IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6. Sistem Kelembagaan
4.6.2. Karakteristik Organisasi
Persepsi responden terhadap karakteristik kelembagaan yang berkaitan dengan jumlah anggota organisasi (50,0%), adanya batasan keanggotaan (71,1%), aturan yang dipergunakan (64,4%), pola kepemimpinan dalam organisasi/kelompok (68,9%), mengindikasikan bahwa eksistensi kelembagaan menjadi penting bagi masyarakat dan masyarakat siap untuk berorganisasi. Kesuksesan program pemberdayaan masyarakat juga sangat ditentukan oleh seberapa besar kekuatan sosial capital yang ada di dalam suatu kelompok masyarakat. Melemahnya sosial capital (kepercayaan, kebersamaan, partisipasi, jejaring) masyarakat yang diberdayakan akan berdampak pada terhambatnya pengembangan potensi masyarakat, rendahnya posisi tawar masyarakat, dan tidak efektifnya berbagai program. Ketika masyarakat beranggapan bahwa kelembagaan tidak terlalu penting, yang mungkin terjadi adalah program pemberdayaan masyarakat menjadi kehilangan arah dan berpotensi menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Selain itu rendahnya sosial capital juga dapat menjadi faktor penyebab resistensi masyarakat terhadap program pemberdayaan dari pemerintah dan kurang optimalnya internalisasi kebijakan di tingkat masyarakat.
Menurut Oslon (1965), organisasi yang lebih kecil cenderung lebih berhasil dalam melakukan tindakan kolektif. Ini didukung oleh Baland dan Platteau (1999) yang menyatakan semakin kecil ukuran suatu organisasi semakin kuat kemampuannya untuk betindak kolektif. Sementara Marweel dan Oliver (1993) mempunyai pendapat yangambiguitas dengan Oslon, yaitu ukuran suatu organisasi secara positif berhubungan dengan level tindakan kolektif. Berkaitan dengan hasil persepsi di atas, maka ukuran organisasi dengan batasan keanggotaan yang jelas serta adanya aturan-aturan yang dipergunakan dalam organisasi dengan saling ketergantungannya antara anggota akan cenderung membawa pada tindakan kolektif.
Sebanyak 51,1% responden menyatakan bahwa saling ketergantungan antara anggota dalam organisasi/kelompok tergolong cukup tinggi. Homogenitas identitas dan kepentingan dalam organisasi/kelompok bagi sebagian besar (54,4%) responden tergolong dalam kategori cukup sering. Wade, Baland dan Palttaeu (1999) menyatakan karakteristik heterogenitas di dalam organisasi dapat memiliki pengaruh yang beragam dan kontradiktif. Lebih besarnya saling ketergantungan diantara anggota organisasi akan mendorong suatu dasar pembentukan institusi yang mendorong manajemen sumberdaya berkelanjutan. Di sisi lain, Baland dan Platteau juga menyajikan penilaian awal terhadap karakteristik heterogenitas dengan mengklasifikasikannya menjadi 3 (tiga) tipe dan berhipotesis bahwa heterogenitas sumberdaya mempunyai pengaruh positif terhadap manajemen sumberdaya sedangkan heterogenitas identitas dan kepentingan menciptakan penghambat untuk tindakan kolektif. Poin pertamanya mengenai heterogenitas sumberdaya meningkatkan kemungkinan tindakan kolektif adalah sama dengan yang dinyatakan oleh Olson (1965). Tetapi kategori dimana mereka mengklasifikasikan heterogenitas tidak selalu eksklusif. Misalnya, heterogenitas kepentingan dapat menghasilkan beragam tipe spesialisasi ekonomi dan beragam level sumberdaya, yang pada gilirannya menghasilkan pertukaran yang menguntungkan. Lebih lanjut, bukti empiris mengenai bagaimana heterogenitas mempengaruhi tindakan kolektif masih sangat bermakna ganda. Jadi ada kemungkinan bahwa meskipun dalam kelompok terdapat level heterogenitas kepentingan yang tinggi, untuk menjamin tindakan kolektif, beberapa
sub-kelompok dapat memaksakan kepentingan mengenai persepsi disajikan pada Gambar 16
Gambar 16. Sebaran Responden Berdasarkan Karakte Rata-rata jumlah
35 orang dengan kisaran keberhasilan masa lalu (dua) buah dengan kisaran organisasi/kelompok adalah hingga Rp 1.000.000, selengkapnya disajikan pada
Tabel 10.Analisis Deskriptif Komponen Kelembagaan Kelembagaan
1. Jumlah anggota dalam organisas yang diikuti (jiwa)
2. Pengalaman keberhasilan 3. Pendapatan rata-rata anggo
organisasi/kelompok (Rp/kel
Sebanyak 50% dalam organisasi/kelompok
digunakan dalam organisasi/kelompok responden sudah cukup
0 20 40 60 80 100 7.8 50 41.1 1.1 P e rs e p si ( % ) Sangat
memaksakan menjalankan institusi/organisasi. Persentase tingkat mengenai persepsi terhadap karakteristik kelembagaan selengkapnya
Gambar 16.
Sebaran Responden Berdasarkan Karakteristik Kelembagaan mlah anggota dalam organisasi/kelompok yang diikuti kisaran antara 10 hingga 89 orang. Sementara itu, pengalaman
yang pernah diperoleh organisasi/kelompok kisaran 1 hingga 3 prestasi. Rata-rata pendapatan
adalah Rp 412.500,-/kelompok dengan kisaran Rp
,-. Hasil analisis deskriptif komponen kelembagaan selengkapnya disajikan pada Tabel 10.
Deskriptif Komponen Kelembagaan
mbagaan Rata-Rata SD Minimum
organisasi/kelompok
34,70 21,34 10 masa lalu (jumlah) 1,83 1,33 1 anggota
(Rp/kelompok) 412.500 189.738 100.000
% responden menyatakan bahwa aturan yang organisasi/kelompok yang diikutinya sudah baik. Batasan peraturan
organisasi/kelompok dianggap oleh sebagian besar cukup baik. Namun demikian, terdapat 3,30% responden
18.9 14.4 2.2 5.6 30 5.6 23.3 20 71.1 64.4 47.8 68.9 51.1 75.6 61.1 66.7 10 21.2 48.9 25.5 18.9 17.7 14.5 13.3 0 0 1.1 0 0 1.1 1.1 0 Organisasi/ kelembagaan
Sangat penting Penting Cukup penting Tidak Penting
Persentase tingkat kelembagaan selengkapnya
sarkan Karakteristik Kelembagaan diikuti adalah pengalaman rata-rata 2 pendapatan anggota Rp 100.000,-komponen kelembagaan Maksimum 89 4 1.000.000 digunakan peraturan yang besar (65,60%) responden yang 66.7 13.3
menyatakan batasan peraturan yang digunakan dalam organisasi/kelompok masih tidak baik.
Menurut setengah dari jumlah responden, saling ketergantungan antara anggota dalam organisasi/kelompok tergolong cukup tinggi. Bahkan sebanyak 43,30% responden menyatakan saling ketergantungan antara anggota dalam organisasi/kelompok yang diikuti tergolong tinggi hingga sangat tinggi. Hanya 6,70% responden yang menganggap ketergantungan antar anggota organisasi tidak tinggi.
Homogenitas identitas dan kepentingan dalam organisasi/kelompok bagi sebagian besar (54,40%) responden tergolong dalam kategori cukup sering. Dengan proporsi yang hampir berimbang yakni sekitar 40,00%, kemampuan mendapatkan pembiayaan dari organisasi/kelompok dinilai masing-masing cukup baik dan tidak baik. Dengan demikian, pembiayaan dari organisasi/kelompok masih belum memuaskan bagi 36% dari jumlah responden. Sebaran responden berdasarkan karakteristik aturan disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11.Sebaran Responden Berdasarkan Karakteristik Aturan
Karakteristik Kelembagaan Jumlah (n) Persentase (%) Aturan yang dipergunakan
Sangat baik 1 1,1
Baik 45 50,0
Cukup baik 44 48,9
Batasan peraturan yang digunakan dalam organisasi/kelompok
Baik 28 31,1
Cukup baik 59 65,6
Tidak baik 3 3,3
Saling ketergantungan antara anggota
Sangat Tinggi 2 2,2
Tinggi 37 41,1
Cukup Tinggi 45 50,0
Tidak Tinggi 6 6,7
Homogenitas identitas dan kepentingan
Sangat Sering 3 3,3
Sering 30 33,3
Cukup Sering 49 54,4
Tidak Sering 8 8,9
Kemampuan mendapatkan pembiayaan dari organisasi/kelompok
Sangat Sering 3 3,3
Sering 30 33,3
Cukup Sering 49 54,4
Pada Gambar 17 kelembagaan masyarakat hutan menyebabkan tidak mencapai pengelolaan hutan memicu konflik dalam pengelo justru apatis dalam pengelolaan berdaya. Sehingga ha
pengelolaan hutan kurang Karena itu persepsi responden sistem sumberdaya, persepsi sumberdaya, sikap dan tingkat terhadap perubahan penggunaan
Gambar 17. Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan Sistem Sumberdaya
Tingkat ketergantungan sebagian besar (66,70%) sebanyak 7,80% responden anggota pada sistem sumberdaya Tingginya ketergantungan ma eksploitasi sumberdaya karena itu, kesempatan
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Tingkat ketergantungan 4.4 64.4 31.1 0 P e rs e p si ( % ) Sangat
Gambar 17 Menunjukkan bahwa ketika kurangnya keterli masyarakat (anggota) dalam pengelolaan pelestarian sumber menyebabkan tidak adanya rasa memiliki sumberdaya hutan
pengelolaan hutan lestari. Kurangnya keterlibatan anggota dalam pengelolaan sumberdaya hutan atau sebaliknya dalam pengelolaan sumberdaya hutan dan anggota semakin
harapan anggota tidak terpenuhi dan pada kurang bermanfaat bagi anggota di dalam dan sekitar
responden terhadap tingkat ketergantungan anggota persepsi atas keadilan dalam alokasi manfaa tingkat tuntutan anggota dan perubahan sikap dan penggunaan lahan dianggap penting.
Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan antara Karakteristik Sistem Sumberdaya dan Karakteristik Organisasi
ketergantungan antara anggota pada sistem sumberdaya %) responden tergolong cukup tinggi. Sementara responden menyatakan bahwa tingkat ketergantungan
sumberdaya tergolong tidak tinggi/sangat tidak
ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan mengakibatkan daya hutan semakin besar dan hutan semakin rusak. kesempatan diversifikasi usaha non kehutanan semakin
ngkat rgantungan
Persepsi atas keadilan
Sikap anggota Perubahan sikap
4.4 13.3 7.8 18.9 64.4 74.4 60 70 31.1 12.2 31.1 11.1 0 1.1 0
Sangat penting Penting Cukup penting Tidak Penting
urangnya keterlibatan pelestarian sumberdaya
hutan dan sulit juga dapat sebaliknya anggota
semakin tidak pada akhirnya dan sekitar hutan.
anggota pada manfaat dari dan perilaku ntara Karakteristik sumberdaya dari Sementara itu, ketergantungan antara tidak tinggi. engakibatkan semakin rusak. Oleh semakin sempit.
Namun di sisi lain, dengan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan maka (diharapkan) kesadaran masyarakat menjaga dan memelihara kelestarian sumberdaya hutan juga semakin besar. Sebaran responden berdasarkan hubungan antara karakteristik sistem sumberdaya dan karakteristik kelembagaan disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12.Sebaran Responden Berdasarkan Hubungan antara Karakteristik Sistem Sumberdaya dan Karakteristik Kelembagaan
Hubungan antara karakteristik sistem sumberdaya dan karakteristik kelembagaan
Jumlah (n)
Persentase (%) Tingkat ketergantungan antara anggota pada sistem sumberdaya
Tinggi 23 25,6
Cukup Tinggi 60 66,7
Tidak Tinggi 6 6,7
Sangat tidak Tinggi 1 1,1
Persepsi atas keadilan dalam alokasi manfaat dari sumberdaya
Adil 37 41,1
Cukup Adil 52 57,8
Tidak Adil 1 1,1
Sikap dan tingkat tuntutan anggota
Sangat Tinggi 9 10,0
Tinggi 46 51,1
Cukup Tinggi 32 35,6
Tidak Tinggi 3 3,3
Sikap dan tingkat tuntutan anggota
Sangat Tinggi 4 4,4
Tinggi 24 26,7
Cukup Tinggi 59 65,6
Tidak Tinggi 3 3,3
Persepsi atas keadilan dalam alokasi manfaat dari sumberdaya dianggap oleh 98,0% responden termasuk cukup adil/adil. Sebanyak 51,10% responden menyatakan bahwa sikap dan tingkat tuntutan anggota adalah termasuk kategori cukup tinggi. Persentase terbesar (65,60%) responden menyatakan bahwa perubahan sikap dan perilaku terhadap perubahan penggunaan lahan adalah tergolong cukup tinggi.
Persepsi atas alokasi manfaat dari sumberdaya hutan, meskipun sebagian besar responden menyatakan cukup adil, namun kenyataan yang ada masih kurang memberikan manfaat sesuai dengan harapan masyarakat. Hal ini memicu timbulnya tindakan yang bertentangan dengan kaidah kelestarian hutan. Akibat selanjutnya adalah tidak adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan masyarakat akan mencari alternatif usaha lain. Kondisi seperti ini akan
menimbulkan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain yang mendapatkan manfaat dari sumberdaya hutan. Karena harapan masyarakat pedesaan memperoleh manfaat dari sumberdaya hutan tidak terpenuhi.