Pendahuluan
Tuna madidihang atau dalam nama internasional yang dikenal sebagai
yellowfin tuna (YFT) adalah jenis ikan pelagis besar, yang diketahui sebagai perenang cepat, selalu berkelompok dalam pergerakannya dan penyebarannya yang hampir berada di seluruh wilayah pengelolaan perikanan Indonesia. Ikan ini termasuk dalam genus Thunnus, tribe Thunnini, subfamily Scombrinae, family
Scombridae dan memiliki nama ilmiah Thunnus albacares – Bonnaterre, 1788 (Collette dan Nauen 1983). Tuna madidihang yang akan dibahas adalah tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok.
PPP Labuhan Lombok yang terletak di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat termasuk pelabuhan perikanan tipe C (Pelabuhan Perikanan Pantai) memiliki produksi perikanan pelagis yang cukup besar, salah satunya adalah tuna madidihang. PPP Labuhan Lombok dikenal sebagai tempat pendaratan tuna terbesar di Pulau Lombok. Tuna madidihang di PPP Labuhan Lombok memiliki nilai produksi tertinggi kedua setelah cakalang dari tahun 2002 sampai 2014 (PPP Labuhan Lombok 2014). Tuna madidihang juga merupakan salah satu sumberdaya ikan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena sudah sulit untuk ditangkap oleh nelayan di PPP Labuhan Lombok, tetapi permintaan terhadap komoditas tersebut terus meningkat dan telah mendorong upaya penangkapan yang semakin intensif. Frekuensi aktivitas pendaratan tuna madidihang di PPP Labuhan Lombok sangat sering bahkan hampir setiap hari dilakukan.
Berdasarkan hasil analisis pada Bab 3 mengenai status pemanfaatan tuna madidihang di Laut Flores yang diduga masih dalam keadaan belum optimal, Bab 4 yang memberikan prediksi bahwa terdapat ukuran ikan yang besar-besar di bulan April-Juli dan Bab 5 yang telah memberikan informasi bahwa pada bulan Januari-Juli dan Agustus-Desember memiliki nilai b < 3 dan b > 3, maka peningkatan upaya dan produksi tuna madidihang di Luat Flores masih dapat ditingkatkan, apabila operasi penangkapannya dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Salah satu caranya ialah dengan mengetahui pola musim penangkapan ikan, sehingga dapat dilakukan persiapan yang lebih baik untuk melakukan operasi penangkapan yang lebih terarah dan menguntungkan nelayan. Sehingga pada bab ini bertujuan untuk menduga pola musim penangkapan tuna madidihang yang dilakukan di Laut Flores berdasarkan yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok.
Metode
Jenis data yang digunakan pada bab ini adalah data sekunder. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data jumlah trip penangkapan ikan, total produksi (kg) ikan tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok dari tahun 2012 sampai 2014. Data sekunder diperoleh dari USAID-IMACS Indonesia dan MDPI selama tiga tahun. Data-data tersebut diperoleh dengan melakukan pengajuan terlebih dahulu kepada pihak USAID-IMACS Indonesia
34
dan PPP Labuhan Lombok sebagai pihak utama untuk memperoleh izin penggunaan data.
Perhitungan indeks musim penangkapan digunakan untuk menduga pola musim penangkapan. Perhitungan ini menggunakan data upaya penangkapan (effort) dan hasil tangkapan (catch) yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok. Metode perhitungannya menggunakan analisis deret waktu terhadap nilai-nilai CPUE periode bulanan selama beberapa tahun, dilanjutkan dengan metode rata- rata bergerak. Berikut langkah-langkah analisis deret waktu terhadap nilai-nilai CPUE tuna madidihang (Dajan 1982 dalam Taeran 2007):
Menyusun deret CPUE dalam periode kurun waktu beberapa tahun;
i = 1, 2, 3, 4, ..., n = CPUE ke-i
Menyusun rata-rata bergerak CPUE selama 12 bulan (RG);
121 ( ∑
)
= Rata-rata bergerak 12 bulan urutan ke-i = 7, 8, 9,…., n-5
Menyusun rata-rata bergerak CPUE terpusat (RGP);
12(∑
)
= Rata-rata bergerak CPUE terpusat urutan ke-i
= 7, 8, 9,…., n-5
Menghitung rasio rata-rata tiap bulan (Rb)
= Rasio rata-rata untuk tiap bulan ke-i
= bulan 1, 2, 3, ….., 12
Menyusun nilai rata-rata dalam satu matriks berukuran i x j yang disusun untuk setiap bulan, yang dimulai dari bulan Juli tahun tertentu sampai bulan Juni tahun berikutnya. Selanjutnya menghitung nilai total rasio rata-rata secara keseluruhan dan pola musim penangkapan:
Rasio rata-rata untuk bulan ke-i (RRB);
1n ∑
= 1, 2, 3, ….., n
Jumlah rasio rata-rata bulanan (JRRB);
∑
= 1, 2, 3, ….., 12
35 Karena jumlah rasio rata-rata bulanan (JRBB) tidak selalu sama 1200, maka nilai rasio rata-rata bulanan harus dikoreksi dengan suatu koreksi (FK):
Selanjutnya Indeks Musim Penangkapan (IMP) dihitung dengan persamaan:
= 1, 2, 3, ….., 12
Hasil
Nilai-nilai indeks musim penangkapan yang disajikan pada Tabel 6 menunjukan bahwa pada bulan Mei - Juli dan Oktober - Desember memiliki nilai
IMP di atas 100, sedangkan bulan Januari – April dan Agustus – September memiliki nilai IMP di bawah 100. Pola musim penangkapan tuna madidihang yang disajikan pada Gambar 21 adalah bentuk proyeksi yang berasal dari nilai – nilai IMP pada Tabel 6.
Tabel 6 Nilai indeks musim penangkapan (IMP) tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok
Bulan IMPi Bulan IMPi Bulan IMPi
Jan 26,118 Mei 187,033 Spt 22,199 Feb 14,468 Jun 227,295 Okt 193,017 Mar 19,096 Jul 167,887 Nov 111,721 Apr 54,533 Ags 51,866 Des 124,768
Gambar 21 Grafik pola musim penangkapan tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok
Pembahasan
Asumsi yang mendasari analisis pola musim penangkapan melalui pendekatan analisis deret waktu metode rata-rata bergerak yaitu sumberdaya ikan menyebar merata di seluruh perairan, hasil tangkapan yang didaratkan berasal dari
0 50 100 150 200 250 Ja
n Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Spt Okt Nov Des
Inde ks M usim P ena ng ka pa n Bulan
Musim Penangkapan Tinggi
36
perairan yang sama, data rata-rata hasil tangkapan mencerminkan fluktuasi hasil tangkapan dan jenis alat tangkap yang digunakan adalah sama (Abukena 2006). Pada penelitian ini sumberdaya ikan yang digunakan adalah tuna madidihang yang diasumsikan ditangkap di Laut Flores dan didaratkan di PPP Labuhan Lombok. Tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok seluruhnya ditangkap menggunakan pancing tangan dengan periode waktu fluktuasi 2012 – 2014.
Taeran (2007) menyatakan bahwa indeks musim penangkapan ikan dapat dikatakan tinggi jika nilai IMP-nya diatas 100 dan dikatakan rendah jika nilai IMP-nya dibawah 100, tidak hanya itu beliau menambahkan bahwa Nilai IMP juga dapat digunakan untuk menduga keberadaan ikan di suatu perairan (jika nilai IMP lebih atau sama dengan 100 berarti ikan cukup melimpah dan jika kurang dari 100 mengindikasikan jumlah ikan di perairan tersebut di bawah kondisi normal). Pada penelitian ini bulan Mei - Juli dan Oktober - Desember memiliki nilai IMP di atas 100, sedangkan bulan Januari – April dan Agustus – September memiliki nilai IMP di bawah 100. Pola musim penangkapan tersebut menunjukan bahwa ada dua periode musim penangkapan yaitu tinggi dan rendah dalam satu tahun. Berdasarkan pola musim penangkapan tersebut dapat diduga bahwa intensitas penangkapan tinggi dan musim banyak tuna madidihang terjadi pada bulan Mei – Juli dan Oktober – Desember, sedangkan musim sedikit tuna madidihang dan intensitas penangkapan rendah berada pada bulan Januari – April dan Agustus – September.
Kesimpulan
Periode waktu intensitas penangkapan tinggi dan musim banyak tuna madidihang terjadi pada bulan Mei – Juli dan Oktober – Desember (>100), sedangkan musim sedikit tuna madidihang dan intensitas penangkapan rendah berada pada bulan Januari – April dan Agustus – September (<100).
37
7
PEMBAHASAN UMUM
Status pemanfaatan sebenarnya sangat menitikberatkan pada bagaimana kondisi suatu sumberdaya sebagai akibat dari adanya usaha atau upaya. Sehingga, status pemanfaatan dapat diduga jika memiliki dua hal, yaitu upaya dan hasil. Upaya yang dilakukan tentunya tidak hanya sekali, namun harus dilakukan berulang kali agar dapat diduga berapa upaya yang optimal untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sumberdaya merupakan objek yang diupayakan dan merupakan suatu faktor pembatas bagi upaya yang biasa juga disebut dengan hasil.
Dalam bidang perikanan tangkap, usaha atau upaya disebut sebagai upaya penangkapan ikan (fishing effort) seperti jumlah kapal, jumlah trip, jumlah nelayan, jumlah alat tangkap (berdasarkan ukuran ataupun bentuk), sedangkan yang menjadi faktor pembatas adalah sumberdaya ikan yang sering disebut dengan hasil tangkapan (yield, harvest atau catch). Status pemanfaatan suatu sumberdaya ikan laut sangat penting dilakukan, karena dengan mengetahuinya dapat diduga apakah upaya penangkapan yang telah dilakukan terhadap suatu sumberdaya ikan tertentu belum optimal, sudah optimal atau telah berlebih.
Upaya penangkapan ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah trip. Jumlah trip dihitung berdasarkan jumlah hari yang dipakai untuk menangkap ikan di laut dari keseluruhan kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPP Labuhan Lombok dalam rentang waktu per tahun. Sementara hasil tangkapan yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah tuna madidihang.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam menduga status pemanfaatan dalam bidang perikanan tangkap, tetapi dalam penelitian ini hanya menggunakan satu metode yaitu model Schaefer. Model Schaefer dipilih karena metode ini yang paling mudah untuk dimengerti dan merupakan dasar bagi model yang lainnya. Namun di dalam metode Schaefer terdapat kekeliruan yang masih dipertahankan hingga saat ini, yaitu dalam proses perhitungan koefisien (a dan b) dari fungsi Y = a f – b f 2 atau yang dikenal sebagai fungsi produksi lestari. Sehingga sebelum melanjutkan perhitungan untuk menduga status perikanan tuna madidihang di PPP Labuhan Lombok, mari kita bahas kekeliruan tersebut.
Para ahli dan peneliti dalam bidang perikanan menunjukan dan memberikan cara analisis data untuk menghitung dan mendapatkan nilai koefisien (a dan b) dari fungsi Y = a f – b f 2 yaitu dengan proses regresi linear sederhana yang menghubungkan upaya penangkapan ( ) dengan hasil tangkapan per upaya penangkapan seperti = a – b f (Sparre dan Venema 1999; Budiman et al. 2006; Kadafi et al. 2006; Irham et al. 2008; Sobari dan Muzakir 2008; Sobari et al. 2008; Haryani et al. 2009; Diniah et al. 2010; Fauzi 2010; Sobari dan Febrianto 2010; Hulaifi 2011; Rosalina et al. 2011; Sibagariang et al. 2011; Sriati 2011; Wuaten et al. 2011; Yusfiandayani dan Sobari 2011; Utami et al. 2012; Triarso 2012; Zulbainarni 2012; Karnan et al. 2012; Kawimbang et al. 2012; Irhamsyah et al. 2013; Kumaat et al. 2013; Latupeirissa 2013; Nurhayati 2013; Rahmawati et al. 2013; Febriani et al. 2014; Sandria et al. 2014; Sharfina et al. 2014; Patria et al. 2014; Noija et al. 2014; Santoso 2016), tetapi dalam penelitian ini telah diperlihatkan bahwa pernyataan dan penggunaan metode tersebut masih belum tepat karena proses regresi linear sederhana yang digunakan hanya untuk
38
mempermudah perhitungan nilai parameter fungsi produksi lestari (a dan b) memiliki perbedaan nilai dengan fungsi aslinya yaitu kuadratik. Proses regresi linear sederhana yang mungkin memang disarankan oleh Schaefer pada saat itu dapat diduga bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan mesin hitung belum sehebat atau secanggih pada saat ini, sehingga mungkin beliau menyarankan untuk menggunakan proses regresi linear sederhana untuk menentukan parameter
a dan b dalam fungsi produksi lestarinya. Indra (2007) menyatakan bahwa estimasi parameter a dan b untuk persamaan yield-effort dari model Schaefer melibatkan teknik non linear dan Pangalila et al. (2014) menggunakan teknik regresi polinomial untuk menentukan koefisen-koefisien dan menghitung nilai
sustainable yield.
Fungsi Y = a f–b f 2 adalah bentuk kuadratik atau polinomial ordo dua yang menghubungkan upaya penangkapan ( ) dengan hasil tangkapan ( ). Pada fungsi tersebut dapat dilihat secara detail bahwa fungsi tersebut tidak memiliki intersep. Hal tersebut sangat jelas karena intersep akan memberikan suatu nilai positif atau negatif pada saat upaya penangkapan nol atau tidak ada, dan jika upaya penangkapan nol atau tidak ada, maka secara logika hasil tangkapan juga tidak ada. Kalangan matematika dan statistika sudah membuat penyelesaian untuk menghitung seluruh koefisien dan intersep dari sifat kuadratik atau polinomial ordo dua tersebut, tetapi belum ditemukan yang memaparkan bagaimana cara menghilangkan intersep. Maka dari itu, peneliti pada penelitian ini membuat Persamaan (5 sampai 12) pada Bab 3 yang dikembangkan dari Siagian dan Sugiarto pada tahun 2002 untuk mempermudah perhitungan.
Secara logika, jika menggunakan proses regresi linear sederhana untuk menentukan nilai koefisien a dan b yang menghubungkan upaya penangkapan ( ) dengan hasil tangkapan per upaya penangkapan seperti = a – b f, sesungguhnya nilai koefisien a dan b adalah milik upaya penangkapan ( ) dengan hasil tangkapan per upaya penangkapan , bukan upaya penangkapan ( ) dengan hasil tangkapan ( ), maka tidaklah sesuai nilai koefisien tersebut digunakan lalu dideferensialkan dalam fungsi produksi lestari.
Setelah menejabarkan kekeliruan dalam model Schaefer, peneliti juga membandingkan nilai maximum sustainable yield (MSY) atau produksi lestari yang melalui perhitungan nilai koefisien a dan b secara regresi linear dengan kuadratik/polinomial ordo dua yang ditujukan untuk menduga status pemanfaatan. Hasil menunjukan bahwa tidak hanya nilai MSY saja yang berbeda, bentuk kurva dan fungsi dari kedua proses tersebut juga berbeda. Proses regresi linear memiliki nilai MSY yang lebih kecil dibandingkan dengan proses kuadratik/polinomial ordo dua, hal tersebut juga berlaku pada nilai tingkat pemanfaatan dan pengupayaan tuna madidihang.
Walaupun terdapat perbedaan kurva, fungsi dan nilai pada kedua proses tersebut, namun posisi lima tahun dalam kurva produksi lestari memiliki persamaan dalam hal status pemanfaatannya. Gambar 15 menunjukan hasil tangkapan pada tahun 2011 dan 2014 berada di dalam kurva, tetapi pada tahun 2010, 2012 dan 2013 berada di luar, sehingga status pemanfaatan tuna madidihang berdasarkan kedua kurva tersebut diduga masih dalam keadaan belum optimal, hal tersebut dilihat berdasarkan titik lima tahun pada kedua kurva yang terletak disebelah kiri dari nilai fmsy dan di bawah nilai Ymsy, sehingga masih dimungkinkan
39 untuk menambahkan upaya penangkapannya. Penambahan upaya penangkapan dapat dilakukan dengan penambahan jumlah armada yang tentunya juga menambah jumlah nelayan untuk perikanan tuna madidihang
Armada/jenis kapal penangkapan tuna madidihang yang menggunakan pancing tangan sebagai alat tangkap utama di PPP Labuhan Lombok adalah kapal mandar. Jenis kapal mandar yang berada di PPP Labuhan Lombok sangat mirip disain dan bentuk kapalnya dengan perahu generasi setelah sande’, yaitu perahu kappal/bodi-bodi yang berasal dari Sulawesi Selatan yang diperkenalkan oleh suku Mandar, seperti yang dituliskan oleh Alimuddin (2005:34-35):
“… Kappal adalah jenis perahu penangkap ikan terbesar yang
sekarang dipakai di Sabang Subik dan sekitarnya, … Bodi-bodi atau
biasa juga dinamakan Kappal-kappal (kappal yang berukuran kecil) adalah perahu yang bentuk lambungnya disesuaikan dengan
penggunaan mesin sebagai penggerak utama, … jenis perahu ini
muncul ketika mesin mulai banyak digunakan oleh nelayan Mandar
untuk memancing di tengah laut …”
Kapal mandar di PPP Labuhan Lombok memiliki ciri-ciri yaitu panjang kapal 10 – 15 meter, lebar kapal 2 – 3 meter, tinggi kapal 3 – 4 meter atau dengan kata lain bahwa ukuran kapal mandar tidak lebih dari 15 GT. Ciri paling umum yang dimiliki oleh kapal mandar adalah memiliki sampan yang hanya dapat dioperasikan oleh satu orang. Sampan selalu terlihat di atas dan di pinggir palkah ikan serta terkadang terapung namun terikat pada kapal. Jumlah sampan di kapal dapat bervariasi tetapi rata-rata 5-7 sampan dan dapat merepresentasikan jumlah ABK yang melaut. Berdasarkan hal tersebut, maka armada jenis kapal mandar yang perlu ditambahkan dalam upaya penangkapan tuna madidihang, karena hanya armada jenis kapal mandar yang menangkap lalu mendaratkan tuna madidihang di PPP Labuhan Lombok.
Saran untuk menambahkan armada kapal mandar di PPP Labuhan Lombok untuk menangkap tuna madidihang bukan hanya berdasarkan hasil analisis status pemanfaatannya, tetapi dapat dilihat juga dari sisi potensi ukuran tuna madidihangnya. Berdasarkan data yang sudah diolah pada Bab 4, ukuran panjang dan berat tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok dari tahun 2012-2014 berkisar antara 75 – 174 cmFL dan 10 – 96 kg. Hal tersebut menunjukan bahwa armada kapal mandar hanya mendaratkan tuna madidihang yang berukuran ≥ 10 kg per individu. Akan tetapi, ukuran tuna madidihang (baik panjang maupun berat) yang mendominasi selama tiga tahun tersebut adalah ≥
100 cmFL dan ≥ 20 kg.
Dominasi ukuran tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok belum tentu dapat dikatakan penangkapan yang baik ataupun berkelanjutan, walaupun beberapa peneliti seperti Nootmorn et al. 2005; Kantun
et al. 2011; Zhu et al. 2008 dalam Wujdi et al. 2014 menyatakan bahwa ukuran
tuna madidihang pada saat pertama kali matang gonad adalah ≥ 100 cmFL dan ≥
20 kg. Hal tersebut dikarenakan dalam prakteknya tuna madidihang ukuran kecil (< 10 kg) juga banyak tertangkap dan jarang dilaporkan kepada pihak pelabuhan. Tidak dilaporkannya tuna madidihang ukuran kecil (< 10 kg) dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek teknis penangkapan dan aspek permintaan/pasar.
Dari aspek teknis penangkapan, tuna ukuran kecil tersebut dapat digunakan sebagai umpan untuk menangkap tuna madidihang yang lebih besar dan ukuran
40
mata pancing yang digunakan oleh nelayan tidak bervariasi, mata pancing yang digunakan hanya untuk menangkap ukuran tuna madidihang yang diinginkan oleh permintaan/pasar. Dari aspek permintaan/pasar diduga juga dapat memberikan alasan mengapa hanya tuna madidihang berukuran ≥ 10 kg per individu yang didaratkan. Alasannya yaitu karena tuna madidihang ukuran kecil (< 10 kg) tidak memiliki harga dan tidak memberikan keuntungan apapun pada nelayan, maka nelayan lebih baik langsung membawanya ke rumah untuk dikonsumsi lalu tidak mendaratkan atau melaporkannya di Pelabuhan. Bila ditelaah lebih dalam, maka aspek permintaan/pasar ini yang membuat nelayan mengambil tindakan untuk lebih selektif dan mengikuti sistem yang ada dalam menangkap dan mendaratkan tuna madidihang. Dalam hal ini nelayan tidak melakukan kesalahan, mereka hanya mengikuti apa yang permintaan/pasar inginkan. Pada titik-titik inilah yang mengakibatkan data pendaratan ukuran tuna madidihang hanya berukuran ≥ 10 kg per individu. Pengetahuan ini didapat pada saat mengikuti satu kali trip penangkapan tuna madidihang menggunakan salah satu armada kapal mandar yang dimulai dari persiapan sampai dengan pembagian hasil keuntungan.
Berdasarkan grafik frekuensi panjang dan berat tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok dapat diketahui bahwa setiap tahunnya yaitu pada bulan April-Juli dan Oktober-Desember terdapat ukuran tuna yang lebih besar (baik panjang dan berat) dari bulan lainnya. Keberadaan tersebut dapat dilihat pada bulan-bulan yang memiliki kemenjuluran grafik ke arah kanan. Tuna madidihang yang terdapat ukuran besar diduga sedang melakukan pergerakan di bulan-bulan tersebut. Namun, pendugaan tersebut masih membutuhkan analisis lain yang juga menggunakan panjang dan berat sehingga dapat merepresentasikan pergerakan tuna madidihang. Maka dari itu, analisis selanjutnya akan menjabarkan mengenai pola pertumbuhan tuna madidihang yang ditinjau dari hubungan panjang beratnya.
Hubungan panjang berat ikan merupakan pengetahuan yang wajib diketahui dalam bidang biologi perikanan, karena dengan itu dapat mengetahui pola pertumbuhan suatu jenis ikan. Hubungan panjang berat ini dapat ditujukan untuk kepentingan pengelolaan perikanan yang dimodelkan dalam bentuk geometrik. Analisis pola hubungan panjang berat digunakan untuk mengetahui pola pertumbuhan tuna madidihang yang didaratkan di PPP Labuhan Lombok selama tiga tahun. Hasil analisis ini dilakukan tanpa pemisahan antara jantan dan betina atau dengan kata lain merupakan campuran dari dua jenis kelamin. Ukuran panjang dan berat ikan yang digunakan telah dijelaskan di dalam Bab 4. Jenis panjang ikan yang diukur adalah panjang cagak / fork length menggunakan califer.
Sebenarnya, ada beberapa faktor yang harus dimengerti oleh peneliti sebelum menggunakan analisis hubungan panjang berat. Pertama terkait dengan jenis kelamin, kedua mengenai pengukuran panjang dan ketiga mengenai penimbangan berat yang harus dijelaskan pada metode penelitian. Pemisahan atau penggabungan jenis kelamin yang akan diukur mengenai panjang dan beratnya harus disebutkan dalam metode penelitian. Kedua adalah mengenai pengukuran panjang. Pada saat mengukur panjang ikan harus ditentukan dan dijelaskan yang pertama adalah dari jenis panjang apa yang akan diukur, apakah panjang cagak atau panjang total. Kedua adalah alat ukur panjang apa yang digunakan, beberapa peneliti ada yang menggunakan califer atau meteran jahit dalam mengukur panjang ikan. Ketiga adalah mengenai penimbangan berat ikan. Pada saat
41 penimbangan berat ikan harus diperhatikan apakah di ikan tersebut sudah dikeluarkan isi perut dan insangnya atau salah satunya. Hal ini ditujukan untuk memberikan kejelasan informasi kepada pembaca atau peneliti selanjutnya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap pola pertumbuhan.
Hubungan panjang berat dilihat berdasarkan nilai koefisien b dan diplotkan berdasarkan waktu. Beberapa ahli telah menentukan nilai b berdasarkan analisisnya masing-masing. Hile (1936) dan Martin (1949) menyatakan bahwa nilai b biasanya berkisar antara 2,5 sampai 4,0. Allen (1938) menyatakan bahwa bentuk tubuh ikan yang ideal memiliki nilai b = 3,0. Beverton dan Holt (1957) melaporkan bahwa hukum kubik dari hubungan panjang berat memiliki nilai yang hampir mendekati 3,0. Carlander (1969) menyatakan bahwa berat ikan meningkat secara logaritma seiring dengan peningkatan panjangnya yang memiliki nilai berkisar 2,5 sampai 3,5 tetapi biasanya sangat mendekati 3,0. Ricker (1975) melihat nilai b sebagai penggambaran pertumbuhan, jika b = 3 menggambarkan pertumbuhan yang isometrik, dan jika b lebih besar atau kurang dari 3 menggambarkan pertumbuhan yang alometrik.
Pada penelitian ini nilai b pada tahun 2012 berkisar antara 2,913 – 3,168, tahun 2013 berkisar antara 2,440 – 3,130 dan tahun 2014 berkisar antara 2,911 – 3,187. Pada tiga tahun tersebut terdapat kekonsistenan titik, di mana konsistensi titik bulanan selama tiga tahun berada di bulan Oktober-Desember sebagai alometrik (b > 3), lalu titik (b < 3) berada pada bulan Maret-Mei. Kekonsistenan titik tersebut membentuk sebuah pola yang menunjukan bahwa diduga tuna madidihang melakukan pergerakan yang konsisten dalam siklus tahunan di Laut Flores. Tentunya hal tersebut juga belum bisa menggambarkan dan menduga pola pergerakan atau musim tuna madidihang di Laut Flores, maka dari itu perlu dilakukan penambahan analisis mengenai pola musim penangkapan terhadap hal