Gambar 1.9.a. Perubahan Keseimbangan P Lebih Tinggi Q Lebih Rendah
Bila penawaran dan permintaan turun, di mana penurun- an penawaran lebih besar dari pada penurunan per- mintaan.
P P2
P1
E
S
S
D D
Q2 Q1 Q
E
Gambar 1.9.b. Perubahan Keseimbangan P Lebih Tinggi Q Lebih Rendah
2. Titik P dan Q baru berada pada posisi lebih tinggi Bila penawaran turun dan permintaan naik, di mana penurunan penawaran lebih kecil dari kenaikan permintaan.
Bila penawaran dan permintaan naik, di mana kenaikan penawaan lebih kecil dari kenaikan permintaan.
P P2 P1
E
S S D D
Q2
Q1 Q
E
Gambar 1.10.b. Perubahan Keseimbangan P dan Q Lebih Tinggi
3. Titik P dan Q baru berada pada posisi lebih rendah Bila penawaran naik dan permintaan turun, di mana kenaikan penawaran lebih kecil dari penurunan permintaan.
P P2
P1
E S
S D
D
Q2
Q1 Q
E
Gambar 1.10.a. Perubahan Keseimbangan P dan Q Lebih Tinggi
P
P2
P1 S
S D
D
Q2 Q1 Q
E
E
Gambar 1.11.a. Perubahan Keseimbangan P dan Q Lebih Rendah
Bila penawaran dan permintaan turun, di mana penurunan penawaran lebih kecil dari penurunan permintaan.
P
P2 P1
S D S
D
Q2 Q1 Q
E E
Gambar 1.11.b. Perubahan Keseimbangan P dan Q Lebih Rendah
4. Titik P baru lebih rendah dan titik Q baru lebih tinggi Bila penawaran dan permintaan naik, di mana kenaikan penawaran lebih besar dari kenaikan permintaan
P
P2
P1 S
D S D
Q2
Q1 Q
E E
Gambar 1.12.a. Perubahan Keseimbangan, P Lebih Rendah dan Q Lebih Tinggi
Bila penawaran dan permintaan turun, di mana penurunan penawaran lebih besar dari penurunan permintaan.
P
P2 P1
S D D S
Q2
Q1 Q
E
E
Gambar 1.12.b. Perubahan Keseimbangan, P Lebih Rendah dan Q Lebih Tinggi
Titik keseimbangan di mana antara produsen dan konsumen sepakat melakukan jual-beli sejumlah barang (jasa) pada berbagai tingkat harga. Namun terkadang harga yang berlaku lebih rendah atau lebih tinggi dari titik keseimbangan yang seharusnya sehingga terjadi apa yang disebut sebagai surplus konsumen dan surplus produsen.
P D S
Q Surplus
Konsumen Surplus Produsen
Gambar 1.13. Surplus Konsumen dan Surplus Produsen
Yang dimaksud surplus konsumen adalah harga yang berlaku pada titik keseimbangan (harga pasar) justru lebih rendah dari harga yang bersedia dibayar konsumen. Sehingga surplus konsumen merupakan keuntungan bagi konsumen karena konsumen membeli komoditas dengan harga yang lebih rendah dari yang diharapkan. Sebaliknya surplus produsen adalah harga yang berlaku pada titik keseimbangan (harga pasar) justru lebih tinggi dari harga yang diharapkan. Sehingga surplus produsen merupakan keuntungan bagi produsen karena produsen menjual komoditas dengan harga yang lebih tinggi dari yang diharapkan.
Keseimbangan antara kurva permintaan dan kurva penawaran yang menentukan harga pasar suatu komoditas, karena mekanisme pasar bekerja dengan baik dengan adanya mobilitas semua faktor ekonomi dan adanya informasi yang simetri, namun keseimbangan dapat terganggu oleh campur tangan pemerintah, misalnya dengan cara menetapkan harga (harga terendah atau harga tertinggi), pajak, dan subsidi.
Kebijakan pemerintah menetapkan harga terendah (floor price) bertujuan menaikkan jumlah penawaran atau mengurangi permintaan dan untuk menciptakan surplus di pasar. Kebijakan harga terendah mirip dengan surplus produsen karena harga pasar lebih tinggi dari titik keseimbangan atau yang diharapan produsen, dengan demikian produsen akan menaikkan kuantitas penawaran untuk mengambil keuntungan lebih bila memungkin-
kan atau sebaliknya konsumen yang mengurangi permintaan karena harga terendah lebih tinggi dari seharusnya. Dengan demi- kian apapun langkahnya akan menciptakan surplus di pasar.
P
P1 D S
Q2
Q1 Q
Harga Batas Bawah
Surplus
Gambar 1.14. Kebijakan Harga Terendah
Kebalikannya adalah kebijakan pemerintah menetapkan harga tertinggi (ceiling price). Kebijakan ini mirip dengan surplus konsumen karena harga pasar lebih rendah dari titik keseim- bangan atau yang seharusnya dibayar konsumen untuk membeli komoditas tersebut. Tujuan dari kebijakan ceiling price jelas untuk melindungi konsumen dan akibatnya adalah permintaan naik (karena harga lebih murah), penawaran turun (produsen dirugikan) dan terjadi kekurangan komoditas di pasar.
P
P1 D S
Q2
Q1 Q
Surplus
Shortage Harga Batas Atas
Gambar 1.15. Kebijakan Harga Tertinggi
Sedangkan kebijakan pajak dan subsidi memberikan dampak pada kenaikan harga jual dan penurunan harga jual, sehingga mempengaruhi kuantitas permintaan. Bila harga jual akibat beban pajak menjadi lebih tinggi maka konsumen akan mengurangi kuantitas permintaan (menggeser kurva permintaan ke kiri) sebaliknya bila pemerintah melakukan subsidi dimana harga juga akan lebih rendah, akan berpengaruh pada peningkatan permintaan komoditas oleh konsumen (menggeser kurva permintaan ke kanan).
1.1.3. Teori Produksi
Masyarakat memerlukan komoditas tertentu, dan fungsi produksi dalam arti keseharian dimaksudkan sebagai proses perubahan faktor-faktor produksi (masukan) menjadi barang atau jasa (komoditas tertentu; keluaran, Q). Faktor faktor produksi antara lain berupa modal (K) , tenaga kerja (L), tanah, sumber alam (X), teknologi dan kewirausahaan. Secara matematis dapat ditulis dalam bentuk fungsi sebagai berikut:
Q = f (K, L, X,ÖÖÖ)
Pada umumnya, untuk tujuan kesederhanaan analisis, fungsi produksi hanya menggunakan variabel modal (K) dan tenaga kerja (L) sebagai masukan.
Q = f (K, L)
Contoh fungsi produksi dengan menggunakan dua variabel masukan yang sangat dikenal dalam analisis adalah persamaan Cobb Douglas Q = aKâLá.
Dalam analisis proses produksi, jangka waktu kegiatan produksi dibedakan: jangka pendek bila faktor faktor produksi jumlahnya bersifat tetap misalnya mesin-mesin dan bangunan (gedung); jangka panjang bila faktor faktor produksi (variabel masukan) dapat mengalami perubahan, dalam arti jumlah dapat
produsen akan menaikkan kuantitas penawaran untuk mengambil keuntungan lebih bila memungkinkan atau sebaliknya konsumen yang mengurangi permintaan karena harga terendah lebih tinggi dari seharusnya. Dengan demikian apapun langkahnya akan menciptakan surplus di pasar.
P
P1 D S
Q2
Q1 Q
Harga Batas Bawah Surplus
Gambar 1.14. Kebijakan Harga Terendah
Kebalikannya adalah kebijakan pemerintah menetapkan harga tertinggi (ceiling price). Kebijakan ini mirip dengan surplus konsumen karena harga pasar lebih rendah dari titik keseimbangan atau yang seharusnya dibayar konsumen untuk membeli komoditas tersebut.
Tujuan dari kebijakan ceiling price jelas untuk melindungi konsumen dan akibatnya adalah permintaan naik (karena harga lebih murah), penawaran turun (produsen dirugikan) dan terjadi kekurangan komoditas di pasar.
P
P1 D S
Q2
Q1 Q
Surplus
Shortage Harga Batas Atas
Gambar 1.15. Kebijakan Harga Tertinggi
Sedangkan kebijakan pajak dan subsidi memberikan dampak pada kenaikan harga jual dan penurunan harga jual, sehingga mempengaruhi kuantitas permintaan. Bila harga jual akibat beban pajak menjadi lebih tinggi maka konsumen akan mengurangi kuantitas permintaan (menggeser kurva permintaan ke kiri) sebaliknya bila pemerintah melakukan subsidi dimana harga juga akan lebih rendah, akan berpengaruh pada peningkatan permintaan komoditas oleh konsumen (menggeser kurva permintaan ke kanan).
1.1.3. Teori Produksi
Masyarakat memerlukan komoditas tertentu, dan fungsi produksi dalam arti keseharian dimaksudkan sebagai proses perubahan faktor- faktor produksi (masukan) menjadi barang atau jasa (komoditas tertentu;
keluaran, Q). Faktor faktor produksi antara lain berupa modal (K) , tenaga kerja (L), tanah, sumber alam (X), teknologi dan kewirausahaan.
Secara matematis dapat ditulis dalam bentuk fungsi sebagai berikut:
Q = f (K, L, X,ÖÖÖ)
Pada umumnya, untuk tujuan kesederhanaan analisis, fungsi produksi hanya menggunakan variabel modal (K) dan tenaga kerja (L) sebagai masukan.
Q = f (K, L)
Contoh fungsi produksi dengan menggunakan dua variabel masukan yang sangat dikenal dalam analisis adalah persamaan Cobb Douglas Q = aKâLá.
Dalam analisis proses produksi, jangka waktu kegiatan produksi dibedakan: jangka pendek bila faktor faktor produksi jumlahnya bersifat tetap misalnya mesin-mesin dan bangunan (gedung); jangka panjang bila faktor faktor produksi (variabel masukan) dapat mengalami perubahan, dalam arti jumlah dapat dikurangi maupun ditambahkan sesuai tujuan perubahan, misalnya kapasitas produksi dapat
ditingkatkan dengan menambah jumlah mesin atau merombak, dan menambah keragaman komoditas produksi. Kombinasi berbagai variabel masukan dengan hasil keluaran yang sama disebut isoquant.
K
∆K1
∆K2
A
B
∆L1 ∆L2 L
Isoquant
Gambar 1.16. Kurva Isoquant
Kemiringan kurva isoquant menunjukkan berapa variabel K dan variabel L dapat diubah-ubah bersamaan untuk menghasilkan tingkat keluaran (output) yang sama, atau dikenal sebagai marginal rate of technical substitution (MRTS) yang didefinisikan sebagai:
Dengan ∆K1 >∆K2 >∆K3 maka MRTS mengecil dari A ke B. MP (marginal product) menunjukkan perubahan kuantitas produksi akibat perubahan penggunaan satu satuan variabel faktor produksi. MPK (marginal product of capital) menunjukkan perubahan Q terhadap setiap perubahan modal K yang dipergunakan untuk menghasilkan Q.
MPL (marginal product of labor) menunjukkan perubahan Q terhadap setiap perubahan tenaga kerja L yang dipergunakan untuk menghasilkan Q, ini berbeda dengan APL (average product of labor = Q/L) yang menunjukkan rata-rata produk yang dihasilkan tenaga kerja L. Berkaitan dengan APL perlu dipahami hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang (the law of dimisnishing marginal return) yang diartikan bila
variabel fakor produksi L terus menerus ditambah, tidak selalu diikuti pertambahan produksi total, karena pada tingkat tertentu pertambahan produksi akan menurun dan pada akhirnya mencapai nilai negatif.
L1 Q2 Q3
Q1 Q
0
0 L2 L3 MP L
APL
L
I II III
TP
Gambar 1.17. The Law of Diminishing Marginal Return
Secara matematis, kondisi ini dapat dijelaskan sebagai berikut : suatu fungsi y = f(x) akan mencapai titik maksimum bila turunan pertama sama dengan nol atau yí = 0, sehingga Q, APL, MPL mencapai nilai maksimum bila Qí = 0, APLí= 0, APLí= 0. Pada gambar di atas tampak bahwa MPL memotong APL pada saat APL maksimum karena berlaku hukum diminishing, dimana MPL naik APL juga naik dan selama MPL > APL maka ketika MPL turun APL masih naik, sebaliknya bila MPL < APL maka MPL turun akan diikuti APL. APmencapai nilai maksimum dikatakan produksi mencapai efisiensi teknis karena pemakaian faktor produksi pada kondisi tersebut memberikan hasil paling tinggi. Pemahaman ini berbeda dengan konsep efisiensi ekonomis yang menekankan keuntungan maksimum. Secara umum perusahaan yang beroperasi pada efisiensi teknis akan lebih mungkin mencapai efisiensi ekonomi walaupun tidak selalu demikian karena ada kaitan
dengan ragam produk dan pola distribusi maupun persaingan di pasar disamping biaya internal.
Konsep efisiensi teknis perlu dikaitan dengan konsep elastisitas produksi, yang mendefinisikan perbandingan perubahan relatif keluaran Q terhadap perubahan relatif fakor produksi masukan yang dipergunakan misalnya L.
Dari rumus dan gambar terakhir dapat dirangkum sebagai berikut:
Berkaitan dengan efisiensi teknis, perlu dipahami pula konsep skala pengembalian yang menunjukkan keterkaitan antara perubahan faktor produksi masukan secara bersama-sama terhadap perubahan keluaran Q. Konsep ini berbeda dengan economic of scale yang menekankan skala produksi besar untuk mencapai hasil ekonomis, namun bila kapasitas produksi optimal sudah dilampaui maka penambahan produksi justru akan meningkatkan biaya produksi yang memberikan hasil tidak optial.
Misalnya persaman fungsi produksi Cobb Douglas yang ditulis:
Penjumlahan pangkat menunjukkan signifikansi ekonomi yaitu skala pengembalian, bila:
1. > 1 berarti skala pengembalian membesar, kenaikan x%
faktor produksi masukan akan diikuti kenaikan keluaran Q lebih dari x%.
2. = 1 berarti skala pengembalian konstan, kenaikan x%
faktor produksi masukan akan diikuti kenaikan keluaran Q secara proposional.
3. < 1 berarti skala pengembalian mengecil, kenaikan x%
faktor produksi masukan akan diikuti penurunan keluaran Q lebih dari x%.
Economic of scale yang berhubungan dengan kapasitas produksi optimal secara langsung berkaitan dengan biaya produksi yang tidak lain menunjukkan penggunaan dana minimal untuk mencapai hasil keluaran Q tertentu. Dalam hal ini perusahaan dapat memilih kombinasi faktor faktor produksi masukan agar tercapai kemiringan kurva isoquant sama dengan kemiringan kurva isocost.
Konsep isocost menggambarkan penggunaan sejumlah dana (C) yang tersedia oleh sebuah perusahaan untuk membelanjakan berbagai faktor produksi masukan Misalnya K dan L. Dengan kata lain pengadaan faktor faktor produksi berhubungan dengan kendala biaya yang ada.
C = w.L + r.K
w dan r adalah gaji persatuan tenaga kerja dan biaya sewa persatuan unit mesin. L dan K adalah jumlah tenaga kerja dan jumlah capital atau modal. Persamaan C dapat dibawa kepada fungsi L sebagai variabel dinamis yang mudah diubah-ubah untuk substitusi variabel K sebagai berikut:
K = C/r – (w/r).L Kemiringan kurva isocost adalah:
K
L
c/r
c/w Isocost
K= -c wL r r
Gambar 1.18. Kurva Isocost
Dengan demikian persamaan di mana keadaan kapasitas produksi optimal tercapai adalah:
M RTS = ∆K / ∆L
= (∆Q/∆L) /(∆Q/∆K)
= MPL/ MP
K
dan ; sehingga:
Kemiringan kurva Isoquant = Kemiringan kurva Isocost
M RTS = äK / äL M PL/ MP
K = w / r M PL/ w = MP
K /r
Hasil terakhir ini dikenal sebagai golden rule of cost minimization.
Manfaat dan penafsiran pemakaian persamaan diatas adalah perusahaan dapat menghemat biaya produksi bila:
1. MPL/ w > MPK / r
L diperbanyak atau K dikurangi
2. MPL/ w < MPK / r
K diperbanyak atau L dikurangi
Persamaan dapat diperluas untuk faktor produksi lebih dari dua dengan menyamakan perbandingan dari semua marginal produk terhadap harga masing masing.
MP1 /P1 = MP2 /P2 = Ö Ö Ö Ö Ö Ö . = M Pn /Pn
Sedangkan jalur ekspansi adalah garis yang menghubungkan titik-titik kombinasi faktor faktor produksi yang memberikan hasil keluaran optimal.
K
L
TC3/r
TC2/r
TC1/r
K1
TC1/w
L1 TC2/w TC3/w
IQ1 IQ2
IQ3 Jalur Ekspansi
Gambar 1.19. Kurva Jalur Ekspansi.
1.1.4. Biaya Produksi
Dalam analisis ekonomi, biaya produksi dipahami sebagai biaya perolehan untuk menghasilkan sejumlah hasil keluaran (output) yang berasal dari sejumlah faktor produksi masukan (biaya input). Biaya ini disebut biaya korbanan (opportunity cost) yang terdiri dari biaya eksplisit yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar faktor-faktor produksi yang tercatat secara akuntansi dan biaya implisit yang diartikan bahwa input tersebut dapat dipakai untuk memproduksi output lain atau dipakai
di tempat lain. Biaya produksi dibedakan biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. Biaya jangka pendek meliputi input tetap (faktor- faktor produksi tetap) yang dicirikan adanya biaya tetap. Yang termasuk biaya pendek adalah:
1. Biaya tetap total ( TFC = total fixed cost) : biaya ini bersifat tetap tidak terpengaruh pada jumlah output (hasil keluaran).
2. Biaya variabel total (TVC = total variabel cost) : biaya ini berkaitan dengan penggunaan faktor masukan (input) dan perubahan jumlah hasil keluaran (output).
3. Biaya total (TC = total cost): merupakan jumlah TFC dan TVC 4. Biaya marjinal (MC = marginal cost). Didefinisikan sebagai perubahan biaya total akibat perubahan jumlah output sebanyak satu satuan.
MC = ∆TC / ∆Q
5. Biaya tetap rata-rata (AFC = average fixed cost): Biaya rata-rata tetap yang dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan output.
AFC = TFC / Q
6. Biaya variabel rata-rata (AVC = average variabel cost): Biaya rata-rata variabel yang dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan output.
AVC = TVC / Q
7. Biaya total rata-rata (AC =average cost): Biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan output.
AV = TC / Q
= (TFC + TVC ) / Q
= AFC + AV C
Untuk analisis biaya jangka pendek. Fungsi produksi hanya menghubungkan keluaran Q dengan sejumlah faktor produksi masukan yang bersifat variabel karena biaya tetap tidak berubah. Misalnya faktor produksi masukan hanya terdiri dari dua variabel saja yaitu K (dianggap sebagai biaya tetap) dan L (sebagai variabel).
Q = f (K, L) Biaya total:
TC = K. r + L. w = TFC + TVC
Q2
Q1
TVC Tp
Input (Q)
Biaya (VC) VC2 VC1 VI1 VI2 Input (VI) Gambar 1.20. Kurva Produksi vs Kurva Biaya
Dari persamaan biaya total, suku TVC = L. w, bila dibagi Q dan menggantikan L/Q dengan 1/APL, maka diperoleh:
TVC = L. w TVC/Q = w. L/Q AV C = w / APL
Mengikuti hukum diminishing maka pada daerah dimana APL menurun, kurva AVC naik karena w dibagi faktor APL yang semakin mengecil. Sebaliknya pada daerah di mana APL naik, AVC menurun.
Dengan demikian APL maksimum pada titik AVC minimum. Jadi kurva AVC berbentuk U (kurva AC dan MC juga berbentuk U sesuai hukum diminishing).
Walaupun kurva AC juga berbentuk U, namun titik minimumnya lebih tinggi dari AVC, karena komponen AC terdiri dari komponen AVC dan AFC, dimana pada saat AVC berada pada titik minimum, komponen AFC masih turun. AC naik setelah tercapai kenaikan AVC lebih besar dari penurunan AFC.
Kurva MC (juga kurva MP) berbentuk U karena pada saat tingkat output masih rendah, penambahan faktor produksi masukan atau input akan menambah kenaikan keluaran atau output yang besar ( MP naik), akan tetapi penambahan input lebih lanjut akan menyebabkan kenaikan output semakin menurun. Dengan kata lain biaya tambahan yang diperlukan untuk menghasilkan tambahan satu satu output masih kecil bila tingkat output rendah, namun semakin tinggi tingkat output, biaya tambahan untuk menghasilkan satu satuan tambahan output akan semakin besar. Ini sesuai hukum diminishing. Keterkaitannya dapat diringkas sebagai berikut:
1. Bila marginal product naik, marginal cost turun
2. Bila marginal product maksimum, marginal cost minimum 3. Bila marginal product turun, marginal cost naik.
Karena TFC konstan maka MC dapat didefinisikan sebagai perubahan biaya variabel terhadap perubahan satu satuan pada output.
MC = ∆TVC / ∆Q
Sesuai contoh di atas bahwa biaya variabel muncul dari pemakaian tenaga kerja L, sehingga ∆TVC = w. ∆L, sedangkan MPL = ∆Q/ ∆L sehingga persamaan MC dapat ditulis sebagai:
M C = w. ∆L/ ∆Q
= w / (∆Q/ ∆L)
= w / MP
L
Untuk biaya jangka panjang, semua variabel faktor produksi masukan atau input bersifat variabel sehingga hanya ada satu kurva biaya total yang disebut biaya total jangka panjang (LTC= long run total cost). Dalam analisis jangka pendek, kurva AC berbentuk U karena hukum diminishing sedangkan untuk jangka panjang LAC berbentuk U karena efek return of scale, yaitu perubahan keluaran yang disebabkan oleh perubahan semua faktor produksi masukan pada proporsi yang sama. Return of scale meningkat untuk tingkat produk rendah atau pada awalnya, yang berarti biaya rata-rata menurun, sedangkan return of scale menurun untuk tingkat produksi tinggi atau setelahnya, yang berarti biaya rata-rata naik. Daerah dimana biaya rata-rata LAC turun dan keluaran Q meningkat disebut skala ekonomis (economics of scale) sedangkan daerah dimana biaya rata-rata LAC naik dan keluaran Q menurun disebut skala tidak ekonomis (dis-economics of scale).
TC
MC AC
LTc
Output Q
Output Q LMC
L
Gambar 1.21. Kurva Biaya Jangka Panjang
LAC
Output Q Biaya
Skala Tidak Ekonomis Skala
Ekonomis
Gambar 1.22. LAC dan Skala Ekonomi
Baik jangka pendek maupun jangka panjang, laba operasional perusahaan ditentukan oleh dua item, yaitu penerimaan (TR= total revenue) dan biaya (TC = total cost), dimana selisihnya dikatakan sebagai laba bagi perusahaan. Jadi berdasarkan pemikiran ini laba maksimum perusahaan ditentukan oleh perubahan penerimaan dan perubahan biaya dengan syarat perubahan laba sama dengan nol atau turun pertama dari persamaan laba sama dengan nol.
∆ /∆Y = ∆TR/∆Y – ∆TC/∆Y = 0 M R = ∆TR/∆Y
M C = ∆TC/∆Y 0 = MR - MC M R = MC 1.1.5. Bentuk Pasar
1.1.5.1. Bentuk Pasar Persaingan Sempurna.
Untuk memahami perusahaan yang beroperasi pada pasar persaingan sempurna, secara umum dapat melihat sifat-sifat bentuk pasar dengan persaingan sempurna sebagai berikut:
1. Ada kesamaan komoditas yang diperdagangkan atau bersifat homogen sehingga tidak tergantung siapa yang menjual melainkan sepenuhnya tergantung pada harga.
2. Pelaku baik penjual maupun pembeli sedemikian banyak sehingga tidak ada pelaku perorangan yang bisa mempengaruhi harga secara sendiri.
3. Perusahaan bertindak sebagai price taker yaitu menerima harga pasar yang ada.
4. Tidak ada paksaan dari pihak luar dalam bentuk apapun.
5. Ada informasi tentang harga yang simetris.
6. Mobilitas semua faktor ekonomi berjalan sesuai dengan prinsip- prinsip ekonomi.
7. Tidak terdapat kendala bagi perusahan untuk masuk dan keluar dari industri terkait.
Pada kenyataan, tidak ada pasar bentuk persaingan sempurna, namun model persaingan sempurna menjadi bahan analisis penting karena secara struktur merupakan bentuk yang paling ideal dengan efisiensi yang tinggi.
Kurva permintaan untuk pasar persaingan sempurna berupa garis elastis sempurna, yaitu garis horizontal pada titik harga tertentu beapapun kuantitas yang diminta (bersifat price taker), karena begitu produsen menaikkan harga, pembeli akan membeli dari produsen lain karena produk yang ditawarkan bersifat homogen dan terdapat banyak pelaku di pasar sehingga memungkinkan pembeli membeli dari produsen lain.
TC
MC AC
LTc
Output Q
Output Q LMC
L
Gambar 1.23. Kurva Permintaan Pasar Persaingan Sempurna
Akibat dari kurva permintaan yang berupa garis elastis sempurna untuk pasar persaingan sempurna karena bersifat price taker, maka berlaku kondisi D=AR=MR=P. Garis TR yang berasal dari perkalian P.Q akan berupa garus lurus bermula dari titik nol, MR yang merupakan tambahan hasil penjualan yang didapat perusahaan bila menjual satu unit tambahan komoditas. Karena garis permintaan berupa garis elastic maka berapa kuantitas yang dijual, tambahan yang diperoleh akan sebanding dengan harga P:
M R = ∆TR / ∆Q
= ∆(P.Q)/ ∆Q
= P(∆Q)/ ∆Q
= P
Demikian pula AR yang berupa rata-rata pendapatan dari hasil penjualan akan sebesar P karena total penjualan adalah P.Q, sedangkan rata-rata penjualan didapat dar hasil bagi P.Q dengan Q sehingga diperoleh P.
T R = P.Q A R = TR/Q
= P.Q/Q
= P P
TR
Q AR=MR
Gambar 1.24. Kurva AR,MR dan TR Untuk Pasar Persaingan Sempurna
Untuk perusahaan pada pasar persaingan sempurna dimana perusahaan bisa masuk dan keluar tanpa kendala, maka bila terdapat keuntungan diatas normal akan mengundang perusahaan lain masuk, sebaliknya bila harga penjualan komoditas menunjukkan kerugian akan menyebabkan perusahaan tertentu meninggalkan lapangan persaingan.
Analisis pemaksimalan keuntungan untuk jangka pendek adalah : laba perusahaan ditentukan oleh selisih dua item, yaitu penerimaan (TR=
total revenue) dan biaya (TC = total cost), ila selisihnya positif dikatakan perusahaan memperoleh laba. Jadi berdasarkan pemikiran ini laba maksimum perusahaan ditentukan oleh perubahan penerimaan dan perubahan biaya dengan syarat perubahan laba sama dengan nol atau turun pertama dari persamaan laba sama dengan nol.
= TR – TC
∆ /∆Y = ∆TR/∆Y – ∆TC/∆Y = 0 M R = ∆TR/∆Y
M C = ∆TC/∆Y 0 = MR - MC M R = MC
Output Q TFC
Satuan Uang
-TFC
TC TR
Q1 Q2 Q3 T1 MR=A
I
Gambar 1.25. Pemaksimalan Keuntungan Untuk Jangka Pendek
(Output) Satuan Uang
MC
Q1 Q2 Q3
AC AVC C
A B
P=MR=AR
Q Gambar 1.26. Kurva MR,MC,ATC dan AVC
Bila MC < MR menunjukkan keuntungan bagi perusahaan belum maksimum sehingga perusahaan akan menaikkan produksi untuk meningkatkan keuntungan. Sebalilknya bila MC > MR perusahaan berada pada kondisi mengalami kerugian atau keuntungan berkurang sehingga perusahaan akan mengurangi produksi. Dari dua kondisi di atas jelas bahwa perusahaan akan memperoleh keuntungan maksimum bila MC=MR sebagaimana penjabaran di atas.
Pada jangka pendek terdapat tiga kemungkinan operasional perusahaan pada pasar persaingan sempurna sebagai berikut :
1. TC < TR : Perusahaan mengalami keuntungan
2. TC = TR : Perusahaan berada pada kondisi kembali modal atau break Even Point
3. TC > TR : Perusahaan mengalami kerugian
Untuk kasus TC > TR, dapat terjadi keuntungan perusahaan bersifat normal atau diatas normal. Secara jangka pendek keuntungan diatas normal dapat terjadi namun secara jangka panjang hal ini tidak mungkin terjadi karena pada pasar persaingan sempurna, perusahaan dapat keluar masuk secara bebas. Ketika harga pasar (permintaan) memungkinkan perusahaan mengambil keuntungan, akan mengundang perusahaan diluar masuk menambah penawaran yang pada akhirnya menyebabkan harga turun sampai pada tingkat tertentu dimana akan mengurangi keuntungan perusahaan sampai tercapai kondisi TC=TR.
(Komoditas) P, C
Q0 Q P0
B A
MC ACAVC D=MR=AR E
Gambar 1.27. Kurva Keuntungan Diatas Normal
Pada kasus perusahaan mendapat keuntungan diatas normal, dalam arti keuntungan maksimum, maka MC=MR. pada gambar diatas tampak jelas perpotongan terjadi pada titik E. pada titik E harga pasar untuk komoditas tersebut adalah P0 dan kuantitas yang diperlukan untuk mencapai keuntungan maksimm adalah Q0. TR dari penjualan adalah Q0.P0. pada titik keseimbangan tersebut (titik E) tarik garis vertical ke
bawah memotong kurva AC pada titik A. Kemudian dari titik A tarik garis horizontal memotong sumbu harga pada titik B. Titik B merupakan biaya rata-rata untuk memproduksi komoditas tersebut sehingga TC = Q0.B. Selisih antara TR ñ TC adalah keuntungan diatas normal bagi perusahaan karena berada di atas kurva AC.
(Komoditas) P, C
Q1 Q
P1 1
MC AC E AVC
D=MR=AR
Gambar 1.28. Kurva Keuntungan Normal
Sebagaimana disinggung di atas bahwa secara jangka panjang, masuknya perusahaan akan menambah penawaran dan menurunkan harga komoditas sampai tercapai kondisi TC=TR atau keuntungan normal. Keuntungan normal terjadi bila perpotongan kurva harga komoditas (sama kurva MR) dengan kurva MR terletak pada titik minimum kurva AC. Pada titik keseimbangan E1(P1, Q1), terjadi TC = TR dan keuntungan bagi perusahaan berupa biaya tersembuyi (implicit cost).
Pada kasus terakhir adalah perusahaan mengalami kerugian atau TC > TR. Dalam hal ini ada dua kemungkinan yaitu merugi tetapi masih mampu menutup biaya variabel dan perusahaan membubarkan diri.
(Komoditas) P, C
Q2 Q
P2
MC
AC AVC E
D=MR=AR
B E2
Gambar 1.29. Perusahaan Rugi Dan Masih Bisa Tutup AVC
(Komoditas) P, C
Q3 Q
P3
MC AC AVC
D=MR=AR E3
Gambar 1.30. Perusahaan Rugi Dan Membubarkan Diri
Bila TC > TR tetapi perpotongan kurva P (MR) dan MC masih terletak diatas kurva AVC, misalnya pada titik keseimbangan E2 (P2, Q2). TR = P2. Q2 dan TC = B, Q2 akibatnya perusahaan mengalami kerugian sebesar (B-P2).Q2. Walaupun terjadi kerugian tetapi TR masih bisa menutup biaya variabel sehingga perusahaan masih bisa beroperasi.
Sebaliknya bila harga P terus menurun, misalnya titik perpotongan kurva P (MC) dan MR terletak dibawah kurva AVR. Misalnya pada titik keseimbangan E3 (P3, Q3). Pada titik E3 harga permintaan komoditas P2
berada di bawah biaya produksi sehingga bila perusahaan bersikeras bertahan akan terus mengalami kerugi sebesarP3.Q3 ñ TC.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kurva permintaan yang menempatkan kurva P elastis sempurna pada berbagai tingkat harga Px dan kuantitas Qx akan memberikan berbagai kemungkinan keuntungan sebagai berikut:
(Komoditas) P, C
Q2 Q
P2
MCAC AVC D = MR = AR4 4 4
E1 P4
P3
P1
Q1 Q3 Q4 E2
E3 E4
D = MR = AR3 3 3 D = MR = AR2 2 2 D = MR = AR1 1 1
Gambar 1.31. Kurva Keseimbangan Perusahaan
1. P4 > AC akan memberikan keuntungan diatas normal 2. P3 = AC akan memberikan keuntungan normal
3. AVC P2 < AC akan mengalami kerugian tetapi masih dapat beroperasi
4. P < AVC akan menyebabkan perusahaan membubarkan diri.
Pada pasar persaingan sempurna, bila terjadi perubahan permintaan, misalnya kurva permintaan bergeser ke kanan dari D ke Dí. walaupun kurva harga bersifat elastis sempurna, namun pada jangka pendek. Titik keseimbangan semula terletak pada perpotongan antara kurva permintaan Ddan S pada titik E(P1,Q1). Pada sisi lain, setelah pergeseran D ke Dí, harga yang terbentuk P2 berpotongan dengan kurva MC pada titik E2(P2,Q2) yang terletak di atas kurva AC. Dengan kata lain memberikan keuntungan kepada perusahaan di atas normal, hal
ini mengundang minat perusahaan baru masuk pasar sehingga menaikkan kuantitas penawaran atau menggeser kurva S ke Sí. Kurva Sí memberikan titik keseimbangan pada titik E1(P1, Q1) yang artinya harga keseimbangan baru kembali ke semula P1, atau secara jangka panjang perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal saja.
P
Q2 Q P2
MC AC E1
P1
Q1 E2 P
E
D DI S
SI EI
EII
Gambar 1.32a. Dampak Kenaikan Permintaan
Sebaliknya dampak perubahan penurunan permintaan akan menggeser kurva D ke Dí. Pada jangka pendek, titik keseimbangan yang berbentuk setelah pergeseran D ke Dí adalah E2(P2,Q2). Harga komoditas P2 memotong kurva MC berada di bawah kurva AC yang berarti perusahaan mengalami kerugian. Kerugian ini menyebabkan sebagian perusahaan meninggalkan pasar persaingan sehingga secara kuantitas, jumlah penawaran akan berkurang sehingga menggeser kurva S ke Sí dimana titik keseimbangan kembali ke semula pada E1(P1,Q1), atau dengan kata lain harga keseimbangan baru kembali ke semula yang memberikan keuntungan normal kepada perusahaan secara jangka panjang.
P
Q2 Q
P2
MC AC E1
P1
Q1 E2 E
D DI S
SI
EI EII
P
Gambar 1.32b. Dampak Penurunan Permintaan
Tingkat keuntungan sangat tergantung pada posisi kurva AC tiap perusahaan atau industri terkait. Dalam hal ini dapat dikelompokan:
industri dengan biaya tetap, industri dengan biaya meningkat dan industri dengan biaya menurun.
Pada industri dengan biaya tetap memiliki karakteristik yang dicirikan oleh kurva penawaran jangka panjang yang elastis sempurna atau garis horizontal. Dengan kata lain perusahaan dapat melakukan menyesuaikan terhadap waktu dengan mengembangkan industri terkait tanpa meningkatkan harga di sepanjang kurva penawaran jangka panjang.
Pada industri dengan biaya tetap, yang terjadi bukan peningkatan biaya faktor produksi per unitnya melainkan akibat peningkatan output Q yang disertai kebutuhan akan penambahan penggunaan faktor-faktor produksi terkait. Jadi jelas harga komoditas akan kembali ke normal mendahului tingkat keuntungan perusahaan yang juga kembali ke posisi normal.
Satuan Uang
Q2 Q
P2
SMC
E1 P1
Q1 E2 MR = AR2 2
MR = AR1 1
LMC LAC
Gambar 1.33. Kurva AC Industri Dengan Biaya Tetap.
Untuk industri dengan biaya meningkat, sepintas mudah disimpulkan bahwa untuk mencegah kerugian, kenaikan biaya perlu disertai peningkatan harga komoditas, karena kenaikan biaya jelas akan menggeser kurva AC keatas dari LAC menjadi LAC*. Jadi pada pasar persaingan sempurna, industri dengan biaya meningkat memiliki kurva penawaran dengan kemiringan positif dimana harga pasar P** pada titik keseimbangan jangka panjang C (cost) lebih tinggi dari harga pasar komoditas semula P. Kenaikan biaya disebabkan oleh berkembangnya industri yang disertai peningkatan output Q yang mendorong kenaikan harga faktor-faktor produksi.
Satuan Uang
Q MR = AR1 1
MR = AR2 2 MR = AR P
P*
P**
LAC*
EI EII
LAC SMC SMC*
Gambar 1.34. Kurva AC Industri Dengan Biaya Meningkat.
Sebaliknya industri dengan biaya menurun merupakan ciri-ciri industri yang bergerak secara global, yang boleh dikatakan memiliki sifat konsep pasar persaingan sempurna yang mencerminkan tingkat efisiensi ekonomis dan teknis yang tinggi karena dukungan manajemen dan teknologi yang baik. Dengan demikian industri dengan biaya menurun memiliki kurva penawaran jangka panjang dengan kemiringan negatif. Hal ini dimungkinkan karena industri tersebut melakukan penyesuaian terhadap peningkatan permintaan dengan menaikkan output disertai penurunan kurva biaya, sehingga titik keseimbangan jangka panjang menghasilkan harga pasar yang lebih rendah dan kuantitas yang lebih tinggi.
Kurva AC yang berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan (untuk pasar persaingan sempurna, bersifat price taker, perusahaan tidak dapat menaikkan TR dengan menaikkan harga P) tidak semata-mata berasal dari internal perusahaan tetapi dapat bersumber dari luar, misalnya kebijakan pemerintah dalam hal pajak. Pada dasarnya pajak akan menaikkan harga penawaran (jual) sehingga akan menurunkann permintaan. Bila perusahaan ingin mempertahankan kuantitas penawaran maka perusahaan harus menanggung sebagian atau keseluruhan pajak, akibatnya kurva AC akan bergeser keatas dan mengurangi keuntungan perusahaan. Sebaliknya bila beban pajak ditanggung pihak konsumen, maka akibatnya akan terjadi penurunan permintaan, yang pada akhirnya akan juga berpengaruh pada TR dan mengurangi keuntungan perusahaan.
P1 P
P
Q1 Q2
P
Q Q
}
SIS Pajak
P=PI
S=SI EI
E Pajak
Gambar 1.35. Pengaruh Beban Pajak Pada Titik Keseimbangan
1.1.5.2. Bentuk Pasar Monopoli
Bentuk pasar monopoli merupakan bentuk pasar extrim pada kutub lainnya yang berseberangan dengan bentuk pasar persaingan sempurna. Dimana pada pasar persaingan sempurna diasumsikan terdiri dari banyak produsen sehingga bersifat price taker, sedangkan pada bentuk pasar monopoli, produsen hanya satu dan diasumsikan tidak mungkin terjadi substitusi sempurna terhadap komoditas yang ditawarkan. Dengan demikian pada bentuk pasar monopoli, harga komoditas ditentukan atas kebijakan produsen monopolis, misalnya dengan diskriminasi harga.
Munculnya bentuk pasar monopoli dapat disebabkan oleh faktor:
skala ekonomis yang menyangkut efisiensi dan kuantitas produksi, kepemilikan atas sumber daya tertentu dan adanya pelindungan oleh undang-undang maupun hak cipta. Ciri bentuk pasar monopoli antara lain:
1. Karena tidak ada substitusi sempurna dan hanya ada satu produsen, syarat syarat penjualan komoditas sepenuhnya ditentukan oleh monopolis.