PENYAJIAN HASILPENELITIAN
4.3 Tindakan Preventif Mencegah Perilaku Menyimpang
Tindakan preventif untuk mencegah perilaku menyimpang di kalangan siswa SMA Dwijendra mendapat respon positif dari semua pihak, baik dari dewan guru, guru bimbingan dan penyuluhan (BP), pegawai administrasi sekolah, persatuan orang tua wali murid (POM) maupun pihak organisasi intra siswa (OSIS). Adanya partisipasi dan dukungan yang kuat dari berbagai pihak semakin mendorong keberanian pihak SMA Dwijendra melakukan tindakan-tindakan
preventif untuk mencegah sedini mungkin perilaku menyimpang di kalangan siswa. Selain itu, adanya persepsi yang sama menyebabkan hampir semua komponen sekolah dapat digerakkan untuk turut berpartisipasi menekan terjadinya perilaku menyimpang dikalangan siswa SMA Dwijendra. Cara-cara untuk mencegah berbagai tindak dan bentuk kenakalan siswa SMA Dwijendra semakin memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Keberhasilan tersebut dicapai tidak terlepas dari kuatnya dukungan dari berbagai pihak terutama adanya kesadaran dari semua siswa SMA Dwijendra untuk mentaati tata tertib sekolah. Untuk lebih memperjelas adanya partisipasi dan dukungan siswa dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV-2
Responden Digolongkan Menurut Pengakuannya Terhadap Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti
No. Pengakuan responden Angka Absolut Persentase (%)
1. Sangat setuju 21 70,00
2. Setuju 7 23,33
3. Tidak setuju 2 6,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Bertitik tolak dari tabel tersebut di atas, secara terinci kategorisasi pendapat dari 30 orang responden yang diwawancarai menunjukkan 21 orang responden atau 70 persen mengatakan sangat setuju dengan program pendidikan budi pekerti; 7 orang responden atau 23,33 persen mengatakan setuju dengan program pendidikan budi pekerti; sedangkan 2 orang responden atau 6,67 persen mengatakan tidak setuju dengan program pendidikan budi pekerti. Dari angka- angka tersebut di atas diperoleh gambaran bahwa adanya kecenderungan perubahan perilaku di kalangan siswa SMA Dwijendra ke arah yang lebih positif.
Terjadinya perubahan perilaku siswa SMA Dwijendra ke arah positif menunjukkan keberhasilan para pendidik (guru) menanamkan nilai-nilai luhur kebudayaan Bali, baik yang tersurat dan tersirat dalam pendidikan budi pekerti seperti yang terdapat dalam ceritera Tantri Kamandaka maupun dalam ajaran Agama Hindu. Tingkat keberhasilan yang dicapai SMA Dwijendra dalam rangka mengubah perilaku menyimpang siswa tergolong sangat baik. Hal ini terbukti dari sejak lima tahun terakhir tidak ada lagi siswa yang terlibat, baik sebagai pengguna ataupun konsumen maupun pengedar obat-obat terlarang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penanaman nilai-nilai luhur melalui pendidikan budi pekerti menunjukkan adanya korelasi signifikan antara keberhasilan yang dicapai dengan adanya perubahan perilaku pada siswa. Mengenai adanya korelasi signifikan antara keberhasilan yang dicapai dengan adanya perubahan perilaku pada siswa dapat dilihat secara jelas dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV-3
Responden Digolongkan Menurut Pengakuannya Atas Keberhasilan Yang Dicapai
dengan Adanya Perubahan Perilaku Siswa
No. Pengakuan responden Angka absolut Persentase
1. Berhasil dengan baik sekali 19 63,33
2. Berhasil dengan baik 5 16,67
3. Tidak berhasil 6 20,00
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Dari tabel tersebut di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa dari 30 orang responden yang diwawancarai 19 orang responden atau 63,33 persen mengatakan berhasil dengan baik sekali; 5 orang responden atau 16,67 persen mengatakana berhasil dengan baik; dan 6 orang responden atau 20,00 persen mengatakan tidak berhasil. Secara kuantitatif jika dicermati tabel IV-3 bahwa tingkat keberhasilan
yang dicapai berkorelasi signifikan dengan adanya perubahan perilaku di kalangan siswa. Hal ini, berarti menunjukkan keberhasilan rancangan kurikulum SMA Dwijendra dalam mengartikulasi tuntutan sesuai dengan konstelasi jaman. Rancangan kurikulum yang demikian diharapkan terus diupayakan oleh para praktisi pendidikan agar out-put atau keluaran tetap memiliki kualifikasi yang layak. Selain itu, diharapkan setiap institusi-institusi pendidikan khususnya SMA Dwijendra agar out-put atau keluarnya mampu bersaing di tingkat bursa tenaga kerja.
Jika diperhatikan mengenai tingkat perilaku menyimpangan siswa SMA Dwijendra dapat dikategorisasikkan menjadi tiga bagian. Pertama, tingkat perilaku penyimpangan tinggi adalah siswa yang melakukan penyimpangan terhadap tata tertib sekolah lebih dari 4 (empat) kali dalam seminggu; Kedua, tingkat perilaku penyimpangan sedang adalah siswa yang melakukan penyimpangan terhadap tata tertib sekolah 2-3 (dua sampai tiga) kali dalam seminggu; Sedangkan ketiga, tingkat penyimpangan rendah adalah siswa yang melakukan penyimpangan terhadap tata tertib sekolah 0-1 (nol sampai satu) kali dalam seminggu. Untuk lebih jelasnya gambaran mengenai tingkat perilaku penyimpangan siswa terhadap tata tertib sekolah sebelum diterapkannya kurikulum dengan muatan lokal pendidikan budi pekerti dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel IV-4 Reponden Digolongkan
Menurut Tingkat Penyimpangan Siswa Sebelum Penerapan Pendidikan Budi Pekerti No. Pengakuan responden sebelum
penerapan pendidikan budi pekerti
Angka absolut Persentase
1. Tingkat penyimpangan tinggi 6 20,00
2. Tingkat penyimpangan sedang 3 10,00
3. Tingkat penyimpangan rendah 21 70,00
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Dilihat dari tabel tersebut di atas, maka dari 30 orang responden yang diwawancarai mengatakan 6 orang responden atau 20 persen tergolong berperilaku menyimpang tinggi; 3 orang responden atau 10 persen tergolong berperilaku menyimpang sedang; 21 orang responden atau 70 persen tergolong berperilaku menyimpang rendah. Tingginya tingkat perilaku penyimpangan siswa SMA Dwijendra terhadap tata tertib sekolah menunjukkan adanya krisis identitas dan terjadinya degradasi moral.
Selanjutnya sejak tahun ajaran 1985/1986 SMA Dwijendra menerapkan kurikulum bermuatan lokal. Adapun bidang studi yang termasuk muatan lokal adalah Agama Hindu, bahasa daerah (Bali), dan pendidikan budi pekerti. Tampaknya dengan masuknya pendidikan budi pekerti sebagai bidang studi yamg diajarkan mulai dirasakan adanya perubahan perilaku siswa yaitu taat terhadap tata tertib sekolah. Gambaran mengenai adanya hubungan antara bidang studi pendidikan budi pekerti dengan perubahan perilaku siswa SMA Dwijendra dapat diuraikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel IV-5 Reponden Digolongkan
Menurut Tingkat Penyimpangan Siswa Sesudah Penerapan Pendidikan Budi Pekerti No. Pengakuan responden sebelum
penerapan pendidikan budi pekerti
Angka absolut Persentase
1. Tingkat penyimpangan rendah 27 90,00
2. Tingkat penyimpangan sedang 1 3,33
3. Tingkat penyimpangan tinggi 2 6,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Diolah dari data primer tahun 2003
Bertolak dari tabel di atas, dari 30 orang responden yang diwawancarai mengatakan bahwa 27 orang responden atau 90 persen tergolong perilaku penyimpangan rendah; 1 orang responden atau 3,33 persen tergolong perilaku penyimpangan sedang; 2 orang responden atau 6,67 persen tergolong perilaku penyimpangan tinggi. Dengan demikian, dapat diasumsikan terjadinya penurunan tingkat perilaku penyimpangan siswa terhadap tata tertib sekolah terkait erat dengan keberhasilan peran guru dalam menanamkan nilai-nilai batas moralitas dan kesopanan melalui pendidikan budi pekerti.