• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Pemberdayaan Masyarakat

2.2.4. Bentuk Pemberdayaan yang Pernah Dilakukan

Bentuk pemberdayaan yang telah ada di daerah penyangga di Kabupaten Bogor adalah model pembangunan partisipatif melalui program Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan dimantapkan dalam program pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal (P3DT). Kemudian program tersebut disempurnakan melalui pelaksanaan program pengembangan kecamatan (PPK) dan program pemberdayaan daerah mengatasi dampak krisis ekonomi (PDMDKE) dan dilanjutkan dengan program jaring pengaman sosial dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu terdapat juga program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh perusahaan multinasional dan oleh lembaga peneliti dari Jepang. Untuk dapat melihat penjabarannya dapat dilihat sebagai berikut :

1) Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) (Gunawan, 1999)

Program pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga mulai dilaksanakan sejak tahun 1994/95, melalui program Inpres Desa Tertinggal. Program IDT pada awalnya bersifat pembangunan ekonomi sosial. Program IDT menekankan aspek kebersamaan masyarakat lokal untuk menumbuhkan peran aktif masyarakat lokal dalam mengatasi masalah mereka sendiri. Wadah kebersamaan tersebut diwujudkan dalam pembentukan kelompok masyarakat sebagai wadah kegiatan sosial ekonomi produktif yang dapat memberikan tambahan penghasilan yang berkelanjutan. Bantuan langsung kepada masyarakat diberikan dalam bentuk bantuan modal bergulir dan bantuan pendampingan melalui penyediaan tenaga pendamping dari berbagai komponen pembangunan, antara lain pendampingan khusus oleh sarjana pendamping purna waktu (Gunawan, 1999).

2) Bantuan Program Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal

Program pembangunan sosial ekonomi yang menekankan pendekatan wilayah dikembangkan berdasarkan pengalaman pelaksanaan program IDT. Pendekatan wilayah dalam pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi ini diwujudkan dalam penentuan sasaran lokasi dalam satucluster, dimana masing-masing unit lokasi dalam satu cluster dapat saling melengkapi upaya pengembangan wilayah. Pengembangan IDT diimplementasikan dalam program pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal (P3DT) yang merupakan pendukung program IDT (Gunawan, 1999). Program P3DT yang dioperasionalkan mulai tahun anggaran 1995/96 menekankan bantuan pembangunan prasarana dan sarana dasar yang dapat mendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat lokal. Peran serta aktif masyarakat lokal dalam kegiatan pembangunan di tingkat lokal. penguatan kelembagaan-kelembagaan, pembangunan di tingkat lokal, dan pelestarian hasil pembangunan melalui pemantapan sistem pelaporan. Prinsip penguatan pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal dan diwujudkan melalui wadah LKMD menjadi dasar pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana dasar sosial ekonomi, melalui pelaporan yang tertib, perkembangan dan pelestarian pelaksanaan kegiatan hasil

pembangunan dan dampaknya dapat diketahui guna meningkatkan kapasitas masyarakat (Gunawan, 1999).

3) PPK (Program Pemberdayaan Kecamatan) atau (Program Pengembangan Kecamatan Fase Kedua Laporan Tahunan III 2004)

Program Pemberdayaan Kecamatan merupakan penyempurnaan program P3DT. Program Pemberdayaan Kecamatan menekankan pentingnya mekanisme perguliran dana bantuan langsung melalui lembaga keuangan milik masyaraat yang disebut unit pengelola keuangan (UPK). Penggunaan dana bantuan melalui PPK ini dibatasi oleh persyaratan ketat. Dana bantuan yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat hanya boleh digunakan untuk membiayai investasi sosial dan ekonomi produktif. Program pengembangan kecamatan merupakan model kelembagaan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan yang menerapkan prinsip pembangunan partisipatif. Model partisipatif mengutamakan pembangunan yang mengutamakan yang dilakukan dan dikelola langsung oleh masyarakat lokal khususnya di pedesaan dalam wadah musyawarah pembangunan tingkat kecamatan. Setiap kecamatan mengkoordinasi 5 (lima) desa dengan kriteria tertentu. Setiap kecamatan menerima 3 (tiga) kali dengan nilai antara Rp 500 juta hingga Rp 750 juta setiap tahun. Bantuan kepada desa yang dikoordinasi di kecamatan ini dapat digunakan untuk membiayai investasi sosial berupa pembangunan prasarana umum, investasi ekonomi yang menghasilkan dana bergulir, dan peningkatan kemampuan masyarakat. Dalam tahun anggaran 1988/99, bantuan langsung telah diprogramkan untuk 1500 kecamatan yang meliputi 7500 desa. Unit pengelola di tingkat desa dan kecamatan perlu dibentuk untuk mengoptimalkan pengelolaan dana bantuan. Pengelolaan dilakukan sendiri oleh masyarakat. Unit Pengelola Keuangan berperan sebagai lembaga keuangan yang dapat menampung dan mengelola berbagai bantuan dan dana yang berputar di masyarakat. Unit Pengelola Keuangan dapat berkembang menjadi lembaga keuangan alternatif (LKM) milik masyarakat, dimana LKM ini merupakan embrio lembaga keuangan dengan prinsip-prinsip perbankan yang menyelenggarakan dan menerapkan prinsip kebersamaan. Dalam perkembangan selanjutnya dapat berbadan hukum koperasi atau berbadan hukum bank.

Prinsip-prinsip dalam menjalankan program PPK adalah transparansi, keberpihakan pada orang sejahtera, kompetisi yang sehat dan desentralisasi pembangunan. Prinsip-prinsip tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Transparansi adalah: Kegiatan PPK dilakukan secara terbuka diketahui oleh masyarakat luas, dapat diikuti dan dipertanggungjawabkan.

b) Partisipasi yang dilakukan pada setiap tahap kegiatan melibatkan semua unsur masyarakat secara aktif, terutama kelompok masyarakat sejahtera dan perempuan, mereka memiliki hak penuh dalam menentukan kegiatan, pengelolaan dana, serta pengelolaan kegiatan.

c) Keberpihakan pada orang sejahtera; dimana orientasi setiap kegiatan ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang kurang mampu. Setiap kegiatan selalu mempertimbangkan keberadaan orang kurang mampu mulai dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan sampai pada pemeliharaan hasil kegiatan.

d) Kompetisi sehat; semua warga berhak menentukan sendiri program yang terbaik untuk wilayahnya. penentuan ini berdasarkan hasil kajian atau telaah dari berbagai alternatif pilihan. Karena keterbatasan jumlah dana, maka pengalokasian dana PPK ditentukan melalui perengkingan dan kompetisi sehat.

Program ini telah sukses pada beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor khususnya di Kecamatan Pamijahan dimana tingkat pengembalian modal ke unit usaha kecamatan telah mencapai lebih dari 98% pada tahun 2004, dan 97% pada tahun 2005.

4) Beras untuk Keluarga Miskin, Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan dan Hutan dan Bantuan Langsung Tunai (Gunawan, 1999)

Program Jaring Pengaman Sosial yang sering kali diberikan melalui aparatur desa dan Badan Pemberdayan Masyarakat desa, merupakan pemberian bantuan langsung terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan hidup masyarakat. seperti pemberian bantuan langsung Beras untuk Keluarga Miskin (RASKIN) untuk masyarakat sejahtera. Program ini didasarkan atas tekanan ekonomi sebagai akibat dari meningkatnya harga bahan bakar dan beras.

Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan dan Hutan (GNRLH) bantuan lainnya dilakukan oleh sektor pertanian dan kehutanan dengan memberikan bantuan bibit dan pemberdayaan masyarakat untuk menanam tanaman ekonomis seperti durian, mangga disamping untuk merehabilitasi lahan kritis, program ini juga diharapkan memberikan pengaruh ekonomi pada masyarakat. Disamping itu terdapat juga Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang merupakan kompensasi dari kenaikan harga bahan bakar kepada masyarakat langsung. Walaupun dalam kenyataannya bantuan tersebut banyak yang tidak mencapai sasaran yang diinginkan.

5) Program pemberdayaan yang dilakukan oleh PerusahaanGeothermal CEVRON

Program pemberdayaan yang diberikan oleh perusahaan Geothermal Chevron yang dahulunya UNOCAL merupakan bantuan langsung terhadap desa yang dipergunakan untuk mendukung kegiatan masyarakat desa dalam konteks pendidikan. Bantuan tersebut disesuaikan dengan permintaan dari desa yang berada di sekitar perusahaan Geothermal tersebut. Sayangnya program ini tidak memperlihatkan unsur pemberdayaan masyarakat dalam kegiatannya. karena pihak perusahaan memberikan bantuan ini hanya kepada pihak yang sangat terbatas dan tidak memberikan insentif langsung kepada masyarakat (Gunawan, 1999).

6) Model Kampung Konservasi (MMK)

Model ini awalnya dirancang melalui fasilitasi yang dilakukan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) untuk memperbaiki perencanaan tata guna lahan, hak atas lahan, dan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat yang berada di sekitar wilayah taman nasional ini. Proses perencanaan ini akan dilakukan secara partisipatif dan interaktif yang meliputi empat tahap: penilaian situasi, merancang rencana pembangunan desa, pelaksanaan dan pemantuan, serta pengkajian dan evaluasi yang mengarah kepada penyempurnaan rancangan awal (JICA, 2006). Komponen ini terutama bertujuan untuk mencapai suatu Kesepakatan Konservasi Desa (KKD), yang secara legal akan mengatur semua akses desa terhadap sumberdaya yang ada di dalam taman nasional dan di daerah penyangganya, dan menjamin adanya bantuan dana pembangunan sebagai

imbalan atas kerjasama masyarakat dalam perlindungan taman nasional dan pelestarian keragaman hayati di lahan-lahan desa. Proses ini, yang memerlukan persiapan dan pelaksanaannya, akan segera dimulai dan tetap dilakukan dalam setiap desa yang menjadi target di bawah pimpinan fasilitator desa bekerjasama dengan para pemimpin formal desa dan kelompok-kelompok desa lainnya. Sementara sasaran utama kegiatan ini adalah masyarakat di sekitar taman nasional yang hidupnya sebagian besar mengandalkan sumberdaya dari dalam taman nasional, masyarakat desa secara keseluruhan merupakan anggota KKD. Di desa-desa letaknya berbatasan dengan Taman Nasional, kegiatannya terutama adalah menggalakkan pengelolaan hutan oleh masyarakat (JICA, 2006). Tujuan umum model ini adalah untuk mencapai kesepakatan konservasi antara masyarakat desa yang tinggal di daerah penyangga TNGHS, Pihak Pengelola TNGHS, dan Pemerintah Daerah. Kesepakatan ini akan:

a) Secara resmi menyebutkan akses warga desa terhadap sumberdaya yang ada di daerah penyangga, yang dilakukan secara lestari dan ramah lingkungan. b) Menyediakan manfaat sosial dan ekonomi bagi desa-desa sebagai imbalan atas

kerjasama mereka dalam menghormati dan memelihara batas-batas resmi TNKS, melestarikan keragaman hayati di lahan-lahan desa dan di dalam wilayah pengusahaan hutan.

2.3. Analisis Manajemen Kelembagaan

Dokumen terkait