• Tidak ada hasil yang ditemukan

100 12 100 27 100 8 100 60 100 Berdasarkan Tabel 17 tersebut, tidak terlihat hasil yang menjelaskan

STRUKTUR PENDAPATAN RUMAHTANGGA PETANI Bab ini menguraikan mengenai hasil di lapang mengenai struktur

Total 13 100 12 100 27 100 8 100 60 100 Berdasarkan Tabel 17 tersebut, tidak terlihat hasil yang menjelaskan

bahwa terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Pada responden yang tidak menggarap lahan di Nusakambangan, terdapat 77 persen yang yang berpendapatan rendah, tetapi terdapat 15 persen yang berpendapatan tinggi. Pada kategori luas lahan sempit, tingkat pendapatan rumahtangga tergolong besar pada kategori rendah yakni sebesar 84% (lebih besar daripada tidak menggarap). Pada kategori sedang, tingkat pendapatan juga tergolong rendah, yakni sebesar 74% Agar memperjelas hubungan kedua variabel ini, peneliti kembali menggunakan

perangkat lunak SPSS non-parametrik dengan uji Rank Spearman. Hasilnya

adalah diketahui bahwa nilai koefisien korelasi sebesar 0,179, dengan korelasi signifikan pada interval keyakinan (alpha) yang lebih teliti yaitu 0,172 untuk uji dua sisi. Berdasarkan data tersebut maka dapat dikatakan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang lemah. Hal ini dikarenakan hasil yang dirasakan dari menanam kayu albasia di Nusakambangan hanya dapat dinikmati dalam jangka waktu tahunan (lihat lampiran 2).

Rendahnya produktivitas di sektor pertanian tentunya menjadi momok bagi petani di kedua dusun. Berikut pemaparan salah seorang informan. Bapak TS (54 Th) :

“Pendapatan dari pertanian memang sangat sedikit, ya tidak bisa diharapkan, makanya mayoritas warga disini mau tidak mau harus kerja lain, kalau tidak ya dapur di rumah tidak bisa ngebul lagi, anak- anak tidak bisa sekolah. Ibu dirumah juga sambilan membuka warung untuk menambah jajan anak.”

Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, produktivitas pertanian di kedua desa sangat rendah, sehingga hal ini berimbas pada tingkat pendapatan rumahtangga. Bencana rob yang melanda kedua dusun ternyata berdampak sangat besar bagi

kehidupan rumahtangga. Selain berdampak pada tingkat pendapatan, banjir rob juga sampai ke rumah sehingga merendam peralatan rumahtangga seperti kasur, lemari, kursi dan sebagainya. Hal ini mengharuskan warga untuk terus waspada ketika air pasang. Selain itu, tidak jarang warga terserang penyakit gatal-gatal, terutama dikalangan anak-anak.

Tingkat Pendapatan Non Pertanian

Tingkat pendapatan non pertanian yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total uang yang diterima oleh rumahtangga petani dari sektor non- pertanian, baik yang off-farm (buruh tani dan buruh angkut kayu) maupun non- farm (membuka warung, ojek, mencari pasir/batu, berjualan kue, membuat gula merah, distributor pasir dan batu bata, tukang pijet, dan sebagainya). Pekerjaan di sektor non-pertanian banyak digeluti oleh rumahtangga petani karena pendapatan dari sektor pertanian dianggap tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Penelitian ini menggolongkan rumahtangga menjadi tiga kategori, yakni rumahtangga lapisan bawah, menengah, dan atas. Penggolongan ini didasarkan pada rata-rata jumlah pendapatan yang dihasilkan rumahtangga petani selama satu tahun dari sektor non-pertanian. Tabel berikut memaparkan penggolongan petani berdasarkan jumlah pendapatan dari sektor non-pertanian.

Tabel 18 Jumlah dan persentase responden menurut tingkat pendapatan non-

pertanian di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 – 2014

No.

Tingkat

Pendapatan Non Pertanian

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung Jumlah (rt) Persentase Jumlah (rt) Persentase 1. Bawah 8 27 11 37 2. Menengah 12 40 14 47 3. Atas 10 33 5 16 Total 30 100 30 100

Sumber : Data primer

Berdasarkan rata-rata pendapatan yang diperoleh di lapangan, kategori

tingkat pendapatan rendah adalah mereka yang pendapatannya Rp. 500 000 – Rp.

9 033 000, kategori sedang adalah Rp. 9 033 001 – Rp. 17 566 000 dan kategori

tinggi adalah > Rp. 17 566 000. Berdasarkan Tabel 18 tersebut, diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang cukup besar diantara kedua dusun menurut tingkat pendapatan non-pertanian. Responden di Dusun Klaces sebanyak 27% masih tergolong dalam pendapatan yang rendah, sebesar 40% masuk pada kategori pendapatan sedang, dan sebesar 33% responden masuk pada kategori pendapatan yang tinggi. Sedangkan di Dusun Lempong Pucung, sebesar 37% responden masuk pada kategori berpendapatan rendah, sebesar 47% masuk pada kategori berpendapatan sedang, dan 16% masuk pada kategori tinggi. Berikut tabel pendapatan rata-rata petani dari sektor non-pertanian di kedua dusun.

Sumber : Data primer

Gambar 7 Pendapatan rata-rata rumahtangga petani dari sektor non pertanian menurut lapisan di Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung tahun 2013 - 2014

Gambar 7 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh rumahtangga petani lapisan bawah dari sektor non pertanian di Dusun Klaces lebih tinggi daripada Dusun Lempong Pucung. Adapun selisih rata-rata pendapatan diantara keduanya yakni sebesar Rp. 542 000. Sebaliknya, pada kategori lapisan menengah, rata-rata pendapatan di Dusun Lempong Pucung lebih

besar dibandingkan dengan Dusun Klaces, dimana selisihnya mencapai Rp. 1 329 314. Terakhir, pada kategori lapisan atas, pendapatan petani di Dusun

Klaces lebih besar dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung. Adapun selisih pada lapisan ini sangat besar, yakni Rp. 10 125 556. Seperti yang telah dipaparkan di bab sebelumnya, jumlah variasi sumber nafkah di Dusun Klaces lebih beragam dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung, sehingga hal tersebut dapat menjelaskan mengapa rata-rata tingkat pendapatan di Dusun Lempong Pucung lebih rendah dibandingkan dengan Dusun Klaces pada kategori lapisan bawah dan atas. Petani di Dusun Lempong Pucung pada umumnya cenderung hanya berpegang pada mata pencaharian sebagai buruh serabutan saja.

Pendapatan Total Rumahtangga Petani

Pendapatan total rumahtangga petani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah pendapatan rumahtangga baik dari sektor pertanian maupun non pertanian. Sektor pertanian dan non pertanian memegang peran penting dalam pemenuhan kebutuhan rumahtangga sehari-hari, walaupun berdasarkan hasil penelitian kontribusi pendapatan dari sektor non-pertanian lebih tinggi

0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000

Bawah Menengah Atas

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung 5.675.000 5.133.000 13.108.333 14.437.647 30.435.000 20.309.444

dibandingkan dengan sektor pertanian. Berikut total rata-rata pendapatan rumahtangga petani di kedua dusun.

Tabel 19 Total pendapatan rata-rata petani di Dusun Klaces dan Lempong

Pucung tahun 2013 – 2014

No.

Sumber Pendapatan

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung

Rupiah/Tahun Rupiah

1. Pertanian 9 875 833 3 534 500

2. Non Pertanian 16 341 666 14 902 500

Total 26 217 499 18 437 000

Sumber : Data Primer

Tabel 19 memaparkan bahwa rata-rata total pendapatan di antara kedua dusun terlihat perbedaan yang cukup besar. Adapun selisih pendapatan diantara kedua dusun mencapai Rp.7 780 499. Berikut grafik yang menunjukkan perbandingan besar kontribusi kedua sektor bagi pendapatan rumahtangga petani di kedua dusun.

Sumber : Data primer

Gambar 8 Persentase kontribusi sektor pertanian dan non pertanian menurut lapisan di Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung tahun 2013 - 2014 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Bawah Menengah Atas Bawah Menengah Atas

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung

Non- pertanian Pertanian

Berdasarkan Gambar 8, tidak ditemukan pola yang khas mengenai kontribusi pendapatan rumahtangga petani baik dari sektor pertanian maupun non- pertanian di kedua dusun. Pada rumahtangga yang masuk pada lapisan bawah, pada umumnya mereka memiliki luasan lahan yang relatif sempit, sehingga produktivitas yang dihasilkan juga sedikit. Dusun Lempong Pucung pada kategori menengah dan atas hanya terdapat masing-masing satu responden, sehingga grafik yang ditampilkan tidak cukup representatif. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden di Dusun Lempong Pucung, terdapat 28 responden yang masuk ke tingkat pendapatan rendah.

Pertanian bukanlah menjadi sandaran utama bagi perekonomian rumahtangga lapisan bawah. Mayoritas rumahtangga petani di kedua dusun menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Hal ini berbeda dengan penelitian Wulan (2014) di Desa Ciganjeng, dimana petani yang masuk pada lapisan bawah cenderung lebih memanfaatkan sektor pertanian dibandingkan dengan lapisan menengah dan atas. Secara umum, berikut grafik yang memaparkan kontribusi pendapatan rumahtangga baik dari sektor pertanian maupun non pertanian.

Sumber : Data primer

Gambar 9 Pendapatan rata-rata rumahtangga menurut kontribusi sektor pertanian maupun non pertanian di Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung Tahun 2013 - 2014

Berdasarkan Gambar 9, diketahui bahwa kontribusi sektor non-pertanian di kedua dusun mendominasi dibandingkan dengan sektor pertanian. Pada Dusun Lempong Pucung, kontribusi sektor non pertanian sangat tinggi mencapai 80 persen, hal ini tampak dari mayoritas rumahtangga petani di dusun tersebut berprofesi sebagai buruh tani, serta kepemilikan luas lahan yang relatif sempit. Sedangkan di Dusun Klaces, sekitar 60 persen rumahtangga petani memperoleh penghasilan dari sektor non-pertanian, seperti membuka warung, menjual kambing, kayu, batu, pasir, dan sebagainya.

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung

Non Pertanian Pertanian

Total Pengeluaran Rumahtangga Petani

Adapun yang dimaksud dengan total pengeluaran rumahtangga dalam penelitian ini adalah semua jenis pengeluaran yang rutin dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, meliputi kebutuhan makan, pendidikan, listrik, transportasi, kesehatan, dan sebagainya. Total pengeluaran rumahtangga

penting untuk diketahui dalam menentukan saving capacity masing-masing

rumahtangga petani. Berikut grafik mengenai total pengeluaran rumahtangga petani di kedua dusun

Sumber : Data Primer

Gambar 10 Total pengeluaran rata-rata rumahtangga petani menurut lapisan di Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung Tahun 2013 - 2014 Gambar 10 menunjukkan sebuah pola, dimana semakin tinggi lapisan rumahtangga petani, maka semakin tinggi pula tingkat pengeluaran rumahtangga per tahun. Selain itu, diketahui pula bahwa rata-rata pengeluaran rumahtangga petani di kedua dusun berbeda, dimana pengeluaran rumahtangga di Dusun Klaces relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung. Pada rumahtangga yang termasuk pada lapisan bawah di Dusun Klaces, total pengeluaran rumahtangga per tahun adalah sebesar Rp. 15 735 714, sedangkan di Dusun Lempong Pucung sebesar Rp. 14 881 363. Pada rumahtangga yang termasuk pada lapisan menengah di Dusun Klaces, total pengeluaran rumahtangga per tahun adalah sebesar Rp. 21 127 500, sedangkan di Dusun Lempong Pucung sebesar Rp. 19 215 210 . Terakhir, pada rumahtangga yang termasuk pada lapisan bawah di Dusun Klaces, total pengeluaran rumahtangga per tahun adalah sebesar Rp. 30 325 200, sedangkan di Dusun Lempong Pucung

sebesar Rp. 24 685 000. Berikut adalah contoh kasus mengenai tingkat

pengeluaran pada rumahtangga yang termasuk pada kategori atas. 0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000

Bawah Menengah Atas

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung 15.735.714 14.881.363 21.127.500 19.215.210 30.325.200 24.685.000 Rp/Tahun

Saving Capacity Rumahtangga Petani

Kapasitas menabung rumahtangga petani dapat dilihat dari selisih total pendapatan dan juga pengeluaran. Apabila selisih yang dihasilkan besar, maka jumlah tabungan yang diperoleh pun akan semakin besar. Biasanya daya

menabung antar rumahtangga berbeda-beda. Besarnya saving capacity suatu

rumahtangga akan berpengaruh besar kepada kelangsungan hidup suatu

rumahtangga. Semakin besar saving capasity rumahtangga, maka semakin kuat

(tidak rentan) terhadap guncangan atau krisis. Berikut grafik yang menampilkan perbandingan rata-rata pendapatan dan pengeluaran rumahtangga petani per tahun.

Sumber : Data primer

Gambar 11 Perbandingan pendapatan rata-rata dan pengeluaran rata-rata rumahtangga petani per tahun menurut lapisan di Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung tahun 2013

0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000 40,000,000

Bawah Menengah Atas Bawah Menengah Atas

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung

Pendapatan Pengeluaran Box 5. Kisah kehidupan kasus Ibu SMY (38 Tahun)

Ibu SMY adalah seorang ibu yang memiliki 3 orang anak. Anak pertamanya meneruskan sekolahnya ke tingkat Perguruan Tinggi (PT) disalah satu universitas ternama di Indonesia. Setiap bulannya, ibu SMY harus mengirimkan uang sebesar tiga juta rupiah untuk biaya praktik, uang saku, dan juga uang kosannya. Ibu SMY juga memaparkan, pengeluaran anaknya tidak menentu, terkadang anaknya meminta lebih setiap bulannya untuk keperluan tambahan di perkuliahan, salah satunya adalah motor. Selain untuk keperluan pendidikan anaknya, Ibu SMY juga merupakan orang yang royal. Setiap pergi ke pasar (seminggu sekali), Ibu SMY bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk keperluan dapur dan kebutuhan sehari-hari. Menurut penuturannya, Ibu SMY merupakan orang yang dermawan, setiap tetangga yang memerlukan bantuan akan datang kepada dia. Pengeluaran yang tinggi, tentunya diikuti oleh pendapatan yang tinggi pula. Dalam hal ini, Ibu SMY dan suami merupakan orang yang cekatan dan kreatif. Mereka memilki lahan yang luas, dan juga memiliki usaha sampingan yang cukup menjanjikan, yakni jual beli kayu albasia, pasir dan juga batu

Berdasarkan Gambar 11, diketahui bahwa rumahtangga petani lapisan bawah di kedua dusun lebih tinggi tingkat pengeluarannya dibandingkan dengan tingkat pendapatannya, tetapi dalam kategori ini selisih pengeluaran dengan pendapatan di Dusun Klaces jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung. Artinya, kapasitas menabung di Dusun Klaces jauh lebih buruk dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung pada lapisan bawah. Pada lapisan menengah, kapasitas menabung di kedua dusun sudah mulai tampak, namun masih relatif kecil. Pada lapisan atas, kapasitas menabung sudah cukup tinggi di kedua dusun. Tabel berikut akan memaparkan selisih antara pendapatan dan

pengeluaran, sehingga tampak jelas saving capacity masing-masing lapisan

rumahtangga.

Tabel 20 Jumlah saving capacity rumahtangga Petani di Dusun Klaces dan

Dusun Lempong Pucung tahun 2013 - 2014

Sumber : Data primer

Tabel 20 memaparkan bahwa saving capacity di kedua dusun cenderung

sama di kategori penduduk lapisan bawah, dimana saving capacity di kedua dusun bernilai negatif. Pada kategori rumahtangga lapisan menengah, Dusun Lempong Pucung memiliki saving capacity yang lebih besar yakni Rp. 654 477 per tahun, sedangkan Dusun Klaces hanya Rp. 63 055 per tahunnya. Pada kategori lapisan atas, saving capacity Dusun Klaces lebih besar yakni Rp. 6 257 133 pertahun, sedangkan Dusun Lempong Pucung hanya 4 315 000 per tahun.

Tingkat Kemiskinan Rumahtangga Petani

Tingkat kemiskinan dalam suatu rumahtangga dapat diukur dengan menggunakan beragam instrumen, salah satunya menggunakan indikator yang dibuat oleh World Bank, yakni setara dengan USD $2.00 per orang per hari atau kurang lebih sebesar Rp. 20 000. Berdasarkan data mengenai total pendapatan rumahtangga petani di kedua dusun, maka dapat diketahui tingkat kemiskinannya.

Kategori Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung

Bawah (Rp) Menengah (Rp) Atas (Rp) Bawah (Rp) Menengah (Rp) Atas (Rp) Rata-Rata Total Pendapatan 10.296.428 21.190.555 36.582.333 13.988.636 19.779.687 29.000.000 Rata-Rata Total Pengeluaran 15.735.714 21.127.500 30.325.200 14.881.363 19.125.210 24.685.000 Saving Capacity (per tahun) -5.439.286 63.055 6.257.133 -892.727 654.477 4.315.000 Saving Capacity (per bulan) -453.274 5.255 521.427 -74.394 54.539 359.583

Gambar 12 Pendapatan per kapita per hari rumahtangga petani menurut lapisan di

Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung Tahun 2013 – 2014

Berdasarkan Gambar 12 diketahui bahwa pendapatan rata-rata per kapita petani di kedua dusun pada lapisan bawah dan menengah masih berada di bawah Rp. 20 000. Apabila dikaitkan dengan garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh World Bank, maka responden yang termasuk pada lapisan bawah dan menengah di kedua dusun masih berada di bawah garis kemiskinan. Rata-rata pendapatan perkapita lapisan bawah di Dusun Klaces hanya sebesar Rp. 9 533. Berbeda

dengan Dusun Lempong Pucung, pendapatan per kapita lebih tinggi yakni Rp. 12 925, namun masih tetap berada di bawah garis kemiskinan World Bank.

Lapisan menengah di kedua dusun juga memiliki perbedaan dimana pendapatan perkapita di Dusun Klaces lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung yakni sebesar Rp. 19 620, sementara pendapatan perkapita Dusun Lempong Pucung hanya Rp. 18 314. Pendapatan perkapita kedua dusun pada lapisan atas sudah berada di atas garis kemiskinan World Bank, dimana pendapatan Dusun Klaces sebesar Rp. 33 873 dan Dusun Lempong Pucung sebesar Rp. 26 851. Dapat disimpulkan bahwa, hanya lapisan atas saja di kedua dusun yang sudah berada di garis kemiskinan menurut World Bank.

Ikhtisar

Penduduk di kedua dusun memang mayoritas bekerja sebagai petani, namun pendapatan dari usaha sebagai petani bisa dikatakan tidak memberikan penghasilan secara langsung dalam bentuk materi karena rata-rata petani di kedua dusun bersifat subsisten. Berdasarkan rata-rata pendapatan yang diperoleh di lapangan, diketahui bahwa terdapat perbedaan antara Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung menurut tingkat pendapatan pertanian, dimana mayoritas responden di Dusun Lempong Pucung termasuk kategori pendapatan rendah

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000

Bawah Menengah Atas Bawah Menengah Atas

Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung

Total Pendapatan perkapita/hari Rp/Hari 9 533 19 620 33 873 12 925 18 314 26 851

(mencapai 94%), sedangkan di Dusun Klaces hanya 53%. Pada kategori tingkat pendapatan sedang, terdapat 17% responden di Dusun Klaces dan hanya 3% di Dusun Lempong Pucung. Pada tingkat kategori pendapatan tinggi, Dusun Klaces mencapai 30%, sedangkan Dusun Lempong Pucung hanya 3%. Dengan

melakukan uji Rank Spearman, diketahui bahwa tingkat pendapatan pertanian

rumahtangga petani ternyata berhubungan dengan luas lahan tanah timbul yang mereka miliki.

Berdasarkan tingkat pendapatan dari sektor non pertanian, diketahui bahwa pendapatan rata-rata di Dusun Klaces lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung. ini disebabkan jumlah variasi nafkah di Dusun Klaces lebih beragam dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung, sehingga hal tersebut dapat menjelaskan mengapa rata-rata tingkat pendapatan di Dusun Lempong Pucung dapat lebih rendah dibandingkan dengan Dusun Klaces. Petani di Dusun Lempong Pucung pada umumnya cenderung hanya berpegang pada mata pencaharian sebagai buruh serabutan saja. Semakin tinggi lapisan rumahtangga petani, maka semakin tinggi pula tingkat pengeluaran rumahtangga per tahun. Struktur pengeluaran di kedua dusun juga tampak perbedaan, dimana rata-rata pengeluaran rumahtangga di Dusun Klaces relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung.