BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Perilaku Berbahasa pada Masyarakat Pesisir Dusun Banjaranyar Desa
3.1.5 Bentuk Percakapan Oleh Masyarakat Dusun Banjaranyar
Data 27
Penutur : Tekan endi, Pak?
[təkan əndi pa?] “Dari mana, Pak?” Mitra tutur : Dugi griyane Pak Joko.
[dugi griyᴐne pa? jᴐkᴐ] “Dari rumahnya Pak Joko”
Sumber: Transkip percakapan di pertigaan jalan dekat Balai Desa Banjarwati, pada tanggal 02 Maret 2015 pukul 09.40.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Sukowati dan mitra tutur merupakan warga Dusun Banjaranyar.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat pagi hari di pertigaan jalan dekat Balai Desa Banjarwati. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang warga Dusun Sukowati bernama Sumarsono berusia 58 tahun penutur dengan seorang warga Dusun Banjaranyar bernama Ahmad berusia 60 tahun yang sedang naik sepeda motor, keduanya saling mengenal sebelumnya. Dalam percakapan tersebut penutur bertujuan menyapa mitra tutur yang sedang mengendarai sepeda motor di depannya.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko oleh penutur yang berasal dari Dusun Sukowati yang lingkungannya jauh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat tidak menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Berbeda dengan mitra tutur yang berasal dari Dusun Banjaranyar yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun dengan menggunakan bahasa Jawa ragam madya dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, ketika masyarakat Dusun Banjaranyar berbicara dengan sesama masyarakat Dusun Banjaranyar maupun dengan masyarakat lain, mereka tetap menggunakan bahasa Jawa ragam madya atau bahkan krama sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap mitra tutur yang diajak bicara.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan penutur adalah bahasa Jawa ragam ngoko dengan nada tinggi dan jelas, dilihat dari kata: Tekan [təkan] “Dari”, endi [əndi] “Mana”. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur adalah dengan bersikap tegap dan lantang tanpa merunduk karena telah mengenal mitra tutur dengan akrab, sedangkan warga Dusun Banjaranyar sebagai penutur menggunakan perilaku berbahasa verbal berupa bahasa Jawa ragam madya
dengan nada intonasi yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, dilihat dari kata: Dugi [dugi] “Dari”, griya [griyᴐ] “Rumah”. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh mitra tutur adalah dengan bersikap sopan dan santun, menghargai dan menghormati penutur meski keduanya saling mengenal akrab dan usia penutur lebih muda dari usia mitra tutur.
Data 28
Penutur : Iki jepiro regane, Bu?
[iki jepirᴐ rəgane bu] “Ini berapa harganya, Bu?” Mitra tutur : Sedoso ewu, Bu. Mangga.
[sədᴐsᴐ ɛwu bu mᴐŋgᴐ] “Sepuluh ribu, Bu. Silahkan” Penutur : Aku tuku telu.
[aku tuku təlu] “Saya beli tiga”
Sumber: Transkip percakapan di pasar Desa Banjarwati, pada tanggal 2 April 2015 pukul 09.50.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Sukowati dan mitra tutur merupakan seorang warga Dusun Banjaranyar.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat pagi hari di pasar tradisional yang berada tidak jauh dari pondok pesantren. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam
yang sedang berbelanja di pasar, sedangkan mitra tutur adalah seorang warga Dusun Banjaranyar berusia 49 tahun bernama ibu Fathanah yang merupakan pemilik salah satu toko di pasar tradisional Banjaranyar, kedua penutur tersebut tidak saling kenal sebelumnya. Dalam tuturan tersebut penutur bertujuan untuk membeli sapu tangan di toko ibu Fathanah.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko oleh penutur yang berasal dari Dusun Sukowati yang lingkungannya jauh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat tidak menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Berbeda dengan mitra tutur yang berasal dari Dusun Banjaranyar yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun dengan menggunakan bahasa Jawa ragam madya dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, ketika masyarakat Dusun Banjaranyar berbicara dengan sesama masyarakat Dusun Banjaranyar maupun dengan masyarakat lain, mereka tetap menggunakan bahasa Jawa ragam madya atau bahkan krama sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap mitra tutur yang diajak bicara.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan penutur adalah bahasa Jawa ragam ngoko dengan nada tinggi dan jelas, hal tersebut dapat dilihat pada kata: Aku [aku] “Aku”, tuku [tuku] “Beli”, telu [təlu] “Tiga”, iki [iki] “Ini”, jepiro [jepirᴐ] “Berapa”, regane [rəgane] “Harganya”. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur adalah dengan bersikap tegap dan lantang tanpa merunduk karena tidak mengenal mitra tutur sebelumnya.
Salah satu warga Dusun Banjaranyar sebagai mitra tutur menggunakan perilaku berbahasa verbal berupa bahasa Jawa ragam madya, dapat dilihat dari kata: Sedasa ewu [sədᴐsᴐ ɛwu] “Sepuluh ribu”, mangga [mᴐŋgᴐ] “Silahkan” dan perilaku berbahasa non verbal yang digunakan adalah bersikap sopan dan santun, menghargai dan menghormati penutur meski mitra tutur tidak mengenal penutur sebelumnya.
Data 29
Penutur : Sakit napa yoga sampeyan, Yu?
[sakIt nᴐpᴐ yogᴐ sampeyan yu] “Sakit apa anak kamu, Yu?”
Mitra tutur : Lara tipes, Yu. Wingi lagek moleh teka rumah sakit
[lᴐrᴐ tipəs yu wiŋi lage? mole təkᴐ rumah sakIt]
“Sakit tipes, Yu. Kemarin baru pulang dari rumah sakit” Sumber: Transkip percakapan di rumah salah satu warga Dusun Sukowati, pada tanggal 2 Maret 2015 pukul 16.30.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Banjaranyar dan mitra tutur merupakan warga Dusun Sukowati.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat sore hari di rumah salah satu warga Dusun Sukowati. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang warga Dusun Banjaranyar bernama Ibu Zurofah berusia 45 tahun yang sedang dirumah salah seorang warga Dusun Sukowati sebagai penutur, dengan mitra tutur adalah seorang warga Dusun Sukowati bernama Ibu Rohana berusia 59 tahun yang merupakan pemilik rumah tempat kejadian tuturan, kedua penutur tersebut saling mengenal. Dalam tuturan tersebut penutur bertujuan untuk menanyakan tentang sakit apa yang diderita oleh anak mitra tutur.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam madya oleh salah seorang masyarakat Dusun Banjaranyar sebagai penutur menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Berbeda dengan mitra tutur yang merupakan salah seorang warga Dusun Sukowati yang menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko tidak menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Hal tersebut terjadi karena penutur dan mitra tutur merupakan penduduk Desa Banjarwati yang bertempat tinggal di dusun yang berbeda dan di lingkungan yang berbeda, sehingga perilaku berbahasa mereka berdua pun berbeda.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan penutur adalah bahasa Jawa ragam madya dengan intonasi bicara yang pelan dan jelas, hal tersebut dapat dilihat dalam kata: Sakit [sakIt] “Sakit”, napa [nᴐpᴐ] “Apa”, yoga [yogᴐ] “Anak”, sampeyan [sampeyan] “Kamu” dan perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur adalah dengan bersikap sopan dan santun, menghargai dan menghormati mitra tutur meski keduanya saling mengenal akrab.
Salah satu warga Dusun Sukowati sebagai mitra tutur menggunakan perilaku berbahasa verbal berupa bahasa Jawa ragam ngoko, dilihat dari kata: Lara [lᴐrᴐ] “Sakit”, wingi [wiŋi] “Kemarin”, lagek [lage?] “Baru”, moleh [moleh] “Pulang”, teka [təkᴐ] “Datang’. Berdasarkan data tersebut, mitra tutur menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko karena terbiasa dengan penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko.
Data 30
Penutur : Mangga, kula betoaken, Bu.
[mᴐŋgᴐ kulᴐ bətᴐakən bu] “Silahkan, saya bawakan, Bu”
Mitra tutur : Iya, Nak. Wong endi kowe?
[iyᴐ na? wᴐŋ əndi kowe] “Iya, Nak. Orang mana kamu?” Penutur : Kula tiyang Njaranyar, Bu.
[kulᴐ tiyaŋ njarañar bu] “Saya orang Njaranyar, Bu”
Sumber: Transkip percakapan di pasar tradisional Desa Banjarwati, pada tanggal 02 Maret 2015 pukul 09.40.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Banjaranyar dan mitra tutur merupakan warga Dusun Sukowati.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat pagi hari di pasar tradisonal Desa Banjarwati yang letaknya tidak seberapa jauh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat. Pihak-pikah yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang perempuan bernama Arinil Haq berusia 19 tahun sebagai penutur dengan seorang perempuan bernama Ibu Rohana berusia 59 tahun yang berada di pasar sebagai mitra tutur, keduanya tidak saling mengenal sebelumnya. Dalam percakapan tersebut penutur bertujuan membantu mitra tutur untuk membawa barang bawaan yang sangat banyak menuju becak.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam madya oleh salah seorang masyarakat Dusun Banjaranyar sebagai penutur menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Berbeda dengan mitra tutur yang merupakan salah seorang warga Dusun Sukowati yang menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko tidak menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Hal tersebut terjadi karena penutur dan mitra tutur merupakan penduduk Desa Banjarwati yang bertempat tinggal di dusun yang berbeda dan di lingkungan yang berbeda, sehingga perilaku berbahasa mereka berdua pun berbeda.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan penutur adalah bahasa Jawa ragam madya dengan intonasi bicara yang pelan dan jelas, dilihat dari kata: Kula [kulᴐ] “Saya”, mangga [mᴐŋgᴐ] “Silahkan”, betoaken [bətᴐakən] “Bawakan” dan perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur adalah dengan bersikap sopan, santun, dan menghormati mitra tutur meski keduanya tidak saling mengenal. Salah satu warga Dusun Sukowati sebagai mitra tutur menggunakan perilaku berbahasa verbal berupa bahasa Jawa ragam ngoko, dilihat dari kata: Iyo [iyᴐ] “Iya”, wong [wᴐŋ] “Orang”, endi [əndi] “Mana”, kowe [kowe] “Kamu”. Data tersebut menunjukkan bahwa mitra tutur menggunakan bahasa Jawa ragam
ngoko karena menyadari usia penutur jauh lebih muda.
Data 31
Penutur : Pe jukut jaitan ta, Mbak?
[pe njukUt jaitan ta mba?]
“Mau mengambil jahitan ta, Mbak?” Mitra tutur : Inggih, Buk. Telas pinten?
[IngIh bu? təlas pintən] “Iya, Buk. Habis berapa?” Penutur : Mek seket ewu, Mbak.
[mɛ? sɛkət ɛwu mba?]
“Cuma lima puluh ribu, Mbak”
Sumber: Transkip percakapan di rumah salah satu warga Dusun Sukowati, pada tanggal 15 Maret 2015 pukul 12.15.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Sukowati dan mitra tutur merupakan seorang warga Dusun Banjaranyar.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat siang hari di rumah salah satu warga Dusun Sukowati. Pihak-pikah yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang warga Dusun Sukowati bernama Ibu Jah berumur 50 tahun yang
berprofesi sebagai tukang jahit pakaian sebagai penutur dengan seorang perempuan bernama Faridatun Ni’mah berusia 22 tahun sebagai mitra tutur, keduanya tidak saling mengenal sebelumnya. Dalam percakapan tersebut penutur bertujuan menanyakan kepada mitra tutur tentang maksud dari kedatangan penutur kerumahnya.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam ngoko oleh penutur yang berasal dari Dusun Sukowati yang lingkungannya jauh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat tidak menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun. Berbeda dengan mitra tutur yang berasal dari Dusun Banjaranyar yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan adanya perilaku berbahasa yang sopan dan santun dengan menggunakan bahasa Jawa ragam madya dalam kehidupan sehari-hari ketika berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, ketika masyarakat Dusun Banjaranyar berbicara dengan sesama masyarakat Dusun Banjaranyar maupun dengan masyarakat lainnya, mereka tetap menggunakan bahasa Jawa ragam madya atau bahkan krama sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap mitra tutur yang diajak bicara.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan penutur adalah bahasa Jawa ragam ngoko dengan nada tinggi dan jelas, dilihat dari kata: Mek [mɛ?] “Cuma”, seket ewu [sɛkət ɛwu] “Lima puluh ribu”, pe [pe] “Mau”, njukut [njukUt] “Mengambil” dan perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur adalah dengan bersikap tegap dan lantang tanpa merunduk karena tidak mengenal mitra tutur sebelumnya dan usia mitra tutur lebih muda dari penutur. Salah satu warga Dusun Banjaranyar sebagai penutur menggunakan perilaku berbahasa
verbal berupa bahasa Jawa ragam madya, dilihat dari kata: Inggih [IngIh] “Iya”, telas [təlas] “Habis”, pinten [pintən] “Berapa”. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh mitra tutur adalah dengan bersikap sopan, santun, dan menghormati penutur meski tidak saling mengenal.
3.2 Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Perilaku Berbahasa pada Masyarakat Pesisir Dusun Banjaranyar Desa Banjarwati
Perilaku berbahasa pada masyarakat Dusun Banjaranyar terkait dengan bentuk percakapan yang diperoleh saat di lapangan dapat dikelompokkan menjadi 5 kategori, yaitu:
a. Bentuk percakapan oleh masyarakat Dusun Banjaranyar dengan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat
b. Bentuk percakapan oleh masyarakat Dusun Banjaranyar dengan pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat
c. Bentuk percakapan oleh masyarakat Dusun Banjaranyar dengan para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat
d. Bentuk percakapan oleh masyarakat Dusun Banjaranyar dengan sesama masyarakat Dusun Banjaranyar, dan
e. Bentuk percakapan masyarakat Dusun Banjaranyar dengan masyarakat Dusun Sukowati yang tidak berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Masyarakat yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat adalah masyarakat Dusun Banjaranyar Desa Banjarwati. Perilaku berbahasa
masyarakat Dusun Banjaranyar dalam sehari-hari menggunakan bahasa Jawa ragam madya dan krama, hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah adanya interaksi secara terus-menerus antara masyarakat Dusun Banjaranyar dengan penghuni Pondok Pesantren Sunan Drajat, baik dengan pengasuh (kiai), pengurus, maupun santri pondok pesantren tersebut. Hal tersebut dapat di lihat pada:
1) Data 1, 2, 3, dan 4 dalam bentuk percakapan nomor 3.1.1, masyarakat Dusun Banjaranyar yang berinteraksi dengan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat menggunakan bahasa Jawa ragam krama untuk menghormati kiai sebagai pengasuh dari pondok pesantren sekaligus sebagai tokoh pemuka agama di Dusun Banjaranyar, sedangkan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat menggunakan bahasa Jawa ragam campuran antara krama dan madya
untuk menghargai warga yang menggunakan bahasa sopan dan santun meskipun dalam tuturan tersebut warga berusia jauh lebih muda dari pengasuh.
2) Data 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 dalam bentuk percakapan nomor 3.1.2, pengurus pondok pesantren dalam tuturannya menggunakan bahasa Jawa ragam krama
dan madya, masyarakat Dusun Banjaranyar juga menggunakan bahasa Jawa ragam krama dan madya, hal tersebut dilakukan untuk saling menghormati mitra tutur.
3) Data 11, 12, 13, 14, dan 15 dalam bentuk percakapan nomor 3.1.3 masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam madya dengan para santri Pondok Pesantren Sunan Drajat begitu pula sebaliknya, hal tersebut
dilakukan karena adanya timbal balik kesopanan antara para santri dengan masyarakat Dusun Banjaranyar.
4) Data 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, dan 26 dalam bentuk percakapan 3.1.4, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam
krama dengan masyarakat Dusun Banjaranyar itu sendiri.
5) Data 27, 28, 29, 30, dan 31 dalam bentuk percakapan 3.1.5, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam krama dan masyarakat Dusun Sukowati yang menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko dalam berinteraksi.
Pondok Pesantren Sunan Drajat merupakan sentral kegiatan sehari-hari masyarakat Dusun Banjaranyar, baik dalam hal ekonomi, pendidikan, ataupun kegiatan kemasyarakatan lainnya. Hal tersebut memicu adanya interaksi secara terus menerus antara masyarakat Dusun Banjaranyar dengan penghuni pondok pesantren.
Pekerjaan masyarakat Dusun Banjaranyar disamping sebagai petani, juga rata-rata sebagai wiraswasta seperti penjual sayur, penjual makanan, pedagang kecil, pedagang kaki lima, dan juga penjual jasa seperti warnet, photo copy, ojek dan tukang becak. Meskipun masyarakat Dusun Bnajaranyar merupakan tergolong masyarakat pesisir, namun masyarakat tersebut sedikit sekali yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, hal tersebut dikarenakan adanya pondok pesantren sebagai sentral perekonomian lain yang dapat memperoleh keuntungan lebih besar.
Faktor lain yang melatarbelakangi perilaku berbahasa pada masyarakat Dusun Banjaranyar terhadap bahasa santri adalah banyaknya masyarakat Dusun
Banjaranyar yang memilih untuk mengenyam pendidikan di Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, seperti banyak remaja yang sekolah di Madrasah Aliyah Sunan Drajat, SMK Sunan Drajat, SMP Sunan Drajat dan yang lainnya. Bahkan terdapat beberapa masyarakat Dusun Banjranyar yang memilih untuk mondok di Pondok Pesantren Sunan Drajat meskipun rumah mereka tidak terlalu jauh dari pondok, hal tersebut dilakukan karena tingginya minat masyarakat Dusun Banjaranyar untuk dapat mengenyam pendidikan agama yang lebih baik.
Perilaku berbahasa pada masyarakat Dusun Banjaranyar selain dilatarbelakangi oleh tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap ranah perekonomian, pendidikan, dan kegiatan kemasyarakatan yang berpusat pada Pondok Pesantren Sunan Drajat, juga karena adanya habit atau kebiasaan sehari- hari yang dilakukan oleh penghuni Pondok Pesantren Sunan Drajat terhadap masyarakat sekitar. Penghuni Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam sehari-hari menggunakan bahasa Jawa ragam madya dan krama baik di lingkungan pondok pesantren maupun ketika berada di luar pondok pesantren. Seperti ketika berbicara dengan masyarakat sekitar, santri tetap menggunakan perilaku berbahasa verbal yang sopan dan santun dalam berbicara dengan siapapun dan santri juga selalu menggunakan perilaku berbahasa non verbal dengan cara tunduk dan hormat dengan mitra tutur yang diajak bicara.
Kebiasaan yang dilakukan oleh penghuni Pondok Pesantren Sunan Drajat itulah yang menimbulkan adanya perilaku berbahasa yang baik pada masyarakat pesisir Dusun Banjaranyar saat berkomunikasi dengan siapapun. Masyarakat Dusun Banjaranyar selalu berbahasa secara sopan dan santun dengan
menggunakan bahasa Jawa ragam madya dan krama baik saat berhadapan dengan mitra tutur yang sudah saling kenal, yang tidak saling kenal sebelumnya, maupun yang mempunyai hubungan keluarga. Hal tersebut sangat berbeda dengan masyarakat pesisir Dusun Sukowati yang jauh dari lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, selalu berbahasa menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko dengan nada intonasi yang tinggi sesuai dengan identitas berbahasa masyarakat pesisir pada umumnya.
BAB IV