Bab ini membahas mengenai penguasaan livelihood asset yang dimiliki oleh rumahtangga petani Dusun Klaces dan Dusun Lempong Pucung. Adapun livelihood asset dilihat berdasarkan kepemilikan lima modal, yakni modal alam, manusia, sosial, finansial, dan fisik. Adanya kepemilikan kelima modal tersebut oleh rumahtangga petani akan mempengaruhi penghidupan mereka. Modal manusia dalam penelitian ini mencakup tingkat pendidikan, alokasi tenaga kerja rumahtangga, tingkat penggunaan tenaga kerja, usia, dan status kependudukan. Modal alam mencakup pola penguasaan lahan dan luas lahan, baik lahan di tanah timbul maupun di dataran tinggi Nusakambangan. Modal finansial mencakup tabungan dan pinjaman. Modal fisik mencakup kepemilikan asset yang mendukung perekonomian rumahtangga petani. Terakhir, modal sosial mencakup norma, nilai, dan jejaring yang terdapat dalam rumahtangga petani.
Modal Manusia Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan responden yang dimaksud dalam penelitian ini diukur berdasarkan tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti. Berdasarkan data primer yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa dari 60 responden (30 di Dusun Klaces dan 30 di Dusun Lempong Pucung) rata-rata yang terlibat dalam usaha tani adalah hanya tamatan Sekolah Dasar. Sebagian warga memaparkan bahwa mereka hanya mengikuti Sekolah Rakyat (SR). Penelitian ini mengkategorikan responden menjadi tiga golongan, yakni rendah (tidak bersekolah atau tamatan SD), sedang (tamatan SMP), dan tinggi (tamatan SMA atau Perguruan Tinggi). Sebarannya dapat dilihat pada gambar berikut.
Sumber: Data primer
Gambar 3 Jumlah responden menurut tingkat pendidikan di Dusun Klaces dan
Lempong Pucung tahun 2013 – 2014
0 5 10 15 20 25 30
Rendah Sedang Tinggi
Dusun Lempong Pucung Dusun Klaces Tingkat Pendidikan Rendah Tingkat Pendidikan Sedang Tingkat Pendidikan Tinggi n = responden
Berdasarkan Gambar 3 tersebut, tingkat pendidikan antara Dusun Lempong Pucung dan Klaces terlihat berbeda, dimana petani di Dusun Lempong Pucung lebih tinggi pada kategori tingkat pendidikan yang rendah dan cenderung rendah pada kategori tingkat pendidikan sedang dan tinggi. Salah satu penyebab dari perbedaan tingkat pendidikan di kedua dusun tersebut adalah akses yang cukup jauh untuk mencapai sarana pendidikan di Dusun Lempong Pucung.
Keterkaitan antara tingkat pendidikan terhadap aktifitas nafkah yang dilakukan berdasarkan data yang diperoleh di lapang, diketahui bahwa tingkat pendidikan ternyata memiliki hubungan dengan pilihan aktifitas nafkah yang dapat mereka lakukan. Mereka yang termasuk kategori sedang dan tinggi cenderung dapat memiliki pilihan aktifitas nafkah yang beragam, misalnya dapat menjadi guru PAUD dan SD, serta menjadi perangkat desa.
Alokasi Tenaga Kerja Rumahtangga
Tingkat alokasi tenaga kerja adalah jumlah anggota rumahtangga yang memiliki pendapatan. Alokasi tenaga kerja dalam rumahtangga sangat mempengaruhi tingkat pendapatan rumahtangga. Rumahtangga yang hanya berpegang pada satu orang sebagai pencari nafkah rumahtangga akan cenderung lebih rentan secara perekonomian dibandingkan dengan rumahtangga yang memiliki beberapa anggota sebagai pencari nafkah. Berikut data yang ditemukan dilapang dari kedua dusun.
Tabel 4 Jumlah dan persentase responden menurut alokasi tenaga kerja di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 - 2014
No Alokasi tenaga kerja Dusun Klaces (rumahtangga) Dusun Lempong Pucung (rumahtangga) Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. Hanya Kepala
Keluarga
16 53 25 83
2. Ibu dan Bapak 12 40 4 13
3. Ibu, Bapak,
Anak/Anggota keluarga lainnya
2 7 1 4
Total 30 100 30 100
Sumber: Data primer
Berdasarkan Tabel 4 tersebut, diketahui bahwa lebih dari 50 persen rumahtangga di kedua dusun hanya bergantung pada kepala keluarga dalam mencari pendapatan rumahtangga. Pada umumnya, ibu-ibu di kedua dusun hanya melakukan pekerjaan rumah saja seperi memasak, membersihkan rumah, menjaga anak-anak, dan kadang-kadang ikut membantu suami mereka di sawah atau kebun. Menurut pemaparan ibu MT (44 Tahun):
“Ibu-ibu di sini rata-rata tidak ada kegiatan. Dulu ada program pemerintah membuat kerajinan tangan, tetapi ibu-ibu di sini enggan dan bermalas-malasan mengikutinya, katanya mereka tidak kreatif dan tidak memiliki bakat”
Pemaparan tersebut diungkapkan oleh ibu rumahtangga yang berada di Dusun Lempong Pucung. Apabila kedua dusun dibandingkan, ibu-ibu di Dusun Klaces masih lebih kreatif dalam mencari tambahan pendapatan bagi rumahtangganya, seperti menjual kue, membuka warung ataupun membantu di tempat produksi tempe.
Sebenarnya kalangan ibu-ibu juga memiliki peluang bekerja sebagai buruh tani sama seperti laki-laki. Namun upah yang diterima tidak sama antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki biasanya dibayar Rp. 40 000 dalam sehari, sedangkan perempuan hanya Rp. 35 000 dalam sehari. Alasan ini dipaparkan oleh salah satu warga dikarenakan tenaga yang dicurahkan berbeda antara laki-laki dan perampuan. Biasanya laki-laki lebih kuat dan cekatan.
Tingkat Penggunaan Tenaga Kerja
Tingkat penggunaan tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam usaha tani yang dilakukan oleh rumahtangga. Penggunaan tenaga kerja bagi masing-masing rumahtangga berbeda-beda, bergantung pada kondisi perekonomian dan luas lahan yang dimiliki. Berikut pemaparan untuk kedua dusun.
Tabel 5 Jumlah dan persentase responden menurut penggunaan tenaga kerja di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 - 2014
No Penggunaan tenaga kerja Dusun Klaces (rt) Dusun Lempong Pucung (rt)
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. Hanya sendiri 4 13 6 20
2. Menggunakan satu
orang
3 10 4 13
3. Menggunakan dua
orang atau lebih
23 77 20 67
Total 30 100 30 100
Sumber: Data primer
Tabel 5 tersebut memaparkan bahwa pada umumnya rumahtangga petani
menggunakan tenaga tambahan dalam mengelola usahataninya
.
Biasanyarumahtangga petani menggunakan tenaga tambahan lima sampai sepuluh orang untuk musim tanam dan panen. Penggunaan tenaga kerja dipengaruhi oleh luas lahan yang digarap. Petani yang memiliki lahan yang relatif luas biasanya menggunakan lebih banyak tenaga kerja. Sebaliknya, rumahtangga petani yang memiliki lahan yang sempit biasanya hanya mengandalkan tenaga kerja rumahtangga.
Usia
Usia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun. Usia seseorang mempengaruhi aktifitas nafkah yang mereka lakukan. Pada umumnya petani yang berumur muda dan sehat mempunyai fisik yang lebih baik dari petani yang lebih tua, sehingga hal ini berpengaruh terhadap usaha tani yang dijalankan. Dalam rumahtangga, usia menjadi faktor yang penting dalam kontribusi pendapatan rumahtangga.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, semakin tua seseorang, maka semakin sedikit aktifitas nafkah yang dapat mereka lakukan. Data yang diperoleh di lapang menunjukkan bahwa usia kepala rumahtangga petani di kedua Dusun beragam antara 22 tahun hingga 86 tahun. Pengelompokan usia responden dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6 Jumlah dan persentase responden menurut kelompok umur di Dusun
Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 – 2014
No. Kelompok Umur
(Th)
Dusun Klaces Dusun
Lempong Pucung Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%) 1. 22 – 41 12 40 15 50 2. 42 – 61 13 43 11 37 3. ≥62 5 17 4 13 Total 30 100 30 100
Sumber: Data primer
Berdasarkan Tabel 6 diatas, empat sampai lima responden yang tersebar di kedua dusun masih bekerja pada usia yang sudah tua, yakni diatas 62 tahun. Hal ini berimbas pada pilihan aktifitas nafkah yang mereka lakukan. Sembilan responden yang termasuk pada kategori usia tua hanya melakukan satu aktifitas nafkah, yakni sebagai petani, sedangkan petani yang berusia lebih muda dapat memiliki pilihan aktifitas nafkah yang bervariasi, hal ini didorong oleh faktor fisik yang berbeda pada masing-masing kelompok umur.
Status Kependudukan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ternyata terdapat perbedaan diantara kedua dusun terkait dengan status kependudukan. Status kependudukan yang dimaksud pada penelitian ini adalah identitas tempat kelahiran responden, dimana respoden yang termasuk kategori “asli” apabila lahir dan dibesarkan di
tempat tersebut, dan “pendatang” apabila tidak lahir di tempat tersebut tetapi
sudah cukup lama menetap. Adapun pengkategorian mengenai status kependudukan dapat dilihat pada gambar 4 berikut.
Sumber: Data primer
Gambar 4. Jumlah responden menurut status kependudukan di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013
Berdasarkan Gambar 4 tesebut, terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan yang cukup besar di kedua dusun. Dusun Klaces didominasi oleh responden yang berstatus kependudukan adalah asli, sedangkan Dusun Lempong Pucung didominasi oleh pendatang. Adanya perbedaan status kependudukan ini ternyata berkaitan terhadap aktifitas nafkah yang mereka lakukan. Menurut pemaparan Bapak AP (53 Tahun):
“Dulu, masyarakat asli bekerja hanya sebagai nelayan, kalau lapar tinggal ke depan rumah langsung mendapat ikan. Sejak adanya tanah timbul, banyak orang Jawa Barat yang berdatangan. Mereka di daerah asalnya kebanyakan sebagai petani, jadi mereka garap lahan di sini. Warga di sini lama-kelamaan ikut-ikutan.”
Sejarah masuknya pendatang ke Kecamatan Kampung Laut dikarenakan adanya tanah timbul yang dianggap oleh pendatang sebagai peluang untuk dapat bercocok tanam. Dulunya, warga asli kampung laut hanyalah sebagai nelayan. Adanya sedimentasi serta mendangkalnya wilayah perairan di daerah tersebut mengakibatkan perubahan pola nafkah masyarakat yang biasanya sebagai nelayan beralih menjadi petani. Berikut penuturan Bapak SGN (46 Tahun) :
“Dulu saya setiap hari menangkap ikan untuk dijual. Sekarang ikan sudah sedikit, karena perairan udah dangkal. Setiap tahun dilakukan pengerukan, tetapi tetap saja masih dangkal. Mau tidak mau sekarang saya ke sawah”
Berbeda dengan penuturan Bapak SGN dan AP yang merupakan penduduk asli Kampung Laut, RS (27 Tahun) yang merupakan pendatang ketika ditanyakan mengapa tidak menjadi nelayan menjawab :
0 5 10 15 20 25
Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung
Asli
Pendatang n = responden
“Saya dari dulu petani, dari kecil sudah bercocok tanam. Sewaktu pindah ke Kampung Laut ya tujuan saya juga untuk bercocok tanam. Lagian saya tidak bakat jadi nelayan.”
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pemaparan hal yang serupa tidak hanya dikatakan oleh RS saja, tetapi beberapa pendatang lainnya juga mengatakan hal yang sama. Selain itu, keterbatasan alat penangkapan dan perahu juga mejadi alasan pendatang mengapa tidak menjadi nelayan.
Modal Alam Tanah Timbul
Kecamatan Kampung Laut adalah wilayah yang berada di Laguna Segara Anakan. Laguna Segara Anakan merupakan muara dari berbagai sungai, yakni Sungai Citanduy, Cikonde, dan beberapa sungai lainnya. Kecepatan pengangkutan
sedimen dari Sungai Citanduy mencapai 5 juta m3/tahun. Sedangkan dari Sungai
Cikonde serta sungai-sungai lainnya mencapai 770 000 m3/tahun. Dari data
tersebut, diperkirakan jumlah sedimen yang mengendap di Laguna Segara Anakan sebesar 1 juta m3/tahun (Suryawati 2012). Adanya proses sedimentasi tersebut, mengakibatkan munculnya tanah timbul dan setiap tahunnya semakin meluas. Berikut pemaparan Bapak AP (53 Tahun) :
Kata sepuh disini, dulu hanya ada 7 KK di Kampung Laut, itupun tinggalnya di atas dekat Nusakambangan. Sejak muncul tanah timbul, 7 KK tadi pindah ke bawah (tanah timbul). Terus semakin lama semakin berkembang penduduknya, ditambah banyaknya pendatang terutama dari Jawa Barat. Dulu, sebelum ada hutan mangrove, kita masih bisa melihat lampu-lampu di Cilacap dari sini. Sekarang sudah tidak bisa.
Adanya tanah timbul di Kampung Laut dianggap sebagian warga sebagai
“tanah berkah”, terutama bagi pendatang yang memang mencoba peruntungan di
tanah tersebut. Namun, adanya tanah timbul tersebut ternyata berpengaruh negatif terhadap nelayan. Karena adanya sedimentasi yang terjadi, wilayah perairan semakin dangkal, sehingga ikan menjadi sedikit. Adanya fenomena alam ini mengharuskan nelayan beralih mata pencaharian dari perikanan menjadi pertanian daratan. Dahulu warga asli Kampung Laut tidak tahu menahu mengenai cara bertani yang baik dan benar, sampai ada pendatang dari Jawa Barat yang mencontohkan dan kemudian mereka menirunya.
Pola Penguasaan Lahan
Tahun 1970-an ketika semakin meluasnya tanah timbul di Kampung Laut, warga pun berbondong-bondong membuka lahan (trukah) untuk ditanami padi. Ada syarat yang diberikan oleh pemerintah bagi mereka yang ingin membuka lahan, yakni harus sudah berumahtangga dan batasan membuka lahan seluas 350 ubin. Saat itu, warga asli yang memperoleh lahan dari “trukah” banyak
menjualnya kepada pendatang dengan berbagai alasan seperti masalah keuangan sampai tidak mengerti cara bertani.
Berdasarkan hasil penelitian di lapang terhadap 60 responden yang dilakukan di kedua dusun, terdapat tiga cara petani dalam memperoleh lahan,
yakni trukah, warisan, dan membeli. Trukah adalah bagi mereka yang
memperoleh lahan dengan cara pembukaan lahan sendiri, sedangkan warisan adalah mereka yang mendapat lahan dari orang tua yang pada umumnya bekas trukah. Rincian dari ketiga kategori tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7 Jumlah dan persentase responden menurut cara memperoleh lahan di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 - 2014
No. Cara
Memperoleh Lahan
Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. Trukah 6 20 2 7 2. Warisan 5 17 0 0 3. Beli 17 56 21 70 4. Tidak Memiliki/Paro 2 7 7 23 Total 30 100 30 100
Sumber: Data primer
Berdasarkan Tabel 7, diketahui bahwa 20 persen petani di Dusun Klaces
memperoleh lahan dengan cara trukah, sedangkan di Dusun Lempong Pucung
hanya 7 persen. Dusun Klaces terdapat 17 persen yang mendapat lahan dari warisan, sedangkan di Dusun Lempong Pucung tidak ada yang memperoleh lahan dari warisan. Fenomena tersebut dapat dijelaskan dari status kependudukan mereka yang pada sub bab sebelumnya telah dipaparkan, yakni mayoritas penduduk di Dusun Klaces adalah asli, sehingga untuk memperoleh lahan pun pasti relatif lebih mudah (trukah dan warisan), sedangkan mayoritas penduduk Lempong Pucung adalah pendatang sehingga dalam memperoleh lahan kebanyakan dari mereka dengan cara membeli kepada warga asli. Berikut tabel mengenai cara memperoleh lahan menurut tingkatan umur di kedua dusun.
Tabel 8 Jumlah dan persentase responden menurut kelompok umur dan cara memperoleh lahan di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 - 2014 Cara Memperoleh Lahan Kelompok Umur Total 22-41 42-61 >61 n % n % n % n % Trukah 0 0 0 0 8 67 8 14 Warisan 2 7 3 15 0 0 5 8 Beli 21 75 14 70 3 25 38 63
Tidak punya/ Paro 5 18 3 15 1 8 9 15
Total 28 100 20 100 12 100 60 100
Berdasarkan Tabel 8 tersebut, terlihat jelas bahwa cara memperoleh lahan
dengan cara trukah hanya dilakukan bagi mereka yang termasuk pada kelompok
umur yang tua (>61) dan merupakan penduduk asli Kampung Laut. Cara memperoleh lahan dengan cara beli kebanyakan dilakukan bagi mereka yang termasuk pada kelompok umur 22 - 41 tahun, dan pada umumnya kelompok ini merupakan pendatang. Sama halnya dengan petani yang tidak mempunyai lahan, mereka pada umumnya pendatang yang mencari peruntungan di Kampung Laut. Mereka yang tidak mempunyai lahan biasanya menggarap lahan orang dengan cara paro/bagi hasil. Biasanya hasil dari lahan tersebut di bagi satu banding satu antara penggarap dan pemilik.
Luas Lahan
Mayoritas penduduk di Dusun Klaces dan Lempong Pucung adalah berprofesi sebagai petani. Ketika bercocok tanam, ternyata petani di kedua dusun
tidak hanya memanfaatkan lahan “tanah timbul” yang saat ini juga sebagai pemukiman, tetapi mereka juga memanfaatkan lahan di Nusakambangan. Konflik pernah terjadi antara petani setempat dengan pihak Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, karena petani dianggap menggarap lahan yang merupakan milik LP Nusakambangan. Berikut tabel luasan lahan tanah timbul milik petani di kedua dusun
Tabel 9 Jumlah dan persentase responden menurut luas lahan di tanah timbul di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 - 2014
No.
Luas lahan
Dusun Klaces Dusun Lempong
Pucung Jumlah (rumahta ngga) Persentase (%) Jumlah (rumaht angga) Persentase (%) 1. Sempit 13 44 19 63 2. Sedang 10 33 11 37 3. Luas 7 23 0 0 Total 30 100 30 100
Sumber: Data Primer
Luas lahan yang dikategorikan sempit adalah lahan yang memiliki luas 150 m2 – 850 m2. Luas lahan sedang adalah lahan yang memiliki luas 851 m2 –
1 551 m2, sedangkan lahan yang termasuk kategori luas adalah lahan yang
memiliki luas >1 551 m2. Adapun penentuan kategori ini disesuaikan dengan data
di lapangan dengan mempertimbangkan kedua dusun.
Berdasarkan data yang diperoleh, terlihat perbedaan yang cukup besar antara kedua dusun. Responden di Dusun Klaces cenderung memiliki lahan yang lebih luas dibandingkan dengan responden di Dusun Lempong Pucung. Hal ini terlihat dari kepemilikan lahan yang termasuk pada kategori luas di Dusun Klaces mencapai 23 persen, sedangkan di Dusun Lempong Pucung tidak ada. Tampak juga perbedaan yang cukup besar di kedua dusun, dimana di Dusun Klaces hanya
terdapat tujuh persen responden yang tidak memiliki lahan, sedangkan di Dusun Lempong Pucung relatif lebih banyak, yakni mencapai 23 persen.
Dataran Tinggi Nusakambangan
Seperti yang dipaparkan sebelumnya, selain bercocok tanam di lahan tanah timbul, petani di kedua dusun juga memanfaatkan lahan di dataran tinggi Nusakambangan. Faktanya, walaupun bukan merupakan tanah milik, tanah yang digarap tersebut sudah memiliki batasan-batasan tertentu. Berikut tabel yang memaparkan luasan lahan di Nusakambangan yang digarap oleh responden di kedua dusun.
Tabel 10 Jumlah dan persentase responden menurut luas lahan di Nusakambangan di Dusun Klaces dan Lempong Pucung Tahun 2013 - 2014
No. Luas Lahan
Dusun Klaces Dusun Lempong
Pucung Jumlah (rumahta ngga) Persentase (%) Jumlah (rumahta ngga) Persentase (%) 1. Tidak Memiliki 8 27 5 17 2. Sempit 5 16 7 23 3. Sedang 12 40 15 50 4. Luas 5 17 3 10 Total 30 100 30 100
Sumber: Data Primer
Luas lahan yang dikategorikan sempit adalah lahan yang memiliki luas 375 m2 – 875 m2. Luas lahan sedang adalah lahan yang memiliki luas 876 m2 –
1 376 m2. Sedangkan lahan yang termasuk kategori luas adalah lahan yang
memiliki luas >1 376 m2. Adapun penentuan kategori ini disesuaikan dengan data
di lapangan dengan mempertimbangkan kedua dusun.
Berdasarkan Tabel 10 tersebut, terlihat jelas bahwa sebagian besar warga menguasai dan menggarap lahan di Nusakambangan. Responden yang tidak menggarap lahan di Nusakambangan adalah mereka yang pada umumnya adalah pendatang. Agar dapat menggarap lahan di Nusakambangan, petani terlebih dahulu membuka lahan, sehingga siapa yang cepat maka ia yang berhak menggarap. Hal ini tentunya membuat pendatang kalah cepat dengan warga asli yang sudah terlebih dahulu membuka lahan. Menariknya, walaupun lahan tersebut bukan hak milik, tetapi dapat diperjual belikan. Masyarakat setempat
menyebutnya “bayar tenaga”. Berikut penuturan ibu SJH (45 Tahun) :
“Saya pendatang dari Ciamis. Saya pindah ke Dusun Lempong
Pucung karena rumah saya terbakar. Ya mau ngga mau saya harus pindah ke sini. Disinipun saya ngga punya sawah, cuma nanem albu (Pohon Albasia) di gunung (Nusakambangan). Itupun dulu saya harus beli ke warga asli”
Dataran tinggi Nusakambangan bagi petani di dua dusun cukup berkontribusi dalam penghidupan mereka, terutama di Dusun Lempong Pucung. Hasil penelitian terhadap 30 responden di dusun tersebut, terdapat tujuh orang yang tidak memiliki lahan, mereka hanya mengandalkan lahan di Nusakambangan untuk ditanami pohon albasia dan padi gogo untuk makan sehari-hari. Pohon
albasia merupakan tanaman tahunan, dapat ditebang sampai masa tanam 3 – 4
tahun. Hasil yang diperoleh dari pohon tersebut juga tidak seberapa dengan modal tanam diawal. Petani pada umumnya menanam tanaman jenis lain seperti kapool, pisang, singkong, kelapa, kopi, dan sebagainya selain menanam pohon albasia. Hasilnya pun rata-rata hanya untuk pemenuhan kebutuhan sendiri.
Modal Finansial Tabungan
Tabungan merupakan salah satu investasi keuangan yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola sumber daya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, secara umum petani di kedua dusun tidak memiliki tabungan, baik yang disimpan di bank ataupun yang disimpan di rumah. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki tabungan, dan sebagian menabung dengan cara ikut arisan bulanan. Menurut penuturan ibu MR (36 Tahun) :
“Untuk makan saja susah, apalagi untuk menabung. Ya tidak bisa. Jajan anak-anak saja sudah berapa perharinya. Dulu saya ikut arisan, sekarang sudah tidak.”
Berdasarkan penuturan Ibu MR tersebut, diketahui bahwa mayoritas petani di kedua dusun rentan secara perekonomian. Produktivitas pertanian yang tidak mumpuni serta kebutuhan hidup yang terus meningkat merupakan alasan utama mengapa menabung tidak menjadi prioritas bagi rumahtangga. Menabung bagi mereka adalah menanam albasia di Nusakambangan. Apabila sewaktu-waktu mereka membutuhkan uang, mereka dapat menjual lebih awal pohon albasianya. Pinjaman
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, petani di kedua dusun biasanya memanfaatkan hubungan kekerabatan untuk meminjam. Kemudian, petani di kedua dusun juga memanfaatkan program PNPM yang ada. Berdasarkan hasil
penelitian, petani biasanya melakukan peminjaman yang disebut sebagai hijoan.
Pada sistem hijoan, apabila petani meminjam uang sebesar Rp. 200 000 untuk
keperluan penanaman, maka ketika panen harus dikembalikan dengan 1 kwintal padi, sedangkan apabila petani meminjam uang Rp. 300 000 pada saat
pemeliharaan atau petani setempat menyebutnya “matun”, maka ketika panen
peminjam harus mengembalikan dengan 1 kwintal padi. Hal ini dikarenakan jarak antara peminjaman untuk keperluan tanam relatif lebih lama ke masa panen,
sedangkan peminjaman saat “matun” relatif lebih cepat.
Tabel 11 merupakan pemaparan mengenai modal finansial di kedua dusun yang dilihat berdasarkan tingkat tabungan dan peminjaman.
Tabel 11 Jumlah dan persentase responden menurut modal finansial di Dusun Klaces dan Lempong Pucung tahun 2013 - 2014
No. Tingkat Modal Finansial
Dusun Klaces Dusun Lempong Pucung Jumlah (rt) Persentase Jumlah (rt) Persentase 1. Rendah 12 40 13 43 2. Sedang 8 27 16 53 3. Tinggi 10 33 1 4 Total 30 100 30 100
Sumber: Data primer
Pengkategorian tingkat modal finansial dilihat dari jumlah tabungan dan pinjaman. Rendah apabila tidak memiliki tabungan dan memiliki pinjaman, sedang apabila tidak memiliki tabungan tetapi tidak memiliki pinjaman, dan tinggi apabila memiliki tabungan dan tidak memiliki pinjaman. Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa 40 persen responden di kedua dusun tidak memiliki tabungan dan memiliki pinjaman. Hal ini menunjukkan bahwa mereka rentan secara perekonomian. Perbandingan juga terlihat jelas di kedua dusun pada kategori modal finansial tinggi, Dusun Klaces memiliki persentase yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Dusun Lempong Pucung.
Modal Sosial
Modal sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh