BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Perilaku Berbahasa pada Masyarakat Pesisir Dusun Banjaranyar Desa
3.1.1 Bentuk Percakapan oleh Masyarakat Dusun Banjaranyar
Data 1
Penutur : Ngapunten, Yai. kawula dhateng meriki kersa nyuwun pangestu, kawula kersa ngasto damel sasi ngarsa. Dinten napa saene, Yai?
[ŋapuntən yai kəpərluan kawulᴐ dhatəŋ məriki kərso ñuwUn paŋestu, kawulᴐ kərsᴐ ŋastᴐ daməl sasi ŋarsᴐ dintən nᴐpᴐ saene yai]
“Mohon maaf, Yai. Saya kesini mau meminta restu, saya mau bekerja bulan depan. Sebaiknya hari apa, Yai?”
Mitra tutur : Nggih, Cung. Kula dungaaken mugi-mugi lancar nyambut damele, sedaya dinten niku sae, nedi ten gusti Allah mugi- mugi di paringi lancar sedaya urusane
[ŋgIh cUŋ kulᴐ dUŋa akən mugi-mugi lancar ñambUt daməle sədᴐyᴐ dintən niku sae nədi tən gusti Allah mugi- mugi di pariŋi lancar sədᴐyᴐ urusane]
“Ya, Nak. saya doakan semoga lancar pekerjaan baru nya. Semua hari itu baik, mintalah kepada Allah SWT supaya dilancarkan segala urusan.”
Penutur : Sendika, Yai.
[səndikᴐ yai] “Iya, Yai”
Sumber: Transkip percakapan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 2 April 2015 pukul 18.15.
Konteks tuturan: Penutur adalah salah seorang warga Dusun Banjaranyar dan mitra tutur merupakan Kiai (pengasuh) Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Waktu dan tempat tuturan data di atas adalah saat malam hari di ruang tamu rumah (ndalem) Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang warga yang berumur 28 tahun sebagai petutur yang merupakan penduduk Dusun Banjaranyar dan Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat yang berusia 66 tahun sebagai mitra tutur. Dalam tuturan tersebut warga bertujuan menghadap (sowan) kepada kiai untuk konsultasi tentang pekerjaan barunya dan meminta restu supaya didoakan kepada Allah SWT agar pekerjaan baru warga tersebut berjalan dengan lancar dan sukses.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam krama oleh salah seorang warga Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa posisi Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat bagi masyarakat Dusun Banjaranyar dianggap penting dan tinggi dalam status sosial masyarakat. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan kiai, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam krama sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh salah satu warga Dusun Banjaranyar sebagai penutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama
dengan nada intonasi yang pelan dan halus, dilihat dari kata: Kawula [kawulᴐ] “Saya”, dhateng [dhatəŋ] “Kesini”, kersa [kərso] “Mau”, nyuwun [ñuwUn] “Minta”, pangestu [paŋestu] “Restu”, ngasta damel [ŋastᴐ daməl] “Bekerja”, sasi
[sasi] “Bulan”, ngarsa [ŋarsᴐ] “Depan”, napa [nᴐpᴐ] “Apa”, sae [sae] “Bagus”, sendika [səndikᴐ] “Iya”.
Kata pangestu [paŋestu] “Restu” dan sendika [səndikᴐ] “Iya” sangat jarang digunakan oleh warga Dusun Banjaranyar ketika berinteraksi dengan masyarakat biasa, hanya digunakan ketika berbahasa dengan orang-orang tertentu saja seperti kepada kiai, orang tua, dan lain-lain. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan penutur adalah dengan sikap menundukkan kepala saat berbicara dan tawadhu’ di hadapan kiai sebagai penghormatan terhadap mitra tutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Perilaku berbahasa yang digunakan oleh Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai mitra tutur dilihat dari penggunaan ragam Madya dengan nada intonasi yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pelan, seperti pada kata: Inggih [ŋgIh] “Iya”, kula [kula] “Saya”, nyambut damel [ñambUt daməl] “Bekerja”, sedaya [sədᴐyᴐ] “Semua”, dinten [dintən] “Hari”, niku [niku] “Itu”, nedi [nədi] “Minta”.
Data 2
Penutur : Badhe nyuwun tapak asta, Yai.
[badhe ñuwUn tapa? astᴐ yai] “Mau minta tanda tangan, Yai” Mitra tutur : Inggih, pundhi?
[IŋgIh pundhi] “Iya, mana?”
Penutur : Niki, matur sembah nuwun, Yai.
[niki matUr səmbah nuwUn yai] “Ini, terima kasih, Yai”
Sumber: Transkip percakapan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 15 Maret 2015 pukul 10.30.
Konteks tuturan: Penutur adalah salah seorang warga Dusun Banjaranyar dan mitra tutur merupakan Kiai (pengasuh) Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Waktu dan tempat tuturan data di atas adalah saat pagi hari di ruang tamu rumah (ndalem) Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang warga Dusun Banjaranyar berumur 32 tahun sebagai petutur dengan K. H. Abdul Ghofur yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai mitra tutur. Dalam tuturan tersebut warga bertujuan menghadap (sowan) kepada kiai untuk meminta tanda tangan terkait urusan suatu hal yang ada di Dusun.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam krama oleh salah seorang warga Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa posisi kiai bagi masyarakat Dusun Banjaranyar memang dianggap penting dan tinggi dalam status sosial. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam krama sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh salah satu warga Dusun Banjaranyar sebagai penutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama
dengan nada intonasi yang pelan dan halus, dilihat dari kata: Badhe [badhe] “Mau”, nyuwun [ñuwUn] “Minta”, tapak asta [tapa? astᴐ] “Tanda tangan”, niki [niki] “Ini”, matur sembah nuwun [matUr səmbah nuwUn] “Terima kasih”.
Kata tapak asta [tapa? astᴐ] “Tanda tangan” sangat jarang digunakan oleh warga Dusun Banjaranyar ketika berinteraksi dengan masyarakat biasa, hanya digunakan ketika berbahasa dengan orang-orang tertentu saja seperti kepada kiai,
orang tua, dan lain-lain. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan adalah dengan sikap menundukkan kepala saat berbicara dan tawadhu’ di hadapan kiai sebagai penghormatan terhadap mitra tutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Perilaku berbahasa yang digunakan oleh Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai mitra tutur dapat dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam
Madya dengan nada intonasi yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pelan, seperti pada kata [IŋgIh, pundhi] “Iya, mana”.
Data 3
Penutur : Wonten napa Nduk?
[wᴐntən nᴐpᴐ ndo?] “Ada apa nak?”
Mitra tutur : Ngeten, Bah. Tiang sepah kawula kersa bukak usaha ten deso, dospundhi menurut penjenengan, Bah?
[ŋɛtən bah tiaŋ səpah kawulᴐ kərso buka? usaha tən dəso dᴐspundhi mənurut pənjənəngan bah]
“Begini, Bah. Orang tua saya mau membuka usaha di desa, bagaimana menurut, Abah?”
Penutur : Sae niku, menawi engken sampeyan kengken dhateng meriki mawon
[sae niku mənawi əngken sampeyan kengken dhatəng meriki mawon]
“Bagus itu, mungkin nanti kamu suruh kesini saja” Mitra tutur : Sendika, Bah. Matur sembah nuwun
[Səndikᴐ bah, matUr səmbah nuwUn] “Iya, Bah. Terima kasih”
Sumber: Transkip percakapan di dalam rumah Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 2 Maret 2015 pukul 11.00.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang Kiai (pengasuh) Pondok Pesantren Sunan Drajat dan mitra tutur merupakan seorang siswa yang berasal dari Dusun Banjaranyar.
Waktu dan tempat tuturan data di atas adalah pada pagi hari di rumah (ndalem) Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat tepatnya di ruang tamu. Pihak- pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah K. H. Abdul Ghofur sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat berusia 66 tahun sebagai penutur dengan seorang siswa bernama Siti Hamidah berusia 19 tahun sebagai mitra tutur. Dalam tuturan tersebut kiai sebagai penutur bertujuan menanyakan kepada siswa tentang hal apa yang mau dibicarakan dengannya. Sedangkan siswa sebagai mitra tutur bertujuan menanyakan tentang rencana orang tuanya untuk membuka usaha di Dusun Banjaranyar yang masuk dalam lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, maka dari itu siswa tersebut meminta izin atau menghadap (sowan) ke kiai pondok pesantren terlebih dahulu.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam krama oleh siswa yang berasal dari Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa posisi kiai bagi masyarakat Dusun Banjaranyar memang dianggap penting dan tinggi dalam status sosial. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam krama sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa yang digunakan oleh Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai penutur, dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama dan
madya dengan nada intonasi yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pelan. Ragam krama dapat dilihat dari kata: Sae [sae] “Bagus”, menawi [mənawi] “Mungkin” dan ragam madya dilihat dari kata: Niku [niku] “Itu”, sampeyan [sampeyan] “Kamu”, dhateng [dhatəng] “Datang”.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh siswa sebagai mitra tutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama dengan nada intonasi yang pelan dan halus, seperti pada kata: Kawula [kawulᴐ] “Saya”, sepah [səpah] “Tua”, kersa [kərso] “Mau”, sendika [səndikᴐ] “Iya”, matur sembah nuwuwn [matUr səmbah nuwUn] “Terima kasih”. Susunan bahasa Jawa ragam krama tersebut sangat jarang digunakan oleh siswa ketika berinteraksi dengan masyarakat biasa, hanya digunakan kepada orang-orang tertentu saja seperti kepada kiai, orang tua, dan lain-lain. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan siswa adalah dengan sikap menundukkan kepala saat berbicara dan tawadhu’ di hadapan kiai sebagai penghormatan terhadap penutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Data 4
Penutur : Bah, wonten tiyang kersa ngaturi
[bah wᴐntən tiyaŋ kərsᴐ ŋaturi] “Bah, ada orang mau memberi tahu” Mitra tutur : Inggih, Cung. Sekedhap
[IŋgIh cUŋ səkədhap] “Iya, Nak. Sebentar”
Sumber: Transkip percakapan di dalam rumah Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 14 Maret 2015 pukul 13.15.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Banjaranyar sekaligus sebagai pengurus abdi dalem di Pondok Pesantren Sunan Drajat dan mitra tutur merupakan seorang Kiai (pengasuh) Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Waktu dan tempat tuturan adalah pada siang hari di rumah (ndalem) Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat tepatnya di ruang tamu. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang warga Dusun Banjaranyar
yang menjadi pengurus abdi dalem bernama Ahmad Shiddiq berusia 32 tahun sebagai penutur dengan K. H. Abdul Ghofur yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat berusia 66 tahun sebagai mitra tutur. Dalam tuturan tersebut warga bertujuan memberitahu kepada kiai bahwa ada tamu yang hendak sowan (menghadap) ke beliau untuk memberikan sebuah informasi.
Analisis berdasarkan data, penutur menggunakan bahasa Jawa ragam
krama untuk menghormati mitra tutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat yang ia tempati saat ini, sedangkan mitra tutur menggunakan bahasa Jawa ragam madya untuk menghargai penutur yang berbahasa sopan dan santun menggunakan bahasa Jawa ragam krama.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh salah satu warga Dusun Banjaranyar sebagai penutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama
dengan nada intonasi yang pelan dan halus, dilihat dari kata: Wonten [wᴐntən] “Ada”, tiyang [tiyaŋ] “Orang”, kersa [kərsᴐ] “Mau”, ngaturi [ŋaturi] “Memberitahu“. Kata ngaturi [ŋaturi] “memberi tahu” sangat jarang digunakan oleh warga Dusun Banjaranyar ketika berinteraksi dengan masyarakat biasa, hanya digunakan ketika berbahasa dengan orang-orang tertentu saja seperti kepada kiai, orang tua, dan lain-lain. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan penutur adalah dengan sikap menundukkan kepala saat berbicara dan tawadhu’ di hadapan kiai sebagai penghormatan terhadap mitra tutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai mitra tutur dapat dilihat dari penggunaan ragam Madya
dengan nada intonasi yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pelan, seperti pada kata: Inggih [IŋgIh] “Iya”, sekedap [səkədhap] “sebentar”.
3.1.2 Bentuk Percakapan oleh Masyarakat Dusun Banjaranyar dengan Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Data 5
Penutur : Mbak, kula badhe mundhut ageman seragam batik
[mba? kulᴐ badhe mundhUt agəman səragam batI?] “Mbak, saya mau beli baju seragam batik”
Mitra tutur : Sampeyan rantosi nggih, kula mriksani rumiyen, tasek wonten napa boten
[sampeyan rantᴐsi ŋgIh kulᴐ mriksani rumiyen tase? wᴐntən nᴐpᴐ bᴐtən]
“Tunggu ya, saya lihat dulu, masih ada atau tidak” Penutur : Inggih, Mbak
[IŋgIh mba?] “Iya, Mbak”
Mitra tutur : Inggih niki tasek wonten
[IŋgIh niki tase? wᴐntən] “Iya ini masih ada”
Sumber: Transkip percakapan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 2 April 2015 pukul 10.40).
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang siswa yang berasal dari Dusun Banjaranyar dan mitra tutur merupakan salah satu pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat jam istirahat pagi di dalam kantor kepengurusan Pondok Pesantren Sunan Drajat. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah salah satu siswa Madrasah Aliyah di yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat bernama Nurus Shobahah berusia 19 tahun asli
Dusun Banjaranyar sebagai penutur, sedangkan mitra tuturnya adalah seorang pengurus pondok pesantren putri bernama Siti Azimatur Rohmah berusia 25 tahun yang saat itu sedang bertugas pagi mengurus semua kebutuhan siswa, kedua penutur tersebut tidak saling kenal sebelumnya. Dalam tuturan tersebut siswa bertujuan untuk membeli seragam baru untuk sekolah.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam madya dan
krama oleh salah seorang siswa yang berasal dari Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat bagi masyarakat Dusun Banjaranyar dianggap penting dalam status sosial masyarakat. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan pengurus, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam madya dan krama sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh salah satu siswa yang berasal dari Dusun Banjaranyar sebagai penutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam madya dan krama dengan intonasi bicara yang pelan dan jelas, hal tersebut dapat dilihat pada kata: Kula [kulᴐ] “Saya”, badhe [badhe] “Mau”, inggih [IŋgIh] “iya”, mundhut [mundhUt] “Beli”, ageman [agəman] “baju”. Kata ageman [agəman] “baju” tidak digunakan oleh warga Desa Banjarwati yang tinggal jauh dari Pondok Pesantren Sunan Drajat, namun kata tersebut hanya digunakan oleh warga Dusun Banjaranyar ketika berbahasa dengan orang yang dianggap berusia lebih tua dan status sosial lebih tinggi. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan penutur adalah dengan sikap tawadhu’ di hadapan mitra tutur sebagai
penghormatan terhadap mitra tutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Perilaku berbahasa yang digunakan pengurus sebagai mitra tutur juga menggunakan Bahasa Jawa ragam madya dan karma, dilihat dari kata: Sampeyan [sampeyan] “Kamu”, nggih [ŋgIh] “Iya”, niki [niki] “Ini”, rantosi [rantᴐsi] “Tunggu”, mriksani [mriksani] “Lihat”, wonten [wᴐntən] “Ada”, tasek [tase?] “Masih”. Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai mitra tutur menggunakan bahasa Jawa dengan pilihan ragam madya dan krama untuk menghargai siswa yang berbahasa sopan dan santun meskipun mitra tutur sadar bahwa si penutur usianya jauh lebih muda.
Data 6
Penutur : Assalamualaikum, Yai wonten mas?
[Assalamualaikum yai wᴐntən mas] “Assalamualaikum. Yai ada mas?”
Mitra tutur : Waalaikumsalam, wonte tapi Yai tese sare, Bu
[waalaikumsalam wᴐntən tapi yai təse sare] “Waalaikumsalam, ada tapi Yai masih tidur, Bu”
Penutur : Oh nggih sampun, Mas. Mangke mawon mantun ngaos sore meriki male
[oh ŋgIh sampun mas maŋke mawᴐn mantUn ŋaᴐs sore məriki male]
“Oh ya sudah, Mas. Nanti saja setelah mengaji sore kesini lagi”
Sumber: Transkip percakapan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 2 April 2015 pukul 13.40.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Banjaranyar dengan mitra tutur yang merupakan salah satu pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat yang dipercaya untuk mengurus rumah kiai (abdi ndalem) dan juga merupakan salah satu warga dari Dusun Banjaranyar.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat siang hari di dalam rumah (ndalem) Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah penutur merupakan seorang perempuan bernama Zurofah berumur 45 tahun warga Dusun Banjaranyar, sedangkan mitra tuturnya adalah seorang pengurus abdi ndalem Pondok Pesantren Sunan Drajat berusia 32 tahun bukan penduduk asli desa Banjarwati, kedua penutur tersebut tidak saling kenal sebelumnya. Dalam tuturan tersebut warga bertujuan untuk menemui Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat karena ada sesuatu hal yang akan dibicarakan.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam krama oleh penutur yang merupakan salah satu warga Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat bagi masyarakat Dusun Banjaranyar dianggap penting dalam status sosial masyarakat. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan pengurus, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam krama sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh salah satu warga Dusun Banjaranyar sebagai penutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam krama
dengan intonasi bicara yang pelan dan jelas, hal tersebut dapat dilihat pada beberapa kata seperti: Wonten [wᴐntən] “Ada”, mangke [maŋke] “Nanti”, ngaos [ŋaᴐs] “Mengaji”, meriki [məriki] “Kesini”. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur adalah dengan bersikap baik dan sopan untuk menghormati mitra tutur sebagai pengurus meskipun usia mitra tutur lebih muda, karena mitra tutur merupakan abdi ndalem atau salah satu pengurus yang dipercaya oleh kiai untuk mengurus semua kegiatan yang ada di rumah kiai.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan pengurus sebagai mitra tutur juga menggunakan Bahasa Jawa ragam krama, dapat dilihat dari kata: Wonten [wᴐntən] “Ada”, tese [təse] “Masih”, sare [sare] “Tidur”. Kata sare [sare] “Tidur” sangat jarang digunakan oleh masyarakat pesisir pada umumnya, kata tersebut hanya sering digunakan oleh masyarakat Dusun Banjaranyar di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan pengurus sebagai mitra tutur adalah dengan bersikap sopan dan santun saat melayani penutur.
Data 7
Penutur : Mbak, badhe bayar kitab ngaji”
[mba? badhe bayar kitab ŋaji] “Mbak, mau bayar kitab ngaji” Mitra tutur : Oh inggih sekedhap
[oh IŋgIh səkədhap] “Oh.. iya sebentar”
Sumber: Transkip percakapan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 15 Maret 2015 pukul 09.15.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang siswa warga Dusun Banjaranyar dan mitra tutur merupakan pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat pagi hari di dalam kantor kepengurusan Pondok Pesantren Sunan Drajat, percakapan seorang siswa dengan salah satu pengurus yang sedang bertugas pada hari itu. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah seorang siswa SMP Sunan Drajat sebagai penutur dengan seorang pengurus bernama Siti Azimatur Rohmah berusia
25 tahun sebagai mitra tutur, keduanya tidak saling mengenal. Dalam tuturan tersebut siswa bertujuan membayar uang kitab mengaji kepada pengurus.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam madya oleh siswa yang berasal dari Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat bagi masyarakat Dusun Banjaranyar dianggap penting dalam status sosial masyarakat. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan pengurus, siswa menggunakan bahasa Jawa ragam madya sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh siswa sebagai penutur dan pengurus sebagai mitra tutur dilihat dari penggunaan bahasa Jawa ragam madya
dengan nada intonasi yang pelan dan jelas, dilihat dari kata: Inggih [IŋgIh] “Iya”, sekedap [səkədhap] “Sebentar”, badhe [badhe] “Mau” kosakatanya merupakan bahasa Jawa ragam madya dan netral tanpa krama dan ngoko. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan oleh penutur dan mitra tutur adalah dengan bersikap sopan dan santun untuk saling menghormati dan menghargai status sosial masing- masing.
Data 8
Penutur : Abah Yai ten pundi mbak? Tiyang sepah kawula kersa sowan ten Abah Yai
[abah yai tən pundi mbak? tiyang səpah kawulᴐ kərsᴐ sᴐwan tən abah yai]
“Abah Yai dimana mbak? Orang tua saya mau menemui Abah Yai”
Mitra tutur : Abah Yai tese ngaos, sampean entosi sak medale ngaos nggih
[abah yai təse ŋaᴐs sampeyan əntᴐsi sa? mədale ŋaᴐs ŋgIh “Abah Yai Masih mengaji, tunggu sampai selesai mengaji ya”
Sumber: Transkip percakapan di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Drajat, pada tanggal 2 Maret 2015 pukul 16.00.
Konteks tuturan: Penutur adalah seorang warga Dusun Banjaranyar sekaligus sebagai santri di Pondok Pesantren Sunan Drajat dan mitra tutur merupakan salah satu pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat yang sedang bertugas mengamankan situasi dan kondisi pondok saat itu.
Waktu dan tempat tuturan adalah saat sore hari di lingkungan pondok pesantren tepatnya di depan salah satu kamar yang berada di Pondok Pesantren Sunan Drajat. Pihak-pihak yang berpartisipasi dalam tuturan tersebut adalah penutur merupakan salah seorang warga Dusun Banjaranyar bernama Arinil Haq berusia 19 tahun yang masih duduk di bangku sekolah Madrasah Aliyah dan sebagai santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, sedangkan mitra tutur merupakan salah seorang pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat bernama Siti Azimatur Rohmah berusia 25 tahun berasal dari Bojonegoro yang sudah tidak sekolah dan hanya mengabdi di pondok pesantren, kedua penutur saling mengenal. Dalam tuturan tersebut warga bertujuan bertanya kepada pengurus tentang keberadaan Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat karena pada saat itu orang tua warga tersebut ingin menemui kiai untuk membicarakan tentang suatu hal.
Analisis berdasarkan data, penggunaan bahasa Jawa ragam krama oleh salah satu warga Dusun Banjaranyar tersebut memperlihatkan bahwa Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat bagi masyarakat Dusun Banjaranyar dianggap penting dalam status sosial masyarakat. Oleh karena itu, ketika berbicara dengan
pengurus, masyarakat Dusun Banjaranyar menggunakan bahasa Jawa ragam
krama sebagai bentuk penghormatan.
Perilaku berbahasa verbal yang digunkan warga sebagai penutur menggunakan bahasa Jawa ragam krama dengan intonasi bicara pelan dan jelas, ragam krama tersebut dapat dilihat dari kata: Kawula [kawulᴐ] “Saya”, sowan [sᴐwan] “Menemui”, sepah [səpah] “Tua”, kersa [kərsᴐ] “Mau”. Kata sowan [sᴐwan] “menemui” sangat jarang digunakan oleh masyarakat pesisir pada umumnya, kata tersebut hanya sering digunakan oleh masyarakat Dusun Banjaranyar ketika hendak menemui atau menanyakan keberadaan Kiai Pondok Pesantren Sunan Drajat. Perilaku berbahasa non verbal yang digunakan penutur adalah dengan sikap tawadhu’ di hadapan mitra tutur sebagai penghormatan terhadap mitra tutur yang berusia jauh lebih tua dan merupakan Pengurus Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Perilaku berbahasa verbal yang digunakan oleh pengurus sebagai mitra