Siti Nurchayati
*Kepala SMPN 4 Cibitung Kabupaten Bekasi Email: [email protected]
Abstrak : Pemetaan Mutu adalah memetakan mutu pendidikan pada satuan pendidikan
berdasarkan SNP. Pemetaan mutu dilaksanakan melalui kegiatan evaluasi diri sekolah (EDS) berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Evaluasi Diri Sekolah dimulai dengan penyusunan instrumen, pengumpulan, pengolahan dan analisis data, hingga pembuatan peta mutu. Luaran dari pemetaan mutu adalah: peta capaian standar nasional pendidikan di satuan pendidikan, sebagai baseline, masalah-masalah yang dihadapi, dan rekomendasi perbaikannya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan analisis kebutuhan pelatihan standar penilaian bagi guru ASN dan Non ASN di SMPN 4 Cibitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Penyebaran instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei tipe cross-sectional. Hasil penelitian menunjukan dari 45 guru sebanyak 1 orang (2,2%) masuk dalam kategori menuju SNP 1, lalu 7 orang (15,6%) masuk dalam kategori menuju SNP 2, sebanyak 24 orang (53,3%) masuk dalam kategori menuju SNP 3, dan ada 13 (28,9%) masuk dalam kategori menuju SNP 4 serta tidak ada guru yang masuk dalam kategori SNP. Guru ASN memperoleh nilai 4,49 (menuju SNP 3) dan guru Non ASN 4,34 (menuju SNP 3). Simpulan dari penelitian ini adalah pemenuhan standar penilaian pendidikan guru ASN dan Non ASN SMPN 4 Cibitung masih berada pada kategori menuju SNP 3 sehingga masih memerlukan peningkatan capaian Standar Penilaian Pendidikan melalui pelatihan
Volume 8, No. 49 April 2021 | 88
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28 Tahun 2016
tentang Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Dasar Dan Menengah
menyatakan mutu pendidikan adalah
tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan
pendidikan dengan Standar Nasional
Pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan
merupakan suatu mekanisme yang
memastikan bahwa seluruh proses
penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu. Sedangkan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala
kegiatan untuk meningkatkan mutu
Pendidikan, saling berinteraksi dalam
kesatuan sistem, terencana serta
berkelanjutan.
Dalam hal penjaminan mutu satuan
pendidikan mempunyai tugas dan
wewenang dalam pelaksanaan Penjaminan Mutu Internal yang terdiri atas: (a)
merencanakan, melaksanakan,
mengendalikan, dan mengembangkan
SPMI; (b) menyusun dokumen SPMI yang terdiri atas: (1) dokumen kebijakan, (2) dokumen standar, dan (3) dokumen
formulir; (c) membuat perencanaan
peningkatan mutu yang dituangkan dalam rencana kerja sekolah; (d) melaksanakan pemenuhan mutu, pada pengelolaan dan proses pembelajaran; (e) satuan pendidikan membentuk tim penjamin mutu; serta (f) pengelolaan data terkait mutu pendidikan pada satuan pendidikan.
Berdasarkan tugas dan wewenang dalam penjaminan mutu, secara tekhnis sekolah dapat melakukan tahapan-tahapan
dengan siklus sebagai berikut: (a)
Memetakan mutu pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan berdasarkan SNP; (b)
Menyusun rencana kerja terkait
peningkatan mutu sekolah; (c)
Melaksanakan pemenuhan mutu
pengelolaan dan proses pembelajaran; (d) Melaksanakan monitoring dan evaluasi; (e)
Menyusun strategi kenaikan kualitas
bersumber hasil monitoring serta penilaian. Gambar 1. Siklus Penjaminan Mutu
Pendidikan (Kemendikbud, 2016)
Gambar 2. Langkah-langkah Siklus Penjaminan Mutu Pendidikan di Sekolah
(Kemendikbud, 2016)
Pemetaan Mutu adalah memetakan mutu pendidikan pada satuan pendidikan berdasarkan SNP melalui kegiatan evaluasi diri yang menghasilkan peta mutu (capaian standar), akar masalah yang dihadapi dan
rekomendasi. Semua unsur satuan
pendidikan harus ikut serta pada
pelaksanaan (Juklak PMP hal 45-55).
Pemetaan mutu dilaksanakan melalui kegiatan evaluasi diri sekolah (EDS) berdasarkan Standar Nasional Pendidikan
(SNP). Pelaksanaan EDS dilakukan
dengan tahapan (1) membuat instrumen (2) mengumpulkan data, (3) mengolah dan menganalisis data, serta (4) menyusun peta mutu. Luaran dari pemetaan mutu adalah:
Volume 8, No. 49 April 2021 | 89
pendidikan di satuan pendidikan, sebagai
baseline; (b) masalah-masalah yang
dihadapi; (c) rekomendasi perbaikannya. Dengan kata lain yang dimaksud
pemetaan mutu adalah proses kegiatan
pengumpulan, pengolahan, dan analisis
data/informasi tentang capaian
pemenuhan standar nasional pendidikan yang akan menghasilkan rekomendasi berupa program dan kegiatan pemenuhan mutu berikutnya. Indikator keberhasilan SPMI dapat tampak dari Indikator proses, output, outcome, dan dampak. Adanya peningkatan perolehan nilai rapot mutu pada 8 Standar Nasional Pendidikan setiap tahunnya menandakan bahwa Mutu sekolah mengalami perbaikan menjadi
lebih baik. Delapan pelaksanaan
pendidikan oleh sekolah yang harus sesuai mutu Standar Nasional Pendidikan terdiri dari: 1) Standar Kompetensi Lulusan; 2) Standar Isi; 3) Standar Proses; 4) Standar Penilaian; 5) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 6) Standar Pengelolaan; 7) Standar Sarana dan Prasarana; dan 8) Standar Pembiayaan.
Sekolah sebagai satuan pendidikan dalam proses pendidikan menghasilkan output peserta didik dengan kompetensi lulusan sesuai standar yang ditetapkan. Prosesnya melalui pembelajaran dan
diakhiri dengan asesmen/penilaian.
Penilaian pembelajaran merupakan tugas pendidik dan satuan pendidikan yang pada pelaksanaannya harus sesuai Standar Penilaian. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian mengatakan
bahwa Penilaian Pendidikan adalah
kriteria mengenai lingkup, tujuan,
manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar
siswa yang merupakan dasar evaluasi hasil belajar siswa. Penilaian dilakukan oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan Pemerintah. Tujuan penilaian oleh pendidik adalah untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik
secara berkesinambungan. Sedangkan
penilaian yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran.
Penilaian yaitu proses
mengumpulkan serta mengolah data untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Pendidik dan Satuan pendidik ketika melaksanakan penilaian harus berdasar pada prinsip penilaian hasil belajar yaitu: a) sahih; b) objektif; c) adil; d) terpadu; e)
terbuka; f) menyeluruh dan
berkesinambungan; g) sistematis; h) beracuan kriteria; dan i) akuntabel.
Penilaian hasil belajar siswa pada
melingkupi: a) sikap; b) pengetahuan; dan c) keterampilan.
Penilaian sikap adalah kegiatan yang
dilakukan oleh pendidik untuk
memperoleh informasi deskriptif
mengenai perilaku peserta didik. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan: mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran; mencatat perilaku peserta
didik dengan menggunakan lembar
observasi/pengamatan; menindaklanjuti
hasil pengamatan; dan mendeskripsikan
perilaku peserta didik. Penilaian
pengetahuan adalah kegiatan yang
dilakukan untuk mengukur sejauh mana siswa dapat menguasai pengetahuan. Langkah-langkah dalam melaksanakan pengukuran aspek pengetahuan yakni: menyusun perencanaan; mengembangkan
Volume 8, No. 49 April 2021 | 90
instrumen; melaksanakan penilaian;
memanfaatkan hasil penilaian; serta
menyusun laporan hasil penilaian dengan menggunakan skala 0-100 dan deskripsi. Sementara penilaian keterampilan yaitu aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengukur kemampuan siswa menerapkan
pengetahuan yang dimiliki dalam
menyelesaikan tugas tertentu. Tahapan
penilaian aspek keterampilan yang
dilaksanakan tidak berbeda dengan
langkah-langkah pengukuran aspek
pengetahuan. Sedangkan evaluasi hasil belajar dapat menggunakan data/informasi hasil ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Instrumen penilaian yang digunakan dapat
berupa tes, pengamatan, penugasan
perseorangan/kelompok, dan bentuk lain
yang sesuai dengan karakteristik
kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah melakukan: a)
perancangan strategi penilaian yang
dilakukan pada saat penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP)
berdasarkan silabus; b) penilaian aspek
sikap dilakukan melalui
observasi/pengamatan dan teknik
penilaian lain yang relevan, dan
pelaporannya menjadi tanggungjawab
wali kelas atau guru kelas; c) penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai; d) penilaian keterampilan dilakukan melalui
praktik, produk, proyek, portofolio,
dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai; e) peserta didik yang belum mencapai KKM satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran
remedi; dan f) hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi. Sedangkan mekanisme
penilaian hasil belajar oleh satuan
Pendidikan terdiri dari: a) penetapan KKM yang harus dicapai oleh peserta didik melalui rapat dewan pendidik; b) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan pada semua mata pelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan; c) penilaian pada akhir jenjang pendidikan dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah; d) laporan hasil penilaian pendidikan pada akhir semester dan akhir tahun ditetapkan dalam rapat dewan pendidik berdasar hasil penilaian
oleh Satuan Pendidikan dan hasil
penilaian oleh Pendidik; dan e) kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan melalui rapat dewan pendidik.
Secara teknis prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan urutan: (a)
menetapkan tujuan penilaian dengan
mengacu pada RPP yang telah disusun; (b) menyusun kisi-kisi penilaian; (c) membuat instrumen penilaian berikut pedoman penilaian; (d) melakukan analisis kualitas instrumen; (e) melakukan penilaian; (f)
mengolah, menganalisis, dan
menginterpretasikan hasil penilaian; (g) melaporkan hasil penilaian; dan (h) memanfaatkan laporan hasil penilaian. Satuan pendidikan bertugas melakukan prosedur penilaian hasil belajar yang
dilakukan dengan mengkoordinasikan
kegiatan: a) menetapkan KKM; b)
menyusun kisi-kisi penilaian mata
pelajaran; c) menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskorannya; ). melakukan
Volume 8, No. 49 April 2021 | 91
analisis kualitas instrumen; e) melakukan penilaian; f) mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian; g)
melaporkan hasil penilaian; dan h)
memanfaatkan laporan hasil penilaian. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk penilaian akhir dan/atau ujian sekolah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik digunakan untuk: (a) mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi Peserta Didik; (b) memperbaiki proses pembelajaran; dan (c) menyusun laporan kemajuan hasil belajar harian, tengah semester, akhir semester, akhir tahun. dan/atau kenaikan kelas.
Dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017, yang dimaksud dengan Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Peraturan
Pemerintah terbaru Tentang Guru ini menyebutkan bahwa profesi guru di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu Guru Tetap dan Guru dalam Jabatan. Guru Tetap adalah guru yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dengan dasar perjanjian kerja dan telah bertugas paling sedikit 2 tahun secara terus menerus. Guru dalam Jabatan merupakan Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Guru bukan Pegawai Negeri Sipil (Non PNS) yang telah mengajar pada satuan pendidikan.
Sebelum munculnya Undang-undang
Nomor 5 Tahun 2014. Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), Peraturan Tentang
Pegawai Negeri Sipil mengacu pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003
mengenai Ketenagakerjaan. Setelah
lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang ASN, maka Pegawai Negeri Sipil disebut sebagai Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pasal 6). Berdasarkan kedua peraturan tersebut, maka pembagian profesi guru terbagi menjadi dua yaitu Guru ASN dan Guru Non ASN. Guru ASN meliputi Guru PNS dan Guru Pegawai Perintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sedangkan status diluar tersebut disebut dengan Guru Non ASN. Guru Non ASN terdiri dari Guru Tidak Tetap (GTT/Honorer) dan Guru Tetap Yayasan (GTY), baik di daerah, provinsi maupun di tingkat pusat. Secara kualitas dalam pembelajaran dan pengajaran, guru ASN dan guru non ASN tidak memiliki perbedaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru dituntut untuk memiliki
kualifikasi akademik, kompetensi,
sertifikat pendidik, sehat secara jasmani dan rohani. Berdasarkan undang-undang tersebut ternyata tidak ada perbedaan kualifikasi menjadi guru ASN maupun guru non ASN sebagai syaratnya. Ini berarti secara kualitas, tidak terdapat perbedaan antara guru ASN dan guru non
ASN. Berdasarkan uraian tentang
pelaksanaan penilaian menurut standar nasional di atas dan peran guru ASN dan Non ASN, maka kemampuan penilaian seorang guru/pendidik adalah hal yang penting. Karena penilaian yang dilakukan akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut pengambilan keputusan berikutnya
bagi siswa. Hasil penilaian juga
menggambarkan ketercapaian
keberhasilan belajar siswa. Kemampuan penilaian ini melekat pada kompetensi
Volume 8, No. 49 April 2021 | 92
pedagogik, profesional, sosial dan
kepribadian seorang guru sebagai
pendidik sesuai standar pendidik yang
diamanatkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun
2007. Kemampuan penilaian/asesmen
menjadi lebih penting lagi peranannya saat ini ketika terjadinya pandemi.
Pandemi Covid-19 yang terjadi di dunia telah memaksa adanya perubahan pada dunia pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka serta merta berubah menjadi pembelajaran jarak jauh. Kebijaksanaan ini diambil oleh pemerintah pusat dan daerah agar pembelajaran tetap berjalan namun tetap bisa memutus penyebaran virus Corona ini. Perubahan cara pembelajaran yang sangat berbeda ini jelas membutuhkan adaptasi bagi sekolah, terutama guru dan peserta didik. Termasuk SMPN 4
Cibitung, sebagai salah satu
penyelenggara pendidikan di kabupaten Bekasi. Desain pembelajaran jarak jauh dan penggunaan aplikasi IT merupakan perencanaan pembelajaran yang harus dilakukan oleh SMPN 4 Cibitung. Selain itu juga ada strategi penilaian dan evaluasi yang harus ditentukan karena mengikuti pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pendidik di SMPN 4 Cibitung telah melaksanakan penilaian sesuai standar penilaian sebagai wujud kompetensinya sebagai pendidik di pembelajaran jarak jauh dalam masa pandemi covid ini. Maka
laporan penelitian ini menganalisis
kebutuhan pelatihan standar penilaian yang diperlukan pendidik baik guru ASN dan Non ASN SMPN 4 Cibitung berbasis
pemetaan mutu. Adakah perbedaan
kebutuhan pelatihan kompetensi
pedagogik antara guru ASN dan Non ASN dalam melaksanakan penilaian/asesmen. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi rekomendasi pemenuhan mutu pada tahun berikutnya sehingga program kegiatan terlaksana efektif dan efisien. Pada akhirnya akan meningkatkan mutu Standar Pendidik, Standar Kompetensi Lulusan, dan Standar Penilaian di SMPN 4 Cibitung.
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif. penelitian
kualitatif adalah penelitian untuk
mendapatkan data dan informasi yang
bermakna secara lebih mendalam
(Sugiyono, 2011:20). Data diperoleh dengan menyebarkan instrumen kepada semua guru SMPN 4 Cibitung yang terdiri dari 18 ASN dan 27 non ASN.
Penyebaran instrumen metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
survei tipe cross-sectional, yang
dilaksanakan dalam satu waktu
pengambilan data (Creswell, 2014; Ali, 2014). Teknik penyebaran instrumen menggunakan googleform dengan link https://forms.gle/jdHqxCtaM1VdXzT59. Butir soal instrumen yang digunakan adalah soal-soal pada instrumen PMP tahun 2020 yang sudah disesuaikan dengan kondisi pandemi covid 19. Indikator yang ditanyakan dalam angket adalah: 1) aspek penilaian sesuai ranah kompetensi; 2) teknik penilaian objektif dan akuntabel; 3) penilaian pendidikan ditindaklanjuti; 4) instrumen penilaian
meyesuaikan aspek; 5) penilaian
mengikuti prosedur.
Pada akhirnya data yang terkumpul diolah sehingga diperoleh nilai untuk setiap indikator. Pembahasan dilakukan dengan
Volume 8, No. 49 April 2021 | 93
cara: 1) menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik; 2) Nilai yang muncul dibandingkan dengan data capaian SNP yang digunakan: “menuju SNP 1” dengan rentang nilai 0-2.04, “menuju SNP 2” dengan rentang 2.05-3.70, “menuju SNP 3” dengan kategori 3.71-5.06, “menuju SNP 4” dengan rentang 5.07-6.66, dan “sudah SNP” dengan rentang 6.67-7.00; dan 3) narasi deskriptif dan memaknainya.