• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERDASAR PEMETAAN MUTU PENDIDIKAN (PMP) PADA MASA PANDEMI COVID 19 BAGI GURU ASN DAN NON ASN SMPN 4 CIBITUNG

Siti Nurchayati

*Kepala SMPN 4 Cibitung Kabupaten Bekasi Email: [email protected]

Abstrak : Pemetaan Mutu adalah memetakan mutu pendidikan pada satuan pendidikan

berdasarkan SNP. Pemetaan mutu dilaksanakan melalui kegiatan evaluasi diri sekolah (EDS) berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Evaluasi Diri Sekolah dimulai dengan penyusunan instrumen, pengumpulan, pengolahan dan analisis data, hingga pembuatan peta mutu. Luaran dari pemetaan mutu adalah: peta capaian standar nasional pendidikan di satuan pendidikan, sebagai baseline, masalah-masalah yang dihadapi, dan rekomendasi perbaikannya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan analisis kebutuhan pelatihan standar penilaian bagi guru ASN dan Non ASN di SMPN 4 Cibitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Penyebaran instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei tipe cross-sectional. Hasil penelitian menunjukan dari 45 guru sebanyak 1 orang (2,2%) masuk dalam kategori menuju SNP 1, lalu 7 orang (15,6%) masuk dalam kategori menuju SNP 2, sebanyak 24 orang (53,3%) masuk dalam kategori menuju SNP 3, dan ada 13 (28,9%) masuk dalam kategori menuju SNP 4 serta tidak ada guru yang masuk dalam kategori SNP. Guru ASN memperoleh nilai 4,49 (menuju SNP 3) dan guru Non ASN 4,34 (menuju SNP 3). Simpulan dari penelitian ini adalah pemenuhan standar penilaian pendidikan guru ASN dan Non ASN SMPN 4 Cibitung masih berada pada kategori menuju SNP 3 sehingga masih memerlukan peningkatan capaian Standar Penilaian Pendidikan melalui pelatihan

Volume 8, No. 49 April 2021 | 88

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 28 Tahun 2016

tentang Sistem Penjaminan Mutu

Pendidikan Dasar Dan Menengah

menyatakan mutu pendidikan adalah

tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan

pendidikan dengan Standar Nasional

Pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan

merupakan suatu mekanisme yang

memastikan bahwa seluruh proses

penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu. Sedangkan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala

kegiatan untuk meningkatkan mutu

Pendidikan, saling berinteraksi dalam

kesatuan sistem, terencana serta

berkelanjutan.

Dalam hal penjaminan mutu satuan

pendidikan mempunyai tugas dan

wewenang dalam pelaksanaan Penjaminan Mutu Internal yang terdiri atas: (a)

merencanakan, melaksanakan,

mengendalikan, dan mengembangkan

SPMI; (b) menyusun dokumen SPMI yang terdiri atas: (1) dokumen kebijakan, (2) dokumen standar, dan (3) dokumen

formulir; (c) membuat perencanaan

peningkatan mutu yang dituangkan dalam rencana kerja sekolah; (d) melaksanakan pemenuhan mutu, pada pengelolaan dan proses pembelajaran; (e) satuan pendidikan membentuk tim penjamin mutu; serta (f) pengelolaan data terkait mutu pendidikan pada satuan pendidikan.

Berdasarkan tugas dan wewenang dalam penjaminan mutu, secara tekhnis sekolah dapat melakukan tahapan-tahapan

dengan siklus sebagai berikut: (a)

Memetakan mutu pendidikan pada tingkat

satuan pendidikan berdasarkan SNP; (b)

Menyusun rencana kerja terkait

peningkatan mutu sekolah; (c)

Melaksanakan pemenuhan mutu

pengelolaan dan proses pembelajaran; (d) Melaksanakan monitoring dan evaluasi; (e)

Menyusun strategi kenaikan kualitas

bersumber hasil monitoring serta penilaian. Gambar 1. Siklus Penjaminan Mutu

Pendidikan (Kemendikbud, 2016)

Gambar 2. Langkah-langkah Siklus Penjaminan Mutu Pendidikan di Sekolah

(Kemendikbud, 2016)

Pemetaan Mutu adalah memetakan mutu pendidikan pada satuan pendidikan berdasarkan SNP melalui kegiatan evaluasi diri yang menghasilkan peta mutu (capaian standar), akar masalah yang dihadapi dan

rekomendasi. Semua unsur satuan

pendidikan harus ikut serta pada

pelaksanaan (Juklak PMP hal 45-55).

Pemetaan mutu dilaksanakan melalui kegiatan evaluasi diri sekolah (EDS) berdasarkan Standar Nasional Pendidikan

(SNP). Pelaksanaan EDS dilakukan

dengan tahapan (1) membuat instrumen (2) mengumpulkan data, (3) mengolah dan menganalisis data, serta (4) menyusun peta mutu. Luaran dari pemetaan mutu adalah:

Volume 8, No. 49 April 2021 | 89

pendidikan di satuan pendidikan, sebagai

baseline; (b) masalah-masalah yang

dihadapi; (c) rekomendasi perbaikannya. Dengan kata lain yang dimaksud

pemetaan mutu adalah proses kegiatan

pengumpulan, pengolahan, dan analisis

data/informasi tentang capaian

pemenuhan standar nasional pendidikan yang akan menghasilkan rekomendasi berupa program dan kegiatan pemenuhan mutu berikutnya. Indikator keberhasilan SPMI dapat tampak dari Indikator proses, output, outcome, dan dampak. Adanya peningkatan perolehan nilai rapot mutu pada 8 Standar Nasional Pendidikan setiap tahunnya menandakan bahwa Mutu sekolah mengalami perbaikan menjadi

lebih baik. Delapan pelaksanaan

pendidikan oleh sekolah yang harus sesuai mutu Standar Nasional Pendidikan terdiri dari: 1) Standar Kompetensi Lulusan; 2) Standar Isi; 3) Standar Proses; 4) Standar Penilaian; 5) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 6) Standar Pengelolaan; 7) Standar Sarana dan Prasarana; dan 8) Standar Pembiayaan.

Sekolah sebagai satuan pendidikan dalam proses pendidikan menghasilkan output peserta didik dengan kompetensi lulusan sesuai standar yang ditetapkan. Prosesnya melalui pembelajaran dan

diakhiri dengan asesmen/penilaian.

Penilaian pembelajaran merupakan tugas pendidik dan satuan pendidikan yang pada pelaksanaannya harus sesuai Standar Penilaian. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian mengatakan

bahwa Penilaian Pendidikan adalah

kriteria mengenai lingkup, tujuan,

manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar

siswa yang merupakan dasar evaluasi hasil belajar siswa. Penilaian dilakukan oleh Pendidik, Satuan Pendidikan, dan Pemerintah. Tujuan penilaian oleh pendidik adalah untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik

secara berkesinambungan. Sedangkan

penilaian yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian Standar Kompetensi Lulusan untuk semua mata pelajaran.

Penilaian yaitu proses

mengumpulkan serta mengolah data untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Pendidik dan Satuan pendidik ketika melaksanakan penilaian harus berdasar pada prinsip penilaian hasil belajar yaitu: a) sahih; b) objektif; c) adil; d) terpadu; e)

terbuka; f) menyeluruh dan

berkesinambungan; g) sistematis; h) beracuan kriteria; dan i) akuntabel.

Penilaian hasil belajar siswa pada

melingkupi: a) sikap; b) pengetahuan; dan c) keterampilan.

Penilaian sikap adalah kegiatan yang

dilakukan oleh pendidik untuk

memperoleh informasi deskriptif

mengenai perilaku peserta didik. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan: mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran; mencatat perilaku peserta

didik dengan menggunakan lembar

observasi/pengamatan; menindaklanjuti

hasil pengamatan; dan mendeskripsikan

perilaku peserta didik. Penilaian

pengetahuan adalah kegiatan yang

dilakukan untuk mengukur sejauh mana siswa dapat menguasai pengetahuan. Langkah-langkah dalam melaksanakan pengukuran aspek pengetahuan yakni: menyusun perencanaan; mengembangkan

Volume 8, No. 49 April 2021 | 90

instrumen; melaksanakan penilaian;

memanfaatkan hasil penilaian; serta

menyusun laporan hasil penilaian dengan menggunakan skala 0-100 dan deskripsi. Sementara penilaian keterampilan yaitu aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengukur kemampuan siswa menerapkan

pengetahuan yang dimiliki dalam

menyelesaikan tugas tertentu. Tahapan

penilaian aspek keterampilan yang

dilaksanakan tidak berbeda dengan

langkah-langkah pengukuran aspek

pengetahuan. Sedangkan evaluasi hasil belajar dapat menggunakan data/informasi hasil ulangan, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan. Instrumen penilaian yang digunakan dapat

berupa tes, pengamatan, penugasan

perseorangan/kelompok, dan bentuk lain

yang sesuai dengan karakteristik

kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.

Mekanisme penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah melakukan: a)

perancangan strategi penilaian yang

dilakukan pada saat penyusunan rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP)

berdasarkan silabus; b) penilaian aspek

sikap dilakukan melalui

observasi/pengamatan dan teknik

penilaian lain yang relevan, dan

pelaporannya menjadi tanggungjawab

wali kelas atau guru kelas; c) penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai; d) penilaian keterampilan dilakukan melalui

praktik, produk, proyek, portofolio,

dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai; e) peserta didik yang belum mencapai KKM satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran

remedi; dan f) hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi. Sedangkan mekanisme

penilaian hasil belajar oleh satuan

Pendidikan terdiri dari: a) penetapan KKM yang harus dicapai oleh peserta didik melalui rapat dewan pendidik; b) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan pada semua mata pelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan; c) penilaian pada akhir jenjang pendidikan dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah; d) laporan hasil penilaian pendidikan pada akhir semester dan akhir tahun ditetapkan dalam rapat dewan pendidik berdasar hasil penilaian

oleh Satuan Pendidikan dan hasil

penilaian oleh Pendidik; dan e) kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan melalui rapat dewan pendidik.

Secara teknis prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan urutan: (a)

menetapkan tujuan penilaian dengan

mengacu pada RPP yang telah disusun; (b) menyusun kisi-kisi penilaian; (c) membuat instrumen penilaian berikut pedoman penilaian; (d) melakukan analisis kualitas instrumen; (e) melakukan penilaian; (f)

mengolah, menganalisis, dan

menginterpretasikan hasil penilaian; (g) melaporkan hasil penilaian; dan (h) memanfaatkan laporan hasil penilaian. Satuan pendidikan bertugas melakukan prosedur penilaian hasil belajar yang

dilakukan dengan mengkoordinasikan

kegiatan: a) menetapkan KKM; b)

menyusun kisi-kisi penilaian mata

pelajaran; c) menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskorannya; ). melakukan

Volume 8, No. 49 April 2021 | 91

analisis kualitas instrumen; e) melakukan penilaian; f) mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian; g)

melaporkan hasil penilaian; dan h)

memanfaatkan laporan hasil penilaian. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk penilaian akhir dan/atau ujian sekolah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik digunakan untuk: (a) mengukur dan mengetahui pencapaian kompetensi Peserta Didik; (b) memperbaiki proses pembelajaran; dan (c) menyusun laporan kemajuan hasil belajar harian, tengah semester, akhir semester, akhir tahun. dan/atau kenaikan kelas.

Dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017, yang dimaksud dengan Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih,

menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

pendidikan menengah. Peraturan

Pemerintah terbaru Tentang Guru ini menyebutkan bahwa profesi guru di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu Guru Tetap dan Guru dalam Jabatan. Guru Tetap adalah guru yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dengan dasar perjanjian kerja dan telah bertugas paling sedikit 2 tahun secara terus menerus. Guru dalam Jabatan merupakan Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Guru bukan Pegawai Negeri Sipil (Non PNS) yang telah mengajar pada satuan pendidikan.

Sebelum munculnya Undang-undang

Nomor 5 Tahun 2014. Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), Peraturan Tentang

Pegawai Negeri Sipil mengacu pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003

mengenai Ketenagakerjaan. Setelah

lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang ASN, maka Pegawai Negeri Sipil disebut sebagai Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pasal 6). Berdasarkan kedua peraturan tersebut, maka pembagian profesi guru terbagi menjadi dua yaitu Guru ASN dan Guru Non ASN. Guru ASN meliputi Guru PNS dan Guru Pegawai Perintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sedangkan status diluar tersebut disebut dengan Guru Non ASN. Guru Non ASN terdiri dari Guru Tidak Tetap (GTT/Honorer) dan Guru Tetap Yayasan (GTY), baik di daerah, provinsi maupun di tingkat pusat. Secara kualitas dalam pembelajaran dan pengajaran, guru ASN dan guru non ASN tidak memiliki perbedaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru dituntut untuk memiliki

kualifikasi akademik, kompetensi,

sertifikat pendidik, sehat secara jasmani dan rohani. Berdasarkan undang-undang tersebut ternyata tidak ada perbedaan kualifikasi menjadi guru ASN maupun guru non ASN sebagai syaratnya. Ini berarti secara kualitas, tidak terdapat perbedaan antara guru ASN dan guru non

ASN. Berdasarkan uraian tentang

pelaksanaan penilaian menurut standar nasional di atas dan peran guru ASN dan Non ASN, maka kemampuan penilaian seorang guru/pendidik adalah hal yang penting. Karena penilaian yang dilakukan akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut pengambilan keputusan berikutnya

bagi siswa. Hasil penilaian juga

menggambarkan ketercapaian

keberhasilan belajar siswa. Kemampuan penilaian ini melekat pada kompetensi

Volume 8, No. 49 April 2021 | 92

pedagogik, profesional, sosial dan

kepribadian seorang guru sebagai

pendidik sesuai standar pendidik yang

diamanatkan Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun

2007. Kemampuan penilaian/asesmen

menjadi lebih penting lagi peranannya saat ini ketika terjadinya pandemi.

Pandemi Covid-19 yang terjadi di dunia telah memaksa adanya perubahan pada dunia pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka serta merta berubah menjadi pembelajaran jarak jauh. Kebijaksanaan ini diambil oleh pemerintah pusat dan daerah agar pembelajaran tetap berjalan namun tetap bisa memutus penyebaran virus Corona ini. Perubahan cara pembelajaran yang sangat berbeda ini jelas membutuhkan adaptasi bagi sekolah, terutama guru dan peserta didik. Termasuk SMPN 4

Cibitung, sebagai salah satu

penyelenggara pendidikan di kabupaten Bekasi. Desain pembelajaran jarak jauh dan penggunaan aplikasi IT merupakan perencanaan pembelajaran yang harus dilakukan oleh SMPN 4 Cibitung. Selain itu juga ada strategi penilaian dan evaluasi yang harus ditentukan karena mengikuti pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pendidik di SMPN 4 Cibitung telah melaksanakan penilaian sesuai standar penilaian sebagai wujud kompetensinya sebagai pendidik di pembelajaran jarak jauh dalam masa pandemi covid ini. Maka

laporan penelitian ini menganalisis

kebutuhan pelatihan standar penilaian yang diperlukan pendidik baik guru ASN dan Non ASN SMPN 4 Cibitung berbasis

pemetaan mutu. Adakah perbedaan

kebutuhan pelatihan kompetensi

pedagogik antara guru ASN dan Non ASN dalam melaksanakan penilaian/asesmen. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi rekomendasi pemenuhan mutu pada tahun berikutnya sehingga program kegiatan terlaksana efektif dan efisien. Pada akhirnya akan meningkatkan mutu Standar Pendidik, Standar Kompetensi Lulusan, dan Standar Penilaian di SMPN 4 Cibitung.

METODOLOGI

Penelitian ini merupakan

penelitian deskriptif kualitatif. penelitian

kualitatif adalah penelitian untuk

mendapatkan data dan informasi yang

bermakna secara lebih mendalam

(Sugiyono, 2011:20). Data diperoleh dengan menyebarkan instrumen kepada semua guru SMPN 4 Cibitung yang terdiri dari 18 ASN dan 27 non ASN.

Penyebaran instrumen metode yang

digunakan dalam penelitian ini adalah

survei tipe cross-sectional, yang

dilaksanakan dalam satu waktu

pengambilan data (Creswell, 2014; Ali, 2014). Teknik penyebaran instrumen menggunakan googleform dengan link https://forms.gle/jdHqxCtaM1VdXzT59. Butir soal instrumen yang digunakan adalah soal-soal pada instrumen PMP tahun 2020 yang sudah disesuaikan dengan kondisi pandemi covid 19. Indikator yang ditanyakan dalam angket adalah: 1) aspek penilaian sesuai ranah kompetensi; 2) teknik penilaian objektif dan akuntabel; 3) penilaian pendidikan ditindaklanjuti; 4) instrumen penilaian

meyesuaikan aspek; 5) penilaian

mengikuti prosedur.

Pada akhirnya data yang terkumpul diolah sehingga diperoleh nilai untuk setiap indikator. Pembahasan dilakukan dengan

Volume 8, No. 49 April 2021 | 93

cara: 1) menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik; 2) Nilai yang muncul dibandingkan dengan data capaian SNP yang digunakan: “menuju SNP 1” dengan rentang nilai 0-2.04, “menuju SNP 2” dengan rentang 2.05-3.70, “menuju SNP 3” dengan kategori 3.71-5.06, “menuju SNP 4” dengan rentang 5.07-6.66, dan “sudah SNP” dengan rentang 6.67-7.00; dan 3) narasi deskriptif dan memaknainya.