VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.2. Saran
1) Proses paduserasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten (RTRWK) tiga kabupaten yaitu Kabupaten Lebak, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bogor dengan zonasi TNGHS perlu dilakukan secara intensif, sehingga alokasi ruang yang ditetapkan dengan RTRWK yang belum sesuai dengan rencana zonasi Pengelolaan TNGHS secara legal dapat diselesaikan. Tercapainya paduserasi tersebut akan memberikan jaminan hukum bagi para pihak untuk melakukan aktifitas sosial ekonominya di dalam dan sekitar TNGHS;
2) Selama proses paduserasi dilakukan, program pemberdayaan masyarakat harus tetap dilaksanakan, sehingga konflik kebijakan ruang antara RTRWK dengan batas kawasan TNGHS tidak merugikan kehidupan masyarakat yang selama ini telah tinggal jauh sebelum kawasan hutan Gunung Halimun Salak ditetapkan sebagai taman nasional. Pemberdayaan masyarakat direkomendasikan sebagai solusi untuk mengurangi konflik sumberdaya lahan
bentuk kolaborasi berupa pengembangan potensi sumberdaya hutan sepanjang tidak menganggu fungsinya sebagai kawasan hutan konservasi, dimana peran pemerintah daerah dan pengelola TNGHS selaku fasilitator kegiatan pemberdayaan sangat dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2006. Susenal Panel Maret 1006. BPS. Jakarta.
Agrawal, A. 1999a. Greener Pastures : politics, markets and community aming a migrant pastoral people. Duke University Press. Durham, ND
Ascher, W., and R. Healy. 1990. Natural resources policy making in developing countries : Environtment, economic growth and income distribution. Duke University Press. Durham, NC.
Azhar, R. 1993. Commons, regulation and rent-seeking behaviour. The dilemma of Pakistan’s Guzara forest. Economic development and cultural change 42(1) :115-128.
Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. 2006. Rencana Pengelolaan Lima Tahunan (Jangka Menengah). Sukabumi: Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Baland, J., and J. Platteau. 1996. Halting degradation of natural resources : is there a role for
rural communities ? Clarendon Press. Oxford, Eng.
Barzel, Y. 1991. Economic analysis of property right. Cambridge University Press. Sydney. Basuni, S. 2003. Inovasi Institusi untuk Meningkatkan Kinerja Daerah Penyangga Kawasan
Konservasi, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Binswanger, Hans.P., and V.W. Ruttan. 1978. Induced Innovation: Technology, Institutions and Development. The Johns Hopkins University Press, Baltimore and London. Black, J.A., and D.J. Champion. 1999. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Refika
Aditama. Bandung.
Chambers, R. 1994. The origins and practice participatory rural appraisal. World Development 22: 953-969.
Champion, D. 1999. Basic Statistic forSosialResearch. Macmillan Publishing Co, Inc. Chusak, W. 1996. Local institutions in common property resources: case study community
based management watershed management in Northern Thailand, Phd Thesis, UMI Dissertation, Cambridge.
Conservation Finance Specialist, NRM Program
Handayani D., U.N, R.Soelistijadi dan Sunardi. 2005.Pemanfaatan Analisis Spasial untuk Pengolahan Data Spasial Sistem Informasi Geografi Studi Kasus : Kabupaten Pemalang. Jurnal Teknologi Informasi Dinamik Volume X, No.2 Mei 2005 : 108-116
DPR [Dewan Perwakilan Rakyat]. 2011. Komisi IV DPR Minta Konflik TNGHS Dituntaskan.Http://www.dpr.go.id/id/berita/komisi4/2011/apr /28/2731/ komisi-iv-dpr-minta-konflik-tnghs-dituntaskan.
Effendi, E. 1998. Peranan Penilaian Ekonomi Sumber Daya Dalam Mendukung Pengelolaan Taman Nasional.
Fernandes, W.M.G., and P. Viegas. 1988. Forests, Environtment and Tribal Economy. Indian SosialInstitute. New Delhi.
Fructher, B. 1954. Introduction to Factor Analysis. New York-Toronto: D. Van Nostrand Company Inc.
Godet, M. 2004. Skenarios and Strategies a Toolbox for Problem Solving. Paris, France. Gunawan, S. 1999. Pemberdayaan Masyarakat dan Jaring Pengaman Sosial. Gramedia
Pustaka Umum. Jakarta.
Gunawan, W. 2003. Persepsi dan Perilaku Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Sirnasari terhadap Pelestarian Sumberdaya Hutan di Taman Nasional Gunung Halimun. Skripsi Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Hardin, G. 1982. Collective action. John Hopkins University Press. Baltimore, MD.
Hartono, 2008. Taman Nasional Mandiri : Telaah Singkat Kemungkinan Pembentukannya. Makalah Reuni Akbar dan Seminar Lustrum IX 2008 di Fakultas Kehutanan UGM pada tanggal 6-8 Nopember 2008 di Yogyakarta.
Heller, A. 1994. Beyond-Justice. Brazil Blackwell. New York.
Horton, P.B., and C.L. Hunt. 1984. Sociology. Sixth Edition. McGraw-Hill Book Company. Sidney, Tokyo.
Huntington, S.P. 1965. Political Development and Politic Decay. World Politics 17 (3). Ife, J. 1995. Community Development. Creating Community Alternatives-Vision, Analisys
and Practice. Longman Australia Pty. Ltd. Melbourne.
Japan International Cooperation Agency. 2006. Laporan JICA Tahun 2006, Bogor.
Jessup, T.C., and N.L. Peluso. 1986. Minor forest products as common property resources in East Kalimantan, Indonesia. Pp.501-531 in National Research Council, Proceeding of the Conference on Common Property Resource Mangement. National Academy Press. Washington, DC.
Jodha, N.S. 1986. Common property resources and rural poor in dry regions of India. Economic and Political Weekly 21(27) : 1169-1182.
Juhadi. 2010. Analisis Spasial Tipologi Pemanfaatan Lahan Pertanian Berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) Di DAS Serang Bagian Hulu, Kulon Progo, Yogyakarta. Jurnal Geografi Volume 7 No. 1 Januari 2010.
Kantor Menteri Lingkungan Hidup. 1985. Strategi Konservasi Alam Indonesia dan Strategi Konservasi Alam Sedunia, Kantor Menteri KLH, Jakarta.
Kartasasmita, G. 1996. Pemberdayaan Masyarakat : Konsep Pembangunan yang Berakar pada Masyarakat. Bappenas. Jakarta.
Kerlinger, F.N.1993. Asas-Asas Penelitian Behavioral. (Edisi Ketiga. Alih Bahasa Landung R. Simatupang). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kieffer, C. 1981. Citizen Empowerment: A Development Perspective. Human Service, No. 3 Koentjaraningrat. 1997. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Libecap, G. 1989. Distributional Issues in Contracting for Property Rights. Journal of Institutional and Theoritical Economics 145 : 6-24.
Linsday, Heather 2003, ‘Ecotourism: the Promise and Perils of Environmentally-Oriented Travel’
MacKinnon, J.K., G.C. MacKinnon, and T. Thorsell. 1993. Managing of Protected Areas in the Tropics. Hari Harsono Amir, penerjemah : Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Dearah Tropika. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Marwell, G., and P. Oliver. 1993. The critical mass in collective action : A micro-Sosial theory. Cambridge University Press. Cambridge Eng.
McKean, M. 1992b. Success on the Commons : A comparative Examination of Institutions for Common Property Resource Management. Journal of Theoritical Politics 4(3) : 247-281.
Menteri Negara Kependidikan dan Lingkungan Hidup. 1986. Penelitian Pengembangan Wilayah Penyangga Kawasan Hutan Konservasi. Kerjasama Fakultas Kehutanan IPB dengan Proyek Pengembangan Efisiensi Penggunaan Sumber-Sumber Kehutanan.
Mitchell, D.G. ed. 1968. A Dictionary of Sociology. Routledge and Kegan Paul, London. Narayan, D. 2002. Empowerman and Property : A Source Book. World Bank.Washington
D.C.
North, D.C. 1993. Prize Lecture: Lecture to the memory of Alfred Nobel. December 9 1993. (http://nobelprize.org/economics/laureates/1993/north-lecture.html., 27 April 2005). Nugraheni, Endang 2002. Sistem Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman
Nasional (Studi Kasus Taman Nasional Gunung Halimun). Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
Nurrochmat, D.R., 2005. Strategi Pengelolaan Hutan: Upaya Menyelamatkan Rimba yang Tersisa. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Oakerson, R.J. 1992. Analysing the Commons: a framework in W. Bromley (ed.), Making the Commons Work, Institute for Contemporary Studies, San Francisco, California: 41-59.
Olson, M. 1965. The logic of collective action : public goods and the theory of groups. Harvard University Press. Cambridge, MA.
Ostrom, E. 1990. Self-Governance of Common-Pool resources. W97-2. Workshop in Political Theory and Policy Analysis. IndianaUniversity, Bloomington.
Parsons, T.R.M., Takahasi, and B. Hargrave. 1994. Biological Oceanography Processes Perdamon Press, Oxford-New York-Toronto-Sidney-Paris.
Payne, M. 1991. Modern Sosial Work Theory. Macmillan Press Ltd. London.
Peluso, N.L. 1992. Rich Forests, Poor People. University of California Press. Berkeley. Priyono, O.S., and A.V.W. Pranaka. 1996. Pemberdayaan, Konsep, Kebijakan dan
Implementasi. CSIS. Jakarta.
Putnam, R.D. 1993. Making Democracy Work : Civic Traditions in Modern Italy. Princeton University Press. Princeton, NJ.
Putnam, R.D. 2000. Bowling alone : The Collpase and Revival of American Community. Simon & Schuster. New York.
Rangan, H. 1997. Property vs control. The State and Forest Management in the Indian Himalaya. Development and Change 2891 : 71-94.
Rangarajan, M. 1996. Fencing Forest : Conservation and Ecological Change in India’s Central Provinces, 1860-1914. Oxford University Press. New Delhi.
Rappaport, J. 1984. Therms of Empowerman : Toward a Theory For Community Psychology, No. 15, 1987.
Robbins, L. 2005 Understanding Institutions: Institutional Persistence and Institutional Change.(http://www.lse.ac.uk/collections/LSEPublicLecturesAndEvents/events/200 4/ 20031222t0946z001.htm., Diakses 27 April 2005).
Rose, L.E. 1990. Nordic Free-Commune Experiments: Increased Local Autonomy or Continued Central Control in D.S.King and J.Pierre (eds) Challenges to Local Government. Sage. London.
Runge, C.F. 1984. Institutions and the Free Rider. The Assurance Problem in Collective Action. Journal of Politics 46 : 154-181.
Sahyuti. 2003. Bedah Konsep Kelembagaan: Strategi Pengembangan dan Penerapannya dalam Penelitian Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
Santosa, I. 2004. Pemberdayaan Petani Tepian Hutan Melalui Pembaharuan Perilaku Adaptif. [tesis] Sekolah Pascasarjanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sayogyo. 1996. Memahami dan Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia. Gramedia. Jakarta. Sekretariat Pembinaan PPK. 2004. 2004. Program Pengembangan Kecamatan Fase Kedua Laporan Tahunan ke III 2004. Departemen Dalam Negeri, Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Ditjen PMD). Jakarta.
Simanjuntak, S. 2003. Respon Masyarakat terhadap Perubahan Kelembagaan dalam Pembangunan Hutan Kemasyarakatan (Studi Kasus pada Proyek Pengembangan Hutan Kemasyarakatan di Kapupaten Sanggau, Kalimantan Barat. [tesis] Sekolah Pascasarjanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sivaramakrishnan, K. 1999. Modern Forest: Statemaking and environtmental Change in Colonial Eastern India. Stanford University Press. Stanford CA.
Skaria, A. 1999. Hybrid Histories : Forest, Frontier and Wildness in Western India. Oxford University Press. New Delhi.
Soemardjan dan Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi (Kumpulan Tulisan). Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Sulistyowati, L. 2003. Analisis Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Gugus Kepualauan (Studi Kasus Kelurahan Pulau Kelapa dan Kelurahan Pulau Harapan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu).
Sumardja, E.A. 2002. Pemanfaatan Sumber Hayati secara Berkelanjutan. Disampaikan pada Seminar Aktivitas Penelitian Program Konservasi Keanekaragaman Hayati. Kerjasama antara Pusat Penelitian Biologi LIPI, BCP-JICA dan Direktorat Jendral PHKA-Departemen Kehutanan di Bogor tanggal 26-27 Juni 2002.
Suryanto. 2007. Daya Dukung Lingkungan Daerah Aliran Sungai Untuk Pengembangan Kawasan Permukiman (Studi Kasus Das Beringin Kota Semarang). Tesis Magister Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota Universitas Diponegoro Semarang. Tidak Dipublikasikan.
Sutoro, E. 2002. Pemberdayaan Kaum Marginal. APMD Press, Yogyakarta.
Swift, M.J., and P.A. Levin. 1987. Tropical Soil Biology and Fertility (TSBF) : Inter Regionall Research Planning Workshop. Biology international. Special Issue 9. 24 pp
Tjondronegoro, S.M.P. 1999. Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa. dalam Keping-Keping Sosiologi dari Pedesaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Jakarta.
Uphoff, N.T. 1986. Local Institutional Development: An Analytical Sourcebook With Cases. Kumarian Press. New York.
Wade, E. 1988, 1994. Village Republic : Economic Conditions for Collective Action in South India. ICS Press. San Francisco, CA.
Widada. 2004. Nilai Manfaat Ekonomi dan Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Halimun bagi Masyarakat. Disertasi Sekolah Pasca Sarjana Institur Pertanian Bogor. Bogor. Wulan, Y.C., Y.Yasmi, C.Purba, dan E.Wollenberg. 2004. Analisa Konflik Sektor Kehutanan
di Indonesia 1997-2003. Cifor (Centre for International Forestry Research). Bogor. WWF International 2001, Guidelines For Community-Based Ecotourism Development. Yunus, H. S. 2008. “Konsep Dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya”.
Makalah Seminar dan Sarasehan: Substansi dan Kompetensi Geografi 18 dan 19 Januari 2008 Di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tidak diterbitkan.
Lampiran 1. Kuesioner Penelitian
KONSEP PEMBERDAYAAN MASYAR
(Studi Kasus Kab
© 2006. WINDRA KURNIAWAN Kuesioner Penelitian (DISERTASI) Sekolah Pascasarjana / S3 Institut Pertanian Bogor (IPB) Dosen Pembimbing :
1. Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. 2. Dr. Ir. Aris Munandar, MS. 3. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS.
DAFTAR PERTANY KONSEP
DALAM PENYELES DI TAMAN NASION
(Studi Kasus Kabupaten Bogor dan Sukabum Kabupaten Lebak, Pr Tanggal Wawancara :... Lokasi : ... Pewawancara : ... No. Responden : ... I. Karakteristik Responden 1. Nama Responden : .……… 2. Desa/Kelurahan : ……… 3. Umur : .………… T
4. Jenis kelamin : Laki
5. Jumlah keluarga : …………. Orang
6. Pekerjaan pokok : .……… Perkenankan kami mengajukan
melakukan penelitian dalam rangk Institut Pertanian Bogor (IPB).
Nama : Windra Kurniawan
NIM : P.062034281
Judul Penelitian : Strategi Pemberda Nasional Gun
Sukabumi, Banten)
Program Studi : Pengelolaan Sumb Pembimbing : 1. Prof. Dr. I
2. Dr. Ir. Aris Muna 3. Dr. Ir. Sam Kami haturkan terima kasih atas terhadap daftar pertanyaan ini.
Kuesioner Penelitian
AYAAN MASYARAKAT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK LAHA DI TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK (Studi Kasus Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
serta Kabupaten Lebak, Provinsi Banten) 200
p Kusmana, MS.
DAFTAR PERTANYAAN UNTUK PENELITIAN
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK LAHAN
AN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK
(Studi Kasus Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat serta Kabupaten Lebak, Provinsi Banten)
... ... ... ... : .………(bisa : ………. : .………… Tahun : Laki-laki / Perempuan : …………. Orang : .………... ajukan beberapa pertanyaan di bawah ini sebagai ba
dalam rangka menyelesaikan studi (S3) pada Sekolah Pascasarjana indra Kurniawan
P.062034281
Strategi Pemberdayaan Masyarakat pada Daerah Penyangga al Gunung Halimun Salak (Studi Kasus Kabupaten Bogor Sukabumi, Provinsi Jawa Barat serta Kabupaten Lebak,
lolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS.
2. Dr. Ir. Aris Munandar, MS. r. Ir. Sambas Basuni, MS.
asih atas bantuan Bapak/Ibu/Sdr memberikan jawaban dengan HAN LIMUN SALAK Provinsi Jawa Barat
nsi Banten) 2006 a Barat serta (bisa tdk diisi) ai bahan untuk Sekolah Pascasarjana Penyangga Taman
aten Bogor dan Lebak, Provinsi
7. Pendidikan : a. SD dan SLTP b. SLTA
c. Diploma/Sarjana
8. Berapa Penghasilan keluarga (Bapak/ib) rata-rata per bulan? Rp. ……….. 9. Lama tinggal di daerah sekarang : ……….tahun
10. Status Tempat Tinggal : a. Milik Sediri b. Sewa/kontrak
c. Menumpang
11. Sudah berapa lama Bapak/Ibu/Saudara memiliki lahan tersebut ?
a. Lebih dari 10 tahun b. >5 – 10 tahun c. > 3 – 5 tahun
d. 1 – 3 tahun e. Kurang dari 1 tahun f. Tepatnya ...tahun
12. Luas Penguasaan Lahan :
a. Sempit (< 0,25 ha) b. Sedang (0,25-0,5 ha) c. Luas (> 0,5 ha)
13. Frekuensi ke kawasan hutan (TGHS) :
a. Sering (minimal 2 x sebulan) b. Jarang (< 2 x sebulan) c. Tidak pernah
14. Kegiatan yang dilakukan di TNGH : a. Mengambil hasil hutan
b. Rekreasi memandu wisata c. Melintas ke kampung lain d. Membetulkan salurtan irigasi e. Tidak pernah
15. Kesadaran tentang kegiatannya di TNGH : a. Menyadari dampak akibat kegiatannya b. Belum menyadari dampak akibat kegiatannya
16. Kegiatan yang pernah dilakukan oleh masyarakat dalam rangka mendukung pelestarian SDH TNGHS :
a. Mengikuti kegiatan penghijauan di sekitar /luar TNGH b. Mengikuti penyuluhan/ sarasehan tentang TNGHS
c. Menyebarluaskan informasi keberadaan TNGHS dan aturan-aturannya serta mengajak masyarakat untuk turut serta melestarikan hutan TNGHS
d. Mengikuti kegiatan penataan batas TNGHS/PA e. Tidak pernah
17. Bentuk pengelolaan TNGHS yang diinginkan masyarakat : a. Melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaannya b. Tidak perlu melibatkan masyarakat sekitar
c. Tidak tahu
II. Sikap Responden Terhadap Taman Nasional
1. Masyarakat diperbolehkan mengambil kayu bakar dengan bebas dari dalam kawasan
Taman Nasional.
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
2. Masyarakat diperbolehkan mengambil/memanfaatkan buah-buahan, pakis, bambu, dari
dalam kawasan Taman Nasional.
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
4. Masyarakat dapat menggunakan/menyerobot lahan yang berada dalam kawasan
Taman Nasional untuk digunakan sebagai lahan pertanian
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
5. Masyarakat melakukan penebangan pohon yang terdapat dalam kawasan Taman
Nasional
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
6. Masyarakat menggembalakan ternaknya di dalam kawasan Taman Nasional
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
7. Masyarakat ikut dalam kegiatan pelestarian TNGHSS (misalnya penanaman pohon)
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
8. Berkembangnya kegiatan wisata di Taman Nasional
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
9. Pengunjung melakukan kegiatan yang merusak TNGHSS (misalnya membuang
sampah sembarangan, vandalisme, berburu)
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
10. Taman Nasional adalah hutan milik negara yang memberikan keuntungan kepada masyarakat
a. Setuju b. Tidak setuju c. Tidak peduli
III. Jenis Sumberdaya TNGHS dan Pemanfaatannya
No Jenis Sumberdaya Hutan yang
Dimanfaatkan Jumlah (per bulan)
Intensitas Pemanfaatan (kali/bulan) 1 Kayu bakar 2 Bambu 3 Puspa 4 Bahan Emas 5 Rumput 6 Rasamala 7 Aren 8 Terubuk 9 Burung 10 Babi Hutan 11 Kerasiulang
IV. Analisis Kelembagaan
IV.1. Karakteristik system sumberdaya
1. Berapa Luas lahan yang anda gunakan untuk bekerja ?……… 2. Bagaimana status Kepemilikan sumberdaya/ Lahan yang anda pakai ?
a. Milik sendiri b .Sewa c .Milik negara d. Lain-lain
3. Berapa kali setahun anda mengolah lahan? ………x setahun
IV.2. Karakteristik kelembagaan
1. Berapa jumlah anggota dalam organisasi/kelompok yang anda ikuti?……orang 2. Bagaimana peraturan yang digunakan dalam organisasi/kelompok anda?
a. Sangat Baik b .Baik
c .Cukup Baik d. Tidak Baik
e. Sangat Tidak Baik
3. Bagaimana batasan peraturan yang digunakan dalam organisasi/kelompok anda? a. Sangat Baik
b .Baik c .Cukup Baik d. Tidak Baik
e. Sangat Tidak Baik
4. Berapa banyak prestasi yang diperoleh organisasi/kelompok yang anda ikuti? 5. Bagaimana pola kepemimpinan dalam organisasi/ kelompok anda?
a. Sangat Baik b .Baik
c .Cukup Baik d. Tidak Baik
e. Sangat Tidak Baik
6. Bagaimana tingkat ketergantungan antara anggota organisasi/ kelompok anda? a. Sangat Tinggi
b .Tinggi c .Cukup Tinggi d. Tidak Tinggi
e. Sangat Tidak Tinggi
7. Bagaimana kesamaan kepentingan anggota dalam organisasi/ kelompok anda? a. Sangat Sering
b .Sering c .Cukup Sering d. Tidak Sering
e. Sangat Tidak Sering
8. Bagaimana kemampuan mendapatkan pembiayaan dari organisasi/ kelompok anda? a. Sangat Baik
b .Baik c .Cukup Baik d. Tidak Baik
e. Sangat Tidak Baik
9. Berapa pendapatan rata-rata anggota organisasi/kelompok?Rp………..
IV.1&2. Hubungan antara Karakteristik system sumberdaya dan karakteristik kelembagaan
1. Bagaimana tingkat ketergantungan antara anggota grup pada system sumberdaya? a. Sangat Tinggi
b .Tinggi c .Cukup Tinggi d. Tidak Tinggi
e. Sangat Tidak Tinggi
a. Sangat Adil b .Adil
c .Cukup Adil d. Tidak Adil
e. Sangat Tidak Adil
3. Bagaimana Sikap dan tingkat permintaan anggota? a. Sangat Tinggi
b .Tinggi c .Cukup Tinggi d. Tidak Tinggi
e. Sangat Tidak Tinggi
4. Bagaimana perubahaan sikap dan perilaku terhadap tingkat penggunaan lahan? a. Sangat Tinggi
b .Tinggi c .Cukup Tinggi d. Tidak Tinggi
e. Sangat Tidak Tinggi
IV.3. Sistem kelembagaan
1. Berapa persen tingkat kespakatan/komitmen bersama dalam pembuatan aturan?………..persen
2. Berapa persen tingkat penyesuaian terhadap aturan secara bertahap terhadap anggota?………..persen
3. Berapa persen tingkat tata cara menyelesaikan perselisihan?……..persen 4. Berapa persen tingkat kemempuan pengawasan bagi penggunaan
sumberdaya?………..persen
5. Berapa persen tingkat hubungan antara system sumberdaya dan pengaturan kelembagaan?………..persen
IV.4. Lingkungan Eksternal
1. Berapa persen tingkat ketersediaan teknologi tepat guna berbiaya
rendah?………..persen
2. Berapa lama waktu untuk beradaptasi dengan teknologi baru? ………hari/ minggu/ bulan
3. Bagaimana kendala dari penerapan teknologi? a. Sangat Besar
b .Besar c .Cukup Besar d. Tidak Besar e. Sangat Tidak Besar
4. Bagaimana kontrol pemerintah terhadap otoritas lokal? a. Sangat Besar
b .Besar c .Cukup Besar d. Tidak Besar e. Sangat Tidak Besar
5. Bagaimana tingkat sanksi kepada anggota dalam organisasi/ kelompok anda? a. Sangat Sering
b .Sering c .Cukup Sering d. Tidak Sering e. Sangat Tidak Sering
V.Persepsi Responden Terhadap Kelembagaan SP = Sangat Penting
P = Penting
CP = Cukup Penting
TP = Tidak Penting
STP = Sangat Tidak Penting
Berilah tanda pada jawaban yang anda pilih
Indikator SP P CP TP STP
5 4 3 2 1
Karakteristik sistem sumberdaya
1 Ukuran Sumberdaya/ Lahan 5 4 3 2 1
2 Kepemilikan sumberdaya/ Lahan 5 4 3 2 1
3 Intensitas Pengolahan lahan 5 4 3 2 1
Karakteristik kelembagaan
1 Banyaknya keanggotaan organisasi/kelompok 5 4 3 2 1
2 Adanya Peraturan organisasi/kelompok 5 4 3 2 1
3 Adanya batasan peraturan organisasi/ kelompok 5 4 3 2 1
4 Prestasi masa lalu dari organisasi/kelompok 5 4 3 2 1
5 Pola kepemimpinan dalam organisasi/ kelompok 5 4 3 2 1
6 Saling ketergantungan antara anggota organisasi/ kelompok 5 4 3 2 1
7 Kesamaan kepentingan organisasi/ kelompok 5 4 3 2 1
8 Kemampuan mendapatkan pembiayaan dalam melakukan
kegiatan bersama 5 4 3 2 1
9 Pendapatan anggota yang memadai 5 4 3 2 1
Hubungan antara karakteristik sistem sumberdaya dan karakteristik kelembagaan
1 Tingkat ketergantungan anggota grup pada sisitem sumberdaya 5 4 3 2 1
2 Keadilan dalam alokasi manfaat sumberdaya 5 4 3 2 1
3 Tingkat permintaan anggota 5 4 3 2 1
4 Perubahan sikap dan perilaku terhadap penggunaan lahan 5 4 3 2 1
Sistem kelembagaan
1 Adanya kesepakatan, komitmen bersama dalam pembuatan
aturan 5 4 3 2 1
2 Penyesuaian terhadap aturan dengan bertahap terhadap anggota 5 4 3 2 1
3 Adanya tata cara penyelesaian perselisihan 5 4 3 2 1
4 Kemampuan pengawasan bagi pengguna sumberdaya 5 4 3 2 1
5 Hubungan antara sistem sumberdaya dan pengaturan
kelembagaan 5 4 3 2 1
Lingkungan eksternal
Teknologi
1 Ketersediaan teknologi tepat guna berbiaya rendah 5 4 3 2 1
2 Kebutuhan waktu untuk adaptasi dengan teknologi baru 5 4 3 2 1
3 Penyelesaian kendala dari penerapan teknologi 5 4 3 2 1
Negara
1 Adanya kontrol pemerintah terhadap otoritas lokal 5 4 3 2 1
2 Adanya sangsi peraturan pemerintah dalam penggunaan lahan 5 4 3 2 1 3 Adanya bantuan finansial dan sosial dari pemerintah
mengkonpensasi pengguna lokal untuk aktivitas konservasi 5 4 3 2 1 4 Adanya penyerahan kewenangan dari pemerintah pada tingkat
WINDRA KURNIAWAN. Concept of Community Empowerment as Land Conflict Resolution at The National Park of Mount of Halimun-Salak. Under Supervision of CECEP KUSMANA, SAMBAS BASUNI, ARIS MUNANDAR and HIKMAT RAMDAN.
Gunung Halimun Salak National Park (TNGHS) is a conservation area in West Java and Banten Provinces, has an important role in supporting community life and protecting surrounding ecosystems. One of crucial issues in the management of sustainable TNGHS are land use conflicts associated with spatial policies of the surrounding regencies and community land uses within the national park. The purpose of this research are : (a) to analyze problems of spatial planning of surrounding regencies with the national park zones; (b) to analyse institutions of management and use of TNGHS’s resources; and (c) to formulate the concept of community empowerment in resolving land use conflicts in the region of TNGHS. The discrepancy between the spatial plan of Lebak, Bogor, and Sukabumi as regencies surrounding the national park and the TNGHS zones has potential conflicts in landuses. Due to unsyncronized landuse between the TNGHS and the spatial plan of surrounding regencies has impacts to communities who live in the TNGHS. The local regencies legally are not be budgeted to supports their communities although the area which people lived is still pointed as economic regions according to the regency spatial planning. Recommendation to resolve land conflicts in the TNGHS are : (a) to harmonize TNGHS zone with the regencie spatial plan around the park; and (b) to perform community