PERANAN PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
DALAM PERUBAHAN PERILAKU SISWA KELAS II SMA DWIJENDRA: PERSPEKTIF ANTROPOLOGI HUKUM
DI DENPASAR
Oleh I Nyoman Sama
PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab pendahuluan ini akan dibicarakan substansinya secara terinci dan berurutan sebagai berikut : 1) Batasan dan Pengetian istilah; 2) Latar belakang; 3) Rumusan masalah; 4) Tujuan penelitian; 5) Ruang lingkup masalah; 6) Signifikansi penelitian; 7) Asumsi penelitian.
1.1 BATASAN DAN PENGERTIAN ISTILAH
Untuk menghindari agar tidak terjadi kerancuan dalam menafsirkan arti dari istilah-istilah yang dipergunakan dalam penelitian yang berjudul Peranan Pendidikan Budi Pekerti Dalam Perubahan Perilaku Siswa Kelas II SMA DWIJENDRA : Perspektif Antropologi Hukum. Selanjutnya akan dijelaskan istilah-istilah yang dianggap penting dan relevan dengan judul yang dikedepankan.
1.1.1. Peranan
yang menempati suatu kedudukan sosial yang didapatnya dari hasil usaha sendiri”. Sedangkan pengertian peranan yang digariskan atau dalam bahasa asingnya disebut dengan ascribed role adalah “perilaku seorang yang menempati suatu kedudukan sosial yang diperoleh dari ketentuan adat-istidat (Koentjaraningrat, 85: 169). Terkait dengan penelitian ini peranan dimaksudkan suatu perilaku seseorang yang menempati kedudukan yang mempersonifikasikan suatu watak manusia tertentu dalam hal ini guru pengajar (pendidik) sebagai seseorang yang melakukan kewajibannya sesuai dengan yang ditentukan oleh institusi pendidikan (sekolah) untuk membentuk watak, dasar-dasar kepercayaan bahkan termasuk meluruskan perbuatan siswa agar selalu berpedoman pada nilai, norma, hukum, dan adat-istiadat.
1.1.2. Pendidikan
keterampilan melalui proses belajar mengajar agar siswa menjadi manusia yang lebih dewasa.
1.1.3. Budi Pekerti
Jika kita perhatikan kata budi pekerti terdiri dari dua suku kata yaitu kata budi dan pekerti. Kata budi sering artinya: “sebagai akal, atau gagasan” (Kontjaraningrat 1997: 231) kemudian kata “pekerti adalah merupakan watak, atau tabiat baik”(Echols and Shadily, 1990: 83). Dengan demikian, pendidikan budi pekerti adalah perpaduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk yang dilakukan oleh institusi pendidikan (sekolah).
1.1.4. Perilaku
1.1.5. Siswa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa siswa adalah orang atau anak yang sedang berguru atau belajar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991: 675). Dikaitkan dengan penelitian ini dapat dirumuskan mengenai pengertian siswa adalah orang atau sekelompok orang yang terikat dalam proses belajar mengajar di lingkungan sekolah khususnya dalam hal ini di lingkungan SMA Dwijendra.
1.1.6. Hukum
Kata hukum pidana merupakan kata-kata yang mempunyai lebih dari pada satu pengertian. Dapat dimengerti bahwa banyak pandangan yang dikemukakan oleh para ahli hukum dan dari sekian banyak pandangan yang telah dirumuskan tidak satupun dapat dianggap paling sempurna yang dapat diberlakukan secara umum. Menurut rumusannya hukum pidana merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukuman itu dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut (Lamintang, 1997: 2).
poenale. Sedangkan hukum pidana dalam arti subyektif mempunyai dua pengertian, yaitu : Pertama, hak dari negara dan alat-alat kekuasaannya untuk menghukum, yakni hak yang telah mereka peroleh dari peraturan-peraturan yang telah ditentukan oleh hukum pidana dalam arti objektif; Kedua, hak dari negara untuk mengaitkan pelanggaran terhadap peraturan-peraturannya dengan hukuman (Lamintang, 1997 : 5).
Hukum pidana dalam arti subjektif di dalam pengertian seperti yang disebut terakhir di atas, juga disebut ius puniendi.
Menurut sudut pandang ilmu hukum pidana, sesuatu tindakan itu dapat merupakan hal melakukan sesuatu ataupun hal tidak melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Sungguhpun demikian setiap tindak pidana yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana itu pada umumnya dapat kita jabarkan ke dalam unsur-unsur yang pada dasarnya dapat kita bagi menjadi dua, yaitu :
Pertama, unsur tindak pidana subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk di dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Adapun unsur-unsur subjektif dari tindak pidana, yaitu :
1) kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa) ; 2) maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging;
3) macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain;
4) merencanakan terlebih dahulu seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut pasal 340 KUHP;
Sedangkan kedua, unsur tindak pidana objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan. Sebagai unsur-unsur objektif dari tindak pidana itu adalah :
1) sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid;
2) kualitas dari si pelaku, misalnya “keadaan sebagai seorang pegawai negeri” di dalam melakukan kejahatan jabatan;
3) kualitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
1.2 Latar Belakang
Pada alinea ke empat dari pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa pemerintah negara wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagainya. Selanjutnya, secara tegas dalam pasal 31 disebutkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran dan demikian juga dalam pasal 32 disebutkan pula bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang (1993: 7).
generasi muda agar kelak menjadi generasi penerus bangsa. Dalam pada itu, sekolah terus berupaya mendidik generasi muda berlandaskan pada character nation building.
Menurut UURI No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dimaksud dengan pendidikan adalah “usaha dasar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan prose belajar mengajar, latihan bagi perananya dimasa yang akan datang” (Rodiyah & Setyowati, 1996: 2). Sedangkan seperti yang dikutif oleh Rodiyah dan Setyowati Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa : “pendidikan adalah tuntunan pada segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya” (Majelis Luhur Taman Siswa, 1962: 20). Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terprogram dari pendidik dalam menyiapkan peranan peserta didik, melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk mencapai tujuan tertentu pada masa yang akan datang.
kecenderungan bermotivasi seseorang untuk menentang suatu norma yang berlaku atau keadaan seorang individu yang jauh berbeda dibandingkan dengan watak bangsa yang dalam bahasa asing sering disebut modal personality.
Munculnya perilaku menyimpang atau deviant behavior di kalangan siswa dapat diasumsikan karena semakin derasnya pengaruh kebudayaan global terhadap kebudayaan lokal khususnya kebudayaan Bali. Perilaku menyimpang di kalangan siswa hampir melanda seluruh SMA yang ada di kota Denpasar. Bentuk-bentuk penyimpangan yang sering terjadi yaitu tidak tertib waktu, bolos, tidak disiplin menggunakan seragam sekolah, perkelahian antar siswa, narkoba, hamil dan sebagainya.
Faktor-foktor seperti tersebut di atas sebagai pemicu masuknya muatan pendidikan budi pekerti sebagai salah satu bahan ajar ke dalam kurikulum SMA Dwijendra. Langkah-langkah antisipasi yang ditempuh para pendidik (guru-guru) di SMA Dwijendra dengan memasukan muatan bidang studi pendidikan budi pekerti ke dalam kurikulum diharapkan dapat menekan angka penyimpangan yang dilakukan oleh siswa. Tetapi sampai saat ini belum dapat diketahui bagaimana pengaruh pendidikan budi pekerti terhadap perilaku siswa khusunya kelas II SMA Dwijendra.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan tiga masalah, yaitu:
1. Bagaimana peranan pendidikan budi pekerti terhadap perilaku siswa kelas II di SMA Dwijendra ?
2. Bentuk-bentuk perilaku penyimpangan apa saja yang sering dilakukan oleh siswa kelas II SMA Dwijendra ?
3. Bagaimana cara-cara menanggulangi jika ada siswa berperilaku menyimpang, baik perilaku menyimpang terhadap tata tertib sekolah maupun perilaku menyimpang seperti penggunaan narkoba ?
Dari ketiga pokok masalah yang terurai di atas penulis ingin menggali informasi tentang bagaimana peranan bidang studi pendidikan budi pekerti terhadap perilaku siswa. Disamping itu, penulis ingin memahami bentuk-bentuk penyimpangan yang kerap dilakukan siswa kelas II SMA Dwijendra. Demikian juga penulis ingin mendapat gambaran yang jelas tentang cara-cara menanggulangi dari setiap masalah yang muncul serta cara-cara mana yang paling dianggap efektif.
1.4 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalah pokok yang dikedepankan dalam penelitian ini maka dapat dirumuskan pula sejumlah tujuan yaitu:
1.4.2. Mengetahui secara rinci dari bentuk-bentuk perilaku menyimpang yang pernah dilakukan oleh siswa kelas II SMA Dwijendra.
1.4.3. Untuk mengetahui cara-cara yang dipergunakan untuk menanggulangi setiap penyimpangan yang dilakukan oleh siswa kelas II SMA Dwijendra.
1.5 Ruang Lingkup Masalah
Dalam penelitian ini untuk menghidari meluasnya permasalahan yang dikedepankan maka ruang lingkup masalah akan dibatasi. Sebagai ruang lingkup masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.5.1 Penelitian ini terbatas pada pengaruh pendidikan budi pekerti terhadap perilaku siswa kelas II SMA Dwijendra. Langkah ini ditempuh oleh peneliti agar lebih mudah melakukan wawancara dan mengobservasi gerak-gerik siswa.
1.5.2. Selanjutnya dalam penelitian ini terbatas hanya pada sekolah SMA Dwijendra.
1.6 Signifikansi Penelitian
1.6.1. Signifikansi Praktis
Informasi yang digali dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman para guru SMA Dwijendra dalam menanggulangi setiap perilaku penyimpangan siswa.
1.6.2. Signifikansi Teoritis
Diharapkan dalam penelitian ini adalah; hasil penelitian secara akademis diharapkan dapat memberi sumbangan analisis bagi perkembangan dunia ilmu sosial, khusus mengenai pengaruh pendidikan budi pekerti terhadap perilaku siswa di SMA Dwijendra.
1.6.4. Selain itu, penelitian ini sebagai laboratorium ilmu sosial yang dipergunakan mahasiswa untuk menguji dan mendalami konsep-konsep, teori-teori sekaligus meningkatkan keterampilan guru dalam berbagai penelitian.
1.7 Asumsi Penelitian
Dalam penelitian ini asumsi dimaksudkan dugaan yang diterima sebagai dasar berpikir karena dianggap benar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997: 63). Dengan demikian asumsi penelitian ini dapat dijabarkan secara terinci menjadi tiga butir, yaitu:
1.7.1. Pendidikan budi perkerti telah diterapkan secara teratur dan terarah. 1.7.2. Para guru yang memberikan pendidikan budi pekerti dapat dibilang sangat
BAB II
KERANGKA TEORITIS
2.1 Tinjauan Umum Tentang Pendidikan Budi Pekerti
Kerajaan sebagai pusat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan di Bali mempunyai peranan yang cukup penting dalam mensosialisasikan nilai, norma, aturan, adat-istiadat khususnya yang tersurat dan tersirat dalam pendidikan budi pekerti. Tantri merupakan salah satu karya sastra yang sangat penting dan hingga kini digemari masyarakat Bali. Karya sastra ini berkembang dalam bentuk tradisi tulisan dan tradisi lisan (Rai, 1999: 1). Teks Tantri hadir dalam berbagai bentuk karya sastra berupa naskah seperti; tutur, satua, dan kidung dengan judul yang berbeda-beda, antara lain: Tantri Kamandaka (tutur), Ni Dyah Tantri (satua), Tantri Patalinagantung (kidung), Tantri Balwan (tutur), Tantri Eswaryadala (kidung), Tantri Pitryajna (kidung), Tantri Mandukaharana (kidung), Tantri Pisacaharana (kidung), dan Tantri Nandakaharana (kidung) (Suarka, 1998: 2).
Kamandaka diawali dengan cerita Raja Aiswaryadala yang setiap malam supaya didampingi istri baru (wiwaha karya) dan patihnya Niti Bandeswarya dititahkan untuk mengurus hal itu. Ketika sang patih Bandeswarya tak dapat lagi melaksanakan tugas itu karena semua gadis di wilayah kerajaan habis, maka Tantri (putri Sang Patih Bandeswarya) dengan ikhlas menawarkan diri untuk melayani sang raja, dan ternyata Tantri mampu meluluhkan hati sang raja melalui kemahiran bercerita, yang dilakukan selama tiga puluh hari (Zortmulder, 1985: 545).
Kuatnya nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam ceritera Tantri Kamandaka dalam kehidupan masyarakat Bali, tidak terlepas dari peranan utama dari pemerintah kerajaan. Di pusat-pusat kerajaanlah tradisi ini dipelihara dan selanjutnya disosialisasikan dalam kehidupan masyarakatnya. Tradisi sastra ini mencapai masa keemasannya pada abad XVI masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Tradisi sastra Jawa Kuna berlanjut terus pada masa kerajaan Klungkung sekitar abad XVIII-XIX, terutama pada masa pemerintahan Ida I Dewa Agung Istri Kanya hingga saat ini (Wirawan, 2003: 1, Suarka 1999: 2).
Kehadiran teks Tantri dalam berbagai bentuk karya sastra, memiliki fungsi dan arti yang sangat penting dalam masyarakat Bali. Secara tekstual disebutkan bahwa Tantri berfungsi sebagai pamarisudan bagi brahmana (wenang ika maka don awisuddani brahmana pitwi), sebagai pedoman bagi seorang raja (pemimpin)
loka), menuntun manusia berperilaku baik dan benar (mulahakenang acara
yukti), menumbuhkan rasa hormat kepada orang yang patut dihormati (matwanga
ring ye katwangana), menyadarkan manusia untuk bertindak waspada
(kaprayatnan ring solaha), menuntun manusia untuk bisa membedakan yang baik dan buruk (wruha ring yogya mwang tan yogya), menasehati orang untuk mengenal kewajiban masing-masing (matutureng swadharma), menumbuhkan rasa saling menghargai dan mempercayai (dumadyaken ing ubhayahita), menuntun manusia dalam mencapai kebahagiaan diri sendiri, masyarakat, dan terutama pemimpin (ndya ta ikang haywaning sarira mwang haywaning rat, makadhi haywaning sang prabhu).
Tradisi Tantri selalu dikumandangkan dalam aktivitas yang bersifat ritual terutama dalam upacara Manusayadnya karena Tantri pada hakikatnya merupakan untaian puncak kenikmatan, kecerdasan dan kepandaian dalam bertingkah laku (kramaning mapanggih lawan sama widagdha ring kriya) melalui sastra dan bahasa yang indah (rasmining sabda) yang tiada putus-putusnya menimbulkan rasa (ri sowening sastra tan pagataning rasa).
2.2 Nilai-nilai dalam Tantri
(Keraf, 1994: 14). Dalam teks Tantri, ada sejumlah nilai-nilai luhur yang dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Nilai-nilai luhur yang dimaksud sebagai berikut : A. Nilai Persahabatan
Ceritera Tantri pada dasarnya mengembangkan konsep nitisastra yakni perpaduan antara ilmu politik dengan ilmu sastra (humaniora) (Suarka, 1999: 7). Perpaduan dua ilmu di atas, mungkin sangat diperlukan ketika jamannya di mana sang raja/pemimpin tidak hanya terpaku pada niti (ilmu politik dan pemerintahan) saja tetapi juga harus menguasai sastra (ilmu humaniora). Raja dalam menjalankan tugasnya memerlukan bantuan sastrawan terutama berkaitan dengan masalah-masalah moralitas dan keimanan, sedangkan sastrawan dalam berkarya memerlukan perlindungan hukum dan politik dari sang penguasa. Antara raja dan sastrawan merupakan dua sisi yang berbeda namun harus berpasangan sebagaimana hakikat dari niti dan sastra sebagai satu kesatuan yang mesti diposisikan saling melengkapi.
kesamaan persepsi dan kesenangan akan melahirkan kebahagiaan (ikang wwang padha buddhinya, sami pinanganya mapupul ta ya, rahayu wasananya),
sedangkan persahabatan yang tidak dijalin atas dasar seperti tersebut di atas akan melahirkan kesengsaraan (kunang ya anelat, dudu pinangannya, dudu buddhinya, ala wasananya). Di sisi lain, persahabatan yang tidak didasari adanya kesamaan
budi, pikiran dan kesenangan akan membawa kesengsaraan (kunang yan anelat, dudu pinangannya, dudu buddhinya, ala wasananya); (3) kita harus selalu
berhati-hati terhadap calon sahabat, karena sahabat dapat menyebabkan kita tersesat (sang sargga juga megawe guna dosa); (4) kita tidak boleh cepat percaya kepada saran, usul, atau pendapat teman karenanya dapat mendatangkan keselamatan atau kesengsaraan (kunang ujar ing mitra weh ayu, kunang ujar ing mitra weh ala). Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa kita harus mempunyai
kemampuan untuk dapat menseleksi mana saran yang baik dan buruk, dan bahkan kita tidak boleh cepat percaya (hawya agya inidep); (5) dalam suatu persahabatan meski kita berbeda rupa maupun asal, tetapi jika persahatan itu dibangun atas dasar adanya kesamaan tujuan (saling tolong-menolong, saling hormat-menghormati) akan melahirkan persahabatan yang kokoh sekaligus membawa kebahagiaan (ikang dudu rupanya, dudu desanya, makumpul ta ya samitranya, wenang ta ya silih tulung lawan rowangnya, anemu teguh ing pamitranya,
sapeksa raksa ring mitranya, suka wasananya). Nilai-nilai persahabatan di atas
(OSIS). Diasumsikan dengan dasar pijakan itu akan melahir komunikasi yang serasi diantara mereka.
B. Nilai Pendidikan
Dalam teks Tantri jika kita cermati ada dua konsep pokok yang dapat kita petik sebagai acuan khususnya pendidikan budi pekerti yaitu guna widhya dan guna dosa. Untuk lebih jelasnya mengenai dua konsep dimaksud di bawah ini akan diuraikan satu persatu secara lebih rinci.
Guna widhya menurut Zoetmulder seperti yang dikutif Suarka (1999: 9)
adalah jenis pengetahuan yang membawa keutamaan sekaligus merupakan sumber amreta (ikang amreta widhya pituwi). Umumnya pengetahuan ini hanya dapat dipahami oleh orang bijak atau orang saleh (sang sadhu). Sebaiknya, untuk memahami orang dalam pergaulan, kita harus mampu mengetahui guna dari seseorang (nimittani kinawruhan gati ning guna iki). Guna dapat diartikan sifat, kegunaan, pekerjaan, kebajikan, prestasi, keunggulan, keterampilan dan unsur pokok prakreti (Zoetmulder, 1995 :316).
Gunadosa merupakan kemampuan untuk membedakan, menilai, atau
mempertimbangkan yang baik dan buruk atau yang benar dan salah (Zoetmulder, 1995: 317). Konsep guna dalam teks Tantri ini sebagai unsur pokok prakerti, dengan memunculkan tiga tokoh dominan yaitu Lembu Nandaka, Singa, Canda Pinggala, dan Anjing Sembada sebagai analogi triguna: satwam, rajah, dan tamah. Ketiga unsur triguna (satwam, rajah, dan tamah) diasumsikan bahwa kita
C. Nilai Moral
Dalam teks Tantri ada tiga nilai yang berhubungan dengan moral yaitu tidak tahu membalas budi (kretaghna), batas moralitas dan kesopanan, (maryada), dan mengadu domba (provokasi).
Kisah Tantri jika diperhatikan secara seksama mengajarkan agar kita bisa membalas budi kepada orang yang telah membantu dan menghindari sifat tidak bisa membalas budi (kretaghna). Tokoh Swarnangkara sering dimetaforakan memiliki sifat kretaghna atau nista (nicca), sesungguhnya sifat kretaghna dapat mengantarkan kita menuju kesengsaraan bahkan kematian sebagaimana dialami oleh Bagawan Dharmasuami.
swabhawanya) seperti dimetaforakan dalam kisah Si Tuma dengan Katitinggi
(Suarka, 1999: 10).
Dalam menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan sifat-sifat mengadu domba seperti yang dilakukan Si Sembada perlu dihindari. Kisah Tantri Kamandhaka mengisyaratkan bahwa provokasi akan dengan mudah dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan kita karena mereka telah mengetahui betul latar belakang kehidupan kita. Misalnya, dalam kisah cerita persahabatan Lembu Nandaka dengan Singa Canda Pinggala menjadi hancur karena provokasi Si Sembada sebagai patih kesayangan dari raja Singa Canda Pinggala. Kedua belah pihak, baik Lembu Nandaka maupun Singa Canda Pinggala sama-sama tidak mawas dan tidak mampu mengendalikan diri, yang akhirnya mereka tewas dalam perkelahian.
D. Nilai Pengendalian dan Mawas Diri
mawas diri menuntut adanya rasa pasrah yang intinya dapat membentuk manusia menjadi realistis dapat menerima kenyataan dengan lapang dada.
E. Relevansi Pemaknaan Tantri dalam Kehidupan Masyarakat
Pemaknaan teks Tantri dalam kehidupan masyarakat lebih menekankan pada upaya memberantas kesewenang-wenangan seorang raja terhadap rakyatnya. Menurut Cudamani (1993 :73) maya adalah keadaan yang selalu berubah, baik nama maupun yang dipengaruhi oleh waktu, tempat dan keadaan. Maya meliputi unsur kegelapan (awidya), unsur kebingungan (wimoha), dan unsur kebodohan (ajnana) yang menyelimuti hakikat sejati manusia (Wiryamartana, 1990: 368).
Maya yang membelennggu Raja Eswaryadala menyebabkan ia menjadi kebingungan (wimoha), mabuk (wera), oleh wirya (kekuasaan) dan aiswarya (bhoga, upabhoga, dan paribhoga). Bandeswarya sebagai maha patih tidak dapat membendung kehendak sang raja dan merelakan putrinya yang bernama Ni Dyah Tantri sekaligus memberi kepercayaan kepadanya untuk menghadapi sang raja. Dikisahkan dalam ceritanya Tantri memegang peranan penting untuk melepaskan dan menyadarkan sang raja dari belenggu kemabukan asmara (hentyarsa sanghulun). Dengan demikian, relevansi Tantri dapat dipahami sebagi Sakti.
Seperti diketahui bahwa dunia (Maya) diciptakan, dipelihara dan dilenyapkan Sang Pencipta melalui Sakti-nya.
brahmana maupun raja sama-sama memuja Siwa (siwarcana) untuk mencapai kaeswaryan. Ada perbedaan cara yang ditempuh untuk mencapai kaeswaryan, raja
melalui nithi yang berorientasi kepada aiswarya (bhoga, upabhoga, dan paribhoga) sedangkan brahmana melalui sastra yang berorientasi pada
kedharman.
2.3 Pengertian Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan budi pekerti yang pada intinya menanamkan nilai-nilai moral dalam arena pergaulan antar manusia (Departemen Penddidikan dan Kebudayaan, 1984: 4). Pendidikan budi pekerti pada umumnya berlaku dalam arena pergaulan yang lebih kompleks misalnya dalam lingkungan suatu bangsa. Selain itu, ada pula pendidikan budi pekerti berlaku secara internasional dalam pergaulan antar bangsa (Pendidikan dan Kebudayaan, 1984: 6). Dengan demikian, ada pendidikan budi pekerti yang berlaku dalam lingkungan terbatas seperti di lingkungan sekolah. Dalam karya tulis ini secara khusus akan membicarakan pendidikan budi pekerti yang dijadikan acuan dalam membina siswa sebagai peserta didik yang nantinya dapat tumbuh dan berkembang sebagai generasi bangsa.
2.4 Manfaat Pendidikan Budi Pekerti
Secara eksplisit dapat dikemukakan manfaat dari pendidikan budi pekerti bagi siswa khususnya di lingkungan SMA Dwijendra. Untuk lebih jelasnya ada sejumlah manfaat dari pendidikan budi pekerti yang dapat disajikan di bawah ini :
1. Agar siswa percaya diri dan memiliki keperibadian yang luhur;
2. Siswa dapat menjalin dan memupuk rasa persaudaraan di lingkungan sekolahnya;
3. Siswa memiliki kemampuan dan kepekaan dalam menilai lingkungan pergaulannya;
4. Dalam lingkungan pergaulannya siswa dapat membedakan perbuatan baik dan buruk atau benar dan salah;
6. Siswa mengetahui batas moralitas dan kesopanan;
7. Agar siswa tidak melakukan tindakan-tindakan di luar batas moralitas dan kesopanan;
8. Berusaha menghindari diri dari tindakan-tindakan yang bersifat provokasi dan anarkis;
9. Agar siswa memiliki pengendalian diri dan mawas diri dalam lingkungan pergaulannya.
2.5 Hubungan Pendidikan Budi Pekerti dengan Perilaku Siswa
Ungkapan “kecil itu indah” dapat dijadikan motto dalam menerapkan pendidikan budi pekerti, baik di lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah. Pendidikan budi pekerti adalah hal yang kecil tetapi jika dilaksanakan dapat membawa kesan-kesan indah yang mematri pergaulan dan kehidupan pribadi kita. Oleh karena pendidikan budi pekerti merupakan hal kecil, dan kadang-kadang orang sering menyepelakan dan mengabaikannya. Akibat dari sikap menyepelekan dan mengabaikan hal kecil itu terjadi seperti pepatah mengatakan “nila setitik rusak susu sebelanga”.
komunikasi akan terjalin hubungan dengan berbagai macam manusia, baik menyangkut aneka ragam tipe, termasuk jalin hubungan dengan berbagai macam manusia, baik menyangkut aneka ragam tipe, termasuk mereka yang sudah dikenal dengan baik, maupun yang belum kita kenal.
Dalam pelbagai hubungan ini, aktualisasi dari pendidikan budi pekerti memegang peranan penting. Batas moralitas dan kesopanan ibarat udara yang kita hirup, merupakan kebutuhan yang selalu menyadarkan kita untuk mentaatinya. Realita ini menyebabkan batas moralitas dan kesopanan seolah menyusup ke mana saja dan pada saat kapan saja. Misalnya, dalam cara berpakaian, berbicara, bergaul, menghadapi guru, mengikuti apel bendera, mengikuti pelajaraan di kelas, ujian sekolah dan sebagainya selalu harus mentaati aturan yang berlaku.
Jika kita renungkan prinsip di atas, pendidikan budi pekerti menuntut kesadaran kita dari dalam diri sendiri agar dapat mentaatinya. Bilamana dalam kenyataannya pendidikan budi pekerti dapat diamalkan dengan baik, niscaya kita bisa diterima dalam berbagai lingkungan masyarakat dengan tidak membeda-bedakan diri, baik agama, etnis, maupun golongan.
Dwijendra adalah sebagai berikut : (1) menyapa teman jika bertemu dengannya; (2) tidak mengolok-olok teman sampai melewati batas terutama sampai menyinggung hati dan harga dirinya; (3) tidak berprasangka buruk terhadapnya; (4) tidak boleh memfitnah tanpa fakta dan bukti; (5) tidak mempergunjingkan teman tetapi tetap menjaga integritas kelompok; (6) menolong teman yang sangat membutuhkan bantuan dari kita.
Selain itu, khususnya di lingkungan SMA Dwijendra agar dipupuk arena pergaulan yang tidak mengarah pada munculnya perbedaan-perbedaan atas dasar kelompok seperti: kelompok anak pejabat, kelompok anak kaya, kelompok tri wangsa, kelompok jaba, dan lain-lain. Hal-hal seperti tersebut di atas perlu mendapat perhatian semua pihak agar dapat diwujudkan siswa yang dapat menjaga nama baik institusi pendidikan, khususnya SMA Dwijendra. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa pendidikan budi pekerti berkorelasi dengan usaha-usaha agar siswa tidak berperilaku menyimpang, baik penyimpangan terhadap tata tertib, peraturan-peraturan lainnya yang berlaku di SMA Dwijendra maupun usaha-usaha agar siswa tidak terlibat dengan masalah-masalah kenakalan remaja seperti; narkoba, pergaulan bebas, pencurian dan perkelahian.
2.6 Kerangka Teori
dipakai untuk menjelaskan hubungan yang terjadi antara satu hal dengan hal lain dalam suatu sistem yang berintegrasi.
Teori belajar (learning theory) yang dipergunakan untuk memberi dasar eksak pemikiran terhadap hubungan-hubungan berfungsi dari unsur-unsur sesuatu kebudayaan, sehingga muncul teori fungsionalisme, yang termaktub dalam sebuah buku yang berjudul A Scientific Theory Of Culture and Other Essays (Malinowski, 1944: 142). Sementara itu, Malinowski berangkat dari pemikiran bahwa manusia adalah makhluk bio-psikologis, yaitu makhluk yang mempunyai unsur biologis yang berupa raga atau fisik, tetapi sekaligus ia juga punya unsur psikologis atau kejiwaan. Sebagai makhluk biologis manusia memerlukan materi-materi untuk kelangsungan hidupnya. Materi-materi-materi yang dibutuhkan untuk kelangsung hidup manusia disebut sebagai kebutuhan dasar manusia atau basic human need (Malinowski, 1923, Yitno, 1993: 7). Need atau kebutuhan, di sini
menjadi kata kunci terhadap pemahaman konsep fungsi sebagai dimaksud dalam penelitian ini. SMA Dwijendra sebagai institusi pendidikan sangat diperlukan untuk kelestarian manusia, karena institusi-institusi dimaksud memiliki makna sosial budaya. Adanya institusi pendidikan karena dorongan kebutuhan manusia akan rasa aman. Dalam struktur sosial lingkungan institusi pendidikam selalu dapat dijumpai struktur-struktur sosial yang lebih kecil. Keberadaan struktur sosial tersebut ternyata saling terkait secara fungsional (Brown, 1935).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pendenkatan Subjek Penelitian
Dipilihnya SMA Dwijendra Denpasar sebagai objek dalam penelitian ini karena SMA Dwijendra tersebut sejak tahun 1985 telah memasukkan muatan program bidang studi pendidikan budi pekerti. Sejak awal tahun ajaran 1985 SMA Dwijendra tersebut mulai memasukkan muatan bidang studi pendidikan budi pekerti sebagai muatan yang sarat dengan nilai-nilai moralitas. Secara kuantitatif dapat disajikan bahwa jumlah siswa kelas II tercatat 300 orang dan mereka semua mengikuti program bidang studi pendidikan budi pekerti. Dari seluruh siswa kelas II yang mengikuti bidang pendidikan budi pekerti menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai secara akademis tergolong baik. Jadi metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif karena gejalanya telah ada secara wajar.
3.2 Metode Penentuan Subyek Penelitian 3.2.1 Populasi Penelitian
kelompok laki dan wanita. Oleh karena itu metode penentuan subyek penelitian menggunakan metode studi populasi.
3.2.2 Sampel Penelitian
Langkah selanjutnya adalah menentukan besarnya sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini. Dalam menentukan sampel dari 300 (tiga ratus) orang siswa digunakan teknik random sampling dengan mengambil sekitar 10 persen dari keseluruhan populasi. Dari perhitungan tersebut diperoleh sampel sebanyak 30 orang siswa. Diharapkan dengan teknik random sampling diperoleh data-data yang lebih akurat.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini metode mengumpulkan data lapangan yang digunakan metode-metode yang relevan. Selain itu, penelitian ini menggunakan model pendekatan kualitatif yang artinya lebih menekankan pada usaha mengkonstruksi elemen-elemen ke dalam suatu keseluruhan dengan memperhatikan kaitan bermakna yang ditemukan dalam situasi dan dunia sosial yang diteliti (Abdullah, 1995: 7). Dengan demikian motode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai :
3.3.1 Metode Pengumpulan Data Primer
yang dijadikan sasaran penelitian (Sutrisno Hadi, 1977:159, Harsja W Bachtiar, 1977:137).
3.3.1.2 Langkah selanjutnya, dari hasil penjajagan awal itu seorang peneliti menyusun proposal penelitian yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup masalah, signifikansi penelitian, asumsi penelitian dan metode penelitian. (Koentjaraningrat, 1977: 162). Jika proposal yang diajukan oleh seorang peneliti sudah memenuhi kreteria yang ditentukan maka proses selanjutnya dapat disetujui pembimbing untuk dilakukan penelitian sebenarnya.
3.3.2 Metode Pengumpulan Data Skunder
Salah satu hal yang perlu dilakukan dalam persiapan penelitian ialah mendayagunakan sumber-sumber informasi yang tersedia di perpustakaan. Pemanfaatan sumber-sumber yang tersimpan di perpustakaan ini diperlukan, baik untuk penelitian lapangan maupun menemukan konsep-konsep, teori-teori, serta hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya: “Tidak mungkin suatu penelitian dapat dilakukan dengan baik tanpa mengadakan orientasi pendahuluan di perpustakaan” (Irawati Singarimbun, 1982: 45). Dalam hal ini penulis menggunakan beberapa buah buku untuk memperoleh konsep-konsep, dan teori-teori yang relevan dengan karangan ini.
Selain itu, dalam penelitian ini juga menggunakan data-data primer sebagai data utama yang ditunjang dengan sejumlah data skunder yang diperoleh dari institusi pendidikan seperti SMA Dwijendra terutama mengenai data jumlah siswa kelas II. Data mengenai jumlah siswa dikutip dari statistik keadaan siswa di SMA Dwijendra.
3.4 Metode Wawancara
(interview) biasa, wawancara mendalam (deep interview), wawancara bebas (independent interview). Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan diuraikan jenis-jenis teknik wawancara dimaksud.
3.4.1 Wawancara biasa
Penggunaan teknik wawancara biasa adalah dilakukan terhadap beberapa orang sebagai informan kunci (key informant) yang dapat mengetahui secaga garis besarnya mengenai masalah-masalah yang menjadi objek penelitian atau pokok-pokok permasalahan yang diteliti.
3.4.2 Wawancara mendalam (deep interview)
Wawancara mendalam atau deep interview ini dilakukan terhadap beberapa responden termasuk di dalamnya siswa kelas II SMA Dwijendra, tokoh-tokoh penting di lingkungan sekolah tersebut, yang dipandang mampu memberikan keterangan-keterangan sesuai dengan pokok masalah. 3.4.3 Wawancara bebas (indepndent interview)
3.5 Metode Analisa Data
Pertama-tama langkah yang dilakukan setelah data terkumpul adalah mengolah data. Langkah ini dilakukan dengan tujuan untuk menggeneralisasi ke dalam kelompok-kelompoknya sehingga dapat diketahui sifat, dan hubungan data secara khusus serta mendapat gambaran mengenai data secara menyeluruh. Selanjutnya, dalam penelitian ini dipergunakan metode analisa diskriptif. Metode ini, digunakan terutama untuk dapat mengetahui adanya peranan yang saling mempengaruhi antara mata pelajaran pendidikan budi pekerti dan diikuti adanya perubahan perilaku siswa SMA Dwijendra.
BAB IV
PENYAJIAN HASILPENELITIAN
4.1 Pendidikan Budi Pekerti Dalam Lintasan Sejarah
Dalam sejarah Yayasan Pendidikan Dwijendra dicatat bahwa sejak tahun ajaran 1985/1986 pendidikan budi pekerti dimasukkan sebagai muatan lokal ke dalam kurikulum SMA Dwijendra. Dimasukkannya bidang studi pendidikan budi pekerti ke dalam kurikulum sebagai muat lokal tidak terlepas dari fenomena kenakalan remaja yang kini melanda kalangan siswa khususnya di sekolah-sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu, menurut Ketua Yayasan Dwijendra Drs. I Bagus Gede Wiana adalah atas dasar pemikiran bahwa telah terjadi degradasi moral di kalangan siswa, seperti adanya perkelahian siswa, adanya pelanggaran terhadap tata tertib sekolah oleh siswa, bahkan pernah ada siswa yang terlibat dalam penggunaan obat-obat terlarang dan lain-lain.
pemikiran bahwa hanya dengan upaya-uapaya menanamkan nilai-nilai etika, nilai persahabatan, nilai pendidikan, nilai batas moralitas dan kesopanan, serta nilai pengendalian dan mawas diri seperti yang terdapat dalam ceritera Tantri Kamandaka. Kebijakan di atas selain dilandasi pemikiran tersebut juga dilandasi kearifan lokal yang bertumpu pada nilai-nilai Agama Hindu. Kebijakan ini merupakan langkah awal pihak SMA Dwijendra sebagai institusi pendidikan dalam mengantisipasi berbagai tindakan menyimpang yang dilakukan oleh siswa. Diharapkan melalui model pendekatan ini para praktisi pendidikan di lingkungan SMA Dwijendra dapat mengubah perilaku menyimpang siswa.
4.2 Bentuk-Bentuk Penyimpangan
Tata tertib sebagai seperangkat aturan yang dimiliki setiap sekolah diharapkan dapat memelihara dan memupuk kebersamaan dalam pergaulan antar siswa, guru, dan pegawai. Hampir setiap tahun ajaran baru tata tertib sekolah dilakukan peninjauan kembali maksudnya agar tata tertib tersebut dapat menjamin kehidupan bersama yang lebih selaras dan serasi. Namun, dinamika kehidupan siswa berkembang kian hari kian cepat.
SMA Dwijendra, menyebabkan semakin beragamnya bentuk penyimpangan yang dilakukan mereka.
[image:38.612.132.510.529.659.2]Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan ada kecenderungan bahwa perilaku menyimpang di kalangan siswa SMA Dwijendra masih dalam batas toleransi. Hal ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk penyimpangan yang sering dilakukan oleh siswa hanya berkisar pada pelanggaran tata tertib sekolah, seperti : keterlambatan siswa membayar sumbangan pendidikan (SPP), tidak disiplin dalam mengikuti pelajaran, tidak menggunakan seragam dengan atribut yang ditentukan sekolah, tidak membuat tugas yang diberikan oleh guru bidang studi, merokok di dalam kelas, berkelai antara siswa bahkan juga dengan pihak luar, tidak mengikuti apel bendera setiap hari senin, dan sebagainya. Dari ketiga puluh orang responden yang diwawancarai dapat diidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan yang sering dilakukan kalangan siswa di lingkungan SMA Dwijendra seperti telah disinggung dalam urain di atas. Untuk lebih jelasnya mengenai bentuk-bentuk penyimpangan tersebut dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV-1
Responden Dogolongkan Menurut Bentuk Penyimpangan yang Dilakukannya
No. Bentuk Penyimpangan Angka
absolut
Persentase
1. Tidak membuat tugas 5 16,67
2. Terlambat bayar SPP 20 66,67
3. Tidak menggunakan seragam sekolah 3 10,00
4. Berkelai 2 6,66
Jumlah 30 100,00
Berdasarkan tabel di atas, dari tiga puluh responden yang diwawancarai dapat dikelompokan ke dalam kategori sebagai berikut: 5 orang siswa atau 16,67 persen tidak membuat tugas; 20 orang siswa atau 66,67 persen tidak disipilin membayar SPP; 3 orang siswa atau 10,00 persen tidak menggunakan seragam sekolah; 2 orang siswa atau 6,66 persen berkelai. Angka-angka tersebut berarti menggambarkan bahwa adanya kecenderungan di kalangan siswa kelas II SMA Dwijendra berperilaku menyimpang. Dari semua perilaku penyimpangan yang dilakukan siswa SMA Dwijendra dapat dikategorikan ke dalam bentuk penyimpangan terhadap tata tertib sekolah.
Ada dugaan kuat bahwa sebelum pendidikan budi pekerti dimasukkan ke dalam kurikulum sebagai muatan lokal bentuk-bentuk dan angka-angka perilaku menyimpang di kalangan siswa diduga kuat mungkin relatif tinggi. Hal ini dapat diperkuat adanya informasi yang mengatakan bahwa sekitar tahun 19 pernah ada seorang siswa SMA Dwijendra yang terlibat dalam menggunakan obat-obat terlarang.
4.3 Tindakan Preventif Mencegah Perilaku Menyimpang
preventif untuk mencegah sedini mungkin perilaku menyimpang di kalangan siswa. Selain itu, adanya persepsi yang sama menyebabkan hampir semua komponen sekolah dapat digerakkan untuk turut berpartisipasi menekan terjadinya perilaku menyimpang dikalangan siswa SMA Dwijendra. Cara-cara untuk mencegah berbagai tindak dan bentuk kenakalan siswa SMA Dwijendra semakin memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Keberhasilan tersebut dicapai tidak terlepas dari kuatnya dukungan dari berbagai pihak terutama adanya kesadaran dari semua siswa SMA Dwijendra untuk mentaati tata tertib sekolah. Untuk lebih memperjelas adanya partisipasi dan dukungan siswa dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV-2
Responden Digolongkan Menurut Pengakuannya Terhadap Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti
No. Pengakuan responden Angka Absolut Persentase (%)
1. Sangat setuju 21 70,00
2. Setuju 7 23,33
3. Tidak setuju 2 6,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Terjadinya perubahan perilaku siswa SMA Dwijendra ke arah positif menunjukkan keberhasilan para pendidik (guru) menanamkan nilai-nilai luhur kebudayaan Bali, baik yang tersurat dan tersirat dalam pendidikan budi pekerti seperti yang terdapat dalam ceritera Tantri Kamandaka maupun dalam ajaran Agama Hindu. Tingkat keberhasilan yang dicapai SMA Dwijendra dalam rangka mengubah perilaku menyimpang siswa tergolong sangat baik. Hal ini terbukti dari sejak lima tahun terakhir tidak ada lagi siswa yang terlibat, baik sebagai pengguna ataupun konsumen maupun pengedar obat-obat terlarang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penanaman nilai-nilai luhur melalui pendidikan budi pekerti menunjukkan adanya korelasi signifikan antara keberhasilan yang dicapai dengan adanya perubahan perilaku pada siswa. Mengenai adanya korelasi signifikan antara keberhasilan yang dicapai dengan adanya perubahan perilaku pada siswa dapat dilihat secara jelas dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV-3
Responden Digolongkan Menurut Pengakuannya Atas Keberhasilan Yang Dicapai
dengan Adanya Perubahan Perilaku Siswa
No. Pengakuan responden Angka absolut Persentase
1. Berhasil dengan baik sekali 19 63,33
2. Berhasil dengan baik 5 16,67
3. Tidak berhasil 6 20,00
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
yang dicapai berkorelasi signifikan dengan adanya perubahan perilaku di kalangan siswa. Hal ini, berarti menunjukkan keberhasilan rancangan kurikulum SMA Dwijendra dalam mengartikulasi tuntutan sesuai dengan konstelasi jaman. Rancangan kurikulum yang demikian diharapkan terus diupayakan oleh para praktisi pendidikan agar out-put atau keluaran tetap memiliki kualifikasi yang layak. Selain itu, diharapkan setiap institusi-institusi pendidikan khususnya SMA Dwijendra agar out-put atau keluarnya mampu bersaing di tingkat bursa tenaga kerja.
Tabel IV-4 Reponden Digolongkan
Menurut Tingkat Penyimpangan Siswa Sebelum Penerapan Pendidikan Budi Pekerti No. Pengakuan responden sebelum
penerapan pendidikan budi pekerti
Angka absolut Persentase
1. Tingkat penyimpangan tinggi 6 20,00
2. Tingkat penyimpangan sedang 3 10,00
3. Tingkat penyimpangan rendah 21 70,00
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Dilihat dari tabel tersebut di atas, maka dari 30 orang responden yang diwawancarai mengatakan 6 orang responden atau 20 persen tergolong berperilaku menyimpang tinggi; 3 orang responden atau 10 persen tergolong berperilaku menyimpang sedang; 21 orang responden atau 70 persen tergolong berperilaku menyimpang rendah. Tingginya tingkat perilaku penyimpangan siswa SMA Dwijendra terhadap tata tertib sekolah menunjukkan adanya krisis identitas dan terjadinya degradasi moral.
Selanjutnya sejak tahun ajaran 1985/1986 SMA Dwijendra menerapkan kurikulum bermuatan lokal. Adapun bidang studi yang termasuk muatan lokal adalah Agama Hindu, bahasa daerah (Bali), dan pendidikan budi pekerti. Tampaknya dengan masuknya pendidikan budi pekerti sebagai bidang studi yamg diajarkan mulai dirasakan adanya perubahan perilaku siswa yaitu taat terhadap tata tertib sekolah. Gambaran mengenai adanya hubungan antara bidang studi pendidikan budi pekerti dengan perubahan perilaku siswa SMA Dwijendra dapat diuraikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV-5 Reponden Digolongkan
Menurut Tingkat Penyimpangan Siswa Sesudah Penerapan Pendidikan Budi Pekerti No. Pengakuan responden sebelum
penerapan pendidikan budi pekerti
Angka absolut Persentase
1. Tingkat penyimpangan rendah 27 90,00
2. Tingkat penyimpangan sedang 1 3,33
3. Tingkat penyimpangan tinggi 2 6,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Bertolak dari tabel di atas, dari 30 orang responden yang diwawancarai mengatakan bahwa 27 orang responden atau 90 persen tergolong perilaku penyimpangan rendah; 1 orang responden atau 3,33 persen tergolong perilaku penyimpangan sedang; 2 orang responden atau 6,67 persen tergolong perilaku penyimpangan tinggi. Dengan demikian, dapat diasumsikan terjadinya penurunan tingkat perilaku penyimpangan siswa terhadap tata tertib sekolah terkait erat dengan keberhasilan peran guru dalam menanamkan nilai-nilai batas moralitas dan kesopanan melalui pendidikan budi pekerti.
4.4 Cara-Cara Menanggulangi Perilaku Penyimpang
tentang ketentuan sanksi yang dikenakan kepada siswa yang melakukan pelanggaran. Khusus mengenai sanksi-sanksi atas pelanggaran yang dilakukan siswa SMA Dwijendra diatur dalam butir 18 (delapan belas) yang terdiri atas ayat a dan b yang berbunyi sebagai berikut :
a. Anak yang terlambat harus melapor kepada guru piket atau kepala sekolah, atas perkenan guru piket atau kepala sekolah baru boleh masuk kelas dengan membawa surat izin;
b. Bila ternyata ada anak-anak yang melanggar tata tertib di atas dikenakan sanksi-sanksi sebagai berikut :
1. Siswa wajib melengkapi kekurangannya (setelah rapi baru boleh masuk kelas atas izin guru yang sedang mengajar di kelas);
2. Tidak dibenarkan untuk mengikuti pelajaran;
3. Diskors, dipindahkan kelasnya/diberi surat pindah keluar dari sekolah yang bersangkutan. Semua bentuk sanksi di atas (1,2,dan 3) diambil dan diputuskan sesuai tingkat pelanggaran (dikutif dari tata tertib SMA Dwijendra).
Berdasarkan ketentuan tata tertib tersebut di atas, diharapkan semua komponen sekolah dapat disinergikan untuk mencegah timbulnya pelbagai bentuk-bentu pelanggaran. Kajian analisis mengenai bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh siswa SMA Dwijendra akan dari dua sudut, yaitu :
A. Berdasarkan Tata Tertib Sekolah
1. Model Pendekatan Individu
Model pendekatan individu adalah sebuah model pendekatan yang dipergunakan institusi pendidikan SMA Dwijendra untuk menanggulangi berbagai perilaku menyimpang yang dilakukan oleh siswa yang lebih mengutamakan azas kekeluargaan. Dalam model pendekatan ini, yang sangat menonjol adalah peran aktor, yaitu guru BP (bimbingan dan penyuluhan), dan guru piket yang mendapat pendelegasian tugas dan sekaligus merupakan perpanjangan tangan dari kepala sekolah sebagai megang kekuasaan tertinggi di tingkat sekolah. Model pendekatan ini dapat dilakukan secara berjenjang. Jenjang yang palaing bawah terutama memperhatikan keadaan siswa sehari-hari dilakukan oleh guru piket dan guru BP sesuai dengan kewenangannya dan jenis serta lokasi kejadian, sedangkan jenjang yang terkhir adalah di tingkat institusi dilakukan oleh kepala sekolah sebagai hakim perdamaian sekolah yang mempunyai kekuasaan penuh.
Strategi yang ditempuh, baik oleh guri BP, guru piket maupun kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya adalah memanggil pihak-pihak yang bersengketa. Mereka diajak berembug, kemudian kepala sekolah yang dibantu guru BP, dan guru piket selaku hakim perdamaian sekolah menawarkan solusi kepada masing-masing pihak.
Secara ideal, diharapkan setiap permasalahan dapat diselesaikan sebaik mungkin dengan menghindari timbulnya permasalahan baru. Bail kepala sekolah maupun guru BP dan guru piket sebagai hakim perdamain sekolah tidak segera memberikan keputusan, melainkan memberikan tenggang waktu kepada pihak-pihak yang berngketa. Untuk memikirkan solusi yang ditawarkan. Ditempuhnya cara ini, mempunyai tujuan ganda, yaitu: (1) diharapkan masing-masing pihak yang bersengketa atas kehendak sendiri secara bersama-sama mengadakan perdamaian sesuai kesepakatan mereka; (2) sementara itu, baik kepala sekolah maupun guru BP dan guru piket dapat memberikan pertimbangan dan keputusan yang adil kepada masing-masing yang bersangkutan.
2. Model Pendekatan Institusi
pendekatan institusi. Model pendekatan institusi, lebih mengutamakan peran sekolah sebagai institusi pendidikan untuk mengambil keputusan-keputusan terkait dengan penyimpang-penyimpangan yang dilakukan kalangan siswa SMA Dwijendra. Mekanisme model pendekatan ini, setiap keputusan yang diambil melalui rapat dewan guru berdasarkan musyawarah dan mufakat, sedangkan kepala sekolah hanya bertindak sebagai perpanjangan tangan dari institusi pendidikan SMA Dwijendra.
Biasanya, model pendekatan institusi dilaksanakan apabila model pendekatan individu gagal memutuskan suatu perkara secara damai. Artinya, masih ada di antara pihak-pihak yang bersengketa belum menerima solusi yang ditawarkan pihak guru BP dan guru piket sehingga dipandang perlu untuk dilanjutkan ke jenjang institusi. Keputusan yang diambil tersebut dipakai sebagai dasar untuk menindak siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Mengenai sanksi yang dijatuhkan kepada siswa sangat tergantung dari tingkat pelanggaran. Dilihat dari tingkatan dan jenis pelanggaran yang dilakukan siswa terkait dengan sanksi yang dijatuhkan dapat dikategorikan yaitu: kelompok pelanggaran dengan sanksi ringan, kelompok pelanggaran dengan sanksi peringatan keras (contoh diskor dari sekolah), kelompok pelanggaran dengan sanksi diberhentikan sebagai siswa SMA Dwijendra.
B. Berdasarkan Hukum
diatur berdasarkan tata tertib sekolah mengingat kompleksnya masalah-masalah kenakalan remaja. Khusus mengenai perilaku penyimpangan di kalangan siswa SMA Dwijendra yang terlibat penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas yang mengakibatkan terjadinya kehamilan siswa di luar nikah tergolong bentuk penyimpangan berat. Dikatakan tergolong bentuk penyimpangan berat karena tata tertib sekolah yang diberlakukan tidak mengatur perilaku penyimpangan siswa yang demikian. Kasus tersebut di atas dan kasus-kasus lainnya yang serupa tampaknya sangat sulit dicari solusi pemecahannya dengan hanya bersandarkan pada tata tertib yang berlaku.
Dikatakan demikian, oleh karena keterbatasan dari sifat berlakunya tata tertib sekolah hanya sebatas mengatur perilaku penyimpangan siswa yang digolongkan ringan. Sedangkan perilaku penyimpangan siswa yang tergolong berat (penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas dan lain-lainnya) sulit dicari solusi pemecahannya. Jika sekolah menemukan anak didiknya demikian sekolah bersangkutan wajib berkoordinasi atau melaporkan kepada pihak berwajib. Tujuannya untuk menghindari agar anak-anak didik yang lainnya tidak terbawa arus pergaulan yang demikian.
laku siswa di lingkungan keluarga. Apabila dengan cara itu, tidak juga berhasil maka ditempuh cara lain yakni melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwajib. Proses penyelesaian kasus demikian biasanya bersandar pada hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia yakni Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau yang lazim disingkat KUHP. Berdasarkan KUHP pihak berwajib melakukan penyidikan sejauh mana keterlibatan siswa tersebut penggunakan obat-obat terlarang. Dalam proses penyidikan pihak kepolisian mengumpulkan sebanyak mungkin bukti-bukti, dan saksi-saksi untuk menguatkan hasil penyidikan di lapangan. Apabila bukti-bukti, saksi-saksi dipandang cukup kuat dan lengkap, proses selanjutnya menyerahkan berkas hasil penyidikan kepada pihak Kejaksaan Tinggi Denpasar.
Sesuai dengan tugas dan kewenangan pihak Kejaksaan Tinggi Denpasar kemudian memeriksa kembali kelengkapan dari berkas tersebut. Jika berkas tersebut telah memenuhi semua unsur yang menjadi persyaratan utama maka berkas itu akan dileimpahkan ke Pengadilan Negeri Denpasar. Atas dasar tugas dan kewenangan Pengadilan Negeri Denpasar kemudian melakukan pemanggilan terhadap, baik terdakwa (tergugat) maupun saksi.
persidangan untuk dimintai keterangan-keterangan khususnya menyangkut keterlibatan terdakwa. Berdasarkan bukti dan keterangan saksi barulah kemudian seorang hakim dapat memutuskan suatu perkara secara adil.
Dalam memutuskan suatu perkara khususnya menyangkut penyalah-gunaan obat-obat terlarang (seperti: ganja, ekstasi, dilihat terlebih dahulu oleh seorang hakim adalah jenis pelanggaran yang dilakukan terdakwa. Berdasarkan jenis pelanggaran yang dilakukan kemudian seorang hakim medakwa terdakwa dengan fasal dalam KUHP.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penelitian ini mengkaji fenomena pendidikan dengan menitik-beratkan tiga permasalahan utama seperti diuraikan dalam bab pendahuluan. Temuan dari penelitian ini, sekaligus merupakan butir-butir kesimpulan yang akan diuraikan sebagai berikut :
1. Secara historis tercatat bahwa sejak mulai tahun ajaran 1985/1986 SMA Dwijendra menawarkan kurikulum yang berbasis muatan lokal dengan memasukkan bidang studi, seperti; pendidikan budi pekerti sebagai muatan lokal baru, sedangkan agama Hindu, dan bahasa daerah merupakan muatan lokal yang tergolong lama;
2. Para praktisi pendidikan di SMA Dwijendra cukup responsif dengan perkembangan jaman, sehingga rancangan kurikulum yang bermuatan lokal sangat tepat dan sesuai dengan konstelasi jaman;
3. Khususnya mengenai muatan lokal pendidikan budi pekerti dapat mencegah dan mengubah persepsi, perilaku dan penilaian siswa bahwa berbagai bentuk penyimpangan adalah tindakan yang tidak dibenarkan, baik dari sudut tata tertib sekolah maupun dari sudut hukum pidana;
5. Sedangkan sesudah penerapan pendidikan budi pekerti tingkat keberhasilan yang dicapai SMA Dwijendra menunjukkan adanya penurunan tingkat penyimpangan perilaku siswa;
6. Hal di atas, menandakan bahwa keberhasilan peran guru bidang studi pendidikan budi pekerti dalam menanamkan nilai-nilai luhur Kebudayaan Bali. Melalui pendidikan budi pekerti menunjukkan adanya hubungan positif dengan terjadinya perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih baik.
5.2 Saran
Membaca uraian tentang butir-butir kesimpulan di atas maka melalui penelitian ini, disumbang juga sejumlah saran yang ada manfaatnya. Adapun saran yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan SMA Dwijendra terus berupaya menyempurnakan kurikulum yang ditawarkan kepada siswa;
2. Khususnya mengenai kandungan muatan lokal yang terdapat di dalam kurikulum sangat diharapkan agar SMA Dwijendra meningkatkan kinerja guru bidang studi bersangkutan;
DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Irwan,
1995 Hand Out Metode Penelitian Kualitatif Studi Antropologi Program Pascasarjana UGM. Yogyakarta,
Cudamani, Pengantar Agama Hindu. Hanuman Sakti, Jakarta, 1993
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,.
1984 Kamus Istilah Antropologi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1984 Tata Krama Pergaulan. Jakarta, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1997 Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta, Balai Pustaka,
Hadi, Sutrisno,
1977 Metodologi Research Jilid I dan II Untuk Penulisan Paper, Skripsi, Thesis, dan Disertasi. Yogyakarta, Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
Yitno, Amin,
1993 “Fungsionalisme Dalam Peneluitian Sosial Budaya” Makalah yang disampaikan dalam Penataran Tenaga Peneliti Madya STSI Surakarta,
Keraf, Gorys
1994 Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta, Gramedia.
Koentjaraningrat,
1977 “Beberapa Dasar Metode Statistik Dan Sampling Dalam Penelitian Masyarakat” pada Metode-Metode Penelitian Masyarakat. (Koentjaraningrat Ed) Jakarta, Gramedia,
……….,
1977 “Metode Wawancara” pada Metode-Metode Penelitian Masyarakat. (Koentjaraningrat Ed) Jakarta, Gramedia.
Lamintang, P.A.F. Drs. SH.
Rai S. I Wayan
1999 Aktualisasi Tantri Dalam Aktiviatas Seni Pertunjukkan Bali. Makalah disampaikan dalam sarasehan Tantri Dalam Rangka Pesta Kesenian Bali XXI, di Gedung Natya Mandala STSI Denpasar, tanggal 10 Juli 1999.
Rodiyah, Hj. Siti, Dra. & Setyowati, Rr. Nanik, Dra
1995 Pendidikan Generasi Muda, Editor Drs. Soelaiman Joesoef. Penerbit Surabaya Intellectual Club Kerjasama dengan IKIP Surabaya.
Suarka, I Nyoman
1999 Tantri dalam Tradisi dan Kebudayaan Bali. Makalah ini dibawakan pada Sarasehan Tantri dalam Rangka Pesta Kesenian Bali Ke-21 di Gedung Natya Mandala STSI Denpasar. tanggal 10 Juli 1999
Supartha, I Gst Ngurah, Swarsi, S. Geriya,
1999 Kajian Nilai Tantri Untuk Memantapkan Jatidiri dan Integrasi Bangsa. Makalah yang disajikan dalam sarasehan PKB XXI, di Gedung Natya Mandala STSI Denpasar, pada hari Sabtu, 10 Juli 1999
Wirawan, A. A. Bagus
2003 Ida I Dewa Agung Istri Kanya Pejuang Wanita Dari Bali pada Abad ke-19, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNUD, 2003
Wiryamartana, I Kuntara
1990 Arjunawiwaha. Duta Wacana University Press, Yogyakaarta.
Zoetmulder, PJ