• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salah satu bentuk pelanggaran terhadap Undang-Undang Anti Monopoli berupa persekongkolan dalam tender yaitu perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh para peserta tender dengan pihak lain dan yang terbukti melanggar ketentuan Pasal 22 Undang-Undang tersebut.

Untuk menentukan bahwa tender tersebut melanggar Pasal 22 Undang-Undang Anti Monopoli, maka dibuktikan dengan data hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh KPPU apakah memenuhi unsur dalam Pasal 22 Undang-Undang Anti Monopoli sebagaimana telah dijelaskan dalam Pedoman Pasal 22 Undang-Undang Anti Monopoli.

Berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-Undang Anti Monopoli persekongkolan dalam tender dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu:

1. Persekongkolan horizontal

Persekongkolan horizontal adalah persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang dan atau jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan atau jasa pesaingnya. Persekongkolan ini dapat dikategorikan sebagai persekongkolan dengan menciptakan persaingan semu di antara peserta tender.

2. Persekongkolan vertikal

Persekongkolan vertikal adalah persekongkolan yang terjadi di antara salah satu atau beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan atau jasa dengan panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan atau jasa atau pemilik atau

pemberi pekerjaan. Persekongkolan ini dapat terjadi dalam bentuk dimana panitia tender atau atau panitia lelang atau pengguna barang dan atau jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan bekerja sama dengan salah satu atau beberapa peserta tender.

3. Gabungan dari persekongkolan horizontal dan vertikal

Gabungan dari persekongkolan horizontal dan persekongkolan vertikal adalah persekongkolan antara panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemilik atau pemberi pekerjaan dengan pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa. Persekongkolan ini dapat melibatkan dua atau tiga pihak yang terkait dalam proses tender. Salah satu bentuk tender ini adalah tender fiktif, dimana baik panitia tender, pemberi pekerjaan, maupun sesama para pelaku usaha melakukan suatu proses tender hanya secara administratif dan tertutup.

1. Studi Pada Putusan KPPU No. 15/KPPU-L/2008

Setelah dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan ditemukan fakta-fakta dan bukti- bukti yang menerang telah terjadi persekongkolan horizontal dan persekongkolan vertikal pada tender pengadaan barang/jasa SPBN RSUD Kabupaten buleleng Tahun Anggaran 2007, yaitu :

a. PT PD Sadha Agung, UD Azka Graha Mandiri, dan CV Surya Chandra Nata yang memiliki kesamaan dokumen penawaran berupa Rencana Pekerjaan (time Schedule)

b. PT PD Sadha Agung yang mengakui meminta format Rencana Pekerjaan (time Schedule) kepada Direktur UD Azka Graha Mandiri

c. UD Azka Graha Mandiri yang mengakui memberikan format Rencana Pekerjaan (time Schedule) kepada PT PD Sadha Agung

d. PT PD Sadha Agung yang meminta format mengenai mekanisme Jadwal Pelaksanaan lelang, yang dilakukan sebelum terjadinya proses lelang, dan Jadwal Pelaksanaan (time schedule) tidak termasuk dalam penilaian merit point

e. Disatukannya usulan pengadaan Transducer for G50 ke dalam 11 alat kesehatan lainnya, merupakan tindakan untuk mengatur lelang, karena hanya PT PD Sadha Agung, UD Azka Graha Mandiri, dan CV Surya Chandra Nata yang memiliki surat dukungan yang diusulkan oleh Panitia Lelang sebagai calon pemenang, calon pemenang cadangan I dan calon pemenang II yang dapat memenuhi persyaratan lelang sesuai permintaan Panitia Lelang

f. PT PD Sadha Agung pernah memenangkan paket lelang di RSUD Buleleng pada tahun 2004 dengan demikian antara PT PD Sadha Agung dan Direktur RSUD Buleleng sudah saling mengenal.

Berdasarkan hal tersebut diatas telah menunjukan bahwa persekongkolan yang terbukti terjadi dalam Putusan KPPU No. 15/KPPU-L/2008 adalah persekongkolan gabungan antara persekongkolan horizontal dan persekongkolan vertikal yaitu persekongkolan yang terjadi antara para pelaku usaha sebangai peserta tender dengan pelaku usaha lain dalam tender yang sama dan persekongkolang antara panitia tender dengan pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa. Persekongkolan ini dapat melibatkan dua atau tiga pihak yang terkait dalam proses tender. Salah satu bentuk tender ini adalah tender fiktif, dimana baik

panitia tender, pemberi pekerjaan, maupun sesama para pelaku usaha melakukan suatu proses tender hanya secara administratif dan tertutup.

2. Studi Pada Putusan KPPU No. 01/KPPU-L/2008

Setelah dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan ditemukan fakta-fakta dan bukti- bukti yang menerang telah terjadi persekongkolan horizontal pada tender pengadaan barang dan jasa alat kesehatan, kedokteran dan KB program upaya kesehatan perorangan Badan Pengelolaan RSUD Dokter Susilo Kabupaten Tegal Dana Tugas Pembantuan Tahun 2007, yaitu :

a. Bahwa telah terjadi persekongkolan horizontal antara CV Guna Alkes dengan pelaku usaha pesaingnya yaitu PT Inti Medika Sejahtera dan PT Agung Mulya Utama.dengan cara :

(1) Kerjasama yang dilakukan CV Guna Alkes dengan pelaku usaha pesaingnya yaitu PT Inti Medika dan PT Agung Mulya Utama dalam menyiapkan dokumen penawaran

(2) Kerjasama yang dilakukan CV Guna Alkes dengan pelaku usaha pesaingnya yaitu PT Inti Medika dan PT Agung Mulya Utama dalam menyiapkan surat dukungan

(3) Kerjasama yang dilakukan CV Guna Alkes dengan pelaku usaha pesaingnya yaitu PT Inti Medika dan PT Agung Mulya Utama dengan cara membentuk group-group atau kelompok untuk untuk mengatur pemenang tender yaitu, apabila CV Guna Alkes tidak menang dalam suatu tender maka anggota group yang lain akan memenangkan tender tersebut begitupun sebaliknya, mengatur harga penawaran secara berbeda guna menentukan pemenang tender.

(4) Kerjasama yang dilakukan CV Guna Alkes dengan pelaku usaha pesaingnya yaitu PT Inti Medika dan PT Agung Mulya Utama dengan cara Pembagian keuntungan pemenang tender.

b. Bahwa Perilaku diskriminatif yang dilakukan oleh PT Setio Harto merupakan bagian dari persekongkolan untuk memenangkan CV Guna Alkes yang terlihat dari perilaku PT Setio harto yang hanya memberikan brosur asli kepada CV Guna Alkes dan hanya memberikan Sertifikat legalisir kepada kelompok tender CV Guna Alkes, PT Inti Medika Sejahtera dan PT Agung Mulya Utama mengakibatkan CV Guna Alkes menjadi Pemenang dan PT Inti Medika Sejahtera serta PT Agung Mulya Utama menjadi pendamping

Berdasarkan hal tersebut diatas telah menunjukan bahwa persekongkolan yang terbukti terjadi dalam Putusan KPPU No. 01/KPPU-L/2008 adalah persekongkolan horizontal yaitu persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang dan atau jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan atau jasa pesaingnya. Persekongkolan ini dapat dikategorikan sebagai persekongkolan dengan menciptakan persaingan semu diantara peserta tender.

C. Upaya Hukum Putusan Sidang Majelis Komisi

Berdasarkan pertimbangan Majelis Komisi serta pemeriksaan dan penyelidikan dalam Putusan KPPU No. 15/KPPU-L/2008 dan Putusan KPPU No. 01/KPPU- L/2008, maka majelis komisi KPPU telah memutuskan bahwa perkara persekongkolan dalam tender tersebut telah tebukti melanggar ketentuan pasal 24 Undang-Undang Anti Monopoli.

Dengan demikian maka terdapat upaya hukum atas putusan tersebut dari pelanggaran yang telah dilakukan berupa penjatuhan sanksi hukum oleh KPPU dan upaya hukum yang dapat dilakukan oleh pihak yang dinyatakan bersalah serta akibat lain berupa eksekusi putusan jika tidak ada upaya hukum. Upaya hukum dari Putusan KPPU No.15/KPPU-L/2008 dan Putusan KPPU No. 01/KPPU- L/2008 dalam kasus Persekongkolang dalam tender, sebagai berikut:

a. Penjatuhan sanksi hukum berupa tindakan administratif

KPPU hanya diberikan wewenang untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang terbukti melanggar ketentuan Undang-Undang Anti Monopoli.. Menurut ketentuan pasal 47 Undang-Undang Anti Monopoli menyatakan bahwa KPPU berwenang untuk menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif terhadapa pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-Undang Anti Monopoli.

b. Upaya Hukum Keberatan

Setelah majelis Komisi KPPU memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang Anti Monopoli dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh hari) terhitung sejak selesainya pemeriksaan lanjutan, dan KPPU telah memberitahukan petikan putusannya kepada pelaku usaha maka pelaku usaha dapat menentukan sikap terhadap hasil putusan KPPU tersebut. Pelaku usaha yang telah dinyatakan bersalah oleh KPPU dapat menentukan sikap yaitu dengan tidak menerima isi putusan atau menerima isi putusan berupa upaya hukum keberatan.

c. Upaya Hukum Banding

Berdasarkan Pasal 1 Ayat (1) Perma No. 3 Tahun 2005, keberatan adalah upaya hukum bagi pelaku usaha yang tidak menerima Putusan KPPU dan selanjutnya

upaya keberatan terhadap KPPU hanya dapat diajukan kepada Pengadilan Negeri. Namun, tidak semua putusan KPPU menyatakan pelaku usaha telah melanggar Undang-Undang Anti Monopoli tetapi dapat memutuskan “tidak terjadi” pelanggaran.

Putusan KPPU yang menyatakan “tidak terjadi” pelanggaran Undang-Undang Anti Monopoli harus juga dibacakan dalam persidangan yang terbuka untuk umum. Pelaku usaha yang dapat mengajukan upaya hukum banding adalah apabila putusan KPPU menyatakan bahwa pelaku usaha melanggar Undang- Undang Anti Monopoli dan selanjutnya mengenakan sanksi administratif terhadapnya. Pelaku usaha tersebut diberikan hak untuk mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri.

Berdasarkan Pasal 44 Ayat (2) Undang-Undang Anti Monopoli yang dipertegas pula dalam Pasal 4 Ayat (1) Perma No. 3 Tahun 2005 bahwa keberatan diajukan dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak pelaku usaha menerima pemberitahuan putusan dari KPPU. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap menerima atau tidak menerima isi putusan dari pelaku usaha yang terbukti melakukan pelanggaran Undang-Undang Anti Monopoli harus ditentukan dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah menerima pemberitahuan petikan putusan KPPU, dianggap menerima putusan tersebut, sehingga putusan KPPU mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).

Upaya hukum banding tersebut diajukan kepada Pengadilan Negeri yang membawahi wilayah hukum dimana pelaku usaha (berbadan hukum) mempunyai

kedudukan hukum atau di Pengadilan Negeri yang membawahi wilayah hukum tempat tinggal pelaku usaha perseorangan. Dengan demikian, upaya hukum banding diajukan kepada Pengadilan Negeri yang membawahi wilayah hukum dimana pelaku usaha yang berbadan hukum mempunyai kedudukan hukum atau di Pengadilan Negeri yang membawahi wilayah hukum tempat tinggal pelaku usaha perseorangan.

d. Upaya Hukum Kasasi

Setelah Pengadilan Negeri menjatuhkan putusannya terhadap upaya banding pelaku usaha yang terbukti melanggar ketentuan Undang-Undang Anti Monopoli maka pihak yang tidak setuju atas putusan Pengadilan Negeri berhak mengajukan langsung kasasi kepada Mahkamah Agung RI. Dasar hukum pengajuan kasasi langsung kepada Mahkamah Agung adalah Pasal 43 Undang-Undang No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung yang menentukan bahwa permohonan kasasi dapat diajukan hanya jika pemohon terhadap perkaranya telah mengajukan upaya hukum banding, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.

Tenggang waktu pengajuan kasasi adalah 14 (empat belas) hari setelah Pengadilan Negeri membacakan putusannya dalam hal pemohon kasasi hadir pada saat pembacaan putusan atau dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah putusan Pengadilan Negeri diberitahukan kepada pemohon kasasi dalam hal pemohon kasasi tidak hadir pada saat pembacaan putusan.

e. Eksekusi Putusan

Eksekusi adalah upaya paksa untuk melaksanakan suatu putusan yang telah berkekuatan hukum yang tetap (in kracht van gewijsde). Apabila KPPU telah memutuskan bahwa pelaku usaha telah terbukti melakukan pelanggaran Undang-

Undang Anti Monopoli dalam suatu Putusan KPPU, dan pelaku usaha yang dinyatakan bersalah tidak mengajukan keberatan dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari setelah menerima petikan putusan KPPU dianggap telah menerima putusan KPPU tersebut maka putusan tersebut mempunyai kekuatan eksekusi dan dapat dilakukan eksekusi putusan. Namun, tidak semua putusan KPPU yang telah mempunyai hukum yang tetap mempunyai hukum eksekusi.

Berdasarkan Undang-Undang Anti Monopoli, tidak semua putusan Pengadilan Negeri atau Mahkamah Agung memerlukan ekskusi. Putusan Pengadilan Negeri atau Mahkamah Agung yang mengabulkan keberatan pelaku usaha tidak mempunyai kekuatan eksekusi. Putusan tersebut bersifat declaratoir (menerangkan saja), yaitu menyatakan Putusan KPPU tersebut batal atau tidak mempunyai kekuatan hukum atau menyatakan pelaku usaha tidak melanggar Undang-Undang Anti Monopoli.

Putusan yang mempunyai kekuatan eksekusi adalah putusan yang:

1. Hanya berlaku terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (in kracht van gewijsde).

2. Putusan yang bersifat menghukum (condemnatoir).

Pada prinsipnya, ada tiga faktor yang mengakibatkan suatu putusan KPPU mempunyai kekuatan hukum yang tetap, yaitu:

1. Apabila pelaku usaha tidak mengajukan keberatan terhadap Putusan KPPU dalam tenggang waktu yang ditentukan undang-undang (Pasal 46 Ayat (1)).

2. Apabila Pengadilan Negeri menolak alasan-alasan keberatan yang diajukan oleh pelaku usaha dan tidak ada permohonan kasasi dalam tenggang waktu yang ditentukan undang-undang (Pasal 45 Ayat (3)).

3. Apabila Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi menolak alasan-alasan keberatan yang diajukan oleh pelaku usaha.

Putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan pelaku usaha yang dinyatakan bersalah tidak mengajukan upaya hukum keberatan serta putusan tersebut bersifat menghukum (condemnatoir) wajib dilaksanakan oleh pelaku usaha. Ada 2 (dua) cara melaksanakn putusan, yaitu:

a. Secara Sukarela, berarti pelaku usaha memenuhi sendiri dengan sempurna segala kewajibannya sesuai dengan amar Putusan KPPU. Dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah menerima pemberitahuan putusan, pelaku usaha wajib melaksanakan putusan tersebut dan melaporkan pelaksanaannya kepada KPPU. Putusan yang dilaksanakan adalah putusan yang bersifat (condemnatoir).

b. Secara Paksa, berarti apabila pelaku usaha tidak melakukan putusan sukarela, maka akan menimbulkan akibat hukum lebih lanjut, yaitu pelaksanaan Putusan KPPU dilaksanakan secara paksa. Berdasarkan Pasal 44 Ayat (4) dan Pasal 46 Ayat (2) Undang-Undang Anti Monopoli, KPPU dapat menempuh dua upaya hukum, sebagai berikut:

(1) KPPU meminta penetapan eksekusi kepada Pengadilan Negeri. Permintaan penetapan eksekusi kepada Pengadilan Negeri adalah untuk melaksanakan sanksi administratif yang dikenakan oleh KPPU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 Undang-Undang Anti Monopoli.

(2) KPPU menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik adalah proses untuk dilakukan penyelidkan. Penyerahan putusan kepada penyidik adalah proses untuk menerapkan sanksi pidana kepada pelaku usaha yang diduga melakukan tindak pidana Undang-Undang Anti Monopoli.

Penetapan eksekusi kepada Pengadilan Negeri terbagi atas dua jenis:

a. Eksekusi Riil, jenis eksekusi putusan yang menghukum pelaku usaha untuk melakukan suatu perbuatan tertentu yang bukan pembayaran sejumlah uang. Dan untuk menindaklanjuti eksekusi riil biasanya penggugat meminta kepada pengadilan agar menghukum tergugat untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada penggugat bila tergugat lalai atau tidak mematuhi putusan pengadilan, yang disebut uang paksa (dwangsom).

b. Eksekusi pembayaran sejumlah uang, jenis eksekusi yang menghukum pelaku usaha untuk membayar sejumlah uang tertentu.

1. Studi Pada Putusan KPPU No 15/KPPU-L/2008

a. Penjatuhan sanksi hukum berupa tindakan administratif

Tindakan administratif yang diberikan kepada Para Terlapor oleh KPPU yaitu: (1) Melarang Terlapor II (PT PD Sadha Agung) Terlapor III (UD Azka Graha

Mandiri) dan Terlapor IV (CV Surya Chandra Nata) untuk mengikuti lelang di RSUD Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali, selama 1 (satu) tahun terhitung sejak putusan tersebut memiliki kekuatan hukum tetap.

(2) Melarang Terlapor VI (PT Surya Bali Makmur) untuk memasok alat kedokteran, kesehatan, dan KB merek Siemens di RSUD Kabupaten

Buleleng, Singaraja, Bali, selama 1 (satu) tahun terhitung sejak putusan tersebut memiliki kekuatan hukum tetap.

(3) Merekomendasikan kepada Bupati Kabupaten Buleleng untuk menjatuhkan sanksi kepada Direktur RSUD Kabupaten Buleleng dan Panitia Lelang sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil.

b. Upaya Hukum Keberatan

Berdasarkan Putusan KPPU No. 15 KPPU-L/2008 pelaku usaha yang terbukti telah melakukan pelanggaran atau ketentuan Undang-Undang Anti Monopoli yaitu Terlapor II (PT PD Sadha Agung) Terlapor III (UD Azka Graha Mandiri) Terlapor IV (CV Surya Chandra Nata) dan Terlapor VI (PT Surya Bali Makmur) tidak melakukan upaya hukum keberatan maupun upaya hukum kasasi. Dan Putusan KPPU No. 15/KPPU-L/2008 tersebut telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

2. Studi Pada Putusan KPPU No 01/KPPU-L/2008

a. Penjatuhan sanksi hukum berupa tindakan administratif

Tindakan administratif yang diberikan kepada Para Terlapor oleh KPPU yaitu: (1) Melarang Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III untuk mengikuti tender yang

dilaksanakan RSUD Dr. Soeselo Kabupaten Tegal selama 1 (satu) tahun terhitung sejak Putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap.

(2) Menghukum Terlapor IV membayar denda sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen

Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha).

b. Upaya Hukum Keberatan

Berdasarkan Putusan KPPU No. 01 KPPU-L/2008 pelaku usaha yang terbukti telah melakukan pelanggaran atau ketentuan Undang-Undang Anti Monopoli yaitu Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV tidak melakukan upaya hukum keberatan maupun upaya hukum kasasi. Dan Putusan KPPU No. 01/KPPU-L/2008 tersebut telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap

V. PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab terdahulu, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Perkara persekongkolan dalam tender pengadaan alat kedokteran, kesehatan dan KB RSUD Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali Tahun Anggaran 2007, dan pada tender pengadaan alat kesehatan, kedokteran dan KB Program Upaya Kesehatan Perorangan Badan Pengelolaan RSUD dr. Soesilo Kab. Tegal Dana Tugas Pembantuan Tahun 2007 ini diketahui melalui laporan yang masuk ke KPPU sendiri. Selanjutnya Komisi menetapkan untuk melakukan pemeriksaan pendahuluan dan dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan. Berdasarkan pemeriksaan pendahuluan dan lanjutan, akhirnya Komisi menyatakan bahwa telah terjadi persekongkolan dalam tender, dan menetapkan 8 (delapan) Terlapor dalam perkara tender pengadaan alat kedokteran, kesehatan dan KB RSUD Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali Tahun Anggaran 2007 dan menetapkan 5 (lima) Terlapor dalam perkara tender pengadaan alat kesehatan, kedokteran dan KB Program Upaya Kesehatan Perorangan Badan Pengelolaan RSUD dr. Soesilo Kab. Tegal Dana Tugas Pembantuan Tahun 2007. Penyelesaian perkara tersebut

dilakukan sesuai dengan Peraturan KPPU No. 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU.

2. Putusan KPPU No. 15/KPPU-L/2008 menyatakan bahwa pada kasus tender pengadaan alat kedokteran, kesehatan dan KB RSUD Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali Tahun Anggaran 2007, bentuk persekongkolan yang terjadi adalah gabungan dari persekongkolan horizontal dan vertikal. Sedangkan Putusan KPPU No. 01/KPPU-L/2008 menyatakan bahwa pada tender pengadaan alat kesehatan, kedokteran dan KB Program Upaya Kesehatan Perorangan Badan Pengelolaan RSUD dr. Soesilo Kab. Tegal Dana Tugas Pembantuan Tahun 2007 bentuk persekongkolan yang terjadi adalah persekongkolan horizontal.

3. Putusan KPPU No. 15/KPPU-L/2008 menyatakan bahwa Terlapor V Terlapor VI tidak melanggar Pasal 19 huruf d Undang-Undang Anti Monopoli. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor VI, dan Terlapor VIII terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-Undang Anti Monopoli. Menyatakan bahwa Terlapor V tidak melanggar Pasal 22 Undang-undang Anti Monopoli. Melarang Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV untuk mengikuti lelang di RSUD Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali, selama 1 (satu) tahun terhitung sejak Putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap. Melarang Terlapor VI untuk memasok alat kedokteran, kesehatan, dan KB merek Siemens di RSUD Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali, selama 1 (satu) tahun terhitung sejak Putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap. Merekomendasikan kepada

Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Bupati Kabupaten Buleleng untuk menjatuhkan sanksi kepada Direktur RSUD Kabupaten Buleleng dan Panitia Lelang sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan pada Putusan KPPU No. 01/KPPU-L/2008 menyatakan bahwa Terlapor IV terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 19 huruf (d) Undang-Undang Anti Monopoli. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Anti Monopoli. Menyatakan Terlapor V tidak terbukti melanggar Pasal 22 Undang-Undang Anti Monopoli. Menghukum Terlapor IV membayar denda sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) yang harus disetorkan ke Kas Negara sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha). Melarang Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III untuk mengikuti tender yang dilaksanakan RSUD Dr. Soeselo Kabupaten Tegal selama 1 (satu) tahun terhitung sejak Putusan ini memiliki kekuatan hukum tetap.

Daftar Pustaka

A. Literatur

Fuady, Munir. 1996. Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek Buku Ketiga. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

____________________. 2003. Hukum Anti Monopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

____________________. 2006. Hukum Perusahaan Indonesia Cetakan Ketiga Revisi. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

____________________. 2008. Pengantar Hukum Bisnis Menata Hukum Bisnis di Era Globalisasi. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

Ibrahim, Jhony. 2006. Hukum Persaingan Usaha (Filosofi, Teori dan Implementasi Penerapannya di Indonesia). Bayu Media Publishing. Surabaya

Maulana. Budi Insan.2000. Catatan Singkat Undang-Undang no. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak

Sehat. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Muhammad, Abdulkadir. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

____________________. 2007. Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

Silalahi, Udin. 2006. Perjanjian yang Dilarang. Lembaga Kalian Persaingan dan Kebijakan Usaha Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Sitompul, Asri. 1999. Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.

Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaja. 1999. Seri Hukum Bisnis Anti Monopoli. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Soerodibroto, Soenarto. 2002. KUHP & KUHAP. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Subekti, R. dan R. Tjitrosudibio. 2005. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. PT Pradnya Paramita, Jakarta.

B. Perundang-undangan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pedoman Pasal 22 tentang Larangan Persekongkolan dalam Tender.

Dokumen terkait