• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYAJIAN HASILPENELITIAN

B. Berdasarkan Hukum

Sesungguhnya jika kita telusuri berbagai jenis kenakalan di kalangan siswa SMA Dwijendra dapat digolongkan ke dalam bentuk kenakalan remaja. Tidak semua jenis kenakalan atau bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh siswa dapat

diatur berdasarkan tata tertib sekolah mengingat kompleksnya masalah-masalah kenakalan remaja. Khusus mengenai perilaku penyimpangan di kalangan siswa SMA Dwijendra yang terlibat penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas yang mengakibatkan terjadinya kehamilan siswa di luar nikah tergolong bentuk penyimpangan berat. Dikatakan tergolong bentuk penyimpangan berat karena tata tertib sekolah yang diberlakukan tidak mengatur perilaku penyimpangan siswa yang demikian. Kasus tersebut di atas dan kasus-kasus lainnya yang serupa tampaknya sangat sulit dicari solusi pemecahannya dengan hanya bersandarkan pada tata tertib yang berlaku.

Dikatakan demikian, oleh karena keterbatasan dari sifat berlakunya tata tertib sekolah hanya sebatas mengatur perilaku penyimpangan siswa yang digolongkan ringan. Sedangkan perilaku penyimpangan siswa yang tergolong berat (penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas dan lain-lainnya) sulit dicari solusi pemecahannya. Jika sekolah menemukan anak didiknya demikian sekolah bersangkutan wajib berkoordinasi atau melaporkan kepada pihak berwajib. Tujuannya untuk menghindari agar anak-anak didik yang lainnya tidak terbawa arus pergaulan yang demikian.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan mengatakan bahwa pernah ada seorang siswa SMA Dwijendra terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang. Penanganan kasus tersebut tidak sepenuhnya diserahkan kepada pihak berwajib, tetapi penyelesaiannya menggunakan pendekatan persuasif. Pertama- tama pihak sekolah memanggil orang tua wali murid bersangkutan agar pihak orang tua wali murid tersebut berkenan memperhatikan secara khusus tingkah

laku siswa di lingkungan keluarga. Apabila dengan cara itu, tidak juga berhasil maka ditempuh cara lain yakni melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwajib. Proses penyelesaian kasus demikian biasanya bersandar pada hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau yang lazim disingkat KUHP. Berdasarkan KUHP pihak berwajib melakukan penyidikan sejauh mana keterlibatan siswa tersebut penggunakan obat-obat terlarang. Dalam proses penyidikan pihak kepolisian mengumpulkan sebanyak mungkin bukti-bukti, dan saksi-saksi untuk menguatkan hasil penyidikan di lapangan. Apabila bukti-bukti, saksi-saksi dipandang cukup kuat dan lengkap, proses selanjutnya menyerahkan berkas hasil penyidikan kepada pihak Kejaksaan Tinggi Denpasar.

Sesuai dengan tugas dan kewenangan pihak Kejaksaan Tinggi Denpasar kemudian memeriksa kembali kelengkapan dari berkas tersebut. Jika berkas tersebut telah memenuhi semua unsur yang menjadi persyaratan utama maka berkas itu akan dileimpahkan ke Pengadilan Negeri Denpasar. Atas dasar tugas dan kewenangan Pengadilan Negeri Denpasar kemudian melakukan pemanggilan terhadap, baik terdakwa (tergugat) maupun saksi.

Dari berkas penyidikkan tersebut pihak Pengadilan Negeri Denpasar melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa. Pemeriksaan dilakukan dengan maksud agar pihak Pengadilan Negeri Denpasar dapat mengetahui sejauh mana pihak terdakwa terlibat sebagai pengguna atau pengedar obat-obat terlarang. Dalam proses persidangan selain menggunakan berkas penyidikan biasanya seorang hakim juga menghadirkan saksi-saksi. Kehadiran saksi-saksi di dalam

persidangan untuk dimintai keterangan-keterangan khususnya menyangkut keterlibatan terdakwa. Berdasarkan bukti dan keterangan saksi barulah kemudian seorang hakim dapat memutuskan suatu perkara secara adil.

Dalam memutuskan suatu perkara khususnya menyangkut penyalah- gunaan obat-obat terlarang (seperti: ganja, ekstasi, dilihat terlebih dahulu oleh seorang hakim adalah jenis pelanggaran yang dilakukan terdakwa. Berdasarkan jenis pelanggaran yang dilakukan kemudian seorang hakim medakwa terdakwa dengan fasal dalam KUHP.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini mengkaji fenomena pendidikan dengan menitik-beratkan tiga permasalahan utama seperti diuraikan dalam bab pendahuluan. Temuan dari penelitian ini, sekaligus merupakan butir-butir kesimpulan yang akan diuraikan sebagai berikut :

1. Secara historis tercatat bahwa sejak mulai tahun ajaran 1985/1986 SMA Dwijendra menawarkan kurikulum yang berbasis muatan lokal dengan memasukkan bidang studi, seperti; pendidikan budi pekerti sebagai muatan lokal baru, sedangkan agama Hindu, dan bahasa daerah merupakan muatan lokal yang tergolong lama;

2. Para praktisi pendidikan di SMA Dwijendra cukup responsif dengan perkembangan jaman, sehingga rancangan kurikulum yang bermuatan lokal sangat tepat dan sesuai dengan konstelasi jaman;

3. Khususnya mengenai muatan lokal pendidikan budi pekerti dapat mencegah dan mengubah persepsi, perilaku dan penilaian siswa bahwa berbagai bentuk penyimpangan adalah tindakan yang tidak dibenarkan, baik dari sudut tata tertib sekolah maupun dari sudut hukum pidana;

4. Sebelum adanya penerapan pendidikan budi pekerti di SMA Dwijendra tingkat penyimpangan perilaku siswa relatif meningkat;

5. Sedangkan sesudah penerapan pendidikan budi pekerti tingkat keberhasilan yang dicapai SMA Dwijendra menunjukkan adanya penurunan tingkat penyimpangan perilaku siswa;

6. Hal di atas, menandakan bahwa keberhasilan peran guru bidang studi pendidikan budi pekerti dalam menanamkan nilai-nilai luhur Kebudayaan Bali. Melalui pendidikan budi pekerti menunjukkan adanya hubungan positif dengan terjadinya perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih baik.

5.2 Saran

Membaca uraian tentang butir-butir kesimpulan di atas maka melalui penelitian ini, disumbang juga sejumlah saran yang ada manfaatnya. Adapun saran yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

1. Diharapkan SMA Dwijendra terus berupaya menyempurnakan kurikulum yang ditawarkan kepada siswa;

2. Khususnya mengenai kandungan muatan lokal yang terdapat di dalam kurikulum sangat diharapkan agar SMA Dwijendra meningkatkan kinerja guru bidang studi bersangkutan;

3. Dalam menangani berbagai perilaku penyimpangan yang dilakukan siswa SMA Dwijendra agar menggunakan pendekatan persuasif, maksudnya untuk menghindari munculnya kelompok-kelompok baru siswa yang berperilaku menyimpang;

4. Diharapkan SMA-SMA di lingkungan Kota Denpasar mencontoh keberhasilan yang dicapai oleh SMA Dwijendra dalam menekan terjadinya kelompok siswa yang berperilaku menyimpang.

DAFTAR PUSTAKA

Dokumen terkait