• Tidak ada hasil yang ditemukan

Emisi BAU untuk semua sub-sektor pada Sektor berbasis lahan berdasarkan pendekatan forward looking berkisar antara 682 juta pada periode 2006- 2011, 764 juta pada periode 2011-2016 dan 852 juta ton CO2-e pada periode 2016-2021 (Gambar 30). Pendekatan forward looking diberlakukan dengan asumsi kenaikan emisi untuk perubahan penggunaan lahan dan lahan gambut adalah sekitar 2,5% per tahun. Perkiraan kenaikan ini mengingat perluasan areal pertanian berbasis sumberdaya hutan dan lahan cenderung meningkat di beberapa provinsi di Papua dan Kalimantan. Di Sumatera emisi dari biomas diperkirakan akan menurun (Gunarso et al. 2013; Agus et al. 2013). Untuk Sub-sektor Pertanian emisi pendekatan forward looking dihitung berdasarkan trend linear dan kuadratik, tergantung kecenderungan perkembangan pada tahun acuan (base year).

Pada pelaksanaanya penyusunan RAN GRK dengan pendekatan forward looking memerlukan data proyeksi penggunaan lahan yang disesuaikan dengan rencana tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten (RTRWP/K). Pendekatan bottom-up perlu ditempuh, sehingga rencana forward looking lebih mencerminkan rencana pembangunan yang sebenarnya.

Dengan skenario penurunan emisi 26% (penurunan emisi unilateral menurut Perpres 61/2011), maka emisi pada periode 2016-2021 harus turun menjadi 631 juta atau penurunan sebanyak 222 juta ton CO2-e. Untuk menurunkan emisi 41%, maka emisi pada periode 2016-2021 harus turun menjadi 503 juta atau penurunan sebanyak 350 juta ton CO2-e (Gambar 31). Berbeda dengan hasil penghitungan pada RAN GRK ini, di dalam Perpres 61/2011, indikasi penurunan emisi 26% dari Sektor Kehutanan dan lahan gambut adalah

sebanyak 672 juta ton CO2e/tahun. Perbedaan target penurunan emisi menurut Perpres 61/2011 dengan hasil penghitungan RAN GRK ini disebabkan oleh 2 faktor:

1. Perpres 61/2011 dan Second National Communication (MoE, 2010, SNC) memasukkan emisi dari kebakaran gambut sebagai salah satu sumber emisi. SNC menggunakan angka perkiraan kebakaran gambut dari van der Werf et al. (2008) yang besarannya cukup tinggi, yaitu 470 juta ton CO2e/tahun pada tahun 2000-2006. Angka ini setara dengan 69% emisi 2006- 2011 untuk semua sektor berbasis lahan menurut RAN GRK. Panduan Teknis ini tidak memasukkan kebakaran gambut dalam penghitungannya. Hal ini disebakan karena sangat tingginya tingkat ketidak-yakinannya (uncertainty) emisi kebakaran gambut, baik dari aspek data aktivitas, maupun faktor emisi.

2. Di dalam Perpres 61/2011 Sektor Kehutanan (dan lahan gambut) dianggap mampu mengkompensasi penurunan emisi dari Sektor lain. Di dalam Panduan Teknis ini perkiraan penurunan emisi dari Sektor Kehutanan dan lahan gambut tidak mengasumsikan pembebanan penurunan emisi dari sektor lain ke sektor kehutanan dan lahan gambut.

Angka perkiraan penurunan emisi yang akan diajukan oleh provinsi pada RAD GRK akan menampilkan kemampuan masing-masing sektor dalam menurunkan emisi. Angka tersebut akan bervariasi tergantung kemampuan provinsi. Tidak semua provinsi akan mampu menurunkan emisi sebanyak 26% dari bidang kehutanan dan lahan gambut.

Gambar 30. Perkiraan emisi BAU dari semua sub-sektor dari bidan g berbasis lahan untuk periode base year 2006-2011 dan proyeksi pada periode 2011- 2016 serta 2016-2021. - 100 200 300 400 500 600 700 800 900 Peternakan Pemupukan CH4 Sawah Dekomposisi gambut Biomas lahan gambut Biomas lahan mineral

Emisi (juta ton CO

2

EMISI BAU DAN MITIGASI SEMUA SUB-SEKTOR BERBASIS LAHAN 97

Dari berbagai subsektor terlihat bahwa penyumbang utama emisi se ktor berbasis lahan adalah emisi dari dekomposisi lahan gambut, diikuti oleh emisi dari biomas tumbuhan lahan mineral, emisi dari biomas tumbuhan pada lahan gambut dan emisi dari lahan sawah. Sumbangan emisi dari pemupukan dan peternakan berturut- turut hanya sekitar 3% dan 4% (Gambar 32). Dengan demikian usaha mitigasi perlu diprioritaskan pada sub-sektor yang menjadi sumber emisi terbesar, dalam hal ini perubahan penggunaan lahan. Pengurangan penggunaan lahan hutan dan memprioritaskan penggunaan lahan semak belukar untuk pengembangan perkebunan dan pertanian, berpotensi menurunkan emisi secara signifi kan.

Gambar 31. Sumbangan emisi tahunan dari berbagai sub-sektor pada sektor berbasis lahan pada periode tahun dasar (base year) 2006-2011.

Biomas lahan mineral 39% Dekomposisi gambut 37% CH4 Sawah Pemupukan Peternakan 6% 3% 4% Biomas lahan gambut 11% Jumlah = 682 juta ton CO2-e

Gambar 32. Emisi dari semua sektor berbasis lahan pada skenario BAU forward looking dan skenario penurunan emisi 13% dan 20,5% dari BAU pada periode 2011-2016 dan 26% dan 41% dari BAU pada periode 2016-2021.

Emisi (juta ton CO

2 -e/tahun) 0 100 200 300 400 500 600 700 800

900 BAU Penurunan 26% Penurunan 41%

2006-2011 2011-2016 2016-2021

REFERENSI

Agus, F., P. Gunarso, B.H. Sahardjo, N. Harris,M. van Noordwijk, danT.J. Killeen. 2013. Historical CO2 emissions from land use and land cover change from the oil palm industry in Indonesia, Malaysia and Papua New Guinea. Roundtable on Sustainable Palm Oil, Kuala Lumpur, Malaysia.

Agus, F., Wahyunto, A. Dariah, E. Runtunuwu, E. Susanti dan W. Supriatna, W. 2012. Emission reduction options for peat soil in Kubu Raya and Pontianak districts, West Kalimantan, Indonesia. Journal of Oil Palm Research, 24, 1378-1387.

Agus, F., dan I.G. Made Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre, Bogor. Agus, F. K. Hairiah dan A, Mulyani. 2011. Measuring carbon stock in peat soils: practical guidelines. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program dan Indonesian Centre for Agricultural Land Resources Research and Development, Bogor. 60p.

Badan Litbang Pertanian. 2008-2009. Laporan Konsorsium Perubahan Iklim: Identifi kasi dan Pengujian Varietas Padi Rendah Emisi Gas Rumah Kaca. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. 2007. Laporan Tahunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. 2008. Laporan Tahunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. 2009. Laporan Tahunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. 2010. Laporan Tahunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta

Christian T.J., B. Kleiss, R.J. Yokelson, R. Holzinger, P.J. Crutzen, W.M. Hao, B.H. Saharjo, D.E. Ward. 2003. Comprehensive laboratory measurements of biomass- burning emissions: 1. Emissions from Indonesian, African, and other fuels. J Geophys Res 108. doi:10.1029/2003JD003704

REFERENSI 99

Rendah Emisi; LUWES - Land Use Planning for Low Emission Development STrategies, World Agroforestry Centre (ICRAF) SEA Regional Offi ce, Bogor, Indonesia. 135p.

Dewi, S., M. van Noordwijk, dan P. Minang. 2012. Reference Emission Levels (REL) in the context of REDD and land-based NAMAs: forest transition stages can inform nested negotiations. Submission to SBBSTA UNFCCC, February 28, 2012.

Dirjen Peternakan 2012. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian.

FAO (Food and Agriculture Organization). 2010. The State of Food Insecurity in The World : Addressing in food insecurity in protracted crisis. FAO Publishing Branch, Rome, Italy, 62 p.

Forster, P., V. Ramaswamy, P. Artaxo, T. Berntsen, R. Betts, D.W. Fahey, J. Haywood, J. Lean D.C. Lowe, G. Myhre, J. Nganga, R. Prinn, G. Raga, M. Schulz, R. Van Dorland. 2007. Changes in atmospheric constituents and in radiative forcing. Climate change 2007: the physical science basis. Contribution of working group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental panel on climate change. Solomon S, Qin D, Manning M, Chen Z, Marquis M, Averyt KB, Tignor M, Miller HL (eds) Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, Intergovernmental Panel on Climate Change.

Gunarso, P., M.E. Hartoyo, F. Agus, T.J. Killeen. 2013. Oil palm and land use change in Indonesia, Malaysia And Papua New Guinea. Roundtable on Sustainable Palm Oil. Kuala Lumpur, Malaysia.

Hairiah, K., S. Dewi, F. Agus, S. Velarde, A. Ekadinata, S. Rahayu and M. van Noordwijk. 2011. Measuring Carbon Stocks Across Land Use Systems: A Manual. World Agroforestry Centre (ICRAF), SEA Regional Offi ce, Bogor, Indonesia. 154 halaman.

Harja D., S. Dewi, M. van Noordwijk, A. Ekadinata and A. Rahmanulloh A. 2011. REDD Abacus SP - User Manual and Software. World Agroforestry Centre - ICRAF, SEA Regional Offi ce, Bogor, Indonesia. 89 p.

Hergoualc’h, K. and L. V. Verchot. 2013. Greenhouse gas emission factors for land use and land-use change in Southeast Asian peatlands. Mitig Adapt Strateg Glob Change. DOI 10.1007/s11027-013-9511-x.

Huang, Y., H. Wang, H. Huang, Z.W. Feng, Z.H, Yang, dan Y.C. Luo. 2005. Characteristics of Methane Emission from Wetland Rice–Duck Complex Ecosystem. Agriculture, Ecosystems and Environment 105:181–193

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2006. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. Prepared by The National Greenhouse Gas Inventories Programme, In Eggleston H.S., Buendia, L., Miwa, K., Ngara, T. & Tanabe, K. (Eds.). IPCC National Greenhouse Gas Inventory Programme, Published by IGES

Institute for Global Environmental Strategies (IGES), Hayama, Japan.

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2013. Drained inland organic soils, Chapter 2 in Wetland Supplement of IPCC Good Practice Guidelines. IPCC, IGES Institute for Global Environmental Strategies (IGES), Hayama, Japan (in Press).

Kalsum, L., N. Ngudiantoro, M. Faizal and A. Halim Pks. 2013. Controlling CO2 and CH4 emission in a degraded peat swamp forest related to water table and peat characteristics. Applied Mechanics and Materials, 391:202-206.

Mezbahuddin, M., R. F. Grant and T. Hirano. 2013. Modelling effects of seasonal variation inwater table depth on net ecosystem CO2 exchange of a tropical peatland. Biogeosciences Discuss., 10, 13353–13398, 2013, doi:10.5194/bgd-10-13353- 2013.

MoF (Ministry of Forestry). 2008. IFCA 2007 Consolidation Report: Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Indonesia, Published by FORDA, MoF, Jakarta.

MoE (Ministry of Environment). 2010. Second National Communication. MoE, Jakarta.

Morand, D.T. 2010, The World Reference Base for Soils (WRB) and Soil Taxonomy: an initial appraisal of their application to the soils of the Northern Rivers of New South Wales. Proceedings 19th World Congress of Soil Science, 1 – 6 August 2010, Brisbane, Australia, Hal. 28-31.

Mulyadi, A. Pramono, Poniman dan A. Wihardjaka. 2004. Pengaruh pupuk kandang terhadap hasil padi gogo rancah dan emisi gas CH4 di lahan sawah tadah hujan. Seminar Nasional Pengelolaan Lingkungan Pertanian. 479-485.

Mosier A., C. Kroeze, C. Nevison, O. Oenema, S. Seitzinger S, O. van Cleemput. 1999. An overview of the revised 1996 IPCC guidelines for national greenhouse gas inventory methodology for nitrous oxide from agriculture. Env Sci & Pol 2(3):325– 333.

Mosier, A.R., M.A. Bleken, C. Pornipol, E.C. Ellis, J.R. Freney, R.B. Howarth, P.A. Matson, K. Minami, R. Naylor, K.N. Weeks, Z. Zhu. 2001. Policy implications of human-accelerated nitrogen cycling. Biogeochemistry 52:281–320

Neue, H.U., dan R.L. Sass. 1994. Trace gas emission from rice fi elds. Environ. Sci. Research 48 : 119 – 147.

Purnomoadi, A., E. Rianto, K. Higuchi and M. Kurihara. 2005. Beer cake could reduce methane production from buffalo fed basal diet containing rice straw and commercial concentrate. Proc The 2nd Greenhouse Gases and Animal Agriculture. Zurich.

REFERENSI 101

Perkebunan, No. 01/01/I, 7 Januari 2013. Pusdatin, Jakarta.

Ritung, S., Wahyunto, K. Nugroho, Sukarman, Hikmatullah, Suparto, C. Tafakresnanto. 2011. Peta Lahan Gambut Indonesia Skala 1:250.000 (Indonesian peatland map at the scale 1:250,000). Indonesian Center for Agricultural Land Resources Research and Development, Bogor, Indonesia.

Robertson, G.P., P.M. Vitousek. 2009. Nitrogen in agriculture: balancing an essential resource. Annu Rev Energy Environ 34:97–125. doi:10.1146/annurev. environ.032108.105046

Setyanto, P., A.K. Makarim, A.M. Fagi, R. Wassmann, L.V. Buendia. 2000. Crop management affecting methane emission from irrigated and rainfed rice in central Java. N.C.E. 58 : 85-93

Setyanto et al. 2002. Infl uence of soil properties on CH4 emission from rice fi eld, Indonesian J Ag. Sci.

Setyanto, P., A. Suharsih, A. Wihardjaka, A.K. Makarim. 1999. Pengaruh pemberian pupuk anorganik terhadap emisi gas metan pada lahan sawah. Risalah Seminar Hasil Penelitian Emisi Gas Rumah Kaca Dan Peningkatan Produktifi tas Padi di Lahan Sawah. 36-43.

Setyanto, P. 2001. Methane emission from three soil types planted with fl ooded rice. M.S. Thesis, Universiti Putra Malaysia. Serdang, Malaysia.

Setyanto, P. 2004. Methane emission from rice fi eld under different crop establisments and rice cultivars. Ph. D Disertation. Universiti Putra Malaysia. Serdang, MaSetyanto, P. A.B Rosenani, R. Boer, C.I. Fauziah and M.J. Khanif. 2005. The Effect of Rice Cultivars on Methane Emission From Irrigated Rice Field. Indonesian Journal of Agricultural Sciences. IAARRD. MoA Indonesia.

Setyanto, P., H. Burhan, S. Y. Jatmiko. 2008. Effectiveness of water regime and soil management on methane emission reduction from rice fi eld. Prosiding seminar Nasional pencemaran lingkungan pertanian melalui pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu. 219-233

Setyanto, P., A.K. Makarim, A.M. Fagi, R. Wassmann, L.V. Buendia. 2000. Crop management affecting methane emission from irrigated and rainfed rice in central Java. N.C.E. 58 : 85-124

Suharsih, P. Setyanto, A.K. Makarim. 2004. Emisi gas metan pada lahan sawah irigasi inceptisol akibat pemupukan nitrogen pada tanaman padi. PP Tanaman Pangan 22 (2) : 43-47

Thalib, A., Suryahadi dan Unadi, A. 2008. Verifi kasi Laju Emisivitas GRK Pada Peternakan. Laporan Akhir Konsorsium Penelitian dan Pengembangan Perubahan

Iklim pada Sektor Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian .

Thalib, A. dan Y. Widiawati. 2008. Peningkatan produksi dan kualitas susu dengan emisi gas metan yang rendah melalui pemberian RMK sebagai imbuhan pada ransum sapi perah. Pros. Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Puslitbangnak dan STEKPI, pp. 82-87. Jakarta, 21 April 2008

US-EPA (United States Environmental Protection Agency). 2012. Notice of Data Availability concerning Renewable Fuels Produced From Palm Oil Under the RFS Program; Extension of Comment Period. Federal Register / Vol. 77, No. 30 / Tuesday, February 14, 2012.

Van der Werf, G.R., J. Dempewolf, S.N. Trigg, J.T. Randerson, P.S. Kasibhatla, L. Giglio, D. Murdiyarso, W. Peters, D.C. Morton, G.J. Collatz, A.J. Dolman and R.S. DeFries. 2008. Climate regulation of fi re emissions and deforestation in equatorial Asia. PNAS 105(51): 20350–20355.

Van Noordwijk, M., S. Dewi, N. Khasanah, A. Ekadinata, S. Rahayu, J.P. Caliman, M. Sharma dan R. Suharto. 2010. Estimating the Carbon Foot print of Biofuel Production from Oil Palm: Methodology and Results from Two Sites in Indonesia. International Conference on Oil Palm and Environment, 23-25 Feb. 2010, Bali, Indonesia.

Watanabe, A., H. Yamada, dan M. Kimura. 2005. Analysis of Temperature Effects on Seasonal and Interannual Variation in CH4 Emission from Rice-Planted Pots. Agriculture, Ecosystems and Environment 105 : 439–443

Widiawati, Y. 2013. Current and Future Mitigation Activities on Methane Emission from Ruminant in Indonesia. Paper in International Workshop on Inventory Data and Mitigation of Carbon and Nitrogen Cycling From Livestock in Indonesia. Jakarta, 24th

April 2013.

Wina, E. 2012. Saponins: Effects on Rumen microbial ecosystem and metabolism in the rumen. In: Dietary phytochemicals and microbes. Patra, A.K. (ed).Springer. London. Pp. 311-350.

Yokelson, R.J., R. Susott, D.E. Ward, J. Reardon and D.W.T. Griffi th. 1997. Emissions from smoldering combustion of biomass measured by open-path Fourier transform infrared spectroscopy. Journal of Geophysical Research 102: 18865–18877.

Dokumen terkait