2. Dari Sudut Pandang Makro Ekonomi
2.2.1. Sumber Inflasi dan Dampaknya 1. Sumber Inflasi
Menurut teori kuantitas (Fisher), sumber inflasi berasal dari cost push inflation dan demand pull inflation, yang merupakan akbat dari adanya kelebihan permintaan sehingga menyebabkan uang yang beredar meningkat melebihi jumlah semestinya.
Disamping penjelasan menurut teori kuantitas, dari sudut teori moneter. Inflasi dipandang sebagai suatu fenomena moneter, dimana ketidakseimbangan antara jumlah uang yang beredar dengan barang dan jasa dapat menyebabkan inflasi atau sebaliknya deflasi. Bila yang terjadi adalah suatu keadaan dimana terlalu banyak uang yang beredar dibandingkan dengan kesediaan atau kebutuhan masyarakat untuk memiliki uang, maka yang terjadi adalah penurunan harga uang akibat akses permintaan terhadap barang dan jasa karena masyarakat memiliki
kemudahan membelanjakan kelebihan uang yang beredar. Seiring dengan akses permintaan dalam barang dan jasa, akan mendorong kenaikan harga yang pada akhirnya menyebabkan inflasi, dan sebaliknya. Pendekatan teori moneter ini merupakan salah satu solusi terhadap pengendalian inflasi dengan mengontrol jumlah uang yang beredar dimasyakarat atau dikenal kebijakan uang ketat.
Pada dasarnya kenaikan harga P dapat terjadi oleh baik pergeseran kurva permintaan agregat AD maupun kurva penawaran agregat AS.
Bila kurva permintaan agregat AD yang bergeser sedangkan kurva penawaran agregat tetap maka inflasi yang berjadi dikatakan bersifat demand pull inflation atau inflasi akibat tarikan permintaan, sebaliknya bila kurva penawaran agregat yan bergeser sedangkan kurva permintaan agregat tetap, maka inflasi yang terjadi dikataka bersifat cost push inflation atau inflasi akibat dorongan biaya.
p
1p
2p
Harga
A D
0y
1y
FEy
2y
E
Gambar 2.27. Keseimbangan Umum Kurva AD - AS
Cost push inflation disebabkan oleh kenaikan biaya faktor produksi sehingga produksen mengurangi produksinya sampai pada jumlah tertentu yang mana secara keseluruhan total penawaran agregat berada dibawah permintaan agregat. Kondisi ini pada akhirnya akan mendorong terjadi inflasi dan bila berkepanjangan akan menyebabkan perekonomian mengalami resesi. Penyebab cost push inflation dapat
dikarenakan oleh kenaikan harga bahan baku, sifat monopolis yang tidak efisien, kenaikan upah buruh, bias ekonomi akibat peran pemerintah yang berlebihan, dan dapat pula terjadi akibat reaksi psikologis masyarakat yang berlebihan dengan membeli barang berlebihan secara dadakan, maupun pengaruh negatif faktor alam terhadap produksi. Secara grafik cost push inflation dapat digambarkan sebagai pergeseran kurva AS ke kiri di mana kurva AD tetap.
p1 p2
Q
Harga p A S2
A S1
Q1 Q2 QF E
Gambar 2.28. Cost Push Inflation
Demand pull inflation disebabkan oleh kenaikan permintaan agregat dimana perekonomian sudah berada pada kondisi kesempatan kerja penuh (full employment) sehingga mendorong kenaikan harga.
Misalnya kurva permintaan agregat mula-mula AD0 pada knndisi produksi sudah berada pada kesempatan kerja penuh, kemudian terjadin kenaikan permintaan agregat menjadi AD1 Ö Ö . A D2 dan seterusnya, output tetap sebesar QFE, akan tetapi harga terdorong naik menjadi P1 Ö..P2 dan seterusnya.
p1 p2
Q Harga p
A D1
QF E
p0
A S
A D2
A D0
Gambar 2.29. Demand Pull Inflation
Ditinjau dari macamnya, inflasi dapat terjadi baik secara domistik maupun akibat pengaruh luar. Inflasi yang terjadi secara domistik disebut domestic inflation, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri akibat kebijakan pemerintah maupun perilaku masyarakat yang secara psikologis berdampak inflasi, sedangkan inflasi akibat pengaruh kenaikan harga dari luar negeri disebut imported inflation. Hal ini terjadi karena kenaikan harga di luar negeri mempengaruhi harga di dalam negeri, terutama pada barang-barang import atau bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri
Adapun pengukuran tingkat inflasi dapat menggunakan cara sebagai berikut:
1. Angka deflator PNB D(PNB) = Y
r/ Y
k
D(PNB) = angka deflator PNB
Yr = PNB menurut harga yang berlaku
Yk = PNB mengacu pada harga konstan atau sebagai tahun dasar perhitungan
Sedangkan laju pertumbuhan inflasi tahun ke t sendiri (LIt ) dihitung dengan:
LIt = ( D
(PNB)t - D
(PNB)t-1) / D
(PNB)t-1
2. Angka harga umum
LIt = ( Ht - Ht-1). 100% / Ht-1 Ht = harga umum tahun ke t Ht-1 = harga umum tahun ke t-1
3. Indeks harga konsumen
LIt = ( IHt - IHt-1). 100% / IHt-1 IHt = indeks harga konsumen tahun ke t IHt-1= indeks harga konsumen tahun ke t-1
4. Indeks harga umum (bila pengaruh luar negeri diperhitungkan) IHU = 2 IHDN + (1- β) IHLN
IHU = indeks harga umum IHDN = indeks harga dalam negeri IHLN = indeks harga luar negeri
1- = besarnya pengaruh komponen IHLN terhadap IHU
2.2.1.2. Dampak Inflasi
Dampak yang ditimbulkan oleh inflasi antara lain: (1) Efficiency effect, (2) Output effect, dan (3) Equity effect.
Efficiency effect disebabkan oleh perubahan pola alokasi faktor-faktor produksi, sebagai reaksi terhadap perubahan peningkatan permintaan yang dikarenakan peningkatan harga-harga faktor produksi yang mendorong biaya produksi secara umum sehingga permintaan terhadap barang barang tertentu meningkat sebagai respon masyarakat terhadap inflasi yang terjadi. Perubahan pola alokasi ini menyebabkan produksi barang-barang tersebut menjadi lebih efisien Sebaliknya bila inflasi tidak diikuti peningkatan efisien, akan mengakibatkan peningkatan harga produk yang disebabkan oleh biaya produksi, yang pada akhirnya mmebuat produk semakin tidak kompetitif dan dapat membangkrutkan perusahaan karena pada saat bersamaan daya beli masyarakat juga melemah.
Output effect disebabkan peningkatan keuntungan yang diterima produksen karena peningkatan harga sehingga produksen menaikkan produksi. Hal ini terjadi karena pada umumnya peningkatan harga produk mendahului kenaikan upah bagi pekerja. Namun pada sisi lain, laju inflasi yang mendorong peningkatan biaya produksi disamping daya beli masyarakat yang menurun akan memotong keuntungan yang diperoleh produksen, dan pada akhirnya akan mengurangi tingkat produksi sampai pada batas yang secara ekonomis masih memungkinkan. Tindakan ini akan menyebabkan pengangguran meningkat. Pengangguran atau pendapatan yang rendah, dengan kata lain daya beli rendah merupakan bagian dari penyebab terjadinya mata rantai lingkaran kemiskinan.
Equity effect disebabkan dampak inflasi terhadap pendapatan karena penurunan nilai riil dari penghasilan yang diterima dalam bentuk uang. Akibatnya adalah penurunan daya beli. Sebaliknya bagi yang memiliki kekayaan dalam bentuk barang, nilai kekayaan akan naik seiring dengan tingkat inflasi karena harganya semakin mahal. Pada akhirnya inflasi akan memperlebar jurang antara yang kaya dengan yang miskin disamping sifat inflasi yang secara tidak langsung merupakan pajak bagi seseorang (nilai penghasilanberkurang) dan subsidi bagi yang berpenghasilan lebih rendah.
Disamping dampak diatas, inflasi juga berdampak pada investasi dan suku bunga. Investasi merupakan suatu tindakan penggunaan uang pada saat sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan pada masa mendatang. Karena itu inflasi yang secara umum berdampak pada penurunan nilai uang sebagai akibat harga barang-barang naik. Naiknya barang-barang tentu menyebabkan biaya modal menjadi semakin mahal disamping kenaikan suku bunga yang ikut membebani. Keadaan inflasi berkepanjangan juga mengakibatkan peningkatan angka pengangguran dan semakin melemahnya daya beli. Dengan demikian pendapatan bagi usaha (investasi) akan menurun dan pada akhirnya dapat menurunkan nilai kapitalisasi bila perusahaan dalam bentuk terbuka (publik) karena harga saham akan turun akibat laba per saham mengecil, terlebih-lebih bila terjadi kelesuan parah pada sektor riil dan kurangnya daya saing,
akan menyebabkan investor mengalokasikan investasi ke negara lain yang secara ekonomis lebih menguntungkan. Tingkat inflasi yang parah secara langsung akan menyebabkan nilai nominal aktiva tetap pada pembukuan menjadi jauh lebih rendah dan nilai nominal investasi menjadi jauh lebih besar dari pada nilai riilnya.
Dampak terhadap suku bunga adalah tingkat inflasi yang tinggi akan diikuti dengan tingkat suku bunga yang tinggi pula, karena suku bunga merupakan salah satu alat kebijakan untuk mengendalikan laju inflasi. Kebijakan suku bunga tinggi akan menyebabkan masyarakat lebih senang menabung uangnya pada lembaga keuangan dari pada ditanamkan dalam bentuk sektor riil yang lebih berisiko. Kebijakan suku bunga tinggi juga akan mengurangi perilaku konsumtif masyarakat karena secara langsung akan menyerap secara signifikan jumlah yang yang beredar di masyarakat. Pada sisi lain dengan kebijakan suku bunga tinggi menyebabkan besarnya opportunity cost pada sektor riil (dana tersedot dalam bentuk tabungan di lembaga keuangan dari pada diinvestasikan dalam sektor riil), dan menyebabkan hutang luar negeri meningkat karena para pelaku usaha akan meminjam uang ke luar negeri yang dianggap lebih murah. Bahkan dapat terjadi pelarian modal ke luar negeri bila pelaku usaha merasa tidak aman akibat dampak dari kebijakan suku bunga tinggi dan ketidak-pastian usaha pada sektor riil akibat daya beli masyarakat yang melemah.
Kebijakan suku bunga akan berpengaruh langsung terhadap jumlah uang yang beredar. Sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran. Bila jumlah uang yang beredar (penawaran uang) melebihi kebutuhan uang, maka nilai uang akan jatuh, dengan kata lain terjadi inflasi. Sebaliknya bila jumlah yang yang beredar lebih sedikit dari yang dibutuhkan (permintaan agregat), nilai uang akan naik, atau dikatakan terjadi depresiasi.